Analisis DuPont adalah salah satu metode yang paling efektif untuk mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan secara menyeluruh, terutama dalam memahami faktor-faktor yang memengaruhi Return on Equity (ROE).
Analisis ini tidak melihat ROE sebagai satu angka saja, tapi menguraikannya menjadi beberapa komponen utama sehingga Anda bisa mengetahui penyebab naik atau turunnya kinerja perusahaan dengan jelas.
Melalui Analisis DuPont, pemilik bisnis, manajer, maupun investor dapat mengetahui apakah tingkat pengembalian ekuitas yang tinggi berasal dari kemampuan perusahaan menghasilkan laba, efisiensi dalam memanfaatkan aset, atau penggunaan leverage keuangan.
Informasi tersebut sangat penting sebagai dasar untuk menyusun strategi bisnis, meningkatkan profitabilitas, dan mengambil keputusan investasi yang lebih tepat.
Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari pengertian analisis DuPont, komponen penyusun, rumus perhitungan, serta 3 contoh analisis dari laporan keuangan perusahaan nyata.
Apa Itu Analisis DuPont?
Analisis DuPont adalah metode analisis untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan perusahaan dengan cara memecah rasio Return on Equity (ROE) ke komponen yang menyusunnya.
Dengan begitu, perusahaan bisa mengetahui kontribusi masing-masing komponen RoE terhadap perusahaan.
Metode ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1920-an oleh Donaldson Brown di DuPont Corporation, sebuah perusahaan kimia.
Meski sudah dikembangkan lebih dari 100 tahun lalu, tapi metode ini masih relevan sampai sekarang karena membantu menjelaskan perubahan pengembalian ekuitas, di mana informasi ini sangat bermanfaat bagi investor, analis, dan manajer.
Baca Juga: Berry Ratio: Rumus, Kalkulator, dan Contoh Kasusnya
Apa Saja Komponen Rasio dalam Analisis DuPont?
Analisis DuPont membagi Return on Equity (ROE) menjadi tiga komponen utama untuk memahami sumber utama peningkatan atau penurunan kinerja perusahaan.
1. Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)
Rumus:
Margin Laba Bersih = Laba Bersih ÷ Pendapatan
Margin laba bersih menunjukkan tingkat profitabilitas akhir perusahaan setelah seluruh beban dikurangi, termasuk beban bunga atas utang dan pajak kepada pemerintah.
Jika margin laba bersih meningkat, setiap rupiah pendapatan akan menghasilkan laba yang lebih besar bagi perusahaan, sehingga ROE juga akan meningkat.
Dengan kata lain, laba bersih merupakan keuntungan yang tersisa dan menjadi hak pemegang saham sebagai penyedia modal ekuitas.
2. Rasio Perputaran Total Aset (Total Asset Turnover Ratio/TATO)
Rumus:
Total Asset Turnover Ratio = Pendapatan ÷ Rata-rata Total Aset
Total Asset Turnover (atau rasio perputaran total aset) adalah metrik keuangan yang mengukur efisiensi perusahaan dalam menggunakan seluruh asetnya untuk menghasilkan penjualan.
Jika perusahaan mampu meningkatkan rasio perputaran aset, maka ROE akan meningkat karena perusahaan dapat memanfaatkan aset secara lebih efektif, yaitu menghasilkan pendapatan lebih besar dengan aset yang lebih sedikit.
Dua komponen pertama, margin laba bersih dan perputaran aset mencerminkan efisiensi operasional dan efisiensi penggunaan aset.
3. Equity Multiplier/Rasio Leverage Keuangan (Financial Leverage Ratio)
Rumus:
Equity Multiplier = Rata-rata Total Aset ÷ Rata-rata Ekuitas Pemegang Saham
Equity multiplier atau leverage keuangan adalah tingkat penggunaan utang dalam struktur modal perusahaan.
Semakin besar ketergantungan pada pendanaan utang, semakin tinggi beban bunga yang harus dibayar kepada kreditur, sehingga risiko gagal bayar juga meningkat.
Namun, beban bunga dapat dikurangkan dari pajak (tax deductible) sehingga menciptakan tax shield yang mengurangi laba kena pajak.
Penambahan utang dapat memberikan manfaat berupa:
- Penghematan pajak melalui tax shield.
- Biaya modal yang lebih rendah.
- Akses ke sumber pendanaan yang lebih murah.
Meski demikian, penggunaan utang yang berlebihan dapat menjadi bumerang jika tidak dikelola dengan hati-hati.
Oleh karena itu, manajemen perusahaan harus menjaga keseimbangan antara memanfaatkan pendanaan utang dan menghindari leverage yang terlalu tinggi.
Perusahaan perlu memastikan bahwa arus kas operasional cukup untuk memenuhi seluruh kewajiban utangnya agar tidak menghadapi risiko gagal bayar.
Ketiga komponen dalam Analisis DuPont diperoleh dari laporan keuangan perusahaan, khususnya laporan laba rugi dan neraca (laporan posisi keuangan).
Berikut sumber masing-masing data:
| Komponen | Rumus | Sumber Data |
|---|---|---|
| Net Profit Margin (NPM) | Laba Bersih ÷ Pendapatan | Laporan Laba Rugi |
| Total Asset Turnover | Pendapatan ÷ Rata-rata Total Aset | Pendapatan dari Laporan Laba Rugi, Total Aset dari Neraca |
| Equity Multiplier (Financial Leverage) | Rata-rata Total Aset ÷ Rata-rata Ekuitas | Neraca (Laporan Posisi Keuangan) |
Dengan memisahkan ROE ke dalam tiga komponen tersebut, manajemen dan investor dapat mengetahui apakah peningkatan ROE berasal dari laba yang lebih tinggi, penggunaan aset yang lebih efisien, atau peningkatan penggunaan utang.
Baca Juga: Revenue Stream: Pengertian, Contoh, Manfaat, Jenis, dan Cara Meningkatkannya
Apa Contoh Analisis DuPont?

Berikut 3 contoh analisis DuPont untuk referensi Anda yang masing-masing kami sarikan dari jurnal penelitian, sehingga bisa menjadi sumber yang terpercaya.
Contoh Analisis Dupont pada PT. Tjiwi Kimia Tbk
Contoh ini kami rangkum dari jurnal penelitian berjudul “Analisis Kinerja Perusahaan melalui Analisis Dupont pada PT. Tjiwi Kimia Tbk” yang ditulis Sindy Larasati et. al (2025).
Peneliti menganalisis tiga komponen RoE pada PT. Tjiwi Kimia yang mencakup Net Profit Margin (NPM), Total Asset Turnover (TATO), dan Equity Multiplier (EM).
Hasilnya adalah sebagai berikut:
Net Profit Margin (NPM)
Hasil pengolahan data menunjukkan rasio NPM 2020-2024 perusahaan sebagai berikut:
| Tahun | NPM | Perubahan |
| 2020 | 17% | – |
| 2021 | 24% | 7% |
| 2022 | 41% | 16% |
| 2023 | 16% | -24% |
| 2024 | 30% | 14% |
| Standar | 20% |
Dari sini, terlihat bahwa:
- Laba perusahaan mengalami peningkatan selama tiga tahun berturut-turut, yaitu dari tahun 2020 hingga 2022, dengan pertumbuhan sebesar 7% antara tahun 2020 dan 2021, serta meningkat lagi sebesar 16% pada periode 2021 hingga 2022.
- Tahun 2023, terjadi penurunan laba sebesar 24%, sebelum kembali mengalami kenaikan sebesar 14% di tahun 2024
- Rata-rata Net Profit Margin (NPM) sepanjang tahun 2020 hingga 2024 berada di atas rata-rata industri, yakni sebesar 26%
Ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan tergolong baik, terutama dalam hal menghasilkan laba bersih dari penjualan.
Total Asset Turnover
Hasil analisis rasio TATO tahun anggaran 2020-2024 adalah sebagai berikut:
| Tahun | TATO | Perubahan |
| 2020 | 0.28 | – |
| 2021 | 0.32 | 0.04 |
| 2022 | 0.32 | 0.00 |
| 2023 | 0.30 | -0.03 |
| 2024 | 0.26 | -0.04 |
| Standar | 2 kali |
Berdasarkan data di atas, bisa diketahui bahwa:
- Tahun 2022, efisiensi penggunaan aset tercatat stagnan dibandingkan tahun sebelumnya, sebelum akhirnya mengalami penurunan sebesar -0,03 kali di tahun 2023 dan kembali turun sebesar -0,04 kali pada tahun 2024.
- Rata-rata Total Asset Turnover (TATO) selama periode 2020–2024 tercatat masih berada di bawah standar industri yang sebesar 2 kali.
Ini menunjukkan bahwa perusahaan belum mampu menggunakan aset secara efisien untuk mendorong penjualan jika dibandingkan dengan rata-rata industri.
Oleh karena itu, kinerja keuangan PT. Tjiwi Kimia Tbk dalam hal efisiensi penggunaan aset dinilai belum maksimal.
Equity Multiplier
Hasil Equity Multiplier pada tahun anggaran 2020-2024 dirangkum dalam tabel berikut:
| Tahun | EM | Perubahan |
| 2020 | 2.03 | – |
| 2021 | 1.80 | -0.23 |
| 2022 | 1.60 | -0.20 |
| 2023 | 1.51 | -0.08 |
| 2024 | 1.44 | -0.07 |
| Standar | 2.00 |
Data di atas menunjukkan bahwa:
- Setelah tahun 2021, EM terus menurun sampai di angka 1,44.
- Pada Equity Multiplier, apabila nilai rasio berada di bawah standar industri, artinya perusahaan semkain baik dalam mendanai asetnya tanpa perlu bergantung pada hutang.
Artinya, PT. Tjiwi Kimia Tbk baik dalam mengendalikan hutangnya dan tidak terlalu bergantung untuk pendanaan.
Return on Equity (ROE)
Hasil analisis ROE perusahaan sebagai berikut:
| Tahun | ROE | Perubahan |
| 2020 | 10% | – |
| 2021 | 14% | 4% |
| 2022 | 21% | 7% |
| 2023 | 7% | -14% |
| 2024 | 11% | 4% |
| Standar | 40% |
Dari data di atas, kita melihat bahwa ROE perusahaan secara konsisten berada jauh di bawah
standar industri, yaitu 40%.
Analisis DuPont menunjukkan bahwa faktor utama yang menekan ROE perusahaan adalah rendahnya efisiensi penggunaan aset (TATO).
Meskipun perusahaan menunjukkan kemampuan yang baik dalam mengelola profitabilitas penjualan (NPM) dan dalam mengendalikan hutang (EM yang menurun), kinerja TATO yang lemah menghambat kemampuan perusahaan untuk menghasilkan pengembalian yang optimal bagi pemegang saham.
Fluktuasi yang tajam serta nilai ROE yang konsisten di bawah standar industri ini bisa dianggap sebagai sinyal yang kurang positif bagi investor.
Sinyal yang kurang positif ini bisa membuat investor ragu untuk berinvestasi pada perusahaan.
Karena itu, PT. Tjiwi Kimia Tbk harus meningkatkan dan menyetabilkan ROE untuk mengirim sinyal positif yang lebih kuat kepada investor guna membangun kepercayaan terhadap prospek perusahaan di masa depan.
Baca Juga: Rumus dan Kalkulator Return On Equity (ROE) Gratis
Contoh Analisis Du Pont pada Laporan Keuangan PT. Mayora Indah, TBK

Contoh kedua kami rangkum dari penelitian berjudul “ANALISIS DU PONT PADA LAPORAN KEUANGAN PT. MAYORA INDAH, TBK” oleh Dina Setiawati et al. (2024).
Peneliti mengambil data dari Bursa Efek Indonesia dan menganalisis data dari tahun 2019 sampai 2021.
Total Asset Turnover (TATO)
Berikut merupakan perhitungan TATO PT. Mayora Indah Tbk, Periode 2019-2021:
| Tahun | Penjualan | Total Aktiva | TATO |
| 2019 | 25.026.739 | 19.037.919 | 1,31 |
| 2020 | 24.476.954 | 19.777.501 | 1,24 |
| 2021 | 27.904.558 | 19.917.653 | 1,40 |
Selama periode tahun 2019 sampai dengan 2021, perusahaan dapat menghasilkan total Asset Turn Over dengan rata-rata sebesar 1,32 kali.
Artinya, perusahaan mampu memproduksi asetnya dengan cara yang efisien untuk mendapatkan total aset yang dimiliki dari penjualan.
Net Profit Margin
| Tahun | Penjualan | Total Aktiva | Total Net Profit Margin (%) |
| 2019 | 2.051.404 | 25.026.739 | 8,20 |
| 2020 | 2.098.169 | 24.476.954 | 8,57 |
| 2021 | 1.211.053 | 27.904.558 | 4,34 |
Selama periode tahun 2019 sampai dengan 2021, perusahaan dapat menghasilkan keuntungan volume bersih setelah pajak dari penjualan bersih rata -rata dengan total Net Profit Margin sebesar 7,04 %.
Equity Multiplier
| Tahun | Total Aktiva | Total Equity | Total Equity Multiplier (kali) |
| 2019 | 19.037.919 | 9.911.940 | 1,92 |
| 2020 | 19.777.501 | 11.271.468 | 1,75 |
| 2021 | 19.917.653 | 11.360.031 | 1,75 |
Selama periode di atas, perusahaan memiliki kemampuan menangani modal dengan jumlah rata-rata sebesar 1,8 kali. Artinya, jumlah rata-ratanya bisa meningkatkan aset perusahaan.
Return on Equity
| Tahun | Return on Investment (%) | Total Asset Turn Over (kali) | Total Return on Investment (%) |
| 2019 | 10,74 | 1,92 kali | 20,62% |
| 2020 | 10,63 | 1,75 kali | 18,60% |
| 2021 | 6,08 | 1,75 kali | 10,64% |
Dengan rata-rata 16,62%, RoE ini menunjukkan penggunaan efektif terhadap ekuitas perusahaan, meskipun trennya terus menurun dari tahun ke tahun.
Baca Juga: Perputaran Total Aset: Pengertian Lengkap dan Cara Menghitungnya
Contoh Analisis Du Pont pada PT Unilever Tbk

Contoh analisis ketiga kami rangkum dari penelitian “DuPont System Analysis in Measuring Financial Performance at PT Unilever Tbk During 2019–2023” oleh Anna Valensia.
1. Net Profit Margin (NPM)
Berikut merupakan hasil NPM Unilever:
| Tahun | NPM |
|---|---|
| 2019 | 17,2% |
| 2020 | 16,7% |
| 2021 | 14,6% |
| 2022 | 13,0% |
| 2023 | 12,4% |
Bisa kita lihat bahwa NPM konsisten turun sebesar ~4,8% selama 5 tahun. Penyebabnya antara lain:
- Biaya operasional naik akibat inflasi dan COVID-19
- Tekanan harga dari kompetitor lokal (Wings Group)
- Pergeseran konsumen ke produk lokal yang lebih murah.
Menurut jurnal ini, benchmark NPM industri FMCG adalah 20%. Artinya, NPM Unilever berada di bawah standar.
2. Total Asset Turnover (TATO)
Berikut merupakan data TATO perusahaan dari tahun 2019-2023:
| Tahun | TATO |
|---|---|
| 2019 | 2,08x |
| 2020 | 2,09x |
| 2021 | 2,07x |
| 2022 | 2,25x |
| 2023 | 2,32x |
Dari data di atas, terlihat bahwa TATO justru meningkat sedikit, kemungkinan karena total aset menyusut (dari Rp20,6 triliun ke Rp16,6 triliun) sementara penjualan relatif stabil.
Namun peningkatan ini tidak cukup untuk mengimbangi penurunan profitabilitas. Benchmark industri: TATO = 2x. Unilever relatif memenuhi standar ini.
3. Equity Multiplier (EM)
Berikut merupakan EM perusahaan dari tahun 2019 sampai 2023:
| Tahun | EM |
|---|---|
| 2019 | 3,91x |
| 2020 | 4,16x |
| 2021 | 4,41x |
| 2022 | 4,58x |
| 2023 | 4,93x |
EM Unilever terus naik, artinya Unilever semakin bergantung pada pendanaan eksternal (utang). Ini bisa menopang ROE jangka pendek, tapi meningkatkan risiko keuangan jangka panjang jika profitabilitas terus turun.
4. Return on Equity (ROE)
Hasil di Unilever:
| Tahun | ROE |
|---|---|
| 2019 | 14,0% |
| 2020 | 14,5% |
| 2021 | 13,4% |
| 2022 | 13,4% |
| 2023 | 14,2% |
ROE relatif stagnan di kisaran 13–14%, jauh di bawah benchmark industri 30%. Meski TATO dan EM meningkat, penurunan NPM menjadi faktor penghambat utama.
Ringkasan Temuan
Kinerja keuangan Unilever menurun secara bertahap selama 2019–2023, dengan NPM sebagai faktor paling dominan yang menjadi penyebab pelemahan.
Penyebabnya adalah tekanan eksterna seperti inflasi, persaingan lokal, pergeseran perilaku konsumen, dan sentimen anti-brand multinasional pasca-pandemi.
Rekomendasi jurnal adalah Unilever perlu meningkatkan efisiensi biaya, inovasi produk, dan menyeimbangkan struktur permodalan agar tidak terlalu bergantung pada utang.
| Komponen | Tren | Artinya |
|---|---|---|
| NPM | Turun (-4,8%) | Profitabilitas melemah, biaya naik |
| TATO | Naik tipis (+0,24x) | Efisiensi aset membaik, tapi terbatas |
| EM | Naik (+1,02x) | Ketergantungan utang meningkat |
| ROE | Stagnan (13–14%) | Di bawah standar industri |
Baca Juga: Equity Multiplier: Cara Hitung, Kalkulator, dan Contohnya
Kesimpulan
Analisis DuPont merupakan metode yang efektif untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi Return on Equity (ROE) sebuah perusahaan.
Dengan cara ini, Anda dapat mengetahui apakah kinerja perusahaan dipengaruhi oleh profitabilitas, efisiensi operasional, atau struktur pendanaannya.
Agar hasil Analisis DuPont benar-benar akurat, perusahaan memerlukan data keuangan yang lengkap, akurat, dan selalu diperbarui, yang bisa Anda dapatkan jika menggunakan software akuntansi Kledo.
Kledo secara otomatis mencatat transaksi, menyusun laporan laba rugi, neraca, dan berbagai laporan keuangan lainnya yang menjadi dasar perhitungan ROE dan Analisis DuPont.
Dengan lebih dari 50 jenis laporan keuangan serta dashboard bisnis yang dapat diakses secara real-time, Anda dapat memantau profitabilitas, efisiensi penggunaan aset, hingga kondisi keuangan perusahaan dengan lebih mudah dan cepat.
Jika Anda ingin membuat keputusan bisnis berdasarkan data yang akurat sekaligus mengelola keuangan perusahaan dengan lebih efisien, coba Kledo secara gratis dan rasakan kemudahan mengelola seluruh proses akuntansi dalam satu platform terpadu.
- 7 Langkah Melakukan Root Cause Analysis untuk Pemilik Bisnis - 15 Juli 2026
- 3 Contoh Analisis DuPont pada Laporan Keuangan Perusahaan - 15 Juli 2026
- Biaya Operasional Online Shop yang Sering Tidak Terlihat - 7 Juli 2026
