Laporan posisi keuangan atau yang biasa dikenal dengan neraca adalah salah satu dari empat laporan keuangan utama yang harus ada dalam bisnis.
Sebuah bisnis menyimpan berbagai jenis catatan keuangan untuk memantau kinerjanya dan memastikan bahwa pajak dibayar, dan laporan ini adalah salah satunya.
Laporan posisi keuangan sangat penting untuk Anda memastikan kesehatan keuangan bisnis secara keseluruhan.
Pada artikel ini, kita akan membahas apa itu laporan posisi keuangan, contoh dan sedikit perbedaannya dengan neraca keuangan, jadi baca terus artikel ini sampai dengan selesai.
Apa itu Laporan Posisi Keuangan?

Laporan posisi keuangan kadang-kadang disebut sebagai neraca, adalah bagian dari dokumen keuangan yang menyajikan posisi aset, kewajiban, dan ekuitas dalam suatu organisasi.
Ini mewakili posisi keuangan suatu perusahaan pada hari tertentu, menjadi hari terakhir dari periode pelaporan. Ini memberikan pemahaman tentang kesehatan keuangan bisnis pada tanggal tertentu.
Serangkaian laporan keuangan disajikan setiap tahun kepada investor untuk memberi mereka informasi tentang hasil keuangan dan posisi keuangan perusahaan.
Salah satu komponen laporan keuangan adalah laporan posisi keuangan. Ini berisi rincian aset perusahaan, kewajiban yang harus dibayar oleh perusahaan, dan ekuitas di perusahaan.
Posisi pos-pos tersebut tercantum dalam dokumen posisi keuangan pada akhir periode pelaporan. Itu harus disiapkan setiap tahun, tetapi juga dapat disiapkan secara setengah tahunan atau triwulanan.
Laporan ini membantu para pemangku kepentingan seperti pemegang saham, pemerintah, dan analis memahami kesehatan keuangan perusahaan, dan mereka juga dapat membandingkan informasi dengan periode sebelumnya atau dengan perusahaan lain yang beroperasi di industri serupa.
Baca juga: Mengenal 5 Jenis Laporan Keuangan dalam Akuntansi, Apa Saja?
Manfaat Laporan Posisi Keuangan
Manfaat dari catatan posisi keuangan adalah untuk menyajikan informasi yang benar tentang aset, kewajiban, dan ekuitas perusahaan. Ini membantu untuk mengungkapkan posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu.
Informasi yang terkandung dalam laporan tersebut membantu investor dan pemangku kepentingan lainnya untuk analisis keuangan yang menjadi dasar pengambilan keputusan investasi.
Selanjutnya, investor juga dapat membandingkan laporan posisi keuangan akhir tahun dengan laporan tahun lalu untuk mengetahui seberapa besar penyimpangan yang terjadi.
Ini dapat memberi mereka pemahaman tentang bagaimana kinerja perusahaan.
Laporan perusahaan juga dapat dibandingkan dengan perusahaan lain yang bekerja di industri serupa untuk memahami apakah perusahaan lebih baik dari yang lain.
Catatan itu juga berguna bagi manajemen karena membantu mereka melacak posisi keuangan perusahaan dan mengambil langkah-langkah untuk perbaikan.
Berikut daftar manfaat catatan posisi keuangan dalam bisnis
- Catatan posisi keuangan menunjukkan nilai keseluruhan bisnis. Merupakan persyaratan hukum bagi semua perseroan terbatas untuk menyiapkan laporan keuangan ini.
- Investor dan calon investor dapat menggunakan catatan posisi keuangan untuk menentukan apakah mereka akan mendapatkan pengembalian yang baik atas investasi mereka.
- Pemasok dan kreditur dapat menggunakannya untuk menentukan tingkat risiko yang terlibat dalam meminjamkan atau memasok ke bisnis
- Laporan ini dapat digunakan untuk menganalisis rasio-rasio yang dapat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya atau para pesaing. Ini akan lebih membantu pengambilan keputusan di masa depan
- Laporan posisi keuangan dapat digunakan untuk menunjukkan nilai semua aset lancar, aset tidak lancar, kewajiban, dan kewajiban tidak lancar.
Baca juga: Pengertian Sensitivity Analysis dalam Laporan Keuangan dan Contohnya
Komponen Laporan Posisi Keuangan

Laporan posisi keuangan memberikan gambaran menyeluruh mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas suatu entitas pada suatu titik waktu tertentu.
Komponen-komponen utama dalam laporan ini penting untuk memahami posisi keuangan dan likuiditas perusahaan. Secara umum, laporan ini dibagi menjadi tiga bagian utama: Aset, Kewajiban, dan Ekuitas.
Aset
Aset merupakan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dan diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi di masa depan. Aset dibagi menjadi dua kategori utama: aset lancar dan aset tidak lancar.
Aset lancar
Aset lancar adalah aset yang diperkirakan akan dicairkan atau digunakan dalam jangka waktu kurang dari satu tahun. Beberapa contoh aset lancar antara lain:
- Kas dan setara kas: Uang tunai yang tersedia untuk digunakan segera.
- Piutang usaha: Tagihan yang timbul dari penjualan barang atau jasa yang belum dibayar oleh pelanggan.
- Persediaan: Barang atau bahan yang dimiliki untuk dijual atau digunakan dalam produksi.
- Beban dibayar di muka: Pembayaran untuk barang atau jasa yang akan diterima di masa depan, seperti sewa atau asuransi.
Aset tidak lancar
Aset tidak lancar adalah aset yang diperkirakan akan memberikan manfaat ekonomi dalam jangka waktu lebih dari satu tahun. Beberapa contoh aset tidak lancar meliputi:
- Aset tetap: Aset yang digunakan dalam operasional perusahaan dan memiliki umur manfaat panjang, seperti tanah, bangunan, dan peralatan.
- Aset tak berwujud: Aset yang tidak memiliki bentuk fisik, seperti hak paten, merek dagang, atau goodwill.
- Investasi jangka panjang: Investasi yang dimiliki untuk jangka waktu lebih dari satu tahun, seperti saham atau obligasi yang tidak dimaksudkan untuk dijual dalam waktu dekat.
- Aset lainnya yang tidak likuid: Aset lain yang sulit untuk diuangkan atau dijual dalam jangka waktu pendek.
Kewajiban
Kewajiban mencakup utang atau kewajiban yang harus dibayar oleh perusahaan kepada pihak lain. Kewajiban juga dibagi menjadi dua kategori: kewajiban lancar dan kewajiban tidak lancar.
Kewajiban lancar
Kewajiban lancar adalah kewajiban yang harus diselesaikan dalam jangka waktu kurang dari satu tahun. Contohnya adalah:
- Utang usaha: Utang yang timbul dari transaksi bisnis normal, seperti pembayaran kepada pemasok.
- Utang jangka pendek lainnya: Kewajiban lainnya yang harus dibayar dalam waktu dekat, seperti utang pajak atau utang bank jangka pendek.
- Beban yang masih harus dibayar: Beban yang sudah terjadi, tetapi belum dibayar, seperti gaji yang belum dibayar atau biaya lainnya yang masih harus dilunasi.
Kewajiban tidak lancar
Kewajiban tidak lancar adalah kewajiban yang jatuh tempo dalam waktu lebih dari satu tahun. Beberapa contohnya adalah:
- Utang jangka panjang: Utang yang harus dibayar dalam jangka waktu lebih dari satu tahun, seperti pinjaman bank atau obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan.
- Liabilitas pensiun atau kewajiban imbalan pasca-kerja: Kewajiban yang terkait dengan pembayaran pensiun atau imbalan lainnya yang diberikan kepada karyawan setelah pensiun.
Ekuitas
Ekuitas merupakan selisih antara total aset dan total kewajiban perusahaan. Ini mencerminkan kepemilikan atas perusahaan yang dimiliki oleh pemegang saham. Komponen-komponen dalam ekuitas antara lain:
- Cadangan ekuitas lainnya: Posisi ekuitas lainnya yang dapat mencakup cadangan modal, cadangan revaluasi, atau cadangan untuk tujuan tertentu sesuai kebijakan perusahaan.l tentu dapat memberikan kesan yang jelas di bidang ini karena beban operasional seharusnya meningkat lebih dari periode keuangan sebelumnya, kecuali jika pendapatan perusahaan juga meningkat.
- Modal disetor: Jumlah yang diinvestasikan oleh pemegang saham atau pemilik perusahaan.
- Laba ditahan: Laba yang tidak dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen, tetapi ditahan untuk reinvestasi atau ekspansi perusahaan.
Baca juga: Laporan Keuangan Koperasi: Jenis, Standar, dan Contohnya
Bentuk Laporan Posisi Keuangan
Laporan posisi keuangan mencatat semua aset, liabilitas, dan ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan pada saat tertentu.
Terdapat dua bentuk catatan posisi keuangan, yaitu:
Bentuk laporan vertikal
Bentuk catatan posisi keuangan vertikal menampilkan posisi keuangan perusahaan pada suatu waktu tertentu secara vertikal.
Dalam bentuk ini, posisi keuangan perusahaan dikelompokkan menjadi tiga bagian utama, yaitu aktiva, liabilitas, dan ekuitas.
Setiap kelompok dikelompokkan lebih lanjut menjadi sub-kelompok untuk memberikan informasi yang lebih rinci.
Bentuk ini lebih sederhana dan mudah dipahami oleh pemilik usaha kecil dan menengah atau investor pemula.
Bentuk laporan horizontal
Bentuk catatan posisi keuangan horizontal menampilkan posisi keuangan perusahaan pada suatu waktu tertentu secara horizontal.
Dalam bentuk ini, posisi keuangan perusahaan dikelompokkan menjadi beberapa periode sebelumnya, biasanya dalam tiga sampai lima tahun terakhir.
Dalam bentuk ini, perubahan dalam posisi keuangan perusahaan selama beberapa periode dapat dengan mudah dilihat dan dianalisis.
Bentuk ini cocok untuk perusahaan yang ingin menunjukkan pertumbuhan atau penurunan posisi keuangannya selama beberapa periode waktu.
Baca juga: Contoh Laporan Keuangan Sederhana dalam Bisnis
Contoh Laporan Posisi Keuangan
Laporan Posisi Keuangan (Per 31 Desember 2025)
| Komponen | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Aset | |
| Aset Lancar | |
| – Kas dan setara kas | 150.000.000 |
| – Piutang usaha | 100.000.000 |
| – Persediaan | 80.000.000 |
| – Beban dibayar di muka | 20.000.000 |
| Total Aset Lancar | 350.000.000 |
| Aset Tidak Lancar | |
| – Aset tetap (tanah, bangunan) | 500.000.000 |
| – Aset tak berwujud (goodwill) | 50.000.000 |
| – Investasi jangka panjang | 200.000.000 |
| Total Aset Tidak Lancar | 750.000.000 |
| Total Aset | 1.100.000.000 |
| Kewajiban | |
| Kewajiban Lancar | |
| – Utang usaha | 120.000.000 |
| – Utang jangka pendek lainnya | 50.000.000 |
| – Beban yang masih harus dibayar | 30.000.000 |
| Total Kewajiban Lancar | 200.000.000 |
| Kewajiban Tidak Lancar | |
| – Utang jangka panjang | 300.000.000 |
| – Liabilitas pensiun | 50.000.000 |
| Total Kewajiban Tidak Lancar | 350.000.000 |
| Total Kewajiban | 550.000.000 |
| Ekuitas | |
| – Modal disetor | 300.000.000 |
| – Laba ditahan | 150.000.000 |
| – Cadangan ekuitas lainnya | 100.000.000 |
| Total Ekuitas | 550.000.000 |
| Total Kewajiban dan Ekuitas | 1.100.000.000 |
Interpretasi laporan posisi keuangan
Aset
- Total Aset Lancar (Rp 350.000.000) menunjukkan bahwa perusahaan memiliki cukup likuiditas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Ini mencakup kas, piutang, persediaan, dan beban yang dibayar di muka yang dapat dengan mudah dikonversi menjadi uang tunai.
- Total Aset Tidak Lancar (Rp 750.000.000) menunjukkan bahwa perusahaan memiliki aset jangka panjang yang substansial, seperti aset tetap (tanah dan bangunan), serta investasi jangka panjang yang diharapkan dapat memberikan manfaat di masa depan.
Kewajiban
- Total Kewajiban Lancar (Rp 200.000.000) menunjukkan utang yang perlu dibayar dalam waktu dekat, termasuk utang usaha dan kewajiban lainnya. Ini adalah kewajiban yang harus dipenuhi dalam 12 bulan.
- Total Kewajiban Tidak Lancar (Rp 350.000.000) meliputi utang jangka panjang dan liabilitas pensiun, yang merupakan kewajiban yang lebih tahan lama dan tidak perlu dibayar dalam waktu dekat.
Ekuitas
- Total Ekuitas (Rp 550.000.000) menunjukkan nilai perusahaan yang tersisa setelah dikurangi kewajiban. Angka ini menggambarkan kekayaan bersih perusahaan yang dapat digunakan untuk ekspansi, investasi, atau distribusi kepada pemegang saham.
- Modal disetor (Rp 300.000.000) menunjukkan kontribusi dari pemegang saham terhadap perusahaan.
- Laba ditahan (Rp 150.000.000) menunjukkan keuntungan yang telah dihasilkan perusahaan yang tidak dibagikan sebagai dividen tetapi disimpan untuk investasi atau keperluan lainnya.
Baca juga: Laporan Keuangan Syariah: Prinsip, Komponen, dan Contohnya
Bagaimana Cara Membuat Laporan Posisi Keuangan?
Laporan posisi keuangan sangat penting bagi pemilik perusahaan, investor, dan pihak luar lainnya untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan.
Pada bagian iini, kita akan membahas langkah-langkah untuk membuat catatan posisi keuangan:
Tentukan periode waktu laporan posisi keuangan yang akan dibuat
Langkah pertama dalam membuat laporan posisi keuangan adalah menentukan periode waktu laporan yang akan dibuat.
Misalnya, apakah laporan posisi keuangan akan dibuat untuk 1 tahun terakhir atau untuk 3 bulan terakhir.
Kumpulkan data keuangan perusahaan
Langkah selanjutnya adalah mengumpulkan semua data keuangan perusahaan pada akhir periode waktu yang ditentukan.
Data ini dapat diperoleh dari catatan keuangan, buku besar, jurnal, dan bukti transaksi keuangan lainnya.
Kelompokkan data keuangan menjadi tiga bagian utama
Setelah data keuangan telah dikumpulkan, kelompokkan data tersebut menjadi tiga bagian utama, yaitu aktiva, liabilitas, dan ekuitas.
Aktiva mencakup semua kekayaan perusahaan seperti kas, piutang, persediaan, aset tetap, dan aset lancar lainnya.
Liabilitas mencakup semua utang perusahaan seperti hutang dagang, hutang bank, hutang pajak, dan liabilitas lancar lainnya.
Ekuitas mencakup semua dana yang dimiliki oleh pemilik perusahaan seperti modal saham, laba ditahan, dan laba tahun berjalan.
Susun data keuangan berdasarkan kategori yang relevan
Dalam setiap kelompok, susun data keuangan tersebut berdasarkan kategori yang relevan.
Misalnya, dalam kelompok aktiva, kelompokkan berdasarkan urutan likuiditas, yaitu kas, piutang, persediaan, aset tetap, dan aset lancar lainnya.
Buat laporan posisi keuangan
Setelah data keuangan telah dikelompokkan, buatlah laporan posisi keuangan dengan menempatkan aktiva di sebelah kiri dan liabilitas serta ekuitas di sebelah kanan.
Susun data dalam bentuk tabel dengan kolom-kolom untuk nama dan jenis aktiva, jumlah aktiva, nama dan jenis liabilitas, jumlah liabilitas, dan jumlah ekuitas.
Jumlah total aktiva harus sama dengan jumlah total liabilitas dan ekuitas.
Analisis laporan posisi keuangan
Analisis laporan posisi keuangan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang kondisi keuangan perusahaan.
Misalnya, perhatikan rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio profitabilitas untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan.
Baca juga: Bagaimana Hubungan Antar Laporan Keuangan? Ini Penjelasan Lengkapnya
Analisis Laporan Posisi Keuangan
Analisis Laporan Posisi Keuangan bertujuan untuk memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai kesehatan keuangan suatu perusahaan melalui berbagai rasio keuangan, tren posisi keuangan, dan catatan atas laporan.
Berikut adalah cara-cara untuk menganalisis laporan posisi keuangan menggunakan rasio keuangan, tren posisi keuangan, dan catatan atas laporan.
Rasio keuangan
Rasio keuangan adalah alat utama yang digunakan untuk menganalisis kinerja keuangan perusahaan. Rasio-rasio ini membantu menilai berbagai aspek seperti likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas perusahaan.
1. Rasio likuiditas
Rasio likuiditas mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dengan menggunakan aset lancar yang dimilikinya. Beberapa rasio likuiditas yang umum digunakan adalah:
Current Ratio (Rasio Lancar)
Mengukur sejauh mana aset lancar perusahaan dapat menutupi kewajiban lancar. Rasio ini dihitung dengan rumus:
Current Ratio = Aset Lancar / Kewajiban Lancar
Contoh perhitungan (dari laporan sebelumnya):
Current Ratio = 350.000.000 / 200.000.000 = 1,75
Interpretasi: Rasio 1,75 berarti perusahaan memiliki aset lancar yang cukup untuk menutupi kewajiban jangka pendeknya. Umumnya, rasio yang ideal adalah di atas 1, menunjukkan likuiditas yang sehat.
Rasio ini mirip dengan current ratio, namun lebih ketat karena tidak memperhitungkan persediaan yang bisa saja tidak mudah dijual dengan cepat.
Rasio cepat dihitung dengan rumus:
Quick Ratio = (Aset Lancar - Persediaan) / Kewajiban Lancar
Misalnya:
Quick Ratio = (350.000.000 - 80.000.000) / 200.000.000 = 1,35
Interpretasi: Dengan quick ratio 1,35, perusahaan masih cukup likuid tanpa harus mengandalkan persediaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
2. Rasio solvabilitas
Rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur sejauh mana perusahaan menggunakan utang untuk mendanai asetnya, dan sejauh mana perusahaan dapat memenuhi kewajiban jangka panjangnya.
Rasio solvabilitas yang penting antara lain:
Debt to Equity Ratio (Rasio Utang terhadap Ekuitas)
Mengukur proporsi utang perusahaan dibandingkan dengan ekuitas yang dimiliki. Rasio ini dihitung dengan rumus:
Debt to Equity Ratio = Total Kewajiban / Total Ekuitas
Berdasarkan contoh laporan posisi keuangan di atas:
Debt to Equity Ratio = 550.000.000 / 550.000.000 = 1,0
Interpretasi: Rasio 1,0 menunjukkan bahwa perusahaan menggunakan utang yang setara dengan ekuitas untuk mendanai operasi dan ekspansinya.
Rasio ini mengindikasikan bahwa perusahaan cukup seimbang dalam penggunaan utang dan ekuitas, meskipun proporsi utang yang tinggi bisa menjadi risiko jika terjadi ketidakmampuan membayar utang.
3. Rasio profitabilitas
Rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dibandingkan dengan sumber daya yang dimiliki.
Salah satu rasio profitabilitas yang umum digunakan adalah:
Return on Assets (ROA) – Pengembalian atas Aset
Mengukur seberapa efisien perusahaan menggunakan asetnya untuk menghasilkan laba. ROA dihitung dengan rumus:
ROA = Laba Bersih / Total Aset
Misalnya, jika laba bersih perusahaan adalah Rp 100.000.000:
ROA = 100.000.000 / 1.100.000.000 = 9,09%
Interpretasi: ROA sebesar 9,09% menunjukkan bahwa perusahaan menghasilkan laba sebesar 9,09% dari setiap unit aset yang dimilikinya.
Semakin tinggi nilai ROA, semakin efisien perusahaan dalam mengelola asetnya untuk menghasilkan laba.
Tren posisi keuangan
Tren posisi keuangan menunjukkan perubahan posisi keuangan perusahaan dari waktu ke waktu, dan ini sangat berguna untuk melihat perkembangan dan arah masa depan perusahaan.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam menganalisis tren adalah:
Perbandingan dengan Periode Sebelumnya
Mengamati perubahan dalam aset, kewajiban, dan ekuitas dibandingkan dengan periode sebelumnya dapat memberikan wawasan tentang pertumbuhan atau penurunan kinerja perusahaan. Misalnya:
Jika total aset meningkat dari Rp 1.000.000.000 di tahun sebelumnya menjadi Rp 1.100.000.000, hal ini menunjukkan pertumbuhan aset sebesar 10%.
Jika total kewajiban meningkat lebih cepat dibandingkan dengan ekuitas, maka rasio utang terhadap ekuitas bisa memburuk, yang berarti perusahaan lebih bergantung pada utang.
Identifikasi Pola Perkembangan
Tren yang baik adalah ketika perusahaan berhasil meningkatkan aset dan ekuitas lebih cepat daripada kewajiban, yang menunjukkan pertumbuhan yang sehat.
Sebaliknya, jika kewajiban tumbuh lebih cepat, perusahaan mungkin menghadapi risiko keuangan yang lebih tinggi.
Catatan atas laporan posisi keuangan
Catatan atas laporan posisi keuangan memberikan informasi lebih lanjut mengenai kebijakan akuntansi yang digunakan perusahaan, asumsi yang diterapkan dalam estimasi, dan penjelasan rinci tentang item-item tertentu dalam laporan. Beberapa hal yang bisa dijelaskan dalam catatan ini antara lain:
Kebijakan Akuntansi
- Penjelasan tentang bagaimana perusahaan mengakui pendapatan, mengukur nilai aset, dan menghitung kewajiban.
- Penggunaan metode depresiasi untuk aset tetap (misalnya metode garis lurus atau metode saldo menurun).
- Perlakuan terhadap instrumen keuangan, seperti bagaimana investasi jangka panjang dicatat.
Asumsi dan Estimasi
- Asumsi yang digunakan dalam mengukur nilai aset dan kewajiban (misalnya nilai wajar dari aset tetap atau estimasi liabilitas pensiun).
- Penjelasan tentang estimasi yang mungkin berubah seiring waktu, seperti proyeksi arus kas masa depan untuk menentukan nilai wajar.
Informasi Lainnya
Penjelasan mengenai pos-pos yang tidak langsung tercermin dalam laporan posisi keuangan, seperti komitmen dan kontinjensi yang dapat memengaruhi posisi keuangan di masa depan (misalnya, komitmen kontrak sewa atau potensi kewajiban hukum).
Baca juga: Cara Membaca Laporan Keuangan untuk Pemula
Sedikit Perbedaan Antara Laporan Posisi Keuangan dan Neraca
Neraca dan laporan posisi keuangan sangat mirip satu sama lain karena keduanya menawarkan gambaran umum tentang posisi keuangan organisasi pada akhir tahun.
Namun, ada sejumlah perbedaan penting antara neraca dan laporan posisi keuangan.
Neraca dibuat oleh bisnis yang beroperasi dengan laba sementara laporan posisi keuangan dibuat oleh organisasi nirlaba.
Berbeda dengan perusahaan yang mengejar profit, non profit tidak memiliki pemilik dan karenanya tidak mencatat ekuitas pemegang saham.
Pelaporan aset dalam laporan posisi keuangan juga sangat berbeda dengan neraca.
Laporan posisi keuangan membagi aset bersih menjadi tiga kategori lebih lanjut yang meliputi: tidak dibatasi, dibatasi sementara dan dibatasi secara permanen.
Aset-aset terpisah yang pengeluarannya dibatasi untuk sementara ini adalah tempat pengeluaran dibatasi untuk proyek-proyek tertentu.
Dibatasi secara permanen adalah di mana donatur menentukan untuk apa dana tersebut dapat dibelanjakan.
Pemisahan di antara aset tersebut tidak dilakukan pada neraca. Namun, neraca juga membagi asetnya menjadi aset lancar, aset tetap, aset tidak berwujud, dll.
Baca juga: Audit Laporan Keuangan: Tahapan, Manfaat, dan Batasan
FAQ
Apa yang dimaksud laporan posisi keuangan?
Laporan posisi keuangan adalah laporan keuangan yang menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada periode tertentu.
Apa saja fungsi laporan posisi keuangan?
Beberapa fungsi laporan posisi keuangan antara lain: memberikan informasi mengenai aset, liabilitas, dan ekuitas perusahaan, membantu pemilik perusahaan dalam pengambilan keputusan, memudahkan analisis keuangan, memfasilitasi proses auditing dan pelaporan pajak.
Apa saja isi laporan posisi keuangan?
Beberapa isi laporan posisi keuangan antara lain: aktiva (kas, piutang, persediaan, aset tetap, dll), liabilitas (hutang dagang, hutang bank, hutang pajak, dll), dan ekuitas (modal saham, laba ditahan, dll).
Kesimpulan
Laporan posisi keuangan merupakan bagian dari laporan keuangan organisasi dan memberikan wawasan yang berguna bagi pengguna tentang kesehatan keuangan perusahaan.
Laporan tersebut harus disiapkan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku untuk perusahaan berdasarkan peraturan yang berlaku.
Untuk proses membuat laporan keuangan yang lebih mudah dan praktis, Anda bisa menggunakan Kledo sebagai software akuntansi dalam bisnis Anda.
Dengan menggunakan Kledo Anda bisa dengan mudah melakukan pencatatan pembukuan, manajemen aset dan persediaan, pembuatan faktur, hingga otomasi lebih dari 35 jenis laporan keuangan untuk usaha Anda.
Anda juga bisa menggunakan Kledo secara gratis selama 14 hari atau selamannya melalui tautan ini.
- Rekening Koran: Komponen, Cara Mendapatkan, dan Fungsinya - 29 Januari 2026
- Laporan Posisi Keuangan: Contoh, Komponen, dan Analisisnya - 23 Januari 2026
- Rekap Webinar: Kledo X Disera Tentang Personal Branding untuk Bisnis - 19 Januari 2026
