Quality control menjadi elemen penting dalam menjaga konsistensi kualitas produk dan layanan di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat.
Tanpa sistem pengendalian mutu yang terstruktur, risiko kesalahan produksi dan ketidakpuasan pelanggan dapat meningkat secara signifikan.
Penerapan pengawasan yang disiplin membantu perusahaan menekan pemborosan sekaligus menjaga standar operasional tetap stabil.
Pendekatan ini tidak hanya relevan di industri manufaktur, tetapi juga di sektor jasa, teknologi, hingga layanan kesehatan.
Lalu, sebenarnya apa itu quality control, bagaimana prosesnya berjalan, dan apa bedanya dengan quality assurance? Mari kita bahas lebih dalam.
Apa yang Dimaksud Quality Control?
Priyanka Verma mendefinisikan Quality Control (QC) sebagai prosedur atau serangkaian prosedur yang dirancang untuk memastikan bahwa suatu produk yang diproduksi atau layanan yang diberikan telah memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan atau sesuai dengan persyaratan pelanggan.
Quality control bukan sekadar proses pemeriksaan, tetapi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis.
Tanpa pengendalian mutu yang sistematis, risiko produk cacat, pemborosan bahan baku, hingga penurunan kepercayaan pelanggan akan semakin besar.
Oleh karena itu, penerapan quality control yang konsisten membantu perusahaan menjaga efisiensi operasional sekaligus mempertahankan standar layanan yang kompetitif di berbagai industri.
Baca juga: Biaya Kualitas: Pengertian, Jenis, Cara Hitung, dan Tips Mereduksinya
Mengapa Quality Control Penting?

Berikut beberapa alasan utama mengapa quality control sangat penting bagi perusahaan:
1. Mendorong Kesadaran akan Kualitas
Quality control membentuk budaya kerja yang berorientasi pada mutu.
Ketika standar kualitas diterapkan secara konsisten, setiap karyawan akan lebih sadar bahwa hasil pekerjaannya harus memenuhi kriteria tertentu.
Kesadaran ini membantu perusahaan mencapai standar yang sama dari waktu ke waktu.
2. Menekan Biaya Produksi
Melalui proses pemeriksaan dan evaluasi, produk yang tidak memenuhi standar dapat segera terdeteksi. Perbaikan dilakukan lebih awal sebelum produk terlanjur beredar di pasar.
Hal ini mengurangi biaya akibat rework, pemborosan bahan baku, atau penarikan produk.
3. Meningkatkan Kepuasan Pelanggan
Produk yang bebas dari kesalahan atau cacat meningkatkan kepercayaan pelanggan.
Kualitas yang terus terjaga akan menciptakan pengalaman positif, yang pada akhirnya mendorong loyalitas dan rekomendasi dari pelanggan.
4. Memperkuat Reputasi dan Goodwill
Perusahaan yang secara konsisten menghasilkan produk berkualitas akan dikenal sebagai brand yang dapat diandalkan.
Reputasi ini menjadi aset jangka panjang yang mendukung keberlanjutan bisnis.
5. Meningkatkan Moral Karyawan
Ketika karyawan menyadari bahwa hasil kerja mereka memberikan nilai dan memenuhi standar tinggi, rasa bangga terhadap pekerjaan akan meningkat.
Hal ini berdampak pada motivasi dan semangat kerja yang lebih baik.
6. Memperbaiki Metode Produksi
Proses quality control membantu mengidentifikasi kelemahan dalam sistem produksi. Evaluasi ini mendorong perbaikan berkelanjutan, baik dari sisi desain, prosedur, maupun efisiensi operasional.
7. Meningkatkan Penjualan
Kualitas mutu dapat membangun citra positif di pasar. Reputasi sebagai produsen berkualitas tinggi akan menarik pelanggan baru dan membantu mempertahankan pelanggan lama, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan penjualan.
8. Mengoptimalkan Penggunaan Sumber Daya
Quality control memastikan bahan baku, tenaga kerja, dan waktu digunakan secara efektif.
Dengan meminimalkan pemborosan dan kesalahan produksi, perusahaan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga biaya tetap terkendali.

Metode Quality Control yang Umum Digunakan
Dalam praktiknya, quality control dijalankan dengan berbagai metode. Setiap metode punya fungsi yang berbeda, tetapi tujuannya sama yakni memastikan kualitas tetap konsisten dan sesuai standar.
1. Inspection (Pemeriksaan)
Inspection adalah metode paling dasar dan paling sering digunakan. Metode ini dilakukan dengan cara memeriksa produk atau komponen untuk memastikan semuanya sesuai spesifikasi.
Pemeriksaan bisa dilakukan:
- Sebelum proses produksi dimulai (misalnya cek bahan baku)
- Saat proses produksi berlangsung
- Setelah produk selesai dibuat
Di industri manufaktur atau konstruksi, inspection biasanya fokus pada ukuran, bentuk, finishing, warna, atau tampilan fisik.
Dengan pemeriksaan rutin, produk cacat bisa langsung dipisahkan sebelum sampai ke tangan pelanggan. Ini penting untuk menjaga reputasi sekaligus menghindari komplain.
2. Testing (Pengujian)
Kalau inspection lebih ke pengecekan visual atau spesifikasi dasar, testing masuk ke tahap yang lebih dalam.
Produk diuji untuk melihat apakah fungsinya berjalan dengan baik dan tahan terhadap kondisi tertentu.
Contohnya:
- Produk elektronik diuji daya tahan dan keamanan listriknya
- Kendaraan diuji performa mesin dan sistem keamanannya
- Software diuji bug, error, dan performa sistemnya
Testing memastikan produk tidak hanya terlihat benar, tetapi juga benar-benar bekerja sesuai harapan.
3. Statistical Sampling (Pengambilan Sampel Statistik)
Dalam produksi massal, memeriksa satu per satu produk sering kali tidak realistis. Di sinilah metode statistical sampling digunakan.
Perusahaan mengambil sampel acak dari satu batch produksi, lalu melakukan pemeriksaan atau pengujian pada sampel tersebut. Dari hasilnya, perusahaan bisa memperkirakan kualitas keseluruhan batch.
Metode ini lebih hemat waktu dan biaya, tetapi tetap memberikan gambaran yang cukup akurat tentang tingkat cacat atau konsistensi kualitas.
4. On-site Quality Control
On-site QC dilakukan langsung di lokasi produksi. Pemeriksaan dan pengujian berjalan bersamaan dengan proses produksi.
Jika ada kesalahan, bisa langsung diperbaiki saat itu juga. Tidak perlu menunggu produk selesai dalam jumlah besar baru menyadari ada masalah.
Metode ini sangat penting di pabrik manufaktur dan proyek konstruksi, di mana kesalahan kecil bisa berdampak besar jika terlambat diketahui.
5. Off-site Quality Control
Berbeda dengan on-site, off-site QC dilakukan oleh pihak luar atau laboratorium independen. Produk atau sampel dikirim untuk diuji secara objektif.
Metode ini biasanya digunakan ketika:
- Dibutuhkan alat uji khusus
- Harus ada verifikasi independen
- Produk harus memenuhi standar regulasi tertentu
Contohnya dalam industri makanan, farmasi, atau produk yang membutuhkan sertifikasi resmi. Pengujian pihak ketiga memberikan jaminan tambahan bahwa kualitas benar-benar sesuai standar.
Baca juga: Diagram Sistem Manufaktur: Contoh dan Tips Membuatnya
Proses Quality Control dalam Bisnis

Dalam praktiknya, quality control bukan sekadar aktivitas mengecek produk di akhir produksi.
Prosesnya berjalan bertahap dan terstruktur agar kualitas bisa dijaga secara konsisten dari awal sampai akhir.
1. Menentukan Standar Kualitas
Perusahaan harus menetapkan kriteria yang jelas tentang seperti apa produk atau layanan yang dianggap memenuhi kualitas.
Standar ini bisa berupa spesifikasi teknis, ukuran, daya tahan, keamanan, hingga persyaratan khusus dari pelanggan.
Tanpa standar yang terukur, tim produksi dan tim quality control bisa memiliki persepsi yang berbeda tentang “kualitas yang baik”. Karena itu, tahap ini menjadi fondasi utama dalam keseluruhan proses QC.
2. Menyusun Rencana Pengendalian
Setelah standar ditentukan, langkah berikutnya adalah menyusun rencana pengendalian mutu.
Rencana ini mengatur kapan inspeksi dilakukan, bagaimana metode pengujiannya, serta siapa yang bertanggung jawab di setiap tahap.
Perencanaan yang matang membantu perusahaan menghindari pemeriksaan yang sifatnya reaktif. Artinya, QC tidak hanya dilakukan saat ada masalah, tetapi sudah menjadi bagian dari sistem kerja harian.
3. Melakukan Inspeksi dan Pengujian
Pada tahap ini, aktivitas QC benar-benar dijalankan. Produk diperiksa, diuji, dan diukur sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
Pemeriksaan bisa dilakukan pada bahan baku, saat proses produksi berlangsung, maupun setelah produk selesai dibuat.
Tujuannya adalah memastikan setiap produk tetap berada dalam batas standar yang telah ditentukan, sekaligus mendeteksi potensi cacat sedini mungkin.
4. Menganalisis dan Mengevaluasi Hasil
Data hasil inspeksi tidak berhenti di laporan. Data tersebut perlu dianalisis untuk melihat apakah ada pola kesalahan, tren penurunan kualitas, atau variasi yang melebihi batas toleransi.
Dari evaluasi ini, perusahaan bisa mengetahui apakah proses produksi sudah stabil atau masih perlu perbaikan.
5. Melakukan Tindakan Korektif
Jika ditemukan penyimpangan, perusahaan harus segera mengambil tindakan korektif. Tindakan ini bisa berupa penyesuaian proses, perbaikan mesin, pelatihan ulang karyawan, atau bahkan revisi standar.
Tujuan utamanya bukan hanya memperbaiki kesalahan yang sudah terjadi, tetapi juga mencegah masalah yang sama terulang di masa depan.
Baca juga: Memahami Dispatching dan Jenisnya dalam Proses Produksi
Contoh Penerapan Quality Control di Berbagai Industri
Agar lebih mudah dipahami, mari lihat bagaimana quality control diterapkan secara nyata di beberapa sektor industri.
1. Manufaktur
Di industri manufaktur, quality control biasanya terlihat langsung di lini produksi. Produk diperiksa secara visual, diukur dimensinya, dan diuji fungsinya sebelum dikemas dan dikirim.
Misalnya pada industri otomotif, setiap komponen harus sesuai spesifikasi. Jika ada satu bagian yang tidak presisi, dampaknya bisa besar terhadap performa kendaraan secara keseluruhan.
Karena itu, QC dilakukan secara bertahap, mulai dari bahan baku hingga produk akhir.
2. Pengembangan Software
Dalam pengembangan software, quality control tidak berbentuk pemeriksaan fisik, tetapi pengujian sistem dan validasi kode.
Tim akan melakukan:
- Code review untuk memastikan standar coding terpenuhi
- Testing (manual maupun otomatis)
- Uji performa dan keamanan sistem
Sebelum aplikasi dirilis, bug dan error harus ditemukan serta diperbaiki. Jika tidak, pengguna bisa mengalami crash, data error, atau gangguan sistem yang merusak kepercayaan terhadap produk.
QC di bidang ini sangat krusial karena satu kesalahan kecil bisa berdampak luas pada ribuan bahkan jutaan pengguna.
3. Industri Makanan
Di industri makanan, quality control berkaitan langsung dengan keamanan konsumen. Prosesnya meliputi:
- Pemeriksaan bahan baku
- Pengujian kandungan bakteri atau kontaminan
- Pengawasan standar kebersihan produksi
Selain menjaga kualitas rasa dan tampilan, QC di sektor ini juga memastikan produk memenuhi regulasi keamanan pangan.
Tanpa pengendalian mutu yang ketat, risiko keracunan atau pelanggaran standar bisa berdampak serius pada reputasi perusahaan.
4. Kesehatan
Di bidang kesehatan, quality control berperan menjaga akurasi diagnosis dan keamanan pasien.
Laboratorium medis, misalnya, menerapkan prosedur kontrol untuk memastikan hasil tes darah atau tes lainnya akurat dan konsisten. Peralatan medis juga harus dikalibrasi secara rutin agar hasil pengukuran tidak melenceng.
Kesalahan kecil dalam proses ini bisa berdampak langsung pada keputusan medis, sehingga standar QC di sektor kesehatan biasanya sangat ketat.
Baca juga: Beban Pokok Penjualan adalah: Pengertian dan Cara Hitungnya
Quality Control vs Quality Assurance: Apa Bedanya?

Banyak orang masih menganggap quality control (QC) dan quality assurance (QA) itu sama. Padahal, keduanya punya fokus yang berbeda meski sama-sama bertujuan menjaga kualitas.
Secara sederhana, QC berfokus pada hasil akhir. QA berfokus pada prosesnya.
Agar lebih jelas, berikut perbandingannya:
| Aspek | Quality Control (QC) | Quality Assurance (QA) |
|---|---|---|
| Fokus utama | Mendeteksi dan memperbaiki cacat pada produk atau layanan | Mencegah terjadinya cacat melalui perbaikan proses |
| Waktu penerapan | Dilakukan saat atau setelah proses produksi | Dilakukan sebelum dan selama proses berlangsung |
| Orientasi | Berorientasi pada hasil akhir | Berorientasi pada sistem dan proses |
| Aktivitas utama | Inspeksi, pengujian, pemeriksaan produk | Penyusunan standar, prosedur, dan sistem kerja |
| Tujuan | Memastikan produk akhir sesuai standar kualitas | Memastikan proses dirancang untuk menghasilkan kualitas secara konsisten |
| Cakupan | Fokus lebih sempit pada output tertentu | Fokus lebih luas pada peningkatan proses secara menyeluruh |
Karier di Bidang Quality Control
Bidang quality control membuka banyak peluang karier, mulai dari posisi teknis hingga manajerial. Perannya tidak hanya soal mengecek barang, tetapi juga menganalisis data, menyusun sistem, dan memastikan standar kualitas berjalan konsisten.
Berikut beberapa posisi yang umum ditemukan di bidang ini:
Quality Control Engineer
Quality Control Engineer bertanggung jawab merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi sistem pengendalian mutu di perusahaan.
Perannya tidak hanya memastikan produk sesuai standar, tetapi juga menganalisis proses produksi untuk menemukan potensi ketidaksesuaian sebelum menjadi masalah besar.
Posisi ini menuntut kemampuan teknis yang kuat karena berkaitan dengan spesifikasi produk, analisis data kualitas, serta optimalisasi proses agar lebih efisien dan minim cacat.
Quality Inspector
Quality Inspector bekerja langsung di lapangan dan berperan sebagai pengawas kualitas pada tahap operasional.
Mereka melakukan pemeriksaan, pengujian, dan pencatatan hasil inspeksi selama atau setelah proses produksi.
Peran ini krusial karena menjadi titik penyaringan terakhir sebelum produk sampai ke pelanggan. Ketelitian dan konsistensi menjadi kunci dalam posisi ini.
Data Analyst di Bidang Quality Control
Seiring meningkatnya penggunaan sistem digital dalam produksi, peran Data Analyst di bidang QC semakin penting.
Mereka mengolah data hasil inspeksi dan pengujian untuk menemukan pola, tren, atau penyebab berulang dari cacat produk.
Dari analisis tersebut, perusahaan bisa mengambil keputusan berbasis data untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi produksi.
Quality Assurance Coordinator
Meskipun lebih berfokus pada pencegahan daripada pemeriksaan hasil akhir, Quality Assurance Coordinator tetap berada dalam ekosistem manajemen mutu.
Mereka bertugas memastikan proses kerja, prosedur, dan standar telah dirancang dengan baik agar potensi kesalahan bisa diminimalkan sejak awal. Peran ini sering terlibat dalam penyusunan SOP, audit internal, dan evaluasi kepatuhan terhadap standar industri.
Quality Control Manager
Quality Control Manager berada di level manajerial dan mengawasi keseluruhan sistem pengendalian mutu dalam organisasi.
Mereka menetapkan kebijakan kualitas, memantau kinerja tim, serta memastikan standar diterapkan secara konsisten di seluruh lini produksi.
Selain pemahaman teknis, posisi ini juga membutuhkan kemampuan kepemimpinan dan komunikasi yang kuat karena harus menjembatani tim operasional dengan manajemen perusahaan.
Baca juga: Perusahaan Manufaktur: Pengertian, Proses Bisnis & Tips Mendirikannya
Kesimpulan
Quality control membantu bisnis menjaga konsistensi kualitas, menekan risiko kesalahan, dan mempertahankan kepercayaan pelanggan dalam jangka panjang.
Tanpa sistem pengendalian yang jelas, standar mudah bergeser dan biaya operasional bisa meningkat tanpa disadari.
Di era digital, proses pengendalian mutu juga semakin bergantung pada pencatatan dan analisis data yang akurat.
Monitoring produksi, pelacakan tingkat cacat, hingga evaluasi efisiensi operasional akan jauh lebih terukur ketika didukung sistem pencatatan yang rapi dan laporan yang real-time.
Pengelolaan data yang baik membantu manajemen mengambil keputusan berbasis angka, bukan sekadar asumsi.
Jika bisnis Anda ingin proses operasional dan pengawasan kinerja lebih terkontrol, penggunaan software akuntansi online dan sistem manajemen yang terintegrasi bisa menjadi langkah awal yang tepat.
Anda dapat mencoba Kledo secara gratis melalui tautan ini dan melihat bagaimana pencatatan serta laporan yang akurat dapat membantu manajemen bisnis berjalan lebih efektif.
- Quality Control dan Perannya dalam Menjaga Standar Bisnis - 27 Februari 2026
- Continuous Improvement: Prinsip, Metode, dan Cara Menerapkannya dalam Bisnis - 26 Februari 2026
- Akuntansi Organisasi Nirlaba: Karakteristik dan Cara Penerapannya - 26 Februari 2026