7 Cara Membangun Tim yang Solid agar Bisnis Bisa Tumbuh

cara membangun tim yang solid banner

Bisnis yang mulai berkembang biasanya diikuti dengan adanya tantangan baru. Sebut saja orderan dan klien semakin banyak serta pekerjaan yang menumpuk.

Tetapi sayangnya masih banyak bisnis seperti ini yang belum memiliki struktur tim solid sehingga sangat bergantung pada owner. Tidak jarang operasional langsung tersendat lantaran owner sakit, liburan, atau fokus ke hal lain.

Membangun tim yang solid bukan sekedar menambah banyak karyawan baru. Tim perlu dibangun secara sistematis sehingga berisi orang yang tepat, sistem kerja yang terstruktur, dan job desc yang jelas supaya bisa terus berjalan tanpa melibatkan owner hingga ke detail terkecil pekerjaan.

Melalui artikel ini akan kami jelaskan bagaimana cara membangun tim yang solid agar bisnis dapat terus bertumbuh!

Mengapa Tim yang Solid Jadi Kunci Pertumbuhan Bisnis?

Banyak owner bisnis yang memposisikan dirinya sebagai eksekutor dengan dalih menjaga keamanan bisnis dan merasa bisa mengerjakan semuanya sendiri. Padahal, ketika bisnis dikerjakan oleh satu orang saja, kapasitasnya pun menjadi terbatas.

Hasil penelitian Gallup menunjukkan bahwa unit kerja dengan tingkat engagement karyawan tertinggi memiliki 18% produktivitas penjualan lebih tinggi dan 23% profitabilitas lebih tinggi dibandingkan unit dengan engagement terendah.

Artinya, membangun tim yang solid bukan sekadar menambah biaya operasional. Ini merupakan investasi untuk menciptakan bisnis yang lebih produktif, mampu mempertahankan karyawan, dan memiliki kapasitas untuk terus berkembang.

Selain itu, tim yang solid juga membawa beberapa manfaat pada bisnis seperti berikut:

  • Meningkatkan koordinasi antaranggota tim karena informasi, pekerjaan, dan tanggung jawab dapat diteruskan dengan lebih jelas.
  • Memperjelas pembagian tanggung jawab sehingga mengurangi pekerjaan yang tumpang tindih atau tugas yang tidak memiliki penanggung jawab.
  • Mengurangi konflik internal karena anggota memiliki ekspektasi dan aturan kerja yang lebih jelas.
  • Meningkatkan produktivitas kerja karena waktu dan energi tidak banyak terbuang untuk miskomunikasi atau menyelesaikan masalah yang seharusnya dapat dicegah.
  • Mempercepat penyelesaian masalah karena anggota terbiasa berkomunikasi, berbagi informasi, dan mencari solusi bersama.
  • Mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan karena bisnis memiliki tim yang mampu menjalankan operasional dan beradaptasi ketika skala usaha semakin besar.

Dengan demikian, membangun tim yang solid juga berarti membangun sistem operasional yang dapat berjalan secara konsisten dan mendukung pertumbuhan bisnis.

kledo banner 3

Baca Juga: Manajemen SDM: Pengertian, Fungsi, Aktivitas, dan Tips Mengelolanya

Bagaimana Cara Membangun Tim yang Solid?

cara membangun tim yang solid 2

Membangun tim yang solid membutuhkan lebih dari sekedar menambah jumlah karyawan. Berikut empat langkah membangun tim kerja yang solid supaya bisnis kamu bisa terus bertumbuh!

1. Tentukan Fondasi Sebelum Merekrut Orang Pertama

Kesalahan utama yang sering dilakukan owner adalah merekrut tanpa mengetahui posisi apa yang benar-benar dibutuhkan. Oleh karena itu, owner perlu menjawab tiga pertanyaan, yaitu: 

  • Pekerjaan apa yang paling menyita waktu tetapi bisa didelegasikan?
  • Hasil apa yang diharapkan dari posisi tersebut?
  • Bagaimana perannya di sistem bisnis ke depannya?

Selain itu, struktur organisasi juga perlu ditentukan sejak awal. Tujuannya bukan sekedar untuk membuat bisnis menjadi birokratis, tetapi juga untuk memperjelas siapa yang bertanggung atas apa, siapa melapor kepada siapa, dan bagaimana keputusan dibuat. Tanpa struktur yang jelas, bisnis akan terus bergantung pada owner karena anggota tim tidak memiliki batas kewenangan yang jelas untuk mengambil keputusan.

2. Rekrut Berdasarkan Nilai dan Potensi, Bukan Sekedar CV

Proses rekrutmen bisnis kecil yang sedang bertumbuh berbeda dari rekrutmen perusahaan besar. Di bisnis kecil, satu orang yang bisa memberi dampak positif ataupun negatif pada produktivitas dan kultur tim. Oleh karena itu, jangan hanya melihat pengalaman yang tertera di CV saja.

Owner bisa memperhatikan value fit atau mencari kandidat yang memiliki cara kerja dan nilai yang sejalan dengan bisnis. Hal ini bisa digali dengan meminta kandidat menceritakan pengalaman kerja, menghadapi masalah, dan menentukan prioritas.

Lalu yang kedua, lihat potensi belajarnya. Karena kebutuhan bisnis akan terus berubah sehingga membutuhkan seseorang yang mampu cepat beradaptasi. Pastikan juga job description dibuat dengan jelas agar tanggung jawab dan ekspektasi sudah dipahami sejak awal.

Baca Juga: Rekomendasi 7 Job Portal Terbaik di Indonesia

3. Kembangkan Tim, Jangan Hanya Menuntut Hasil

Tim yang solid tidak langsung terbentuk setelah proses rekrutmen. Owner masih perlu membantu anggota tim meningkatkan kemampuan agar mereka dapat bekerja secara mandiri.

Ada 3 tahapan yang bisa Anda ikuti untuk mengembangkan karyawan:

  • Memberikan feedback secara rutin dan spesifik kepada karyawan, dilakukan secara rutin bukan hanya saat evaluasi tahunan.
  • Lakukan delegasi yang disengaja dengan memberikan tanggung jawab sekaligus kewenangan untuk mengambil keputusan.
  • Siapkan program pelatihan karyawan yang terstruktur sesuai kebutuhan tim. Investasi dalam program pelatihan karyawan dapat membantu meningkatkan kapabilitas dan kesiapan tim menghadapi perubahan.

Untuk bisnis dengan tim 10 orang atau lebih yang membutuhkan pengembangan lebih terstruktur, Corporate Training Belajarlagi dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri dan skala bisnis.

4. Kelola Konflik dengan Cepat dan Objektif

Konflik dalam tim tidak selalu buruk. Perbedaan pendapat dapat membantu menemukan solusi yang lebih baik, tetapi konflik yang dibiarkan dapat menurunkan produktivitas dan mengganggu hubungan kerja.

Jika terjadi konflik, mulailah dengan mengidentifikasi sumber konflik, lalu dengarkan penjelasan dari setiap pihak secara adil.

Pisahkan fakta, bukti, dan kejadian yang dapat diverifikasi dari asumsi atau interpretasi pribadi. Setelah masalahnya jelas, tentukan solusi yang relevan dan sepakati tindakan yang perlu dilakukan masing-masing pihak.

Setelah itu, evaluasi penyebabnya agar masalah serupa tidak terus berulang, misalnya dengan memperjelas pembagian tugas, alur komunikasi, atau aturan kerja.

5. Ciptakan Budaya Kerja yang Sehat

Tim yang solid membutuhkan lingkungan kerja yang membuat anggota merasa aman untuk berkomunikasi, menyampaikan pendapat, dan mengakui kesalahan.

Anda bisa membangunnya dengan menetapkan nilai, aturan, dan standar perilaku kerja yang jelas.

Namun, budaya kerja tidak cukup hanya ditulis dalam aturan. Owner dan manajer perlu menjadi contoh dalam penerapannya, seperti menghargai pendapat, menepati komitmen, memberikan feedback secara profesional, dan tidak menyalahkan anggota tim secara terbuka.

Perhatikan juga keseimbangan antara target dan beban kerja. Target yang tinggi tetap perlu didukung pembagian pekerjaan, sumber daya, dan prioritas yang realistis. Dengan begitu, tim dapat mengejar hasil tanpa membangun pola kerja yang tidak sehat.

6. Evaluasi Kinerja Tim Secara Berkala

Membangun tim yang solid bukan proses sekali jadi. Anda perlu mengevaluasi kinerja tim secara berkala untuk melihat apakah cara kerja yang diterapkan benar-benar menghasilkan perbaikan.

Evaluasi dapat dimulai dari pencapaian target, kemudian dilanjutkan dengan kualitas kolaborasi, komunikasi, dan penyelesaian masalah. Jangan hanya melihat hasil akhir; cari tahu juga hambatan yang membuat target belum tercapai.

Dari hasil evaluasi, tentukan beberapa perbaikan untuk periode berikutnya. Misalnya, memperjelas pembagian tugas, mengubah alur kerja, memberikan pelatihan, atau menetapkan target yang lebih terukur.

7. Bangun Sistem yang Membuat Tim Bisa Bekerja Mandiri

Membangun tim kerja yang solid tidak hanya soal memilih orang terbaik, melainkan juga menyiapkan sistem yang membuat pekerjaan dapat berjalan secara konsisten tanpa harus selalu menunggu arahan owner.

Membangun sistem bisa dimulai dengan membuat SOP dan dokumentasi kerja agar proses lebih mudah dipahami, terutama oleh anggota tim baru.

Selain itu, bangun sistem keuangan yang transparan dan terorganisir. Ketika tim bertambah, pengeluaran seperti gaji, reimburse, operasional, dan investasi pengembangan juga semakin kompleks.

Cara termudahnya adalah dengan menggunakan software pembukuan bisnis yang terintegrasi sehingga dapat membantu memisahkan keuangan bisnis dan pribadi, memantau arus kas secara real-time, serta membuat keputusan berdasarkan data.

Dengan begitu, sistem tidak hanya membantu tim bekerja lebih mandiri, tetapi juga membantu owner mengelola bisnis dengan lebih terukur.

Membangun tim yang solid butuh proses yang panjang. Semuanya dimulai dari membuat struktur kerja dan organisasi yang jelas, rekrutmen  yang tepat, mengadakan program pengembangan karyawan, hingga sistem yang mendukung tim bekerja secara mandiri.

Ketika empat hal ini dibangun dengan baik, bisnis dapat terus berkembang tanpa seluruh operasional bergantung pada owner.

Seiring tim bertumbuh, software akuntansi Kledo dapat membantu mengelola keuangan dengan lebih rapi, bahkan tanpa latar belakang akuntansi. Sementara itu, Corporate Training Belajarlagi dapat menjadi pilihan untuk mengembangkan kompetensi tim melalui program yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.

Baca Juga: Apa Itu Sistem Rekrutmen? Pengertian dan Tahapannya

Apa Saja Ciri-Ciri Tim yang Sudah Solid?

cara membangun tim yang solid 1

Tim yang solid bukan berarti tidak pernah mengalami konflik atau selalu memiliki pendapat yang sama.

Tim yang solid adalah tim yang mampu bekerja menuju tujuan bisnis yang sama, menjalankan peran dengan jelas, dan menyelesaikan masalah tanpa mengganggu produktivitas.

Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk menilai apakah tim sudah solid antara lain:

Indikator Tim yang Solid
Komunikasi Informasi disampaikan secara terbuka, jelas, dan tepat waktu sehingga mengurangi miskomunikasi.
Tanggung jawab Setiap anggota memahami peran, target, dan tanggung jawabnya tanpa harus selalu diarahkan oleh owner.
Kepercayaan Anggota dapat mengandalkan rekan kerja untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi komitmen.
Konflik Perbedaan pendapat dibahas berdasarkan fakta dan fokus pada penyelesaian masalah, bukan saling menyalahkan.
Target Anggota memahami tujuan bersama dan mengetahui bagaimana pekerjaannya berkontribusi terhadap target bisnis.
Evaluasi Kinerja dibahas secara berkala untuk menemukan hambatan, memperbaiki proses, dan meningkatkan hasil kerja.

Selain indikator yang kami sebutkan di atas, tingkat kemandirian juga bisa menjadi menjadi tanda penting.

Tim yang solid tidak perlu menunggu instruksi owner untuk setiap keputusan operasional. Anggota tim mampu mengambil keputusan sesuai kewenangan, saling membantu ketika ada kendala, dan tetap bertanggung jawab terhadap hasilnya.

Jadi, tim yang solid membuat operasional tidak terlalu bergantung pada satu orang. Sebagai pemilik bisnis, Anda pundapat lebih fokus pada strategi, pengembangan bisnis, dan keputusan lain yang lebih penting.

Baca Juga: Tips Mencari Karyawan Toko Retail & Membuat Tim yang Sukses

Kesimpulan

Membangun tim yang solid tidak selesai hanya dengan merekrut karyawan yang kompeten, tapi juga membantu karyawan tersebut memahami perannya, memiliki tujuan yang sama, mampu berkomunikasi dengan baik, dan dapat saling mengandalkan dalam menjalankan pekerjaan.

Mulai dari menetapkan tujuan dan pembagian tanggung jawab yang jelas, membangun komunikasi terbuka, memberikan kepercayaan, hingga menangani konflik dan mengevaluasi kinerja secara berkala.

Proses tersebut membantu membentuk tim yang tidak hanya kompak, tetapi juga mampu bekerja secara mandiri dan konsisten.

Tim yang solid akan membuat operasional bisnis lebih terkoordinasi dan membantu owner mengurangi ketergantungan pada dirinya sendiri.

Referensi:

*Artikel ini hasil kerjasama Kledo dan Belajarlagi

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

five × 5 =