10 Konsep Dasar Akuntansi Ini Wajib Dipahami, Penting!

konsep dasar akuntansi

Akuntansi adalah kegiatan mencatat, meringkas, mengklasifikasi, lalu mengolah dan menampilkan semua data transaksi keuangan perusahaan dalam laporan keuangan. Bagi Kawan Kledo yang sedang mempelajari akuntansi, Konsep Dasar Akuntansi, bersama dengan Persamaan Dasar Akuntansi, menjadi dua hal yang harus dikuasai untuk menghasilkan laporan keuangan yang standar.

Apa itu Konsep Dasar Akuntansi?

konsep dasar akuntansi

Konsep Dasar Akuntansi memberikan standar yang sama dalam hal melakukan pencatatan akuntansi. Memahami Konsep Dasar Akuntansi akan menghindari kesalahan pencatatan, yang nantinya bisa mempengaruhi pengambilan keputusan oleh manajemen.

Dengan standar yang sama, prosedur dan metode yang digunakan akan menghasilkan laporan keuangan yang akurat dan dapat diandalkan, sesuai dengan tujuan akhir dari akuntansi.

Baca Juga: Contoh Laporan Keuangan Sederhana dalam Bisnis

10 Konsep Dasar Akuntansi

Berikut adalah 10 Konsep Dasar Akuntansi yang wajib dipahami:

1. Konsep Kesatuan Usaha (Entity Theory)

Konsep kesatuan usaha menjelaskan bahwa perusahaan adalah sebuah entitas yang terpisah dengan pemilik perusahaan atau pihak-pihak lain yang berkepentingan. Aset, utang, dan modal milik perusahaan adalah berbeda dengan aset, utang, dan modal yang dimiliki oleh pemilik perusahaan, karyawan atau direksi.

Konsep ini juga menyatakan bahwa perusahaan dapat bertindak atas namanya sendiri, terpisah dari pemilik perusahaan sebagai penanam modal. Perusahaan dapat memiliki rekening bank, melakukan kontrak jual beli atas nama hukum, memiliki utang piutang, hubungan bisnis, semua dilakukan atas namanya sendiri.

Perusahaan juga memiliki kewajiban untuk mempertanggungjawabkan kepada pemilik perusahaan dalam kesatuan pelapor (reporting entity).

2. Konsep Pengakuan Pendapatan (Revenue Recognition)

Pendapatan adalah aliran masuk aset atau aktiva yang timbul karena penyerahan barang atau jasa yang dilakukan selama suatu periode tertentu. Pendapatan harus diakui ketika terjadi penjualan barang atau jasa, meski tidak selalu berbarengan dengan penerimaan kas. Sayangnya, ketentuan ini tidak selalu dapat diterapkan.

Pengecualian diberlakukan untuk pengakuan pendapatan pada saat produksi selesai, pada saat produksi masih berjalan, dan saat kas diterima. Pendapatan diakui ketika produksi selesai biasanya terjadi di perusahaan penambangan emas dan perak.

Pendapatan dapat diakui ketika pekerjaan selesai karena emas dan perak memiliki harga yang pasti meski belum ada yang membelinya. Kedua, pendapatan diakui ketika produksi masih berjalan biasanya diterapkan di perusahaan kontraktor yang melakukan kontrak pembangunan jangka panjang.

Pendapatan dapat diakui berdasarkan persentase penyelesaian pembangunan walaupun belum terjadi serah terima. Semua biaya yang terjadi berdasarkan persentase penyelesaian juga harus diakui bersamaan dengan pendapatannya.

Yang ketiga, pendapatan diakui ketika penerimaan kas terjadi untuk penjualan dengan sistem pelunasan angsuran. Pendapatan dianggap terealisasi ketika pembayaran angsuran diterima.

3. Konsep Kesinambungan (Going Concern)

Di akuntansi, semua perusahaan dianggap akan melakukan kegiatan usahanya secara terus-menerus, sepanjang masa. Kelangsungan usaha akan berlangsung terus dalam waktu yang tidak terbatas.

Karena konsep ini, maka laporan keuangan dibuat secara periodik, yang akan diperbandingkan dari satu periode ke periode berikutnya. Atas dasar konsep ini pula, laba jangka panjang dapat dipecah menjadi beberapa laba beberapa periode, seperti laba caturwulan atau laba semester.

4. Konsep Mempertemukan (Matching Principle)

Konsep mempertemukan menyatakan bahwa pendapatan dan beban harus diakui bersamaan dan dicatat di periode yang sama. Hal ini karena setiap pendapatan yang diperoleh perusahaan pasti memiliki biaya yang muncul dalam usahanya memperoleh pendapatan tersebut.

Dengan demikian, perhitungan pendapatan bersih lebih akurat, dan laporan laba rugi di periode tersebut menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Pendapatan harus diakui ketika kewajiban perusahaan sudah terpenuhi kepada konsumen.

Meskipun penerimaan uang dari pendapatan tersebut belum diterima dari konsumen, namun perusahaan telah memiliki hak untuk mengakui pendapatan tersebut.

Demikian juga halnya dengan pengakuan biaya yang menyertai pendapatan tersebut. Ketika biaya sudah terjadi, meski belum ada pengeluaran kas atas biaya tersebut, biaya harus dicatat di periode yang sama dengan pengakuan pendapatannya.

Hal inilah yang menjadi dasar dari pencatatan dengan konsep berbasis akrual, dimana transaksi keuangan dicatat dan diakui ketika transaksi itu sudah terjadi, atau sudah dinikmati. Pencatatan dan pengakuan tidak terkait dengan penerimaan atau pengeluaran kas.

Misalnya, biaya premi asuransi harus sudah dicatat dan diakui ketika masa asuransi sudah dimulai, meskipun perusahaan belum melakukan pembayaran premi.

Sedangkan konsep berbasis kas mencatat dan mengakui transaksi keuangan pada saat terjadinya penerimaan atau pengeluaran kas. Misalnya saat membayar premi asuransi, maka biaya premi asuransi diakui dan dicatat ketika uang kas dikeluarkan untuk membayar premi.

5. Konsep Harga Perolehan (Cost)

Konsep ini menyatakan bahwa dalam pengakuan aset tetap, yang digunakan dalam pengakuan dan pencatatan nilai bukunya adalah harga perolehan, bukan harga pembelian.

Harga perolehan adalah harga pembelian ditambah dengan segala biaya yang terkait langsung dengan perolehan aset tersebut hingga aset siap untuk digunakan, dikurangi dengan potongan tunai dan diskon.

Harga perolehan menjadi harga wajar sebuah aset karena menyajikan nilai yang menggambarkan keadaan yang sesungguhnya.

6. Konsep Penyajian Lengkap (Full Disclousure)

Konsep ini menyatakan bahwa laporan keuangan harus menyajikan informasi yang lengkap. Memang ada banyak sekali informasi yang harus dicantumkan dalam laporan keuangan. Dalam kenyataannya ada keterbatasan dalam laporan keuangan untuk memuat semua informasi yang penting.

Itulah sebabnya informasi lain yang belum tercantum harus dimasukkan dalam bentuk catatan kaki (foot notes) dan lampiran laporan keuangan. Catatan kaki biasanya menjelaskan tentang perubahan metode dan prinsip akuntansi yang digunakan, koreksi kesalahan yang ada, taksiran yang digunakan, serta informasi tentang modal perusahaan dan kontrak-kontrak pembelian.

Sedangkan dalam lampiran laporan keuangan, dapat dicantumkan perhitungan-perhitungan yang detail, atau informasi-informasi keuangan lain yang memerlukan penjelasan yang lebi panjang.

7. Konsep Asumsi

Konsep ini menyatakan bahwa di dalam akuntansi memerlukan asumsi sebagai dasar pemilihan konsep atau prinsip akuntansi. Asumsi ini memang tidak selamanya obyektif, namun asumsi dapat bermanfaat sebagai dasar konsistensi dan acuan dalam pengambilan keputusan.

8. Konsep Kehati-hatian atau Konservatisme

Konsep ini menyatakan bahwa akuntan perlu memiliki kehati-hatian sikap untuk mengambil keputusan atas dasar kemungkinan buruk di masa depan. Sikap kehati-hatian ini tercermin dalam pengakuan pendapatan dan biaya yang belum terjadi, namun bisa dipastikan terjadi. Ada juga pencatatan pencadangan biaya atas piutang yang mungkin tidak tertagih.

9. Konsep Pengukuran Nilai Uang (Money Measurement)

konsep dasar akuntansi

Konsep ini menyatakan bahwa setiap transaksi keuangan harus dapat diukur dan dinyatakan dalam satuan uang. Di Indonesia, yang digunakan adalah satuan rupiah. Semua komponen dalam aset, utang, dan modal, dinyatakan dalam satuan uang di dalam laporan keuangan.

Dengan menerapkan konsep ini, maka ada keseragaman bahasa dalam semua informasi di laporan keuangan, yaitu uang. Informasi ini dapat dimanfaatkan oleh semua pihak yang berkepentingan baik internal maupun eksternal, dan dapat diperbandingkan dari satu periode ke periode lainnya.

10. Konsep Konsistensi (Consistency)

Konsep konsistensi mengharuskan perusahaan untuk menerapkan semua metode dan prosedur akuntansi yang sama dari waktu ke waktu. Dengan konsistensi, laporan keuangan dapat diperbandingkan dari satu periode ke periode lainnya. Ini artinya, laporan keuangan perusahaan dapat diandalkan dan dapat dijadikan dasar untuk manajeman dalam mengambil keputusan.

Perusahaan dibebaskan untuk memilih metode maupun prosedur akuntansi manapun yang sesuai dengan keadaan dan kegiatan usahanya. Setelah metode dan prosedur akuntansi yang akan digunakan telah dipilih, maka tugas perusahaan adalah menerapkannya dengan konsisten agar tidak ada perubahan mendasar yang terjadi, yang akan mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan.

Apabila perusahaan ingin mengganti metode dan prosedur akuntansi karena tidak sesuai lagi dengan kondisi perusahaan, penggantian ini diperbolehkan. Apabila ada selisih yang berarti (material) maka harus dijelaskan di dalam laporan keuangan. Setelahnya, metode dan prosedur akuntansi yang baru harus diterapkan secara konsisten juga.

Kesimpulan

Konsep Dasar Akuntansi memberikan standar yang sama dalam hal melakukan pencatatan akuntansi. Bersama dengan Persamaan Dasar Akuntansi, Konsep Dasar Akuntansi menjadi dua hal yang harus dikuasai untuk menghasilkan laporan keuangan yang standar.

Ada 10 Konsep Dasar Akuntansi, yakni Konsep Kesatuan Usaha, Pengakuan Pendapatan, Kesinambungan, Mempertemukan, Harga Perolehan, Penyajian Lengkap, Asumsi, Kehati-hatian, Pengukuran Nilai Uang, dan Konsistensi.

Buat Kawan Kledo yang memiliki bisnis, jangan lupa untuk melakukan pengelolaan keuangan bisnis dengan baik. Gunakan software akuntansi Kledo untuk memudahkan pengelolaan keuangan bisnis ini.

Kledo dilengkapi berbagai fitur akuntansi yang pastinya akan memudahkan Kawan Kledo dalam melakukan pengelolaan keuangan bisnis. Daftar Kledo sekarang juga dan rasakan semua kemudahan pengelolaan keuangan bisnis ini.

Banner 2 kledo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19 + 14 =