Make to Stock (MTS): Pengertian, Proses, Strategi, dan Contohnya

make to stock banner

Make to stock (MTS) adalah strategi produksi di mana perusahaan memproduksi barang berdasarkan perkiraan permintaan pasar, bukan berdasarkan pesanan yang masuk.

Produk yang telah selesai diproduksi kemudian disimpan di gudang dan siap didistribusikan begitu pelanggan melakukan pembelian.

Strategi ini paling efektif diterapkan pada industri dengan permintaan yang relatif stabil dan dapat diprediksi, seperti Fast Moving Consumer Goods (FMCG), industri makanan dan minuman, serta produk rumah tangga.

Pada industri-industri tersebut, pola pembelian konsumen cenderung konsisten sehingga forecast permintaan dapat dilakukan dengan tingkat akurasi yang memadai.

Artikel ini membahas secara menyeluruh tentang make to stock, mulai dari pengertian, cara kerja, kelebihan dan kekurangan, hingga strategi optimalisasi yang dapat diterapkan oleh perusahaan.

Apa Itu Make to Stock?

pengertian make to stock

Make to stock (MTS) adalah strategi produksi dalam supply chain di mana barang diproduksi terlebih dahulu berdasarkan proyeksi permintaan (demand projection), lalu disimpan sebagai stok siap jual.

Berbeda dengan strategi lain yang menunggu pesanan masuk, MTS memastikan tingkat ketersediaan stok (stock availability) terjaga setiap saat.

Dalam sistem MTS, jumlah produksi ditentukan oleh hasil forecast, bukan oleh pesanan aktual.

Salah satu tantangan yang sering muncul dalam sistem ini ialah bullwhip effect, yaitu fenomena di mana fluktuasi kecil pada permintaan konsumen dapat menyebabkan ketidakstabilan yang jauh lebih besar di sepanjang rantai pasok.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Supply Chain Management, bullwhip effect dapat meningkatkan biaya inventory hingga 30% jika tidak dikelola dengan baik.

Oleh karena itu, akurasi demand projection menjadi faktor kunci dalam menekan dampak negatif fenomena ini.

Sistem MTS memiliki beberapa karakteristik utama yang membedakannya dari strategi produksi lain:

  • Produksi berjalan kontinu: barang diproduksi secara massal tanpa menunggu pesanan masuk.
  • Stock availability terjaga: produk jadi disimpan di gudang dan siap dikirim kapan pun dibutuhkan.
  • Lead time pendek: pelanggan tidak perlu menunggu lama karena produk sudah tersedia.
  • Bergantung pada demand projection: akurasi prediksi permintaan menjadi faktor kunci keberhasilan sistem ini.
  • Capacity utilization tinggi: lini produksi beroperasi secara konsisten sehingga penggunaan kapasitas mesin dan tenaga kerja lebih optimal.
kledo banner 2

Apa Perbedaan Make to Stock dengan Strategi Produksi Lainnya?

Dalam manajemen rantai pasok, terdapat empat strategi produksi utama yang umum digunakan perusahaan.

Masing-masing memiliki pendekatan berbeda dalam merespons permintaan pasar:

Make to Stock (MTS)

Produksi berjalan sebelum pesanan masuk berdasarkan proyeksi permintaan.

Cocok untuk produk standar dengan demand yang stabil dan volume tinggi. Lead time sangat pendek karena stok sudah tersedia di gudang.

Make to Order (MTO)

Produksi baru dimulai setelah pesanan diterima. Cocok untuk produk dengan tingkat kustomisasi tinggi atau nilai per unit yang besar, seperti mesin industri atau furnitur custom.

Inventory rendah, namun lead time lebih panjang karena pelanggan menunggu proses produksi selesai.

Assemble to Order (ATO)

Komponen diproduksi dan disimpan terlebih dahulu, namun perakitan akhir baru dilakukan setelah pesanan masuk.

Strategi ini menggabungkan kecepatan MTS dengan fleksibilitas MTO.

Contoh penerapannya adalah industri otomotif dan elektronik, di mana Dell merakit laptop sesuai spesifikasi pelanggan menggunakan komponen yang sudah disiapkan sebelumnya.

Engineer to Order (ETO)

Desain dan produksi dilakukan sepenuhnya berdasarkan spesifikasi unik dari pelanggan. Digunakan untuk proyek dengan kompleksitas tinggi seperti konstruksi, kapal, atau peralatan militer.

Lead time paling panjang di antara keempat strategi, namun menghasilkan produk yang sepenuhnya disesuaikan dengan kebutuhan spesifik pelanggan.

Tabel Perbandingan Strategi Produksi

AspekMTSMTOATOETO
ProduksiBerdasarkan forecastBerdasarkan pesananKomponen siap, rakit saat pesanDesain & produksi per pesanan
InventoryTinggiRendahKomponen sajaHampir nol
Lead TimeSangat cepatLebih lamaSedangPaling lama
KustomisasiRendahTinggiSedangSangat tinggi
Risiko UtamaOverstockKeterlambatanKomponen usangEstimasi biaya meleset
Contoh IndustriFMCG, makananFurnitur customOtomotif, elektronikKonstruksi, kapal

Baca juga: Mengetahui Apa Itu Assemble To Order (ATO) dalam Proses Manufaktur

Apa Tujuan Metode Make to Stock?

Sistem make to stock diterapkan perusahaan untuk mencapai empat tujuan utama berikut:

  • Menjaga ketersediaan barang
    Dengan memproduksi barang sebelum consumer demand masuk, perusahaan memastikan stock availability terjaga di seluruh jaringan distribusi.
    Menurut ASCM, perusahaan yang mampu menjaga fill rate di atas 95% memiliki tingkat retensi pelanggan yang secara signifikan lebih tinggi dibanding kompetitor yang sering mengalami stockout.
  • Mempercepat pemenuhan pesanan
    Karena stok sudah siap, perusahaan dapat langsung memproses dan mengirimkan pesanan tanpa menunggu proses produksi selesai.
    Kecepatan ini menjadi keunggulan kompetitif yang signifikan di pasar yang dinamis.
  • Menurunkan lead time
    Lead time yang pendek adalah salah satu keunggulan utama MTS. Dalam laporan Supply Chain Benchmark Report yang diterbitkan Gartner, perusahaan dengan sistem MTS yang dioptimalkan mampu memangkas lead time pengiriman hingga 40% dibanding perusahaan yang masih mengandalkan produksi berbasis pesanan untuk produk-produk standar.
  • Menstabilkan proses produksi
    Jadwal produksi yang terencana memungkinkan perusahaan mengoptimalkan capacity utilization, yaitu tingkat penggunaan kapasitas produksi secara keseluruhan.
    Production planning yang stabil juga membantu menekan biaya per unit melalui efisiensi skala dan mengurangi pemborosan akibat perubahan jadwal mendadak.

Baca juga: 8 Software Akuntansi dengan Fitur Manajemen Persediaan Terbaik

Bagaimana Cara Kerja Make to Stock?

cara kerja

Sistem MTS berjalan melalui serangkaian tahapan yang saling berkaitan. Satu konsep penting yang perlu dipahami dalam konteks ini ialah carrying cost, yaitu total biaya yang ditanggung perusahaan untuk menyimpan inventory selama periode tertentu.

Menurut SAP, rata-rata inventory carrying cost di industri manufaktur berkisar antara 20% hingga 30% dari total nilai inventory per tahun, mencakup biaya penyimpanan, asuransi, kerusakan, dan opportunity cost modal yang tertahan.

Pemahaman terhadap carrying cost ini sangat penting karena langsung mempengaruhi keputusan berapa banyak stok yang optimal untuk disimpan dalam setiap tahapan proses MTS berikut:

1. Menganalisis Data Permintaan

Perusahaan mengumpulkan dan menganalisis data historis penjualan dengan mempertimbangkan demand variability, yaitu tingkat fluktuasi permintaan dari waktu ke waktu.

Semakin tinggi demand variability suatu produk, semakin besar safety stock yang perlu disiapkan.

2. Membuat Forecast Penjualan

Berdasarkan hasil analisis, tim production planning menyusun proyeksi consumer demand untuk periode mendatang.

Forecast ini menentukan target produksi yang harus dipenuhi agar stock availability tetap terjaga.

3. Menentukan Jumlah Produksi

Target produksi ditetapkan dengan mempertimbangkan inventory level saat ini, safety stock, dan proyeksi permintaan.

Tujuannya adalah memproduksi jumlah yang tepat untuk menjaga keseimbangan antara stock availability dan carrying cost.

4. Memproduksi Barang

Proses produksi berjalan sesuai jadwal yang ditetapkan oleh tim production planning. Pada tahap ini, capacity utilization dan ketersediaan bahan baku menjadi faktor penentu kelancaran operasional.

5. Menyimpan inventory

Produk jadi disimpan di gudang dengan sistem pengelolaan yang terstruktur. Penataan yang baik memastikan carrying cost tetap efisien dan produk mudah ditemukan saat pesanan masuk.

6. Mendistribusikan produk

Begitu pesanan masuk, produk langsung diambil dari gudang dan dikirimkan ke pelanggan atau retailer.

Kecepatan distribusi pada tahap ini menjadi keunggulan utama sistem MTS dibanding strategi produksi lainnya.

Baca juga: 7 Strategi Agar Pelanggan Melakukan Repeat Order

Mengapa Forecast Penting dalam Make to Stock?

Forecast merupakan jantung dari sistem make to stock. Seluruh keputusan produksi, mulai dari jumlah bahan baku yang dipesan hingga kapasitas gudang yang disiapkan, bergantung pada kualitas prediksi permintaan yang dibuat.

Berikut beberapa alasan forecast sangat penting dalam make to stock:

Forecast Mempengaruhi Kapasitas Produksi

Proyeksi permintaan yang akurat membantu perusahaan menentukan berapa banyak unit yang harus diproduksi dalam satu siklus.

Jika forecast terlalu rendah, perusahaan kekurangan stok dan kehilangan potensi penjualan. Jika terlalu tinggi, lini produksi bekerja melebihi kebutuhan dan gudang penuh dengan produk yang tidak terjual.

Forecast Membantu Pengendalian Stok

Dengan forecast yang tepat, perusahaan dapat mengatur tingkat stok secara optimal, tidak terlalu banyak hingga membebani biaya penyimpanan, dan tidak terlalu sedikit hingga berisiko stockout.

Pengendalian stok yang baik juga berdampak langsung pada efisiensi cash flow perusahaan.

Forecast Mengurangi Dead Stock

Dead stock merupakan produk yang tersimpan di gudang terlalu lama karena tidak terjual. Kondisi ini terjadi ketika produksi jauh melampaui permintaan aktual.

Forecast yang didasarkan pada data historis yang solid dan analisis tren pasar yang cermat membantu perusahaan meminimalkan risiko dead stock sebelum terjadi.

Baca juga: Forecast Penjualan: Pengertian, Fungsi, Metode, dan Cara Menggunakannya

Teknologi Apa yang Digunakan dalam Sistem MTS?

Keberhasilan sistem make to stock sangat ditentukan oleh teknologi yang mendukung setiap tahapan prosesnya, dari perencanaan produksi hingga distribusi produk.

Enterprise Resource Planning (ERP)

ERP adalah sistem inti yang mengintegrasikan seluruh proses bisnis dalam satu platform, mulai dari produksi, pengadaan bahan baku, keuangan, hingga distribusi.

Dengan ERP, data dari setiap departemen terhubung secara real-time sehingga pengambilan keputusan produksi menjadi lebih cepat dan akurat.

Inventory Management Software

Perangkat lunak manajemen inventaris memungkinkan perusahaan memantau pergerakan stok secara real-time.

Sistem ini mencatat setiap barang yang masuk dan keluar dari gudang, memberikan visibilitas penuh terhadap kondisi stok, dan mengirimkan notifikasi otomatis ketika stok mendekati batas minimum.

Demand Planning System

Sistem perencanaan permintaan dirancang khusus untuk mengolah data historis penjualan, tren pasar, dan faktor musiman guna menghasilkan forecast yang akurat.

Teknologi ini menjadi tulang punggung perencanaan produksi dalam sistem MTS karena langsung mempengaruhi keputusan jumlah barang yang diproduksi.

Warehouse Management System (WMS)

WMS mengelola operasional gudang secara menyeluruh, mulai dari penerimaan barang, penyimpanan, pengelompokan, hingga pengiriman.

Sistem ini memastikan produk tersimpan dan diambil dengan efisien sehingga proses distribusi berjalan lebih cepat dan akurat.

Baca juga: Contoh & Template Laporan Harga Pokok Penjualan Excel Siap Pakai (Gratis Download)

Apa Kelebihan Make to Stock?

Sistem make to stock menawarkan sejumlah keunggulan yang menjadikannya pilihan utama bagi perusahaan dengan volume produksi tinggi dan permintaan yang relatif stabil.

Keunggulan ini mencakup kecepatan pengiriman, efisiensi produksi, hingga dampaknya terhadap kepuasan pelanggan.

Mengapa MTS Mempercepat Pengiriman Produk?

  • Produk tersedia sebelum pesanan masuk
    Stok yang selalu siap di gudang memungkinkan perusahaan memproses pesanan secara langsung tanpa jeda waktu produksi. Hal ini sangat krusial di industri dengan tingkat permintaan tinggi dan ekspektasi pengiriman cepat dari pelanggan.
  • Warehouse mendukung distribusi cepat
    Gudang dalam sistem MTS dirancang untuk mendukung kecepatan picking dan packing. Dengan tata letak yang terorganisir dan sistem manajemen gudang yang baik, produk dapat ditemukan, dikemas, dan dikirimkan dalam waktu singkat setelah pesanan diterima.

Bagaimana MTS Membantu Efisiensi Produksi?

  • Produksi massal menurunkan biaya per unit
    Sistem MTS memungkinkan perusahaan berproduksi dalam skala besar secara konsisten. Semakin besar volume produksi, semakin rendah biaya per unit yang dihasilkan karena biaya tetap seperti mesin dan tenaga kerja tersebar atas lebih banyak unit produk.
  • Jadwal produksi lebih stabil
    Karena produksi berjalan berdasarkan forecast yang telah direncanakan, perusahaan dapat menyusun jadwal produksi yang konsisten dan terstruktur. Stabilitas ini mengurangi pemborosan akibat perubahan jadwal mendadak dan membantu perusahaan mengoptimalkan penggunaan sumber daya secara keseluruhan.

Apa Dampak MTS terhadap Kepuasan Pelanggan?

  • Produk mudah ditemukan
    Stok yang selalu tersedia memastikan pelanggan dapat menemukan dan membeli produk kapan pun mereka membutuhkannya, baik di toko fisik maupun platform digital.
  • Pengiriman lebih cepat
    Lead time yang pendek memberikan pengalaman belanja yang lebih baik bagi pelanggan. Di era e-commerce yang kompetitif, kecepatan pengiriman menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi keputusan pembelian ulang.
  • Risiko stockout lebih rendah
    Dengan stok yang dikelola secara terencana, perusahaan dapat meminimalkan kejadian kehabisan barang. Stockout tidak hanya menyebabkan kehilangan penjualan, tetapi juga merusak reputasi merek di mata pelanggan.

Baca juga: Download Template Kartu Harga Pokok Pesanan Excel Gratis dan Contoh Pengisian

Apa Kekurangan Make to Stock?

Meski menawarkan banyak keunggulan, sistem make to stock memiliki tiga kekurangan utama yang perlu diperhatikan yaitu risiko overstock, dampak dead stock terhadap bisnis, dan tingginya biaya operasional gudang.

Mengapa MTS Berisiko Overstock?

  • Forecast dapat meleset
    Prediksi permintaan tidak selalu akurat. Perubahan perilaku konsumen, kondisi ekonomi, atau munculnya kompetitor baru dapat membuat realisasi penjualan jauh di bawah proyeksi, sehingga stok menumpuk di gudang melebihi kebutuhan aktual.
  • Perubahan tren mempengaruhi permintaan
    Produk yang diproduksi dalam jumlah besar berdasarkan tren saat ini bisa kehilangan relevansinya dalam waktu singkat. Ketika tren bergeser, stok yang sudah diproduksi sulit terjual dan berpotensi menjadi beban operasional.

Apa Dampak Dead Stock pada Bisnis?

  • Biaya penyimpanan meningkat
    Produk yang tidak terjual tetap membutuhkan ruang di gudang dan biaya perawatan. Semakin lama barang mengendap, semakin besar biaya yang harus ditanggung perusahaan.
  • Cash flow tertahan
    Modal yang tertanam dalam stok yang tidak bergerak tidak dapat digunakan untuk keperluan operasional lain. Kondisi ini dapat mengganggu likuiditas perusahaan, terutama bagi bisnis dengan margin tipis.
  • Risiko produk usang meningkat
    Produk yang terlalu lama tersimpan berisiko mengalami penurunan kualitas, kedaluwarsa, atau kehilangan nilai jual akibat perubahan pasar.

Bagaimana MTS Mempengaruhi Biaya Gudang?

  • Inventory membutuhkan ruang penyimpanan yang besar
    Sistem MTS mengharuskan perusahaan menyediakan kapasitas gudang yang memadai untuk menampung stok dalam jumlah besar. Biaya sewa atau pembangunan gudang menjadi salah satu pos pengeluaran terbesar dalam sistem ini.
  • Biaya maintenance inventory meningkat
    Pengelolaan stok dalam skala besar membutuhkan sistem, tenaga kerja, dan infrastruktur yang tidak sedikit. Mulai dari biaya sistem manajemen gudang, asuransi stok, hingga penanganan produk yang rusak selama penyimpanan, semuanya berkontribusi pada kenaikan biaya operasional secara keseluruhan.

Industri Apa yang Cocok Menggunakan Make to Stock?

industri make to stock

Sistem make to stock paling efektif diterapkan pada industri dengan pola permintaan yang stabil, volume penjualan tinggi, dan produk yang bersifat standar tanpa kustomisasi khusus.

Berikut merupakan industri-industri yang paling banyak menggunakan sistem ini:

Mengapa Industri FMCG Menggunakan MTS?

Industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) merupakan pengguna utama sistem MTS. Produk FMCG seperti sabun, sampo, detergen, dan produk perawatan tubuh memiliki permintaan yang konsisten dan dapat diprediksi sepanjang tahun.

Konsumen membeli produk ini secara rutin sehingga perusahaan dapat menyusun forecast dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Perusahaan seperti Unilever dan Procter & Gamble (P&G) mengandalkan sistem MTS untuk memastikan produk mereka selalu tersedia di jutaan titik penjualan di seluruh dunia.

Dengan volume produksi yang masif dan jaringan distribusi yang luas, MTS menjadi satu-satunya pendekatan yang memungkinkan mereka memenuhi permintaan pasar secara konsisten.

Bagaimana Industri Makanan dan Minuman Memanfaatkan MTS?

Industri makanan dan minuman sangat bergantung pada sistem MTS karena produknya dikonsumsi setiap hari dalam jumlah besar.

Produksi dilakukan dalam skala besar untuk menekan biaya per unit, kemudian didistribusikan secara cepat ke jaringan retail, supermarket, dan minimarket.

Coca-Cola dan Indofood menjadi contoh nyata perusahaan yang menggunakan MTS secara masif.

Coca-Cola memproduksi miliaran botol minuman setiap harinya berdasarkan proyeksi permintaan di setiap wilayah.

Indofood melakukan hal serupa untuk produk mi instan, bumbu, dan makanan ringan yang tersebar di seluruh Indonesia dan pasar ekspor.

Apa Contoh Produk yang Menggunakan Sistem MTS?

Berikut merupakan produk-produk yang umumnya diproduksi dengan sistem make to stock:

  • Minuman kemasan: air mineral, minuman ringan, jus kemasan (contoh: Aqua, Pocari Sweat, Coca-Cola)
  • Sabun dan produk perawatan: sabun mandi, sampo, pasta gigi (contoh: Lifebuoy, Dove, Pepsodent)
  • Makanan ringan: keripik, biskuit, wafer (contoh: Chitato, Oreo, Tango)
  • Produk household: detergen, pembersih lantai, tisu (contoh: Rinso, Wipol, Paseo)

Semua produk di atas memiliki karakteristik yang sama yakni permintaan tinggi, konsisten, dan tidak memerlukan kustomisasi, sehingga sangat cocok diproduksi secara massal menggunakan sistem MTS.

Bagaimana Strategi Mengoptimalkan Make to Stock?

Menjalankan sistem MTS secara efektif membutuhkan tiga strategi utama meliputi forecast yang akurat, pengendalian risiko overstock, dan pemantauan KPI yang tepat.

Bagaimana Cara Membuat Forecast yang Akurat?

Menggunakan Data Historis

Data penjualan masa lalu merupakan referensi paling reliable dalam menyusun forecast.

Sebagai benchmark industri, perusahaan FMCG umumnya menargetkan tingkat forecast accuracy di atas 80% untuk kategori produk utama, dengan perusahaan kelas dunia mencapai akurasi hingga 90% menggunakan kombinasi data historis dan teknologi modern.

Forecast accuracy dapat diukur dengan formula berikut:

Forecast Accuracy = 1 − (|Forecast − Aktual| ÷ Aktual) × 100%

Semakin mendekati 100%, semakin akurat proyeksi permintaan yang dibuat.

Menganalisis seasonal demand

Permintaan produk tertentu cenderung meningkat atau menurun pada periode tertentu, seperti hari raya, musim liburan, atau awal tahun ajaran.

Di Indonesia, perusahaan seperti Indofood mencatat lonjakan demand hingga 30–40% untuk produk mi instan dan bumbu selama periode Ramadan.

Pola musiman ini harus diidentifikasi dan dimasukkan ke dalam perhitungan proyeksi permintaan agar volume produksi tidak meleset.

Bagaimana Mengurangi Risiko Overstock?

Mengatur Safety Stock

Safety stock adalah cadangan stok minimum yang disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan mendadak atau keterlambatan produksi. Formula dasar safety stock adalah:

Safety Stock = Z × σLT × D̄

Keterangan:

  • Z = service level factor (contoh: 1,65 untuk service level 95%)
  • σLT = standar deviasi lead time
  • = rata-rata permintaan harian

Sebagai acuan, industri FMCG umumnya menetapkan service level antara 95% hingga 99% untuk produk dengan permintaan tinggi guna meminimalkan risiko stockout.

Menggunakan Reorder Point

Reorder point adalah batas stok minimum yang memicu perintah produksi atau pembelian bahan baku baru. Formulanya:

Reorder Point = (Rata-rata Permintaan Harian × Lead Time) + Safety Stock

Dengan menetapkan reorder point yang tepat, perusahaan dapat menghindari stockout sekaligus mencegah penumpukan stok yang berlebihan.

Memantau Inventory Turnover

Inventory turnover mengukur seberapa cepat stok terjual dalam periode tertentu. Formulanya:

Inventory Turnover = Harga Pokok Penjualan (HPP) ÷ Rata-rata Nilai Inventory

Perusahaan FMCG umumnya memiliki inventory turnover ratio antara 8 hingga 12 kali per tahun, yang berarti stok berputar setiap 30 hingga 45 hari.

Turnover di bawah angka ini adalah sinyal awal potensi overstock yang perlu segera ditindaklanjuti.

KPI Apa yang Penting dalam Sistem Make to Stock?

Empat KPI berikut wajib dipantau secara rutin untuk memastikan sistem MTS berjalan optimal:

  • Inventory Turnover Ratio: Mengukur seberapa cepat stok habis terjual dalam satu periode.
  • Forecast Accuracy. Mengukur seberapa dekat proyeksi permintaan dengan realisasi penjualan aktual. Target minimal yang umum digunakan industri ialah di atas 80%, dengan perusahaan top performer mencapai 90%.
  • Fill Rate: Mengukur persentase pesanan yang berhasil dipenuhi dari stok yang tersedia. Menurut ASCM (Association for Supply Chain Management), perusahaan FMCG kelas dunia menjaga fill rate di atas 95% untuk memastikan ketersediaan produk yang konsisten di seluruh channel distribusi.
  • Stockout Rate: Mengukur seberapa sering produk mengalami kehabisan stok. Target ideal stockout rate untuk industri FMCG adalah di bawah 2%, karena setiap kejadian stockout berpotensi mengalihkan pelanggan ke produk kompetitor secara permanen.

Kesimpulan

Make to stock adalah strategi produksi yang tepat bagi perusahaan dengan volume tinggi dan pola permintaan yang stabil.

Namun keberhasilan sistem MTS tidak datang otomatis. Dibutuhkan demand projection yang akurat, pengelolaan inventory level yang disiplin, dan pemantauan KPI seperti fill rate, forecast accuracy, serta inventory turnover ratio secara berkala.

Tanpa fondasi data yang kuat, risiko overstock dan tingginya carrying cost dapat menggerus efisiensi operasional yang justru ingin dicapai.

Di era modern, tantangan seperti perubahan consumer demand yang cepat membuat manajemen inventory semakin kompleks.

Dalam konteks ini, penggunaan software manajemen inventory yang tepat menjadi salah satu keputusan operasional yang krusial.

Kledo, sebagai software akuntansi online berbasis cloud, menyediakan fitur pengelolaan inventory yang membantu perusahaan memantau pergerakan stok secara real-time, mencatat arus barang masuk dan keluar, serta menghasilkan laporan yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan produksi yang lebih tepat.

Anda bisa mempelajari fitur inventory di halaman ini atau langsung menggunakan Kledo di tautan ini.

Annisa Herawati

Tinggalkan Komentar

three × 5 =