Pada hari Rabu, 22 Juli 2026 kemarin, Kledo mengadakan mini class kelima yang bertajuk “Nobody Cares About Your Content”.
Mini class ini merupakan kegiatan rutin bulanan yang diselenggarakan secara offline untuk membagikan ilmu seputar akuntansi dan bisnis dari praktisi berpengalaman.
Untuk periode ini, Cakap Kledo diselenggarakan di 28 Coffee Taman Siswa, Yogyakarta dengan menghadirkan 2 narasumber: Fabian Pamor Putranto (CEO PT Locomotion Global Network) dan Nanung Junior (Senior Consultant Kledo).
PT Locomotion Global Network adalah agensi kreatif Yogyakarta yang berspesialisasi di branding, manajemen sosial media, event kreatif, produksi konten, jasa desain, dan pemasaran stategis.
Pada rekap ini, kami akan merangkum materi dan keseruan Cakap#5 Kledo kemarin.
Mengapa Perhatian Audiens Semakin Sulit Didapat?
Fabian Pamor Putranto memulai sesi dengan sebuah pernyataan yang menarik, “Nobody cares about your content,” lalu melanjutkan “Until you understand how attention works in 2026”.
Menurut Fabian, perhatian manusia semakin mahal. Setiap hari, orang menerima ribuan pesan dari media sosial, iklan, email, dan notifikasi.
Jumlah konten yang bersaing memperebutkan perhatian manusia terus meningkat, tapi waktu yang dimiliki manusia tidak bertambah.
Akibatnya, sekarang mendapatkan beberapa detik perhatian saja jauh lebih sulit daripada beberapa tahun lalu. Itulah mengapa perhatian menjadi aset paling berharga dalam pemasaran.
Sebelum seseorang memutuskan membeli produk Anda, mereka harus terlebih dahulu mau berhenti dan memperhatikan konten Anda, dan itu semakin sulit dilakukan.
Baca Juga: Rekap Cakap#1 Kledo: Bisnis yang Sehat, Bukan Sekadar Laku
Mengenal Framework Ekosistem Konten

Salah satu materi yang dipaparkan Fabian adalah framework ekosistem konten yang menggambarkan bagaimana berbagai jenis konten memiliki peran yang berbeda dalam perjalanan audiens, dari pertama kali mengenal brand hingga akhirnya menghasilkan pendapatan.
1. Produksi konten
Produksi konten di zaman ini bisa dilakukan dengan bantuan AI. AI berperan sebagai alat bantu untuk mempercepat dan memperluas kapasitas produksi konten.
AI bisa mengerjakan tugas-tugas mulai dari riset, penulisan draft, hingga repurposing konten ke berbagai format.
2. Menciptakan kualitas & Positioning dengan PGC
PGC atau Professional-Generated Content adalah konten yang diproduksi secara profesional oleh brand atau kreator.
Fungsinya membangun citra dan positioning brand di benak audiens. Konten ini biasanya memiliki standar produksi tinggi.
3. Membangun kedekatan dengan EGC
EGC atau Employee Generated Content adalah konten yang dibuat oleh karyawan atau tim internal brand.
EGC efektif membangun sisi human dari sebuah brand serta menunjukkan “orang di balik layar” sehingga audiens merasa lebih dekat.
4. Membangun kepercayaan sosial
UGC atau User Generated Content adalah konten yang dibuat oleh pelanggan atau pengguna.
Ini adalah jenis konten yang paling dipercaya oleh audiens karena dianggap tidak berbayar dan tidak memiliki kepentingan komersial. Data yang dilampirkan Fabian juga menyebutkan bahwa 92% orang lebih percaya konten UGC dibanding konten brand.
5. Menciptakan percakapan dengan community
Komunitas yang aktif akan membicarakan soal brand secara organik baik melalui grup, forum, maupun kolom komentar.
6. Orang lain memasarkan brand Anda (advocacy)
Ketika komunitas sudah cukup besar, sebagian anggotanya akan secara sukarela merekomendasikan brand Anda kepada orang lain.
7. Revenue
Revenue adalah hasil akhir dari seluruh ekosistem di atas yang berjalan dengan baik.
Baca Juga: Rekap Webinar Kledo x Brothway: Dapur Sehat, Bisnis Hebat
Data Industri Terkait Konten
Untuk mendukung penjelasannya, Fabian juga menyajikan data industri terkait content creator yang relevan untuk bisnis yang sedang membangun strategi konten mereka.
Berdasarkan data yang dipaparkan (bersumber dari BPS Susenas 2023, Kementerian Ekonomi Kreatif 2024, dan beberapa lembaga riset lainnya):
- Jumlah kreator konten Indonesia meningkat dari sekitar 8,2 juta (2023) hingga lebih dari 50 juta kreator saat ini
- Demand untuk Nano Creator meningkat 42,86% dan UGC Creator meningkat 35,71%
- 79% mengatakan UGC menjadi faktor pengaruh utama dalam keputusan pembelian
- 92% audiens lebih percaya konten UGC orang biasa
- 84% Gen Z lebih percaya brand yang memiliki konten UGC
- 93% marketer mengatakan konten UGC lebih punya performa.
Di sisi lain, tantangan yang muncul adalah:
- Maraknya Influencer Fraud, terutama di segmen makro dan mega influencer. Slide workshop menyebutkan bahwa 81% Marketing Brand atau KOC-KOL Specialist pernah berhadapan dengan masalah ini.
- UGC Creator tidak dapat mengakomodir kebutuhan brand
Insight dari Fabian: kreator baru yang otentik, kreatif, dan profesional adalah masa depan melawan influencer fraud.
Baca Juga: Rekap Webinar: Kledo x Kanca Kreasi Indonesia
Attention adalah Komoditas yang Sulit Didapatkan dan Mahal

Setelah penjelasan dari Fabian, sesi Cakap dilanjutkan dengan penjelasan dari Junior. Di sini, Junior menekankan bahwa attention yang mati-matian didapatkan oleh marketer dan bisnis itu adalah sesuatu yang mahal.
Untuk membuat konten saja diperlukan biaya yang tidak murah untuk membeli kamera, HP, pencahayaan, dan membayar talent, editor, admin, sampai endorse.
Bisnis harus mengetahui total pengeluaran untuk mendapatkan attention ini, yang bisa dihitung lewat 4 metrik:
Cost per Attention (CPATT)
Rumus CPAtt: Total Biaya Marketing ÷ Jumlah Attention (views)
Metrik ini menghitung total biaya yang dikeluarkan per attention yang didapatkan.
Misalnya, jika biaya marketing Rp4.000.000 dan berhasil menghasilkan video dengan 100.000 views, maka:
Rp4.000.000÷100.000=Rp40perview
Artinya, setiapperhatian (view) menghabiskan biaya sekitar Rp40.
Customer Acquisition Cost (CAC)
CAC adalah biaya untuk akuisisi pelanggan.
CAC: Total Biaya Marketing + Sales / Jumlah Pelanggan Baru
Contoh:
- Biaya marketing =Rp15juta
- Biaya sales = Rp5juta
- Pelanggan baru = 100
Maka, CAC=Rp200.000/pelanggan.
Cost per Click (CPC)
CPC = Total Biaya Iklan / Jumlah Klik
Contoh:
- Biaya iklan = Rp3.000.000
- Klik = 5.000
Maka CPC = Rp600/klik
Cost per Lead (CPL)
Rumus: Total Biaya Marketing ÷ Jumlah Lead
Contoh: Biaya campaign Rp5.000.000, lead masuk 250, maka CPL = Rp20.000 per lead.
Baca Juga: Rekap Webinar: Kledo X Disera Tentang Personal Branding untuk Bisnis
Menghitung dan Mengevaluasi Kampanye Marketing
Konten viral apakah pasti untung? Jawabannya tidak selalu. Views yang tinggi belum tentu membawa keuntungan tinggi. Attention baru dianggap bernilai jika menghasilkan penjualan yang menguntungkan.
Owner harus melihat profit, bukan hanya omzet saja.
Karena itu, Junior kemudian membeberkan tips campaign yang efektif agar budget marketing tidak terbuang sia-sia:
- Kenali Tujuan Campaign: Pilih tujuan secara jelas sebelum mulai: apakah untuk Brand Awareness, Engagement, Leads, Penjualan, atau Repeat Order? Tujuan yang berbeda membutuhkan strategi dan metrik keberhasilan yang berbeda pula.
- Tentukan Budget Marketing: Umumnya, alokasikan sekitar 5–10% dari omzet untuk kegiatan marketing.
- Gunakan Framework 70–20–10: Agar budget lebih aman dan terukur: 70% untuk campaign yang sudah terbukti berhasil, 20% untuk variasi baru dari konten yang sedang berjalan, dan 10% untuk ide-ide eksperimental.
- Prioritaskan Channel dengan ROI Tinggi: Prioritaskan channel yang terbukti menghasilkan penjualan untuk bisnis Anda secara spesifik.
Cara Evaluasi Campaign yang Benar
Setelah campaign selesai, ada tujuh pertanyaan yang harus Anda jawab:
- Berapa biaya campaign?
- Berapa orang yang melihat?
- Berapa klik yang dihasilkan?
- Berapa chat atau pertanyaan masuk?
- Berapa order yang terjadi?
- Berapa omzet yang dihasilkan?
- Berapa laba yang diperoleh?
Contoh evaluasi nyata dari sesi ini:
Sebuah UMKM mengeluarkan biaya dengan rincian sebagai berikut:
- Ads Rp2.500.000
- Influencer Rp1.000.000
- Desain Rp500.000
- Total biaya Rp4.000.000.
Berikut merupakan data hasil campaign:
- Reach 180.000
- 500 chat masuk
- 120 pembeli
- Omzet Rp48.000.000
- HPP Rp28.000.000
- Laba kotor Rp20.000.000.
Setelah dikurangi biaya operasional lain, diperoleh laba bersih Rp5.000.000. Artinya, campaign tersebut menghasilkan keuntungan yang nyata.
Komponen Keuangan yang Wajib Dicatat
Agar evaluasi di atas bisa dilakukan, ada lima komponen yang harus dicatat sejak awal campaign berjalan:
- Penjualan dari masing-masing campaign (jangan digabung)
- Order dan pelanggan baru hasil dari campaign
- HPP (Harga Pokok Penjualan) produk
- Biaya operasional
- Semua biaya campaign secara detail (ads, talent, desain, editing, dll.)
Peran Software Akuntansi dalam Pencatatan Keuangan Marketing
1. Mencatat biaya campaign secara detail
Software akuntansi memungkinkan pencatatan pengeluaran per kategori atau per proyek, sehingga Anda bisa melihat total biaya satu campaign tanpa harus menghitung manual.
2. Menghitung HPP dengan akurat
Agar bisa mengevaluasi HPP dengan akurat, Anda perlu pencatatan komponennya seperti laba kotor.
Software akuntansi membantu mencatat komponen HPP secara otomatis dan konsisten.
3. Menyajikan laporan keuangan

Software akuntansi Kledo bisa menyusun laporan laba rugi secara otomatis yang memperlihatkan omzet, laba kotor, biaya operasional, hingga laba bersih.
Dengan laporan ini, Anda bisa melihat data dan mengetahui apakah campaign yang dijalankan menguntungkan atau tidak.
Kesimpulan
Bincang Kledo edisi ini memberikan wawasan yang penting bagi pelaku bisnis dan UMKM dalam memahami bahwa attention dalam marketing adalah hal yang mahal didapatkan, dan bahkan konten yang viral juga tidak menjamin keuntungan.
Selain itu, acara ini juga menjadi wadah bagi para pengusaha di area Yogyakarta untuk saling bertemu dan menjalin relasi.
Nantikan Bincang Kledo selanjutnya dan dapatkan pembelajaran yang menarik untuk membantu bisnis Anda tumbuh lebih sehat!
- Rekap Cakap#5 Kledo: “Nobody Cares About Your Content” - 5 Agustus 2026
- Apa Itu Dividen Saham? Pencatatannya dalam Akuntansi - 4 Agustus 2026
- Cara Hitung Asset Retirement Obligation dan Jurnal Pencatatannya - 4 Agustus 2026