Neraca Pembayaran: Pengertian, Komponen, dan Dampaknya bagi Bisnis

neraca pembayaran banner

Perubahan kondisi ekonomi internasional dapat terasa langsung di bisnis kita. Misalnya, ketika nilai tukar rupiah melemah, bisnis yang mengimpor bahan baku harus membayar lebih banyak rupiah untuk mendapatkan jumlah barang yang sama. Akibatnya, biaya produksi meningkat dan harga jual berpotensi ikut naik.

Kondisi tersebut menunjukkan mengapa pebisnis juga perlu memahami neraca pembayaran, bukan hanya pemerintah atau ekonom.

Bagi pebisnis, terutama yang melakukan transaksi dengan pihak luar negeri, neraca pembayaran dapat memberikan gambaran mengenai kondisi transaksi internasional suatu negara dan faktor eksternal yang dapat memengaruhi biaya serta arus kas bisnis.

Lalu, apa sebenarnya neraca pembayaran, apa saja komponennya, dan bagaimana pengaruhnya terhadap bisnis? Berikut penjelasannya.

Apa Itu Neraca Pembayaran?

Neraca pembayaran adalah catatan seluruh transaksi ekonomi antara penduduk suatu negara dan penduduk negara lain dalam periode tertentu. Transaksi tersebut dapat berupa perdagangan barang dan jasa, pendapatan, transfer, hingga transaksi keuangan.

Di Indonesia, data neraca pembayaran disusun dan dipublikasikan oleh Bank Indonesia (BI) sebagai bagian dari statistik sektor eksternal. Data tersebut biasanya disajikan dalam periode tertentu, seperti kuartalan dan tahunan. Anda bisa cek neraca pembayaran di website Bank Indonesia.

Neraca pembayaran membantu menunjukkan bagaimana uang dan sumber daya ekonomi mengalir antara suatu negara dan negara lain.

Misalnya, ketika perusahaan Indonesia mengekspor produk ke luar negeri, terjadi arus transaksi dari luar negeri ke Indonesia. Sebaliknya, ketika perusahaan Indonesia mengimpor bahan baku, terjadi transaksi dengan pihak luar negeri yang membutuhkan pembayaran.

Karena mencakup lebih dari sekadar ekspor dan impor barang, neraca pembayaran memiliki cakupan yang lebih luas daripada neraca perdagangan.

kledo banner 3

Baca Juga: Contoh Laporan Keuangan Usaha Jasa

Apa Perbedaan Neraca Pembayaran dan Neraca Perdagangan?

Meski sering dikira sama, neraca pembayaran dan neraca perdagangan memiliki perbedaan dari segi ruang lingkup, isi, dan tujuan.

Berikut penjelasannya:

Aspek Neraca Pembayaran Neraca Perdagangan
Ruang lingkup Seluruh transaksi ekonomi dengan luar negeri Ekspor dan impor barang
Isi Barang, jasa, pendapatan, transfer, dan transaksi keuangan Nilai ekspor dan impor barang
Tujuan Melihat kondisi transaksi ekonomi suatu negara dengan negara lain Melihat posisi perdagangan barang

Kesimpulannya, neraca perdagangan merupakan salah satu bagian yang dapat tercermin dalam transaksi berjalan pada neraca pembayaran.

Contohnya, ketika nilai ekspor barang Indonesia lebih besar daripada impornya, Indonesia mengalami surplus perdagangan barang.

Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh neraca pembayaran Indonesia mengalami surplus karena masih ada transaksi jasa, pendapatan, transfer, dan transaksi lainnya yang perlu diperhitungkan.

Baca Juga: Apa itu Multiplier Effect dan Mengapa itu Penting?

Apa Saja Komponen Neraca Pembayaran?

neraca pembayaran 1

Komponen pada neraca pembayaran mencakup neraca berjalan, neraca modal, dan transaksi keuangan atau moneter.

Masing-masing menunjukkan jenis arus ekonomi yang berbeda.

Neraca Berjalan (Current Account)

Neraca berjalan atau current account mencatat transaksi ekonomi internasional yang berkaitan dengan perdagangan barang dan jasa, pendapatan, serta transfer berjalan.

Komponen ini dapat dipecah lagi ke beberapa bagian berikut.

1. Perdagangan barang

Mencatat transaksi ekspor dan impor barang.

Misalnya, perusahaan Indonesia mengekspor kopi senilai Rp1 miliar ke pembeli di Jepang. Sebaliknya, perusahaan Indonesia mengimpor mesin produksi senilai Rp500 juta dari Jepang.

Selisih nilai ekspor dan impor barang tersebut membentuk neraca perdagangan barang.

2. Perdagangan jasa

Tidak semua transaksi internasional berbentuk barang. Jasa yang diberikan atau diterima dari luar negeri juga dicatat.

Contohnya adalah jasa transportasi, pariwisata, konsultasi, teknologi, hingga jasa profesional lainnya.

3. Transfer atau pendapatan sekunder

Bagian ini mencatat transfer berjalan antara suatu negara dan negara lain yang tidak berkaitan dengan pertukaran barang atau jasa secara langsung.

Contohnya dapat berupa remitansi tenaga kerja atau transfer tertentu antarnegara.

Bagi bisnis, transaksi berjalan penting karena memberikan gambaran mengenai aktivitas perdagangan dan transaksi ekonomi suatu negara dengan dunia internasional.

Neraca Modal (Capital Account)

Neraca modal mencatat transaksi yang berkaitan dengan perpindahan aset atau modal antara suatu negara dan negara lain.

Sederhananya, bagian ini membantu melihat apakah ada modal atau aset yang berpindah masuk dan keluar dari suatu negara.

Misalnya, pihak dari luar negeri memberikan bantuan modal untuk proyek tertentu di Indonesia. Sebaliknya, pihak Indonesia juga dapat melakukan transaksi aset atau memberikan modal ke pihak di luar negeri.

Bagi bisnis, arus modal ini penting karena dapat memengaruhi kondisi ekonomi dan pasar keuangan. Perubahan arus dana dari luar negeri, misalnya, dapat berkaitan dengan pergerakan nilai tukar rupiah.

Intinya, neraca modal membantu memberikan gambaran tentang perpindahan modal dan aset dalam transaksi internasional.

Perusahaan yang memiliki transaksi dalam valuta asing perlu memperhatikan kondisi tersebut ketika membuat perencanaan keuangan.

Neraca Moneter (Monetary Account)

Neraca moneter sering dikaitkan dengan cadangan devisa dan perubahan posisi aset luar negeri yang dimiliki otoritas moneter.

Fungsinya penting karena transaksi internasional pada akhirnya berkaitan dengan perubahan aset dan kewajiban terhadap luar negeri.

Misalnya, cadangan devisa dapat digunakan untuk mendukung stabilitas eksternal dan memenuhi kebutuhan transaksi internasional tertentu.

Indikator tersebut dapat menjadi bagian dari konteks ekonomi yang perlu diperhatikan ketika bisnis memiliki eksposur terhadap valuta asing.

Baca Juga: Mengenal Jenis Resesi dan Pemulihan Resesi dalam Sistem Ekonomi

Debit dan Kredit dalam Neraca Pembayaran

Neraca pembayaran menggunakan sistem pencatatan debit dan kredit.

Konsep ini sebenarnya mirip dengan prinsip pencatatan akuntansi, tetapi penerapannya pada neraca pembayaran digunakan untuk mencatat transaksi ekonomi antara penduduk suatu negara dan pihak luar negeri.

Secara sederhana:

  • Kredit (+) mencatat transaksi yang menghasilkan penerimaan dari luar negeri.
  • Debit (−) mencatat transaksi yang menyebabkan pembayaran kepada luar negeri.

Contohnya:

Transaksi Pencatatan
Indonesia mengekspor barang Kredit (+)
Indonesia mengimpor barang Debit (−)
Indonesia menerima pendapatan dari luar negeri Kredit (+)
Indonesia membayar jasa kepada pihak luar negeri Debit (−)

Jadi, ketika perusahaan Indonesia menjual produknya ke pelanggan luar negeri, transaksi tersebut menjadi bagian dari arus penerimaan dari luar negeri.

Sebaliknya, ketika perusahaan membeli barang atau jasa dari pihak luar negeri, terjadi arus pembayaran ke luar negeri.

Baca Juga: Memahami Kebijakan Moneter dari Jenis dan Instrumennya

Jenis Neraca Pembayaran: Surplus, Defisit, dan Seimbang

neraca pembayaran 2

Neraca pembayaran terbagi ke 3 jenis: surplus, defisit, dan seimbang yang menggambarkan posisi transaksi tertentu dalam neraca pembayaran.

Surplus terjadi ketika penerimaan atau transaksi yang dicatat sebagai kredit lebih besar daripada pembayaran atau transaksi debit pada cakupan akun yang sedang dianalisis.

Sebaliknya, defisit terjadi ketika pembayaran lebih besar daripada penerimaan pada akun tersebut.

Sementara itu, kondisi seimbang menunjukkan bahwa nilai transaksi pada sisi yang dibandingkan berada pada posisi yang sama.

Namun, surplus atau defisit tidak bisa langsung diartikan sebagai kondisi “baik” atau “buruk”. Semua tergantung pada konteksnya.

Misalnya, defisit transaksi berjalan dapat menunjukkan bahwa pembayaran untuk barang, jasa, pendapatan, dan transfer berjalan ke luar negeri lebih besar daripada penerimaan.

Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan pada kebutuhan pembiayaan eksternal dan, dalam kondisi tertentu, turut memengaruhi nilai tukar.

Pebisnis perlu memerhatikan perubahan nilai tukar karena dapat mengubah nilai rupiah dari transaksi dalam mata uang asing dan menerapkan strategi seperti hedge accounting/akuntansi lindung nilai untuk menjaga keuntungan.

Baca Juga: Mengenal Aturan PSAK 71 dalam Akuntansi dan Instrumen Keuangan

Apa Tujuan dan Fungsi Neraca Pembayaran?

Neraca pembayaran tidak hanya digunakan untuk mengetahui jumlah transaksi suatu negara dengan luar negeri, tapi juga untuk menggambarkan kondisi transaksi internasional, menjadi dasar analisis ekonomi, dan masih banyak lagi.

Berikut penjelasannya:

  • Menggambarkan kondisi transaksi internasional, termasuk perdagangan barang dan jasa serta arus keuangan.
  • Menjadi dasar analisis ekonomi, terutama untuk melihat kondisi sektor eksternal suatu negara.
  • Membantu pemerintah menyusun kebijakan ekonomi, termasuk kebijakan yang berkaitan dengan perdagangan, nilai tukar, dan sektor eksternal.
  • Menunjukkan sumber dan penggunaan dana dari luar negeri, sehingga dapat membantu melihat pola arus modal.
  • Memberikan informasi bagi pelaku bisnis dan investor untuk memahami lingkungan ekonomi yang dapat memengaruhi transaksi internasional.

Fungsi terakhir sangat relevan untuk pebisnis. Neraca pembayaran memang bukan laporan keuangan perusahaan, tetapi informasinya dapat membantu memahami kondisi ekonomi eksternal yang berada di luar kendali bisnis.

Baca Juga: Pahami Faktor Eksternal dalam Mencari Peluang Usaha Maksimal

Dampak Neraca Pembayaran terhadap Bisnis dan UMKM

Neraca pembayaran mungkin terlihat seperti indikator ekonomi makro yang jauh dari aktivitas bisnis sehari-hari.

Padahal, perubahan transaksi internasional dapat memengaruhi beberapa hal yang langsung berkaitan dengan operasional perusahaan.

1. Mempengaruhi nilai tukar

Ketidakseimbangan transaksi eksternal dapat berkaitan dengan tekanan terhadap nilai tukar, meskipun nilai tukar juga dipengaruhi banyak faktor lain.

Bagi bisnis yang menggunakan dolar AS atau mata uang asing lainnya, perubahan kurs dapat meningkatkan atau menurunkan nilai rupiah dari transaksi yang sama.

2. Meningkatkan biaya bahan baku impor

Misalnya, sebuah perusahaan membeli bahan baku dari luar negeri seharga US$10.000.

Jika kurs berada di Rp15.000 per US$, nilai pembeliannya sekitar Rp150 juta.

Ketika rupiah melemah menjadi Rp16.000 per US$, pembelian yang sama menjadi Rp160 juta.

Artinya, tanpa perubahan jumlah bahan baku maupun harga dalam dolar, perusahaan harus menyediakan dana Rp10 juta lebih banyak.

Bagi bisnis dengan margin yang tipis, perubahan seperti ini dapat memengaruhi harga pokok, margin keuntungan, hingga harga jual.

3. Memengaruhi harga jual

Ketika biaya impor meningkat, perusahaan menghadapi pilihan untuk menyerap kenaikan biaya atau menyesuaikan harga jual.

Jika seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada pelanggan, harga produk dapat meningkat. Namun, jika perusahaan mempertahankan harga jual, margin keuntungan dapat tertekan.

Karena itu, bisnis yang banyak menggunakan bahan baku atau barang impor perlu memasukkan risiko perubahan kurs ke dalam perencanaan harga dan arus kas.

4. Menciptakan peluang bagi bisnis ekspor

Dampaknya tidak selalu berupa kenaikan biaya. Bagi bisnis yang menerima pendapatan dalam valuta asing, perubahan kurs dapat meningkatkan nilai penerimaan ketika dikonversikan ke rupiah.

Misalnya, eksportir menerima pembayaran US$10.000. Ketika kurs rupiah berubah dari Rp15.000 menjadi Rp16.000 per dolar, nilai penerimaan tersebut berubah dari Rp150 juta menjadi Rp160 juta.

Namun, manfaat tersebut tetap perlu dilihat bersama biaya bisnis lainnya, terutama jika perusahaan juga memiliki bahan baku atau kewajiban dalam valuta asing.

5. Membuat pengelolaan arus kas semakin penting

Bisnis yang melakukan transaksi internasional perlu mengetahui kapan pembayaran dan penerimaan dalam valuta asing terjadi.

Pencatatan yang terstruktur membantu pemilik bisnis melihat:

  • Utang yang harus dibayar dalam mata uang asing
  • Piutang yang akan diterima
  • Biaya pembelian bahan baku
  • Perubahan nilai transaksi akibat kurs
  • Posisi kas setelah transaksi.

Jika Anda menggunakan software akuntansi Kledo, Anda bisa mengatur transaksi mata uang asing dengan fitur multi currency seperti berikut:

neraca pembayaran 3

Kledo juga sudah mendukung mata uang seperti Australian Dollar (AUD), Euro (EUR), Japanese Yen (JPY), Singapore Dollar (SGD), dan Thai Baht (THB).

Selain itu, Kledo juga memungkinkan Anda untuk memantau transaksi lewat dashboard dan menyusun laporan keuangan secara otomatis.

Klik tautan ini jika Anda tertarik mencoba Kledo untuk pengelolaan keuangan bisnis dan pencatatan transaksinya yang lebih baik.

Baca Juga: Devaluasi Adalah: Pembahasan Lengkap dan Contohnya

Kesimpulan

Neraca pembayaran adalah catatan transaksi ekonomi antara suatu negara dan negara lain dalam periode tertentu. Di dalamnya terdapat berbagai transaksi, mulai dari perdagangan barang dan jasa hingga arus modal dan transaksi keuangan.

Memahami neraca pembayaran bisa membantu pebisnis mengerti sinyal kondisi eksternal yang berkaitan dengan nilai tukar, biaya impor, pendapatan ekspor, dan arus kas bisnis.

Dengan memahami kondisi tersebut dan memiliki pencatatan keuangan yang terstruktur, bisnis dapat membuat perencanaan keuangan yang lebih baik.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

9 + fifteen =