Apa Itu Proses Manufaktur? Jenis, Hambatan, dan Cara Mengatasi

proses manufaktur banner

Saat Anda membeli sesuatu yang baru, sebenarnya produk tersebut sudah melalui proses yang cukup panjang.

Maksudnya, produk tersebut berawal dari sebuah ide, kemudian dibuat menggunakan bahan dan tenaga kerja, serta didistribusikan ke lokasi penjualan hingga akhirnya bisa Anda beli.

Seluruh tahapan untuk menghadirkan produk tersebut kepada Anda disebut sebagai proses manufaktur.

Pada artikel ini, kita akan membahas proses manufaktur, jenis-jenis, hambatan, dan cara mengatasinya.

Apa Itu Proses Manufaktur?

Manufaktur adalah proses menghasilkan suatu produk dengan mengolah bahan baku dan menggunakan tenaga kerja manusia, penggunaan mesin, serta berbagai proses industri.

Proses manufaktur harus harus memiliki standar yang jelas, seperti toleransi, pengukuran kualitas, dan KPI.

Setiap bisnis memiliki proses manufakturnya sendiri, yang sudah dipilih agar paling sesuai dengan produk dan jenis produksinya.

Ada bisnis yang hanya membutuhkan sistem yang sederhana, ada pula yang memerlukan proses yang lebih kompleks.

kledo banner 3

Baca Juga: Diagram Sistem Manufaktur: Contoh dan Tips Membuatnya

Apa Saja Jenis-Jenis Proses Manufaktur yang Ada?

Berikut ini beberapa jenis proses manufaktur yang perlu Anda ketahui:

1. Repetitive Manufacturing

Sesuai dengan namanya, repetitive manufacturing adalah metode untuk memproduksi barang yang sama berulang kali dengan cepat, dalam jumlah besar, dan terus menerus.

Fasilitas produksi umumnya menggunakan robot dan alat otomatisasi untuk meningkatkan output sekaligus menekan biaya produksi.

Keunggulan proses repetitive manufacturing:

  • Menekan biaya produksi
  • Mempermudah penjadwalan
  • Memungkinkan pemantauan kinerja secara berkala.

Beberapa sektor industri yang menggunakan metode ini antara lain:

  • Otomotif
  • Elektronik
  • Semikonduktor
  • Barang konsumsi tahan lama

Industri-industri tersebut mengandalkan produksi massal dan memiliki permintaan yang stabil serta dapat diprediksi dari konsumen.

2. Job Shop Manufacturing

Metode job shop manufacturing fokus memproduksi barang berdasarkan pesanan khusus (custom) dan menggunakan lebih sedikit lini perakitan daripada metode lainnya.

Selain itu, proses produksinya minim otomatisasi. Setiap pekerja memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi atau perbaikan pada produk saat melewati stasiun kerja mereka, hingga akhirnya produk selesai.

Keunggulan job shop manufacturing:

  • Mampuan menghasilkan produk yang disesuaikan
  • Fleksibel terhadap perubahan
  • Penggunaan sumber daya yang efisien
  • Bisa memprioritaskan proses tertentu

Industri yang menggunakan job shop manufacturing:

  • Perusahaan yang menjual produk kustom seperti kacamata atau frame siap pakai
  • Perusahaan furnitur kustom
  • Industri dirgantara

3. Discrete Manufacturing

Seperti repetitive manufacturing, discrete manufacturing juga menggunakan lini perakitan dalam proses produksinya.

Namun, metode ini jauh lebih fleksibel. Produsen dapat mengatur sistem lini perakitan sesuai dengan frekuensi pergantian produk (changeover).

Artinya, mereka dapat menghasilkan variasi produk yang lebih beragam dari segi desain, kualitas, maupun jumlah. Meski begitu, discrete manufacturing membutuhkan waktu persiapan yang lebih lama.

Keunggulan:

  • Fleksibel
  • Menghasilkan produk beragam

Sektor yang menggunakan discrete manufacturing:

  • Industri otomotif
  • Pesawat terbang
  • Pakaian
  • Smartphone
  • Mainan.

Baca Juga: Cara Melakukan Optimasi Produksi dalam Manufaktur

4. Continuous Process Manufacturing

proses manufaktur 1

Proses ini memudahkan produksi barang serupa secara berulang dalam proses yang berlangsung terus-menerus, mirip dengan repetitive manufacturing.

Akan tetapi, metode ini hanya terbatas pada produk yang dibuat dari bahan baku seperti cairan, gas, dan bubuk.

Keunggulan continuous process manufacturing:

  • Penurunan biaya produksi jangka panjang
  • Siklus produksi yang lebih cepat
  • Minim kesalahan
  • Kualitas output yang tinggi
  • Efisiensi proses.

Sektor yang menggunakan continuous process manufacturing:

  • Farmasi
  • Gas industri dan kimia
  • Pupuk
  • Baja, besi, dan paduan logam
  • Pembangkit listrik
  • Pengolahan minyak
  • Kertas

5. Batch Process Manufacturing

Batch process manufacturing dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku atau permintaan pasar.

Setelah satu batch selesai diproduksi, operator akan membersihkan peralatan produksi sebagai persiapan untuk batch berikutnya. Waktu dan jadwal produksi biasanya disesuaikan dengan permintaan pelanggan.

Batch manufacturing cocok untuk bisnis yang memproduksi berbagai produk dengan mesin yang sama.

Mereka dapat menyesuaikan spesifikasi tanpa harus mengganti peralatan atau proses secara keseluruhan.

Keunggulan batch process manufacturing:

  • Efisiensi biaya saat memproduksi dalam jumlah besar sekaligus
  • Lebih fleksibel
  • Minim limbah
  • Penggunaan sumber daya yang optimal
  • Baya operasional lebih rendah.

Sektor yang menggunakan batch process manufacturing:

  • Makanan
  • Obat-obatan
  • Pakaian

6. 3D Printing

Sejak diperkenalkan pada tahun 1980-an, 3D printing menjadi populer karena membantu produsen untuk membuat produk menggunakan berbagai material tanpa membutuhkan banyak tenaga kerja fisik.

Metode ini menggunakan model digital untuk membuat produk tiga dimensi secara berlapis, dengan memanfaatkan berbagai bahan baku seperti logam, polimer plastik, atau plastik komposit.

Produk hasil 3D printing sudah digunakan di berbagai industri, mulai dari fashion hingga makanan.

Keunggulan metode 3D Printing:

  • Memungkinkan perusahaan untuk membuat dan menguji produk sebelum melakukan produksi massal, sehingga dapat menghemat biaya, sumber daya, dan mengurangi limbah.

Saat ini, teknologi ini digunakan untuk memproduksi berbagai produk seperti:

  • Anggota tubuh prostetik
  • Sepatu
  • Senjata
  • Teknologi medis dan dental
  • Alat musik
  • Bangunan

Baca Juga: Pengertian Perencanaan Produksi, Jenis, Tahapan, dan Fungsinya

Faktor Apa yang Bisnis Pertimbangkan untuk Memilih Metode Proses Manufaktur?

proses manufaktur 2

Setiap bisnis menggunakan serangkaian prosedur dan metode yang unik untuk menghasilkan produk akhir. Saat memilih metode manufaktur terbaik, beberapa faktor yang biasanya dipertimbangkan antara lain:

  • Permintaan pasar terhadap produk
  • Teknik yang digunakan
  • Permintaan konsumen
  • Kondisi komponen, bahan baku, dan bahan kimia
  • Sumber daya yang tersedia
  • Kondisi pabrik
  • Waktu produksi (turnaround time), dan lainnya

Setiap metode produksi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Oleh karena itu, produsen akan menganalisis faktor-faktor di atas untuk menentukan pendekatan yang paling sesuai bagi bisnis mereka.

Baca Juga: Penjadwalan Produksi Manufaktur: KPI, Tahapan, dan Metodenya

Hambatan Umum dalam Proses Manufaktur & Cara Mengatasinya

Sayangnya, dalam proses manufaktur sendiri juga ada hambatan yang bisa memperlambat sistem manufaktur dan membatasi kapasitas produksi.

Berikut beberapa hambatan umum yang harus Anda waspadai dan cara mengatasinya:

1. Throughput (Laju Produksi)

Laju produksi adalah jumlah produk yang dapat dihasilkan dalam periode waktu tertentu.

Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu proses dari awal hingga akhir, semakin besar pula biaya produksi.

Karena itu, tujuan utamanya adalah mengurangi waktu laju produksi agar lebih efisien secara biaya.

Penyebab produksi melambat:

  • Mesin yang kurang terawat
  • Proses yang tidak efisien
  • Pemanfaatan tenaga kerja dan sumber daya yang kurang optimal
  • Tata letak pabrik yang tidak mendukung

Cara mengatasi:

  • Gunakan metode seperti 5 Whys dan diagram Ishikawa untuk menemukan akar masalah
  • Lakukan evaluasi pada jadwal maintenance
  • Knfigurasi ulang lini produksi
  • Perbaiki SOP

2. Accumulation (Penumpukan)

Penumpukan sering terjadi ketika produk terhambat saat berpindah dari satu tahap produksi ke tahap berikutnya, baik karena masalah mesin maupun operator.

Cara mengatasi:

  • Meningkatkan pelatihan karyawan
  • Menyusun SOP yang lebih jelas.
  • Menggunakan sistem Kanban untuk membantu mengontrol jumlah pekerjaan dalam proses dan mencegah kelebihan stok.

3. Downtime dan Idle Time

Lini produksi dengan banyak mesin berisiko mengalami kerusakan mendadak. Downtime pada peralatan akan menghambat proses produksi dan berdampak ke bagian lain.

Cara mencegah:

  • Terapkan preventive maintenance secara terjadwal
  • Perhatikan juga idle time, yaitu kondisi saat mesin atau tenaga kerja tidak dimanfaatkan secara optimal meskipun tersedia.
  • Terapkan prinsip lean manufacturing untuk mengidentifikasi area yang masih bisa dioptimalkan, baik dari sisi penggunaan mesin maupun tenaga kerja.

4. Kapasitas Produksi Penuh

proses manufaktur 3

Setiap unit produksi memiliki batas kapasitas output. Jika ada mesin yang bekerja lebih cepat daripada yang lain dan tidak sinkron, maka alur produksi bisa terganggu.

Cara mengatasi:

  • Gunakan metode 5 Whys untuk menemukan akar masalah
  • Terapkan prinsip lean manufacturing guna mencegah masalah serupa di masa depan.
  • Pastikan seluruh mesin dirawat dengan baik dan dioperasikan sesuai SOP.
  • Terapkan proses yang terstandarisasi
  • Awasi kegiatan produksi

5. Ketidaksesuaian Data Biaya Produksi

Salah satu hambatan yang sering terjadi dalam proses manufaktur namun jarang diperhatikan adalah data biaya produksi yang tidak akurat.

Kesalahan dalam pencatatan biaya bahan baku, tenaga kerja, atau overhead dapat menyebabkan perhitungan harga pokok produksi (HPP) menjadi tidak tepat.

Akibatnya, perusahaan bisa menetapkan harga jual yang terlalu rendah (merugi) atau terlalu tinggi (tidak kompetitif).

Software akuntansi dapat membantu dengan mencatat biaya secara otomatis, mengelompokkan biaya berdasarkan kategori, serta menyajikan laporan HPP secara real-time sehingga keputusan bisnis menjadi lebih akurat.

6. Manajemen Persediaan yang Tidak Efisien

Kekurangan bahan baku dapat menghentikan produksi, sementara kelebihan stok meningkatkan biaya penyimpanan dan risiko kerusakan.

Dengan software akuntansi manufaktur yang terintegrasi dengan manajemen inventaris, perusahaan dapat memantau stok secara real-time, menetapkan batas minimum dan maksimum, serta mengetahui kapan harus melakukan pembelian ulang.

Hal ini membantu mencegah hambatan akibat keterlambatan material maupun penumpukan stok.

Baca Juga: Inspeksi Produk: Pengertian, Manfaat, Jenis, dan Tahapannya

Mencatat Proses Produksi dengan Software Akuntansi Kledo

Anda bisa mencatat proses manufaktur bisnis Anda dengan software akuntansi Kledo. Proses manufaktur ini terdiri dari 2 tahapan:

  1. Mencatat bahan baku
  2. Menjual produk manufaktur

Mencatat bahan baku

Untuk mencatat bahan baku di Kledo, Anda bisa ikuti langkah berikut:

1. Klik menu “Produk”, lalu “Tambah Produk” dan isi semua data yang ada

mencatat produksi dengan kledo 1

2. Aktifkan bagian “Saya melacak inventori item ini”

mencatat produksi dengan kledo 2

3. Simpan

Membuat produk manufaktur

Setelah menambahkan kategori produk bahan baku, Anda bisa langsung membuat produk manufaktur.

Caranya adalah:

1. Klik “Produk” lalu “Produk Manufaktur”

mencatat manufaktur dengan kledo 1

2. Buat kategori baru dan klik “Tambah Kategori”. Misalnya adalah membuat “Produk Jadi”. Setelah itu masukan harga beli produk dan harga jual produk manufaktur. Bagian ini juga bisa dikosongkan.

mencatat manufaktur dengan kledo 2

3. Pilih bahan baku produk yang digunakan dan biaya produksi jika diperlukan

mencatat manufaktur dengan kledo 3

4. Simpan

Pencatatan proses produksi pun selesai! Untuk penjelasan lebih lanjut, bisa Anda lihat di video di bawah ini:

Jika Anda ingin mencoba Kledo untuk mencatat proses manufaktur Anda, daftar gratis di sini.

Baca Juga: Siklus Akuntansi Bisnis Manufaktur dan Bedanya dengan Bisnis Lain

Kesimpulan

Proses manufaktur adalah rangkaian kegiatan produksi untuk menciptakan produk yang berkualitas, efisien, dan mampu bersaing di pasar.

Dengan memahami alur proses manufaktur secara menyeluruh, bisnis dapat mengidentifikasi potensi pemborosan, meningkatkan efisiensi operasional, serta menjaga konsistensi kualitas produk.

Tidak hanya itu, Anda juga bisa terus melakukan evaluasi dan perbaikan agar bisnis dapat terus berkembang dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

ten + 10 =