Persediaan akhir adalah nilai barang yang masih tersedia pada akhir suatu periode akuntansi karena belum terjual/digunakan oleh bisnis.
Persediaan akhir penting karena berpengaruh langsung pada kelancaran operasional, terutama untuk memastikan bisnis memiliki stok yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Nilai persediaan akhir juga dibutuhkan dalam perhitungan Laba Rugi di akhir periode.
Artikel ini akan menjelaskan rumus persediaan akhir, contoh kasus FIFO/Average, dan template Excel yang bisa diunduh gratis.
Apa itu Persediaan Akhir?
Persediaan akhir menunjukkan berapa banyak stok yang masih bisnis miliki setelah memperhitungkan seluruh transaksi pembelian dan penjualan selama satu periode.
Dalam laporan keuangan, persediaan akhir dicatat sebagai aset lancar dalam Neraca.
Sementara dalam Laporan Laba Rugi, nilai persediaan akhir menjadi salah satu komponen yang mengurangi HPP sehingga turut menentukan laba kotor.
Karena itu, pencatatan persediaan harus dilakukan secara akurat agar kita tidak salah menyajikan laporan keuangan, seperti mencatat laba yang terlalu tinggi atau kewajiban pajak yang tidak tepat.
Baca Juga: Akuntansi Persediaan: Pengertian, Jenis Valuasi, dan Manfaatnya
Apa Perbedaan Sistem Pencatatan Persediaan Periodik dan Perpetual?
Bisnis dapat mencatat persediaan dengan sistem periodik atau sistem perpetual.
Perbedaan kedua metode tersebut adalah pada waktu pencatatan perubahan persediaannya.
Sistem periodik memperbarui catatan persediaan secara berkala berdasarkan hasil stock opname, sedangkan sistem perpetual memperbarui jumlah dan nilai persediaan setiap kali terjadi transaksi pembelian atau penjualan.
| Aspek | Sistem Periodik | Sistem Perpetual |
|---|---|---|
| Cara pencatatan | Persediaan dihitung dan diperbarui secara berkala | Persediaan diperbarui setiap terjadi transaksi |
| Pemantauan stok | Tidak selalu menunjukkan jumlah stok terkini | Stok dapat dipantau secara real-time |
| Perhitungan persediaan akhir | Berdasarkan hasil stock opname di akhir periode | Berdasarkan catatan transaksi yang terus diperbarui dan dapat diverifikasi dengan stock opname |
| Perhitungan HPP | Umumnya dihitung pada akhir periode | Dapat diperbarui setiap terjadi transaksi penjualan |
| Kebutuhan pencatatan | Lebih sederhana | Lebih detail karena setiap transaksinya dicatat |
| Cocok untuk | Bisnis kecil dengan jumlah transaksi dan jenis barang yang relatif sedikit | Bisnis menengah-besar yang transaksi dan persediaannya lebih kompleks |
| Contoh penggunaan | Toko kecil yang melakukan pengecekan stok secara berkala | Retail, distributor, atau bisnis yang menggunakan software akuntansi |
Kapan bisnis sebaiknya menggunakan sistem periodik?
Pilihlah sistem periodik ketika bisnis memiliki jumlah produk dan transaksi yang relatif sedikit.
Contohnya, jika Anda memiliki toko kecil dengan jumlah barang di angka puluhan.
Dengan metode ini, Anda bisa melakukan stock opname setiap akhir minggu atau bulan untuk mengetahui jumlah persediaan yang tersisa.
Hanya saja, Anda mungkin harus berganti ke sistem perpetual jika transaksi dan jenis persediaan sudah semakin banyak.
Sebab, bertahan menggunakan sistem periodik hanya akan membuat membuat bisnis lebih sulit mengetahui kondisi stok sebenarnya di antara waktu stock opname.
Kapan bisnis sebaiknya menggunakan sistem perpetual?
Sistem perpetual lebih sesuai untuk bisnis yang memiliki banyak transaksi, banyak jenis barang, atau membutuhkan informasi stok yang cepat dan akurat.
Misalnya, untuk distributor yang memiliki ratusan SKU dan melakukan puluhan transaksi penjualan setiap hari.
Sistem ini akan lebih praktis dijalankan ketika bisnis menggunakan software akuntansi yang dapat menghubungkan transaksi pembelian, penjualan, persediaan, dan HPP dalam satu sistem.
Untuk penjelasan yang lebih lengkap bisa Anda baca di Perbedaan Perpetual dan Periodik dalam Pencatatan Akuntansi
Apa Rumus Persediaan Akhir Dasar?

Rumus umum untuk menghitung persediaan akhir adalah:
Persediaan Akhir = (Persediaan Awal + Pembelian Bersih) − HPP
Keterangan:
- Persediaan Awal adalah nilai persediaan yang dimiliki bisnis pada awal periode.
- Pembelian Bersih adalah total pembelian barang setelah memperhitungkan biaya angkut masuk, retur pembelian, dan potongan pembelian.
- HPP (Harga Pokok Penjualan) adalah biaya perolehan barang yang sudah terjual selama periode tersebut.
Pembelian bersih sendiri bisa dihitung menggunakan rumus berikut:
Pembelian Bersih = Pembelian + Biaya Angkut Masuk − Retur Pembelian − Potongan Pembelian
Keterangan:
- Biaya angkut masuk adalah biaya pengiriman untuk membawa barang yang dibeli sampai ke lokasi bisnis. Biaya ini menambah nilai perolehan persediaan.
- Retur pembelian adalah barang yang dikembalikan kepada supplier karena alasan tertentu, seperti rusak atau tidak sesuai pesanan. Nilainya mengurangi total pembelian.
- Potongan pembelian adalah pengurangan harga yang diberikan pemasok, misalnya karena bisnis melakukan pembayaran lebih cepat atau memenuhi ketentuan pembelian tertentu. Potongan ini juga mengurangi nilai pembelian.
Contoh perhitungan persediaan akhir:
Misalnya, sebuah toko memiliki persediaan awal sebesar Rp10.000.000 dan melakukan pembelian bersih sebesar Rp25.000.000 selama periode berjalan.
Jika HPP yang tercatat sebesar Rp20.000.000, maka:
Persediaan Akhir = (Rp10.000.000 + Rp25.000.000) − Rp20.000.000
Persediaan Akhir = Rp35.000.000 − Rp20.000.000
Persediaan Akhir = Rp15.000.000
Artinya, nilai barang yang masih tersedia sebagai persediaan pada akhir periode adalah Rp15.000.000.
Baca Juga: Biaya Persediaan (Inventory Costing): Pengertian, Metode dan Contohnya
Apa Saja Metode Penilaian Persediaan Akhir?
Untuk menentukan nilai persediaan akhir yang dicatat di laporan keuangan, kita perlu memilih metode penilaian persediaan yang akan digunakan.
Metode ini umumnya terbagi menjadi 3: FIFO, LIFO, dan Average.
Pnggunaan metode yang berbeda dapat menghasilkan nilai persediaan akhir dan laba yang berbeda pula.
Untuk memahami perbedaannya, perhatikan studi kasus ini. Misalnya, sebuah toko memiliki transaksi persediaan sebagai berikut:
| Tanggal | Transaksi | Jumlah Unit | Harga per Unit | Total Nilai |
|---|---|---|---|---|
| 1 Jan | Persediaan awal | 100 | Rp 10.000 | Rp 1.000.000 |
| 5 Jan | Pembelian | 50 | Rp 11.000 | Rp 550.000 |
| 15 Jan | Pembelian | 70 | Rp 12.000 | Rp 840.000 |
| 25 Jan | Penjualan | 150 | – | – |
Total barang tersedia untuk dijual:
- Total unit: 220 unit
- Total nilai persediaan: Rp2.390.000
Karena terjual 150 unit, maka persediaan akhir adalah:
220 unit − 150 unit = 70 unit
Nilai 70 unit inilah yang akan berbeda tergantung metode yang digunakan.
1. Metode FIFO (First In, First Out)
Metode FIFO (First In, First Out) menggunakan asumsi bahwa barang yang pertama masuk adalah barang yang pertama dijual.
Artinya, persediaan akhir terdiri dari barang yang terakhir dibeli.
Pada contoh di atas, ada 150 unit barang yang terjual. Nilainya menurut metode FIFO adalah:
- 100 unit × Rp10.000 = Rp1.000.000
- 50 unit × Rp11.000 = Rp550.000
Total HPP:
Rp1.000.000 + Rp550.000 = Rp1.550.000
Sisa persediaan: 70 unit × Rp12.000 = Rp840.000
Jadi:
| Keterangan | Nilai |
|---|---|
| HPP | Rp 1.550.000 |
| Persediaan Akhir | Rp 840.000 |
Kelebihan FIFO saat inflasi:
Ketika harga barang terus naik, FIFO menghasilkan nilai persediaan akhir yang lebih tinggi karena stok akhir dinilai menggunakan harga pembelian terbaru.
Nilai aset di Neraca menjadi lebih mendekati harga pasar saat ini.
Namun, karena HPP cenderung lebih rendah, laba yang dilaporkan juga bisa lebih tinggi.
2. Metode Average (Rata-Rata Tertimbang)
Metode Average atau rata-rata tertimbang menghitung biaya rata-rata seluruh barang yang tersedia sebelum menentukan nilai persediaan akhir.
Rumusnya:
Harga Rata-rata per Unit = Total Nilai Persediaan ÷ Total Unit
Perhitungannya: Rp2.390.000 ÷ 220 unit = Rp10.864 per unit
Maka, persediaan akhir: 70 unit × Rp10.864 = Rp760.480
HPP: 150 unit × Rp10.864 = Rp1.629.520
| Keterangan | Nilai |
|---|---|
| HPP | Rp 1.629.520 |
| Persediaan Akhir | Rp 760.480 |
Metode average menghasilkan nilai yang lebih stabil karena menggunakan harga rata-rata seluruh persediaan.
Metode ini sering digunakan oleh bisnis dengan banyak transaksi atau produk yang sulit dibedakan satu per satu, seperti bahan baku, barang grosir, atau produk massal.
3. Metode LIFO
Metode LIFO (Last In, First Out) menggunakan asumsi bahwa barang yang terakhir dibeli adalah barang yang pertama dijual.
Namun, metode ini tidak diperbolehkan dalam standar akuntansi PSAK 14 yang mengacu pada IFRS, serta tidak diakui dalam aturan perpajakan Indonesia untuk tujuan pelaporan keuangan dan penghitungan pajak.
Meskipun demikian, LIFO masih sering dibahas dalam teori akuntansi dan ekonomi karena dapat menghasilkan HPP yang lebih tinggi saat terjadi kenaikan harga barang.
Dalam praktiknya, bisnis di Indonesia umumnya menggunakan metode FIFO atau Average, tergantung karakteristik persediaan dan kebutuhan pelaporan keuangannya.
Baca Juga: Pembahasan PSAK 14 Tentang Akuntansi Persediaan
Bagaimana Mengestimasi Persediaan Akhir dalam Kondisi Tertentu?

Dalam kondisi tertentu, ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengestimasi persediaan akhir, seperti metode laba kotor, metode eceran, dan metode barang dalam proses (WIP).
Kondisi tertentu ini terjadi ketika bisnis mungkin belum bisa melakukan penghitungan persediaan secara fisik atau membutuhkan estimasi nilai persediaan dengan cepat. Misalnya, ketika terjadi kebakaran atau bencana.
1. Metode Laba Kotor
Metode laba kotor memperkirakan persediaan akhir berdasarkan persentase laba kotor historis. Metode ini dapat digunakan ketika persediaan tidak dapat dihitung secara langsung, misalnya karena kebakaran, banjir, atau bencana lainnya, maupun untuk kebutuhan laporan keuangan interim.
Rumus:
Persediaan Akhir = Barang Tersedia untuk Dijual − Estimasi HPP
Sementara estimasi HPP dihitung dengan:
Estimasi HPP = Penjualan × (100% − Persentase Laba Kotor)
Contoh:
Sebuah toko memiliki persediaan awal Rp100 juta dan pembelian bersih Rp300 juta. Selama periode tersebut, penjualan mencapai Rp500 juta. Berdasarkan data historis, laba kotor rata-rata adalah 30% dari penjualan.
Maka:
Barang tersedia untuk dijual = Rp100 juta + Rp300 juta = Rp400 juta
Estimasi HPP = Rp500 juta × 70% = Rp350 juta
Estimasi persediaan akhir = Rp400 juta − Rp350 juta = Rp50 juta
Jadi, berdasarkan metode laba kotor, persediaan akhir diperkirakan sebesar Rp50 juta.
2. Metode Eceran (Retail Method)
Metode eceran banyak digunakan bisnis ritel yang memiliki banyak jenis barang dengan harga jual yang berbeda, seperti supermarket atau mall.
Metode ini mengubah nilai persediaan berdasarkan hubungan antara harga perolehan (cost) dan harga eceran (retail).
Salah satu komponen pentingnya adalah cost-to-retail ratio, yaitu perbandingan antara nilai barang berdasarkan harga perolehan dengan nilai berdasarkan harga eceran.
Rumusnya:
Cost-to-Retail Ratio = Nilai Persediaan pada Harga Perolehan ÷ Nilai Persediaan pada Harga Eceran
Misalnya, nilai barang yang tersedia untuk dijual berdasarkan harga perolehan adalah Rp700 juta, sedangkan berdasarkan harga eceran Rp1 miliar.
Rp700 juta ÷ Rp1 miliar = 70%
Jika nilai persediaan akhir berdasarkan harga eceran adalah Rp200 juta, estimasi nilai persediaannya pada harga perolehan adalah:
Rp200 juta × 70% = Rp140 juta
Dengan cara ini, bisnis ritel dapat mengestimasi nilai persediaan tanpa harus menghitung biaya perolehan setiap barang secara individual.
3. Metode Barang Dalam Proses (Work in Process/WIP)
Untuk bisnis manufaktur, persediaan tidak hanya berupa barang jadi. Ada pula barang dalam proses (Work in Process/WIP), yaitu produk yang masih dalam tahap produksi pada akhir periode.
Nilai WIP dihitung berdasarkan biaya yang sudah digunakan untuk mengerjakan produk tersebut, yang umumnya terdiri dari:
- Bahan baku langsung: bahan yang menjadi bagian dari produk.
- Tenaga kerja langsung: biaya tenaga kerja yang secara langsung mengerjakan produk.
- Overhead pabrik: biaya produksi selain bahan baku dan tenaga kerja langsung, seperti listrik pabrik, penyusutan mesin, dan biaya pemeliharaan.
Secara sederhana:
Nilai WIP = Bahan Baku yang Digunakan + Tenaga Kerja Langsung + Overhead Pabrik
Misalnya, pada akhir periode terdapat produk yang masih dalam proses dengan biaya:
- Bahan baku: Rp20 juta
- Tenaga kerja langsung: Rp10 juta
- Overhead pabrik: Rp5 juta
Maka nilai barang dalam proses: Rp20 juta + Rp10 juta + Rp5 juta = Rp35 juta
Artinya, Rp35 juta menjadi bagian dari persediaan akhir perusahaan manufaktur sampai produk tersebut selesai diproses dan dipindahkan menjadi persediaan barang jadi.
Baca Juga: Valuasi Persediaan: Pengertian, Metode, dan Contoh Penghitungannya
Apa Dampak Kesalahan Penilaian Persediaan Akhir pada Laporan Keuangan?
Kesalahan dalam mencatat persediaan akhir tidak hanya memengaruhi nilai persediaan di Neraca, tetapi juga berdampak langsung pada HPP dan laba bersih dalam Laporan Laba Rugi.
Karena itu, kesalahan persediaan dapat membuat kondisi keuangan bisnis terlihat lebih baik atau lebih buruk dari keadaan sebenarnya.
Berikut merupakan inventory error matrix yang menjelaskan konsekuensi jika salah mencatat persediaan akhir:
| Kondisi | Dampak pada Persediaan Akhir | Dampak pada HPP | Dampak pada Laba Bersih | Dampak Lanjutan |
|---|---|---|---|---|
| Overstated (dicatat terlalu tinggi) |
Terlalu tinggi | Terlalu rendah | Terlalu tinggi (laba semu) |
Beban pajak penghasilan menjadi terlalu tinggi karena laba kena pajak dapat ikut meningkat |
| Understated (dicatat terlalu rendah) |
Terlalu rendah | Terlalu tinggi | Terlalu rendah | Kinerja bisnis terlihat lebih buruk dan dapat memengaruhi penilaian investor atau pemberi pinjaman |
Hubungan tersebut terjadi karena persediaan akhir merupakan salah satu komponen dalam perhitungan HPP:
HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir
Artinya, ketika persediaan akhir dicatat terlalu tinggi, HPP menjadi terlalu rendah.
Akibatnya, laba kotor dan laba bersih terlihat lebih tinggi daripada kondisi sebenarnya.
Sebaliknya, jika persediaan akhir dicatat terlalu rendah, HPP menjadi terlalu tinggi sehingga laba yang dilaporkan menjadi lebih rendah.
Contoh
Jika persediaan akhir seharusnya Rp100 juta tetapi dicatat Rp120 juta, maka persediaan mengalami overstatement sebesar Rp20 juta.
Dengan asumsi komponen lain tidak berubah, HPP akan tercatat Rp20 juta lebih rendah dan laba sebelum pajak Rp20 juta lebih tinggi.
Baca Juga: Nilai Persediaan Awal dan Akhir dalam Laporan Keuangan
Bagaimana Cara Membuat Jurnal Penyesuaian Persediaan?

Jurnal penyesuaian persediaan akhir dibuat pada akhir periode untuk memastikan nilai persediaan dan HPP yang disajikan dalam laporan keuangan sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Bentuk jurnalnya bergantung pada sistem pencatatan persediaan yang digunakan, yaitu periodik atau perpetual.
Jurnal Penyesuaian Metode Periodik (Ikhtisar Laba Rugi)
Dalam sistem periodik, akun persediaan tidak diperbarui setiap terjadi transaksi penjualan.
Karena itu, pada akhir periode perlu dilakukan penyesuaian berdasarkan hasil stock opname dan perhitungan HPP.
Misalnya, diketahui:
- Persediaan awal: Rp20.000.000
- Persediaan akhir berdasarkan stock opname: Rp25.000.000
Jurnal untuk menutup persediaan awal:
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Ikhtisar Laba Rugi | Rp 20.000.000 | – |
| Persediaan | – | Rp 20.000.000 |
Kemudian, persediaan akhir dicatat:
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Persediaan | Rp 25.000.000 | – |
| Ikhtisar Laba Rugi | – | Rp 25.000.000 |
Dengan jurnal tersebut, saldo akun persediaan mencerminkan persediaan akhir Rp25.000.000.
Nilai persediaan awal dan akhir tersebut kemudian menjadi bagian dari perhitungan HPP melalui akun Ikhtisar Laba Rugi.
Jurnal Penyesuaian Selisih Stock Opname pada Sistem Perpetual
Dalam sistem perpetual, jumlah persediaan sudah tercatat setiap terjadi transaksi.
Namun, bisnis tetap perlu melakukan stock opname untuk memastikan stok fisik sesuai dengan catatan sistem.
Jika stok fisik ternyata lebih kecil daripada stok dalam sistem, berarti terdapat selisih persediaan. Penyebabnya dapat berupa barang rusak, hilang, kedaluwarsa, atau penyusutan.
Misalnya, catatan sistem menunjukkan persediaan sebesar Rp50.000.000, tetapi hasil stock opname hanya menunjukkan Rp48.000.000. Terdapat selisih sebesar Rp2.000.000.
Jurnal penyesuaiannya:
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Beban Kerugian Persediaan / HPP | Rp 2.000.000 | – |
| Persediaan | – | Rp 2.000.000 |
Jurnal tersebut mengurangi nilai persediaan agar sesuai dengan kondisi fisik sekaligus mengakui kerugian atau tambahan HPP sebesar selisih yang ditemukan.
Baca Juga: Contoh Jurnal Koreksi Persediaan dan Cara Membuatnya
Download Template Excel Kartu Stok & Persediaan Akhir
Download Template Kartu Stok dan Persediaan Akhir
Setelah klik link di atas, Anda akan diarahkan ke Google Sheets. Klik File >> Make a Copy (Buka Salinan), lalu Anda bisa mulai menggunakannya.
Jika Anda lebih suka file Excel, unduh file-nya di bawah ini:
Baca juga: Metode Analisis Persediaan atau Inventory Analysis, KPI, dan Tipsnya
Kesimpulan
Itulah pembahasan lengkap mengenai persediaan akhir, cara menghitungnya melalui metode yang berbeda, beserta template yang bisa diunduh.
Jika Anda kesulitan dalam menghitung persediaan dalam bisnis, Anda bisa menggunakan software akuntansi Kledo untuk proses manajemen stok dan gudang yang lebih baik.
Tidak hanya pada proses manajemen stok, dengan menggunakan Kledo Anda bisa dengan mudah melakukan pencatatan pembukuan, membuat faktur dengan praktis, otomatisasi lebih dari 50 jenis laporan keuangan, dan masih banyak lagi.
Anda juga bisa mencoba menggunakan Kledo secara gratis selama 14 hari atau menggunakan paket gratis selamanya melalui tautan ini.
- Cash Burn Rate: Pengertian, Cara Hitung, Contoh dan Manfaatnya - 10 September 2026
- Pengertian Marginal Utility: Rumus dan Penerapannya dalam Bisnis - 10 September 2026
- Cara Menghitung Persediaan Akhir: FIFO, Average, dan LIFO - 10 September 2026
