Cara dan Contoh Kasus Melakukan Analisis Vertikal dalam Laporan Keuangan

analisis vertikal laporan keuangan banner

Apakah bisnis Anda sudah punya laporan keuangan tapi Anda masih bingung membacanya? Misalnya, bagaimana Anda bisa mengetahui apakah aset bisnis sudah efisien dan struktur biayanya juga sudah oke?

Salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk membaca laporan keuangan adalah dengan analisis vertikal.

Analisis ini akan membantu Anda memahami arti angka-angka dalam laporan keuangan bisnis.

Setelah membaca artikel ini, Anda akan tahu cara melakukan analisis vertikal, memahami hasil angka yang didapatkan, dan apa yang harus Anda lakukan selanjutnya.

Apa itu Analisis Vertikal Laporan Keuangan?

Analisis vertikal adalah metode analisis laporan keuangan yang digunakan untuk melihat komposisi setiap akun dengan membandingkannya terhadap satu akun dasar (base amount) dalam periode yang sama.

Analisis vertikal juga dikenal sebagai common size analysis atau analisis ukuran umum.

Metode ini membantu menyederhanakan laporan keuangan ke dalam bentuk persentase agar struktur keuangan bisnis lebih mudah dipahami.

Analisis vertikal dapat diterapkan pada berbagai laporan keuangan, tetapi paling umum digunakan pada laporan laba rugi dan neraca.

Laporan Keuangan Base Amount yang Umum Yang Dianalisis
Laporan laba rugi Total pendapatan/penjualan HPP, beban operasional, beban lainnya, laba
Neraca Total aset atau total liabilitas + ekuitas Kas, piutang, persediaan, aset tetap, utang, ekuitas
Laporan arus kas Total arus kas masuk/keluar atau basis tertentu Komposisi sumber dan penggunaan kas
Laporan perubahan ekuitas Total ekuitas atau saldo awal ekuitas Modal, laba ditahan, dividen, dan perubahan ekuitas
kledo banner 3

Baca juga: Cara Melakukan Analisis Perbandingan dalam Laporan Laba Rugi

Apa Dasar Perhitungan dan Rumus Analisis Vertikal?

Dalam analisis vertikal, setiap akun diubah ke bentuk persentase dengan nilainya dibandingkan terhadap base amount atau nilai dasar.

Rumus analisis vertikal:

Persentase Analisis Vertikal = (Nilai Akun ÷ Base Amount) × 100%

Base amount berbeda tergantung jenis laporan keuangan yang dianalisis.

1. Base Amount pada Laporan Laba Rugi

Pada laporan laba rugi, total pendapatan atau penjualan umumnya digunakan sebagai base amount dan dianggap sebagai 100%.

Setiap akun kemudian dibandingkan dengan nilai tersebut untuk mengetahui proporsinya terhadap pendapatan bisnis.

Misalnya, jika penjualan sebesar Rp200 juta dan beban operasional Rp30 juta, maka persentase beban operasional adalah:

(Rp30 juta ÷ Rp200 juta) × 100% = 15%

2. Base amount pada neraca

Pada neraca, total aset digunakan sebagai base amount untuk menganalisis sisi aset.

Sementara pada sisi liabilitas dan ekuitas, total liabilitas + ekuitas dapat digunakan sebagai dasar karena nilainya sama dengan total aset.

Misalnya, total aset sebesar Rp500 juta dan persediaan Rp125 juta. Maka: (Rp125 juta ÷ Rp500 juta) × 100% = 25%

Artinya, persediaan menyumbang 25% dari total aset bisnis.

Catatan: Perbedaan base amount ini mengikuti struktur masing-masing laporan agar setiap akun dapat dibaca berdasarkan proporsinya terhadap keseluruhan nilai yang menjadi dasar laporan tersebut.

Baca Juga: Apa Itu Analisis Keuangan Usaha? Langkah dan Contohnya

Apa Tujuan Analisis Vertikal Laporan Keuangan?

analisis vertikal laporan keuangan banner 1

Analisis vertikal membantu Anda memahami proporsi setiap akun dalam laporan keuangan. Beberapa tujuan dan kegunaannya adalah:

1. Mendeteksi anomali dalam laporan keuangan

Anda bisa mendeteksi adanya perubahan persentase yang tidak biasa pada laporan keuangan.

Perubahan ini bisa menandakan adanya masalah yang perlu diperiksa lebih lanjut, seperti persediaan meningkat jauh lebih cepat daripada akun lainnya.

Dengan begitu, Anda bisa segera mencari tahu penyebabnya.

2. Menilai struktur biaya relatif terhadap pendapatan

Dengan mengubah beban menjadi persentase dari pendapatan, Anda bisa melihat bagian pendapatan yang digunakan untuk HPP dan biaya operasional.

Dari sini, Anda bisa mengetahui apakah struktur biaya masih sehat atau ada beban yang mulai terlalu besar.

3. Menilai komposisi aset, liabilitas, dan ekuitas

Analisis vertikal menunjukkan seberapa besar porsi kas, persediaan, utang, dan modal terhadap total neraca.

Informasi ini bisa membantu Anda memahami penggunaan sumber daya bisnis dan pembiayaan biaya operasional.

4. Memudahkan perbandingan antarperusahaan (benchmarking)

Karena seluruh akun disajikan dalam persentase, berarti Anda bisa membandingkan persentase tersebut dengan data bisnis lain meski skalanya berbeda.

Anda bisa menggunakan hasil ini sebagai pembanding untuk melihat apakah struktur biaya atau aset bisnis relatif lebih tinggi atau rendah dibandingkan bisnis sejenis.

5. Identifikasi tren dan perubahan

Analisis vertikal memungkinkan Anda untuk melihat perubahan dalam komposisi laporan keuangan dari waktu ke waktu. Dengan membandingkan persentase setiap pos dengan total yang relevan, Anda dapat mengidentifikasi tren yang muncul dan perubahan signifikan dalam komponen laporan keuangan.

Hal ini membantu dalam memahami bagaimana proporsi setiap pos berubah seiring waktu, sehingga Anda dapat mengidentifikasi area yang perlu diperhatikan lebih lanjut.

Baca Juga: Mengenal Analisis Trend (Trend Analysis) dalam Laporan Keuangan

Prosedur Analisis Vertikal Laporan Keuangan

analisis vertikal laporan keuangan banner 2

Cara melakukan analisis vertikal adalah dengan mengubah nilai setiap akun dalam laporan keuangan menjadi persentase terhadap base amount.

Dengan begitu, Anda bisa melihat proporsi masing-masing akun dalam satu periode secara lebih jelas.

Berikut langkah-langkahnya:

  1. Pilih laporan keuangan yang akan dianalisis: Tentukan laporan yang ingin dianalisis menggunakan metode analisis vertikal, yaitu laporan laba rugi atau neraca. Pemilihan laporan akan menentukan base amount yang digunakan.
  2. Tentukan base amount: Pada laporan laba rugi, total pendapatan atau penjualan biasanya menjadi base amount dengan nilai 100%. Pada neraca, total aset digunakan sebagai dasar untuk menganalisis sisi aset, sedangkan total liabilitas dan ekuitas dapat digunakan untuk sisi pasiva.
  3. Hitung persentase setiap akun: Hitung setiap akun menggunakan rumus (Nilai Akun ÷ Base Amount) × 100%. Misalnya, jika beban operasional Rp30 juta dan penjualan Rp200 juta, persentasenya adalah 15%.
  4. Susun dalam format common size: Tampilkan hasil analisis vertikal dalam bentuk persentase untuk setiap akun. Format ini membuat struktur laporan keuangan lebih mudah dibaca dan membantu membandingkan proporsi antar akun.
  5. Interpretasikan hasil analisis vertikal: Perhatikan akun dengan persentase besar, perubahan proporsi, atau angka yang terlihat tidak biasa. Pada tahap ini, analisis vertikal digunakan untuk memahami struktur biaya, komposisi aset, serta sumber pendanaan bisnis dan menentukan bagian yang perlu ditindaklanjuti.

Baca Juga: Metode Analisis Data Keuangan, Tahapan, Kesalahan, dan Solusinya

Contoh Analisis Vertikal pada Laporan Laba Rugi

Misalnya, sebuah usaha kuliner skala UKM mencatat penjualan sebesar Rp200 juta dalam satu periode.

Pemilik bisnisnya ingin mengetahui seberapa besar pendapatan yang digunakan untuk menutup biaya produksi, operasional, hingga menghasilkan laba.

Dengan analisis vertikal, penjualan menjadi base amount sebesar 100%.

Akun Nilai Rupiah Persentase
Penjualan Rp 200.000.000 100%
Harga Pokok Penjualan (HPP) Rp 120.000.000 60%
Laba Kotor Rp 80.000.000 40%
Beban Operasional Rp 30.000.000 15%
Laba Bersih Rp 50.000.000 25%

Persentase tersebut diperoleh dengan membagi nilai setiap akun dengan penjualan, kemudian dikalikan 100%. Misalnya, HPP sebesar Rp120 juta ÷ Rp200 juta × 100% = 60%.

Dari hasil tersebut, pemilik bisnisnya dapat melihat bahwa 60% pendapatan digunakan untuk menutup HPP, sedangkan 40% tersisa sebagai laba kotor.

Angka HPP 60% belum tentu bermasalah karena tingkat HPP yang wajar dapat berbeda menurut jenis bisnis.

Namun, angka tersebut perlu diperhatikan jika terus meningkat, misalnya dari 55% menjadi 60% lalu 65%, sementara harga jual tidak mengalami perubahan yang sebanding.

Kondisi tersebut dapat menunjukkan kenaikan harga bahan baku, biaya produksi yang tidak efisien, atau harga jual yang perlu dievaluasi.

Sebaliknya, jika HPP relatif stabil dan bisnis mampu mempertahankan laba bersih 25%, struktur biaya dapat menjadi indikator bahwa operasional masih menghasilkan margin yang cukup baik.

Baca Juga: Pengertian Jenis Analisis Keputusan Keuangan Bisnis dan Manfaatnya

Contoh Analisis Vertikal pada Neraca

Masih menggunakan contoh usaha kuliner sebelumnya, misalnya bisnis memiliki total aset sebesar Rp500 juta.

Analisis vertikal neraca digunakan untuk melihat komposisi aset sekaligus sumber pendanaan bisnis melalui liabilitas dan ekuitas.

Pada sisi aset, total aset menjadi base amount sebesar 100%. Sementara pada sisi pasiva, total liabilitas dan ekuitas juga menjadi 100%.

Akun Neraca Nilai Rupiah Persentase
Aset
Kas dan setara kas Rp 100.000.000 20%
Piutang usaha Rp 75.000.000 15%
Persediaan Rp 125.000.000 25%
Aset tetap Rp 200.000.000 40%
Total Aset Rp 500.000.000 100%
Liabilitas & Ekuitas
Utang jangka pendek Rp 225.000.000 45%
Utang jangka panjang Rp 75.000.000 15%
Ekuitas Rp 200.000.000 40%
Total Liabilitas & Ekuitas Rp 500.000.000 100%

Dari hasil tersebut, 45% total pasiva berasal dari utang jangka pendek. Bagi pemilik bisnis, angka ini perlu diperhatikan karena utang jangka pendek harus dilunasi dalam waktu relatif dekat.

Jika kas hanya mencapai 20% dari total aset, bisnis perlu memastikan arus kas masuk cukup untuk memenuhi kewajiban tersebut.

Komposisi ini tidak otomatis berarti bisnis bermasalah. Namun, jika utang jangka pendek semakin besar sementara kas dan arus kas operasional tidak ikut meningkat, risiko likuiditas dapat menjadi lebih tinggi.

Pemilik bisnis kuliner tersebut perlu memantau kemampuan membayar kewajiban lancar agar operasional tidak terganggu.

Baca Juga: Mengetahui 4 Jenis Risiko Keuangan dalam Bisnis dan Cara Mitigasinya

Bagaimana Cara Membaca dan Menginterpretasikan Hasil Analisis Vertikal?

Untuk membaca hasil analisis vertikal, Anda bisa melihat komposisi persentase akun dan membandingkannya dengan periode sebelumnya dan bisnis sejenis.

Tidak ada angka persentase yang harus Anda ikuti karena struktur biaya setiap industri berbeda.

Sebagai gambaran, data perusahaan Indonesia pada 2024 menunjukkan perbedaan yang cukup besar. DFI Retail Nusantara mencatat gross profit margin 37,95%, yang berarti beban pokok penjualannya sekitar 62,05% dari penjualan.

Sementara itu, Cisarua Mountain Dairy (CMRY) mencatat gross margin 45,2%, sehingga beban pokok penjualannya sekitar 54,8%.

Pada manufaktur makanan, Siantar Top memiliki gross margin 31,46%, atau HPP sekitar 68,54% dari penjualan.

Data tersebut menunjukkan bahwa HPP di atas 70% tidak otomatis berarti bisnis tidak sehat.

Namun, jika HPP bisnis terus meningkat atau jauh lebih tinggi dibandingkan benchmark bisnis sejenis, Anda perlu mencari penyebabnya.

Beberapa hal yang dapat ditinjau antara lain harga bahan baku, harga beli dari pemasok, pemborosan, efisiensi produksi, dan penetapan harga jual.

Hal serupa berlaku untuk beban operasional. Misalnya, DFI Retail Nusantara memiliki SG&A margin 26,82% pada 2024. Angka tersebut dapat menjadi titik pembanding, bukan batas maksimal untuk semua bisnis.

Jika beban operasional bisnis Anda jauh lebih tinggi, periksa pos seperti gaji, sewa, pemasaran, dan utilitas untuk mengetahui biaya yang paling banyak menyerap pendapatan.

Untuk struktur pendanaan, jangan hanya melihat persentase utang jangka pendek. Periksa juga kemampuan bisnis membayar kewajiban tersebut.

Sebagai pembanding, CMRY memiliki current ratio 316,1% dan liabilitas terhadap aset 17,6% pada 2024. Artinya, interpretasi analisis vertikal akan lebih bermakna jika dikaitkan dengan likuiditas dan arus kas, bukan hanya besar kecilnya persentase utang.

Baca Juga: Flux Analysis dalam Akuntansi Keuangan: Contoh Kasusnya

Apa Kelebihan dan Kekurangan Analisis Vertikal?

analisis vertikal laporan keuangan banner 3

Analisis vertikal membantu menyederhanakan laporan keuangan menjadi persentase sehingga struktur keuangan bisnis lebih mudah dipahami.

Namun, metode ini juga memiliki keterbatasan yang perlu Anda perhatikan:

Kelebihan Analisis Vertikal

  1. Memberikan transparansi struktur biaya: Anda bisa melihat berapa persen pendapatan yang digunakan untuk HPP, beban operasional, dan biaya lainnya. Ini memudahkan identifikasi pos yang paling banyak menyerap pendapatan.
  2. Memudahkan benchmarking antarperusahaan: Karena akun disajikan dalam persentase, bisnis dengan ukuran berbeda tetap dapat dibandingkan.
  3. Membantu mengidentifikasi risiko likuiditas: Pada neraca, analisis vertikal dapat menunjukkan seberapa besar aset lancar, liabilitas, dan ekuitas dalam struktur keuangan. Jika kewajiban jangka pendek mengambil porsi besar, pemilik bisnis dapat meninjau kemampuan bisnis memenuhi kewajiban tersebut.
  4. Tidak terpengaruh perbedaan skala bisnis: Perbandingan kini berdasarkan persentase, jadi fokus analisinya berubah dari “berapa rupiah” menjadi “berapa besar proporsinya”.

Kekurangan Analisis Vertikal

  1. Bergantung pada kualitas data keuangan: Data yang tidak lengkap atau salah pencatatan dapat menghasilkan persentase yang salah. Jadi, pastikan laporan keuangan sudah direkonsiliasi dan menggunakan periode serta dasar pencatatan yang konsisten.
  2. Tidak menjelaskan mengapa perubahan terjadi: Peningkatan persentase hanya menunjukkan adanya perubahan komposisi, bukan penyebabnya. Anda masih perlu menelusuri akun secara lebih detail dan gunakan analisis horizontal untuk melihat perubahan antar periode.
  3. Tidak bisa berdiri sendiri tanpa konteks industri: Persentase biaya yang tinggi belum tentu buruk karena setiap industri memiliki struktur biaya berbeda. Jadi, bandingkan hasil dengan bisnis sejenis atau benchmark industri yang relevan.

Baca Juga: Cara Menilai Laporan Keuangan Bagi Investor dan Pemilik Bisnis

Perbedaan Analisis Vertikal dan Analisis Horizontal

Analisis vertikal dan horizontal sama-sama digunakan untuk mengevaluasi laporan keuangan, tetapi memiliki fokus yang berbeda.

Analisis vertikal melihat struktur atau proporsi akun dalam satu periode, sedangkan analisis horizontal melihat perubahan akun dari satu periode ke periode lainnya.

Aspek Analisis Vertikal Analisis Horizontal
Fokus analisis Melihat proporsi setiap akun terhadap base amount Melihat perubahan nilai atau persentase suatu akun antarperiode
Periode yang digunakan Dapat dilakukan hanya dengan satu periode Membutuhkan minimal dua periode untuk dibandingkan
Base amount Menggunakan akun dasar, seperti total penjualan atau total aset Menggunakan periode sebelumnya sebagai dasar perbandingan
Cocok untuk Menganalisis struktur biaya, komposisi aset, serta struktur liabilitas dan ekuitas Menganalisis tren pendapatan, biaya, aset, kewajiban, atau laba dari waktu ke waktu

Sebagai contoh, analisis vertikal dapat menunjukkan bahwa HPP mencapai 60% dari penjualan. Sementara itu, analisis horizontal dapat menunjukkan bahwa HPP meningkat 10% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kapan menggunakan masing-masing? Gunakan analisis vertikal ketika ingin memahami struktur laporan keuangan, dan gunakan analisis horizontal ketika ingin melihat arah serta perubahan kinerja bisnis.

Anda juga bisa menggunakan keduanya bersamaan untuk mengetahui posisi suatu akun dan memahami bagaimana posisi tersebut berubah dari waktu ke waktu.

Baca Juga: Mengetahui Apa itu Analisis Horizontal Pada Laporan Keuangan

Kesimpulan

Analisis vertikal laporan keuangan merupakan metode yang bermanfaat untuk memahami komposisi, perubahan, dan kinerja perusahaan dari waktu ke waktu.

Dengan menganalisis persentase setiap pos dalam laporan keuangan terhadap total yang relevan, kita dapat mengidentifikasi tren, pergeseran, dan perubahan yang terjadi dalam struktur keuangan perusahaan.

Analisis vertikal juga membantu dalam mengevaluasi efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya perusahaan serta membandingkan kinerja perusahaan dengan standar industri atau perusahaan sejenis.

Analisis vertikal juga membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik, karena memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang struktur keuangan perusahaan dan memungkinkan perbandingan dengan standar industri.

Mudahkan proses pembuatan dan analisis laporan keuangan untuk dapatkan keputusan bisnis lebih baik dengan menggunakan software akuntansi Kledo secara gratis selama 14 hari melalui tautan ini.

sugi priharto

Tinggalkan Komentar

thirteen − three =