Postulat akuntansi adalah pernyataan yang tidak perlu dibuktikan atau aksioma yang diterima secara umum karena sesuai dengan objectives daripada financial statements, dan menggambarkan lingkungan ekonomi, politik, sosiologis, dan hukum di mana akuntansi harus beroperasi.
Dalam teori akuntansi kita selalu dibingungkan oleh istilah-istilah yang agak mirip, tetapi mungkin mempunyai arti yang berbeda seperti istilah-istilah: aksioma, postulat, konsep, convention, generalization, metode, peraturan, postulat, praktik, prosedur, prinsip, standar, norma, dan lain-lain.
Jika Anda adalah seorang akuntan, penting untuk memahami perbedaan dari semua ini agar Anda memiliki pemahaman yang jelas tentang alur kerja proses pencatatan akuntansi.
Pada artikel kali ini, kami akan membahas apa itu postulat akuntansi dan 4 elemen di dalamnya yang harus Anda perhatikan untuk membuat laporan keuangan sesuai standar.
Perbedaan Postulat, Konsep, Prinsip dan Standar Akuntansi
Postulat akuntansi
Postulat Akuntansi adalah pernyataan yang dapat membuktikan kebenarannya sendiri atau disebut juga aksioma yang sudah diterima karena kesesuaiannya, dengan (untuk menopang dan mewujudkan) tujuan laporan keuangan, yang menggambarkan aspek ekonomi, politik, sosiologis, dan hukum dari suatu lingkungan dimana akuntansi itu beroperasi.
Konsep teoretis akuntansi
Konsep teoretis akuntansi adalah pernyataan yang dapat membuktikan kebenarannya sendiri atau disebut juga aksioma yang sudah diterima karena kesesuaiannya, dengan (untuk menopang dan mewujudkan) tujuan laporan keuangan yang menggambarkan sifat-sifat akuntansi yang disajikan sesuai kebutuhan dan penekanannya (pemakainya) yang berperan dala ekonomi bebas yang ditandai oleh adanya pengakuan pada pemilikan pribadi.
Baca juga: Pembahasan PSAK 50 Tentang Penyajian Instrumen Keuangan
Prinsip (sifat) dasar akuntansi
Prinsip Dasar Akuntansi adalah prinsip atau sifat-sifat yang mendasari akuntansi dan seluruh output-nya, termasuk laporan keuangan yang dijabarkan dari tujuan laporan keuangan, postulat akuntansi, dan konsep teoretis akuntansi yang merupakn sifat dan kualitas dasar dari akuntansi keuangan yang menjadi dasar dalm pengembangan standar, teknik, atau prosedu akuntansi yang dipakai dalam menyusun laporan keuangan.
Standar (teknik) akuntansi
Standar Teknik Akuntansi adalah peraturan-peraturan khusus yang dijabarkan dari Prinsip Dasar Akuntansi, yang mengatur tentang bagaimana standar perlakuan pencatatan dan pelaporan terhadap semua transaksi atau kejadian-kejadian tertentu yang dialami oleh suatu lembaga (entity), organisasi atau perusahaan. Inilh yang sebenarnya yang digambarkan oleh GAAP, APB Statement, FASB Statement, IASC Statement, PAI, atau PSAK, IFRS.
Baca juga: Mengetahui Dasar Akuntansi: Rumus, Siklus dan Prinsipnya
Mengetahui 4 Elemen dalam Postulat Akuntansi

1. Postulat entitas
Akuntansi mengatur hasil operasi dari suatu entitas, yang terpisah dan berbeda dari pemilik entitas. Postulate entitas menyatakan bahwa suatu unit perusahaan merupakan unit akuntansi yang terpisah dari pemiliknya dan perusahaan lain.
Postulat merumuskan bidang perhatian akuntan dan membatasi objek, peristiwa, dan atribut peristiwa yang dimasukkan ke dalam laporan keuangan.
Selain itu, postulat juga memungkinkan akuntan membedakan antara transaiksi bisnis dan individu, yang dimasukkan dalam laporan keuangan adalah transaksi perusahaan bukan transaksi pemilik perusahaan. Dan tanggung jawab pelayanan manajemen berada pada pemegang saham.
Defini lain entitas akuntasi adalah dalam kerangka kepentingan ekonomi bagi berbgaai pemakai, dan bukan aktivitas ekonomi dan pengendalian administratif unit.
Pendekatan ini lebih berorientasi pemakai dari pada orientasi perusahaan.
Salah satu cara mendefinisi entitas akuntansi adalah mendefinisikan sebagai unit ekonomi yang bertanggung jawab atas aktivitas ekonomi dan pengendalian administratif atas unit.
Postulat A.2 Accounting Research Study N0.1 menyatakan bahwa “aktivitas ekonomi dilakukan melalui unit atau entitas tertentu”.
Pendekatan ini dicontohkan dengan baik oleh pelaporan konsolidasian entitas yang berbeda sebagai unit ekonomi tunggal, tanpa memperhatikan perbedaan hukumnya.
Cara lain mendefinisi entitas akuntansi adalah dalam kerangka kepentingan ekonomi berbagai pemakai, dan bukan aktivitas ekonomi dan pengendalian administratif unit Pendekatan ini lebih berorientasi pemakai daripada berorientasi perusahaan.
Kepentingan pemakai, bukan aktivitas ekonomi perusahaan, mendefinisi batasan entitas akuntansi dan informasi yang seharusnya dimasukkan dalam laporan keuangan. Konsep dari American Accounting Association tahun 1964 dan komite studi penelitian standar tentang konsep entitas bisnis mendukung pandangan ini, meyatakan bahwa “batasan entitas ekonomi dapat diidentifikasi:
- Dengan menentukan kepentingan individual atau kelompok; dan
- Dengan menentukan sifat kepentingan individual atau kelompok. Pendekatan kedua ini menjustifikasi kemungkinan perluasan data yang merupakan hasil dari scope akuntansi baru sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan potensial semua pemakai.
Sebagai contoh, informasi yang dihasilkan dari kemungkinan adopsi akuntansi sumber daya manusia, akuntansi sosioekonomi, akuntansi untuk kos modal, dan pelaporan prakiraan keuangan mungkin akan semakin mudah masuk dalam laporan keuangan yang didasarkan pada pendekatan pemakai daripada pendekatan perusahaan dalam mendefinisikan entitas akuntansi.
Contoh:
Tn. Alfonso sebagai pemilik bengkel mobil, tidak boleh memperhitungkan biaya pribadinya sebagai beban bengkel. Biaya pribadi disini misalnya biaya untuk sewa apartemen untuk tempat tinggalnya ataupun biaya untuk keperluan sekolah anaknya, dan lain lain.
Jadi, yang boleh diperhitungkan sebagai beban bengkel hanyalah pengeluaran yang memang benar-benar terkait langsung dengan usaha bengkelnya.
Demikian pula apabila Tn.Alfonso memiliki dua jenis usaha yang berlainan, misalnya usaha bengkel dan salon, maka harus dipisahkan antara beban pribadi, beban usaha bengkel, dan beban usaha salon.
Baca juga: Pengertian Teori Akuntansi, Jenis, Prinsip, dan Konsepnya
2. Postulat kelangsungan usaha

Postulat kelangsungan usaha menyatakan bahwa entitas akuntansi akan terus beroperasi. Dalil ini berasumsi bahwa perusahaan tidak diharapkan untuk dilikuidasi dalam masa yang akan datang yang dapat diketahui dari sekarang atau bahwa entitas akan terus beroperasi untuk jangka waktu yang tidak tertentu.
Postulat kelangsungan usaha juga diterapkan untuk mendukung teori manfaat. Harapan tentang manfaat di masa mendatang mendorong manajer untuk melihat ke depan dan memotivasi investor untuk menanamkan modalnya ke perusahaan.
Kelangsungan usaha (yaitu, kontinuitas entitas akuntansi yang tidak terbatas) adalah penting untuk justifikasi teori manfaat.
Storey dan Sterling secara terpisah berpendapat bahwa postulat kelangsungan usaha tidak memberikan justifikasi untuk penilaian sediaan dengan cost. Storey berpendapat bahwa “hal tersebut merupakan konvensi realisasi dan bukan konvensi kelangsungan usaha yang mensyaratkan penilaian sediaan dengan cost”.
Sterling berpendapat, anggapan bahwa entitas akuntansi memiliki kehidupan yang tidak terbatas tidak menjustifikasi nilai likuidasi, tetapi juga bahwa asumsi ini bukan alasan yang memadai untuk menggunakan kos historis ketika terdapat alternatif penilaian lain yang lebih relevan.
Selanjutnya, jika postulat kelangsungan usaha dipertahankan, hal tersebut diyakini sebagai prediksi.
Jika tidak ada asumsi ini, maka berarti tidak akan ada penyusutan atas aktiva tetap, karena aktiva tetap yang dibeli tidak akan dicatat sebesar harga perolehannya, melainkan dicatat sebesar harga perolehannya, melainkan dicatat sebesar nilai pada saat perusahaan dilikuidasi.
Prinsip atau konsep biaya historis akan menjadi tidak berguna jika perusahaan diasumsikan akan dilikuidasi. Kebijakan mengenai metode penyusutan aktiva tetap hadir seiring dengan asumsi bahwa perusahaan akan tyetap terus beroperasi dalam waktu yang panjang.
Demikian juga, jika tidak ada asumsi kesinambungan usaha, maka tidak akan ada penggolongan lancar dan tidak lancar atas aktiva dan kewajiban.
Jadi, dalam praktik akuntansi yang berlaku umum, penyusutan atas aktiva tetap dan penggolongan aktiva serta kewajiban ke dalam lancar dan tidak lancar timbul karena adanya asumsi kesinambungan usaha.
Baca juga: Matching Principle (Prinsip Pencocokan) dalam Konsep Dasar Akuntansi
3. Postulat unit moneter
Data transaksi yang akan dilaporkan dalam catatan akuntansi harus dapat dinyatakan dalam satuan mata uang (unit moneter). Asumsi ini memungkinkan akuntansi untuk mengkuantifikasi (mengukur) setiap transaksi bisnis atau peristiwa ekonomi kedalam nilai uang.
Dalam hal ini, uang di anggap sebagai deminator umum dari aktivitas ekonomi dan merupakan dasar yang tepat bagi kepentingan kepentingan dan analisis akuntansi.
Data kuantitatif (data yang dapat diukur dan dinyatakan dalam satuan mata uang) akan berguna dalam mengomunikasikan informasi ekonomi dan membuat keputusan ekonomi yang rasional.
Contoh data transaksi yang tidak dapat dinyatakan dalam satuan mata uang adalah : banyaknya jumlah karyawan, tingkat kepuasan pelanggan, tingkat kepuasan pekerja, jumlah karyawan yang berhenti, dan sebagainya.
Asumsi unit moneter juga terkait langsung dengan penerapan konsep biaya historis. Konsep biaya historis digunakan sebagai dasar dalam penyusunan laporan keuangan, dimana aktiva yang dibeli pada umumnya akan dicatat sebesar harga perolehannya.
Diasumsikan pula bahwa nilai daya beli adalah konstan, sesuai dengan asumsi stable monetary unit, yang berarti mengabaikan efek inflasi.
Di Amerika, akuntan secara umum memilih untuk mengabaikan fenomena perubahan tingkat harga (inflasi maupun deflasi) dengan mengasumsikan bahwa unit pengukuran (unit moneter) relatif stabil dari waktu ke waktu.
Keterbatasan yang diakibatkan oleh postulat unit pengukur ini terkait dengan unit moneter itu sendiri sebagai unit pengukur.
Karakteristik utama adalah daya beli unit moneter, atau kuantitas barang atau jasa yang satuan uang dapatdigunakan.
Tidak seperti meter, yang variasi panjangnya 100 sentimeter, daya beli unit moneter, dalam hal ini dolar, tunduk perubahan.
Baca juga: Berikut 7 Prinsip Manajemen Keuangan, Anda Wajib Tahu!
4. Postulat periode akuntansi

Meskipun postulate kelangsungan usaha menyatakan bahwa setiap perusahaan akan tetap ada pada periode waktu yang tidak terbatas, namun adakalanya pengguna meminta berbagai informasi tentang posisi keuangan dan kinerja perusahaan untuk membuat keputusan jangka pendek.
Dari hal tersebut maka postulat periode akuntansi menyatakan bahwa laporan keuangan perusahaan seharusnya diungkapkan secara periodik.
Panjangnya periode waktu dapat bervariasi, tetapi hukum pajak penghasilan, yang mensyaratkan penentuan income dengan dasar tahunan, dan praktik bisnis tradisional, menggunakan periode normal satu tahun.
Meskipun kebanyakan perusahaan menggunakan periode akuntansi yang terkait dengan tahun kalender, beberapa perusahaan menggunakan tahun fiskal, atau tahun bisnis “alami”.
Bila siklus bisnis tidak berhubungan dengan tahun kalender, akan lebih bermanfaat untuk mengakhiri periode akuntansi ketika aktivitas bisnis telah mencapai titik terendah.
Karena kebutuhan akan informasi yang tepat waktu, relevan dan sering, kebanyakan perusahaan juga menerbitkan laporan internal yang menyediakan informasi keuangan triwulanan atau bulanan.
Dengan meminta entitas untuk menyediakan secara periodik, laporan keuangan jangka pendek, postulat periode akuntansi membebankan akrual dan tangguhan, penerapan yang menyebabkan perbedaan penting antara akuntansi akrual dan kas.
Setiap periode, penggunaan akrual dan tangguhan diminta dalam pembuatan posisi keuangan perusahaan dalam istilah seperti expenses dibayar dimuka, pendapatan yang belum diterima, gaji yang belum dibayar, dan expenses depresiasi.
Baca juga: Teori Akuntansi: Pengertian, Prinsip, Manfaatnya
Kesimpulan
Mengetahui postulat akuntansi membantu Anda sebagai seorang akuntan untuk memahami dasar pencatat akuntansi agar sesuai standar yang berlaku secara global, karena ini merupakan pondasi dalam memahami proses akuntansi secara utuh.
Pondasi ini dibentuk dari elemen-elemen hirarki yang berfungsi sebagai kerangka acuan atau struktur teoritis.
Pendekatan dan metodologi apapun yang digunakan dalam penyusunan teori akuntansi, rerangka acuan atau struktur teori yang dihasilkan didasarkan pada serangkaian elemen dan hubungan yang mengatur pengembangan teknik akuntansi.
Untuk proses pencatatan akuntansi yang lebih baik, Anda juga bisa mencoba menggunakan tools akuntansi modern yang memiliki fitur lengkap dan harga terjangkau seperti software akuntansi Kledo.
Dengan menggunakan Kledo, Anda bsia dengan mudah melakukan pencatatan pembukuan, manajemen persediaan, dan membuat laporan keuangan yang sesuai standar.
Anda bisa mencoba menggunakan Kledo secara gratis selama 14 hari melalui tautan ini.
- Postulat Akuntansi: Pengertian dan 4 Elemennya - 4 April 2025
- Pembahasan PSAK 50 Tentang Penyajian Instrumen Keuangan - 3 April 2025
- PSAK 8 Tentang Peristiwa Setelah Periode Pelaporan - 2 April 2025