Biaya distribusi adalah pengeluaran yang bisnis keluarkan untuk mengirim produk atau layanannya kepada pelanggan.
Biasanya, biaya ini mencakup biaya transportasi, pergudangan, manajemen persediaan, pengemasan, penanganan, dan administrasi.
Biaya distribusi dapat memengaruhi profitabilitas dan daya saing bisnis, terutama pada industri dengan margin tipis dan pelanggan yang sensitif terhadap harga.
Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana cara menghitung dan mengontrol biaya distribusi dalam operasional bisnis serta cara mengoptimalkan efisiensinya untuk kepuasan pelanggan.
Cara Menghitung Biaya Distribusi

Perhitungan biaya distribusi adalah proses untuk mengetahui berapa besar biaya yang perusahaan keluarkan dari menyalurkan produk hingga sampai ke pelanggan.
Proses ini mencakup seluruh biaya langsung maupun tidak langsung yang berkaitan dengan aktivitas distribusi.
Metode perhitungannya bisa berbeda-beda antar perusahaan, tetapi prinsip dasarnya sama, yaitu mengidentifikasi, mengumpulkan, mengalokasikan, menjumlahkan, dan menganalisis biaya.
1. Identifikasi biaya
Pada tahap ini, perusahaan menentukan jenis biaya apa saja yang termasuk dalam proses distribusi. Umumnya meliputi biaya gudang, transportasi, pengemasan, tenaga kerja pengiriman, hingga reverse logistics (pengembalian barang).
Contoh:
Sebuah toko online mengidentifikasi biaya distribusi sebagai berikut:
- Biaya gudang
- Ongkos kirim
- Biaya packing
- Biaya kurir
2. Pengumpulan data
Setelah menentukan jenis biaya, perusahaan mengumpulkan data dari setiap kategori. Data bisa berasal dari faktur, laporan pengeluaran, atau sistem akuntansi.
Contoh:
Dalam satu bulan, toko online mengumpulkan data:
- Biaya gudang: Rp5.000.000
- Ongkos kirim: Rp12.000.000
- Biaya packing: Rp3.000.000
- Gaji kurir: Rp4.000.000
3. Alokasi biaya tidak langsung
Beberapa biaya tidak bisa langsung dikaitkan ke satu pesanan, sehingga perlu dialokasikan menggunakan cost driver (misalnya jumlah pesanan, unit terjual, atau luas gudang).
Contoh:
Biaya gudang Rp5.000.000 dialokasikan berdasarkan jumlah pesanan. Jika dalam sebulan ada 1.000 pesanan, maka alokasi biaya gudang per pesanan = Rp5.000.000 / 1.000 = Rp5.000 per pesanan.
4. Perhitungan total biaya
Semua biaya distribusi kemudian dijumlahkan untuk mengetahui total biaya distribusi dalam periode tertentu atau per pesanan.
Contoh:
Total biaya distribusi per bulan:
- Gudang: Rp5.000.000
- Ongkir: Rp12.000.000
- Packing: Rp3.000.000
- Kurir: Rp4.000.000
Total = Rp24.000.000
Jika ada 1.000 pesanan, maka biaya distribusi rata-rata per pesanan = Rp24.000.000 / 1.000 = Rp24.000.
5. Analisis
Tahap terakhir adalah menganalisis struktur biaya untuk menemukan pemborosan dan peluang efisiensi.
Contoh analisis:
Perusahaan menemukan bahwa ongkos kirim menyumbang 50% dari total biaya distribusi. Dari sini, perusahaan dapat:
- Negosiasi tarif dengan ekspedisi
- Menggunakan gudang lebih dekat ke pelanggan
- Menerapkan minimum order untuk subsidi ongkir
Perlu diingat bahwa tingkat detail dan metode perhitungan biaya distribusi dalam laporan laba rugi dapat berbeda tergantung pada jenis bisnis, skala operasi, dan ketersediaan data.
Namun, dengan pencatatan yang rapi dan sistematis, perusahaan dapat mengendalikan biaya distribusi dengan lebih efektif.
Cara Mengontrol Biaya Distribusi Bisnis

1. Memilih saluran distribusi yang tepat
Setiap saluran distribusi memiliki kelebihan, kekurangan, serta struktur biaya yang berbeda.
Perusahaan perlu menganalisis karakteristik dan preferensi target pasar sebelum menentukan saluran yang paling sesuai dan terjangkau.
2. Negosiasi dengan pemasok dan penyedia logistik
Strategi lain untuk menekan biaya distribusi adalah melakukan negosiasi dengan pemasok bahan baku, pemasok kemasan, dan perusahaan transportasi.
Perusahaan sebaiknya membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan agar memiliki posisi tawar menawar yang lebih kuat untuk memperoleh harga lebih rendah, diskon, atau syarat pembayaran yang lebih baik.
Selain itu, perusahaan perlu membandingkan beberapa vendor untuk mendapatkan nilai terbaik serta memantau kinerja mereka secara berkala.
Jika Anda ingin menggunakan jasa logistik yang profesional, Mitra Logistics bisa menjadi partner dalam memberikan layanan logistik antar kota yang terpercaya.
3. Mengoptimalkan rute dan moda transportasi
Transportasi merupakan salah satu komponen terbesar dalam pengelolaan biaya logistik karena berkaitan dengan perpindahan barang dari titik asal ke pelanggan.
Oleh sebab itu, perusahaan perlu mengoptimalkan rute dan moda transportasi untuk meminimalisir jarak tempuh, waktu pengiriman, dan konsumsi bahan bakar.
4. Pemanfaatan ruang yang lebih optimal
Pemanfaatan ruang gudang secara tepat dapat membantu menurunkan biaya distribusi. Hal ini karena semakin efisien penggunaan ruang penyimpanan, semakin kecil pula biaya yang harus dikeluarkan untuk menyimpan produk.
Namun, efisiensi ini tidak berarti bisnis Anda boleh mengabaikan kualitas layanan. Intinya, tetap pastikan bahwa Anda menyimpan produk dengan aman dan sesuai standar.
5. Optimalisasi manajemen pesanan
Mengelola pesanan secara efektif merupakan salah satu cara terbaik untuk menghemat biaya distribusi.
Dengan perencanaan yang baik, perusahaan dapat menggabungkan pengiriman ke pelanggan yang berada di area yang sama.
Pendekatan ini membantu mengurangi frekuensi perjalanan dan penggunaan bahan bakar, sehingga biaya distribusi menjadi lebih rendah.
*Artikel ini hasil kerja sama Kledo dengan Mitra Logistics
- Cara Menghitung dan Mengontrol Biaya Distribusi dalam Bisnis - 23 Februari 2026
- Apa Saja Perbedaan Note Payable dan Account Payable? - 20 Februari 2026
- Metode Pencatatan Kas Kecil: Pengertian, Jenis, dan Contoh - 20 Februari 2026