Akuntansi Manufaktur: Arti, Siklus, dan Bedanya dengan Akuntansi Umum

akuntansi manufaktur

Sebagai bisnis manufaktur, Anda memahami hubungan penting antara akuntansi dan lini produksi yang lancar untuk mencapai kesuksesan bisnis. Aliran operasi yang efisien, dari bahan mentah hingga produk jadi, sangat penting untuk memenuhi permintaan pelanggan dan mempertahankan keunggulan kompetitif dalam industri.

Manajemen biaya yang efektif merupakan inti dari stabilitas keuangan dan profitabilitas jangka panjang sektor manufaktur.

Dengan menerapkan strategi yang tepat dan praktik yang bijaksana, Anda dapat mengoptimalkan kinerja keuangan, meningkatkan proses pengambilan keputusan, dan melindungi bisnis Anda dari potensi risiko.

Pada artikel kali ini kami akan menjelaskan apa itu akuntansi pada bisnis manufaktur, siklusnya dan juga membahas perbedaannya dengan akuntansi standar.

Apa itu Akuntansi Manufaktur?

Di industri manufaktur, bentuk akuntansi yang berbeda digunakan untuk memenuhi tuntutan spesifik industri ini.

Akuntansi manufaktur memerlukan serangkaian persyaratan khusus, yang membutuhkan software akuntansi dan proses khusus untuk memantau dan mencatat biaya produksi yang terkait dengan setiap produk secara efektif.

Untuk memastikan akurasi dan presisi, pendekatan yang disesuaikan sangatlah penting. Hal ini biasanya dicapai dengan menerapkan sistem pembukuan entri ganda, yang dengan cermat melacak semua transaksi keuangan dan melindungi dari kesalahan atau ketidaksesuaian.

Dalam akuntansi manufaktur, penekanan khusus diberikan pada pelacakan dan pengalokasian pengeluaran yang terkait dengan tenaga kerja, overhead, dan biaya terkait lainnya secara cermat.

Dengan demikian, bisnis mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang kinerja keuangan dari proses manufaktur mereka, memungkinkan pengambilan keputusan yang efektif dan manajemen biaya yang proaktif.

Dengan menggunakan pendekatan khusus untuk akuntansi manufaktur ini, bisnis dapat secara efektif menilai dan menganalisis biaya produksi mereka, mengidentifikasi area untuk optimasi, dan pada akhirnya meningkatkan kinerja keuangan mereka dalam lanskap manufaktur yang dinamis.

Baca juga: Mengetahui Beberapa Dasar Akuntansi Perusahaan Manufaktur

Banner 2 kledo

Bagaimana Siklus Akuntansi Manufaktur?

Sebenarnya, siklus akuntansi di industri manufaktur hampir sama di industri bisnis lainnya. Hanya saja terdapat perbedaan dan pencatatan pos pengeluaran yang lebih detail.

Untuk lebih jelas, berikut adalah tahapan dalam siklus akuntansi kebanyakan perusahaan manufaktur:

1. Identifikasi transaksi

Tahap pertama dalam siklus akuntansi perusahaan manufaktur adalah mengidentifikasi transaksi bisnis yang terkait dengan operasional perusahaan.

Transaksi ini meliputi berbagai kejadian atau aktivitas keuangan yang mempengaruhi posisi keuangan perusahaan. Transaksi-transaksi tersebut antara lain:

  1. Pembelian Bahan Baku: Transaksi ini mencakup pembelian bahan mentah atau bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi. Informasi yang tercatat meliputi jumlah barang yang dibeli, harga per unit, dan pemasok yang terlibat.
  2. Biaya Produksi: Pengeluaran untuk biaya produksi adalah bagian penting dalam siklus akuntansi. Ini mencakup biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung (gaji yang langsung terkait dengan produksi), dan biaya overhead pabrik (biaya produksi yang tidak terkait langsung dengan bahan atau tenaga kerja).
  3. Penjualan Barang Jadi: Transaksi penjualan melibatkan penyerahan barang jadi kepada pelanggan dengan imbalan pembayaran. Informasi yang dicatat termasuk harga jual, jumlah barang yang dijual, dan identitas pelanggan.
  4. Penerimaan Pembayaran: Setelah penjualan, perusahaan menerima pembayaran dari pelanggan. Transaksi ini mencakup penerimaan uang atau instrumen keuangan lainnya sebagai imbalan atas barang atau jasa yang disediakan.
  5. Pembayaran Gaji Karyawan: Biaya untuk gaji dan upah karyawan yang terlibat dalam produksi harus dicatat dengan tepat. Ini termasuk gaji langsung untuk pekerja produksi.
  6. Biaya Operasional: Transaksi ini mencakup pengeluaran operasional seperti biaya listrik, biaya sewa pabrik, biaya perawatan mesin, dan lain-lain. Biaya-biaya ini tidak langsung terkait dengan produksi, tetapi masih penting untuk operasional perusahaan.
  7. Pembelian Aset Tetap: Jika perusahaan membeli aset tetap seperti mesin produksi, peralatan, atau kendaraan, transaksi ini juga harus diidentifikasi dan dicatat.
  8. Transaksi Keuangan Lainnya: Selain transaksi di atas, ada berbagai transaksi keuangan lainnya yang bisa terjadi, seperti pembayaran hutang, penerimaan piutang, pembayaran pajak, dan lain-lain. Setiap transaksi ini harus diidentifikasi dan dicatat sesuai.

Baca juga: Pengertian Sistem Informasi Manufaktur, Elemen, dan Tips Mengelolanya

2. Pencatatan transaksi

Setelah transaksi bisnis diidentifikasi, langkah selanjutnya dalam siklus akuntansi perusahaan manufaktur adalah melakukan pencatatan transaksi.

Pencatatan ini dilakukan dengan merekam setiap transaksi ke dalam buku harian atau sistem akuntansi yang digunakan oleh perusahaan. Pencatatan ini melibatkan beberapa informasi penting, termasuk:

  1. Tanggal Transaksi: Setiap transaksi harus dicatat dengan tanggal kapan transaksi tersebut terjadi. Tanggal ini penting untuk mengurutkan dan merinci catatan transaksi secara kronologis.
  2. Deskripsi Transaksi: Transaksi harus dijelaskan secara singkat dan jelas dalam catatan. Deskripsi ini membantu memahami sifat transaksi dan mengapa itu terjadi.
  3. Akun yang Terlibat: Setiap transaksi melibatkan akun-akun tertentu dalam sistem akuntansi. Akun-akun ini mencakup persediaan, kas, piutang, hutang, dan akun lain yang relevan. Pencatatan harus mencantumkan akun-akun yang terlibat dalam transaksi tersebut.
  4. Nilai Moneter: Jumlah uang atau nilai moneter yang terlibat dalam transaksi harus dicatat dengan benar. Ini mencakup jumlah pembelian, penjualan, biaya, dan lainnya.
  5. Referensi Dokumen: Dalam beberapa kasus, transaksi dapat memiliki dokumen pendukung seperti faktur, kwitansi, atau kontrak. Referensi dokumen ini dapat disertakan dalam pencatatan transaksi.
  6. Metode Pembayaran: Jika transaksi melibatkan pembayaran atau penerimaan uang, metode pembayaran juga bisa dicatat, seperti pembayaran tunai, cek, transfer bank, dan lainnya.

Baca juga: Pahami Pentingnya Work Order dalam Industri Manufaktur

3. Analisis dan klasifikasi

Setelah transaksi bisnis dicatat, langkah selanjutnya dalam siklus akuntansi perusahaan manufaktur adalah melakukan analisis dan klasifikasi terhadap transaksi-transaksi tersebut.

Proses ini melibatkan pemilahan dan pengelompokkan transaksi ke dalam akun-akun yang sesuai dalam rencana akun perusahaan. Beberapa poin penting dalam analisis dan klasifikasi transaksi adalah sebagai berikut:

  1. Pengelompokan Akun: Transaksi yang dicatat dalam pembukuan kemudian dikelompokkan ke dalam akun-akun yang tercantum dalam rencana akun perusahaan. Setiap akun mewakili jenis transaksi atau kategori biaya tertentu. Contohnya, akun “Persediaan Bahan Baku” mewakili transaksi pembelian bahan baku.
  2. Analisis Spesifik: Transaksi harus dianalisis secara spesifik untuk memastikan bahwa mereka masuk ke dalam kategori yang tepat. Misalnya, pengeluaran untuk biaya produksi harus diuraikan lebih lanjut menjadi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.
  3. Penyesuaian Akun: Jika transaksi mengharuskan penyesuaian, seperti penyesuaian persediaan yang rusak atau perhitungan biaya produksi yang belum diselesaikan, ini juga harus diperhitungkan dalam analisis dan klasifikasi.
  4. Akurasi dan Kesesuaian: Setiap transaksi harus ditempatkan dalam akun yang paling sesuai dengan sifat transaksi tersebut. Akun harus dipilih berdasarkan jenis transaksi dan tujuan informasi yang ingin dihasilkan dari pencatatan tersebut.
  5. Penghitungan Saldo Akun: Setelah transaksi diklasifikasikan, saldo akun dapat dihitung dengan menambahkan semua transaksi yang tercatat dalam akun tersebut. Ini membantu dalam menyusun laporan keuangan yang akurat.

Baca juga: Tips Memilih Software Akuntansi Manufaktur Terbaik

4. Pencatatan persediaan

Dalam konteks akuntansi manufaktur, pencatatan persediaan memiliki peran penting dalam melacak dan mengelola berbagai jenis persediaan yang dimiliki.

Terdapat tiga jenis persediaan yang umum ditemukan dalam perusahaan manufaktur: bahan baku, bahan dalam proses, dan barang jadi. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut tentang pencatatan persediaan:

  1. Persediaan Awal: Pada awal periode akuntansi, persediaan yang ada dari periode sebelumnya harus dicatat. Ini mencakup persediaan bahan baku, bahan dalam proses, dan barang jadi yang belum terjual. Pencatatan persediaan awal menjadi titik awal untuk menghitung pergerakan persediaan selama periode berjalan.
  2. Pembelian Bahan Baku: Setiap kali perusahaan membeli bahan baku, transaksi ini harus dicatat dalam buku harian atau sistem akuntansi yang digunakan. Pencatatan ini mencakup tanggal pembelian, jumlah bahan baku yang dibeli, harga per unit, dan akun yang terlibat, seperti “Persediaan Bahan Baku” dan “Utang Dagang” (jika pembelian dilakukan secara kredit).
  3. Bahan Dalam Proses: Ketika bahan baku mulai diproses menjadi produk jadi, persediaan tersebut menjadi bahan dalam proses. Pencatatan persediaan bahan dalam proses mencakup penghitungan biaya bahan baku yang telah digunakan dalam produksi serta biaya tenaga kerja langsung yang dikeluarkan. Biaya ini kemudian ditambahkan ke persediaan bahan dalam proses.
  4. Barang Jadi: Setelah produk selesai diproduksi dan siap dijual, persediaan ini disebut barang jadi. Pencatatan barang jadi mencakup menghitung total biaya produksi (termasuk bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik) untuk produk-produk yang telah selesai. Biaya ini akan menjadi dasar harga jual dan nilai persediaan akhir barang jadi.
  5. Persediaan Akhir: Pada akhir periode akuntansi, persediaan akhir harus dihitung dan dicatat. Ini termasuk persediaan bahan baku yang masih tersisa, bahan dalam proses yang belum diselesaikan, dan barang jadi yang belum terjual. Pencatatan persediaan akhir merupakan langkah penting untuk menghitung nilai persediaan yang masih dimiliki oleh perusahaan.

Baca juga: 10 Rekomendasi Software Manajemen Keuangan Bisnis

5. Pencatatan biaya produksi

akuntansi manufaktur

Biaya produksi adalah jumlah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan manufaktur untuk menghasilkan barang jadi.

Biaya ini melibatkan beberapa komponen utama, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai biaya produksi:

  1. Biaya Bahan Baku: Biaya bahan baku adalah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh bahan mentah atau bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi. Ini mencakup biaya pembelian bahan baku, pengiriman, dan biaya lain yang terkait langsung dengan perolehan bahan baku.
  2. Biaya Tenaga Kerja Langsung: Biaya tenaga kerja langsung mencakup gaji dan upah karyawan yang secara langsung terlibat dalam proses produksi. Ini mencakup pekerja yang melakukan aktivitas fisik dalam mengolah bahan baku menjadi produk jadi.
  3. Biaya Overhead Pabrik: Biaya overhead pabrik adalah biaya produksi yang tidak dapat langsung diatribusikan pada bahan baku atau tenaga kerja langsung. Ini mencakup biaya operasional pabrik seperti penyusutan mesin, biaya listrik, biaya pemeliharaan, dan lainnya. Biaya overhead pabrik sering perlu dialokasikan ke produk-produk yang dihasilkan menggunakan metode yang relevan.

Baca juga: Siklus Akuntansi Bisnis Manufaktur dan Bedanya dengan Bisnis Lain

6. Pencatatan penjualan

Pencatatan penjualan adalah langkah penting dalam siklus akuntansi perusahaan manufaktur.

Ketika produk jadi dijual kepada pelanggan, transaksi ini harus dicatat dengan benar. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai pencatatan penjualan:

  1. Informasi Transaksi: Ketika produk jadi dijual, transaksi penjualan harus dicatat dalam buku harian atau sistem akuntansi yang digunakan oleh perusahaan. Informasi yang terkait dengan transaksi ini meliputi tanggal penjualan, identitas produk yang dijual, harga jual per unit, jumlah unit yang dijual, dan informasi pelanggan yang terlibat.
  2. Pengurangan Persediaan: Dalam pencatatan penjualan, persediaan barang jadi harus dikurangi sejumlah produk yang dijual. Ini mencerminkan fakta bahwa produk telah meninggalkan persediaan dan sekarang menjadi pendapatan perusahaan.
  3. Pencatatan Pendapatan: Selain mengurangi persediaan, transaksi penjualan juga mencatat pendapatan penjualan yang diperoleh dari penjualan produk. Pendapatan ini akan diakui dalam laporan laba rugi perusahaan dan akan meningkatkan total pendapatan.
  4. Akun yang Terlibat: Transaksi penjualan akan mempengaruhi beberapa akun dalam sistem akuntansi, seperti “Persediaan Barang Jadi” yang dikurangi, “Pendapatan Penjualan” yang bertambah, dan “Piutang Usaha” jika penjualan dilakukan secara kredit.
  5. Pelacakan Pelanggan: Jika pelanggan membayar tunai saat pembelian, transaksi ini juga akan dicatat dalam pencatatan pembayaran. Namun, jika penjualan dilakukan secara kredit, catatan akan dibuat untuk mencatat piutang yang akan diterima dari pelanggan tersebut.
  6. Dokumentasi Pendukung: Transaksi penjualan sering kali didukung oleh faktur penjualan atau tanda terima lainnya. Referensi ini bisa dicantumkan dalam pencatatan sebagai bukti dokumentasi transaksi.

Baca juga: Mau Jadi Akuntan Senior? Berikut Tugas dan Persyaratannya

7. Pencatatan beban

Pencatatan beban merupakan tahap penting dalam siklus akuntansi perusahaan manufaktur. Beban merujuk pada berbagai biaya operasional yang dikeluarkan perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai pencatatan beban:

  1. Jenis Beban: Beban yang dicatat dalam tahap ini meliputi berbagai jenis biaya operasional, seperti biaya penjualan, biaya administrasi, biaya pemasaran, biaya distribusi, biaya umum, dan biaya-biaya lain yang terkait dengan operasional perusahaan.
  2. Alokasi Beban: Setelah dicatat, biaya operasional ini harus dialokasikan ke akun-akun biaya yang sesuai dalam rencana akun perusahaan. Misalnya, biaya tenaga penjualan akan dialokasikan ke akun “Biaya Penjualan,” sementara biaya kantor akan dialokasikan ke akun “Biaya Administrasi.”
  3. Dokumentasi Pendukung: Seperti pada tahap lain dalam siklus akuntansi, pencatatan beban juga sering didukung oleh dokumen pendukung seperti faktur, kwitansi, atau kontrak. Referensi dokumen ini bisa dicantumkan dalam pencatatan sebagai bukti transaksi.
  4. Kategorisasi Beban: Beban juga dapat dikategorikan lebih lanjut untuk memahami komponen biaya yang lebih spesifik, misalnya biaya gaji, biaya iklan, biaya sewa, dan lain-lain.

Baca juga: 10 Tips Terbaik LinkedIn Profil untuk Akuntan

8. Penyesuaian akhir tahun

Penyesuaian akhir tahun adalah langkah krusial dalam siklus akuntansi perusahaan manufaktur. Pada akhir periode akuntansi, perusahaan perlu melakukan penyesuaian untuk memastikan bahwa informasi keuangan yang tercatat mencerminkan kondisi aktual perusahaan. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai penyesuaian akhir tahun:

  1. Penyesuaian Biaya Produksi yang Belum Diselesaikan: Jika perusahaan memiliki produk dalam proses yang belum selesai pada akhir periode, maka biaya produksi yang terkait dengan produk-produk ini perlu dihitung dan disesuaikan. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa biaya produksi yang belum terakumulasi secara penuh diakui dan dicatat dengan benar.
  2. Penyesuaian Persediaan Rusak atau Usang: Jika terjadi kerusakan atau kepunahan persediaan (baik bahan baku, bahan dalam proses, atau barang jadi), maka nilai persediaan tersebut perlu disesuaikan untuk mencerminkan kerugian yang ditimbulkan. Hal ini bisa mempengaruhi nilai persediaan dan nilai aset perusahaan.
  3. Penyesuaian Beban yang Tertunda: Beberapa jenis beban, seperti biaya asuransi yang telah dibayar di muka, mungkin perlu disesuaikan agar sesuai dengan periode akuntansi yang sedang diakhiri. Ini membantu dalam mengakui beban secara tepat saat periode tersebut.
  4. Penyesuaian Pendapatan Tertunda: Jika perusahaan telah menerima pembayaran di muka dari pelanggan untuk layanan atau produk yang akan disediakan di masa depan, maka pendapatan ini perlu disesuaikan untuk mencerminkan bagian yang sebenarnya telah terpenuhi pada periode tersebut.
  5. Penyesuaian Depresiasi dan Amortisasi: Nilai depresiasi atau amortisasi untuk aset tetap atau hak atas aset tetap mungkin juga perlu disesuaikan berdasarkan metode yang digunakan perusahaan.
  6. Penyesuaian Pendapatan dan Biaya: Jika terdapat transaksi yang belum tercatat atau tercatat tidak akurat, penyesuaian diperlukan untuk memperbaiki kesalahan ini dan memastikan informasi keuangan yang akurat.

Baca juga: 10 Podcast Akuntansi yang Wajib Didengarkan Akuntan

9. Penutupan buku

Setelah penyesuaian dilakukan, buku-buku akuntansi ditutup untuk periode tersebut. Ini melibatkan mentransfer pendapatan dan biaya ke akun modal atau laba ditahan, sehingga persiapan untuk periode akuntansi baru dapat dimulai.

10. Penyusunan laporan keuangan

Setelah penutupan buku, perusahaan akan menyusun laporan keuangan seperti neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas. Laporan-laporan ini memberikan gambaran menyeluruh tentang kinerja keuangan perusahaan selama periode akuntansi tersebut.

Baca juga: Jenis Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur dan Contohnya

11. Analisis dan pengambilan keputusan

nformasi yang terkandung dalam laporan keuangan digunakan untuk menganalisis kinerja perusahaan.

Manajemen menggunakan informasi ini untuk mengambil keputusan yang lebih baik, memantau efisiensi operasional, dan merencanakan strategi bisnis.

Baca juga: Pengertian Teori Akuntansi, Jenis, Prinsip, dan Konsepnya

Apa Perbedaan Akuntansi Manufakur dengan Akuntansi Umum?

akuntansi manufaktur 2

Akuntansi untuk manufaktur berbeda dari praktik akuntansi umum dalam beberapa aspek utama. Sifat operasi manufaktur yang khas memerlukan pendekatan dan pertimbangan khusus dalam proses akuntansi.

Berikut adalah beberapa perbedaan yang harus Anda perhatikan:

1. Persediaan dan biaya bahan baku

Dalam akuntansi manufaktur, ada penekanan pada pencatatan persediaan bahan baku, bahan dalam proses, dan barang jadi. Perhitungan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik sangat penting.

Di akuntansi konvensional, fokus pada persediaan dan biaya mungkin tidak sedetail dalam konteks manufaktur.

2. Biaya produksi

Akuntansi manufaktur mencakup penghitungan biaya produksi yang lebih rinci. Ini melibatkan alokasi biaya overhead pabrik ke produk-produk yang dihasilkan, yang sering menggunakan metode seperti biaya tenaga kerja langsung atau jam mesin.

Masih behubungan dengan poin nomor satu, penghitungan biaya produksi memerlukan pelacakan dan penilaian persediaan ini menggunakan metode seperti biaya rata-rata bergerak atau metode First In, First Out (FIFO).

Hal ini memungkinkan perusahaan untuk menentukan harga pokok penjualan yang sebenarnya dan nilai persediaan yang tersisa.

Di akuntansi konvensional, perhitungan biaya produksi mungkin tidak sespesifik dalam hal ini.

Baca juga: Masa Depan Akuntansi di Tengah Perkembangan Teknologi

3. Metode pencatatan

Akuntansi manufaktur cenderung menggunakan metode pencatatan seperti Job Order Costing atau Process Costing untuk menghitung biaya produksi.

Di sisi lain, akuntansi konvensional mungkin lebih condong pada metode pencatatan seperti akuntansi beban dan pendapatan.

4. Pengukuran kinerja

Akuntansi manufaktur lebih berfokus pada pengukuran kinerja yang berkaitan dengan produksi dan efisiensi produksi, seperti Output Rate, Yield Rate, dan lainnya.

Akuntansi konvensional mungkin lebih menekankan aspek keuangan umum seperti laba rugi dan neraca.

5. Akuntansi persediaan

Manajemen persediaan dan rotasi persediaan (turnover) merupakan bagian penting dari akuntansi manufaktur. Pencatatan persediaan dalam akuntansi manufaktur harus mempertimbangkan siklus produksi dan pasokan.

Di akuntansi konvensional, aspek persediaan mungkin tidak sekompleks dalam kasus perusahaan manufaktur.

6. Pengukuran nilai

Dalam akuntansi manufaktur, konsep seperti nilai wajar dan nilai manfaat lebih sering digunakan dalam penilaian persediaan dan aset. Di akuntansi konvensional, nilai historis cenderung lebih dominan.

7. Akuntansi work in process (WIP)

Akuntansi manufaktur mencakup pelacakan biaya yang terkait dengan produk yang masih dalam proses produksi, yang dikenal sebagai barang dalam proses atau work in process (WIP).

Hal ini melibatkan estimasi persentase penyelesaian untuk setiap produk dan mengalokasikan biaya yang sesuai. Akuntansi WIP memberikan visibilitas ke dalam biaya yang dikeluarkan pada berbagai tahap produksi.

8. Analisis varians

Akuntansi manufaktur menggabungkan analisis varians untuk membandingkan biaya aktual dengan biaya standar atau yang dianggarkan.

Varians, seperti penggunaan material atau varians efisiensi tenaga kerja, membantu mengidentifikasi penyimpangan dari biaya yang diharapkan dan memungkinkan bisnis untuk mengambil tindakan korektif untuk mengendalikan biaya dan meningkatkan efisiensi operasional.

Baca juga: 9 Rekomendasi Software Akuntansi Pet Shop Terbaik

Pada Intinya..

Akuntansi manufaktur adalah proses kompleks yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus. Untuk memastikan akurasi dan efisiensi dalam prosesnya, ada beberapa praktik terbaik yang harus diikuti.

  • Otomatisasi adalah kuncinya – Mengotomatiskan proses pembuatan faktur, pembayaran, dan transaksi keuangan lainnya akan membantu memastikan akurasi dan konsistensi.
  • Menerapkan kontrol inventaris yang kuat – Melacak inventaris sangat penting dalam industri manufaktur, dan memiliki sistem yang dapat diandalkan untuk melacak dan mengelola inventaris sangat penting.
  • Melacak biaya produksi – Biaya produksi adalah salah satu biaya utama yang terkait dengan proses manufaktur, dan biaya tersebut harus dilacak dan dipantau secara teratur untuk memastikan keakuratannya.
  • Memanfaatkan analisis data – Analisis data dapat digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang kinerja keuangan dari metodologi produksi dan membantu membuat keputusan yang lebih tepat.

Dan untuk memudahkan semua hal ini, Anda bisa menggunakan sistem akuntansi yang diciptakan untuk proses pengelolaan akuntansi manufaktur yang lebih baik, salah satunya adalah dengan menggunakan software akuntansi Kledo.

Kledo adalah software akuntansi buatan Indonesia yang digunakan oleh banyak pemilik bisnis manufaktur untuk memudahkan proses pengelolaan data keuangan dan operasional.

Pahami bagaimana Kledo membantu pengelolaan pembukuan bisnis manufaktur Anda melalui halaman ini.

Jika tertarik, Anda bisa mencoba menggunakan Kledo secara gratis selama 14 hari melalui tautan ini.

sugi priharto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ten + 16 =