Pada tahun 2019 hingga 2024, 93% bisnis mengalami gangguan rantai pasok atau supply chain yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat pandemi.
Dari peristiwa ini, banyak perusahaan belajar bahwa supply chain adalah hal yang rentan dan memerlukan perencanaan, atau yang disebut supply chain planning.
Jika perencanaan rantai pasok perusahaan Anda buruk, perusahaan Anda bisa berakhir harus mengeluarkan lebih banyak biaya untuk membeli pasokan barang, sehingga margin laba berkurang dan bahkan terancam untuk menaikkan harga (yang membuat pelanggan tidak puas).
Pada artikel ini, kita akan membahas supply chain planning, tahapan, tantangan, serta cara membangun ketahanan supply chain untuk bisnis Anda.
Apa Itu Supply Chain Planning?
Supply Chain Planning adalah proses mengoptimalkan pengiriman barang, layanan, dan informasi dari pemasok ke pelanggan, dengan tujuan menyeimbangkan penawaran dan permintaan.
Kedengarannya memang mudah, tapi implementasinya sangat kompleks. Perusahaan manufaktur harus menghadapi berbagai faktor yang tidak dapat diprediksi, seperti:
- Lonjakan permintaan yang tiba-tiba ketika suatu produk menjadi viral
- Adanya mogok kerja yang memengaruhi ketersediaan tenaga kerja seperti operator produksi dan sopir truk
- Terjadinya peristiwa besar seperti perang, pandemi, dan bencana alam.
Karena itu, praktik supply chain planning yang efektif memungkinkan perusahaan untuk mengidentifikasi, mengantisipasi, dan beradaptasi terhadap perubahan.

Baca Juga: Supply Chain Analytics: Pengertian Lengkap dan Mengapa ini Penting?
Apa Saja Tahap Dalam Supply Chain Planning?

Ada 6 tahap dalam supply chain planning, yaitu demand forecasting, supply planning, inventory planning, production planning, sales and operations planning, dan logistics and distribution planning.
1. Peramalan dan perencanaan permintaan (Demand forecasting and planning)
Demand forecasting membantu Anda memperkirakan kebutuhan pelanggan di masa depan (apa yang akan dibeli, kapan, dan mengapa) supaya bisa menentukan apa yang harus diproduksi, disimpan, dan didistribusikan.
Forecast biasanya didasarkan pada:
- Riwayat data penjualan
- Riset pasar dan kompetitor
- Feedback pelanggan
- Pola musiman
Nah, hasil dari forecast ini menjadi dasar dalam demand planning. Dari sini, perusahaan juga bisa mengidentifikasi peluang produk baru maupun melakukan penyesuaian pada produk yang sudah ada agar lebih diminati pasar.
Tahapan ini sangat penting. Jika tidak melakukan forecast, bisnis Anda berisiko merilis produk yang tidak diminati atau justru kehabisan stok untuk produk yang sedang banyak dicari.
Tips:
Permintaan bisa cepat berubah. Jadi, selalu perbarui forecast Anda dengan data terbaru. Dengan begitu, Anda dapat lebih cepat mendeteksi potensi overstock atau stock out.
2. Perencanaan pasokan (Supply planning)
Dari demand planning yang sudah kita bahas di atas, hasilnya digunakan untuk supply planning.
Supply planning adalah proses perencanaan untuk memenuhi kebutuhan bisnis.
Pada tahap ini, tim akan mengevaluasi:
- Stok yang tersedia saat ini
- Kebutuhan pembelian tambahan
- Kapasitas vendor, pabrik, dan internal perusahaan
Dalam tahap ini, perusahaan juga menentukan apakah perlu mencari pemasok baru atau menegosiasikan ulang kontrak dengan pemasok yang ada.
Tujuannya adalah memastikan ketersediaan barang, menekan biaya, dan menjaga ketepatan waktu pengiriman ke pelanggan.
Tips: Jangan bergantung pada satu supplier saja, terutama untuk bahan yang penting. Karena jika terjadi gangguan, seluruh rantai pasok bisa terdampak.
3. Perencanaan dan manajemen persediaan (Inventory planning and management)
Tahap ini menentukan:
- Berapa banyak stok yang harus disimpan
- Di mana stok disimpan
- Kapan harus melakukan restock
Jumlah stok harus seimbang. Terlalu banyak stok berarti dana mengendap dan tidak produktif, sedangkan stok terlalu sedikit dapat menyebabkan kehilangan penjualan.
Sesuaikan tingkat persediaan dengan permintaan aktual sambil mempertimbangkan faktor seperti lead time, keandalan supplier, dan musim.
Tips: Siapkan safety stock
Safety stock adalah stok tambahan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan atau keterlambatan pengiriman. Namun, jumlahnya harus tetap efisien agar tidak membebani biaya.
Jika Anda memiliki software persediaan seperti Kledo, manajemen persediaan ini bisa dilakukan dengan lebih mudah.
Kledo memfasilitasi pemantauan stok barang, menerima notifikasi saat persediaan mulai menipis, serta membantu menghindari status kekurangan atau kelebihan stok dalam ruang penyimpanan.
Anda juga bisa melihat ringkasan grafik persediaan yang menampilkan informasi mengenai ringkasan total stok, total nilai HPP, hingga pergerakan stok di setiap gudang.
Baca Juga: Tips Manajemen Rantai Pasok dan Pengertian Lengkapnya
4. Perencanaan produksi (Production planning)
Seperti halnya supply planning, perencanaan produksi bergantung pada hasil peramalan permintaan untuk menyusun jadwal produksi yang jelas serta mengalokasikan sumber daya seperti mesin, tenaga kerja, dan bahan baku agar sesuai dengan kebutuhan.
Peran supply chain planner di tahap ini meliputi:
- Menentukan timeline untuk setiap produk
- Menjadwalkan setup dan proses produksi
- Merencanakan maintenance
- Mengoordinasikan kedatangan bahan baku
Tujuan utamanya adalah memaksimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia dan mengoptimalkan kinerja supply chain.
Tips praktis: Sisakan kapasitas untuk lonjakan permintaan
Karena kapasitas yang terlalu penuh dapat menyebabkan produk cacat, keterlambatan pengiriman, dan risiko keselamatan kerja.
5. Sales and Operations Planning (S&OP)
Sales and Operations Planning (S&OP) adalah proses terstruktur yang menyamakan tim sales, marketing, dan keuangan dengan tim operasional (produksi, persediaan, dan manajemen supply chain) agar sesuai dengan tujuan perusahaan.
Tanpa koordinasi yang baik:
- Tim sales dan marketing bisa overpromise atau terlalu memberikan janji yang sulit ditepati kepada pelanggan
- Tim produksi bisa memproduksi barang yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar
S&OP membantu menyeimbangkan prioritas antar departemen dan memastikan setiap keputusan dibuat berdasarkan data terbaru dari seluruh bagian perusahaan.
Tips: Pusatkan data dalam satu sistem
Setiap departemen biasanya memiliki datanya sendiri-sendiri. Data yang terpisah (data silo) sering menimbulkan miskomunikasi dan keputusan yang tidak sinkron. Misalnya, satu tim meminta tambahan stok, sementara tim lain sudah melakukan pemesanan sebelumnya.
6. Perencanaan logistik dan distribusi (Logistics and distribution planning)
Tahap ini menentukan bagaimana produk jadi dikirim dari lokasi produksi ke pelanggan. Dalam proses ini, tim supply chain akan:
- Memilih jasa pengiriman (carrier)
- Menentukan rute distribusi yang paling efisien
- Menentukan lokasi gudang yang optimal
- Menyusun jadwal pengiriman
Pengiriman cepat seperti same-day delivery memang meningkatkan kepuasan pelanggan, tetapi juga membutuhkan kapasitas dan perencanaan yang lebih matang.
Tips praktis: Siapkan alur reverse logistics
Reverse logistics adalah proses penanganan barang retur atau produk cacat.
Reverse logistic membutuhkan Anda untuk melakukan hal berikut:
- Menentukan alur pengiriman balik
- Menetapkan tanggung jawab tim
- Menentukan waktu proses retur
- Membuat aturan untuk restock, perbaikan, atau pembuangan barang
Selain itu, pantau juga volume dan biaya retur agar dapat mengidentifikasi pola masalah dan meningkatkan efisiensi operasional.
Baca Juga: Manajemen Pengadaan: Pengertian, Manfaat, & Tips Mengelolanya
Tantangan dalam Proses Supply Chain Planning

Dunia semakin terhubung, dan jangkauan rantai pasok menjadi semakin luas.
Hal ini membuka peluang untuk bekerja sama dengan supplier yang lebih baik, mendapatkan bahan berkualitas tinggi, dan memanfaatkan efisiensi biaya.
Namun di sisi lain, kondisi ini juga membuat supply chain lebih rentan terhadap berbagai tantangan baru seperti:
1. Semakin rumit
Pengelolaan rantai pasok kini menjadi jauh lebih kompleks, apalagi karena supplier semakin banyak, pasar semakin beragam, serta jaringan logistik juga bertambah rumit.
Hal ini meningkatkan risiko seperti:
- Kesalahan operasional
- Keterlambatan produksi
- Respons yang lebih lambat terhadap perubahan
2. Permintaan semakin bervariasi
Permintaan pelanggan berubah dengan sangat cepat karena berbagai faktor seperti tren pasar, musim, dan kondisi ekonomi.
Akibatnya, perusahaan bisa kekurangan stok saat permintaan tinggi, atau justru kelebihan stok saat permintaan menurun.
Karena itu, peramalan tidak bisa hanya mengandalkan data historis. Perusahaan perlu menggunakan data real-time dan teknologi seperti AI untuk membuat skenario perencanaan yang lebih akurat.
3. Gangguan supply chain
Gangguan dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti:
- Bencana alam
- Konflik geopolitik
- Pandemi
- Kegagalan supplier
Dampaknya bisa berupa keterlambatan hingga penghentian produksi. Selain merugikan secara finansial, gangguan ini juga dapat merusak reputasi bisnis di mata pelanggan.
Dengan meningkatnya dampak perubahan iklim, mobilitas global, dan ketidakstabilan geopolitik, perencanaan dan manajemen risiko menjadi semakin penting.
4. Manajemen persediaan
Manajemen persediaan adalah tantangan yang tidak pernah selesai. Perusahaan harus terus menyeimbangkan antara:
- Ketersediaan stok untuk memenuhi permintaan
- Efisiensi biaya penyimpanan
Hal ini membutuhkan perencanaan yang presisi, data real-time, dan penggunaan tools modern agar keputusan yang diambil tetap optimal.
5. Koordinasi antar pihak dalam supply chain
Supply chain melibatkan banyak pihak, seperti supplier, produsen, dan distributor. Koordinasi antar pihak ini menjadi kompleks, terutama jika terdapat:
- Kurangnya transparansi
- Miskomunikasi
- Ketidakselarasan data
Padahal, kesalahan kecil dalam komunikasi dapat berdampak besar, seperti:
- Lead time yang lebih lama
- Biaya operasional meningkat
- Ketidaksesuaian antara stok dan permintaan
Baca Juga: Tahapan Melakukan Supply Chain Audit, Tips, dan Tantangannya
Cara Membangun Ketahanan dalam Supply Chain Planning

Menurut survei 2024 dari Gartner, dunia bisnis saat ini menghadapi berbagai tantangan besar dengan 3 hambatan utama, yaitu:
- Resesi global/lokal
- Ketidakpastian ekonomi jangka panjang
- Perubahan regulasi
Menurut prediksi, 92% perusahaan akan gagal membangun ketahanan rantai pasok mereka hingga tahun 2026.
Gartner mengusulkan 3 solusi untuk membangun ketahanan supply chain planning, yaitu:
1. Ubah Pendekatan Perencanaan
Selama ini, supply chain planning menggunakan metode deterministik, yaitu menghasilkan satu angka pasti sebagai target.
Masalahnya:
- Pendekatan ini hanya menghasilkan dua kemungkinan hasil: berhasil atau gagal
- Tidak ada ruang untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bisa terjadi
- Pendekatan ini mengasumsikan bahwa masa depan bisa diprediksi dengan pasti, padahal kenyataannya tidak bisa
Dunia sudah berubah, jadi pendekatan pun juga harus berubah.
Solusinya adalah beralih ke Probabilistic Planning (Perencanaan Probabilistik), yaitu perencanaan dalam rentang kemungkinan, bukan satu titik angka.
Pendekatan ini menguji dan mempersiapkan berbagai skenario perkiraan untuk mengoptimalkan pengambilan keputusan, waktu, sumber daya, dan inventaris.
Menurut 2023 Gartner Antifragile Supply Chain Management Survey, dalam dua tahun ke depan, jumlah perusahaan yang beralih ke pendekatan ini akan tumbuh 23%.
2. Aktifkan Digital Scenario Planning
Perencanaan skenario tradisional sudah tidak memadai lagi karena perubahan yang terjadi kini bersifat simultan, saling terhubung, dan cepat, sehingga dampaknya semakin sulit dimitigasi.
Digital scenario planning dalah metode perencanaan berbasis teknologi yang mampu menangkap semua perubahan kondisi yang terjadi dan menguji berbagai asumsi secara bersamaan.
Sederhananya, ini adalah cara menggunakan teknologi digital untuk mensimulasikan berbagai kemungkinan skenario sebelum dan saat disrupsi terjadi, sehingga perusahaan bisa mengambil keputusan yang lebih baik dan lebih cepat.
3. Implementasikan Kerangka Manajemen Risiko
Saat ini, keputusan terkait risiko sering dikelola secara tidak konsisten antar tim perencanaan.
Solusinya adalah membentuk Komite Risiko yang memiliki 4 tugas:
- Mengawasi risiko rantai pasok: Memantau asumsi dalam S&OP dan menentukan dampak potensial dari setiap risiko
- Menentukan selera risiko rantai pasok: Menggunakan diskusi probabilistik untuk menetapkan seberapa besar risiko yang bisa diterima organisasi
- Meninjau risiko yang muncul dan yang sudah terjadi
- Memantau efektivitas respons risiko
Baca Juga: Supply Chain Forecasting: Metode, Tantangan, dan Manfaatnya
Kesimpulan
Supply chain planning adalah proses mengoptimalkan pengiriman barang, layanan, dan informasi dari pemasok ke pelanggan, agar penawaran dan permintaan seimbang.
Kegiatan ini sangat penting karena bisa memengaruhi laba perusahaan dan reputasi bisnis Anda di mata pelanggan.
Gunakan software akuntansi Kledo untuk mendukung proses supply chain planning Anda dengan fitur pencatatan persediaan, dashboard laporan inventaris, dan berbagai fitur lainnya.
Klik di sini untuk coba Kledo gratis selama 14 hari.
- Apa Itu Microfinancing? Contoh dan Cara Mengajukannya - 16 April 2026
- Cara Membangun Ketahanan Supply Chain Planning Perusahaan - 16 April 2026
- Cara Mencegah dan Mengatasi Faktur yang Terlambat Dibayar? - 16 April 2026