Arus Kas Investasi: Pengertian, Contoh, dan Cara Menghitungnya

Arus kas investasi adalah arus kas masuk dan keluar yang berasal dari aktivitas investasi perusahaan, seperti pembelian mesin, penjualan kendaraan operasional, dan pelepasan aset jangka panjang lainnya.

Dalam laporan arus kas, bagian ini membantu Anda memahami bagaimana bisnis menggunakan kas untuk mengembangkan usaha serta memperoleh dana dari penjualan aset atau investasi.

Contoh dari aktivitas investasi termasuk pembelian aset jangka panjang, merger & akuisisi, dan investasi dalam surat berharga.

Pada artikel kali ini, kita akan membahas apa itu arus kas dari aktivitas investasi beserta cara hitung dan contohnya dalam laporan arus kas.

Apa Itu Arus Kas Investasi?

Arus kas investasi adalah bagian dari laporan arus kas yang mencatat penerimaan dan pengeluaran kas dari aktivitas investasi perusahaan.

Perusahaan biasanya melakukan aktivitas investasi seperti transaksi kas yang berkaitan dengan perolehan dan pelepasan aset jangka panjang serta investasi tertentu yang tidak termasuk setara kas.

Contohnya, membeli mesin produksi secara tunai yang termasuk arus kas keluar investasi, dan menerima uang hasil penjualan kendaraan yang termasuk arus kas masuk investasi.

Nantinya, arus kas investasi dicatat dalam laporan arus kas sebagai salah satu dari tiga kategori utama, bersama arus kas operasi dan arus kas pendanaan.

Dengan menganalisis arus kas investasi, perusahaan juga akan mengetahui apakah pengeluaran untuk aset produktif sejalan dengan kebutuhan bisnis dan kemampuan keuangannya.

kledo banner 2

Baca Juga: Pahami Analisis Arus Kas (Cash Flow Analysis) untuk Bisnis

Apa Saja Komponen Arus Kas Investasi?

Komponen arus kas investasi terdiri dari transaksi kas yang berkaitan dengan perolehan dan pelepasan aset jangka panjang serta investasi tertentu. Transaksi tersebut dapat menghasilkan arus kas masuk maupun keluar.

1. Pembelian Aset Tetap

Pembelian aset tetap termasuk arus kas keluar investasi karena perusahaan mengeluarkan kas untuk memperoleh aset yang digunakan dalam kegiatan bisnis selama lebih dari satu periode.

Contohnya adalah pembelian mesin produksi untuk meningkatkan kapasitas, kendaraan operasional untuk distribusi, serta tanah atau gedung untuk menunjang kegiatan usaha.

2. Penjualan Aset Tetap

Penjualan aset tetap termasuk arus kas masuk investasi ketika perusahaan menerima pembayaran dari pelepasan aset yang dimilikinya.

Contohnya adalah menjual kendaraan operasional yang sudah tidak digunakan, melepas mesin lama, atau menjual gedung milik perusahaan.

3. Pembelian dan Penjualan Investasi Jangka Panjang

Pembelian dan penjualan investasi tertentu dapat dicatat sebagai aktivitas investasi apabila memenuhi klasifikasi berdasarkan standar akuntansi yang digunakan. Contohnya adalah pembelian atau pelepasan instrumen investasi jangka panjang yang tidak dikategorikan sebagai setara kas.

Namun, tidak semua transaksi saham, pembayaran bunga, atau penerimaan dividen otomatis masuk dalam aktivitas investasi karena klasifikasinya bergantung pada jenis instrumen, karakter transaksi, dan standar akuntansi yang berlaku.

4. Pemberian dan Penerimaan Pinjaman kepada Pihak Lain

Pemberian pinjaman kepada pihak lain umumnya menjadi arus kas keluar investasi, sedangkan penerimaan kembali pokok pinjaman tersebut menjadi arus kas masuk investasi.

Sebagai contoh, ketika perusahaan memberikan pinjaman kepada mitra bisnis dan menerima pelunasan pokoknya pada periode berikutnya, kedua transaksi tersebut dicatat sesuai karakteristik aktivitas investasinya.

Baca Juga: Mengenal Berbagai Jenis Arus Kas dalam Laporan Keuangan

Apa Perbedaan Arus Kas Investasi, Operasi, dan Pendanaan?

Arus kas investasi, operasi, dan pendanaan memiliki fungsi berbeda dalam laporan arus kas karena masing-masing mencatat transaksi dari aktivitas yang berbeda.

Arus kas operasi berfokus pada kegiatan utama bisnis, arus kas investasi mencatat perolehan dan pelepasan aset atau investasi, sedangkan arus kas pendanaan berkaitan dengan perubahan modal dan pinjaman perusahaan.

Berikut tabel perbedaan arus kas investasi, operasi, dan pendanaan:

Aspek Arus Kas Operasi Arus Kas Investasi Arus Kas Pendanaan
Fokus Aktivitas utama bisnis Perolehan dan pelepasan aset atau investasi Perubahan modal dan pinjaman
Contoh kas masuk Penerimaan pembayaran dari pelanggan Penjualan mesin Pinjaman bank atau penerbitan saham
Contoh kas keluar Pembayaran kepada pemasok Pembelian kendaraan operasional Pembayaran pokok pinjaman
Tujuan analisis Menilai kemampuan menghasilkan kas dari operasi Menilai keputusan investasi dan pengelolaan aset Menilai sumber pendanaan dan pembayaran kewajiban

Ketiga kategori arus kas tersebut saling menjelaskan perubahan saldo kas perusahaan dalam suatu periode. Arus kas operasi menunjukkan kemampuan bisnis menghasilkan kas dari kegiatan utamanya, arus kas investasi menggambarkan alokasi kas untuk aset dan investasi, sedangkan arus kas pendanaan menjelaskan bagaimana perusahaan memperoleh dan mengembalikan dana.

Baca Juga: 24 KPI dan Metrik dalam Pengelolaan Arus Kas Bisnis

Bagaimana Cara Menghitung Arus Kas Investasi?

Arus Kas Investasi 1

Cara menghitung arus kas investasi adalah dengan mengurangi total kas keluar dari aktivitas investasi dengan total kas masuk selama periode pelaporan.

Hasil perhitungan menunjukkan apakah aktivitas investasi perusahaan menghasilkan kas bersih atau justru menggunakan kas untuk memperoleh aset dan investasi.

Rumus dasar arus kas investasi:

Arus Kas Investasi = Total Kas Masuk – Total Kas Keluar

Langkah-Langkah Menghitung Arus Kas Investasi

Anda bisa menghitung arus kas investasi melalui lima langkah berikut.

  1. Identifikasi transaksi investasi. Kumpulkan transaksi perolehan dan pelepasan aset jangka panjang serta investasi lain yang memenuhi klasifikasi aktivitas investasi selama periode pelaporan.
  2. Catat seluruh kas masuk. Hitung penerimaan dari penjualan aset atau pelepasan investasi yang termasuk aktivitas investasi.
  3. Catat seluruh kas keluar. Jumlahkan pengeluaran kas untuk pembelian aset tetap dan investasi yang relevan.
  4. Hitung selisihnya. Kurangi total kas keluar dari total kas masuk untuk memperoleh arus kas investasi bersih.
  5. Sajikan dalam laporan arus kas. Masukkan hasil perhitungan ke bagian aktivitas investasi dalam laporan arus kas perusahaan.

Contoh Perhitungan Arus Kas Investasi

Misalnya, sebuah perusahaan memiliki transaksi investasi selama satu periode pelaporan sebagai berikut.

Transaksi Jumlah
Penjualan mesin lama Rp50.000.000
Penjualan kendaraan Rp30.000.000
Total kas masuk Rp80.000.000
Pembelian mesin baru Rp100.000.000
Pembelian peralatan Rp20.000.000
Total kas keluar Rp120.000.000

Berdasarkan transaksi tersebut, perhitungan arus kas investasi adalah:

Arus kas investasi = Rp80.000.000 − Rp120.000.000

Arus kas investasi bersih = −Rp40.000.000

Hasil tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mengalami arus kas investasi bersih negatif sebesar Rp40 juta karena pengeluaran untuk membeli aset lebih besar daripada penerimaan dari penjualan aset.

Kondisi ini tidak selalu menunjukkan masalah keuangan karena pembelian mesin dan peralatan baru dapat mendukung peningkatan kapasitas bisnis pada periode berikutnya.

Baca Juga: Rumus dan Cara Menghitung Net Cash Flow Beserta Contohnya

Bagaimana Contoh Arus Kas Investasi dalam Laporan Keuangan?

Arus kas investasi disajikan dalam bagian aktivitas investasi pada laporan arus kas dengan merinci penerimaan dan pengeluaran kas dari transaksi yang relevan.

Berikut contoh penyajian aktivitas investasi dalam laporan arus kas perusahaan berdasarkan ilustrasi transaksi sebelumnya.

Aktivitas Investasi Jumlah
Arus kas masuk:
Penerimaan dari penjualan mesin lama Rp50.000.000
Penerimaan dari penjualan kendaraan Rp30.000.000
Total kas masuk Rp80.000.000
Arus kas keluar:
Pembelian mesin baru (Rp100.000.000)
Pembelian peralatan (Rp20.000.000)
Total kas keluar (Rp120.000.000)
Arus kas bersih dari aktivitas investasi (Rp40.000.000)

*Tanda kurung menunjukkan arus kas keluar atau nilai bersih negatif.

Pembelian aset melalui pertukaran atau transaksi nonkas lainnya tidak dimasukkan sebagai arus kas aktual, tetapi diungkapkan secara terpisah apabila diwajibkan oleh standar akuntansi yang digunakan.

Bagaimana Membaca Nilai Arus Kas Investasi Positif dan Negatif?

Arus kas investasi positif menunjukkan bahwa penerimaan kas dari aktivitas investasi lebih besar daripada pengeluarannya, sedangkan nilai negatif menunjukkan bahwa pengeluaran kas lebih besar daripada penerimaan.

Namun, kedua kondisi tersebut perlu dianalisis berdasarkan strategi dan kebutuhan bisnis perusahaan.

  • Arus kas investasi positif: dapat terjadi ketika perusahaan menjual aset yang tidak lagi digunakan atau melepas investasi. Meski menambah kas, nilai positif yang berulang akibat penjualan aset produktif perlu dievaluasi lebih lanjut.
  • Arus kas investasi negatif: dapat menunjukkan pembelian mesin, kendaraan, atau aset produktif untuk mendukung ekspansi bisnis. Namun, pengeluaran yang tidak sebanding dengan kemampuan keuangan perusahaan juga perlu diwaspadai.

Karena itu, pemilik bisnis sebaiknya membaca arus kas investasi bersama arus kas operasi, arus kas pendanaan, dan kondisi keuangan secara keseluruhan.

Dengan begitu, keputusan investasi dapat dinilai berdasarkan kebutuhan bisnis, kemampuan menghasilkan kas, serta manfaat jangka panjangnya.

Baca juga: Pahami Analisis Arus Kas (Cash Flow Analysis) untuk Bisnis

Apa Arti Arus Kas Investasi Negatif bagi Perusahaan?

Arus kas investasi negatif berarti pengeluaran kas untuk aktivitas investasi lebih besar daripada penerimaan kas dari aktivitas tersebut selama periode tertentu.

Kondisi ini tidak selalu menunjukkan masalah keuangan karena bisa jadi bisnis sedang dalam tahap pengembangan. Jadi untuk menilai dampaknya, Anda perlu melihat kemampuan keuangan dan hasil investasi perusahaan juga.

Arus Kas Investasi Negatif karena Ekspansi Bisnis

Arus kas investasi negatif bisa menjadi tanda ekspansi ketika perusahaan menggunakan kas untuk memperoleh aset yang mendukung pertumbuhan usaha.

Misalnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi sebesar Rp29,46 triliun pada 2024.

Pada periode yang sama, perusahaan menghasilkan arus kas operasi positif sebesar Rp61,60 triliun dan merealisasikan belanja modal sekitar Rp24,44 triliun untuk memperkuat infrastruktur jaringan serta meningkatkan kapasitas layanan.

Saldo kas dan setara kasnya juga meningkat dari Rp29,01 triliun pada akhir 2023 menjadi Rp33,91 triliun pada akhir 2024.

Jadi, arus kas investasi negatif perlu dinilai bersama kemampuan perusahaan menghasilkan kas dari aktivitas operasional dan tujuan pengeluaran investasinya.

Kapan Arus Kas Investasi Negatif Perlu Diwaspadai?

Arus kas investasi negatif perlu diwaspadai ketika pengeluaran investasi membebani likuiditas perusahaan atau tidak menghasilkan manfaat sesuai rencana. Risiko ini semakin besar jika arus kas operasi tidak cukup untuk mendukung kebutuhan operasional dan investasi secara bersamaan.

Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Kas operasional terbatas: perusahaan kesulitan membayar pemasok, gaji, atau kewajiban jangka pendek setelah melakukan investasi.
  • Investasi tidak memberikan hasil sesuai target: aset yang dibeli tidak meningkatkan produktivitas atau menghasilkan manfaat ekonomi seperti yang diperkirakan.
  • Pengeluaran investasi terus meningkat: perusahaan mengeluarkan lebih banyak kas tanpa didukung kemampuan menghasilkan kas dari aktivitas operasi yang memadai.

Apakah Arus Kas Investasi Positif Selalu Berarti Baik?

Arus kas investasi positif tidak selalu berarti baik karena penerimaan kas yang tinggi bisa saja berasal dari penjualan aset produktif atau pelepasan investasi.

Jika dilakukan berulang kali untuk menutup kebutuhan operasional, penjualan tersebut berpotensi mengurangi kapasitas bisnis dalam jangka panjang.

Baca Juga: 3 Komponen dalam Laporan Arus Kas: Pembahasan Lengkap

Bagaimana Cara Mengelola Arus Kas Investasi agar Tetap Sehat?

Arus Kas Investasi 2

Anda bisa menjaga arus kas investasi bisnis tetap sehat dengan merencanakan pengeluaran aset, mengevaluasi hasil investasi, dan memastikan ketersediaan kas untuk operasional.

1. Buat Anggaran Investasi

Anggaran investasi membantu perusahaan menentukan prioritas pembelian aset berdasarkan kebutuhan bisnis dan kemampuan keuangan. Sebelum menyetujui investasi, perkirakan nilai pengeluaran, waktu pembayaran, serta manfaat yang diharapkan.

Anda bisa memprioritaskan aset yang paling mendukung produktivitas atau mengatasi hambatan operasional agar kas dan modal kerja tetap tersedia.

2. Evaluasi Pengeluaran Investasi secara Berkala

Evaluasi pengeluaran investasi Anda, apakah sesuai anggaran dan sudah memberikan manfaat yang diharapkan. Bandingkan realisasi pengeluaran dengan rencana awal, nilai kinerja aset yang dibeli, serta identifikasi aset yang tidak lagi produktif.

Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menunda pembelian yang belum mendesak, memperbaiki pemanfaatan aset, atau mempertimbangkan pelepasan aset yang tidak lagi dibutuhkan.

Survei Association for Financial Professionals (AFP) menunjukkan bahwa 60% perusahaan menggunakan lima atau lebih metrik keuangan untuk mengevaluasi proyek investasi.

3. Pantau Arus Kas Operasi dan Saldo Kas

Pastikan investasi tidak mengganggu kemampuan bisnis dalam membayar kewajiban jangka pendek. Jika memang kas operasional belum memadai, coba sesuaikan waktu investasi atau lakukan secara bertahap dulu.

Tujuannya agar bisnis memiliki likuiditas yang cukup untuk menjalankan kegiatan bisnis sekaligus membiayai pertumbuhan.

Baca juga: Pahami Aktivitas Operasi dari Arus Kas Berikut Ini

Contoh Arus Kas dari Investasi dan Cara Menganalisisnya

Berikut adalah contoh laporan arus kas perusahaan Bank BRI tbk tanggal 30 Juni 2022. Kita akan menggunakan data ini untuk melakukan analisis.

contoh arus kas investasi (1)

Untuk laporan keuangan lengkapnya, Anda bisa mengaksesnya melalui tautan ini.

Dari laporan keuangan lengkap di atas, kami sudah melakukan analisis dimana arus kas investasi Bank BRI negatif selama periode yang dianalisis (di tahun 2022).

Artinya, Bank BRI mengeluarkan lebih banyak uang untuk investasinya daripada yang dihasilkannya dari investasinya.

Arus kas investasi yang negatif Bank BRI disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

  • Bank BRI melakukan ekspansi bisnis, yang membutuhkan investasi dalam aset produktif, seperti kredit dan surat berharga.
  • Bank BRI juga melakukan investasi dalam teknologi, yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasionalnya.
  • Bank BRI juga melakukan investasi dalam penelitian dan pengembangan, yang bertujuan untuk mengembangkan produk dan layanan baru.

Seperti yang sudah kami jelaskan sebelumnya, arus kas investasi negatif tidak selalu merupakan tanda yang buruk. Jadi meskipun nilainya negatif, hal ini dapat menunjukkan bahwa Bank BRI sedang berinvestasi untuk pertumbuhannya di masa depan.

Baca juga: Mengenal Days Payable Outstanding (DPO) dalam Manajemen Arus Kas

Memantau Arus Kas Investasi dengan Bantuan Software Akuntansi

Anda bisa memantau arus kas investasi dengan bantuan software akuntansi yang mencatat transaksi keuangan dan menyediakan data untuk menyusun laporan keuangan.

Dengan software akuntansi, Anda bisa menelusuri pengeluaran untuk pembelian aset, penerimaan dari penjualan aset, serta dampaknya terhadap kondisi keuangan perusahaan.

Mempermudah Pencatatan Transaksi Keuangan

Software akuntansi membantu bisnis mencatat transaksi keuangan, terutama seputar transaksi pembelian dan penjualan aset.

Software juga bisa membantu Anda mengklasifikasikan aset dengan benar agar laporan arus kas nantinya bisa mengikuti standar akuntansi yang berlaku.

Misalnya, jika Anda menggunakan software akuntansi Kledo, Anda bisa mencatat aset tetap seperti ini:

contoh fitur aset tetap kledo

Membantu Penyusunan dan Analisis Laporan Keuangan

Data keuangan yang tercatat rapi akan memudahkan Ana menyusun laporan keuangan dan mengevaluasi penggunaan kas.

Bisnis dapat menggunakan informasi tersebut untuk menilai pengeluaran investasi, membandingkan realisasi dengan anggaran, serta mempertimbangkan kemampuan kas perusahaan sebelum melakukan investasi berikutnya.

Mengapa Bisnis Perlu Menggunakan Software Akuntansi seperti Kledo?

Kledo merupakan software akuntansi berbasis cloud yang membantu bisnis mengelola pencatatan keuangan dan menyusun laporan keuangan secara lebih terstruktur.

Dengan Kledo, Anda bisa memantau persediaan, mencatat pembelian, penyusutan, dan pelepasan aset, memantau arus kas investasi, sampai mengakses laporan keuangan secara otomatis.

Baca Juga: Cara Mengelola dan Meningkatkan Arus Kas Bisnis Konstruksi

Kesimpulan

Arus kas investasi adalah bagian dari laporan arus kas yang menunjukkan penerimaan dan pengeluaran kas dari aktivitas investasi, seperti pembelian mesin, penjualan kendaraan, dan perolehan aset jangka panjang lainnya.

Memahami arus kas investasi membantu perusahaan mengevaluasi penggunaan dana untuk pengembangan bisnis sekaligus menjaga ketersediaan kas untuk kebutuhan operasional.

Untuk mempermudah pengelolaan keuangan, bisnis dapat menggunakan software akuntansi seperti Kledo.

Software akuntansi berbasis cloud ini membantu pencatatan transaksi dan penyusunan laporan keuangan secara lebih terorganisasi, sehingga Anda memiliki data yang lebih memadai untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan merencanakan investasi.

Jika tertarik, Anda bisa mencoba menggunakan Kledo secara gratis selama 14 hari melalui tautan ini.

sugi priharto

Tinggalkan Komentar

four + 10 =