Rekap Webinar Mental Health Kledo x Dinamis

webinar mental health banner

Mengutip Alodokter, burnout kerja adalah istilah yang menggambarkan kondisi pekerja yang capek mental, entah karena memiliki beban kerja yang berat atau memiliki pekerjaan yang monoton.

Kondisi ini bisa menimpa siapa saja, termasuk pekerja remote di Kledo. Remote worker memang terkenal fleksibel, tapi mereka termasuk yang paling rentan mengalami burnout.

Rutinitas remote worker nyaris selalu sama, bedanya tidak ada rekan kerja yang bisa diajak bicara. Selain itu, rumah yang seharusnya menjadi tempat istirahat berubah menjadi tempat mencari nafkah juga.

Menyadari kondisi ini, Kledo yang memiliki banyak remote worker pun mengadakan kegiatan pelatihan mental health berbentuk webinar dengan berkolaborasi bersama Dinamis, sebuah biro psikologi.

Webinar ini diselenggarakan pada hari Selasa, 19 Mei, dengan menghadirkan Zahira Rahmatika, seorang psikolog dengan pengalaman 8 tahun lebih di bidangnya.

Di sesi webinar yang berdurasi 90 menit lebih ini, Ibu Zahira membagikan cerita dan pengetahuannya mengenai pengelolaan mental health pekerja.

Bagaimana keseruan webinar mental health ini? Materi apa saja yang disampaikan oleh Ibu Zahira? Yuk, kita intip sedikit:

Memperkenalkan Konsep 3 States of Mind

Webinar ini diawali dengan pertanyaan kecil dari Ibu Zahira, yaitu: “Bagaimana suasana hati kalian jika ditulis dari skala 1-10?”

Jawaban dari peserta cukup beragam, ada yang menuliskan angka 8, ada juga yang menuliskan angka 10.

Mengenali kondisi mental dan pikiran sendiri sangatlah penting, karena perasaan burnout sering berasal dari diri sendiri.

Ibu Zahira memperkenalkan konsep 3 States of Mind (tiga kondisi pikiran) yang berasal dari Dialectical Behavior Therapy (DBT).

Konsep ini menjelaskan bahwa manusia mengambil keputusan atau merespons situasi dari tiga kondisi mental yang berbeda:

  • Emotional mind (Pikiran emosional)
  • Rational mind (Pikiran rasional) dan
  • Wise mind (Pikiran bijaksana)

Mengenal Emotion Mind: Si Paling Emosional

webinar mental health emotion mind

Kondisi pikiran pertama yang diperkenalkan oleh Ibu Zahira adalah emotion mind, yaitu orang yang cenderung menggunakan emosinya untuk membuat keputusan.

Ciri-ciri emotion mind:

  • Menghindari hal yang terasa berat
  • Sulit memulai kerja
  • Menunggu sampai mood membaik untuk bekerja
  • Cenderung impulsif
  • Mudah terdistraksi
  • Sering overthinking
  • Sensitif terhadap tekanan

Anda mungkin termasuk ke tipe pemikiran ini jika:

  • Sering merasa kewalahan ketika membuka laptop
  • Scrolling dokumen tanpa segera mulai bekerja
  • Sibuk dengan hal teknis yang minor
  • Revisi hal kecil terus-terusan

Akibat dari hal-hal di atas adalah kegiatan intinya biasa tertunda.

Orang dengan emotion mind cenderung merasa pekerjaan mereka berat karena otak membaca pekerjaan sebagai ancaman, tekanan, dan beban.

Karena itu, mereka berusaha meringankan beban ini dengan mencari distraksi dan dopamin cepat dengan cara menghindar atau scroll sosmed.

Orang yang seperti ini rentan mengalami burnout, kelelahan mental, dan kurang produktif.

Mengenal Rational Mind, Si Paling Rasional

webinar mental health reasonable mind

Kondisi pikiran kedua adalah reasonable mind, yaitu pola pikir orang yang mengutamakan logika.

Misalnya, dia akan memprioritaskan pekerjaan yang paling penting dulu supaya tenaganya tidak habis ke tugas kecil.

Atau, dia akan menggunakan logikanya untuk mengerjakan tugasnya dengan sesempurna mungkin.

Sekilas mereka terlihat disiplin, tapi pola pikir ini sering kali menguras energi. Mereka cenderung sulit menerima jika hasil tidak sesuai dengan usaha yang dikeluarkan.

Mereka merasa harus selalu memiliki kontrol terhadap pekerjaan.

Contoh reasonable mind yang tidak seimbang:

  • “Saya harus menyelesaikan semuanya hari ini.”
  • “Kalau belum sempurna jangan dikirim.”
  • “Saya harus tetap produktif walau capek.”

Selain itu, orang-orang dengan reasonable mind pun ternyata juga bisa tetap menunda-nunda atau prokrastinasi.

Penyebabnya adalah:

  • Mereka tidak memproses emosi
  • Mereka terus memendam tekanan mental
  • Mereka punya standar yang terlalu tinggi
  • Mereka tidak memproses emosi

Mengenal Wise Mind, Si Paling Bijaksana

webinar mental health wise mind

Pila pikir ketiga ini lebih baik dari dua pola pikir lainnya, yaitu si wise mind: pikiran bijaksana di mana antara emosi dan logika seimbang.

Orang-orang yang memiliki pola pikir ini tidak meninggalkan emosi atau terlalu memaksakan diri.

Ciri-ciri:

  • Sadar terhadap kemampuan dan situasi diri sendiri
  • Realistis terhadap tujuan
  • Fleksibel, tahu kapan waktunya dia akan gagal
  • Bisa mengambil langkah kecil, tidak terus menerus menunda-nunda
  • Mempertimbangkan kapasitas diri
  • Fokus pada kemajuan diri sendiri

Mereka tidak selalu nyaman dengan kondisi mereka, tapi mereka tahu tetap untuk memulai pekerjaan walau belum mood, menerima bahwa hasil awal belum sempurna, serta memilih progress kecil daripada menunggu yang ideal.

Mari kita bandingkan bagaimana emotional mind, reasonable mind, dan wise mind dalam dunia kerja:

  • Emotion mind: “Aku overwhelmed. Nggak usah mulai.”
  • Reasonable mind: “Pokoknya harus selesai semua malam ini.”
  • Wise mind: “Aku memang lelah, tapi aku masih bisa mulai 15 menit dulu.”

Menerapkan Skill STOP

Salah satu permasalahan pekerja adalah menunda-nunda mengerjakan tugas karena tidak mood. Mereka baru akan mengerjakan tugas itu di malam hari, ketika mereka merasa bisa lebih fokus.

Inilah yang disebut Ibu Zahira dengan panic productivity, yaitu kondisi di mana pekerja bisa lebih produktif karena mengejar deadline yang mepet.

Kondisi ini tidak bagus karena tidak stabil dan jadi menyebabkan pekerja untuk terus menunda-nunda.

Menurut Ibu Zahira, kita harus pelan-pelan beralih sustainable productivity, di mana:

  • Ritme kerja lebih sehat dan konsisten
  • Pekerja punya waktu recovery
  • Produktivitas pekerja tidak bergantung pada adrenalin dari rasa panik

Hanya saja, ini memang bukan perkara mudah. Karena itu, Ibu Zahira mengajarkan skill STOP kepada karyawan Kledo.

Belajar dan Praktek Skill STOP dari DBT

webinar mental health skill stop

STOP adalah skill yang sering digunakan untuk menghentikan pekerja yang sering masuk ke mode autopilot, suka menghindari beban pekerjaan, serta membantu mereka mengambil keputusan yang lebih baik.

STOP terdiri dari 4 komponen:

1. S -> Stop

Saat ingin menghindar dari pekerjaan, ingin menunda, atau merasa beban terlalu berat, jangan langsung:

  • Kabur
  • Scrolling sosmed
  • Beralih ke pekerjaan lain
  • Merasa panik

Tapi, berhentilah sejenak.

2. T -> Take a step back

Kondisi pikiran Anda sedang mengalami stres, jadi reaksi seperti kabur di atas memang wajar. Kita bisa menguranginya dengan:

  • Menarik napas
  • Beri jarak waktu sebelum bereaksi

3. O -> Observe

Saat tubuh sudah lebih tenang, tanyakan hal-hal ini pada diri sendiri:

  • Apa yang sebenarnya saya rasakan?
  • Apa yang saya hindari?
  • Apa tugas ini terasa terlalu besar?
  • Apakah saya takut gagal?

Amati jawaban Anda sendiri tanpa prasangka. Observe without judgement.

4. P -> Proceed mindfully

Setelah pikiran sudah lebih tenang, pilihlah langkah kecil yang realistis. Daripada terlalu memaksakan diri untuk menyelesaikan semuanya, lebih baik:

  • Buka file
  • Buat outline
  • Kerjakan selama 10 menit
  • Mulai dari bagian termudah

Mempraktekkan STOP skill

Ibu Zahira mengajak karyawan Kledo untuk mempraktekkan STOP skill ini dengan menarik napas dalam-dalam dan memejamkan mata, lalu membayangkan diri sendiri berada di situasi ini:

“Belum selesai mengerjakan tugas yang tenggatnya besok, padahal hari sudah malam dan badan sudah lelah. Tangan sudah gatal untuk membuka media sosial.”

Para peserta diminta untuk membayangkan skenario di tas dan memikirkan apa yang harus mereka lakukan, menenangkan diri, sambil mengatur napas.

Ibu Zahira berkata bahwa respon mental banyak dipengaruhi oleh kondisi tubuh. Jika kita menarik napas dalam-dalam, menahannya, lalu mengeluarkannya perlahan, maka pikiran otomatis akan menjadi lebih tenang.

Teknik ini bisa dipakai ketika kita mulai merasa panik, ingin menunda-nunda, atau merasa kewalahan dengan pekerjaan.

Sesi Tanya Jawab

Setelah selesai menyampaikan semua materi, acara webinar mental health ini pun memasuki sesi tanya jawab. Sesi ini begitu meriah karena peserta ternyata begitu antusias untuk bertanya.

Peserta menanyakan tips-tips terkait kesehatan mental, situasi, dan kondisi kerja mereka, sehingga sesi ini menjadi mirip dengan konsultasi kesehatan mental.

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang kami rekap dan solusinya dari Ibu Zahira:

1. Bagaimana cara beradaptasi dari satu tipe mind ke mind lainnya jika situasinya mendesak?

Pertanyaan ini dilontarkan oleh salah seorang HR kami. Ia mengaku dirinya lebih sering berpikir rasional, tapi sebagai seseorang yang sering menampung cerita dari rekan kerja, ia merasa terkadang perlu beralih ke mode emosional.

Solusi dari Ibu Zahira:

Kita harus menyeimbangkan emosi dan belajar untuk berkomunikasi secara asertif, tapi tetap dengan mempertimbangkan situasi sendiri, baru orang lain.

Coba praktekkan skill GIVE:

  • G (Gentle): Tidak meninggikan nada suara saat bicara, tapi tidak lemah lembut yang terlalu dibuat-buat juga.
  • I (Interested): Tunjukkan ketertarikan dengan ucapan orang lain lewat gestur
  • V (Validation): Anda tidak harus setuju dengan apa yang dibilang orang lain, tapi kita bisa memvalidasi dia.
  • E (Easy Manner): Saat berbicara, tunjukkan wajah yang damai dan tidak judes. Yang ini memang sedikit sulit karena orang terlahir dengan wajah yang berbeda-beda, jadi menurut beliau, fake it till you make it saja.

2. Jika seseorang mengalami burnout jangka panjang sampai motivasi dan performa kerjanya ikut menurun, apa langkah untuk membangun kembali ritme kerja dan disiplin?

Yang kedua ditanyakan oleh seorang pekerja remote di Kledo. Pertanyaan ini dirasa cukup sulit dijawab oleh pemateri.

Solusi dari Ibu Zahira:

Bertanya pada diri sendiri, pikiran seperti apa yang membuat Anda merasa burnout dan capek? Saat burnout, biasanya ada mindset yang kaku, yang kita percaya, dan terus berulang-ulang sampai lelah sendiri.

Misalnya, kita harus selalu membantu orang lain dan harus selalu sempurna.

Solusinya, sadari kalau kita bukan pekerja yang sempurna, tapi selalu tumbuh. Ingatlah nilai dasar kita dan jangan takut untuk membuat kesalahan.

3. Bagaimana cara mengatasi rasa suntuk bekerja karena tidak ada teman mengobrol?

Ini memang menjadi salah satu kendala terbesar bagi para remote worker, yaitu tidak punya teman mengobrol secara langsung.

Penanya mengaku enggan menghubungi teman-temannya dulu karena mayoritas sudah merantau dan memiliki kesibukan sendiri.

Solusi Ibu Zahira:

Menurut Ibu Zahira, penanya sudah mengetahui jawabannya sendiri. Kadang kala, manusia memang sudah tahu jawaban dari pertanyaan mereka, namun perlu validasi.

Ibu Zahira menyarankan penanya untuk membentuk hubungan yang bermakna dengan orang lain. Pada hakikatnya, manusia punya naluri untuk berhubungan dengan manusia lain.

Hubungan ini tidak harus romantis, tapi yang penting bermakna.

Jangan takut untuk menghubungi teman-teman lama dan teman kuliah dulu, apalagi atas alasan takut mengganggu waktu sibuk. Karena siapa tahu, teman yang lain juga berpikiran sama dengan penanya: ingin bertemu tapi takut mengganggu.

Penutup

Webinar mental health ini merupakan bentuk kepedulian Kledo kepada isu burnout yang sering menerpa remote worker terutama karyawan Kledo dan Gajihub yang menerapkan kerja WFA untuk sebagian karyawannya.

Dengan mengadakan webinar ini, harapannya para karyawan di Kledo dan Gajihub bisa meregulasi emosi mereka dengan lebih baik, memiliki manajemen waktu yang lebih efektif, serta menyeimbangkan antara tekanan mental dan rutinitas kerja.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

twelve − 7 =