Metode Penilaian Persediaan: FIFO, LIFO, dan WAC, Mana yang Terbaik?

metode penilaian persediaan banner

Memilih metode penilaian persediaan penting bagi setiap bisnis yang memiliki persediaan barang.

Metode penilaian persediaan menentukan nilai stok yang tercatat dan Harga Pokok Penjualan (HPP) dalam laporan keuangan serta bisa memengaruhi besar kecilnya laba dan pajak bisnis.

Masalahnya, harga barang yang dibeli tidak selalu sama. Misalnya, Anda membeli produk seharga Rp20.000 pada awal bulan, lalu membeli produk yang sama seharga Rp23.000 beberapa minggu kemudian.

Saat produk tersebut terjual, harga mana yang harus digunakan untuk menghitung HPP?

Artikel ini akan membahas jenis metode penilaian persediaan dan menentukan metode yang sesuai dengan jenis persediaan, pola pembelian, serta kebutuhan bisnis.

Apa Itu Metode Penilaian Persediaan?

Penilaian persediaan adalah proses menentukan nilai barang yang masih tersedia di gudang pada akhir periode serta nilai barang yang sudah terjual.

Proses ini terjadi karena harga pembelian persediaan dapat berbeda-beda, terutama ketika waktu pembelian barangnya berbeda.

Metode penilaian persediaan digunakan untuk menentukan biaya mana yang dianggap sebagai Harga Pokok Penjualan (HPP) dan berapa nilai persediaan yang masih tercatat sebagai aset.

Misalnya, Anda membeli 100 unit barang seharga Rp20.000 per unit, kemudian membeli 100 unit lagi seharga Rp22.000.

Ketika sebagian barang terjual, metode yang digunakan akan menentukan biaya yang dibebankan sebagai HPP dan nilai barang yang masih tersimpan.

Dengan demikian, hasil utama dari penilaian persediaan adalah nilai persediaan akhir dan HPP.

Keduanya akan memengaruhi laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan.

kledo banner 1

Baca juga: Nilai Persediaan Awal Tahun dan Cara Menghitungnya

Mengapa Metode Penilaian Persediaan Penting untuk Bisnis Anda?

Metode penilaian persediaan memengaruhi cara bisnis mencatat stok, memengaruhi HPP, laba, pajak, hingga keputusan bisnis sehari-hari.

Berikut penjelasan lengkapnya:

  1. Membantu menentukan harga jual dan mengelola stok: Nilai persediaan dan HPP membantu Anda mengetahui biaya sebenarnya untuk menyediakan produk. Informasi ini dapat menjadi dasar untuk menetapkan harga jual, menghitung margin, mengevaluasi keuntungan setiap produk, dan menentukan kapan perlu melakukan restock.
  2. Memengaruhi Harga Pokok Penjualan (HPP): Metode yang berbeda dapat menghasilkan nilai HPP yang berbeda. HPP yang lebih tinggi berarti biaya yang dibebankan ke penjualan juga lebih besar. Sebaliknya, HPP yang lebih rendah dapat membuat laba kotor terlihat lebih tinggi.
  3. Berdampak pada laba bersih: Karena HPP menjadi salah satu pengurang pendapatan, perubahan nilai HPP akan memengaruhi laba. Artinya, pilihan metode penilaian persediaan dapat membuat laba yang dilaporkan terlihat berbeda meskipun jumlah barang yang terjual sebenarnya sama.
  4. Berpengaruh pada kewajiban pajak: Perubahan laba sebelum pajak dapat memengaruhi besarnya pajak yang harus dibayar, sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku. Karena itu, bisnis perlu menggunakan metode penilaian persediaan secara konsisten dan sesuai standar akuntansi serta aturan pajak yang berlaku.

Baca Juga: Akuntansi Persediaan: Pengertian, Jenis Valuasi, dan Manfaatnya

Apa Saja Jenis Metode Penilaian Persediaan?

metode penilaian persediaan 1

Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan biaya persediaan, tetapi tidak semuanya diperbolehkan dalam standar akuntansi yang berlaku di Indonesia.

Dalam PSAK 202 tentang Persediaan, metode yang umum digunakan antara lain FIFO dan rata-rata tertimbang, sedangkan metode LIFO (Last In, First Out) tidak diperbolehkan.

1. Metode FIFO (First In, First Out)

FIFO (First In, First Out) atau masuk pertama, keluar pertama adalah metode yang menganggap barang yang pertama kali dibeli merupakan barang yang pertama kali dijual.

Dengan metode ini, barang yang masih tersimpan di gudang berarti dianggap barang yang lebih baru.

Metode ini mudah diterapkan pada bisnis yang menjual barang berdasarkan urutan masuk, seperti supermarket, toko bahan makanan, atau bisnis retail.

Metode ini juga cocok untuk barang yang mudah rusak atau memiliki masa simpan terbatas.

Contoh perhitungan FIFO

Misalnya, sebuah toko membeli produk sebagai berikut:

Tanggal Pembelian Harga per Unit Total
1 September 100 unit Rp 20.000 Rp 2.000.000
10 September 100 unit Rp 22.000 Rp 2.200.000

Pada 15 September, toko menjual 120 unit. Dengan FIFO, 100 unit pertama dihitung menggunakan harga Rp20.000, kemudian 20 unit berikutnya menggunakan harga Rp22.000.

HPP:

  • 100 unit × Rp20.000 = Rp2.000.000
  • 20 unit × Rp22.000 = Rp440.000
  • Total HPP = Rp2.440.000

Sementara itu, persediaan akhir adalah 80 unit dari pembelian 10 September: 80 unit × Rp22.000 = Rp1.760.000

Jadi, dari total 200 unit yang tersedia, 120 unit menjadi HPP dan 80 unit menjadi persediaan akhir.

Kelebihan FIFO:

  • Relatif mudah dipahami dan diterapkan.
  • Nilai persediaan akhir lebih mendekati harga pembelian terbaru.
  • Cocok untuk bisnis yang menjual barang berdasarkan urutan masuk.

Kekurangan FIFO:

Bisnis perlu memiliki pencatatan pembelian dan stok yang rapi agar perhitungan setiap lapisan persediaan tetap akurat.

Ketika harga barang terus meningkat, HPP cenderung menggunakan harga pembelian yang lebih lama sehingga laba yang dilaporkan dapat terlihat lebih tinggi.

2. Metode LIFO (Last In, First Out)

LIFO (Last In, First Out) adalah metode penilaian persediaan yang menganggap barang yang terakhir dibeli sebagai barang yang pertama kali dijual.

Dengan asumsi ini, barang yang lebih lama dibeli akan tetap tercatat sebagai persediaan akhir.

Sebagai contoh, sebuah toko membeli produk dalam dua tahap:

Tanggal Pembelian Harga per Unit Total
1 September 100 unit Rp 20.000 Rp 2.000.000
10 September 100 unit Rp 22.000 Rp 2.200.000

Jika toko menjual 120 unit pada 15 September, dengan LIFO, 100 unit terakhir yang dibeli digunakan terlebih dahulu. Perhitungannya:

  • 100 unit × Rp22.000 = Rp2.200.000
  • 20 unit × Rp20.000 = Rp400.000
  • Total HPP = Rp2.600.000

Persediaan akhirnya adalah 80 unit dari pembelian pertama:

80 unit × Rp20.000 = Rp1.600.000

Namun, LIFO tidak diperbolehkan di Indonesia dalam PSAK 202 tentang Persediaan. PSAK 202 merupakan standar yang berlaku untuk persediaan dan sebelumnya dikenal sebagai PSAK 14.

Dalam SAK Indonesia, rumus biaya yang digunakan untuk persediaan yang dapat dipertukarkan adalah FIFO dan rata-rata tertimbang; LIFO tidak termasuk pilihan yang diperbolehkan.

Karena itu, contoh di atas hanya untuk kepentingan edukasi, dan bukan sebagai rekomendasi metode yang bisa Anda pilih.

3. Metode Average (Weighted Average/Rata-Rata Tertimbang)

Weighted average atau metode rata-rata tertimbang menentukan biaya persediaan berdasarkan rata-rata biaya seluruh unit yang tersedia.

Jadi, ketika barang yang sama dibeli dengan harga berbeda, biaya persediaannya tidak mengikuti harga pembelian tertentu, tetapi menggunakan biaya rata-rata.

Misalnya, sebuah toko memiliki transaksi berikut:

Tanggal Pembelian Harga/Unit Nilai
1 September 100 unit Rp 20.000 Rp 2.000.000
10 September 100 unit Rp 22.000 Rp 2.200.000
Total 200 unit Rp 4.200.000

Rata-rata biaya per unit: Rp4.200.000 ÷ 200 unit = Rp21.000 per unit

Jika toko menjual 120 unit, maka:

  • HPP = 120 × Rp21.000 = Rp2.520.000
  • Persediaan akhir = 80 × Rp21.000 = Rp1.680.000

Metode rata-rata tertimbang dapat digunakan dalam sistem periodik maupun perpetual.

Pada sistem periodik, rata-rata biaya dihitung berdasarkan persediaan awal dan seluruh pembelian selama periode, lalu digunakan untuk menentukan HPP dan persediaan akhir.

Pada sistem perpetual, biaya rata-rata diperbarui setiap kali ada pembelian sehingga sering disebut moving average.

IAI juga memberikan contoh penerapan rata-rata tertimbang secara perpetual untuk menentukan HPP ketika terjadi penjualan.

Kelebihan metode average:

  • Menghasilkan biaya per unit yang lebih stabil ketika harga pembelian sering berubah.
  • Lebih sederhana daripada melacak setiap lapisan harga pembelian.
  • Cocok untuk bisnis dengan banyak transaksi pembelian barang yang sejenis.

Kekurangan metode average:

  • Nilai HPP dan persediaan akhir tidak secara langsung mencerminkan harga pembelian terbaru.
  • Pada sistem perpetual, perhitungan moving average perlu diperbarui setiap ada transaksi pembelian agar nilai persediaan tetap akurat.

Baca Juga: Fifo, Lifo dan Average: Pengertian Lengkap dan Perbedaannya

Apa Dampak Metode Penilaian Persediaan terhadap Laporan Keuangan?

metode penilaian persediaan 2

Metode penilaian persediaan yang Anda pilih bisa membuat hasil laporan keuangan berbeda meskipun jumlah barang yang dibeli dan dijual sama.

Perbedaannya terutama terlihat pada nilai persediaan akhir, HPP, dan laba.

Menggunakan contoh sebelumnya, sebuah toko membeli 100 unit dengan harga Rp20.000 dan 100 unit dengan harga Rp22.000. Kemudian, toko menjual 120 unit.

Metode HPP Persediaan Akhir
FIFO Rp 2.440.000 Rp 1.760.000
LIFO* Rp 2.600.000 Rp 1.600.000
Average Rp 2.520.000 Rp 1.680.000

*LIFO hanya digunakan sebagai ilustrasi perbandingan dan tidak diperbolehkan dalam PSAK 202.

Perbedaan tersebut memengaruhi laporan keuangan dalam beberapa cara:

  • Kewajiban pajak: Perubahan laba dapat memengaruhi dasar penghitungan pajak sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku.
  • Nilai persediaan di neraca: FIFO menghasilkan persediaan akhir Rp1.760.000, sedangkan Average Rp1.680.000. Artinya, metode yang berbeda dapat menghasilkan nilai aset persediaan yang berbeda.
  • HPP di laporan laba rugi: FIFO menghasilkan HPP paling rendah, yaitu Rp2.440.000. Average menghasilkan Rp2.520.000. Semakin tinggi HPP, semakin kecil laba kotor jika penjualan tetap sama.
  • Laba bersih: Jika menggunakan metode dengan HPP lebih rendah, laba sebelum pajak cenderung lebih tinggi. Sebaliknya, HPP yang lebih tinggi akan menekan laba.

Baca Juga: Penjelasan Highest In, First Out (HIFO) dalam Manajemen Persediaan

Tips Memilih Metode Penilaian Persediaan untuk Bisnis Anda

metode penilaian persediaan 3

Sebaiknya, pilihlah metode penilaian persediaan yang sesuai dengan jenis barang, skala usaha, kebutuhan pelaporan, dan sistem pencatatan yang Anda gunakan.

Untuk bisnis di Indonesia yang mengikuti PSAK, pilihan utamanya adalah FIFO dan rata-rata tertimbang (Average).

Kondisi Bisnis Metode yang Dapat Dipertimbangkan Alasannya
Menjual makanan, minuman, atau barang dengan masa simpan terbatas FIFO Barang yang lebih dulu dibeli dapat dianggap lebih dulu keluar sehingga sesuai dengan aliran stok bisnis.
Menjual barang yang harga belinya sering berubah Average Biaya rata-rata membuat perubahan harga tidak terlalu memengaruhi HPP secara langsung.
Bisnis retail dengan banyak jenis dan transaksi barang FIFO atau Average Pilih metode yang paling mudah diterapkan secara konsisten pada sistem pencatatan.
UMKM dengan pencatatan persediaan sederhana Average Perhitungannya relatif sederhana karena menggunakan biaya rata-rata barang sejenis.
Bisnis yang sudah menggunakan software akuntansi FIFO atau Average Pertimbangkan metode yang dapat didukung sistem dan menghasilkan pencatatan stok yang konsisten.

Selain itu, perhatikan kebutuhan pelaporan pajak dan laporan keuangan bisnis.

Pilih metode yang bisa Anda terapkan secara konsisten dan sesuai standar akuntansi serta ketentuan perpajakan yang berlaku.

Baca Juga: Variasi Rumus HPP, Cara Hitung, dan Contoh Kasusnya

Kesimpulan

Metode penilaian persediaan membantu bisnis menentukan nilai persediaan akhir dan HPP secara lebih tepat.

FIFO menganggap barang yang lebih dulu dibeli sebagai barang yang lebih dulu terjual, sedangkan Average menggunakan biaya rata-rata untuk menentukan nilai persediaan dan HPP. LIFO juga dapat digunakan sebagai ilustrasi perhitungan, tetapi tidak diperbolehkan dalam PSAK 202.

Karena setiap metode dapat memberikan hasil berbeda pada HPP, laba, dan nilai persediaan, pilih metode yang sesuai dengan jenis barang, pola pembelian, skala bisnis, dan sistem pencatatan Anda. Pastikan penerapannya juga konsisten dan mengikuti PSAK serta ketentuan perpajakan yang berlaku.

Dengan fitur manajemen inventori dari software akuntansi Kledo, Anda dapat mencatat dan memantau persediaan dengan lebih praktis sehingga pengelolaan stok dan laporan keuangan bisnis menjadi lebih rapi.

Coba Kledo sekarang lewat tautan ini.

sugi priharto

Tinggalkan Komentar

2 × three =