Laporan laba rugi adalah salah satu laporan terpenting untuk usaha klinik, karena menampilkan total pendapatan, pengeluaran, dan laba bersih dalam satu periode.
Dari informasi di laporan ini, Anda bisa mengevaluasi efisiensi operasional, mengendalikan pengeluaran, bahkan menjadikannya faktor utama dalam pengambilan keputusan bisnis.
Tapi, bagaimana cara menyusun laporan laba rugi yang benar dan bagaimana formatnya?
Artikel ini akan menjelaskan semua tentang komponen dan format laporan laba rugi klinik, contoh format yang dapat dijadikan referensi, sampai kesalahan yang perlu dihindari saat menyusunnya.
Apa Itu Laporan Laba Rugi Klinik?
Laporan laba rugi adalah laporan keuangan yang menunjukkan pendapatan, biaya, dan hasil usaha (laba atau rugi) yang diperoleh sebuah klinik dalam periode tertentu, misalnya bulanan, triwulanan, atau tahunan.
Untuk klinik, laporan ini membantu mengetahui apakah operasional klinik menghasilkan keuntungan atau justru mengalami kerugian.
Tidak seperti laporan laba rugi pada bisnis dagang, laporan laba rugi klinik memiliki beberapa akun yang disesuaikan dengan karakteristik layanan kesehatan, seperti pendapatan dari konsultasi dokter, tindakan medis, laboratorium, apotek, hingga biaya tenaga medis dan penggunaan bahan habis pakai.
Fungsi laporan laba rugi klinik
Laporan laba rugi memiliki peran penting dalam pengelolaan keuangan klinik, antara lain:
- Mengetahui apakah klinik memperoleh laba atau mengalami rugi selama periode tertentu.
- Mengevaluasi efisiensi biaya operasional, seperti gaji tenaga medis, pembelian obat, dan biaya administrasi.
- Menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis, misalnya menambah layanan baru atau mengurangi biaya yang tidak efisien.
- Membantu menyusun anggaran dan target keuangan untuk periode berikutnya.
- Menjadi dokumen pendukung dalam pengajuan pinjaman atau investasi.
Baca Juga: 6 Contoh Laporan Laba Rugi dan Download Templatenya Gratis
Apa Saja Komponen Laporan Laba Rugi Klinik?

Laporan laba rugi klinik terdiri dari berbagai komponen yang mencerminkan seluruh pendapatan dan beban selama satu periode akuntansi.
Berikut merupakan penjelasan komponennya:
Pendapatan layanan medis
Sebagian besar klinik memperoleh pendapatan terbesar mereka dari pendapatan layanan medis seperti biaya konsultasi dokter dan medical check-up.
Akun ini mencatat seluruh penerimaan tersebut dan pendapatan biasanya diakui ketika layanan telah diberika kepada pasien, meski pembayarannya dilakukan lewat asuransi atau BPJS sesuai ketentuan.
Pendapatan penjualan obat
Selain memberikan layanan kesehatan, banyak klinik juga memperoleh pendapatan dari penjualan obat kepada pasien.
Nilai yang dicatat adalah total penjualan obat sebelum dikurangi harga pokok penjualannya (HPP).
Pendapatan dari laboratorium
Jika klinik memiliki fasilitas laboratorium, seluruh pendapatan dari layanan tersebut harus dicatat dalam akun pendapatan laboratorium.
Contoh pendapatan dari laboratorium bisa mencakup tes darah, pemeriksaan gula darah, dan pemeriksaan kesehatan lainnya.
Pendapatan tindakan medis
Tindakan medis adalah berbagai prosedur yang dilakukan kepada pasien seperti jahit luka, vaksin, sunat, infus, atau cabut jahitan.
Karena setiap tindakan memiliki tarif yang berbeda, mencatat pendapatannya secara terpisah akan membantu Anda menganalisis profitabilitas masing-masing layanan.
Pendapatan lainnya
Kadang, klien menerima pendapatan dari luar layanan kesehatan yang juga perlu dicatat di laporan laba rugi.
Pendapatan ini contohnya pendapatan dari pelatihan atau seminar atau pendapatan kerja sama dengan perusahaan.
Harga Pokok Penjualan (HPP) Obat dan Alat Kesehatan
HPP merupakan biaya langsung yang dikeluarkan untuk memperoleh obat, alat kesehatan, maupun bahan medis habis pakai yang digunakan/dijual kepada pasien.
Anda harus mencatat HPP untuk menghitung laba kotor, terutama jika klinik memiliki instalasi farmasi.
Baca Juga: Harga Penjualan: Pembahasan Lengkap dan Bedanya dengan HPP
Beban gaji dokter dan tenaga medis
Ini adalah salah satu pokok pengeluaran terbesar dalam operasional klinik. Anda perlu terus memantau besaran biaya ini agar tetap seimbang denga pendapatan yang dihasilkan.
Beban administrasi
Beban administrasi adalah seluruh biaya yang mendukung kegiatan operasional kantor namun tidak berhubungan langsung dengan pelayanan medis.
Contoh beban administrasi adalah pengeluaran untuk:
- ATK
- Internet klinik
- Biaya administrasi bank
- Jasa akuntansi
Beban operasional klinik
Beban operasional mencakup seluruh biaya agar kegiatan klinik dapat berjalan setiap hari, seperti biaya kebersihan, keamanan, sewa bangunan, hingga biaya perawatan gedung.
Beban utilitas
Beban utilitas adalah biaya penggunaan berbagai fasilitas penunjang operasional seperti listrik, air, telepon, internet, gas.
Karena peralatan medis umumnya membutuhkan konsumsi listrik yang cukup besar, biaya utilitas bisa menjadi komponen pengeluaran yang besar.
Beban penyusutan aset medis
Klinik memiliki beragam aset tetap yang nilainya akan berkurang seiring waktu. Penurunan nilai tersebut dicatat sebagai beban penyusutan.
Contoh aset yang disusutkan adalah komputer, peralatan kantor, alat laboratorium, kendaraan operasional, mesin rontgen, dan lain-lain.
Penyusutan membantu mencerminkan biaya penggunaan aset secara lebih akurat pada setiap periode akuntansi.
Beban pemasaran
Jika Anda melakukan pemasaran yang menyedot biaya seperti memasang iklan digital, promosi media sosial, spanduk, pembuatan website, atau memberi program diskon, sebaiknya catat biaya tersebut untuk menghitung beban pemasarannya.
Beban bunga
Apabila klinik memiliki pinjaman dari bank atau lembaga pembiayaan, bunga pinjaman dicatat sebagai beban bunga.
Contohnya meliputi:
- Bunga kredit investasi.
- Bunga pinjaman modal kerja.
- Bunga pembiayaan pembelian alat kesehatan.
Biaya ini tidak termasuk beban operasional utama, tetapi tetap memengaruhi laba bersih klinik.
Beban Pajak
Beban pajak merupakan kewajiban perpajakan yang harus dibayar sesuai peraturan yang berlaku.
Jenis pajak yang umum muncul dalam laporan laba rugi klinik antara lain Pajak Penghasilan (PPh) badan, pajak final tertentu, dan beban pajak tangguhan.
Baca Juga: Laporan Pajak: Pengertian, Jenis, dan Cara Melaporkannya
Bagaimana Struktur Laporan Laba Rugi Klinik?

Setelah memahami berbagai komponen yang menyusun laporan laba rugi klinik, langkah berikutnya adalah mengetahui bagaimana komponen-komponen tersebut disusun menjadi sebuah laporan keuangan yang utuh.
Pada dasarnya, laporan laba rugi klinik disusun secara bertahap. Perhitungan dimulai dari total pendapatan yang diperoleh selama satu periode, kemudian dikurangi berbagai jenis biaya hingga menghasilkan laba bersih.
Berikut alur penyusunan laporan laba rugi klinik.
1. Ketahui semua pendapatan
Bagian pertama dalam laporan laba rugi adalah pendapatan (revenue), yaitu seluruh penghasilan yang diperoleh klinik dari aktivitas operasional selama periode tertentu.
Pendapatan dapat berasal dari berbagai sumber seperti yang kami sebutkan sebelumnya, seperti layanan konsultasi dokter, tindakan medis, penjualan obat, MCU, dan layanan kesehatan lainnya.
Seluruh pendapatan tersebut dicatat sesuai prinsip akuntansi yang berlaku sehingga mencerminkan nilai pendapatan yang benar-benar diperoleh klinik pada periode tersebut.
2. Hitung laba kotornya
Setelah menghitung seluruh pendapatan, langkah berikutnya adalah menemukan laba kotor Anda.
Rumus Laba Kotor: Pendapatan – Beban pokok
Beban pokok dapat meliputi:
- Harga pokok penjualan obat.
- Bahan medis habis pakai (BMHP).
- Alat kesehatan sekali pakai.
- Reagen laboratorium.
- Biaya langsung lainnya yang berkaitan dengan pelayanan medis.
Angka ini menunjukkan keuntungan yang diperoleh klinik sebelum memperhitungkan biaya operasional.
3. Mencari laba operasional
Tahap berikutnya adalah menemukan laba operasional dengan rumus berikut:
Laba Operasional = Laba kotor – Beban operasional
Beban operasional biasanya meliputi:
- Gaji dokter dan tenaga medis.
- Gaji staf administrasi.
- Sewa gedung.
- Listrik, air, internet, dan utilitas lainnya.
- Penyusutan alat kesehatan.
- Pemeliharaan fasilitas.
- Biaya pemasaran.
- Beban operasional lainnya.
4. Menghitung laba sebelum pajak
Setelah memperoleh laba operasional, laporan laba rugi memasukkan pendapatan maupun beban yang tidak berasal dari kegiatan utama klinik.
Anda perlu menghitung pendapatan dan beban lain-lain ini untuk memperoleh laba sebelum pajak.
5. Menemukan laba bersih
Laba bersih adalah keuntungan yang benar-benar diperoleh klinik setelah seluruh pendapatan dikurangi semua biaya dan kewajiban pajak.
Laba bersih menjadi indikator utama dalam menilai kinerja keuangan klinik. Nilai ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi profitabilitas, merencanakan ekspansi layanan, menentukan strategi pengendalian biaya, serta mendukung pengambilan keputusan bisnis pada periode berikutnya.
Baca Juga: Pentingnya Laba Bersih Setelah Pajak dan Cara Menghitungnya
Contoh Format Laporan Laba Rugi Klinik
Agar lebih mudah memahami penyusunan laporan laba rugi klinik, berikut contoh format sederhana yang dapat Anda gunakan sebagai referensi.
Setiap klinik bisa memiliki format yang sedikit berbeda, tergantung jenis layanan, skala usaha, dan kebijakan akuntansi yang diterapkan.
Tapi umumnya, struktur laporan tetap mengikuti urutan pendapatan, beban, hingga laba bersih.
Contoh Laporan Laba Rugi Bulanan Klinik
Berikut contoh laporan laba rugi klinik untuk periode satu bulan.

Contoh di atas menunjukkan bahwa klinik memperoleh total pendapatan sebesar Rp100 juta dalam satu bulan.
Setelah dikurangi seluruh biaya operasional, beban bunga, dan pajak, klinik menghasilkan laba bersih sebesar Rp18,63 juta.
Contoh Laporan Laba Rugi Tahunan Klinik
Laporan laba rugi tahunan memiliki struktur yang sama dengan laporan bulanan. Perbedaannya hanya terletak pada periode pelaporan, yaitu selama satu tahun akuntansi.
Sebagai ilustrasi, apabila kinerja klinik relatif stabil sepanjang tahun, laporan laba rugi dapat terlihat seperti berikut.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Aplikasi Kasir Apotek: dari Gratis hingga Berbayar
Kesalahan Umum Saat Menyusun Laporan Laba Rugi Klinik

Berikut beberapa kesalahan yang paling sering terjadi saat menyusun laporan laba rugi klinik dan sebaiknya Anda hindari:
1. Belum mengakui pendapatan dengan benar
Salah satu kesalahan yang umum terjadi adalah mengakui pendapatan pada waktu yang tidak tepat.
Misalnya, sudah mencatat pendapatan ketika pasien baru melakukan pendaftaran, padahal klinik belum memberikan layanan medis.
Sebaliknya, ada pula klinik yang menunda pencatatan pendapatan hingga menerima pembayaran, meskipun sudah selesai memberikan layanan. Praktik ini dapat menyebabkan pendapatan pada suatu periode menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Solusinya, klinik perlu menerapkan kebijakan pengakuan pendapatan yang konsisten sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.
2. Tidak mengelompokkan biaya dengan tepat
Kesalahan lainnya adalah mencampurkan berbagai jenis biaya ke dalam satu akun tanpa pengelompokan yang jelas.
Misalnya, biaya pembelian obat, gaji tenaga medis, biaya pemasaran, dan biaya administrasi semuanya dicatat sebagai “beban operasional”.
Padahal, ini bisa menyulitkan Anda dalam mengetahui pos pengeluaran dan strategi efisiensi masing-masing pos.
3. Tidak mencatat penyusutan aset
Banyak klinik hanya mencatat pembelian alat kesehatan sebagai pengeluaran saat aset dibeli tanpa menghitung penyusutan pada periode-periode berikutnya.
Padahal, berbagai aset memiliki masa manfaat yang panjang sehingga nilainya harus dialokasikan melalui penyusutan setiap periode.
Jika penyusutan tidak dicatat, laba klinik dapat terlihat lebih besar dari kondisi yang sebenarnya karena sebagian biaya penggunaan aset belum diperhitungkan.
4. Tidak memperbarui persediaan
Persediaan obat dan bahan medis habis pakai merupakan salah satu aset yang paling sering berubah. Apabila stok tidak diperbarui secara berkala, nilai HPP yang dihitung dalam laporan laba rugi juga menjadi tidak akurat.
Jadi, Anda perlu melakukan stock opname secara rutin serta menggunakan sistem inventaris yang terintegrasi untuk menjaga akurasi data persediaan.
5. Tidak melakukan rekonsiliasi data
Sebagai contoh, jumlah transaksi pada sistem kasir, aplikasi pendaftaran pasien, rekening bank, dan pencatatan akuntansi tidak selalu sama apabila tidak dilakukan pemeriksaan secara berkala.
Rekonsiliasi membantu memastikan bahwa seluruh transaksi telah tercatat dengan benar, mengurangi risiko kesalahan pencatatan, serta mendeteksi selisih atau transaksi yang terlewat sebelum menyusun laporan keuangan.
Baca Juga: Cara Melakukan Rekonsiliasi Bank: Ini Langkah Mudahnya
Kesimpulan
Laporan laba rugi klinik merupakan alat penting untuk mengukur kinerja keuangan dan profitabilitas sebuah klinik.
Namun, tantangan terbesar bisnis adalah menyusun laporan laba rugi secara manual yang menyita waktu dan rentan terhadap kesalahan.
Karena itu, software akuntansi untuk klinik Kledo menyediakan solusi berupa dashboard keuangan yang diperbarui secara real-time, laporan keuangan otomatis, serta pengelolaan persediaan, aset tetap, dan perpajakan dalam satu platform.
Jika Anda ingin menyusun laporan laba rugi klinik dengan lebih mudah, coba Kledo sekarang juga. Tersedia uji coba gratis selama 14 hari yang bisa Anda manfaatkan sebelum melakukan pembelian.
- Laporan Laba Rugi Klinik: Struktur, Format, dan Contoh - 7 Agustus 2026
- Mengenal Jenis Aset & Tarif Kelompok Penyusutan Fiskal - 6 Agustus 2026
- Apa Saja Organisasi Akuntansi di Indonesia? Peran dan Manfaat - 6 Agustus 2026
