Banyak bisnis memberikan fasilitas kredit kepada pelanggan agar penjualan lebih mudah berkembang. Masalahnya, penjualan kredit tidak langsung menjadi kas.
Ketika jumlah transaksi kredit semakin besar, bisnis bisa memiliki banyak piutang usaha yang belum tertagih, sementara kebutuhan untuk membayar supplier, gaji, sewa, dan biaya operasional tetap berjalan.
Salah satu cara dalam melakukan pengelolaan piutang dengan baik adalah dengan melakukan anggaran piutang.
Namun, proses penganggaran piutang dalam sebuah bisnis terkadang belum berjalan secara maksimal, terutama pada bisnis skala UMKM.
Pada artikel kali ini, kita akan membahas apa itu anggaran piutang, manfaat, faktor yang mempengaruhi anggaran piutang, dan juga cara penyusunannya secara terperinci.
Apa itu Anggaran Piutang?
Anggaran piutang adalah perkiraan jumlah piutang usaha yang akan diterima atau masih outstanding dalam periode tertentu berdasarkan rencana penjualan kredit dan pola pembayaran pelanggan.
Sedangkan Piutang (receivable) adalah hak menagih sejumlah harta dari kreditur (pemberi pinjaman) kepada debitur (penerima pinjaman) yang bersedia melunasinya pada waktu mendatang.
Jadi, piutang itu ada karena:
- Terdapat dua pihak, yaitu kreditur dan debitur,
- Ada kesediaan debitur untuk melunasi kewajibannya kepada debitur,
- Ada jarak waktu mulai timbul piutang sampai saat pelunasannya,
- Ada hak menagih yang dimiliki kreditur.
Memberikan kredit memiliki beberapa risiko, di antaranya adalah tertanamnya harta dalam piutang dan tidak tertagihnya sebagian atau seluruh piutang.
Oleh karena itu perlu ditentukan besarnya anggaran piutang tak tertagih dengan cara menyediakan cadangan pengahpusan piutang sebagai akibat kemungkinan tidak tertagih.
Karena bersifat perencanaan, anggaran piutang berbeda dari laporan piutang.
Laporan piutang menunjukkan kondisi historis atau posisi piutang berdasarkan transaksi yang telah dicatat, sedangkan anggaran piutang digunakan untuk memperkirakan kondisi piutang pada periode mendatang.
Baca Juga: Manajemen Piutang: Pengertian, Manfaat, dan Tips Melakukannya
Apa Saja Manfaat Anggaran Piutang?
Anggaran piutang membantu Anda melihat dampak penjualan kredit terhadap kondisi keuangan.
Dengan memperkirakan jumlah dan waktu penerimaan piutang, Anda bisa mengambil keputusan bisnis berdasarkan kondisi kas.
- Mengontrol Arus Kas: Anggaran piutang membantu memperkirakan kapan bisnis akan menerima pembayaran dari pelanggan. Dengan begitu, Anda bisa menyesuaikan jadwal pembayaran supplier, gaji, dan kebutuhan operasional agar tidak mengalami kekurangan kas.
- Menjadi dasar keputusan pemberian kredit: Anda dapat melihat apakah jumlah penjualan kredit dan jangka waktu pembayaran masih sesuai dengan kemampuan keuangan bisnis. Jika piutang rasanya terlalu besar/pembayarannya terlalu lama, Anda bisa memperketat syarat kredit.
- Mendeteksi risiko gagal bayar: Jika ada masalah penagihan, Anda bisa langsung menindaklanjuti pelanggan yang menunggak sebelum piutang semakin sulit ditagih.
- Membantu merencanakan modal kerja: Anggaran piutang menunjukkan berapa dana yang masih tertahan dalam penjualan kredit dan kapan dana tersebut diperkirakan kembali menjadi kas. Informasi ini membantu Anda menentukan kebutuhan modal kerja dan mengatur pengeluaran dengan lebih tepat.
Baca Juga: Dampak Pengelolaan Piutang yang Buruk dan Cara Mengatasinya
Bagaimana Cara Menyusun Anggaran Piutang?

Cara menyusun anggaran piutang dimulai dari memperkirakan penjualan kredit, kemudian menentukan kapan piutang tersebut akan diterima dan berapa yang berpotensi tidak tertagih.
Hasilnya dapat digunakan untuk memperkirakan saldo piutang dan penerimaan kas setiap periode.
1. Tentukan Persentase Penjualan Tunai dan Kredit
Langkah pertama adalah memperkirakan berapa penjualan berdasarkan metode pembayarannya (tunai dan kredit). Yang akan masuk ke perhitungan piutang hanyalah penjualan kredit.
Misalnya, Anda memperkirakan total penjualan bulan depan sebesar Rp100 juta.
Jika berdasarkan pola penjualan sebelumnya sekitar 40% dibayar tunai dan 60% secara kredit, maka:
- Penjualan tunai: 40% × Rp100 juta = Rp40 juta
- Penjualan kredit: 60% × Rp100 juta = Rp60 juta
Jadi, Rp60 juta menjadi dasar untuk memperkirakan piutang usaha pada periode tersebut.
2. Tentukan Syarat Penjualan Kredit
Setelah mengetahui nilai penjualan kredit, tentukan kapan pelanggan diperkirakan membayar. Hal ini disebut term of credit atau syarat kredit, yang biasanya mencakup jangka waktu pembayaran dan tanggal jatuh tempo piutang.
Contohnya, net 30 berarti pelanggan wajib melunasi tagihan dalam waktu 30 hari. Sementara itu, net 60 memberikan waktu pembayaran hingga 60 hari.
Semakin panjang jangka waktu kredit, semakin lama dana hasil penjualan tertahan sebagai piutang.
Penjualan kredit tidak otomatis menjadi kas pada bulan yang sama. Misalnya, jika Rp60 juta penjualan kredit pada bulan Januari menggunakan term net 30, penerimaannya kemungkinan baru masuk pada Februari.
Gunakan pola pembayaran tersebut untuk memperkirakan penerimaan piutang dan arus kas pada bulan berikutnya.
3. Hitung Estimasi Piutang Tidak Tertagih
Tidak semua piutang selalu berhasil ditagih. Karena itu, anggaran piutang juga perlu memperhitungkan kemungkinan adanya piutang tidak tertagih (bad debt) agar estimasi penerimaan tidak terlalu optimistis.
Tips adalah menggunakan persentase piutang tidak tertagih berdasarkan riwayat data.
Misalnya, dalam beberapa periode terakhir rata-rata 2% dari penjualan kredit tidak berhasil ditagih.
Jika estimasi penjualan kredit bulan Januari sebesar Rp60 juta, maka estimasi piutang tidak tertagih adalah 2% × Rp60 juta = Rp1,2 juta
Artinya, sekitar Rp58,8 juta berpotensi diterima dari penjualan kredit tersebut, sementara sisanya kemungkinan tidak akan tertagih.
4. Susun Tabel Anggaran Piutang
Tabel ini memudahkan Anda melihat hubungan antara penjualan kredit, jadwal penagihan, penerimaan piutang, dan saldo piutang yang masih outstanding.
Komponen yang dapat dimasukkan antara lain:
- Bulan/periode, untuk menunjukkan waktu anggaran.
- Penjualan kredit, yaitu estimasi penjualan yang dilakukan secara kredit.
- Persentase yang ditagih bulan ini, berdasarkan pola pembayaran pelanggan.
- Persentase yang ditagih bulan berikutnya, untuk memperkirakan penerimaan dari penjualan kredit sebelumnya.
- Saldo piutang, yaitu bagian piutang yang masih belum diterima setelah memperhitungkan penerimaan dan piutang tidak tertagih.
Dengan tabel tersebut, anggaran piutang bisa membantu memperkirakan kapan piutang berubah menjadi kas. Contoh tabel anggaran piutang akan kami bahas di bagian berikutnya.
Baca Juga: Mengenal Persamaan dan Perbedaan Hutang Piutang dalam Akuntansi
Contoh Anggaran Piutang

Berikut contoh anggaran piutang sederhana untuk bisnis yang melakukan penjualan secara kredit. Angka dalam tabel merupakan ilustrasi saja.
Misalnya, bisnis memperkirakan penjualan kredit sebesar Rp60 juta pada Januari, Rp70 juta pada Februari, dan Rp80 juta pada Maret.
Berdasarkan riwayat pembayaran, 60% penjualan kredit diperkirakan diterima pada bulan yang sama dan 38% diterima pada bulan berikutnya. Sementara itu, 2% diperkirakan tidak tertagih.
| Bulan | Penjualan Kredit | Penerimaan Piutang | Saldo Piutang Akhir |
|---|---|---|---|
| Januari | Rp 60.000.000 | Rp 36.000.000 | Rp 24.000.000 |
| Februari | Rp 70.000.000 | Rp 64.800.000 | Rp 29.200.000 |
| Maret | Rp 80.000.000 | Rp 74.600.000 | Rp 34.600.000 |
Penerimaan piutang pada Februari sebesar Rp64,8 juta berasal dari Rp42 juta (60% dari penjualan Februari) dan Rp22,8 juta (38% dari penjualan Januari).
Dengan pola yang sama, penerimaan pada Maret berasal dari penjualan Maret dan sisa tagihan dari Februari.
Sementara itu, saldo piutang akhir menunjukkan nilai penjualan kredit yang belum berubah menjadi kas pada akhir bulan setelah memperhitungkan estimasi piutang tidak tertagih.
Saldo tersebut penting diperhatikan karena menunjukkan berapa dana bisnis yang masih tertahan pada pelanggan.
Dari contoh ini, penjualan kredit yang meningkat dari Rp60 juta menjadi Rp80 juta juga membuat saldo piutang akhir meningkat.
Kondisi tersebut belum tentu buruk, tetapi perlu dipantau agar pertumbuhan penjualan kredit tidak membuat kebutuhan modal kerja semakin besar atau meningkatkan risiko keterlambatan pembayaran.
Baca Juga: Jurnal Piutang dalam Akuntansi: Pembahasan Lengkap dan Contohnya
Apa Hubungan Anggaran Piutang dengan Arus Kas?
Anggaran piutang dan arus kas langsung berhubungan karena penjualan kredit belum menghasilkan kas sampai pelanggan melakukan pembayaran.
Anggaran piutang membantu memperkirakan berapa besar piutang yang akan berubah menjadi kas dan kapan penerimaan tersebut terjadi. Karena itu, hasil anggaran piutang dapat menjadi salah satu dasar dalam membuat proyeksi arus kas.
Misalnya, bisnis memiliki penjualan kredit Rp100 juta pada Januari, tetapi berdasarkan syarat kredit hanya Rp60 juta yang diperkirakan diterima pada bulan yang sama.
Sebesar Rp40 juta masih menjadi saldo piutang dan baru diperkirakan diterima pada Februari.
Dalam proyeksi arus kas, bisnis tidak boleh memasukkan seluruh Rp100 juta sebagai kas masuk Januari.
Hubungan ini juga penting ketika saldo piutang terus meningkat.
Penjualan mungkin terlihat tumbuh, tetapi jika pelanggan membayar lebih lambat, semakin banyak dana bisnis yang tertahan dalam piutang.
Jadi, Anda bisa menggunakan informasi dari anggaran piutang untuk mengantisipasi kebutuhan modal kerja, menyesuaikan pengeluaran, atau mengevaluasi kembali syarat kredit pelanggan.
Baca Juga: Jurnal Penjualan Kredit: Pengertian, Bentuk, dan Contoh Penyelesaiannya
Apa Saja Faktor yang Mempengaruhi Penyusunan Anggaran Piutang?
Untuk menghitung berapa anggaran piutang yang akurat, maka diperlukan forecasting dari data informasi yang lengkap sebagai faktor-faktor penetapan piutang.
Adapun faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun anggaran piutang adalah sebagai berikut:
1. Jumlah penjualan
Semakin besar jumlah penjualan akan cendrung semakin besar pula transaksi penjualan secara kredit yang akan dilakukan, sehingga piutang perusahaan juga akan bertambah.
2. Keadaan persaingan di pasar
Semakin tinggi tingkat persaingan di pasar, maka volume penjualan secara kredit juga semakin meningkat.
3. Posisi perusahaan dalam persaingan
Semakin kuat posisi perusahaan di pasaran, maka perusahaan cenderung untuk melakukan penjualan secara tunai, namun sebalik nya jika posisi perusahaan cenderung lemah, maka perusahaan melakukan penjualan secara kredit.
4. Syarat pembayaran (term of payment)
Semakin besar potongan penjualan secara tunai maka piutang akan semakin sedikit, artinya konsumen cenderung membeli secara tunai.
Namun sebaliknya jika potongan penjualan semakin besar, maka kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian secara kredit. Akibatnya piutang perusahaan juga akan semakin besar.
5. Kebijakan perusahaan dalam penagihan piutang
Semakin intens perusahaan melakukan penagihan piutang maka jumlah piutang perusahaan semakin berkurang, namun sebaliknya jika perusahaan tidak aktif maka jumlah piutang juga akan semakin menumpuk.
6. Rencana perusahaan untuk melakukan penjualan secara kredit
Semakin besar rencana penjualan secara kredit, berakibat jumlah piutang juga semakin membesar, demikian juga sebaliknya jika rencana penjualan secara kredit dikurangkan, maka piutang juga semakin kecil.
Contohnya adalah jika perusahaan menganggarkan akan menjual sebagian aktiva tetapnya secara kredit maka hal ini akan menambah jumlah piutang usaha perusahaan.
Baca juga: Analisis Profitabilitas: Pengertian, Fungsi, Metode, dan Tips Melakukannya
Tips Terbaik dalam Melakukan Pengelolaan Piutang

1. Analisis kemampuan bayar pelanggan
Sebelum memberikan kredit, periksa riwayat pembayaran dan kemampuan pelanggan memenuhi kewajibannya.
Untuk pelanggan baru, Anda bisa meminta informasi seperti data usaha, riwayat transaksi, atau referensi pembayaran.
Ini membantu mengurangi risiko memberikan kredit kepada pelanggan yang memiliki kemampuan bayar rendah.
2. Perbarui kontak pelanggan
Jika informasi kontak yang Anda miliki untuk pelanggan Anda telah berubah, bisa jadi mereka tidak menerima faktur yang Anda kirimkan kepada mereka.
Jadi, biasakan untuk mengonfirmasi informasi kontak dengan vendor saat mereka melakukan pemesanan.
3. Tentukan batas kredit
Tetapkan batas maksimal piutang yang dapat dimiliki setiap pelanggan.
Batas tersebut dapat disesuaikan dengan nilai transaksi, lama hubungan bisnis, dan riwayat pembayarannya.
Dengan begitu, keterlambatan satu pelanggan tidak sampai menahan terlalu banyak dana bisnis.
4. Lakukan follow-up sebelum dan setelah jatuh tempo
Jangan menunggu piutang macet sebelum melakukan penagihan.
Kirim pengingat beberapa hari sebelum jatuh tempo, kemudian segera tindak lanjuti jika pembayaran melewati tanggal yang disepakati.
5. Klasifikasikan pelanggan berdasarkan risikonya
Kelompokkan pelanggan berdasarkan pola pembayaran, misalnya pelanggan lancar, pelanggan yang sering terlambat, dan pelanggan berisiko tinggi.
Anda bisa memberikan syarat kredit yang berbeda untuk setiap kelompok, seperti batas kredit lebih rendah atau pembayaran di muka bagi pelanggan dengan risiko tinggi.
Dengan pendekatan ini, manajemen risiko piutang menjadi lebih terarah dan tidak hanya dilakukan setelah masalah muncul.
Baca Juga: Invoice Financing: Pembahasan Lengkap dan Cara Kerjanya
Kesimpulan
Itulah pembahasan lengkap mengenai anggaran piutang dan cara terbaik dalam mengelola piutang dalam bisnis Anda.
Anggaran piutang adalah anggaran yang merencanakan secara terperinci tentang jumlah piutang perusahaan akibat penjualan secara kredit disertai dengan perubahan-perubahan (pertambahan piutang, piutang tertagih, sisa piutang) dari waktu ke waktu selama periode yang akan datang.
Untuk proses pengelolaan piutang usaha yang lebih mudah dan praktis, Anda bisa mencoba menggunakan software akuntansi yang mudah digunakan seperti Kledo.
Kledo memiliki fitur pembuatan invoice, pengelolaan, dan penagihan otomatis di mana Anda bisa mengirim tagihan dan follow up langsung ke WhatsApp pelanggan dari satu platform.
Anda bisa mencoba menggunakan Kledo secara gratis selama 14 hari atau selamanya melalui tautan ini.
- Cara Membuat Neraca Saldo, Contoh, dan Jenisnya - 28 September 2026
- Pendanaan Jangka Panjang dan Pendek: Pengertian, Tujuan, Jenis, & Contoh - 23 September 2026
- Laporan Operasional: Jenis, Contoh, dan Cara Membuatnya - 22 September 2026
