Sebagai pemilik bisnis, Anda mungkin tahu definisi harga pokok penjualan (HPP<\/a>)<\/strong>. Tapi tahukah Anda bagaimana cara mencatat jurnal HPP di buku Anda?<\/p>\n\n\n\n Sebagai perusahaan yang menjual produk, Anda perlu mengetahui biaya pembuatan produk tersebut. Di situlah rumus dan penjurnalan HPP dibutuhkan. <\/p>\n\n\n\n Selain menghitung biaya untuk menghasilkan barang, HPP juga dapat mengungkap keuntungan untuk periode akuntansi, jika perubahan harga diperlukan, atau apakah Anda perlu mengurangi produksi<\/a>.<\/p>\n\n\n\n Baik Anda menganggap diri Anda sebagai pemilik bisnis atau konsumen atau keduanya, memahami cara menghitung harga pokok penjualan<\/a> dapat membantu Anda merasa lebih terinformasi tentang produk yang Anda beli.<\/p>\n\n\n\n <\/p>\n\n\n\n Sebagai pengingat, harga pokok penjualan adalah biaya produksi<\/a> barang yang dijual oleh perusahaan. Ini termasuk biaya bahan dan tenaga kerja yang terkait langsung dengan barang itu.<\/p>\n\n\n\n Namun, itu tidak termasuk biaya tidak langsung seperti biaya distribusi <\/a>dan tenaga penjualan.<\/p>\n\n\n\n Sederhananya, jurnal HPP adalah jurnal yang digunakan untuk mencatat harga pokok penjualan di buku Anda.<\/p>\n\n\n\n Kapan harga pokok penjualan dicatat? Anda hanya mencatat HPP pada akhir periode akuntansi untuk menunjukkan inventaris <\/a>yang terjual.<\/p>\n\n\n\n Penting untuk mengetahui cara mencatat HPP di pembukuan Anda untuk menghitung keuntungan secara akurat. Di situlah jurnal HPP berperan. <\/p>\n\n\n\n Jika Anda tidak memperhitungkan harga pokok penjualan, pembukuan <\/a>dan laporan keuangan Anda akan menjadi tidak akurat.<\/p>\n\n\n\n HPP adalah komponen laporan laba rugi<\/a> dan memainkan peran penting dalam menghitung laba bersih Anda.<\/p>\n\n\n\n Menentukan jurnal HPP merupakan langkah penting dalam memahami profitabilitas bisnis, dan ini dapat memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap penghasilan kena pajak Anda.<\/p>\n\n\n\n Berikut adalah beberapa alasan bagus mengapa Anda perlu mencatat jurnal HPP:<\/strong><\/p>\n\n\n\n Ada berbagai metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat tingkat persediaan selama suatu periode akuntansi. Metode akuntansi yang dipilih dapat mempengaruhi nilai harga pokok penjualan. <\/p>\n\n\n\n Tiga metode penilaian persediaan<\/a> untuk harga pokok penjualan adalah FIFO, LIFO, dan metode biaya rata-rata.<\/p>\n\n\n\n Metode first in first out<\/em>, juga dikenal sebagai FIFO, adalah saat barang paling awal yang dibeli dijual terlebih dahulu. <\/p>\n\n\n\n Karena harga barang dagangan cenderung naik, maka dengan menggunakan metode FIFO, perusahaan akan menjual barang yang paling murah terlebih dahulu. <\/p>\n\n\n\n Ini berarti HPP yang lebih rendah dibandingkan dengan metode LIFO. Dalam hal ini, laba bersih akan meningkat seiring waktu.<\/p>\n\n\n\n Penilaian persediaan FIFO sering digunakan ketika produk memiliki tanggal kedaluwarsa, seperti susu di toko kelontong.<\/p>\n\n\n\n Misalnya, jika bisnis Anda menjual 100 unit suatu barang dan 80 unit awalnya dibeli dengan harga Rp. 15.000, dan 20 unit sisanya dibeli dengan harga Rp. 20.000. <\/p>\n\n\n\n Dengan menggunakan metode FIFO, harga 80 barang awal tetap Rp. 15.000 dan 20 item yang tersisa harus ditetapkan ke harga yang lebih tinggi yaitu Rp. 20.000. Metode FIFO lebih dekat dengan arus fisik barang yang sebenarnya karena perusahaan biasanya menjual barang sesuai urutan pembelian atau produksinya.<\/p>\n\n\n\n Metode last in first out<\/em>, juga dikenal sebagai LIFO, adalah ketika barang-barang terbaru yang ditambahkan ke persediaan dijual terlebih dahulu. <\/p>\n\n\n\n Jika ada kenaikan harga, perusahaan yang menggunakan metode LIFO pada dasarnya akan menjual barang dengan biaya tertinggi terlebih dahulu. <\/p>\n\n\n\n Hal ini menyebabkan HPP lebih tinggi dibandingkan dengan metode FIFO. Dengan menggunakan metode ini, laba bersih cenderung menurun dari waktu ke waktu.<\/p>\n\n\n\n Asumsikan perusahaan Anda membeli 10 set makeup. 5 set pertama berharga Rp. 50.000 masing-masing dan tiba dua hari yang lalu. 5 set terakhir masing-masing berharga Rp. 100.000 dan tiba satu hari yang lalu. <\/p>\n\n\n\n Berdasarkan metode LIFO, set makeup terakhir adalah yang pertama dijual. Kemudian, jika 7 set terjual, biaya set makeup sama dengan Rp. 100.000 x 5 + Rp. 50.000 x 2 = Rp. 600.000<\/p>\n\n\n\n Metode biaya rata-rata adalah ketika perusahaan menggunakan harga rata-rata semua barang dalam persediaan untuk menghitung biaya persediaan awal dan akhir. <\/p>\n\n\n\n Ini berarti bahwa akan ada lebih sedikit dampak pada HPP dengan biaya yang lebih tinggi saat membeli persediaan.<\/p>\n\n\n\n Untuk contoh di bagian LIFO,<\/p>\n\n\n\n Biaya satu set riasan = [(5 x Rp. 50.000) + (5 x Rp. 100.000)] \/ 10 = Rp. 75.000<\/p>\n\n\n\n HPP: Rp. 75.000 x 7 = Rp. 525.000<\/p>\n\n\n\n Anda dapat menerapkan rumus berikut untuk menghitung harga pokok penjualan:<\/p>\n\n\n\n HPP = persediaan awal + pembelian \u2013 persediaan akhir<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n Mari kita lihat sekilas komponen HPP:<\/p>\n\n\n\n HPP hanyalah biaya langsung yang terlibat dalam produksi barang di perusahaan tertentu untuk periode tertentu. Jumlah total termasuk komponen seperti:<\/p>\n\n\n\n Catatan<\/strong>: tergantung pada jenis bisnis dan tujuan bisnis Anda, Anda mungkin merasa perlu menghitung HPP setiap tahun, triwulanan, bulanan, dua mingguan, atau bahkan mingguan dalam beberapa kasus.<\/p>\n\n\n\n Katakanlah Anda ingin menghitung harga pokok penjualan pada kuartal pertama tahun 2021. Persediaan awal catatan inventaris Anda adalah pada tanggal 1 Januari dan berakhir pada tanggal 31 Maret. <\/p>\n\n\n\n Jika bisnis Anda memiliki persediaan awal sebesar Rp. 200 juta dan total pembelian sebesar Rp. 90 juta untuk kuartal itu, dan Anda menyerahkan inventaris akhir sebesar Rp. 50 juta, maka total HPP Anda untuk kuartal itu adalah:<\/p>\n\n\n\n HPP = Persediaan Awal + Total Pembelian pada Periode Tertentu \u2013 Persediaan Akhi<\/strong>r<\/p>\n\n\n\n HPP = 200.000.000+ 90.000.000-50.000.000 = Rp. 60.000.000<\/strong><\/p>\n\n\n\n Oleh karena itu, total biaya barang (HPP) yang dijual pada kuartal tersebut adalah Rp. 60.000.000<\/p>\n\n\n\n Tips: Agar lebih cepat, gunakan kalkulator HPP<\/a> untuk menghitung HPP dengan rumus persediaan<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n Persediaan awal yang dicatat untuk tahun fiskal yang berakhir pada tahun 2020 adalah Rp. 30 juta. Ada juga persediaan tambahan yang dibeli selama tahun fiskal 2020-2021 sebesar Rp. 20 juta dan persediaan akhir Rp. 15 juta yang dicatat pada tahun fiskal yang berakhir 2021. <\/p>\n\n\n\n Berdasarkan rumus HPP, harga pokok penjualan akan menjadi:<\/p>\n\n\n\n HPP = 30.000.000 + 20.000.000 \u2013 15.000.000 = 35.000.000.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Ini adalah formula yang lebih rinci yang mencakup komponen seperti pengembalian, biaya pengiriman, diskon, dan tunjangan. <\/p>\n\n\n\n Jadi, rumus HPP diperpanjang adalah:<\/p>\n\n\n\n HPP = Persediaan awal + pembelian + Biaya Pengiriman \u2013 Persediaan akhir \u2013 Diskon Pembelian \u2013 Pengembalian dan Potongan Pembelian.<\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n Pertimbangkan sebuah perusahaan XYZ yang memproduksi paket pena. Perhatikan bahwa biaya langsung pembuatan satu paket adalah Rp. 20.000, dan di bawah ini adalah statistik lainnya.<\/p>\n\n\n\n Jawaban:<\/p>\n\n\n\n Biaya inventaris awal: 3000 x 20.000 = Rp. 60.000.000<\/p>\n\n\n\n Biaya persediaan akhir: 1000 x 20.000 = Rp. 20.000.000<\/p>\n\n\n\n HPP = Rp. 60.000.000 + Rp. 50.000.000 + Rp. 20.000.000 – Rp. 4.500.000 \u2013 Rp. 20.000.000 = Rp. 103.500.000<\/strong><\/p>\n\n\n\n Ikuti langkah-langkah di bawah ini untuk mencatat jurnal HPP: <\/p>\n\n\n\n Kumpulkan informasi dari buku Anda sebelum mencatat entri jurnal HPP Anda. Kumpulkan informasi sebelumnya, seperti saldo persediaan awal Anda, biaya persediaan yang dibeli, biaya overhead<\/a> (misalnya, biaya pengiriman), dan jumlah persediaan akhir.<\/p>\n\n\n\n Hitung HPP menggunakan rumus yang telah disebutkan di atas. <\/p>\n\n\n\n Setelah Anda menyiapkan informasi Anda, buat entri jurnal HPP Anda. Pastikan untuk menyesuaikan saldo akun persediaan agar sesuai dengan total persediaan akhir.<\/p>\n\n\n\n Anda mungkin bertanya-tanya, Apakah harga pokok penjualan debit atau kredit? <\/p>\n\n\n\n Saat menambahkan entri jurnal HPP , debet akun HPP Anda dan kreditkan akun Pembelian dan Inventaris Anda. Inventaris adalah perbedaan antara akun HPP dan Pembelian Anda.<\/p>\n\n\n\n Akun HPP Anda bertambah dengan debit dan berkurang dengan kredit. <\/p>\n\n\n\n Saat Anda membeli bahan, kreditkan akun Pembelian Anda untuk mencatat jumlah yang dibelanjakan, debet akun HPP Anda untuk menunjukkan peningkatan, dan kreditkan akun Inventaris Anda untuk meningkatkannya.<\/p>\n\n\n\n Berikut entri jurnal Anda untuk HPP untuk bahan yang dibeli akan terlihat seperti:<\/p>\n\n\n\n Misalkan kita telah membeli 100 pena masing-masing seharga Rp. 25.000 Jadi jurnal untuk transaksi di atas adalah:<\/p>\n\n\n\n Sekarang, pena yang dibeli ini dikenal sebagai persediaan karena ini dibeli dengan maksud untuk dijual kembali.<\/p>\n\n\n\n Jadi artinya, itu adalah Inventaris.<\/p>\n\n\n\nMengenal Definisi Jurnal HPP<\/h2>\n\n\n
<\/figure>\n<\/div>\n\n\nMengapa Jurnal HPP Sangat Penting?<\/h2>\n\n\n\n
\n
Metode Akuntansi untuk Mencatat Harga Pokok Penjualan<\/h2>\n\n\n\n
FIFO: First In, First Out<\/em><\/h3>\n\n\n\n
LIFO: Last In, First Out<\/em><\/h3>\n\n\n\n
Metode Biaya Rata-rata<\/h3>\n\n\n\n
Rumus Menghitung Harga Pokok Penjualan <\/h2>\n\n\n\n
\n
\n
\n
Contoh 1<\/h3>\n\n\n\n
\n
Contoh 2<\/h3>\n\n\n\n
Rumus HPP yang Diperpanjang<\/h2>\n\n\n\n
\n
\n
<\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n
Langkah-langkah Membuat Jurnal HPP<\/h2>\n\n\n
<\/figure>\n<\/div>\n\n\n1. Kumpulkan informasi<\/h3>\n\n\n\n
2. Hitung HPP<\/h3>\n\n\n\n
3. Buat Jurnal HPP<\/h3>\n\n\n\n
Tanggal<\/th> Akun<\/th> Catatan<\/th> Debet<\/th> Kredit<\/th><\/tr><\/thead> XX\/XX\/XXXX<\/td> HPP<\/td> Bahan yang dibeli<\/td> X<\/td> <\/td><\/tr> <\/td> Pembelian<\/td> <\/td> <\/td> X<\/td><\/tr> <\/td> Inventaris<\/td> <\/td> <\/td> X<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n Contoh Jurnal HPP<\/h2>\n\n\n\n
Nama Akun<\/td> Debit<\/td> Kredit<\/td><\/tr> Pembelian (Rp. 25.000 x 100)<\/td> Rp. 2.500.000<\/td> <\/td><\/tr> Kas<\/td> <\/td> Rp. 2.500.000<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n