Pencatatan jurnal potongan pembelian yang tepat merupakan salah satu kunci utama dalam menjaga akurasi laporan keuangan sekaligus mengoptimalkan efisiensi biaya bisnis.
Langkah ini sering diambil oleh pelaku usaha untuk menekan pengeluaran saat memanfaatkan diskon pembayaran cepat dari pihak vendor.
Bagi sisi pembeli, insentif ini tentu sangat menguntungkan karena dapat mengurangi jumlah kas yang harus dikeluarkan.
Namun, bagaimana regulasi standar akuntansi mengatur hal ini, dan seperti apa variasi metodenya jika diterapkan pada skala bisnis profesional?
Mari kita bedah secara mendalam dan menyeluruh dalam artikel ini.
Regulasi Potongan Pembelian Berdasarkan Standar Akuntansi (PSAK & IFRS)

Dalam dunia profesional, pencatatan transaksi tidak boleh dilakukan sembarangan atau sekadar berdasarkan asumsi praktis.
Kita harus merujuk pada standar regulasi yang berlaku agar laporan keuangan memiliki kredibilitas tinggi di mata investor, perbankan, maupun otoritas pajak.
- Menurut PSAK 14 (Aset Persediaan) yang konvergen dengan IAS 2 (Inventories): Biaya perolehan persediaan harus mencakup harga pembelian, bea impor, pajak lainnya (kecuali yang dapat didistribusikan kembali), biaya pengangkutan, penanganan, dan biaya lainnya yang secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang jadi, bahan, dan jasa. Potongan dagang, rabat, dan pos lain yang serupa dikurangkan dalam menentukan biaya perolehan.
- Implikasi Substansial: Setiap potongan pembayaran (cash discount) yang didapatkan perusahaan secara substansial wajib diperlakukan sebagai pengurang nilai aset persediaan yang dilaporkan di neraca (laporan posisi keuangan), bukan diakui secara instan sebagai pendapatan lain-lain di laporan laba rugi. Jika perusahaan menggunakan metode fisik, potongan ini ditampung dalam akun kontra yang nantinya akan mengurangi nilai pembelian kotor pada akhir periode akuntansi.
Potongan pembelian (purchase discount atau cash discount) adalah insentif potongan harga yang diberikan oleh vendor/supplier karena perusahaan melunasi utang dagangnya lebih cepat dari tanggal jatuh tempo. Dalam standar akuntansi (PSAK 14), potongan ini bersifat mengurangi harga perolehan persediaan, bukan sebagai pendapatan. Pencatatannya di dalam jurnal sangat dipengaruhi oleh metode persediaan yang dipilih (Periodik vs Perpetual) serta metode pengakuan utang awal (Gross Method vs Net Method).

Alur Terjadinya Potongan Pembelian dalam Siklus Bisnis
Untuk memudahkan pemahaman bagaimana potongan termin ini terbentuk di dalam siklus operasional dan akuntansi perusahaan, berikut adalah tahapan mulai dari awal transaksi hingga proses pelunasan utang:
- Pembelian Kredit: Perusahaan membeli komoditas barang dagangan dari vendor secara kredit yang dibuktikan dengan diterbitkannya faktur atau invoice resmi.
- Muncul Termin / Syarat Pembayaran: Pada faktur pembelian tercantum syarat pembayaran khusus (misalnya 2/10, n/30) sebagai bentuk kesepakatan tenggat waktu pelunasan.
- Analisis Waktu Pelunasan: Tim finance mengecek tanggal jatuh tempo faktur untuk menentukan strategi pembayaran. Pada tahap ini, keputusan terbagi menjadi dua skenario:
- Skenario A: Membayar di Masa Diskon (Maksimal Hari ke-10)
- Klaim Potongan Tunai: Perusahaan berhak memotong nilai pembayaran sesuai persentase insentif (hemat kas).
- Entri Jurnal: Akuntansi mencatat nominal diskon ke dalam jurnal potongan pembelian (sisi Kredit).
- Skenario B: Membayar Lewat Masa Diskon (Hari ke-11 s.d Hari ke-30)
- Bayar Nilai Penuh Faktur: Hak potongan otomatis hangus dan perusahaan wajib membayar 100% nominal utang.
- Entri Jurnal: Akuntansi mencatat pelunasan utang standar sebesar nilai penuh tanpa ada akun potongan.
- Skenario A: Membayar di Masa Diskon (Maksimal Hari ke-10)
Baca juga: Jurnal Pembelian Barang Dagang: Contoh dan Cara Membuatnya
Memahami Termin Pembayaran pada Jurnal Potongan Pembelian
Potongan ini tidak serta-merta muncul, melainkan diikat oleh kesepakatan tertulis yang tertera pada faktur atau invoice pembelian. Kesepakatan ini biasa disebut dengan termin pembayaran (terms of payment).
Beberapa jenis termin yang paling sering digunakan dalam dunia bisnis di Indonesia antara lain:
1. Termin 2/10, n/30
Termin ini merupakan syarat pembayaran yang paling standar. Pembeli akan mendapatkan potongan harga sebesar 2% apabila melunasi utangnya dalam jangka waktu maksimal 10 hari kalender setelah tanggal transaksi.
Sementara itu, batas akhir seluruh pelunasan utang adalah 30 hari tanpa mendapatkan potongan.
2. Termin 3/15, n/eom
Pembeli berhak atas potongan sebesar 3% jika pelunasan dilakukan dalam kurun waktu 15 hari setelah tanggal faktur.
Sedangkan huruf n/eom (net end of month) menandakan bahwa utang dagang tersebut harus dilunasi paling lambat pada hari terakhir di bulan berjalan.
3. Perbedaan Vital dengan Potongan Perdagangan (Trade Discount)
Banyak pelaku usaha pemula menyamakan potongan pembelian ini dengan potongan perdagangan (trade discount). Secara fundamental, keduanya sangat berbeda jauh:
- Potongan Pembelian (Cash Discount): Terjadi karena faktor kecepatan pembayaran (waktu). Transaksi awalnya dicatat sebesar nilai kotor, baru kemudian potongan diakui saat pelunasan terjadi.
- Potongan Perdagangan (Trade Discount): Terjadi langsung di awal transaksi karena faktor volume pembelian (grosir) atau negosiasi harga. Potongan ini tidak pernah dijurnal ke dalam akun tersendiri, melainkan angka di dalam invoice langsung menggunakan harga bersih setelah diskon.
Baca juga: Memahami Jurnal Pembelian Bahan Baku dan Contoh Kasusnya
Perbandingan Metode Pencatatan Persediaan Periodik vs Perpetual

Sebelum Anda menyusun jurnal, Anda harus memahami terlebih dahulu metode pencatatan persediaan apa yang diimplementasikan oleh sistem akuntansi perusahaan Anda.
Perbedaan pilihan metode ini akan memengaruhi akun mana yang harus diletakkan di posisi kredit saat diskon diklaim.
1. Metode Periodik (Fisik)
Pada metode periodik, setiap ada transaksi pembelian barang dagangan, sistem langsung mendebit akun “Pembelian”, bukan akun persediaan.
Fisik barang baru akan dihitung secara manual di akhir periode (stock opname) untuk menentukan nilai persediaan akhir dan Harga Pokok Penjualan (HPP).
Oleh karena itu, ketika perusahaan mendapatkan potongan pembayaran, akuntansi menyediakan akun kontra khusus bernama “Potongan Pembelian” di sisi kredit.
2. Metode Perpetual (Terus-menerus)
Pada metode perpetual, setiap mutasi barang masuk dan keluar langsung dicatat secara real-time memperbarui kartu stok. Pembelian barang dagangan langsung didebit ke akun aset “Persediaan Barang Dagang”.
Ketika perusahaan berhasil memperoleh diskon pembayaran cepat, akuntansi tidak memunculkan akun baru, melainkan langsung mengkreditkan atau mengurangi nilai akun “Persediaan Barang Dagang”.
Logikanya, harga perolehan asli atas barang tersebut kini secara otomatis menjadi lebih murah.
Berikut adalah tabel ringkasnya untuk mempermudah pemahaman Anda:
| Aspek Penilaian | Metode Periodik (Fisik) | Metode Perpetual (Perpetual) |
| Akun yang Digunakan | Menggunakan akun khusus Potongan Pembelian | Langsung memotong akun Persediaan Barang Dagang |
| Sifat Akun | Akun Kontra (Pengurang Pembelian) | Akun Riil/Aset (Mengurangi Nilai Persediaan) |
| Dampak Akhir | Mengurangi nilai Pembelian Kotor di Laba Rugi | Mengurangi Harga Perolehan Barang di Neraca |
| Kemudahan Lacak | Nilai total diskon dalam satu periode terlihat jelas | Nilai aset persediaan jauh lebih akurat per item |
Baca juga: Pahami Pengertian Jurnal Prepetual dan Contohnya Di Sini
Perbedaan Gross Method vs Net Method dalam Akuntansi Pembelian
Selain memilih metode pencatatan persediaan (periodik/perpetual), perusahaan berskala menengah dan besar juga harus memilih metode pengakuan nilai utang di awal transaksi.
Terdapat dua mazhab besar yang diakui secara global, yakni Metode Kotor (Gross Method) dan Metode Bersih (Net Method).
1. Gross Method (Metode Kotor)
Metode kotor berasumsi bahwa perusahaan mungkin saja tidak mengambil potongan yang ditawarkan oleh vendor (misalnya karena kondisi likuiditas kas yang sedang ketat).
Oleh sebab itu, pada saat barang diterima, nilai utang dagang dan nilai pembelian dicatat sebesar nilai penuh (100%) sesuai dengan yang tertera pada faktur. Diskon baru diakui jika pembayaran benar-benar terjadi dalam masa potongan.
2. Net Method (Metode Bersih)
Sebaliknya, metode bersih berasumsi bahwa manajemen perusahaan yang efisien pasti akan selalu mengambil setiap potongan pembayaran cepat demi menghemat kas.
Oleh karena itu, pada hari pertama transaksi terjadi, nilai utang dagang langsung dicatat sebesar nilai bersih setelah dikurangi estimasi diskon.
Jika di kemudian hari perusahaan ternyata teledor dan gagal membayar tepat waktu, maka hilangnya hak diskon tersebut akan diakui sebagai kerugian keuangan atau beban finansial tersendiri.
Contoh Kasus dan Pencatatan Jurnal Potongan Pembelian
Mari kita bedah secara mendalam melalui satu studi kasus konkret yang sama, agar Anda dapat melihat dengan jelas perbedaan pencatatan dari kombinasi keempat metode di atas.
Studi Kasus Transaksi:
PT Maju Jaya Abadi membeli barang dagangan secara kredit dari CV Sumber Makmur senilai Rp20.000.000 pada tanggal 1 Mei 2026 dengan syarat pembayaran 2/10, n/30.
Perhitungan Komponen Finansial:
- Nilai Nominal Faktur (Kotor): Rp20.000.000
- Nilai Estimasi Diskon (2%): 2% x Rp20.000.000 = Rp400.000
- Nilai Bersih (Net): Rp20.000.000 – Rp400.000 = Rp19.600.000
Bagian I: Penerapan Gross Method (Metode Kotor)
Skenario ini berasumsi pelunasan utang dilakukan pada tanggal 8 Mei 2026 (berjarak 7 hari, berarti masih dalam masa potongan 10 hari).
Opsi. 1 Jika Perusahaan Menggunakan Metode Periodik
Saat membeli barang (1 Mei 2026), perusahaan menjurnal nilai kotor faktur:
| Tanggal | Akun / Keterangan | Debit | Kredit |
| 1 Mei 2026 | Pembelian | Rp20.000.000 | |
| Utang Dagang | Rp20.000.000 |
Saat melakukan pelunasan utang dalam masa diskon (8 Mei 2026):
| Tanggal | Akun / Keterangan | Debit | Kredit |
| 8 Mei 2026 | Utang Dagang | Rp20.000.000 | |
| Kas | Rp19.600.000 | ||
| Potongan Pembelian | Rp400.000 |
Opsi 2. Jika Perusahaan Menggunakan Metode Perpetual
Saat membeli barang (1 Mei 2026), akun pembelian diganti dengan akun aset persediaan:
| Tanggal | Akun / Keterangan | Debit | Kredit |
| 1 Mei 2026 | Persediaan Barang Dagang | Rp20.000.000 | |
| Utang Dagang | Rp20.000.000 |
Saat melakukan pelunasan utang dalam masa diskon (8 Mei 2026), diskon langsung mengkredit persediaan:
| Tanggal | Akun / Keterangan | Debit | Kredit |
| 8 Mei 2026 | Utang Dagang | Rp20.000.000 | |
| Kas | Rp19.600.000 | ||
| Persediaan Barang Dagang | Rp400.000 |
Bagian II: Penerapan Net Method (Metode Bersih)
Skenario ini menggunakan asumsi yang berbeda, yaitu perusahaan gagal melunasi tepat waktu dan baru membayar pada tanggal 20 Mei 2026 (lewat dari 10 hari, sehingga diskon hangus).
Opsi 1. Jika Perusahaan Menggunakan Metode Periodik
Saat membeli barang (1 Mei 2026), nilai langsung dipotong di awal sebesar Rp400.000:
| Tanggal | Akun / Keterangan | Debit | Kredit |
| 1 Mei 2026 | Pembelian | Rp19.600.000 | |
| Utang Dagang | Rp19.600.000 |
Saat pelunasan di luar masa diskon (20 Mei 2026), karena utang awal hanya dicatat Rp19.600.000 padahal kas yang keluar harus Rp20.000.000, maka selisihnya diakui sebagai akun beban khusus:
| Tanggal | Akun / Keterangan | Debit | Kredit |
| 20 Mei 2026 | Utang Dagang | Rp19.600.000 | |
| Potongan Pembelian yang Hangus | Rp400.000 | ||
| Kas | Rp20.000.000 |
Opsi 2. Jika Perusahaan Menggunakan Metode Perpetual
Saat membeli barang (1 Mei 2026):
| Tanggal | Akun / Keterangan | Debit | Kredit |
| 1 Mei 2026 | Persediaan Barang Dagang | Rp19.600.000 | |
| Utang Dagang | Rp19.600.000 |
Saat pelunasan di luar masa diskon (20 Mei 2026):
| Tanggal | Akun / Keterangan | Debit | Kredit |
| 20 Mei 2026 | Utang Dagang | Rp19.600.000 | |
| Potongan Pembelian yang Hangus | Rp400.000 | ||
| Kas | Rp20.000.000 |
Catatan Penting: Akun “Potongan Pembelian yang Hangus” (Purchase Discounts Lost) akan dilaporkan di laporan laba rugi pada kelompok Beban Lain-lain/Beban Keuangan.
Baca juga: Contoh Jurnal Retur Pembelian dan Bedanya dengan Retur Penjualan
Kesalahan Umum dalam Mencatat Jurnal Potongan Pembelian

Berikut adalah beberapa kekeliruan fatal yang paling sering dilakukan oleh staf pembukuan keuangan:
- Salah Menempatkan Posisi Saldo Normal
Mengingat potongan pembelian berfungsi sebagai pengurang beban operasional (pembelian kotor), saldo normal akun ini berada di posisi Kredit. Staf pemula sering kali keliru mendebit akun ini karena menyamakannya dengan struktur beban biasa. - Tetap Mengklaim Potongan Meskipun Batas Termin Telah Hangus
Memasukkan nilai potongan secara sepihak ke dalam jurnal pelunasan kas, padahal tanggal riil transfer bank telah melewati batas masa tenggang diskon. Hal ini memicu selisih saldo utang pada saat dilakukan proses rekonsiliasi data dengan pihak vendor. - Kesalahan Menghitung Dasar Pengali Persentase Diskon
Menghitung besaran nominal potongan dari total nilai akhir faktur yang di dalamnya sudah terakumulasi dengan komponen non-barang, seperti PPN (Pajak Pertambahan Nilai), biaya asuransi pengiriman, atau ongkos angkut (freight-in). Sesuai prinsip akuntansi, persentase diskon pembayaran cepat idealnya hanya dikalikan dengan nilai murni harga komoditas barang dagang yang dibeli.
Hubungan Akun Potongan Pembelian dengan Akun Akuntansi Lainnya
Catatan diskon ini tidak muncul sendirian dalam pembukuan bisnis Anda. Nilainya akan sangat memengaruhi beberapa akun penting lainnya, seperti:
- Jurnal Retur Pembelian (Pengembalian Barang)
Jika sebelum membayar utang ternyata ada barang yang rusak dan Anda kembalikan (retur) ke supplier, maka nominal utang awal Anda harus dikurangi dulu dengan nilai barang yang diretur tersebut. Setelah itu, baru dikalikan dengan persentase diskon.
Contoh: Utang Rp10 juta, retur Rp2 juta. Maka diskon 2% hanya dihitung dari sisa utang Anda, yaitu Rp8 juta (2% x Rp8.000.000 = Rp160.000). - Harga Pokok Penjualan (HPP)
Bagi pengguna metode fisik, semua akumulasi potongan yang Anda dapatkan selama satu bulan/tahun akan dihitung di akhir periode untuk mencari tahu berapa nilai Pembelian Bersih bisnis Anda. Rumus sederhananya adalah:
Pembelian Bersih= Pembelian Kotor + Biaya Angkut – Retur Pembelian + Potongan Pembelian
Baca juga: Contoh Jurnal Diskon Penjualan dan Pembahasan Lengkapnya
Cara Praktis Mencatat Potongan Pembelian di Software Akuntansi
Jika transaksi bisnis Anda baru satu atau dua dalam sebulan, mencatat jurnal manual tentu bukan masalah.
Namun, jika dalam seminggu ada puluhan faktur dengan termin diskon yang berbeda-beda, melacaknya satu per satu secara manual tentu rawan memicu salah input.
Sebagai solusi praktis, Anda bisa memanfaatkan software akuntansi seperti Kledo yang memang sudah mendesain fiturnya untuk otomatisasi hal ini.
Di Kledo, Anda tidak perlu lagi pusing menjurnal debit dan kredit secara konvensional saat mendapatkan diskon pembayaran cepat dari supplier.
Saat mencatat atau melunasi tagihan (Purchase Invoice), Anda cukup memasukkan nominal atau persentase diskon pada fitur potongan yang sudah tersedia di lembar transaksi.
Setelah data disimpan, sistem Kledo akan langsung membentuk jurnal potongan pembelian secara otomatis di latar belakang dan menyesuaikan nilai akun terkait.
Cara ini jauh lebih aman untuk menghindari risiko human error sekaligus menghemat waktu tim finance Anda.
Anda bisa mempelajari lebih lanjut cara menggunakan fitur potongan pada transaksi pembelian di video ini:
FAQ Terkait Jurnal Potongan Pembelian
Apakah potongan pembelian termasuk dalam kategori pendapatan operasional?
Tidak. Potongan pembelian tidak diklasifikasikan sebagai pendapatan. Akun ini merupakan akun kontra (contra-account) atau akun pengurang yang berfungsi untuk menurunkan nilai pembelian kotor (pada metode fisik) atau menurunkan nilai perolehan persediaan barang dagang (pada metode perpetual).
Apa perbedaan mendasar antara retur pembelian dan potongan pembelian?
Retur pembelian dipicu oleh adanya masalah fisik pada komoditas barang, seperti kerusakan, cacat produksi, atau ketidaksesuaian spesifikasi sehingga barang dikembalikan ke pihak vendor. Sementara potongan pembelian murni dipicu oleh faktor finansial dan waktu, yaitu insentif berupa pemotongan kewajiban karena perusahaan membayar utang lebih cepat.
Kapan akun potongan pembelian secara resmi digunakan dalam pembukuan?
Akun khusus “Potongan Pembelian” hanya akan muncul dan digunakan apabila perusahaan Anda mengadopsi Metode Fisik/Periodik dan melakukan transfer pelunasan kewajiban utang dagang kepada vendor masih di dalam sisa rentang masa diskon yang berlaku pada termin pembayaran.
Mengapa dalam metode perpetual akun potongan pembelian tidak dimunculkan?
Sebab metode perpetual menganut prinsip pembaruan nilai aset secara langsung. Setiap faktor yang membuat harga perolehan persediaan menjadi lebih murah (seperti diskon pembayaran cepat) harus langsung dikreditkan ke akun Persediaan Barang Dagang agar nilai aset yang tertera di neraca mencerminkan nilai perolehan bersih yang riil saat itu.
Kesimpulan
Memahami cara mencatat jurnal potongan pembelian bukan sekadar urusan merapikan angka debit dan kredit di buku besar. Bagi sebuah bisnis, ketelitian dalam mengelola akun ini adalah cerminan dari manajemen arus kas yang sehat dan efisiensi biaya yang optimal.
Lewat pencatatan yang benar sesuai standar akuntansi, Anda dapat menyajikan laporan laba rugi yang valid dan menghindari risiko salah hitung harga pokok penjualan.
Di era bisnis yang bergerak cepat, pengelolaan termin pembayaran dari berbagai supplier tentu membutuhkan ketelitian tinggi agar tidak ada hak diskon yang terlewat.
Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi seperti software akuntansi akurat seperti Kledo bisa menjadi solusi praktis untuk mengotomatiskan pencatatan jurnal ini, sehingga risiko kesalahan manual dapat diminimalisir dan evaluasi keuangan bisnis Anda berjalan lebih efisien.
Untuk mencoba Kledo, silakan klik tautan ini.