Purchase price variance (PPV) adalah selisih antara harga standar dan harga sebenarnya yang didapatkan saat bisnis melakukan pembelian.
Harga pembelian bahan baku atau barang dagang tidak selalu sama dengan harga yang kita rencanakan, tapi bisa berubah karena faktor supplier, jumlah pembelian, diskon, hingga kondisi pasar.
Jika selisih ini terjadi berulang kali, dampaknya dapat terasa pada biaya pengadaan, margin, hingga harga pokok produksi (HPP).
Dengan menganalisis purchase price variance (PPV), Anda bisa mengukur selisih harga beli tersebut dan menentukan apa penyebabnya.
Apa Itu Purchase Price Variance (PPV)?
Purchase price variance adalah selisih antara harga standar suatu barang dengan harga aktual yang dibayarkan ketika melakukan pembelian.
Dalam praktik akuntansi manajemen, PPV berguna untuk mengevaluasi seberapa jauh biaya pembelian sebenarnya yang menyimpang dari perencanaan.
Harga standar merupakan harga yang sebelumnya ditetapkan sebagai acuan, misalnya berdasarkan kontrak supplier, negosiasi harga, data pembelian sebelumnya, atau estimasi biaya pengadaan (procurement).
Sementara itu, harga aktual adalah harga yang benar-benar dibayarkan bisnis untuk memperoleh barang tersebut.
Jadi sederhananya, PPV dapat menunjukkan dua kondisi:
- PPV favorable: Harga aktual lebih rendah daripada harga standar sehingga bisnis membayar lebih murah dari yang direncanakan.
- PPV unfavorable: Harga aktual lebih tinggi daripada harga standar sehingga biaya pembelian melebihi perencanaan.
Contohnya, bisnis Anda menetapkan harga standar bahan baku sebesar Rp50.000 per unit. Namun saat pembelian, supplier mengenakan harga Rp55.000 per unit. Artinya, terdapat selisih harga beli Rp5.000 per unit yang menghasilkan PPV unfavorable.
Sebaliknya, jika harga aktual hanya Rp47.000 per unit, bisnis memperoleh PPV favorable sebesar Rp3.000 per unit.
Baca Juga: 6 Metode Pengadaan dan Tips Memilih Suplier yang Benar
Apa Rumus Purchase Price Variance dan Bagaimana Cara Menghitungnya?

Rumus PPV = (Harga Standar – Harga Aktual) × Kuantitas Aktual
Keterangan:
- Harga standar = Harga yang telah ditetapkan sebagai acuan pembelian.
- Harga aktual = Harga yang benar-benar dibayarkan kepada supplier.
- Kuantitas aktual = Jumlah barang yang benar-benar dibeli.
Jika hasilnya angka positif, maka menunjukkan PPV favorable, karena harga aktual lebih rendah daripada harga standar.
Sebaliknya, angka negatif menunjukkan PPV unfavorable, karena harga aktual lebih tinggi daripada harga standar.
Contoh PPV Favorable
Misalnya, sebuah bisnis menetapkan harga standar bahan baku sebesar Rp10.000 per unit.
Pada pembelian berikutnya, supplier memberikan harga aktual sebesar Rp8.500 per unit dan bisnis membeli sebanyak 500 unit.
Perhitungannya:
PPV = (Rp10.000 – Rp8.500) × 500
PPV = Rp1.500 × 500 = Rp750.000
Jadi, bisnis memperoleh PPV favorable sebesar Rp750.000. Artinya, biaya pembelian aktual Rp750.000 lebih rendah dibandingkan biaya yang seharusnya dikeluarkan berdasarkan harga standar.
Selisih ini dapat memberikan dampak positif terhadap biaya produksi atau margin, selama harga yang lebih rendah tidak disertai penurunan kualitas atau konsekuensi lain dalam pengadaan.
Contoh PPV Unfavorable
Sebaliknya, misalnya harga standar bahan baku adalah Rp10.000 per unit, tetapi supplier menaikkan harga menjadi Rp11.500 per unit. Bisnis tetap membeli sebanyak 500 unit.
Perhitungannya:
PPV = (Rp10.000 – Rp11.500) × 500
PPV = -Rp1.500 × 500 = -Rp750.000
Hasilnya adalah PPV unfavorable sebesar Rp750.000. Artinya, bisnis mengeluarkan biaya pembelian Rp750.000 lebih tinggi dibandingkan standar yang telah ditetapkan.
Jika kondisi ini terjadi secara berulang, biaya tambahan tersebut dapat menekan margin bisnis.
Karena itu, PPV unfavorable perlu dianalisis lebih lanjut untuk mengetahui apakah penyebabnya berasal dari kenaikan harga supplier, perubahan kondisi pasar, pembelian yang tidak mengikuti kontrak, atau faktor lainnya.
Baca Juga: Harga Perolehan: Pengertian dan Cara Mudah Menghitungnya
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Purchase Price Variance

Nilai purchase price variance (PPV) dipengaruhi oleh kondisi pasar, keputusan pembelian, maupun hubungan bisnis dengan supplier.
Beberapa faktor yang paling umum adalah:
1. Fluktuasi Harga Pasar
Perubahan harga bahan baku di pasar dapat membuat harga aktual berbeda dari harga standar.
Misalnya, bisnis menetapkan harga standar bahan baku berdasarkan harga saat awal periode, tetapi kemudian terjadi kenaikan harga komoditas atau inflasi.
Supplier pun menaikkan harga jual sehingga harga aktual menjadi lebih tinggi dan menghasilkan PPV unfavorable. Sebaliknya, ketika harga pasar turun, bisnis berpotensi memperoleh PPV favorable.
2. Perubahan Supplier
Mengganti supplier dapat memengaruhi harga aktual yang dibayarkan.
Supplier baru mungkin menawarkan harga lebih rendah sehingga menghasilkan PPV favorable.
Namun, jika supplier baru memiliki harga lebih tinggi daripada standar yang digunakan bisnis, PPV menjadi unfavorable.
3. Volume Pembelian
Jumlah pembelian dapat memengaruhi harga per unit yang ditawarkan supplier.
Pembelian dalam volume besar biasanya memberikan ruang untuk mendapatkan diskon atau harga grosir yang lebih rendah sehingga dapat menghasilkan PPV favorable.
Sebaliknya, pembelian dalam jumlah kecil mungkin tidak memenuhi minimum order quantity (MOQ) atau batas diskon supplier sehingga harga aktual lebih tinggi dari standar.
4. Urgensi Pembelian
Pembelian yang dilakukan secara mendadak dapat mengurangi kesempatan bisnis untuk membandingkan harga atau melakukan negosiasi.
Misalnya, bahan baku harus segera tersedia agar produksi tidak berhenti sehingga bisnis membeli dari supplier dengan harga lebih tinggi.
Jika harga tersebut melampaui harga standar, PPV akan menjadi unfavorable.
5. Kualitas Material
Material dengan kualitas, spesifikasi, atau standar teknis yang lebih tinggi cenderung memiliki harga lebih mahal.
Karena itu, PPV unfavorable tidak selalu berarti proses pengadaan tidak efisien.
6. Kekuatan Negosiasi dengan Supplier
Kemampuan bisnis dalam bernegosiasi juga dapat memengaruhi harga aktual.
Kontrak supplier dengan harga yang lebih kompetitif, diskon berdasarkan volume, atau termin pembelian yang telah dinegosiasikan dapat membantu menekan harga aktual di bawah harga standar.
Sebaliknya, posisi negosiasi yang lemah dapat membuat bisnis menerima harga lebih tinggi dan meningkatkan risiko PPV unfavorable.
Baca Juga: Manajemen Procurement Retail: Langkah-Langkah dan Tipsnya
Cara Menganalisis Purchase Price Variance
Untuk menganalisis purchase price variance, mulai dari menghitung PPV per item atau supplier, bandingkan dengan riwayat tren, identifikasi penyebab internal dan eksternal, lalu tentukan tindak lanjut.
Berikut langkah yang dapat digunakan bisnis untuk menganalisis PPV:
1. Hitung PPV per Item atau Supplier
Pisahkan PPV berdasarkan item, kategori bahan, atau supplier untuk menemukan sumber selisih harga. Misalnya, total PPV bulan ini menunjukkan unfavorable Rp10 juta.
Setelah dipecah, ternyata Rp7 juta berasal dari satu jenis bahan baku yang harganya naik dari Rp20.000 menjadi Rp23.000 per unit. Informasi ini jauh lebih berguna untuk menentukan tindakan dibandingkan hanya mengetahui total variance.
Bisnis juga dapat membandingkan PPV antar-supplier untuk barang dengan spesifikasi yang sama. Dari sini, terlihat supplier mana yang memberikan harga aktual paling konsisten dengan harga standar.
2. Bandingkan dengan Tren Historis
Bandingkan hasil PPV dengan pembelian pada bulan atau periode sebelumnya untuk melihat apakah selisih harga merupakan kejadian sementara atau sudah menjadi pola.
Contohnya, PPV unfavorable sebesar Rp5 juta mungkin masih dapat dijelaskan jika harga bahan baku memang sedang serba naik. Namun, jika PPV unfavorable muncul selama beberapa periode berturut-turut pada supplier yang sama, evaluasi lagi harga kontrak, strategi negosiasi, atau keputusan pembeliannya.
3. Identifikasi Penyebab Internal atau Eksternal
Setelah menemukan item atau supplier dengan PPV yang drastis, cari tahu penyebabnya. Secara umum, penyebab dapat berasal dari faktor eksternal maupun internal.
- Faktor eksternal dapat berupa kenaikan harga komoditas, inflasi, perubahan nilai tukar, atau gangguan pasokan
- Faktor internal dapat mencakup pembelian mendadak, tidak mengikuti kontrak supplier, volume pembelian yang terlalu kecil, atau pembelian dari supplier yang tidak disepakati.
Pemisahan ini penting karena tindak lanjutnya berbeda. Kenaikan harga pasar mungkin membutuhkan revisi harga standar, sedangkan pembelian di luar kontrak dapat menunjukkan masalah dalam proses pengadaan.
4. Tentukan Tindak Lanjut
Tahap terakhir adalah menentukan tindakan berdasarkan hasil analisis.
Untuk PPV unfavorable, coba evaluasi kontrak supplier, melakukan negosiasi ulang, mencari alternatif supplier, atau memperbaiki proses persetujuan pembelian.
Untuk PPV favorable, Harga yang lebih rendah mungkin menunjukkan keberhasilan negosiasi, tetapi bisa pula berasal dari pembelian dalam jumlah besar, perubahan kualitas, atau kondisi lain yang perlu diperhatikan.
Dengan demikian, tujuan analisis PPV bukan sekadar mendapatkan angka favorable atau unfavorable, tetapi memahami apa yang menyebabkan selisih harga dan bagaimana bisnis dapat meresponsnya.
KPI yang Perlu Dipantau Bersama PPV
PPV akan memberikan gambaran yang lebih lengkap jika dibaca bersama beberapa KPI pengadaan lainnya. Tidak semua KPI harus diterapkan sekaligus, terutama untuk UKM yang memiliki proses pengadaan sederhana.
Beberapa yang relevan antara lain:
- Contract compliance rate mengukur seberapa konsisten pembelian dilakukan sesuai kontrak atau kesepakatan supplier. KPI ini membantu menemukan pembelian yang menggunakan harga atau supplier di luar ketentuan yang telah disepakati.
- Maverick spend menunjukkan pengeluaran yang dilakukan di luar proses, supplier, atau kontrak pengadaan yang telah ditetapkan. Jika PPV unfavorable diikuti maverick spend yang tinggi, periksa apakah pembelian di luar prosedur ikut menyebabkan kenaikan harga.
- Budget variance membandingkan biaya pembelian aktual dengan anggaran/budget yang telah ditetapkan. KPI ini membantu melihat apakah selisih harga pada PPV juga berdampak pada realisasi anggaran pembelian.
- Realized savings mengukur penghematan yang benar-benar diperoleh dari aktivitas pengadaan, misalnya hasil negosiasi harga atau diskon supplier. KPI ini dapat melengkapi PPV karena harga aktual yang lebih rendah perlu dilihat dalam konteks penghematan yang benar-benar terealisasi.
Untuk UKM, Anda tidak harus langsung menggunakan seluruh KPI tersebut. PPV, budget variance, dan pemantauan pembelian di luar supplier atau harga yang disepakati biasanya sudah cukup.
Lalu ketika jumlah supplier dan transaksi sudah semakin besar, Anda dapat berangsur menambahkan KPI seperti contract compliance dan realized savings.
Baca Juga: Pengendalian Anggaran: Tahapan, Tujuan, dan Tekniknya
Bagaimana Cara Memprediksi Purchase Price Variance?

Anda bisa memprediksi purchase price variance (PPV) dengan memanfaatkan riwayat data harga, tren pasar, dan perhitungan rencana volume pembelian.
- Gunakan riwayat data harga: Bandingkan harga aktual dan PPV dari beberapa periode sebelumnya. Jika harga bahan baku tertentu secara konsisten naik, pola tersebut dapat menjadi pertimbangan ketika menetapkan harga standar untuk periode berikutnya.
- Pertimbangkan tren harga pasar: Perhatikan perubahan harga komoditas atau bahan baku yang menjadi komponen utama biaya pembelian. Kenaikan harga pasar dapat menjadi sinyal bahwa harga supplier berpotensi ikut meningkat. Dengan begitu, bisnis dapat menyesuaikan anggaran pembelian sebelum kenaikan benar-benar terjadi.
- Perhitungkan rencana volume pembelian: Perkiraan jumlah pembelian juga penting karena volume dapat memengaruhi harga per unit. Misalnya, bisnis berencana meningkatkan pembelian dari 1.000 menjadi 5.000 unit. Volume tersebut mungkin membuka peluang diskon dari supplier dan mengubah estimasi harga aktual.
Hasil forecasting kemudian dapat digunakan untuk meninjau kembali harga standar dan anggaran pembelian. Jika perkiraan menunjukkan PPV unfavorable yang cukup besar, Anda bisa melakukan negosiasi atau mencari supplier alternatif.
Baca Juga: Tips Memilih Supplier Bisnis Terpercaya dan Hal yang Harus Diperhatikan
Strategi Mengelola dan Mengurangi PPV yang Unfavorable
Untuk mengelola strategi PPV unfavorable, negosiasikan kontrak dengan harga yang terprediksi, konsolidasikan volume pembelian, diversifikasi supplier, pantau harga pasar, dan rencanakan pembelian dari jauh hari.
Dengan begitu, Anda bisa mencegah PPV unfavorable yang meningkatkan biaya pengadaan dan pada akhirnya menekan margin.
1. Negosiasikan Kontrak dengan Harga yang Lebih Terprediksi
Untuk bahan baku atau barang yang rutin dibeli, pertimbangkan kontrak supplier dengan harga yang tetap atau mekanisme penetapan harga yang jelas untuk periode tertentu.
Evaluasi juga harga ini secara berkala. Jika harga pasar turun jauh di bawah harga kontrak, Anda bisa kehilangan kesempatan mendapatkan harga yang lebih rendah. Karena itu, perhatikan durasi kontrak, mekanisme penyesuaian harga, dan kondisi pasar sebelum membuat kesepakatan.
2. Konsolidasikan Volume Pembelian
Jika pembelian tersebar dalam banyak pesanan kecil, coba lakukan konsolidasi volume untuk mendapatkan posisi negosiasi yang lebih kuat.
Misalnya, daripada membeli 500 unit setiap minggu dengan harga Rp11.000 per unit, negosiasikan pembelian 2.000 unit sekaligus dengan supplier untuk memperoleh harga yang lebih rendah.
Strategi ini dapat membantu menurunkan harga aktual dan memperbaiki PPV. Tapi, tetap sesuaikan strategi Anda dengan kebutuhan produksi, kapasitas penyimpanan, dan arus kas agar penghematan harga tidak menimbulkan biaya lain.
3. Diversifikasi Supplier
Bergantung pada satu supplier dapat membatasi pilihan ketika harga mengalami kenaikan. Dengan memiliki beberapa supplier yang memenuhi standar kualitas yang sama, Anda bisa membandingkan penawaran dan memiliki alternatif ketika harga salah satu supplier menjadi terlalu tinggi.
4. Pantau Harga Pasar Secara Rutin
Untuk bahan yang harganya mudah berubah, pantau perkembangan harga pasar secara berkala dan bandingkan dengan harga yang ditawarkan supplier.
Jika ada tren kenaikan, lakukan negosiasi lebih awal atau sesuaikan rencana pembelian. Sebaliknya, ketika harga pasar turun, informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk meminta penawaran baru kepada supplier.
5. Rencanakan Pembelian dari Jauh Hari dan Hindari Pembelian Dadakan
Pembelian mendadak sering membuat bisnis memiliki pilihan supplier dan ruang negosiasi yang lebih terbatas. Akibatnya, harga aktual bisa lebih tinggi dari harga standar dan menghasilkan PPV unfavorable.
Untuk menguranginya, buat rencana pembelian berdasarkan kebutuhan produksi, penjualan, dan jadwal pengadaan.
Baca Juga: Purchasing Management: Pengertian, Manfaat, Tahapan, dan Tipsnya
Kesimpulan
Purchase price variance (PPV) membantu bisnis mengukur selisih antara harga standar dan harga aktual pembelian sehingga efisiensi pengadaan dapat dipantau dengan lebih objektif.
Dengan pencatatan transaksi yang rapi, Anda dapat lebih mudah memantau biaya pembelian, mengevaluasi supplier, menyusun anggaran, dan menjaga margin bisnis.
Jika bisnis Anda memiliki banyak transaksi, software akuntansi Kledo dapat membantu mengurangi pekerjaan manual dengan pencatatan transaksi otomatis, integrasi ke aplikasi kasir, sampai pembuatan laporan keuangan.
Dengan begitu, Anda tidak perlu mengandalkan pencatatan manual untuk memantau kondisi keuangan bisnis.
Coba Kledo sekarang lewat tautan ini.
- Cara Menghitung dan Menganalisis Purchase Price Variance - 2 Oktober 2026
- Rekonsiliasi Antar Perusahaan: Panduan untuk Bisnis Multi-Entitas - 30 September 2026
- 15 Ide Bisnis B2B yang Menguntungkan dan Relevan di Indonesia - 30 September 2026
