Apa Akuntan Masih Relevan di Era Digital dan AI? Ini Jawabannya

Apa profesi akuntan masih relevan di era digital? Pertanyaan ini sangat menarik karena seperti yang kita tahu, AI sudah berkembang sangat pesat bisa mengotomatisasi banyak tugas, termasuk sebagian pekerjaan akuntansi.

Laporan World Economic Forum menyebutkan bahwa jutaan pekerjaan administratif dan keuangan berisiko terdisrupsi oleh otomatisasi dalam dekade ini, termasuk akuntan.

Sebenarnya, profesi akuntan masih akan terus relevan, tetapi mereka harus berevolusi karena cara kerjanya akan berubah.

Lebih lengkapnya, artikel ini akan membahas apa akuntan masih relevan di era digital, ancaman nyata yang dihadapi akuntan, alasan mengapa mereka tidak tergantikan, hingga skill yang wajib dikuasi akuntan.

Ancaman Nyata yang Dihadapi Akuntan

Sebuah penelitian yang diterbitkan di International Journal for Multidisciplinary Research (Singh, 2025) menemukan bahwa AI telah mengurangi beban kerja manual akuntan hingga 50%, dan memproyeksikan bahwa pada 2030, hampir 80% pekerjaan akuntansi rutin akan diotomatisasi sepenuhnya.

1. Otomatisasi Mengambil Alih Pekerjaan Rutin

Tugas-tugas akuntansi yang dulu memakan waktu berjam-jam kini bisa diselesaikan software dalam hitungan menit.

Data dari penelitian Singh (2025) menunjukkan betapa drastisnya perubahan ini:

ProsesWaktu ManualWaktu dengan AIEfisiensi
Pemrosesan Invoice2-3 hari2-3 jam80%
Rekonsiliasi Bank5-7 hari1-2 hari75%
Perhitungan Pajak4-5 hari1 hari70%
Persiapan Laporan Audit3-4 minggu5-7 hari65%

Akuntan yang selama ini mengandalkan pekerjaan-pekerjaan ini sebagai sumber utama penghasilan mulai merasakan tekanannya.

2. Software Akuntansi Semakin Cerdas

Fitur software akuntansi modern semakin berkembang. Mereka tidak lagi cuma bisa mencatat, tapi juga bisa:

  • Machine learning untuk mendeteksi anomali transaksi
  • Prediksi arus kas berbasis data historis
  • Kategorisasi otomatis yang belajar dari kebiasaan pengguna
  • Dashboard real-time yang bisa dibaca langsung oleh pemilik bisnis tanpa bantuan akuntan

Artinya, pemilik UMKM pun kini bisa memahami kondisi keuangan bisnisnya sendiri, sesuatu yang dulu hanya bisa dilakukan dengan bantuan akuntan.

3. AI Mulai Masuk ke Wilayah yang Lebih Kompleks

Yang lebih mengkhawatirkan, AI tidak lagi hanya menangani hal-hal sederhana. Sistem seperti GL.ai milik PwC kini mampu memeriksa jutaan transaksi keuangan secara real-time.

Bahkan, akurasinya dalam mendeteksi aktivitas mencurigakan jauh melampaui metode audit manual konvensional.

Sementara itu, Deloitte menggunakan CortexAI yang mampu meningkatkan kemampuan deteksi fraud hingga 40% lebih tinggi dibanding proses audit tradisional.

4. Pekerjaan Akuntansi yang Paling Rentan Tergantikan

Tidak semua peran akuntan sama-sama terancam. Berdasarkan proyeksi Singh (2025), berikut gambaran tingkat otomatisasi berbagai fungsi akuntansi pada 2030:

Jenis PekerjaanAkan DiotomatisasiTetap Dikendalikan Manusia
Input data & pencatatan transaksi90%10%
Penggajian & invoicing85%15%
Persiapan & pelaporan pajak75%25%
Forecasting & budgeting65%35%
Penilaian risiko & deteksi fraud60%40%
Audit & review kepatuhan45%55%
Advisory keuangan & strategi30%70%

Dari tabel di atas, kita bisa melihat bahwa semakin tinggi unsur pertimbangan manusia dalam sebuah pekerjaan, semakin kecil risiko otomatisasinya.

kledo banner 3

Baca Juga: Cara Menjadi Akuntan: Tips, Panduan, dan Prospek Gajinya

Mengapa Akuntan Tetap Tidak Tergantikan?

apakah akuntan masih relevan di era digital 3

Meski ancaman di atas terasa mengerikan, data dari penelitian yang sama justru memberikan perspektif baru.

Survei terhadap 115 profesional akuntansi menunjukkan bahwa 45% responden percaya AI akan menciptakan peran-peran baru, bukan semata menghapus yang lama.

Rasa optimis ini didukung dengan beberapa alasan seperti:

1. Mesin tidak bisa mereplikasi keputusan manusia

Singh (2025) menegaskan bahwa AI unggul dalam menangani data besar, mengenali pola, dan menyelesaikan tugas berbasis aturan, tetapi lemah dalam analisis berbasis konteks, pertimbangan etis, dan pemahaman latar belakang personal klien.

Misalnya, dalam situasi seperti ini, akuntan berpengalaman jauh lebih unggul daripada AI:

  • Memilih metode depresiasi yang paling sesuai kondisi bisnis
  • Menentukan apakah suatu transaksi perlu diungkapkan dalam catatan laporan keuangan
  • Membaca situasi bisnis klien dan menyesuaikan pendekatan pelaporan

2. Tanggung jawab hukum tetap di tangan manusia

IAI mewajibkan laporan keuangan yang digunakan untuk tujuan publik untuk ditinjau, ditandatangani, dan dipertanggungjawabkan oleh akuntan profesional bersertifikat.

Tidak ada software yang bisa menggantikan posisi ini secara hukum.

Ketika terjadi sengketa pajak, gugatan investor, atau pemeriksaan regulator, yang dipanggil dan bertanggung jawab adalah manusia, bukan sistem.

Akuntabilitas hukum ini menjadi salah satu faktor yang membuat profesi akuntan tetap tidak tergantikan.

3. Kepercayaan dibangun oleh manusia, bukan mesin

Katakanlah ada seorang pengusaha yang bisnisnya sedang menghadapi krisis keuangan. Yang dia butuhkan bukan hanya laporan, tapi juga seseorang yang bisa ia percaya, diajak bicara, dan memahami konteks bisnisnya secara menyeluruh.

Relasi kepercayaan antara akuntan dan klien dibangun dari waktu ke waktu melalui komunikasi, empati, dan pemahaman mendalam.

Ini adalah hal yang tidak bisa diberikan oleh software secanggih apapun.

Baca Juga: Akuntansi Proyek: Pengertian, Prinsip, Bedanya dengan Akuntansi Standar

4. Regulasi terus berubah dan membutuhkan interpretasi

Regulasi keuangan dan perpajakan di Indonesia terus berkembang. Beberapa tahun terakhir saja, akuntan harus memahami dan mengadaptasi:

  • Implementasi Coretax dari DJP
  • Pembaruan PSAK yang mengikuti standar IFRS terbaru
  • Perubahan skema pajak dari UU HPP
  • Regulasi e-faktur dan e-bupot yang terus diperbarui

Setiap perubahan regulasi membutuhkan interpretasi dari orang yang benar-benar paham konteks hukum dan bisnis. Ini juga bukan hal yang bisa mesin lakukan.

5. Akuntan masih tidak tergantikan sebagai penerjemah

Akuntan perlu menerjemahkan angka-angka yang muncul di laporan keuangan menjadi informasi atau kata-kata yang mudah dipahami.

Pemilik bisnis, terutama UMKM, sering tidak memahami apa arti angka-angka tersebut.

Karena itu, akuntan berperan sebagai penerjemah yang mengubah data mentah menjadi insight yang bisa ditindaklanjuti.

Misalnya, seorang akuntan akan tahu margin bisnis A yang turun 3% itu terjadi bukan karena penjualannya lesu, tapi karena harga bahan baku naik. Karena itu, solusinya adalah negosiasi dengan supplier.

Atau, akuntan akan tahu bahwa arus kas suatu bisnis positif di bulan tertentu. Tapi, ada risiko likuiditas jika di bulan depan piutang tidak tertagih.

Informasi seperti inilah yang membuat akuntan bernilai jauh lebih tinggi daripada software.

Baca Juga: 10 Podcast Akuntansi yang Wajib Didengarkan Akuntan

Peran Akuntan yang Justru Berkembang di Era Digital

apakah akuntan masih relevan di era digital 2

Alih-alih menghilang, era digital justru melahirkan peran-peran baru bagi akuntan yang mau beradaptasi.

1. Menjadi penasihat strategi bisnis

Singh (2025) secara eksplisit menyebut bahwa peran akuntan modern telah berevolusi dari sekadar data processor menjadi strategic business advisor yang menghasilkan insight real-time dan analisis ke depan untuk mendukung pertumbuhan bisnis.

Ketika AI sudah mengotomatisasi tugas repetitif, akuntan punya lebih banyak waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penting seperti:

  • “Apakah kita siap ekspansi ke kota baru tahun depan?”
  • “Di mana titik bocor keuangan kita yang paling besar?”
  • “Skema pajak mana yang paling efisien untuk struktur bisnis kita saat ini?”
  • “Bagaimana proyeksi arus kas kita jika permintaan naik 20% di kuartal berikutnya?”

Tidak ada satu pun pertanyaan di atas yang bisa dijawab secara memuaskan oleh algoritma, karena semuanya membutuhkan pemahaman konteks bisnis, pengalaman industri, dan pertimbangan manusia yang mendalam.

2. Spesialis Deteksi Fraud dan Audit Digital

Di era digital ini, sebagian besar bisnis dan konsumen beralih ke transaksi digital. Kejahatan keuangan pun ikut terjadi di ranah digital.

Karena itulah, akuntan forensik dan auditor digital menjadi profesi yang semakin penting.

Sistem AI memang sudah bisa mendeteksi fraud dengan canggih, tapi mereka tetap membutuhkan akuntan manusia untuk menginterpretasikan hasilnya, memutuskan tindak lanjut, dan mempertanggungjawabkan temuan secara hukum.

Jadi, AI tidak menghilangkan peran auditor, justru membantu mereka masuk ke spesialisasi baru.

3. Analis keuangan berbasis data

Singh (2025) menemukan bahwa implementasi AI untuk financial forecasting berbasis data terbukti mengurangi kesalahan proyeksi hingga 35%.

Namun kecanggihan teknologi ini hanya bisa dimaksimalkan oleh akuntan yang memiliki kemampuan membaca, menginterpretasikan, dan mengkomunikasikan maksud dari data tersebut.

Peran ini mencakup beberapa fungsi yang semakin dicari perusahaan:

  • Mengidentifikasi tren keuangan dari kumpulan data besar yang tidak terlihat oleh laporan konvensional
  • Membangun model prediksi pendapatan dan pengeluaran berbasis skenario
  • Menyajikan analisis keuangan dalam bentuk visual yang mudah dipahami manajemen non-keuangan
  • Memberikan rekomendasi berbasis data untuk keputusan investasi, ekspansi, atau efisiensi biaya

Penelitian ini juga mencatat bahwa 70% profesional keuangan yang diwawancarai menyebut kemampuan analisis data sebagai keahlian paling esensial di era otomatisasi — menggeser posisi kemampuan pembukuan yang selama ini mendominasi.

4. Konsultan Implementasi dan optimasi software akuntansi

Ini adalah peran yang relatif baru namun pertumbuhannya sangat cepat. Singh (2025) mencatat bahwa meskipun 90% kantor akuntan sudah mengadopsi AI dalam berbagai tingkat, hanya 12% yang benar-benar mengintegrasikannya secara penuh.

Artinya, ada gap antara kepemilikan teknologi dan pemanfaatan optimalnya.

Gap inilah yang membuka peluang besar bagi akuntan yang memiliki pemahaman teknolog.

Mereka bisa menjadi konsultan yang membantu bisnis memilih, mengimplementasikan, dan mengoptimalkan software akuntansi mereka.

Banyak bisnis (terutama UMKM yang sedang bertumbuh) gagal memaksimalkan software akuntansi bukan karena softwarenya buruk, tetapi karena tidak ada yang memandu penggunaannya secara benar dari perspektif akuntansi.

Data dari penelitian ini pun mendukung besarnya peluang ini:

  • Bisnis kecil yang mengintegrasikan solusi akuntansi berbasis cloud berhasil menghemat hingga 25% biaya operasional
  • Perusahaan dengan software kepatuhan pajak berbasis AI mengalami pengurangan denda pajak hingga 20%.

Baca Juga: Berapa Sih Gaji Akuntan di Indonesia? Yuk, Intip Selengkapnya Di Sini!

Skill yang Wajib Dikuasai Akuntan di Era Digital Agar Tetap Relevan

apakah akuntan masih relevan di era digital 1

Sebagai akuntan, agar tetap relevan di era digital, Anda perlu terus mengembangkan diri dan menguasai kemampuan-kemampuan ini:

1. Literasi Teknologi dan Software Akuntansi

Dua skill ini tidak bisa ditawar lagi.

Akuntan modern harus fasih mengoperasikan setidaknya satu software akuntansi berbasis cloud, memahami cara kerja integrasi antar sistem, dan tidak gagap ketika berhadapan dengan tools digital baru.

Untuk menjawab kebutuhan ini, software akuntansi biasanya sudah memberikan sertifikasi untuk akuntan yang telah terbukti mampu mengoperasikannya dengan baik. Misalnya, seperti sertifikat akuntansi Kledo.

2. Analisis data dan visualisasi

Kemampuan membaca data mentah dan mengubahnya menjadi cerita yang bermakna adalah skill yang membedakan akuntan biasa dengan akuntan yang dicari perusahaan besar.

Tools seperti Excel, Google Looker Studio, atau bahkan Power BI menjadi nilai tambah yang penting di CV seorang akuntan.

3. Pemahaman regulasi digital

Di Indonesia, landscape perpajakan digital terus berkembang. Akuntan yang update terhadap regulasi terbaru akan jauh lebih bernilai daripada yang hanya menguasai teori akuntansi biasa.

4. Soft skill: komunikasi dan business acumen

Paradoksnya, di era yang semakin digital, human skill seperti komunikasi justru semakin berharga.

Kemampuan menjelaskan kondisi keuangan dengan bahasa yang mudah dipahami klien, membangun kepercayaan, dan membaca dinamika bisnis secara holistik adalah hal yang tidak bisa diajarkan ke mesin.

5. Mindset belajar berkelanjutan

Mungkin ini skill yang paling penting, yaitu kemauan untuk terus belajar.

Teknologi dan regulasi bisa berubah dan berkembang. Sementara itu, akuntan yang merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki hari ini akan tertinggal dalam tiga hingga lima tahun ke depan.

Baca Juga: 10 Kompetensi Profesional Akuntan dan Cara Mengembangkannya

Kesimpulan

Jadi, apakah akuntan masih relevan di era digital? Jawabannya, ya. Akuntan tetap akan jadi profesi yang relevan, selama orangnya mau berkembang dan terus belajar.

Di era ini, justru lahir banyak peran akuntan baru seperti penasihat strategi, spesialis deteksi fraud, analis keuangan, hingga konsultan implementasi.

Yang penting, asah skill seperti literasi teknologi, analisis data, pemahaman regulasi, dan yang paling penting, miliki mindset belajar berkelanjutan.

Dukung pengelolaan akuntansi dan keuangan bisnis Anda dengan software akuntansi Kledo. Coba sekarang lewat tautan ini.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

five × five =