Sebagai pemilik bisnis retail yang memiliki toko fisik, Anda mungkin sudah familiar dengan istilah planogram atau POG.
Dalam bisnis retail, planogram adalah istilah untuk menggambarkan rencana merchandising terkait tata letak toko.
Studi One Door/GlobalData tahun 2025 menemukan bahwa 33% pembeli menganggap produk yang sulit ditemukan sebagai hambatan terbesar mereka dalam berbelanja.
Ketika pelanggan tidak dapat menemukan produk dengan cepat, mereka cenderung meninggalkan toko tanpa melakukan pembelian.
Artikel ini kami tulis untuk pemilik bisnis retail, manajer merchandiser, dan pemilik toko yang ingin mengoptimalkan strategi display produk mereka.
Artikel ini membahas dasar-dasar planogram untuk bisnis retail, fungsi, contoh, dan cara membuatnya.
Apa Itu Planogram?
Planogram adalah gambar atau peta visual yang menerangkan bagaimana dan di mana toko fisik harus menampilkan produknya untuk menghasilkan penjualan terbaik.
Peta ini merupakan bagian dari strategi visual merchandising dan juga erat kaitannya dengan manajemen persediaan.
Dengan peta ini, Anda bisa mengatur display barang sehingga tampil menarik dan jelas, tapi juga tetap mendorong lebih banyak pembelian dengan memanfaatkan psikologi konsumen.
Setelah memahami pengertian planogram, mari kita lihat beberapa jenis planogram yang umum digunakan di lingkungan ritel.
Baca Juga: 10 Strategi Terbaik Untuk Meningkatkan Kunjungan di Retail
Apa Fungsi Planogram dalam Bisnis Retail?
Berikut 2 fungsi utama planogram yang bisa langsung berpengaruh pada performa bisnis retail Anda.
1. Mengoptimalkan penempatan produk di rak
Dalam ilmu visual merchandising, posisi produk di rak berpengaruh langsung terhadap seberapa sering produk itu dilihat dan dibeli.
Konsep yang sering digunakan adalah eye level is buy level: produk yang ditempatkan sejajar pandangan mata konsumen dewasa (sekitar 120–160 cm dari lantai) cenderung mendapat perhatian paling besar dan terjual lebih cepat dibanding produk yang diletakkan di rak paling bawah atau paling atas.
Jadi, sebenarnya peletakan barang-barang di toko seperti Alfamart dan Indomaret itu tidaklah acak, tetapi ada dasarnya sendiri.
Beberapa hal yang diatur planogram dalam konteks penempatan produk:
- Product facing: Jumlah unit produk yang menghadap ke depan di rak. Semakin banyak facing, semakin besar “kehadiran visual” produk tersebut di mata konsumen.
- Shelf height: Ketinggian rak yang ditetapkan untuk setiap kategori produk, disesuaikan dengan ukuran kemasan dan target pembelinya (misalnya, produk untuk anak penempatannya lebih rendah).
- Zona prioritas: Area dengan traffic konsumen tertinggi, seperti ujung lorong (endcap) atau area dekat kasir, biasanya dialokasikan untuk produk promosi atau produk dengan margin tinggi.
- Product adjacency: Produk yang saling melengkapi ditempatkan berdekatan untuk mendorong pembelian tambahan. Contoh: Sampo dan kondisioner, atau deterjen dan pewangi.

2. Menjaga konsistensi tampilan di semua cabang toko
Bagi pemilik bisnis retail yang sudah memiliki lebih dari satu toko atau sedang berencana membuka cabang, fungsi ini adalah salah satu alasan terkuat untuk mulai menggunakan planogram.
Misalnya saja, ada seorang pelanggan yang terbiasa berbelanja di cabang pertama toko Anda, lalu suatu hari ia mengunjungi cabang kedua.
Jika tata letak produknya sama persis, pelanggan tersebut tidak perlu membuang waktu mencari-cari barang yang mereka mau.
Mereka tahu pasta gigi ada di lorong mana, makanan ringan di rak mana, dan produk-produk apa saja di sebelahnya.
Pengalaman belanja yang konsisten membangun rasa familiar, dan rasa familiar ini membangun loyalitas.
Inilah yang diterapkan oleh jaringan minimarket besar seperti Alfamart dan Indomaret. Mereka sudah menetapkan standar planogram untuk menyeragamkan tampilan rak mereka, terlepas dari siapa staf yang bertugas atau kapan toko tersebut dibuka.
3. Memandu tim merchandiser dan pramuniaga
Di luar strategi bisnis, planogram juga berfungsi sebagai panduan bagi orang-orang yang langsung bersentuhan dengan rak toko: merchandiser (tim yang bertugas menata dan mengisi ulang produk) dan pramuniaga (staf yang melayani pelanggan dan merawat tampilan toko).
Jika tidak ada panduan yang jelas, setiap staff bisa menata ulang rak dengan cara yang berbeda-beda setiap kali melakukan restock.
Ketidakkonsistenan ini lama-lama bisa merusak tampilan toko dan membuat data penjualan per posisi rak menjadi tidak bisa dibaca.
Namun dengan planogram, staf toko mendapatkan instruksi yang jelas dan bisa langsung dieksekusi:
- Produk mana yang harus mengisi slot rak tertentu
- Berapa banyak facing yang harus ada untuk setiap SKU
- Apa yang harus dilakukan jika sebuah produk stoknya habis, apakah diisi produk pengganti sementara atau dibiarkan kosong hingga stok datang
Catatan: Di perusahaan retail besar, biasanya ada tim khusus planogram atau category manager yang bertanggung jawab merancang dan memperbarui planogram. Namun untuk skala UKM, fungsi ini umumnya dirangkap oleh pemilik toko atau manajer operasional. Anda bisa menyusun produk berdasarkan data penjualan dari software akuntansi retail seperti Kledo.
Baca Juga: Mengenal Manfaat AI untuk Retail dan 13 Contoh Penggunaannya
4. Mempermudah proses stock opname
Stock opname adalah salah satu kegiatan yang paling menyita waktu dan tenaga, karena perlu menghitung ratusan hingga ribuan SKU satu per satu, memastikan tidak ada yang terlewat, lalu mencocokkan hasilnya dengan catatan sistem.
Tapi dengan planogram, proses ini bisa menjadi jauh lebih mudah.
Misalnya ada produk yang berpindah dari posisi seharusnya, entah karena pelanggan memindahkannya, atau karena staf mengisi ulang rak di slot yang salah.
Dengan mengacu pada planogram, tim bisa langsung mengidentifikasi produk nyasar tersebut dan mengembalikannya ke posisi yang benar sebelum memulai stock opname.
Selain itu, jika tata letak semua toko cabang sama, maka proses audit juga menjadi lebih mudah.
Baca Juga:
Apa Saja Jenis Planogram?
Planogram dapat dibagi menjadi dua jenis dasar, yaitu denah lantai (floor plan) dan rencana ruang rak (shelf space plan).
Keduanya digunakan bersama untuk merencanakan persediaan dan display produk, baik pada tingkat makro maupun mikro.
Planogram denah lantai
Denah lantai adalah diagram visual yang menggambarkan tampilan ruang retail dari sudut pandang atas (bird’s-eye view).
Jenis ini paling efektif untuk memetakan jalur yang akan dilalui pelanggan melalui lorong dan area tertentu di toko, sehingga pengalaman belanja menjadi lebih menarik sekaligus memaksimalkan nilai pembelian mereka.
Desainer yang berpengalaman dalam retail space planning akan memastikan pelanggan menemukan penawaran dengan nilai tertinggi di lokasi strategis, terutama pada posisi sejajar mata.
Mereka juga merancang penempatan produk agar pelanggan menghabiskan lebih banyak waktu mengeksplorasi display dan penawaran khusus tanpa merasa kesulitan menemukan produk yang sebenarnya ingin mereka beli.
Planogram display rak
Jenis ini berguna untuk merancang bagaimana produk ditampilkan di rak, platform, gantungan, mannequin, keranjang, dan perlengkapan display toko lainnya.
Manajer toko dan pimpinan jaringan toko retail mengandalkan planogram desain rak untuk mengoptimalkan penggunaan ruang rak sekaligus memaksimalkan penjualan produk bernilai tinggi.
Planogram membantu meningkatkan penjualan dengan menempatkan produk dengan margin tinggi di posisi yang mudah terlihat, seperti sejajar mata pelanggan dan dekat area kasir.
Di sisi lain, produsen sering membuat planogram mereka sendiri untuk menunjukkan display ideal bagi produk yang mereka tawarkan.
Tugas tim penjualan dan manajer toko adalah menemukan titik tengah antara kebutuhan merchandising perusahaan retail dan kebutuhan berbagai pemasok produk.
Setelah memahami jenis planogram, berikutnya kita akan membahas bagaimana cara membuatnya.
Baca Juga: 9 Strategi Untuk Mempercepat Antrean Pelanggan di Retail
Cara Membuat Planogram

Anda bisa membuat planogram yang efektif dengan mengikuti praktik terbaik dan menggunakan alat yang tepat.
Proses pembuatan peta visual ini umumnya meliputi langkah-langkah berikut:
1. Analisis data penjualan dan kategori produk
Sebelum memutuskan produk mana yang layak mendapat posisi terbaik di rak, Anda perlu tahu dulu produk mana yang paling banyak terjual, produk mana yang marginnya paling tinggi, dan kategori produk mana yang paling sering dicari pelanggan.
Data yang perlu Anda kumpulkan di tahap ini antara lain:
- Laporan penjualan per produk: Produk mana yang terjual paling banyak dalam periode tertentu (mingguan, bulanan)
- Margin keuntungan per SKU: Produk dengan margin tinggi layak diprioritaskan di posisi strategis, meskipun volume penjualannya tidak selalu yang tertinggi
- Kategori produk dan subkategori: Produk dalam satu kategori (misal makanan atau minuman) sering diletakkan berdekatan. Jadi, akan membantu bila Anda mengelompokkan kategori produk dari awal.
- Pola musiman: Apakah ada produk yang penjualannya naik di bulan tertentu? Misalnya, alat tulis menjelang tahun ajaran baru.
Jika Anda menggunakan software akuntansi Kledo, Anda bisa mengecek penjualan per produk dengan:
1. Masuk “Beranda” > klik “Laporan” > klik “Penjualan per Produk” pada “Penjualan”

2. Filter periode yang diinginkan

3. Kledo akan otomatis menunjukkan laporan penjualan per produk Anda

2. Menyusun strategi penjualan dan menganalisis data toko
Lakukan analisis terhadap tingkat perputaran produk (turnover rate), arus pengunjung (foot traffic), serta kategori produk.
Dalam manajemen retail, produk umumnya dibagi menjadi dua kelompok besar:
- Fast-moving SKU adalah produk yang terjual cepat dan stoknya sering perlu diisi ulang seperti minuman kemasan, sabun mandi, atau snack harian. Produk jenis ini biasanya mendapat prioritas penempatan di posisi yang mudah dijangkau dan memiliki facing lebih banyak agar tidak cepat terlihat kosong.
- Slow-moving SKU adalah produk yang perputarannya lambat dan terjual lebih jarang dan cenderung menumpuk di gudang jika tidak dikelola dengan baik. Produk ini perlu diperlakukan berbeda: apakah perlu diberi posisi lebih strategis untuk mendorong penjualan, dikurangi jumlah facingnya, atau bahkan dipertimbangkan untuk dihentikan pengadaannya.
3. Merancang tata letak rak dan zona display
Mulailah dengan memetakan area toko secara keseluruhan. Identifikasi zona-zona berikut:
Zona berdasarkan perabot display:
- Gondola: Rak panjang berderet di tengah atau tepi toko, biasanya digunakan untuk produk kebutuhan sehari-hari. Gondola memiliki dua sisi yang bisa dimanfaatkan sekaligus.
- Endcap: Ujung dari setiap gondola yang menghadap lorong utama. Ini adalah salah satu posisi paling strategis di toko karena mendapat traffic paling tinggi. Endcap biasanya diisi produk promosi, produk baru, atau produk dengan margin tinggi.
- Eye-level shelf: Rak yang posisinya sejajar pandangan mata. Produk yang ditempatkan di sini mendapat perhatian paling besar dari konsumen.
- Cold zone: Area dengan traffic paling rendah, biasanya di sudut toko atau lorong paling dalam. Produk yang ditempatkan di sini adalah produk yang memang dicari secara spesifik oleh pelanggan, misalnya produk kebutuhan pokok yang pasti dibeli meski posisinya jauh.
Prinsip dasar saat merancang layout:
- Tempatkan produk kebutuhan pokok (susu, beras, minyak goreng) di bagian dalam atau belakang toko untuk memaksa pelanggan melewati lebih banyak rak dan membuka peluang impulse buying di sepanjang jalan
- Kelompokkan produk yang saling melengkapi dalam kategori yang sama atau berdekatan
- Pastikan setiap lorong memiliki lebar yang cukup untuk lalu lintas dua arah
- Pertimbangkan tinggi badan rata-rata pelanggan saat menentukan eye-level shelf
4. Persetujuan, implementasi, dan evaluasi
Planogram toko biasanya perlu mendapatkan persetujuan dari manajer toko, manajer regional, atau pihak lain sesuai struktur perusahaan.
Dalam beberapa kasus, pemasok produk juga dapat meminta display rak tertentu untuk produknya sehingga perlu dilibatkan dalam proses persetujuan.
Setelah menerapkan planogram, lakukan evaluasi dan pembaruan secara berkala.
Karena stok produk dan katalog barang terus berubah, display produk juga harus disesuaikan dengan ketersediaan barang serta perilaku pelanggan di masing-masing lokasi toko.
Baca Juga: 10 Tips Manajemen Toko Retail yang Sukses
Kesimpulan
Planogram adalah salah satu alat yang bisa diterapkan oleh toko retail skala untuk meningkatkan tampilan rak barang dengan menempatkan produk di posisi yang tepat, berdasarkan data yang tepat.
Dari pembahasan di atas, jelas bahwa kualitas data penjualan yang baik bisa membantu Anda dalam menyusun planogram yang efektif.
Produk mana yang fast-moving, mana yang marginnya tinggi, mana yang stoknya lebih cepat habis, semua data ini bisa memengaruhi keputusan penempatan.
Jika Anda merasa pencatatan stok dan laporan penjualan toko masih kurang rapi, Kledo bisa menjadi solusi Anda.
Dengan data yang terorganisir, membuat dan memperbarui planogram serta semua keputusan operasional toko lainnya menjadi jauh lebih mudah dikerjakan.
- Planogram: Ilmu Menata Barang Dagangan di Retail - 29 Mei 2026
- Jangan Salah Timing! Ini Waktu Terbaik Mengajukan Pinjaman Modal Usaha - 29 Mei 2026
- Bagaimana Strategi Menghadapi Inspeksi BPOM Produk Baru? - 29 Mei 2026
