Inflation Accounting: Pengertian, Metode, Tujuan dan Contohnya

Inflation Accounting banner

Inflation accounting adalah strategi untuk memperhitungkan kenaikan harga barang di seluruh dunia dalam laporan keuangan perusahaan selama inflasi.

Biaya-biaya ini disesuaikan berdasarkan angka-angka yang dilaporkan oleh perusahaan-perusahaan internasional, yang membantu menyajikan gambaran yang jelas mengenai posisi keuangan perusahaan.

Angka-angka yang dilaporkan bergantung pada indeks harga dan bukan hanya berdasarkan akuntansi biaya dan sering digunakan pada saat inflasi. Selain itu, metode ini juga disebut sebagai akuntansi tingkat harga karena ketergantungannya pada indeks harga.

Baca terus artikel untuk memahami cara kerja inflation accounting, metode inflation accounting, contoh, manfaat, dan batasannya.

Pengertian Inflation Accounting

Inflasi terjadi ketika jumlah uang yang beredar melebihi produksi barang dan jasa.

Akibatnya, dalam lingkungan inflasi, daya beli uang turun dan harga komoditas dan jasa naik.

Karena tekanan kenaikan harga inflasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di sebagian besar negara dalam beberapa dekade terakhir, akuntansi perubahan harga, yang dikenal sebagai inflation accounting, telah menjadi sinonim dengan inflation accounting.

Selama periode kenaikan harga yang berkelanjutan, biaya historis kehilangan relevansinya. Akibatnya, pengukuran tersebut mungkin menyesatkan dalam mengukur nilai ekonomi.

Karena alasan ekonomi, politik, dan sosial, harga tidak konstan. Perubahan harga mungkin disebabkan oleh inflasi atau deflasi.

Perubahan harga ini memerlukan inflation accounting yang efektif karena kebutuhan untuk menyajikan laporan keuangan yang akurat.

Laporan keuangan disusun berdasarkan biaya historis dengan asumsi bahwa unit hitung (misalnya dolar) memiliki nilai statis.

Namun kenyataannya, nilai uang berubah seiring berjalannya waktu. Misalnya, sejak Perang Dunia Kedua, harga-harga berada dalam tren yang meningkat.

Laporan keuangan yang disusun berdasarkan biaya historis mempunyai beberapa kekurangan dalam konteks inflasi. Kekurangan tersebut antara lain:

  • Aset tetap dinyatakan sebesar biaya historis di neraca; nilai tersebut tidak menunjukkan nilai sebenarnya saat ini dan seringkali sangat rendah.
  • Penyusutan dibebankan pada harga perolehan aset. Akibatnya, penyisihan penyusutan juga tidak memadai untuk membiayai biaya penggantian aset tetap. Oleh karena itu, perusahaan mungkin harus menghadapi masalah serius karena kekurangan dana.
  • Dalam konteks kenaikan harga, terdapat kelebihan penyajian laba secara signifikan karena harga pokok penjualan dihitung berdasarkan biaya historis dan tidak ada penyisihan yang dibuat untuk pengurangan daya beli uang.

Lebih lanjut pada poin terakhir, perlu ditambahkan bahwa penyajian laba yang berlebihan akan mengakibatkan tekanan keuangan yang berat bagi perusahaan dalam hal dividen yang besar, pajak yang besar, dan sebagainya.

Inflation accounting berupaya memasukkan realisme ke dalam laporan keuangan dengan menyesuaikannya sehingga mencerminkan, dengan cara yang benar dan adil, kinerja keuangan dan posisi suatu perusahaan selama periode tertentu.

Neraca, yang disusun untuk suatu waktu tertentu, mencakup pos-pos seperti kas dan debitur yang dinyatakan berdasarkan daya beli saat ini.

Barang-barang lainnya, seperti persediaan, dinyatakan dalam satuan moneter yang mencerminkan daya beli di masa lalu.

Selain itu, item neraca lainnya, termasuk furnitur, tanah, pabrik, dan peralatan, dinyatakan berdasarkan harga perolehan.

Ketika tingkat harga umum meningkat dengan cepat, laba yang dilaporkan dari suatu perusahaan yang sebagian besar asetnya dinyatakan berdasarkan biaya historis akan dilebih-lebihkan.

Jika laba dilebih-lebihkan, maka biaya dan pengeluaran juga diremehkan. Hal ini dapat menyebabkan pelaporan keuntungan ilusi.

Dengan pertimbangan di atas, akuntan menggunakan inflation accounting untuk mengubah unit moneter dengan tingkat daya beli yang berbeda menjadi satu unit moneter.

Baca juga: Perbedaan ROI dan ROE Serta Pentingnya dalam Bisnis

Banner 3 kledo

Tujuan Inflation Accounting

Tujuan mendasar dari inflation accounting adalah untuk menyesuaikan angka biaya historis untuk perubahan substantif dalam tingkat perekonomian secara umum.

Berikut ini adalah beberapa tujuan khusus inflation accounting:

  • Untuk menghilangkan distorsi laporan keuangan yang timbul akibat penggunaan biaya historis
  • Untuk memberikan perbandingan antar periode yang lebih bermakna
  • Untuk meningkatkan makna dan pengukuran pendapatan dan pengeluaran dalam menghadapi perubahan daya beli uang
  • Untuk meningkatkan pengambilan keputusan dalam organisasi

Selain itu, informasi yang disesuaikan dengan inflasi membantu pengambil keputusan dengan cara berikut:

1. Alokasi modal dicapai melalui mekanisme harga di pasar modal

Penetapan harga berdasarkan informasi keuangan yang tidak lengkap atau menyesatkan akan mengakibatkan keputusan penetapan harga dan alokasi yang buruk.

Karena tingkat inflasi bervariasi dari tahun ke tahun, unsur ketidakpastian menjadi ciri aktivitas bisnis.

Selain itu, meskipun manajemen mungkin menyadari perlunya mempertimbangkan inflasi ketika mengambil keputusan bisnis, hal tersebut terhambat karena tidak adanya pengakuan eksplisit mengenai dampak inflasi dalam laporan keuangan.

Sistem inflation accounting, jika diperkenalkan, akan membantu berbagai pihak yang mempunyai kepentingan dan kepentingan dalam bisnis (misalnya pemegang saham, karyawan, pengguna eksternal, manajemen, dan pemerintah).

Baca juga: Akuntan Wajib Tahu Apa itu Golden Rules Of Accounting

2. Persiapan jangka panjang

Manajemen akan lebih siap untuk mengatasi permasalahan yang disebabkan oleh inflasi dan, pada gilirannya, produktivitas akan meningkat dalam jangka panjang.

3. Membantu kebijakan pemerintah

Informasi mengenai perubahan harga tertentu pada perusahaan atau industri dapat membantu pembuat kebijakan untuk memahami dampak inflasi pada masing-masing industri.

Inflation accounting juga memungkinkan pengungkapan yang lebih jelas dan, pada gilirannya, membantu pemerintah dalam pengambilan kebijakan.

4. Membantu masyarakat

Pemahaman masyarakat terhadap dunia usaha serta berbagai dampak inflasi semakin meningkat.

Hal ini berarti bahwa dunia usaha dipandang kurang kritis oleh masyarakat, dapat memobilisasi dana untuk ekspansi, dapat memperoleh investasi baru, dan juga menyediakan lapangan kerja.

Baca juga: 15 Manfaat Cloud Accounting Dalam Bisnis

Metode Inflation Accounting

Inflation Accounting 2

Berbagai metode telah diusulkan dalam akuntansi untuk mencerminkan perubahan sebenarnya dalam daya beli uang. Namun, belum ada konsensus yang dicapai mengenai solusi spesifik.

Badan-badan profesional di berbagai negara sepakat bahwa metode yang digunakan dalam penghitungan inflasi harus akurat, masuk akal, efektif, dan mudah diterapkan.

Berikut ini adalah metode utama yang telah diusulkan untuk inflation accounting:

1. Metode current purchasing power (CPP)

Dalam metode ini, elemen uang dan nonmoneter dipisahkan untuk hanya mencatat laba atau rugi bersih. Selain itu, komponen nonmoneter diperbarui menjadi angka menggunakan faktor konversi yang setara dengan indeks harga tertentu. Rumus dalam metode ini adalah:

  • Faktor Konversi (dalam Metode CPP) = Harga pada Periode Saat Ini / Harga pada Periode Sejarah
  • Nilai CPP = Jumlah Konversi atau Nilai Historis x Faktor Konversi

2. Metode current cost accounting (CCA)

Metode ini mengevaluasi aset berdasarkan Nilai Pasar Wajar atau Fair Value Market (FMV) dan bukan pada biaya historisnya pada saat pembelian aset tetap. Namun, metode ini menyatakan kembali elemen moneter dan nonmoneter ke nilainya saat ini.

Baca juga: Lean Accounting Adalah: Prinsip, Manfaat, dan Penerapannya

3. Metode nilai saat ini

Metode ini mengukur dan mengembalikan seluruh aset dan liabilitas pada struktur biaya saat ini.

4. Metode akuntansi biaya penggantian

Metode ini mencatat biaya penggantian, yang merupakan parameter seluruh aset dan kewajiban di neraca.

Contoh Penghitungan Inflation Accounting

Berikut adalah beberapa contoh inflation accounting untuk membantu Anda memahami konsep ini:

Contoh 1

Perusahaan PT ABC. terlibat dalam pembuatan dan pembelian mesin pada tahun 2014 seharga. 10.000.000. Perusahaan ini menggunakan teknik inflation accounting untuk mengembalikan catatan keuangannya untuk tahun 2022.

Berapakah harga pokok pembelian mesin saat ini pada tahun 2014 jika indeks harga umum pada tahun 2014 adalah 400.000 dan pada tahun 2022 adalah 600.000?

Solusi

  • Indeks harga saat ini = 600.000
  • Indeks harga dasar = 400.000
  • Biaya Historis = 10.000.000

Karena itu,

  • Biaya Saat Ini

= Indeks harga saat ini / Indeks harga dasar x biaya historis

= Rp.(600.000 / 400.000 x 10.000.000)

= Rp.15.000.000.

Oleh karena itu, biaya saat ini adalah Rp.15.000.000 dan dicatat sebagai saldo akhir di neraca.

Baca juga: Memahami Creative Accounting dalam Proses Akuntansi Bisnis

Contoh 2

Berikut ilustrasi yang menunjukkan Tuan X membeli peralatan pada tanggal 1 Januari 2015 seharga 50.000.000.

Pada hari itu, indeks harga konsumen berada di angka 150.000, padahal pada 1 Januari 2022 berubah menjadi 300.000. Oleh karena itu, perlu dilakukan refleksi revaluasi nilai peralatan dengan metode CPP.

Solusi

Rinciannya telah disusun dalam tabel berikut:

Tanggal DetailsNilai
Jan 01, 2015Pembelian Peralatan50.000.000
Jan 01, 2015Indeks harga konsumen150.000
Jan 01, 2022Indeks harga konsumen300.000

Dengan menggunakan rumus faktor konversi,

Faktor konversi (dalam Metode CPP)

= Harga pada Periode Saat Ini / Harga pada Periode Sejarah

= 300.000/150.000

= 2

Karena itu,

Biaya revaluasi

= Harga historis / Faktor konversi

= Rp(50.000.000 / 2)

= Rp25.000.000

Jadi, biaya revaluasi peralatan dengan metode CPP adalah 25.000.000.

Baca juga: Perbedaan Accounting dan Finance Beserta Hubungannya

Tujuan Inflation Accounting

Inflation Accounting 1

Kegunaan atau tujuan utama inflation accounting adalah sebagai berikut:

  • Hal ini memungkinkan kompensasi atas perubahan biaya dari waktu ke waktu dan memastikan proyeksi biaya masa depan yang akurat
  • Ini menghilangkan distorsi dalam laporan keuangan karena biaya historis
  • Ini memberikan perbandingan antar periode yang bermakna
  • inflation accounting diperlukan bagi perusahaan dengan aset tetap yang disusutkan pada tingkat tertentu
  • Ini meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dalam suatu organisasi
  • Jika suatu perusahaan memproduksi barang dan jasa yang terkena inflasi, inflation accounting membantu melacak perubahan nilai pengeluaran dari waktu ke waktu
  • Hal ini meningkatkan pengukuran pendapatan dan pengeluaran dalam menghadapi perubahan paritas daya beli

Baca juga: Inflasi dan Deflasi: Pengertian, Penyebab, dan Perbedaannya

Keuntungan Inflation Accounting

Keuntungan utama inflation accounting adalah:

  • Inflation accounting mencerminkan neraca perusahaan saat ini dan bukan neraca historis
  • Ini berguna selama inflasi umum atau hiperinflasi, karena dalam kasus seperti itu, ia memberikan banyak manfaat bagi pelanggannya
  • Hal ini memungkinkan analisis statistik yang lebih realistis dan dapat dibandingkan terhadap laporan keuangan perusahaan lain. Laba dan rugi dalam inflation accounting mencerminkan kondisi sebenarnya suatu perusahaan.
  • Ini memberikan rasio keuangan yang bermakna dengan penyesuaian nilai saat ini.

Baca juga: Payroll Accounting (Akuntansi Penggajian), Berikut Pembahasan Lengkapnya

Kekurangan Inflation Accounting

Keterbatasan inflation accounting adalah sebagai berikut :

  • Inflation accounting adalah proses yang rumit, sehingga lebih sulit untuk mengembalikan angka-angka perusahaan dan menyajikannya kepada investor.
  • Hal ini menciptakan masalah moral hazard bagi bisnis yang menipu pelanggan dengan keuangan mereka.
  • Hal ini menyebabkan banyak penyajian kembali dan laporan keuangan yang terus berubah.
  • Pada saat deflasi, biaya penyusutan akan rendah, yang tidak mencerminkan keadaan keuangan suatu entitas yang sebenarnya.

Baca juga: Pembahasan Lengkap Capital Rationing atau Penjatahan Modal

Kesimpulan

Inflation accounting adalah metode pelacakan perubahan nilai suatu aset yang terkena inflasi. Salah satu tantangan terbesarnya adalah mencatat semua pengeluaran yang dipengaruhi oleh inflasi.

Selain itu, melacak semua pengeluaran yang terkait dengan biaya produksi juga merupakan tantangan. Jadi, pastikan Anda menggunakan tools yang membantu Anda meningkatkan efisiensi proses bisnis Anda.

Salah satu yang bisa Anda gunakan adalah dengan menggunakan software akuntansi online seperti Kledo.

Dengan menggunakan Kledo, Anda bisa dengan mudah melakukan pencatatan pembukuan, manajemen persediaan, manajemen aset, membuat laporan keuangan instan, dan masih banyak lagi.

Jika Anda tertarik, Anda bisa mencoba menggunakan Kledo secara gratis selama 14 hari melalui tautan ini.

sugi priharto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − six =