Contoh Pembukuan Warung Makan yang Mudah dan Simple

contoh pembukuan warung makan banner

Seperti apa contoh pembukuan warung makan yang tepat? Sebagai pemilik usaha warung makan, berjualan sehari-hari saja sudah melelahkan, apalagi membuat pembukuan.

Namun, pembukuan bukanlah suatu hal yang bisa diabaikan. Untuk memastikan usaha yang dijalankan untung atau merugi, Anda perlu melakukan pembukuan yang tepat.

Tidak perlu takut merasa kesulitan, karena pembukuan untuk usaha kecil seperti warung makan tergolong mudah, apalagi sekarang ini sudah tersedia banyak software pembukuan untuk membantu Anda.

Artikel ini akan membahas panduan pembukuan sederhana untuk warung makan beserta contoh dan tips-tipsnya. Simak sampai selesai, ya!

Apa Itu Pembukuan?

contoh pembukuan warung makan 1

Kita sering menganggap pembukuan dan akuntansi sebagai hal yang sama, padahal keduanya memiliki peran berbeda.

  • Pembukuan: Fokus mencatat transaksi sehari-hari bisnis, seperti pemasukan dan pengeluaran.
  • Akuntansi: Menggunakan data dari pembukuan tersebut untuk membuat laporan keuangan, melakukan analisis, serta membantu perencanaan bisnis.

Artinya, untuk melakukan pembukuan, Anda kegiatan Anda kira-kira adalah mencatat pembelian bahan baku seperti beras, sayur, daging, atau bumbu, serta pengeluaran lain seperti gas, listrik, dan gaji karyawan.

Meskipun pembukuan mungkin terasa merepotkan, manfaatnya akan sangat terasa ketika Anda perlu mengetahui keuntungan usaha, menghitung pajak, atau mengevaluasi kinerja bisnis.

Dengan pembukuan yang rapi, Anda tidak perlu lagi menebak-nebak berapa yang Anda keluarkan untuk membeli bahan masakan, kebutuhan operasional, atau pengeluaran pribadi.

Baca Juga: Cara Lengkap Membuat Pembukuan Keuangan Usaha Sederhana

Masalah Pembukuan untuk Warung Makan dan Usaha Mikro Lainnya

Warung makan (warung kecil, resto sederhana, dan warteg) yang dikelola sendiri umumnya termasuk ke dalam usaha mikro atau usaha kecil, yaitu entitas usaha dengan omzet di bawah 300 juta per tahun.

Sebagian usaha warung makan yang berhasil berkembang menjadi restoran besar dengan omzet hingga Rp50 miliar per tahun bisa termasuk usaha menengah.

Untuk restoran seperti ini, tidak akan ada masalah untuk pelaporan dan pembukuan. Sebab, mereka bisa mempekerjakan akuntan atau tim keuangan untuk melakukannya.

Namun, lain ceritanya untuk warung makan mikro & kecil. Mereka biasanya tidak memiliki budget lebih untuk tenaga akuntansi, dan menambah biaya operasional bisa mengganggu perhitungan untung rugi.

Jurnal Ilmiah Ekonomi, Akuntansi, dan Pajak menjelaskan bahwa UMKM mengalami beberapa hambatan dalam menerapkan akuntansi seperti:

  • Kurangnya pendidikan formal di bidang akuntansi
  • Tidak adanya pelatihan
  • Adanya pandangan bahwa akuntansi tidak diperlukan
  • Sudah menerapkan pembukuan sederhana, namun belum sesuai standar

Lebih lanjut, berdasarkan wawancara Maria Rosalina Menge dan Randy Kuswanto selaku penulis juga memaparkan bahwa kebanyakan pelaku UMKM di Nusa Tenggara Timur (wilayah tempat mereka melakukan penelitian) belum menerapkan pencatatan keuangan.

Padahal, jika tidak melakukan pencatatan, pelaku usaha akan kesulitan mengetahui aset yang dimiliki, tidak bisa mengetahui kerugian, dan kesulitan dalam mengembangkan bisnis.

Baca Juga: Contoh Pembukuan Pengeluaran dan Pemasukan & Langkahnya

Mengenal SAK EMKM: Standar Akuntansi untuk UMKM Seperti Warung Makan

contoh pembukuan warung makan 2

Umumnya, pembukuan mesti mengikuti standar akuntansi yang sudah ada, dan pelaku usaha perlu menyusun 4 jenis laporan keuangan formal (neraca, laporan laba rugi, arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.)

Namun, karena hambatan yang kami jelaskan tadi (seperti kurangnya pendidikan dan pelatihan akuntansi serta standar yang sulit diikuti), Ikatan Akuntan Indonesia pun menyusun standar yang sederhana untuk mempermudah pembukuan pelaku usaha kecil.

Standar ini disebut SAK EMKM (Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah) dan ditetapkan pada tahun 2018, menggantikan SAK ETAP yang sebelumnya digunakan untuk UMKM.

Apa bedanya SAK EMKM dengan standar akuntansi lainnya?

Selain SAK EMKM, ada SAK ETAP (Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik) dan PSAK IFRS. Perbedaannya adalah sebagai berikut:

AspekSAK EMKMSAK ETAPPSAK (Berbasis IFRS)
PengertianStandar akuntansi yang dirancang khusus untuk usaha mikro, kecil, dan menengahUntuk entitas tanpa akuntabilitas publik namun skala usaha lebih besar dari UMKMDigunakan oleh perusahaan besar dan perusahaan publik
Sasaran PenggunaUMKM seperti warung makan, toko retail kecil, usaha rumahanPerusahaan menengah yang tidak terdaftar di pasar modalPerusahaan besar, perusahaan terbuka, dan entitas dengan akuntabilitas publik
KompleksitasSangat sederhanaCukup kompleksPaling kompleks
Jumlah Laporan Keuangan3 laporan utama4 laporan utama5 laporan utama
Jenis LaporanLaporan posisi keuangan, laporan laba rugi, catatan atas laporan keuanganLaporan posisi keuangan, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, catatan laporan keuanganLaporan posisi keuangan, laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, catatan laporan keuangan
Transaksi yang DiaturFokus pada transaksi sederhanaMengatur transaksi yang lebih beragamMengatur transaksi kompleks seperti instrumen keuangan, konsolidasi, dan pajak tangguhan
Tujuan UtamaMemudahkan UMKM membuat laporan keuangan sederhanaMemberikan standar pelaporan bagi entitas tanpa akuntabilitas publikMenyediakan standar pelaporan keuangan yang lengkap dan transparan bagi perusahaan besar
Tingkat Detail AturanRelatif singkat dan mudah dipahamiLebih detail dibanding SAK EMKMSangat detail dan kompleks

Baca Juga: Contoh Laporan Keuangan UMKM Berdasarkan SAK EMKM

3 Laporan Keuangan dalam SAK EMKM dan Contohnya

SAM EMKM menyebutkan bahwa ada 3 laporan keuangan yang harus pemilik usaha kecil buat:

1. Laporan posisi keuangan

Laporan ini memuat informasi tentang aset, liabilitas, dan ekuitas usaha pada akhir periode.

  • Aset: Sumber daya yang warung makan Anda miliki. Misalnya seperti peralatan memasak.
  • Liabilitas: Utang atau kewajiban warung yang timbul karena kejadian masa lalu. Misalnya seperti utang bank untuk membangun warung.
  • Ekuitas: Hak Anda atas aset setelah dikurangi seluruh liabilitas.

Contoh Laporan Posisi Keuangan Warung Makan Sederhana Per 31 Desember 2025:

AsetJumlah (Rp)
Aset Lancar
Kas8.000.000
Piutang
Bank5.000.000
Persediaan bahan makanan2.500.000
Total Aset Lancar15.500.000
Aset Tetap
Peralatan masak7.000.000
Meja dan kursi6.000.000
Etalase makanan3.000.000
Kompor dan tabung gas2.500.000
Total Aset Tetap18.500.000
Total Aset34.000.000
Liabilitas dan EkuitasJumlah (Rp)
Liabilitas (Utang)
Utang ke pemasok bahan makanan2.000.000
Utang usaha lainnya1.000.000
Total Liabilitas3.000.000
Ekuitas (Modal Pemilik)
Modal awal pemilik25.000.000
Prive
Total Ekuitas25.000.000
Total Liabilitas dan Ekuitas28.000.000

2. Laporan laba rugi

Laporan ini memuat penghasilan dan beban warung Anda dalam periode tertentu, serta menunjukkan total laba bersih yang diperoleh.

Berikut ini contoh laporan laba rugi untuk warung makan:

KeteranganJumlah (Rp)
Pendapatan
Penjualan makanan dan minuman60.000.000
Total Pendapatan60.000.000
Harga Pokok Penjualan (HPP)
Pembelian bahan makanan30.000.000
Gas LPG2.500.000
Bumbu dan bahan tambahan2.500.000
Total HPP30.000.000
Laba Kotor35.000.000
Beban
Beban gaji karyawan5.000.000
Beban listrik dan air2.000.000
Beban penyusutan peralatan500.000
Total Beban7.500.000
Laba Bersih17.500.000

3. Catatan atas laporan keuangan

Berisi tambahan dan rincian keterangan tertentu yang berkaitan dengan laporan. Biasanya, catatan ini memuat:

  • Pernyataan bahwa laporan keuangan telah disusun sesuai dengan SAK EMKM.
  • Ikhtisar kebijakan akuntansi
  • Informasi tambahan untuk menjelaskan transaksi penting

Berikut ini contoh catatan atas laporan keuangan untuk usaha warung makan:

catatan atas laporan keuangan warung makan

Baca Juga: Panduan Pembukuan Penjualan bagi Pelaku Bisnis, Wajib Dicoba!

Tips Pembukuan Terbaik untuk Warung Makan

Sebagai pemilik warung makan, pembukuan mungkin bukan hal yang paling Anda prioritaskan setiap hari, karena Anda lebih fokus melayani pelanggan dan memasak.

Namun, menjaga catatan keuangan yang rapi dan akurat sangat penting untuk keberhasilan usaha warung makan Anda.

Dengan pembukuan yang baik, Anda bisa mengetahui apakah warung makan Anda menghasilkan keuntungan, berapa yang dihasilkan, dan bahkan membantu mengontrol biaya bahan makanan.

1. Menjaga catatan keuangan yang akurat dan terbaru

Catatan keuangan yang akurat adalah dasar dari pembukuan yang baik. Tanpa data yang jelas, Anda akan kesulitan mengetahui kondisi keuangan usaha Anda.

Anda bisa mencatat hal-hal seperti ini:

  • Pengeluaran untuk bahan makanan seperti beras, ayam, sayur, dan bumbu
  • Pembelian perlengkapan dapur atau peralatan masak
  • Nota atau tagihan dari pemasok bahan baku
  • Pembayaran dari pelanggan

2. Melacak dan Mengelompokkan Pengeluaran

  • Kelompokkan pengeluaran: Pisahkan pengeluaran ke dalam beberapa kategori, misalnya biaya bahan baku, sewa tempat, gaji karyawan, gas LPG, listrik, dan perlengkapan dapur.
  • Simpan semua nota pembelian: Simpan bukti pembelian dari pasar, pemasok bahan makanan, atau toko perlengkapan dapur. Anda bisa mengelompokkannya sesuai kategori pengeluaran agar lebih mudah diperiksa.
  • Catat semua transaksi: Biasakan mencatat setiap pengeluaran sesegera mungkin, misalnya setelah membeli bahan baku di pasar atau membayar tagihan listrik.
  • Tinjau pengeluaran secara rutin: Luangkan waktu setiap minggu atau setiap bulan untuk mengevaluasi pengeluaran warung makan. Bandingkan dengan anggaran yang telah Anda rencanakan agar biaya tetap terkendali.
  • Gunakan sistem pencatatan otomatis jika memungkinkan: Saat ini banyak aplikasi atau software akuntansi yang dapat membantu mencatat pengeluaran secara otomatis dengan harga terjangkau. Misalnya, Kledo memiliki paket gratis selamanya, dan paket berbayarnya mulai Rp159.900 per bulan saja.

3. Membuat Anggaran yang Realistis

Anggaran adalah rencana perkiraan pendapatan dan pengeluaran dalam periode tertentu, biasanya per bulan.

Dengan anggaran yang jelas, Anda memperkirakan berapa pemasukan dari penjualan makanan dan minuman serta mengontrol biaya operasional seperti bahan baku dan gaji karyawan.

Lihatlah riwayat data keuangan Anda dan perkirakan pendapatan dari penjualan Anda dari periode tertentu. Lalu, buat perkiraan pengeluaran yang seimbang dengan pemasukan agar warung tetap untung.

4. Memisahkan Keuangan Usaha dan Pribadi

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan pemilik usaha kecil adalah mencampur keuangan bisnis dengan keuangan pribadi.

Padahal, jika keuangan usaha dan pribadi tercampur, Anda akan kesulitan mengetahui apakah warung makan benar-benar menghasilkan keuntungan atau tidak. Selain itu, pencatatan pajak juga bisa menjadi lebih rumit.

Untuk menghindari masalah ini, Anda bisa melakukan beberapa langkah berikut:

  • Gunakan rekening bank khusus untuk usaha warung makan.
  • Catat semua transaksi usaha dengan teliti dan kelompokkan pengeluaran sesuai kategorinya.
  • Hindari mengambil uang dari kas usaha untuk keperluan pribadi tanpa pencatatan yang jelas.
  • Simpan semua nota dan dokumen transaksi agar mudah diperiksa kembali.
  • Konsultasikan dengan tenaga profesional jika Anda ragu dalam mengelompokkan suatu pengeluaran.

Dengan memisahkan keuangan usaha dan pribadi, proses pembukuan akan menjadi lebih sederhana dan Anda bisa melihat kondisi keuangan warung makan dengan lebih jelas.

5. Lakukan digitalisasi jika memungkinkan

Digitalisasi pembukuan bisa Anda lakukan dengan menggunakan software atau aplikasi akuntansi. Aplikasi-aplikasi ini mampu mengotomatisasi proses pembukuan Anda.

Dengan software akuntansi, Anda tidak perlu lagi mencatat secara manual di buku. Cukup di aplikasi, dan aplikasi akan menampilkan data penjualan serta pemasukan dalam satu tampilan yang Anda akses dari mana saja dan kapan saja.

Aplikasi ini juga menyediakan laporan keuangan yang bisa Anda unduh, dan biasanya terintegrasi dengan fitur persediaan agar Anda bisa mengecek stok bahan baku yang ada.

Ada banyak software akuntansi online yang tersedia dan bisa Anda pilih, salah satunya adalah Kledo. Kledo adalah software akuntansi lokal yang fokus untuk membantu UMKM mengelola keuangan.

Untuk urusan biaya, Anda tidak perlu khawatir karena Kledo memiliki paket gratis selamanya. Paket berbayarnya pun tergolong terjangkau, yaitu Rp199 ribu per bulan saja.

Coba Kledo gratis di sini untuk memudahkan pembukuan warung makan Anda.

kledo banner 3

Baca Juga: 10 Kesalahan Pembukuan, Solusi, dan Cara Mencegahnya

Kesimpulan

Jadi, itulah penjelasan mengenai pembukuan sederhana warung makan beserta contohnya. Harapannya, Anda bisa memulai melakukan pencatatan keuangan yang lebih teratur untuk usaha Anda.

Dengan mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran secara teratur, Anda bisa mengetahui kondisi keuangan bisnis, menghitung keuntungan secara lebih akurat, serta mengendalikan biaya operasional.

Lakukan pembukuan secara konsisten, dan keputusan bisnis seperti menentukan harga menu, mengontrol biaya bahan baku, atau merencanakan pengembangan usaha bisa diambil lebih mudah dan berdasarkan data.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

twenty + 11 =