Salah satu hasil opini audit laporan keuangan adalah ‘tidak memberikan pendapat’ (disclaimer of opinion) yang berarti auditor tidak bisa memperoleh cukup bukti untuk mencapai kesimpulan.
Meski tidak memberikan pendapat, tetapi opini ini bisa jadi lebih berat dampaknya dari opini tidak wajar.
Lalu, apa yang harus dilakukan saat mendapat opini audit tidak wajar?
Artikel ini akan membahas solusi permasalahan tersebut serta memahami cara kerja opini audit tidak memberikan pendapat ini, mengenal jenis opini modifikasi lain, contoh, serta dampaknya.
Apa Itu Opini Audit Tidak Memberikan Pendapat?
Opini tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion) adalah salah satu bentuk opini modifikasi yang diatur dalam Standar Audit (SA) Seri 700, yaitu standar yang dikeluarkan Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI).
Berbeda dengan opini wajar dengan pengecualian (qualified opinion) maupun opini tidak wajar (adverse opinion), opini ini tidak menyampaikan pandangan apa pun mengenai apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar.
Opini ini hanya mencatat bahwa auditor tidak dapat memperoleh bukti yang cukup dan tepat untuk mendukung kesimpulan apa pun.
Di Indonesia, auditor independen yang mengaudit perusahaan yang wajib diaudit (seperti perusahaan terbuka (emiten), perbankan, dan entitas kepentingan publik lainnya_ berkewajiban melaporkan apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar sesuai Standar Akuntansi Keuangan (SAK).
Opini tidak memberikan pendapat ini perlu menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa kondisi yang diperlukan untuk menyusun laporan tersebut tidak terpenuhi.
Opini ini biasanya membuat tata kelola perusahaan dan pengendalian pelaporan keuangan patut dipertanyakan.
Baca Juga: Kenali Berbagai Istilah Audit dalam Laporan Keuangan Berikut Ini
Tiga Jenis Opini Modifikasi

Opini modifikasi adalah pernyataan yang diberikan oleh auditor independen ketika laporan keuangan mengandung kesalahan material atau auditor tidak memperoleh bukti yang cukup.
Ketika auditor tidak dapat memberikan opini wajar tanpa pengecualian, ada tiga jenis opini modifikasi yang bisa diterbitkan:
- Opini wajar dengan pengecualian
- Opini tidak wajar
- Opini tidak memberikan pendapat
Keputusan auditor bergantung pada dua faktor:
- Apakah ada salah saji material dalam laporan keuangan?
- Apakah auditor berhasil mendapatkan bukti audit yang cukup dan tepat?
Selain itu, auditor juga mempertimbangkan sifat ‘pervasif”. Sesuatu dikatakan pervasif apabila dampaknya tidak terbatas pada satu elemen, akun, atau pos tertentu dalam laporan keuangan, atau jika memang terbatas pada satu area, area tersebut merupakan bagian yang sangat signifikan dari keseluruhan laporan.
Berikut 3 opini modifikasi dalam audit:
1. Opini Wajar dengan Pengecualian (Qualified Opinion)
Auditor menemukan salah saji yang material, tetapi dampaknya tidak pervasif, hanya terbatas pada area tertentu.
Atau, auditor tidak bisa mendapatkan bukti yang cukup, tetapi dampak keterbatasan itu juga tidak pervasif.
Artinya, ada masalah tetapi masih terkendali. Laporan keuangan masih bisa dinilai dengan catatan pengecualian.
Contoh situasi di mana opini audit tidak memberikan pendapat adalah ketika auditor tidak dapat memverifikasi nilai persediaan bisnis akurat, karena bukti yang tidak memadai.
Nilai ini tidak pervasif terhadap laporan keuangan secara keseluruhan. Karena itu, opini yang diterbitkan akan berbunyi kurang lebih: “kecuali untuk hal yang berkaitan dengan persediaan sebagaimana diuraikan di atas, laporan keuangan telah menyajikan secara wajar posisi keuangan perusahaan.”
2. Opini Tidak Wajar (Adverse Opinion)
Opini tidak wajar diterbitkan ketika auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan mengandung salah saji yang bersifat material sekaligus pervasif.
Contohnya adalah ketika auditor menemukan bahwa laporan keuangan secara signifikan melebih-lebihkan pendapatan (overstating revenue).
Dalam kondisi ini, auditor dapat menerbitkan opini tidak wajar yang menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas perusahaan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.
3. Opini Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer of Opinion)
Opini tidak memberikan pendapat diterbitkan ketika auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk membentuk opini atas laporan keuangan, dengan dampak yang bersifat material dan pervasif.
Opini ini menandakan bahwa auditor sama sekali tidak dapat menarik kesimpulan, bukan karena menemukan kesalahan, melainkan karena keterbatasan dalam proses audit itu sendiri.
Salah satu contohnya adalah ketika auditor tidak dapat mengakses catatan keuangan utama akibat pembatasan yang diberlakukan oleh manajemen atau organisasi.
Dalam kondisi tersebut, auditor menerbitkan opini tidak memberikan pendapat yang menyatakan bahwa mereka tidak dapat membentuk opini atas laporan keuangan yang diaudit.
Baca Juga: Tahapan dan Prosedur Audit Persediaan yang Harus Anda Ketahui
Cara Kerja Opini Tidak Memberikan Pendapat

Opini tidak memberikan pendapat berbeda dari opini audit lainnya, karena auditor tidak mampu memperoleh bukti yang cukup untuk mencapai kesimpulan apa pun.
Penyebabnya biasanya karena hal-hal praktis seperti:
- Manajemen mungkin membatasi akses ke catatan akuntansi, lokasi usaha, entitas anak, atau karyawan kunci.
- Penjunjukan auditor yang terlambat sehingga tidak dapat memverifikasi saldo awal atau informasi periode sebelumnya.
- Budaya pelaporan yang lemah, sehingga catatan akuntansi itu tidak lengkap baik dari sisi pendapatan, persediaan, liabilitas, maupun penyesuaian konsolidasi.
Pervasivitas adalah titik pembeda antara opini tidak memberikan pendapat dan opini wajar dengan pengecualian.
Jika pembatasan hanya memengaruhi satu area yang material sementara bagian lain dari laporan keuangan masih dapat diaudit, laporan biasanya akan diberi opini wajar dengan pengecualian.
Namun jika bukti yang hilang berpotensi memengaruhi banyak pos, mendistorsi gambaran keseluruhan bisnis, atau menghalangi auditor membangun keyakinan atas laporan keuangan secara fundamental, maka auditor bisa memberi opini tidak memberikan pendapat.
Baca Juga: Pengertian Audit Kepatuhan, Manfaat, dan Cara Melakukannya
Contoh Opini Audit Tidak Memberikan Pendapat
Misalnya, ada sebuah perusahaan manufaktur yang memiliki anak perusahaan di luar negeri. Mereka menolak akses laporan keuangan anak perusahaan tersebut kepada auditor.
Pdahal, entitas anak tersebut menyumbang sekitar 60 persen dari pendapatan konsolidasi.
Tanpa akses ke buku besar, kontrak, hasil penghitungan stok, dan rekonsiliasi antar-perusahaan dalam grup, tim audit tidak dapat menguji pengakuan pendapatan, penilaian persediaan, maupun saldo dalam struktur grup.
Karena pembatasan ini menyentuh laporan laba rugi, neraca, dan proses konsolidasi sekaligus, masalahnya tidak terbatas pada satu pos saja.
Kemungkinan dampaknya bersifat pervasif. Artinya, auditor tidak dapat mendukung kesimpulan apa pun atas laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan.
Dalam kondisi seperti ini, opini tidak memberikan pendapat lebih tepat daripada opini wajar dengan pengecualian, karena bukti yang hilang sangat memengaruhi keandalan laporan keuangan.
Baca Juga: Bukti Audit: Arti, Fungsi, Syarat, Jenis, Contoh, dan Cara Pengumpulannya
Dampak Opini Audit Tidak Memberikan Pendapat

Meskipun opini tidak memberikan pendapat tidak menyatakan bahwa laporan keuangan salah, dampaknya bisa hampir sama beratnya dengan opini tidak wajar.
Berikut kemungkinan dampak opini audit tidak memberikan pendapat:
- Para pemangku kepentingan (stakeholders) tidak memiliki dasar yang dapat diandalkan untuk mengambil keputusan.
- Investor bisa kehilangan kepercayaan terhadap angka yang dilaporkan. Kreditur dan perbankan juga bisa menilai ulang risiko kredit perusahaan.
- Regulator di Indonesia seperti OJK berpotensi memeriksa lebih ketat praktik pengelolaan keuangan perusahaan.
Dalam praktiknya, opini tidak memberikan pendapat hampir tidak pernah muncul tanpa peringatan sebelumnya.
Opini ini biasanya mencerminkan kondisi yang memburuk secara bertahap, seperti:
- Keterlambatan pelaporan keuangan yang berulang
- Arus informasi yang buruk antara manajemen dan auditor
- Sengketa akses yang tidak kunjung diselesaikan
- Kegagalan menindaklanjuti temuan audit dari tahun-tahun sebelumnya
Baca Juga: Audit Pajak: Pengertian, Tujuan, dan Dokumen yang Harus Disiapkan
Apa yang Harus Dilakukan Jika Perusahaan Mendapat Opini Tidak Memberikan Pendapat?
1. Mengidentifikasi akar masalah
Jika Anda adalah manajemen atau jajaran direksi, tanyakan kepada tim internal dan auditor terkait akar masalah.
Apakah pembatasan akses yang menyebabkan ini? Siapa yang memberlakukannya dan mengapa? Apakah catatan akuntansi memang tidak lengkap atau tidak terorganisir? Apakah ada ketidakpastian going concern yang belum diselesaikan?
Dari jawaban tersebut, Anda bisa mengambil langkah selanjutnya.
2. Selesaikan pembatasan akses
Jika penyebabnya adalah pembatasan akses, maka segera selesaikan permasalahan ini dengan memberikan akses penuh sesegera mungkin.
Buat dokumentasi tertulis juga bahwa pembatasan telah dicabut dan koordinasikan dengan auditor untuk menjadwalkan ulang prosedur yang tertunda.
3. Perbaiki catatan akuntansi
Jika masalahnya ada pada catatan akuntansi yang tidak akurat dan tidak lengkap, segera ambil tindakan berikut:
- Lakukan rekonstruksi data akuntansi dengan bantuan akuntan internal atau konsultan eksternal
- Perkuat sistem pengendalian internal (internal control)
- Gunakan software akuntansi yang lebih terstruktur untuk mencegah masalah serupa di masa depan
4. Komunikasikan dengan stakeholder
Jangan biarkan pemangku kepentingan Anda menebak-nebak situasi keuangan usaha Anda. Segera komunikasikan situasi kepada pemegang saham dan kreditur utama secara proaktif.
Jangan lupa untuk menjelaskan langkah konkret yang sedang perusahaan ambil untuk menyelesaikan masalah.
Opini tidak memberikan pendapat hampir selalu didahului oleh tanda-tanda peringatan jauh sebelum laporan diterbitkan, misalnya temuan audit tahun sebelumnya yang tidak ditindaklanjuti, atau komunikasi auditor yang diabaikan.
Jika perusahaan Anda pernah menerima management letter atau finding dari auditor, segera ambil tindakan.
Baca Juga: Apa itu Opini Audit? Berikut Pengertian, Faktor dan 5 Jenisnya
Kesimpulan
Jadi, itulah penjelasan kami mengenai opini audit tidak memberikan pendapat dan contoh serta dampaknya.
Opini tidak memberikan pendapat adalah salah satu tanda serius yang harus Anda perhatikan. Ini bisa menunjukkan adanya kondisi yang tidak memadai untuk membuktikan kebenaran laporan keuangan.
Tapi sebenarnya, sebagian besar kasus opini ini bisa dicegah dengan memastikan bahwa catatan keuangan perusahaan lengkap, terorganisir, dan dapat ditelusuri sejak awal.
Inilah mengapa banyak perusahaan menggunakan sistem akuntansi digital modern.
Kledo adalah software akuntansi berbasis cloud yang membantu bisnis di Indonesia untuk membangun pondasi pembukuan yang solid dan terstruktur.
Dengan Kledo, setiap transaksi tercatat secara otomatis dan sistematis, dan Anda bisa mengunduh laporan keuangan dalam berbagai jenis kapan saja dan dimana saja.
Fitur-fitur ini tidak hanya membantu pengelolaan keuangan bisnis sehari-hari, tapi juga membantu saat mempersiapkan laporan audit.
Coba Kledo gratis dan tingkatkan pengelolaan keuangan Anda mulai dari detik ini.
- Standar Akuntansi Pemerintahan: Pengertian, Tujuan, dan Prinsip - 17 Juni 2026
- Contoh Opini Audit Tidak Memberikan Pendapat dan Dampaknya - 17 Juni 2026
- Kontrak Memberatkan dalam Akuntansi: Ciri dan Pencatatannya - 17 Juni 2026
