Good Manufacturing Practice adalah: Pengertian & Manfaatnya

good manufacturing practice banner

Bagaimana kita bisa yakin apakah produk yang kita gunakan sehari-hari seperti makanan, obat-obatan, hingga kosmetik aman dan sesuai standar? Jawabannya adalah karena ada Good Manufacturing Practice (GMP).

GMP penting dalam dunia industri karena menjadi standar yang memastikan setiap tahapan produksi dilakukan secara terkontrol, terdokumentasi, dan memenuhi persyaratan mutu serta keamanan.

Tanpa penerapan GMP yang baik, risiko kontaminasi, cacat produk, hingga hilangnya kepercayaan konsumen akan semakin besar.

Artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai GMP, mengapa penerapannya penting, dan apa saja aspek-aspek yang ada di dalamnya.

Apa Itu Good Manufacturing Practice?

Good Manufacturing Practice (GMP) adalah peraturan yang menetapkan persyaratan mutu minimum untuk kegiatan produksi, pengolahan, pengemasan, pelabelan, dan penyimpanan pada produk makanan, obat-obatan, kosmetik, serta produk lainnya.

Tujuan peraturan ini adalah meminimalisir atau mengeliminasi risiko kontaminasi, produk tertukar, cacat, dan kesalahan yang dapat membahayakan manusia maupun hewan.

Di Indonesia, GMP sering disebut CPPB (Cara produksi Pangan yang Baik) dan merupakan hal yang wajib untuk bisnis yang ingin mendapat izin distribusi dari BPOM.

Beberapa aspek yang dapat memengaruhi keamanan dan mutu produk, yang diatur dalam pedoman dan regulasi GMP, antara lain:

  • Manajemen mutu
  • Sanitasi dan kebersihan
  • Bangunan dan fasilitas
  • Peralatan
  • Bahan baku
  • Personel
  • Validasi dan kualifikasi
  • Penanganan keluhan
  • Dokumentasi dan pencatatan
  • Inspeksi dan audit mutu
kledo banner 3

Baca Juga: Diagram Sistem Manufaktur: Contoh dan Tips Membuatnya

Mengapa Good Manufacturing Practice Penting?

Good Manufacturing Practice (GMP) ada karena konsumen tidak dapat sepenuhnya memastikan apakah suatu produk aman, berfungsi dengan baik, atau diberi label secara jujur.

Karena itu, masyarakat hanya bisa memercayai bahwa produsen telah memastikan mutu dan keamanan produk, terutama yang berdampak langsung pada kesehatan.

Nah, GMP menumbuhkan kepercayaan publik terhadap proses produksi makanan dan obat-obatan.

Alih-alih hanya berfokus pada produk akhir, regulasi GMP menitikberatkan pada proses pembuatan produk.

Dengan mengendalikan mutu pada berbagai tahap proses produksi, GMP bertujuan untuk mengurangi kemungkinan dihasilkannya produk yang tidak aman secara drastis.

Baca Juga: Pengertian Sistem Informasi Manufaktur, Elemen, dan Tips Mengelolanya

Apa Tujuan Penerapan Good Manufacturing Practice?

Penerapan standar Good Manufacturing Practice (GMP) bukan hanya untuk memberikan manfaat bagi konsumen.

Implementasi GMP juga mencakup kepentingan produsen, konsumen, dan pemerintah. Berikut penjelasan manfaat penerapan standar GMP tersebut.

1. Menjaga keamanan konsumen

good manufacturing practice 1

Produksi makanan dan minuman yang dilakukan sesuai dengan GMP tentu akan menghasilkan produk dengan mutu yang baik.

Dengan demikian, keamanan konsumen dapat terjaga.

2. Memberikan informasi produk kepada konsumen

Konsumen berhak mengetahui setiap detail dari makanan atau minuman yang akan dikonsumsi.

Informasi tersebut dapat berupa komposisi produk, tanggal kedaluwarsa, hingga kemungkinan efek samping.

3. Melindungi pasar

Dari sisi produsen, penerapan GMP bertujuan untuk memasarkan produk secara positif kepada masyarakat. Dengan cara ini, perusahaan dapat membangun citra yang baik di mata konsumen.

Di era serba digital seperti ini, konsumen bisa menyebarkan opini mengenai suatu produk dari berbagai perusahaan.

Penerapan GMP yang baik dan benar dapat meningkatkan kredibilitas brand di mata konsumen serta membantu calon konsumen lainnya merasa lebih aman dalam memilih produk.

4. Meningkatkan kepercayaan konsumen

Perusahaan juga akan memperoleh manfaat berupa peningkatan kepercayaan jika mampu menghasilkan produk berkualitas dan mematuhi prosedur GMP.

Kualitas yang unggul dan konsisten akan membantu perusahaan mempertahankan serta meningkatkan jumlah konsumennya.

5. Membantu mencapai tujuan perusahaan

Kepercayaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan perusahaan dapat membantu perusahaan mencapai tujuan bisnisnya.

Dengan demikian, perusahaan dapat menjalankan operasional secara lebih efektif dan efisien.

6. Mengurangi biaya operasional

Penerapan GMP yang baik dan benar juga dapat membantu perusahaan menekan anggaran serta mengurangi biaya operasional.

Penerapan Good Manufacturing Practices yang optimal juga memberikan kontribusi bagi pemerintah, antara lain sebagai berikut.

7. Membantu pemerintah menjalankan perannya

  • Pemerintah dapat melindungi konsumen dari kerugian akibat mengonsumsi produk yang tidak bermutu, sehingga konsumen merasa lebih aman terhadap produk yang dibeli.
  • Pemerintah dapat menjamin kepada masyarakat bahwa produk yang beredar di pasar layak untuk dikonsumsi, sehingga konsumen dapat mengonsumsi produk dengan lebih tenang dan turut membantu meningkatkan penerimaan negara.
  • Pemerintah berperan sebagai penghubung antara konsumen dan produsen dalam penyampaian informasi mengenai produk konsumsi. Konsumen dapat memperoleh edukasi terkait bahan yang digunakan, proses pengemasan, hingga informasi yang tercantum pada kemasan produk.

Baca Juga: Siklus Akuntansi Bisnis Manufaktur dan Bedanya dengan Bisnis Lain

Apa Saja 5 Komponen Utama Good Manufacturing Practice?

Dalam industri manufaktur, penerapan dan pengaturan GMP di tempat kerja sangat penting untuk memastikan mutu dan keamanan produk yang konsisten.

Lima komponen utama GMP, yang umum dikenal sebagai 5P, membantu organisasi mematuhi standar ketat di seluruh proses produksi.

1. People (Sumber Daya Manusia)

good manufacturing practice 3

Seluruh karyawan wajib mematuhi proses dan peraturan produksi secara ketat.

Setiap karyawan harus mengikuti pelatihan GMP terkini agar memahami peran dan tanggung jawab mereka dengan baik.

Penilaian kinerja secara berkala membantu meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kompetensi karyawan.

2. Products (Produk)

Seluruh produk harus melalui pengujian, perbandingan, dan penjaminan mutu secara berkelanjutan sebelum didistribusikan kepada konsumen.

Produsen harus memastikan bahwa bahan utama, termasuk bahan baku dan komponen lainnya, memiliki spesifikasi yang jelas pada setiap tahap produksi.

Metode standar harus diterapkan dalam proses pengemasan, pengujian, dan penetapan sampel produk.

3. Processes (Proses)

Setiap proses harus didokumentasikan dengan baik, jelas, konsisten, dan disosialisasikan kepada seluruh karyawan.

Evaluasi rutin perlu dilakukan untuk memastikan bahwa semua karyawan mematuhi proses yang berlaku dan memenuhi standar yang ditetapkan oleh organisasi.

4. Procedures (Prosedur)

Prosedur merupakan serangkaian pedoman untuk menjalankan suatu proses penting atau bagian dari proses guna mencapai hasil yang konsisten.

Prosedur harus dijelaskan kepada seluruh karyawan dan diterapkan secara konsisten. Setiap penyimpangan dari prosedur standar wajib segera dilaporkan dan diselidiki.

5. Premises (Fasilitas dan Lingkungan Kerja)

Fasilitas harus selalu dijaga kebersihannya untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang, kecelakaan, atau bahkan risiko fatal.

Seluruh peralatan harus ditempatkan atau disimpan dengan benar serta dikalibrasi secara berkala untuk memastikan kelayakannya dalam menghasilkan hasil yang konsisten dan mencegah risiko kegagalan peralatan.

Baca Juga: Contoh Laporan Keuangan Bisnis Manufaktur

Apa Saja Aspek dalam Good Manufacturing Practice?

1. Fasilitas dan Peralatan

good manufacturing practice 2

Good Manufacturing Practice mewajibkan fasilitas produksi dan peralatan dirancang, dirawat, serta dioperasikan sedemikian rupa agar menjamin lingkungan produksi yang aman dan terkendali.

Persyaratan utamanya meliputi:

  • Desain Fasilitas: Tata letak harus meminimalisir risiko kontaminasi, dengan area terpisah untuk setiap tahapan produksi (seperti penyimpanan bahan baku, proses produksi, dan pengemasan).
  • Sanitasi dan Kebersihan: Fasilitas wajib memiliki jadwal pembersihan rutin dan prosedur sanitasi untuk mencegah pertumbuhan mikroba serta kontaminasi silang.
  • Pemeliharaan Peralatan: Peralatan produksi harus dibersihkan, dikalibrasi, dan dirawat secara berkala untuk memastikan keakuratan dan mencegah kerusakan yang dapat menurunkan mutu produk.
  • Pengendalian Lingkungan: Faktor seperti sistem filtrasi udara, suhu, kelembapan, dan pencahayaan harus dikendalikan untuk menjaga integritas produk.

2. Kebersihan dan Pelatihan Personel

Kebersihan dan pelatihan yang memadai bagi seluruh karyawan membantu menurunkan risiko kontaminasi dan menjaga mutu produk, meliputi:

  • Protokol Kebersihan: Karyawan wajib mematuhi aturan kebersihan seperti mencuci tangan, menggunakan APD, serta pembatasan akses ke area produksi saat dalam kondisi sakit.
  • Program Pelatihan: Pekerja harus mendapatkan pelatihan rutin terkait peraturan GMP, prosedur keselamatan, dan pengendalian mutu agar memahami peran dan tanggung jawabnya.
  • Pengawasan dan Pemantauan: Atasan perlu melakukan pengawasan berkala untuk memastikan kepatuhan terhadap standar kebersihan dan operasional.

3. Pengendalian mutu bahan baku

Mutu bahan baku sangat memengaruhi kualitas produk akhir. Oleh karena itu, GMP mengharuskan produsen menerapkan pengendalian mutu yang ketat, antara lain:

  • Kualifikasi Pemasok: Bahan baku harus diperoleh dari pemasok yang telah disetujui dan diverifikasi serta memenuhi standar GMP.
  • Pemeriksaan Bahan Masuk: Saat menerima bahan baku, wajib dilakukan pengujian untuk memastikan bahwa bahan sudah sesuai dengan standar kemurnian, potensi, dan keamanan yang ditetapkan.
  • Kondisi Penyimpanan: Bahan baku harus disimpan dalam kondisi yang sesuai, seperti suhu dan kelembapan yang terkontrol, untuk mencegah penurunan mutu.
  • Ketertelusuran: Setiap batch bahan baku harus diberi label dan didokumentasikan dengan baik guna menjamin ketertelusuran apabila terjadi penarikan produk atau masalah mutu.

4. Pengendalian proses dan dokumentasi

Konsistensi proses produksi sangat penting agar setiap produk memenuhi persyaratan mutu dan keamanan. GMP menerapkan pengendalian proses yang ketat melalui:

  • Standard Operating Procedures (SOP): Instruksi tertulis yang rinci harus tersedia untuk setiap tahapan produksi, mulai dari formulasi, pencampuran, pengisian, hingga pengemasan.
  • Catatan Batch: Setiap batch produksi harus didokumentasikan secara lengkap, mencakup tanggal produksi, bahan baku yang digunakan, parameter proses, serta tanda tangan petugas terkait.
  • Penanganan Penyimpangan: Setiap penyimpangan dari prosedur standar harus diselidiki, dicatat, dan ditindaklanjuti untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
  • Validasi dan Verifikasi: Proses produksi harus diuji dan divalidasi agar hasil produk selalu konsisten.

5. Jaminan mutu dan pengujian

Memastikan produk akhir memenuhi standar keamanan dan efektivitas merupakan fungsi inti GMP, yang meliputi:

  • Pengujian Selama Proses: Pengambilan sampel dilakukan pada berbagai tahap produksi untuk memastikan kesesuaian dengan standar mutu.
  • Pengujian Produk Akhir: Sebelum dipasarkan, setiap batch harus melalui pengujian laboratorium terkait kemurnian, potensi, stabilitas, dan kemungkinan kontaminasi.
  • Pengendalian Mikrobiologi: Dalam industri farmasi dan pangan, dilakukan pengujian mikrobiologi untuk mendeteksi bakteri, jamur, atau kontaminan berbahaya lainnya.
  • Uji Stabilitas Produk: Pengujian stabilitas memastikan produk tetap aman dan efektif selama masa simpan yang ditentukan.

6. Penarikan produk dan penanganan keluhan

Meskipun sudah menerapkan GMP secara ketat, kadang cacat produk atau masalah keamanan tetap dapat terjadi.

Karena itu, terapkan sistem penarikan dan penanganan keluhan yang baik agar bisa segera menangani produk bermasalah.

  • Manajemen Keluhan Konsumen: Perusahaan harus memiliki sistem untuk mencatat, menyelidiki, dan menyelesaikan keluhan pelanggan terkait cacat produk atau efek yang tidak diinginkan.
  • Prosedur Penarikan Produk: Rencana penarikan produk yang terstruktur harus tersedia untuk menarik produk cacat dari pasar secara efektif dan memberi tahu otoritas terkait.
  • Analisis Akar Masalah: Selidiki permasalahan secara menyeluruh untuk menemukan penyebab utama dan menerapkan tindakan perbaikan.
  • Perbaikan Berkelanjutan: Pembelajaran dari keluhan dan penarikan produk digunakan untuk menyempurnakan proses produksi dan mencegah masalah serupa di kemudian hari.

Baca Juga: Contoh Laporan Neraca Manufaktur dan Download Templatenya

Kesimpulan

Good Manufacturing Practices (GMP) berperan penting dalam menjamin keamanan, mutu, dan konsistensi produk di berbagai industri, seperti pangan, farmasi, kosmetik, dan alat kesehatan.

Di Indonesia, kepatuhan terhadap GMP menjadi persyaratan utama untuk memperoleh izin edar dari BPOM, sekaligus menyelaraskan regulasi nasional dengan standar internasional.

Dengan menerapkan GMP, produsen dapat meminimalkan risiko kontaminasi, menjaga kepatuhan terhadap regulasi, dan membangun kepercayaan konsumen.

Dukung usaha manufaktur Anda dengan pengelolaan keuangan yang baik bersama software akuntansi Kledo.

Dengan Kledo, Anda dapat mengelola pencatatan keuangan, persediaan bahan baku, biaya produksi, hingga laporan keuangan secara terintegrasi dan real time.

Yuk, coba Kledo sekarang juga! Daftar sekarang lewat tautan ini dan nikmati diskon 37%.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

18 − fifteen =