Dalam transaksi bisnis, ada proses bernama settlement, yaitu proses untuk memverifikasi dan menghitung dana sebelum memindahkannya ke pihak penerima. Jadi, pembayaran yang dilakukan pelanggan harus melewati proses tersebut sebelum masuk ke rekening bisnis.
Settlement umum ditemukan dalam transaksi kartu debit/kredit, payment gateway, marketplace, transfer antarbank, hingga transaksi B2B.
Jika Anda menjalankan bisnis, pahami proses karena berkaitan langsung dengan kapan dana dapat digunakan, berapa jumlah yang diterima, dan bagaimana transaksi dicatat dalam pembukuan.
Lalu, apa sebenarnya settlement dalam bisnis, bagaimana prosesnya, dan apa yang membedakannya dengan clearing, refund, maupun chargeback?
Apa Itu Settlement dalam Bisnis?
Settlement adalah proses penyelesaian transaksi ketika dana yang menjadi kewajiban satu pihak akhirnya dipindahkan kepada pihak penerima.
Dalam transaksi pembayaran, settlement biasanya terjadi setelah transaksi diproses dan diverifikasi oleh pihak-pihak yang terlibat.
Sebagai contoh, pelanggan membeli produk seharga Rp500.000 menggunakan kartu debit. Meskipun transaksi berhasil dan pelanggan mendapatkan notifikasi pembayaran, merchant belum tentu langsung menerima Rp500.000 ke rekeningnya.
Transaksi masih dapat melalui proses pemrosesan dan settlement sebelum dana masuk ke rekening merchant.
Pihak yang terlibat bergantung pada settlement tergantung jenis transaksinya. Contohnya dalam pembayaran digital, bisa terlibat beberapa pihak di bawah:
- Pelanggan atau pembayar,
- Merchant atau penerima dana,
- Bank penerbit,
- Bank penerima merchant
- Payment gateway atau penyedia layanan pembayaran,
- Jaringan pembayaran seperti jaringan kartu.
Tidak semua transaksi melibatkan seluruh pihak tersebut.
Perbedaan Settlement vs Payment vs Clearing
Ketiga istilah dalam transaksi keuangan ini memiliki arti yang berbeda-beda:
- Payment adalah tindakan atau proses pembayaran dari pembeli kepada penjual.
- Clearing adalah proses pertukaran, validasi, dan perhitungan kewajiban transaksi antar pihak yang terjadi setelah pembayaran.
- Settlement adalah tahap terakhir penyelesaian kewajiban tersebut melalui perpindahan dana.
Kapan Settlement Dianggap Selesai?
Settlement dianggap selesai ketika kewajiban pembayaran telah diselesaikan dan dana telah dipindahkan sesuai mekanisme yang berlaku.
Bagi merchant, indikator sederhananya adalah dana settlement sudah tercatat masuk ke rekening yang ditentukan, setelah memperhitungkan biaya, refund, atau potongan lain yang berlaku.
Baca Juga: Sistem Pembayaran Modern dalam Bisnis, Manfaat, dan Tantangannya
Bagaimana Proses Settlement dalam Transaksi Bisnis?
Secara umum, settlement merupakan rangkaian proses dari saat transaksi dilakukan hingga dana diterima oleh pihak yang berhak.
Prosesnya mencakup beberapa tahap berikut:
- Pembeli melakukan transaksi: Pelanggan membeli produk atau jasa dan memilih metode pembayaran, seperti kartu debit, kartu kredit, transfer bank, atau pembayaran digital. Informasi transaksi kemudian diteruskan ke sistem pembayaran untuk diproses.
- Sistem memproses pembayaran: Sistem pembayaran memeriksa informasi transaksi dan meneruskannya kepada pihak yang terlibat dalam pemrosesan pembayaran. Pada tahap ini, transaksi dapat melalui proses otorisasi untuk memastikan pembayaran dapat dilakukan.
- Transaksi melalui tahap clearing: Data transaksi kemudian diproses untuk menentukan kewajiban masing-masing pihak. Clearing membantu menghitung berapa dana yang perlu diselesaikan sebelum perpindahan dana dilakukan. Jadi, clearing berfokus pada pemrosesan dan perhitungan transaksi, bukan perpindahan dana itu sendiri.
- Transaksi diverifikasi: Penyedia layanan melakukan pemeriksaan sesuai dengan mekanisme dan aturan sistem pembayaran. Transaksi yang memenuhi ketentuan dapat dilanjutkan ke tahap settlement, sedangkan transaksi tertentu dapat tertunda karena adanya pemeriksaan, pembatalan, atau kendala lainnya.
- Dana diselesaikan dan dipindahkan: Setelah kewajiban transaksi ditentukan dan proses dapat dilanjutkan, dana kemudian diselesaikan kepada merchant atau pihak penerima. Nilai yang diterima dapat berbeda dari nilai transaksi karena adanya MDR, biaya layanan, biaya administrasi, refund, atau penyesuaian lainnya.
- Settlement dinyatakan selesai: Settlement selesai ketika kewajiban transaksi telah diselesaikan dan dana tercatat sebagai hak penerima sesuai mekanisme yang berlaku. Merchant kemudian dapat mencocokkan dana yang diterima dengan laporan settlement dan mutasi rekening.
Waktu proses settlement berlangsung tergantung pada metode pembayaran dan kebijakan penyedia layanan. Settlement dapat menggunakan skema same-day, T+1, atau T+2. Perhitungan tersebut juga dapat dipengaruhi oleh cut-off time, hari kerja, akhir pekan, dan hari libur.
Setelah settlement selesai, sebaiknya segera cocokkan datanya dengan transaksi penjualan dan mutasi rekening untuk memastikan tidak ada selisih.
Baca Juga: Cara Mencatat Subsidi Ongkir, Biaya Packing, dan Retur dalam Pembukuan Online Shop
Apa Fungsi Settlement dalam Bisnis?
Settlement memiliki beberapa fungsi penting dalam aktivitas bisnis, terutama ketika bisnis menerima banyak pembayaran.
- Menyelesaikan kewajiban pembayaran: Settlement memastikan kewajiban pembayaran dari suatu transaksi benar-benar diselesaikan kepada pihak yang berhak.
- Memindahkan dana antarpihak: Settlement menjadi mekanisme perpindahan dana dari sistem pembayaran kepada penerima sesuai ketentuan transaksi.
- Mencatat penyelesaian transaksi: Data settlement dapat digunakan sebagai dasar untuk mengetahui transaksi mana yang sudah diselesaikan dan mana yang masih tertunda.
- Mengurangi risiko pembayaran: Proses verifikasi dan penyelesaian terstruktur membantu mengurangi risiko kesalahan atau transaksi yang belum terselesaikan.
- Mendukung rekonsiliasi keuangan: Laporan settlement dapat dicocokkan dengan data penjualan, invoice, dan mutasi rekening sehingga selisih transaksi lebih mudah ditemukan.
Baca Juga: Sistem Pembayaran: Definisi, Komponen, Prinsip, Jenis, Ruang Lingkup, dan Contoh
Apa Saja Jenis Settlement dalam Bisnis?
Settlement dapat ditemukan dalam berbagai jenis transaksi, seperti perbankan, pembayaran digital, kartu kredit dan debit, marketplace, transaksi B2B, dan pasar modal.
Berikut penjelasannya:
1. Settlement pada Transaksi Perbankan
Dalam perbankan, settlement berkaitan dengan penyelesaian kewajiban pembayaran antarpihak atau antarbank. Proses ini dapat melibatkan sistem pembayaran dan mekanisme kliring yang berlaku.
2. Settlement pada Pembayaran Digital
Pada pembayaran digital, settlement terjadi setelah transaksi berhasil diproses oleh penyedia layanan pembayaran. Merchant kemudian menerima dana sesuai jadwal settlement yang ditentukan.
3. Settlement pada Kartu Kredit dan Debit
Pada transaksi kartu, pelanggan membayar melalui jaringan kartu, sedangkan merchant menerima dana melalui proses settlement yang melibatkan pihak-pihak dalam ekosistem kartu.
Karena terdapat beberapa pihak, nilai yang diterima merchant dapat berbeda dari nilai transaksi awal setelah biaya yang berlaku diperhitungkan.
4. Settlement pada Marketplace
Marketplace biasanya mengumpulkan pembayaran pelanggan terlebih dahulu. Dana kemudian diselesaikan kepada seller sesuai ketentuan marketplace, misalnya setelah pesanan selesai atau melewati periode tertentu.
5. Settlement pada Transaksi B2B
Dalam transaksi B2B, settlement dapat terjadi setelah perusahaan memenuhi kewajiban pembayaran sesuai invoice dan termin yang telah disepakati.
Contohnya, perusahaan membeli bahan baku dengan termin pembayaran 30 hari. Setelah jatuh tempo dan pembayaran dilakukan, kewajiban tersebut dianggap selesai.
6. Settlement pada Pasar Modal
Dalam transaksi pasar modal, settlement merupakan proses penyelesaian transaksi setelah perdagangan terjadi, termasuk penyelesaian kewajiban dana dan aset yang terkait dengan transaksi tersebut.
Baca Juga: Bukti Pembayaran: Pengertian, Manfaat dan Download Contohnya
Apa Contoh Settlement dalam Bisnis?
Jalannya proses settlement dalam bisnis tergantung pada jenis transaksi dan pihak yang memproses pembayaran.
Berikut beberapa contohnya:
Contoh Settlement pada Transaksi Toko Online
Misalnya sebuah toko online menerima pesanan senilai Rp2.500.000 dan pelanggan membayar menggunakan payment gateway. Transaksi berhasil pada hari Senin, tetapi merchant tidak selalu menerima dana pada hari yang sama.
Payment gateway akan mencatat transaksi tersebut, memprosesnya sesuai mekanisme pembayaran, lalu memasukkannya ke dalam periode settlement. Setelah settlement diproses, merchant menerima dana ke rekening yang telah didaftarkan.
Jika terdapat biaya pemrosesan sebesar Rp50.000, misalnya, nilai yang masuk ke rekening merchant menjadi Rp2.450.000. Dalam pencatatan, bisnis tetap perlu dapat membedakan nilai penjualan sebesar Rp2.500.000 dengan biaya transaksi Rp50.000 dan penerimaan kas sebesar Rp2.450.000.
Contoh Settlement pada Marketplace
Misalnya seller menjual produk senilai Rp5.000.000 melalui marketplace. Pelanggan telah membayar, tetapi dana belum langsung tersedia bagi seller karena marketplace memiliki mekanisme penyelesaian tersendiri.
Setelah pesanan memenuhi ketentuan settlement, marketplace menghitung nilai dana yang menjadi hak seller. Dari nilai tersebut dapat terdapat beberapa penyesuaian, seperti biaya layanan, subsidi atau biaya tertentu yang menjadi tanggungan seller, refund, atau koreksi transaksi.
Seller kemudian menerima nilai bersih ke saldo marketplace atau rekening sesuai mekanisme pencairan yang berlaku.
Karena itu, seller sebaiknya tidak hanya mencocokkan total pesanan dengan total dana masuk. Laporan settlement perlu diperiksa untuk mengetahui transaksi mana yang diselesaikan, biaya apa yang dipotong, dan apakah terdapat penyesuaian.
Contoh Settlement pada Transaksi B2B
Settlement juga dapat terjadi dalam transaksi B2B meskipun mekanismenya tidak selalu menggunakan payment gateway.
Misalnya perusahaan membeli bahan baku dari supplier senilai Rp30.000.000 dengan termin pembayaran 30 hari. Supplier menerbitkan invoice, sementara pembeli mencatat kewajiban kepada supplier.
Ketika pembayaran dilakukan dan diterima supplier, kewajiban tersebut diselesaikan. Bagi pembeli, transaksi tersebut mengurangi utang usaha dan kas. Bagi supplier, penerimaan tersebut menjadi penyelesaian piutang usaha.
Dalam konteks ini, settlement berkaitan erat dengan accounts payable dan accounts receivable.
Contoh Perhitungan Settlement Merchant
Misalnya sebuah merchant memperoleh transaksi sebesar Rp20.000.000 dalam satu periode settlement. Penyedia pembayaran mengenakan Merchant Discount Rate (MDR) sebesar 0,7% dan terdapat biaya administrasi Rp25.000.
Perhitungannya:
- Total transaksi: Rp20.000.000
- MDR 0,7%: Rp140.000
- Biaya administrasi: Rp25.000
- Dana settlement bersih: Rp19.835.000
Artinya, merchant memiliki transaksi bruto Rp20 juta, tetapi dana yang diterima di rekening hanya Rp19,835 juta.
Dalam rekonsiliasi, selisih Rp165.000 tersebut tidak seharusnya dianggap sebagai transaksi yang hilang. Bisnis perlu mengidentifikasinya sebagai biaya atau penyesuaian sesuai settlement report dari penyedia layanan.
Jika dalam periode yang sama terdapat refund atau chargeback, perhitungan menjadi lebih kompleks karena nilai settlement dapat kembali disesuaikan.
Karena itu, bisnis dengan transaksi dalam jumlah besar sebaiknya menggunakan transaction ID atau settlement ID untuk menelusuri transaksi dari penjualan hingga dana benar-benar diterima.
Baca Juga: Jurnal Pembayaran Pembukuan: Contoh dan Cara Membuatnya
Apa Saja Biaya yang Mempengaruhi Settlement?
Nilai dana yang diterima setelah settlement dapat berbeda dari total transaksi karena adanya biaya dan penyesuaian. Karena itu, bisnis perlu memahami komponen yang membentuk net settlement, terutama jika menerima pembayaran dari berbagai channel.
Beberapa komponen yang dapat memengaruhi nilai settlement antara lain:
- Merchant Discount Rate (MDR): MDR merupakan biaya yang dikenakan atas transaksi melalui metode pembayaran tertentu. Biasanya dihitung berdasarkan persentase nilai transaksi. Semakin besar volume transaksi, semakin signifikan dampaknya terhadap total biaya pembayaran.
- Biaya payment gateway: Payment gateway dapat mengenakan biaya berdasarkan jumlah transaksi, persentase nilai transaksi, atau kombinasi keduanya. Struktur biaya perlu diperhatikan karena dua penyedia dengan volume transaksi yang sama dapat menghasilkan nilai settlement bersih yang berbeda.
- Biaya administrasi: Biaya tetap atau biaya administrasi tertentu dapat dipotong dari dana settlement. Meskipun nominalnya relatif kecil per transaksi, akumulasinya dapat menjadi signifikan jika bisnis memproses ribuan transaksi.
- Biaya transfer atau pencairan: Pada layanan tertentu, merchant dapat dikenakan biaya ketika dana dipindahkan ke rekening bank atau ketika melakukan pencairan. Biaya ini perlu dibedakan dari biaya pemrosesan transaksi karena waktunya dapat terjadi pada tahap yang berbeda.
- Pajak: Perlakuan pajak atas transaksi maupun biaya layanan bergantung pada jenis transaksi, pihak yang terlibat, dan ketentuan perpajakan yang berlaku. Karena itu, bisnis perlu melihat dokumen transaksi atau bukti potong yang relevan, bukan sekadar menganggap seluruh selisih settlement sebagai biaya.
- Refund: Refund dapat mengurangi nilai dana yang akhirnya diterima merchant. Dampaknya perlu ditelusuri berdasarkan transaksi awal agar penjualan, pengembalian dana, dan settlement tidak tercatat sebagai transaksi yang terpisah tanpa hubungan yang jelas.
- Chargeback: Chargeback dapat menyebabkan dana transaksi yang sebelumnya sudah diselesaikan kepada merchant ditarik kembali atau disesuaikan. Selain nilai transaksi, penyedia layanan tertentu juga dapat mengenakan biaya chargeback sesuai ketentuannya.
Karena komponen tersebut dapat muncul pada waktu yang berbeda, sebaiknya gunakan settlement report sebagai dasar rekonsiliasi.
Baca Juga: Surcharge adalah: Contoh Penerapannya dalam Bisnis
Kesimpulan
Settlement dalam bisnis merupakan proses penyelesaian transaksi hingga dana yang menjadi hak penerima benar-benar diselesaikan dan diterima sesuai mekanisme pembayaran yang digunakan.
Proses ini dapat melibatkan clearing, verifikasi, biaya transaksi, refund, hingga penyesuaian lain sebelum menghasilkan nilai settlement bersih.
Proses ini juga penting untuk direkonsiliasi secara rutin dengan mencocokkan data transaksi, laporan settlement, dan mutasi rekening. Semakin banyak channel pembayaran yang digunakan, semakin penting pula pencatatan keuangan yang terintegrasi.
Software akuntansi Kledo dapat membantu Anda mencatat transaksi dan mengelola keuangan dalam satu sistem sehingga data penjualan, biaya, dan laporan keuangan menjadi lebih mudah dipantau.
Coba Kledo gratis lewat tautan ini.
- Settlement dalam Bisnis: Pengertian, Proses, Jenis, dan Contohnya - 29 September 2026
- 10 Cara Ampuh Mendapat Harga Terbaik Supplier - 29 September 2026
- Tips Mengelola Account Payable agar Cash Flow Bisnis Sehat - 29 September 2026
