6 Ide Bisnis Pengepul yang Menjanjikan dan Rincian Modalnya

ide bisnis pengepul banner

Mencari bisnis pengepul yang menjanjikan bisa menjadi pilihan jika Anda ingin memulai usaha dengan model bisnis yang relatif sederhana.

Pengepul bisa mengumpulkan barang dari pemasok dan menjualnya kembali kepada pembeli dalam jumlah lebih besar.

Jenis barang yang dapat dikumpulkan pun cukup beragam. Mulai dari barang bekas, hasil pertanian, minyak jelantah, kulit hewan, sawit, hingga ikan dan hasil laut memiliki rantai pasarnya masing-masing.

Meski terlihat sederhana, bisnis ini tetap membutuhkan perhitungan yang matang. Anda perlu mengetahui kebutuhan modal, mencari pemasok dan pembeli yang tepat, memantau harga, serta menghitung biaya operasional agar selisih harga jual benar-benar menjadi keuntungan.

Lantas, apa saja bisnis pengepul yang menjanjikan dan berapa modal yang dibutuhkan? Simak pembahasannya berikut ini.

Apa Itu Bisnis Pengepul?

Bisnis pengepul adalah usaha yang membeli barang atau hasil produksi dari pemasok dalam jumlah tertentu, kemudian menjualnya kembali kepada pembeli yang membutuhkan dalam jumlah lebih besar.

Jadi, pengepul berperan sebagai penghubung antara pemasok dan pembeli.

Misalnya, seorang pengepul hasil pertanian membeli cabai dari beberapa petani di desa.

Cabai tersebut kemudian dikumpulkan dan dijual ke pedagang pasar, distributor, restoran, atau industri makanan dalam jumlah yang lebih besar.

Keuntungan pengepul berasal dari selisih harga beli dan harga jual, setelah memperhitungkan biaya seperti transportasi, penyimpanan, tenaga kerja, penyortiran, dan risiko kerusakan barang.

Karena itu, untuk mendapat keuntungan sebanyak mungkin, pengepul harus bisa mencari barang dengan harga murah, membaca harga pasar, menjaga kualitas barang, mengatur stok, dan menemukan pembeli yang tepat.

kledo banner 2

Baca Juga: 25 Bisnis yang Laku Setiap Hari dan Dibutuhkan Banyak Orang

Apa Saja Ide Bisnis Pengepul yang Menjanjikan?

Ada banyak jenis barang yang dapat dikumpulkan dan dijual kembali, seperti barang bekas,

Berikut penjelasannya:

1. Bisnis Pengepul Barang Bekas

Bisnis pengepul barang bekas/rongsokan merupakan salah satu usaha menjanjikan yang dapat dimulai dengan skala kecil.

Anda bisa memperoleh barang dari limbah rumah tangga, pemulung, tempat usaha, atau pengepul kecil, kemudian disortir dan dijual kembali kepada pengepul yang lebih besar atau industri daur ulang.

Beberapa barang yang umum dikumpulkan antara lain:

  1. Kardus bekas: Bisa diperoleh dari toko, gudang, rumah tangga, maupun bisnis online.
  2. Botol plastik: Punya pasar sendiri karena dapat dipilah berdasarkan jenis material dan kualitasnya untuk kemudian masuk ke rantai daur ulang.
  3. Besi tua: Bisa didapatkan dari proyek konstruksi, bengkel, rumah tangga, atau peralatan yang sudah tidak digunakan.
  4. Aluminium: Aluminium dari peralatan rumah tangga, komponen tertentu, atau barang bekas dapat dikumpulkan dan dijual kembali.
  5. Tembaga: Tembaga dapat ditemukan pada kabel, komponen elektronik tertentu, dan barang bekas lainnya. Nilainya relatif tinggi dibandingkan beberapa jenis barang bekas lain.

Bisnis ini cukup populer di area Surabaya karena menjanjikan keuntungan yang fantastis.

Menurut Detik Jatim, perputaran uangnya mulai dari Rp10 juta hingga Rp80 juta per hati. Dalam satu tahun, para bos rongsokan di Surabaya mengaku bisa meraup mulai dari Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar per tahun.

Para pengepul barang bekas di Surabaya ini mengumpulkan rongsokan seperti potongan tembaga, aluminium, kuningan, dan besi bahkan dari luar pulau.

Barang-barang ini biasanya dijual lagi ke perajin atau ke pabrik untuk daur ulang.

2. Pengepul Hasil Pertanian

Pengepul hasil pertanian membeli hasil panen langsung dari petani atau pemasok lokal. Barang kemudian dikumpulkan dalam jumlah lebih besar sebelum dijual kepada pedagang besar, pasar, industri pengolahan, atau pihak lainnya.

Beberapa komoditas yang dapat menjadi pilihan antara lain:

  1. Padi: Pengepul dapat membeli gabah dari beberapa petani ketika musim panen. Gabah kemudian dikeringkan, disimpan, atau langsung dijual kepada penggilingan padi.
  2. Jagung: Jagung banyak digunakan sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri pakan.
  3. Singkong: Dapat dikumpulkan dari petani untuk kemudian dijual kepada pasar, pedagang, atau industri pengolahan.
  4. Kedelai: Kedelai bisa dikumpulkan dari petani dan dijual kepada pedagang atau industri pengolahan.
  5. Cabai: Cabai memiliki pergerakan harga yang cukup cepat sehingga peluang keuntungannya dapat menarik, tetapi risikonya juga lebih tinggi.

Sebagian besar petani skala kecil di Indonesia masih bergantung pada pengepul untuk memasarkan hasil pertanian.

Ini karena pengepul biasa menerima pasokan dalam jumlah berapapun dan dalam kondisi mutu apapun, serta mereka menanggung biaya pemasaran dan terkadang menyediakan modal kerja juga pada petani.

Inilah mengapa petani juga merasa puas dengan keberadaan dan kinerja pengepul, seperti yang menjadi hasil penelitian yang dilakukan kepada petani Pandanwangi.

Pengepul perlu memiliki akses pasar yang cepat agar tidak terlalu lama menyimpan stok ketika harga mengalami penurunan.

3. Pengepul Minyak Jelantah

bisnis pengepul yang menjanjikan 1

Minyak jelantah merupakan minyak goreng bekas yang sudah tidak digunakan untuk memasak. Bahan ini bisa dikumpulkan dari rumah tangga, warung makan, restoran, hotel, katering, hingga usaha kuliner lainnya.

Pengepul membeli minyak jelantah, mengumpulkannya dalam jumlah lebih besar, lalu menjualnya kepada pengolah atau perusahaan yang membutuhkan bahan baku tersebut.

Mengepul minyak jelantah juga terbilang sangat mudah, karena orang Indonesia rutin menggunakan minyak untuk kebutuhan sehari-hari seperti menggoreng lauk.

Jika tertarik, Anda bisa mencoba bisnis ekspor minyak jelantah ke negara seperti Vietnam, China, dan Filipina.

Vietnam membutuhkan banyak minyak jelantah untuk bahan baku biodiesel, sementara China membutuhkannya untuk tambahan energi tambahan pada pakan hewan.

Mengutip artikel CNBC Indonesia, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor minyak jelantah Indonesia ke Vietnam mencapai 2,79 juta kilogram dengan nilai US$ 2,85 juta, disusul China dengan volume ekspor 1,01 juta kilogram senilai US$ 1,01 juta.

Sementara itu, Filipina, Lituania, dan Brasil masing-masing mengimpor 342 ribu, 256,8 ribu, dan 206 ribu kilogram minyak jelantah dari Indonesia. Menjanjikan bukan, bisnis pengepul minyak jelantah ini?

Baca Juga: 15 Tips Memulai Bisnis dari Nol yang Harus Dilakukan Para Pemula

4. Pengepul Kulit Hewan

Bisnis pengepul kulit hewan mengumpulkan kulit dari rumah potong hewan, jagal, peternak, atau pelaku usaha yang menghasilkan limbah kulit. Kulit tersebut kemudian disortir berdasarkan jenis, ukuran, kondisi, dan kualitas sebelum dijual kepada penyamak kulit atau industri pengolahan.

Komoditas yang umum dikumpulkan antara lain:

  • Kulit sapi, yang dapat digunakan sebagai bahan baku tas, sepatu, dompet, ikat pinggang, dan produk kulit lainnya.
  • Kulit kambing, yang banyak digunakan untuk berbagai produk kulit karena karakteristiknya yang lebih tipis dan fleksibel.
  • Kulit kerbau, yang juga dapat dikumpulkan dan dijual kepada industri pengolahan kulit.

Bisnis pengepul kulit hewan ini sangat menjanjikan, apalagi pasca Idul Adha, di mana lebih banyak warga menyembelih hewan kurban.

Di Cikarang, pengepul bahkan bisa mendapatkan 5 ton kulit sapi dan 1.000 lembar kulit kambing dalam sehari saja. Kulit hewan ini nantinya akan dilumuri dengan garam kasar untuk menjaga kualitas bahan.

Lalu, kulit akan dikirim ke Jawa Barat yang memiliki industri kerajinan seperti sepatu, tas, atau ikat pinggang.

5. Pengepul Sawit

Pengepul sawit adalah usaha yang membeli tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dari petani, kemudian mengumpulkannya dalam jumlah tertentu untuk dijual kepada pabrik kelapa sawit (PKS) atau pembeli yang lebih besar.

Peluang keuntungannya berasal dari selisih harga pembelian TBS dari petani dengan harga penjualan kepada pembeli, setelah dikurangi biaya seperti transportasi, tenaga bongkar muat, dan operasional lainnya.

Namun, bisnis ini membutuhkan pengelolaan yang cukup cepat karena TBS merupakan produk yang mudah mengalami penurunan kualitas setelah dipanen.

Di Bengkulu Tengah, pengepul sawit mendapatkan dukungan dari Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Tengah. Mereka memberikan fasilitas seperti program pelatihan dan pengembangan.

Pengepul biasa membeli kelapa sawit dari petani dengan harga Rp1.400 per kilogran, lalu menjualnya ke Pabrik Kelapa Sawit dengan untuk mulai dari Rp300 per kilogramnya.

6. Pengepul Ikan dan Hasil Laut

bisnis pengepul yang menjanjikan 2

Bisnis pengepul ikan dan hasil laut dilakukan dengan membeli hasil tangkapan nelayan atau hasil budidaya dari petambak, kemudian mengumpulkannya untuk dijual kembali kepada pedagang besar, pasar, restoran, industri pengolahan, atau pembeli lainnya.

Peluang bisnisnya cukup beragam karena setiap komoditas memiliki pasar dan karakteristik penyimpanan yang berbeda.

Beberapa jenis komoditas laut adalah:

  1. Ikan air tawar: Contohnya ikan lele, nila, gurame, atau ikan mas dari peternak ikan yang dikumpulkan dan disalurkan ke pasar tradisional, restoran, rumah makan, atau pedagang ikan.
  2. Ikan laut: Dapat diperoleh langsung dari nelayan atau tempat pelelangan ikan. Perlu akses transportasi dan fasilitas penyimpanan yang memadai karena ikan harus segera didistribusikan untuk menjaga kesegarannya.
  3. Udang: Udang dapat dikumpulkan dari petambak maupun nelayan, kemudian dijual kepada pedagang besar, restoran, atau industri pengolahan.
  4. Rumput laut: Diumpulkan dari pembudidaya. Setelah dipanen dan melalui proses penanganan atau pengeringan sesuai kebutuhan pembeli, rumput laut dapat dijual kepada pedagang besar atau industri pengolahan.

Baca Juga: 10 Tips Bisnis Peternakan Hingga Sukses Ini Wajib Dicoba

Berapa Modal untuk Memulai Bisnis Pengepul?

Modal bisnis pengepul sangat bergantung pada jenis barang yang dikumpulkan, volume transaksi, dan kebutuhan operasionalnya.

Pengepul barang bekas, misalnya, bisa dimulai dengan modal relatif kecil.

Sementara itu, pengepul hasil pertanian, sawit, ikan, atau hasil laut membutuhkan modal kerja lebih besar karena harus membeli barang dalam jumlah banyak dan bergerak cepat.

Berikut gambaran modal berdasarkan skala usaha:

Modal di Bawah Rp5 Juta

Modal ini cocok untuk memulai bisnis pengepul dalam skala kecil, terutama barang yang tidak mudah rusak seperti kardus, botol plastik, besi, atau aluminium.

Sebagian modal dapat digunakan untuk membeli barang dari pemasok, sementara sisanya untuk karung, timbangan, transportasi sederhana, dan kebutuhan operasional.

Untuk modal terbatas, lebih baik memilih satu jenis komoditas terlebih dahulu agar modal tidak tersebar terlalu banyak.

Modal Rp5–20 Juta

Dengan modal Rp5–20 juta, Anda dapat meningkatkan volume pengumpulan barang bekas atau minyak jelantah. Modal ini juga dapat digunakan untuk mulai mengumpulkan hasil pertanian atau kulit hewan dalam skala kecil, tergantung harga komoditas dan kondisi pasokan di daerah.

Pada tahap ini, modal kerja tetap menjadi prioritas. Jangan menghabiskan seluruh dana untuk membeli stok karena masih ada biaya transportasi, penyimpanan, dan operasional lainnya.

Modal Rp20–50 Juta

Dengan modal Rp20–50, Anda punya ruang untuk melakukan pembelian dalam volume lebih besar dan mengembangkan bisnis Anda.

Untuk komoditas yang mudah rusak seperti ikan, sebagian modal mungkin perlu dialokasikan untuk es, wadah penyimpanan, kendaraan, atau fasilitas lain yang membantu menjaga kualitas barang.

Modal di Atas Rp50 Juta

Modal di atas Rp50 juta lebih sesuai untuk pengepul dengan kebutuhan modal kerja dan volume transaksi yang besar, seperti sawit, hasil pertanian dalam volume besar, atau ikan dan hasil laut.

Namun, modal besar juga berarti risiko yang lebih besar. Ketika harga komoditas turun atau barang tidak segera terjual, lebih banyak dana yang tertahan dalam persediaan.

Karena itu, sebelum menambah modal, pastikan Anda sudah memiliki pemasok yang konsisten, pembeli yang jelas, dan perhitungan margin yang realistis.

Perkiraan Modal Berdasarkan Jenis Bisnis Pengepul

Jenis pengepul Skala modal yang dapat digunakan Sumber barang Pembeli potensial Kebutuhan tempat Risiko harga
Barang bekas < Rp5 juta – Rp20 juta Rumah tangga, pemulung, usaha Pengepul besar, industri daur ulang Tempat penampungan sederhana Rendah–sedang
Hasil pertanian Rp5 juta – Rp50 juta+ Petani Pedagang besar, pasar, industri pengolahan Gudang/tempat penampungan Sedang–tinggi
Minyak jelantah < Rp5 juta – Rp20 juta Rumah tangga, restoran, katering Pengumpul/pengolah minyak jelantah Tempat dan wadah penyimpanan Sedang
Kulit hewan Rp5 juta – Rp50 juta+ Jagal, RPH, peternak Penyamakan kulit, pedagang, industri Tempat penyimpanan yang sesuai Sedang
Sawit (TBS) Rp20 juta – Rp50 juta+ Petani sawit Pabrik kelapa sawit/pembeli besar Tempat penampungan dan kendaraan Tinggi
Ikan & hasil laut Rp20 juta – Rp50 juta+ Nelayan, pembudidaya Pasar, restoran, pedagang, industri Tempat penyimpanan dan fasilitas pendingin Tinggi

Keterangan: Besaran modal aktual dapat berbeda jauh tergantung volume pembelian, jarak pemasok dan pembeli, sistem pembayaran, serta kebutuhan kendaraan dan tempat penampungan.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Bisnis Modal 5 Juta dan Alokasi Modalnya

Bagaimana Cara Menghitung Keuntungan Bisnis Pengepul?

bisnis pengepul yang menjanjikan 3

Keuntungan bisnis pengepul berasal dari selisih antara harga jual dengan total biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan dan menjual barang. Jadi, jangan hanya menghitung harga jual dikurangi harga beli.

Ada beberapa komponen yang perlu diperhitungkan:

  • Harga beli: biaya yang dibayarkan kepada pemasok untuk mendapatkan barang.
  • Harga jual: harga yang diterima ketika barang dijual kepada pembeli.
  • Volume barang: semakin besar volume, semakin besar potensi pendapatan, tetapi kebutuhan modal dan risikonya juga meningkat.
  • Biaya transportasi: mencakup bahan bakar, ongkos angkut, dan biaya kendaraan.
  • Biaya tenaga kerja: misalnya untuk mengumpulkan, mengangkat, memilah, atau mengemas barang.
  • Biaya penyimpanan: termasuk sewa tempat, listrik, wadah, dan kebutuhan penyimpanan lainnya.
  • Penyusutan dan kehilangan barang: misalnya berat berkurang, barang rusak, atau sebagian barang tidak dapat dijual.

Rumus Keuntungan

Rumus sederhananya adalah:

Keuntungan = Pendapatan penjualan − Harga pembelian − Biaya operasional

Contohnya, seorang pengepul membeli 500 kg komoditas dengan harga Rp6.000/kg. Total pembelian berarti Rp3 juta. Barang tersebut kemudian dijual dengan harga Rp7.000/kg sehingga menghasilkan pendapatan Rp3,5 juta.

Jika total biaya transportasi, tenaga kerja, dan penyimpanan mencapai Rp200.000, maka:

Keuntungan = Rp3.500.000 − Rp3.000.000 − Rp200.000 = Rp300.000

Artinya, margin keuntungan dari transaksi tersebut adalah sekitar 8,6% dari penjualan, bukan Rp500.000 seperti yang terlihat dari selisih harga beli dan harga jual.

Perhitungan seperti ini penting karena bisnis pengepul biasanya mengandalkan volume dan perputaran barang. Margin per kilogram mungkin terlihat kecil, tetapi jika bisa mengumpulkan dan menjual barang dalam jumlah besar secara rutin, maka keuntungannya akan besar juga.

Baca Juga: 10 Ide Bisnis Sampingan Karyawan (Bisa Dimulai Tanpa Resign)

Bagaimana Pajak untuk Bisnis Pengepul?

Menurut aturan DJP, bisnis pengepul juga memiliki kewajiban pajak seperti usaha pada umumnya. Jenis dan besarnya pajak yang harus dibayarkan bergantung pada bentuk usaha, omzet, serta skema perpajakan yang digunakan.

Salah satu yang perlu diperhatikan adalah Pajak Penghasilan (PPh). Bagi wajib pajak yang memenuhi ketentuan, penghasilan dari usaha dengan peredaran bruto tertentu dapat dikenai PPh Final sebesar 0,5%. Batas peredaran bruto untuk skema ini adalah maksimal Rp4,8 miliar dalam satu tahun pajak.

Khusus wajib pajak orang pribadi, terdapat ketentuan bahwa bagian omzet usaha sampai dengan Rp500 juta dalam satu tahun pajak tidak dikenai PPh Final 0,5%. Tarif 0,5% berlaku atas bagian omzet setelah melewati batas tersebut, sepanjang wajib pajak memenuhi persyaratan yang berlaku.

Misalnya, pengepul orang pribadi memiliki omzet Rp700 juta dalam setahun dan memenuhi seluruh ketentuan penggunaan PPh Final. Bagian omzet yang menjadi dasar pengenaan tarif 0,5% adalah Rp200 juta, sehingga PPh Finalnya sebesar Rp1 juta.

Selain PPh, pengepul juga perlu memperhatikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Pengusaha yang dalam satu tahun buku memiliki omzet minimal Rp4,8 miliar wajib dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP), dengan ketentuan PPN yang berlaku. PKP kemudian memiliki kewajiban memungut, menyetor, dan melaporkan PPN sesuai ketentuan.

Baca Juga: Jurnal PPh 23: Pencatatan Akuntansi dan Contoh Kasusnya

Kelola Bisnis Pengepul Lebih Teratur dengan Kledo

Bisnis pengepul memiliki peluang yang cukup menjanjikan mulai dari barang bekas, hasil pertanian, minyak jelantah, kulit hewan, sawit, hingga ikan dan hasil laut.

Namun, semakin besar bisnis Anda, semakin penting bagi Anda untuk mengetahui setiap transaksi dan keuntungan yang Anda dapatkan.

Pencatatan yang rapi membantu Anda memantau pembelian dari pemasok, penjualan kepada pembeli, biaya operasional, hingga arus kas bisnis. Dengan begitu, Anda tidak hanya mengetahui omzet, tetapi juga dapat melihat margin dan kondisi keuangan bisnis secara lebih jelas.

Software akuntansi Kledo dapat membantu Anda mengelola pencatatan keuangan bisnis dalam satu sistem.

Anda dapat mencatat transaksi pembelian dan penjualan, mengelola pengeluaran, memantau arus kas, serta melihat berbagai laporan keuangan yang dibutuhkan untuk mengevaluasi bisnis.

Coba Kledo sekarang untuk pengelolaan keuangan bisnis yang lebih baik.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

7 + fourteen =