Contoh Laporan Keuangan Usaha Jasa

laporan keuangan usaha jasa

Laporan keuangan digunakan di semua industri untuk menyampaikan gambaran umum yang komprehensif tentang aktivitas dan kesehatan keuangan perusahaan, termasuk untuk usaha jasa.

Namun dalam membuat dan menganalisis laporan keuangan di bisnis jasa, ada beberapa perbedaan yang cukup mencolok dibandingkan dengan industri lain seperti perusahaan dagang.

Sayangnya, tidak semua pemilik bisnis jasa memahami cara membuat atau menganalisis laporan keuangan. Padahal, laporan ini sangat penting dan mempengaruhi cara Anda mengambil keputusan penting dalam bisnis.

Pada artikel kali ini kami akan memberikan kepada Anda contoh laporan keuangan usaha jasa dan menjelaskannya dengan perusahaan dagang.

Apa Saja Laporan Keuangan Pada Usaha Jasa?

Sama seperti kebanyakan bisnis, ada tiga laporan keuangan utama dalam usaha jasa yang harus Anda tahu: Berikut adalah pembahasan dan juga contohnya:

1. Laporan laba rugi

Laporan laba rugi atau laporan pendapatan menyampaikan pendapatan, biaya, dan laba perusahaan selama periode waktu tertentu.

Sebagian besar perusahaan mengevaluasi kaba dan rugi bisnis mereka secara bulanan, triwulanan, dan tahunan. Selain itu, biasanya juga mengevaluasi setiap periode dengan periode yang sama dari tahun sebelumnya (misalnya, kuartal keempat tahun ini dibandingkan dengan kuartal keempat tahun lalu).

Banner 2 kledo

Di bawah ini adalah contoh laporan laba rugi yang disederhanakan diikuti dengan penjelasannya:

Contoh laporan keuangan: laporan laba rugi usaha jasa

Laporan laba rugi usaha jasa
Tahun 2023

Pendapatan
Pendapatan Jasa Rp 500.000.000
Pendapatan Lainnya Rp 50.000.000
Total Pendapatan Rp 550.000.000
Cost of Revenue
Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 200.000.000
Total Cost of Revenue Rp 200.000.000
Laba Kotor Rp 350.000.000
Biaya Operasional
Gaji dan Upah Rp 80.000.000
Biaya Pemasaran Rp 30.000.000
Biaya Administrasi Rp 20.000.000
Total Biaya Operasional Rp 130.000.000
Laba Operasional Rp 220.000.000
Biaya Non-Operasional
Bunga dan Beban Keuangan Rp 10.000.000
Beban Pajak Rp 30.000.000
Total Biaya Non-Operasional Rp 40.000.000
Laba Bersih Sebelum Pajak Rp 180.000.000
Pajak Penghasilan Rp 20.000.000
Laba Bersih Rp 160.000.000

Baca juga: Psychological Pricing: Definisi, Jenis, Contoh, Kelebihan & Kekurangannya

Keterangan:

  1. Pendapatan Jasa: Merupakan jumlah pendapatan yang diperoleh dari penawaran jasa perusahaan dalam periode yang ditentukan.
  2. Pendapatan Lainnya: Merupakan pendapatan yang tidak terkait langsung dengan jasa yang ditawarkan, seperti pendapatan dari investasi atau pendapatan lain yang berasal dari sumber yang berbeda.
  3. Total Pendapatan: Merupakan jumlah dari Pendapatan Jasa dan Pendapatan Lainnya, yaitu total seluruh pendapatan yang diperoleh oleh perusahaan dalam periode tersebut.
  4. Biaya Tenaga Kerja Langsung: Merupakan biaya yang terkait langsung dengan pendapatan, seperti gaji dan upah para karyawan yang terlibat dalam penyediaan jasa.
  5. Total Cost of Revenue: Merupakan jumlah dari Biaya Tenaga Kerja Langsung, yaitu total biaya yang terkait langsung dengan pendapatan perusahaan.
  6. Laba Kotor: Merupakan selisih antara Total Pendapatan dan Total Cost of Revenue, yaitu laba yang diperoleh sebelum mempertimbangkan biaya operasional dan non-operasional.
  7. Gaji dan Upah: Merupakan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk membayar gaji dan upah karyawan.
  8. Biaya Pemasaran: Merupakan biaya yang terkait dengan upaya pemasaran produk atau jasa perusahaan, seperti biaya iklan atau promosi.
  9. Biaya Administrasi: Merupakan biaya yang terkait dengan administrasi umum perusahaan, seperti biaya kantor atau pengeluaran administrasi lainnya.
  10. Total Biaya Operasional: Merupakan jumlah dari Gaji dan Upah, Biaya Pemasaran, dan Biaya Administrasi, yaitu total biaya yang terkait dengan operasional bisnis jasa perusahaan.
  11. Laba Operasional: Merupakan selisih antara Laba Kotor dan Total Biaya Operasional, yaitu laba yang diperoleh setelah mempertimbangkan biaya operasional.
  12. Bunga dan Beban Keuangan: Merupakan biaya yang terkait dengan pinjaman atau beban keuangan lainnya.
  13. Beban Pajak: Merupakan jumlah pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan berdasarkan laba bersih sebelum pajak.
  14. Total Biaya Non-Operasional: Merupakan jumlah dari Bunga dan Beban Keuangan dan Beban Pajak, yaitu total biaya yang tidak terkait dengan operasional bisnis jasa perusahaan.
  15. Laba Bersih Sebelum Pajak: Merupakan selisih antara Laba Operasional dan Total Biaya Non-Operasional, yaitu laba yang diperoleh sebelum mempertimbangkan pajak penghasilan.
  16. Pajak Penghasilan: Merupakan jumlah pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan berdasarkan laba bersih sebelum pajak.
  17. Laba Bersih: Merupakan selisih antara Laba Bersih Sebelum Pajak dan Pajak Penghasilan, yaitu laba bersih yang diperoleh oleh perusahaan setelah mempertimbangkan pajak penghasilan.

Baca juga: Contoh Laporan Keuangan Bisnis Retail

2. Laporan neraca

Jika laporan laba rugi menunjukkan kinerja keuangan selama periode waktu tertentu, neraca menunjukkan aset, kewajiban, dan ekuitas perusahaan pada saat tertentu.

Alasan mengapa para pemimpin perusahaan harus melakukan analisis laporan neraca karena neraca menunjukkan kelangsungan hidup perusahaan di masa depan.

Dengan mengevaluasi neraca, Anda dapat memperoleh pemahaman tentang struktur modal perusahaan. Sebagai contoh, neraca akan menunjukkan kas perusahaan dan utang jangka panjang. Neraca juga akan menunjukkan jenis-jenis saham yang telah diterbitkan.

Ada sejumlah rasio keuangan penting yang dihitung dari neraca. Contohnya, rasio utang terhadap ekuitas (D/E) dihitung dengan membagi total kewajiban perusahaan dengan ekuitas pemegang saham.

D/E mengartikulasikan sejauh mana perusahaan mendanai operasinya melalui utang. Rasio lain yang berguna adalah rasio lancar, yang menunjukkan likuiditas jangka pendek perusahaan.

Rasio lancar dihitung dengan membagi aset lancar perusahaan dengan kewajiban lancarnya. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban yang jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan.

Semakin tinggi rasio lancar, semakin kuat kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya. Rasio lancar yang kurang dari 1 kemungkinan besar menunjukkan masalah keuangan yang tertunda.

Baca juga: Mengetahui Tanggung Jawab Manajer Keuangan dan Gajinya

Contoh laporan keuangan: laporan neraca usaha jasa

Laporan neraca usaha jasa
Tahun 2023

ASSET Jumlah
Kas dan Setara Kas Rp 50.000.000
Piutang Usaha Rp 100.000.000
Persediaan Rp 20.000.000
Aset Tetap Rp 500.000.000
Total Aset Rp 670.000.000
LIABILITAS Jumlah
Hutang Usaha Rp 30.000.000
Hutang Jangka Panjang Rp 100.000.000
Modal Pemilik Rp 540.000.000
Total Liabilitas dan Modal Pemilik Rp 670.000.000

Keterangan:

Dalam contoh di atas, aset perusahaan terdiri dari Kas dan Setara Kas sebesar Rp 50.000.000, Piutang Usaha sebesar Rp 100.000.000, Persediaan sebesar Rp 20.000.000, dan Aset Tetap sebesar Rp 500.000.000. Total aset perusahaan adalah Rp 670.000.000.

Sementara itu, liabilitas perusahaan terdiri dari Hutang Usaha sebesar Rp 30.000.000 dan Hutang Jangka Panjang sebesar Rp 100.000.000. Modal Pemilik perusahaan adalah Rp 540.000.000. Total liabilitas dan modal pemilik adalah Rp 670.000.000.

Baca juga: Contoh Laporan Keuangan Bisnis Manufaktur

3. Laporan arus kas

Meskipun laporan laba rugi dan neraca cenderung mendapatkan sebagian besar perhatian, laporan arus kas juga penting untuk dianalisis.

Laporan arus kas melakukan apa yang kedengarannya seperti – laporan ini meringkas kas (dan setara kas) yang masuk dan keluar dari perusahaan. Laporan arus kas menunjukkan seberapa efisien perusahaan menghasilkan uang tunai untuk membayar kewajiban utangnya dan mendanai biaya operasinya.

Laporan arus kas dibagi menjadi tiga bagian berikut:

Arus kas dari operasi:

Bagian ini menunjukkan berapa banyak uang tunai yang dihasilkan dengan memberikan layanan kepada klien. Aktivitas keuangan yang terkait dengan kas, piutang, dan utang akan memengaruhi perhitungan ini.

Arus kas dari investasi:

Bagian ini terutama menangkap transaksi yang terkait dengan pembelian aset atau sekuritas. Biasanya menunjukkan kas yang keluar dari bisnis untuk membeli peralatan baru, bangunan, atau aset jangka pendek seperti surat berharga. Namun, ketika perusahaan menjual aset, bagian ini akan menunjukkan hasil penjualan yang masuk ke dalam bisnis.

Arus kas dari pembiayaan:

Bagian ini menangkap aktivitas pembiayaan seperti menjual saham atau menerbitkan utang (yaitu mengambil pinjaman). Bunga atau dividen yang dibayarkan juga akan tercermin dalam bagian ini.

Melalui analisis laporan arus kas, Anda bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang berapa banyak uang tunai yang dihasilkan perusahaan dan secara akurat menilai kemakmuran keuangan perusahaan.

Baca juga: Contoh Laporan Keuangan Usaha Bengkel

Contoh laporan keuangan: laporan arus kas usaha jasa

Laporan arus kas usaha jasa
Tahun 2023

ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASIONAL Jumlah
Penerimaan Kas dari Pelanggan Rp 500.000.000
Pembayaran Kas untuk Biaya Operasional Rp 300.000.000
Pembayaran Kas untuk Pajak Rp 50.000.000
Kas Bersih yang Dihasilkan dari Aktivitas Operasional Rp 150.000.000
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI Jumlah
Pembayaran Kas untuk Pembelian Aset Tetap Rp 100.000.000
Penerimaan Kas dari Penjualan Aset Tetap Rp 50.000.000
Kas Bersih yang Digunakan dalam Aktivitas Investasi Rp -50.000.000
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN Jumlah
Penerimaan Kas dari Pinjaman Rp 120.000.000
Pembayaran Kas untuk Pelunasan Pinjaman Rp -50.000.000
Kas Bersih yang Diperoleh dari Aktivitas Pendanaan Rp 70.000.000
PERUBAHAN BERSIH DALAM KAS Rp 170.000.000
KAS AWAL Rp 50.000.000
KAS AKHIR Rp 220.000.000

Baca juga: 10 Contoh Laporan Keuangan Usaha Makanan

Keterangan:

  1. Penerimaan Kas dari Pelanggan: Rp 500.000.000
    Nilai ini mencerminkan jumlah kas yang diterima dari pelanggan sebagai pembayaran atas jasa yang telah disediakan oleh perusahaan jasa.
  2. Pembayaran Kas untuk Biaya Operasional: Rp 300.000.000
    Nilai ini mencerminkan jumlah kas yang dikeluarkan untuk membayar biaya operasional perusahaan jasa, seperti gaji karyawan, sewa, utilitas, dan biaya operasional lainnya.
  3. Pembayaran Kas untuk Pajak: Rp 50.000.000
    Nilai ini mencerminkan jumlah kas yang dikeluarkan untuk membayar kewajiban pajak perusahaan jasa, seperti pajak penghasilan atau pajak lainnya yang terkait dengan aktivitas operasional.
  4. Kas Bersih yang Dihasilkan dari Aktivitas Operasional: Rp 150.000.000
    Nilai ini merupakan selisih antara penerimaan kas dari pelanggan dan pembayaran kas untuk biaya operasional dan pajak. Ini mencerminkan arus kas bersih yang dihasilkan dari aktivitas operasional perusahaan jasa.
  5. Pembayaran Kas untuk Pembelian Aset Tetap: Rp 100.000.000
    Nilai ini mencerminkan jumlah kas yang dikeluarkan untuk membeli aset tetap, seperti peralatan atau kendaraan, yang diperlukan dalam operasional perusahaan jasa.
  6. Penerimaan Kas dari Penjualan Aset Tetap: Rp 50.000.000
    Nilai ini mencerminkan jumlah kas yang diterima dari penjualan aset tetap perusahaan jasa, seperti penjualan peralatan atau kendaraan yang tidak lagi diperlukan.
  7. Kas Bersih yang Digunakan dalam Aktivitas Investasi: Rp -50.000.000
    Nilai ini merupakan selisih antara pembayaran kas untuk pembelian aset tetap dan penerimaan kas dari penjualan aset tetap. Nilai negatif menunjukkan bahwa lebih banyak kas digunakan dalam aktivitas investasi daripada yang diterima.
  8. Penerimaan Kas dari Pinjaman: Rp 120.000.000
    Nilai ini mencerminkan jumlah kas yang diterima dari pinjaman yang diperoleh oleh perusahaan jasa sebagai sumber pendanaan.
  9. Pembayaran Kas untuk Pelunasan Pinjaman: Rp -50.000.000
    Nilai ini mencerminkan jumlah kas yang dikeluarkan untuk melunasi pinjaman perusahaan jasa. Nilai negatif menunjukkan bahwa pinjaman tersebut sebagian atau seluruhnya dilunasi.
  10. Kas Bersih yang Diperoleh dari Aktivitas Pendanaan: Rp 70.000.000
    Nilai ini merupakan selisih antara penerimaan kas dari pinjaman dan pembayaran kas untuk pelunasan pinjaman. Nilai ini mencerminkan arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas pendanaan.
  11. Perubahan Bersih dalam Kas: Rp 170.000.000
    Nilai ini mencerminkan total perubahan bersih dalam kas perusahaan jasa selama periode tertentu. Nilai ini dihitung dengan menambahkan kas bersih dari aktivitas operasional, investasi, dan pendanaan.
  12. Kas Awal: Rp 50.000.000
    Nilai ini mencerminkan saldo awal kas perusahaan jasa pada awal periode yang dilaporkan.
  13. Kas Akhir: Rp 220.000.000
    Nilai ini mencerminkan saldo kas perusahaan jasa pada akhir periode yang dilaporkan setelah memperhitungkan perubahan bersih dalam kas.

Baca juga: Cara Menghitung Biaya Tetap Beserta Rumusnya

Perbedaan Laporan Keuangan Usaha Jasa dan Usaha Dagang

laporan keuangan usaha jasa 1

Bisnis jasa dan bisnis yang menjual barang dagangan menggunakan model bisnis yang sangat berbeda.

Bisnis jasa menjual barang tidak berwujud, atau hasil dari tindakan yang dilakukan, sedangkan bisnis dagang membeli dan menjual inventaris fisik. Perbedaan mendasar dalam operasi ini menyebabkan berbagai perbedaan dalam neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas, serta dalam metrik keuangan yang berasal dari keduanya.

Memahami perbedaan yang dapat muncul antara bisnis produk dan jasa dapat membantu Anda mengembangkan laporan keuangan yang konsisten dengan yang lain dalam kategori Anda.

Laporan laba rugi

Pendapatan cenderung serupa pada laporan laba rugi untuk bisnis produk dan jasa, tetapi pengeluaran cenderung berbeda. Perusahaan produk memasukkan harga pokok penjualan sebagai komponen utama biaya laporan laba rugi, sedangkan perusahaan jasa mungkin tidak mencantumkan harga pokok penjualan sama sekali dan biasanya diganti menjadi cost of revenue seperti contoh diatas.

Bisnis jasa cenderung mencantumkan biaya yang jauh lebih tinggi untuk bahan habis pakai yang digunakan untuk menyediakan layanan, termasuk hal-hal seperti cat, paku, film, bahan bakar, atau kertas.

Sebagai bisnis produk, mereka fokus pada pengelolaan harga pokok penjualan untuk meningkatkan profitabilitas dari waktu ke waktu, sambil tetap memperhatikan kualitas barang dan bahan yang masuk.

Sebagai bisnis jasa, mereka pada waste reduction di lini depan untuk meningkatkan laba bersih Anda pada laporan laba rugi.

Baca juga: 12 Contoh Laporan Keuangan Perusahaan dan Penjelasannya

Laporan neraca

Neraca usaha dagang memasukkan persediaan sebagai persentase besar dari kategori aset. Akibatnya, mereka cenderung memiliki lebih sedikit kas di tangan daripada bisnis jasa, karena modal mereka terikat dalam aset yang relatif tidak likuid.

Aset bisnis jasa lebih cenderung tertimbang pada piutang usaha. Bahkan jika piutang bisnis jasa memiliki nilai absolut yang sama dengan bisnis produk, tidak adanya persediaan akan membuat piutang memiliki proporsi yang lebih besar dari aset.

Bagian liabilitas untuk penjual barang dagangan kemungkinan besar akan mencakup proporsi yang lebih besar dari utang usaha kepada pemasok untuk bahan baku atau persediaan barang jadi.

Untuk perusahaan jasa, liabilitas kemungkinan besar akan ditimbang ke arah utang usaha untuk subkontraktor dan penyedia layanan pelengkap lainnya.

Bagian ekuitas pemilik kemungkinan tidak akan terlalu berbeda di antara keduanya. Sebagai bisnis produk, fokuslah untuk menjaga perpaduan yang sehat antara persediaan yang ada dan uang tunai di neraca.

Jika Anda adalah penyedia layanan, perhatikan baik-baik piutang usaha Anda untuk memastikan aset Anda tidak membengkak akibat piutang tak tertagih.

Laporan arus kas

Bagian “investasi” dan “pendanaan” dari laporan arus kas bisa jadi cukup mirip di antara keduanya, tetapi perbedaan komposisi aset menyebabkan perubahan di bagian “operasi”.

Jika bisnis produk mencantumkan kas yang dibayarkan untuk inventaris di bagian ini, bisnis jasa berfokus pada kas yang dibayarkan untuk barang habis pakai dan biaya satu kali yang dikeluarkan sebagai bagian dari memberikan layanan.

Metrik keuangan

Perbedaan dalam susunan laporan keuangan menyebabkan penilaian yang berbeda ketika menganalisis rasio keuangan.

Rasio apa pun yang bergantung pada aset cenderung berbeda secara signifikan antara perusahaan produk dan jasa. Rasio perputaran persediaan, misalnya, bisa jadi tidak relevan dan tidak mungkin dihitung dari laporan keuangan bisnis jasa, karena tidak ada persediaan yang terlibat dalam operasi.

Bisnis jasa cenderung memiliki nilai yang lebih tinggi untuk rasio likuiditas, seperti rasio cepat, lancar, dan kas, karena mereka memiliki lebih sedikit uang tunai yang terikat dalam persediaan.

Hal yang sama berlaku untuk laba atas aset, yang dapat terdilusi oleh stok persediaan yang besar. Sebagai bisnis produk, berikan perhatian khusus pada rasio berbasis persediaan untuk menunjukkan efisiensi operasional.

Sebagai bisnis jasa, fokuslah pada pengendalian biaya melalui desain proses yang efisien dan pengelolaan limbah untuk meningkatkan rasio kinerja operasional.

Baca juga: Download Contoh Surat Permohonan Pembayaran Docs

Kesimpulan

Mengetahui berbagai jenis dan contoh laporan keuangan bagi usaha jasa sangat penting jika Anda adalah seorang pemiliki usaha. Anda perlu ingat, bahwa laporan keuangan usaha jasa berbeda dengan usaha dagang, jadi setiap pos pengeluaran dicatat dengan cara yang berbeda.

Membuat laporan keuangan secara manual tentu memakan waktu dan rentan kesalahan. Sebagai solusi, Anda bisa mencoba menggunakan software akuntansi yang mudah digunakan seperti Kledo.

Kledo adalah software akuntansi berbasis cloud yang sudah digunakan oleh lebih dari 60 ribu pengguna dari berbagai jenis dan skala bisnis di Indonesia.

Dengan menggunakan Kledo, Anda bisa dengan membuat lebih dari 50 jenis laporan keuangan instant, manajemen persediaan dari multi cabang dan gudang, melakukan approval transaksi dan masih banyak lagi.

Jika tertarik, Anda bisa mencoba menggunakan Kledo secara gratis selama 14 hari melalui tautan ini.

sugi priharto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen + 9 =