Pada hari Jumat, 28 Agustus 2026 kemarin, Kledo mengadakan acara Bincang Kledo yang bertajuk “Rahasia Business Owner yang Uangnya Terus Bertumbuh”.
Webinar kali ini mengundang 2 narasumber, yaitu: Hendy Tan (CEO Trident Trading Academy) dan Nanung Junior (Senior Consultant Kledo).
Sebagai informasi, Trident Trading Academy adalah platform edukasi yang berfokus pada dunia trading dan juga keuangan.
Pada rekap ini, kami akan merangkum materi dan keseruan Bincang Kledo#25 Kledo kemarin.
Cara Mengubah Mindset Soal Uang agar Naik Level
Menurut Hendy Tan, yang menentukan kesuksesan kita adalah mindset kita sendiri terhadap bisnis.
“Apakah Anda sebagai business owner mempunyai bisnis, atau bisnisnya yang mempunyai Anda?”
Level 1: Kita bekerja untuk uang
Kebanyakan orang masih memiliki mindset bekerja untuk uang. Contohnya, karyawan, freelancer, bahkan business owner masih 100% yang bergantung pada diri mereka sendiri. Kalau berhenti bekerja, maka penghasilan juga berhenti.
Ini umum pada UMKM yang baru berdiri, karena pemilik baru mendirikan bisnis sendiri dan menyusun semua sistemnya secara mandiri. Pada tahap ini, bisnisnya lah yang ‘mempunyai’ Anda.
Level 2: Orang lain bekerja untuk kita
Mindset selanjutnya adalah orang lain bekerja untuk menghasilkan kita uang. Di titik ini, bisnis sudah punya tim, sistem, SOP, dan delegasi yang tidak bergantung pada Anda sebagai owner.
Jadi ketika Anda berhenti kerja, bisnis bisa tetap berjalan.
Level 3: Uang bekerja untuk kita
Mindset dengan level tertinggi adalah ketika uang bekerja untuk kita. Uang yang kita dapatkan ditempatkan di aset produktif (saham, obligasi, emas, crypto, dll) sehingga bisa menghasilkan uang sendiri.
Baca Juga: Rekap Cakap#5 Kledo: “Nobody Cares About Your Content”
Bagaimana Cara Naik Level Sebagai Business Owner?
Jika Anda berada di level 1 dan ingin naik ke level 2 dan level 3, ini adalah langkah-langkahnya menurut Hendy Tan:
Bagaimana cara naik level ke level 3?
Menurut Hendy Tan, jika ingin naik level dari Level 1 → Level 2, prinsipnya adalah “stop doing everything yourself.” Jangan melakukan semua hal sendiri, tapi delegasikan ke karyawan Anda.
Langkahnya adalah:
- Document: Tulis semua yang selama ini hanya ada di kepala owner: SOP, alur kerja, checklist, sales process, customer handling.
- Delegate: Serahkan pekerjaan operasional harian. Jadi, owner fokus pada decision making, strategy, dan capital allocation. Yang didelegasikan ke karyawan adalah hal yang sesuai kemampuan mereka atau tugas-tugas operasional.
- Control: Delegasi tugas bukan berarti Anda lepas tangan. Gunakan KPI + reporting + review rutin (contoh: weekly report, daily report via WA grup, pekerjaan yang bisa dipantau live via Google Docs/Spreadsheet). Jangan lupa untuk memberikan contoh pekerjaan kepada karyawan sejelas mungkin.
Dengan cara ini, lama kelamaan karyawan akan mandiri dan membangun sistemnya sendiri.
Bagaimana cara naik level ke level 3?
Untuk naik dari Level 2 → Level 3, prinsipnya adalah kelola profit bisnis dengan benar.
Profit bisnis idealnya dibagi ke empat pos:
- Business Reserve/Petty Cash: Cadangan operasional saat kondisi tidak terduga. Jika sudah profit, jangan serta merta ambil profit tersebut untuk berfoya-foya. Ini adalah salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan business owner menurut Hendy Tan. Justru, perusahaan harus selalu memiliki kasnya sendiri. Pisahkan uang bisnis dari uang kas, dan gunakan uang bisnis untuk mengembangkan usaha sampai maksimal.
- Reinvestment ke bisnis (ekspansi, marketing, tim, sistem): Reinvestasi untuk mengembangkan bisnis seperti aset produktif atau membuka cabang.
- Owner/dividen (kebutuhan pribadi dan lifestyle): Owner boleh mengambil keuntungan untuk kebutuhan pribadi, tetapi ada porsinya sendiri.
Risk Management untuk Uang

Sebelum investasi, Anda perlu memiliki mindset seperti ini:
“Tidak semua investasi akan menghasilkan untung. Mayoritas investasi akan hilang, karena investasi itu sendiri bukan hal yang mudah.” – Hendy Tan
Apa pun jenis investasinya: bisnis, trading, investasi lain, masalahnya adalah sama: ketidak pastian/uncertainty.
Yang bisa kita kendalikan bukan hasilnya, tapi seberapa besar kerugian yang sanggup kita tanggung.
Paralel risk management antara trading/investasi dan bisnis:
| Trading/Investasi | Bisnis |
|---|---|
| Position sizing | Besar modal yang dialokasikan |
| Stop loss | Batas kerugian per project |
| Diversifikasi | Jangan bergantung pada 1 customer/produk |
| Risk-reward | Potensi keuntungan vs kerugian |
| Cash management | Business runway |
Position sizing
Yaitu membagi uang untuk investasi dengan bijak. Misalnya jika Anda memiliki Rp100 juta, jangan menggunakan semuanya untuk 1 investasi saja.
Gunakan 20% maksimal dari uang tersebut (20 juta) untuk mencoba 1 jenis investasi lebih dulu.
Stock loss
Saat berinvestasi, kita bisa melakukan kesalahan. Misalnya, investasi Bitcoin sebesar $100.000, tetapi harganya justru terus turun sampai 5%-nya, yaitu $95.000.
Karena modal kita adalah Rp20 juta, maka kerugian 5% tadi adalah Rp1 juta.
Di titik ini, kita harus berhenti berinvestasi. Ini adalah cara untuk mempertahankan investasi.
Diversifikasi
Diversifikasi investasi Anda, jangan menghabiskan semua ke 1 aset. Misalnya: masing-masing Rp20 juta untuk Bitcoin, emas, cash, dan saham.
Risk and Reward
Kenapa kita harus mengatur risiko dan hasilnya? Saat investasi, kita harus menghitung juga untung dan ruginya.
Cash management
Anda masih tetap harus memiliki cadangan kas, karena kas adalah:
- Liquidity
- Perlindungan
- Amunisi ketika ada peluang.
Baca Juga: Rekap Webinar: Kledo x Kanca Kreasi Indonesia
Berapa Profit yang Wajar Dialokasikan untuk Investasi/Trading?

Sebelum memutuskan berapa banyak profit yang dialokasikan ke investasi, lihat 4 hal ini:
- Business Runway: Punya cash untuk berapa bulan operasional?
- < 3 bulan → fokus bangun cash reserve dulu
- 3–6 bulan → mulai bisa investasi bertahap
- > 6 bulan → lebih fleksibel
- Stabilitas Cashflow: Bisnis dengan recurring revenue vs project-based butuh strategi berbeda. Cashflow tidak stabil membutuhkan cash buffer lebih besar.
- Growth Opportunity: Bandingkan: apakah Rp100 juta lebih menguntungkan kalau masuk investasi pasar (potensi 10–15%/tahun) atau diputar kembali ke bisnis sendiri (ROI bisa lebih tinggi)?
- Risk Profile: Contoh alokasi dari profit Rp100 juta:
- 30% → Business Reserve
- 30% → Reinvest ke bisnis
- 20% → Investment
- 10% → Trading/High Risk
- 10% → Owner/Lifestyle
“Don’t just make money. Build systems. Allocate capital. Let money work.” -Hendy Tan
Baca Juga: Rekap Webinar: Kledo X EnforceA – Anti Panik Tax Season
Strategi Mengenali Kesehatan Bisnis dari Laporan Keuangan
Materi selanjutnya adalah tentang mengenali kesehatan bisnis dari laporan keuangan yang disampaikan oleh Nanung Junior.
Banyak pemilik bisnis menganggap laporan keuangan hanya sebagai kewajiban administratif. Padahal fungsinya jauh lebih dari itu.
Seperti tubuh yang perlu dicek kesehatannya secara rutin, bisnis pun perlu dipantau kondisi keuangannya secara berkala agar masalah bisa terdeteksi sebelum menjadi besar.
Bisnis Sehat Itu Seperti Apa?
Nanung membuka presentasinya dengan pertanyaan menarik: Manakah bisnis yang lebih sehat?
- Bisnis A dengan omzet Rp500 juta, laba Rp100 juta, tapi kas hanya Rp20 juta; atau
- Bisnis B dengan omzet Rp300 juta, laba Rp70 juta, tapi kas Rp80 juta?
Jawabannya tidak sesederhana melihat angka omzet atau laba. Inilah mengapa penting untuk memahami tiga istilah dasar terlebih dahulu:
- Omzet adalah total penjualan yang dihasilkan bisnis.
- Laba adalah pendapatan setelah dikurangi semua beban dan biaya.
- Cash adalah uang yang benar-benar tersedia dan bisa digunakan hari ini.
Laporan Keuangan sebagai Radar Bisnis
Laporan keuangan yang baik berfungsi memberi tahu kondisi bisnis dari berbagai sudut.
Dari laporan keuangan, Anda bisa mengetahui beberapa hal seperti:
- Berapa total penjualan yang terjadi (sales)
- Apakah produk menghasilkan margin yang sehat (gross profit)
- Berapa uang yang benar-benar tersisa setelah membayar semua (net profit)
- Berapa uang tunai yang tersedia sekarang (cash)
- Berapa piutang yang masih ada di tangan pelanggan (receivable)
- Berapa kewajiban yang masih harus dibayar ke supplier (payable)
- Berapa modal yang masih tertahan dalam bentuk stok (inventory).
Perbedaan Laba dan Cash Flow
Ini adalah salah satu konsep yang paling sering disalahpahami oleh pemilik bisnis.
Laba menjawab pertanyaan: “Apakah bisnis saya menghasilkan keuntungan?” Sementara cash flow menjawab pertanyaan yang berbeda: “Apakah bisnis saya punya uang untuk membayar kebutuhan hari ini?”
Bisnis bisa mencatat laba yang besar di atas kertas, tapi jika kas terus menipis, bisnis tersebut tetap bisa mengalami kesulitan, bahkan kolaps. Inilah mengapa memantau keduanya sama-sama penting.
Ada tiga jenis arus kas yang perlu dipahami:
- Arus kas operasional (dari kegiatan bisnis sehari-hari),
- Arus kas investasi (dari pembelian atau penjualan aset)
- Arus kas pendanaan (dari pinjaman, modal, atau pembayaran utang).
Baca Juga: Rekap Webinar Mental Health Kledo x Dinamis
Apa Saja Red Flag Arus Kas yang Perlu Diwaspadai?
Jika laporan arus kas menunjukkan 4 tanda bahaya ini, maka Anda harus waspada:
- Laba naik tetapi kas terus turun. Ini bisa berarti banyak penjualan yang belum dibayar atau ada biaya tersembunyi yang menggerus kas.
- Penjualan naik tetapi piutang semakin besar. Artinya uang hasil penjualan belum benar-benar masuk ke kas.
- Stok semakin banyak tetapi perputarannya lambat. Artinya, modal besar tertahan di gudang dan tidak bergerak.
- Bisnis terus membutuhkan tambahan modal dari luar padahal penjualan berjalan. Ini tanda ada kebocoran yang belum teridentifikasi.
Tips: Jangan Tertipu Jumlah Saldo di Rekening
Saldo di rekening bisnis bukan berarti uang bebas yang bisa langsung dipakai.
Misalnya saldo rekening Rp150 juta, tapi jika dirinci ada modal kerja yang dibutuhkan Rp50 juta, hutang supplier Rp30 juta, gaji dan operasional Rp20 juta, dan dana darurat bisnis Rp20 juta. Jumlah total kebutuhan ini sendiri sudah Rp120 juta.
Maka surplus cash yang benar-benar aman untuk dipertimbangkan hanya sekitar Rp30 juta, itupun dengan tetap memperhatikan kebutuhan bisnis ke depan.
Tips: Jangan Campur Keuangan Bisnis dan Pribadi
Seperti yang disebutkan Hendy Tan tadi, banyak pemilik bisnis mencampur uang bisnis dengan uang pribadi.
Solusinya adalah memiliki tiga “dompet” yang terpisah: dompet bisnis, dompet pribadi, dan dompet investasi.
Dengan solusi ini, setiap uang memiliki batas yang jelas.
Ketika pemilik bisnis ingin mengambil uang dari bisnis, sebaiknya jelas kategorinya: apakah itu gaji owner (dicatat sebagai biaya), prive (pengambilan pribadi oleh pemilik), dividen (pembagian laba sesuai struktur bisnis), atau investasi (dana surplus yang sudah ditetapkan).
Kesimpulan
Webinar Kledo kali ini memberikan wawasan penting bahwa membangun bisnis yang sehat itu erat kaitannya dengan memiliki mindset terkait uang yang benar.
Seperti yang disampaikan Hendy Tan, ada tiga level dalam hubungan seseorang dengan uang, dari yang bekerja untuk uang, hingga uang yang bekerja untuk mereka.
Naik level bukan berarti harus langsung terjun ke investasi, melainkan dimulai dari membangun sistem dan delegasi yang kuat di dalam bisnis itu sendiri.
Di sisi lain, sistem yang kuat tidak bisa dibangun tanpa data yang akurat. Laporan keuangan ada untuk memberi tahu kondisi bisnis sesungguhnya.
Dengan memahami kedua hal ini, Anda bisa mengambil keputusan yang lebih terarah, mengalokasikan profit dengan lebih bijak, dan membangun bisnis yang tumbuh sehat secara finansial.
- Bincang Kledo: Rahasia Business Owner yang Uangnya Terus Tumbuh - 2 September 2026
- Penyusutan Fiskal: Definisi, Metode, Kelompok, & Cara Hitung - 1 September 2026
- Mengenal Model Bisnis Pendapatan Berulang dan Jenisnya - 1 September 2026