Perubahan standar akuntansi dapat memengaruhi cara perusahaan asuransi mengukur kewajiban, mengakui pendapatan, dan menyajikan laporan keuangan.
Salah satu perubahan penting di Indonesia adalah penerapan PSAK 117, yang mengatur akuntansi kontrak asuransi dan menggantikan beberapa standar sebelumnya.
Lantas, apa itu PSAK 117, apa perbedaannya dengan standar lama, dan bagaimana dampaknya terhadap laporan keuangan perusahaan asuransi?
Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Pengertian PSAK 117 dalam Standar Akuntansi Keuangan
PSAK 117 adalah Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan kontrak asuransi dalam laporan keuangan.
Standar ini berlaku untuk semua perusahaan asuransi di Indonesia (kecuali asuransi syariah yang sudah diatur dalam PSAK 408 tentang Akuntansi Transaksi Asuransi Syariah) mulai 1 Januari 2025 kemarin.
PSAK 117 mengatur penyajian informasi keuangan yang lebih transparan, termasuk mengenai kewajiban kepada pemegang polis, profitabilitas kontrak, dan risiko yang dihadapi perusahaan.
Sebelumnya, PSAK 117 dikenal sebagai PSAK 74 dan menggantikan PSAK 104, PSAK 328, serta PSAK 336.
PSAK 117 merupakan standar yang mengadopsi prinsip IFRS 17 (Insurance Contracts), yaitu standar internasional yang diterbitkan oleh International Accounting Standards Board (IASB).
IFRS 17 menjadi acuan dalam penyusunan PSAK 117 agar pelaporan keuangan perusahaan asuransi di Indonesia lebih selaras dengan praktik akuntansi internasional.
Baca Juga: Jurnal Pencatatan Premi Asuransi di Akuntansi: Ini Contohnya
Apa Tujuan Penerapan PSAK 117?
PSAK 117 bertujuan untuk membuat laporan keuangan semakin transparan, menyeragamkan pengakuan pendapatan, membuat laporan keuangan antar perusahaan mudah dibandingkan, dan memberi informasi yang lebih relevan pada pengguna laporan keuangan.
1. Meningkatkan Transparansi Laporan Keuangan
PSAK 117 membuat laporan keuangan semakin transparan transparansi dengan mewajibkan pengungkapan nilai kontrak asuransi, perubahan estimasi, risiko, dan keuntungan yang belum diakui dengan lebih detail.
Dengan informasi yang lengkap, pengguna laporan keuangan bisa memahami kinerja perusahaan asuransi dengan lebih baik juga.
2. Menyeragamkan Pengakuan Pendapatan Kontrak Asuransi
PSAK 117 menetapkan pendekatan pengakuan pendapatan asuransi yang lebih konsisten dengan jasa perlindungan yang diberikan selama periode pertanggungan.
Pengakuan pendapatan mengikuti ketentuan pengukuran dan pengakuan dalam standar. Pendekatan ini membantu menggambarkan kinerja kontrak asuransi secara lebih tepat dari waktu ke waktu.
3. Meningkatkan Keterbandingan Laporan Keuangan Antarperusahaan
PSAK 117 membantu meningkatkan keterbandingan laporan keuangan antarperusahaan asuransi maupun dengan perusahaan jasa keuangan lainnya.
Sebelum standar ini diterapkan, perbedaan kebijakan akuntansi menyulitkan pengguna laporan keuangan dalam membandingkan kinerja dan posisi keuangan perusahaan. Standar yang lebih seragam membantu mengurangi perbedaan tersebut.
4. Memberikan Informasi yang Lebih Relevan kepada Investor dan Pemangku Kepentingan
PSAK 117 membantu investor, pemegang polis, dan regulator menilai kinerja, risiko, serta kemampuan perusahaan asuransi dalam memenuhi kewajibannya.
Informasi yang lebih terperinci juga mendukung pengambilan keputusan investasi dan pengawasan industri.
Bagi manajemen, penerapan standar ini dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi profitabilitas produk, mengelola risiko, dan merencanakan kebutuhan modal.
Baca Juga: Pengertian PSAK dalam Standar Akuntansi Keuangan Indonesia
Apa Saja Perubahan Utama dalam PSAK 117?

PSAK 117 mengubah cara mengakui laba dalam perusahaan asuransi yang awalnya berbasis premi yang diterima menjadi berbasis jasa asuransi yang sudah diberikan.
Standar ini mengadopsi IFRS 17 dan berlaku efektif sejak 1 Januari 2025. Lima perubahan di bawah ini mengikuti prinsip tersebut.
1. Perubahan Pengakuan Pendapatan Asuransi
Pendapatan asuransi kini diakui seiring jasa yang diberikan selama periode pertanggungan, bukan saat premi diterima.
Komponen investasi (jumlah yang tetap dibayarkan ke pemegang polis, apa pun kejadiannya) dikeluarkan dari pendapatan.
Hasilnya, pendapatan lebih mencerminkan kinerja operasional asuransi yang sebenarnya.
2. Perubahan Pengukuran Kewajiban Kontrak Asuransi
Kewajiban kini diukur dengan estimasi terbaru dan tidak lagi memakai asumsi saat kontrak diterbitkan.
Estimasi ini mencakup nilai kini arus kas masa depan, penyesuaian risiko nonkeuangan (risk adjustment), dan CSM.
Asumsi diperbarui setiap periode pelaporan, sehingga kewajiban lebih sensitif terhadap kondisi sebenarnya. Jika kontrak diperkirakan merugi (onerous), kerugiannya diakui langsung sejak awal.
3. Penerapan Contractual Service Margin (CSM)
CSM adalah laba yang belum diperoleh dari sekelompok kontrak asuransi. Pada pengakuan awal, CSM menunda laba agar tidak muncul di hari pertama.
Besarnya disesuaikan ketika estimasi arus kas terkait jasa masa depan berubah. CSM kemudian dilepas ke laba rugi sepanjang periode pertanggungan.
4. Pengakuan Laba Berdasarkan Jasa Asuransi yang Diberikan
Laba diakui bertahap melalui pelepasan CSM dan pelepasan risk adjustment. Laba tidak lagi muncul sekaligus di awal.
Pola ini membuat laba asuransi lebih stabil dan lebih mudah dibandingkan antarperusahaan.
5. Perubahan Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan
Laporan laba rugi memisahkan hasil jasa asuransi (pendapatan dikurangi beban jasa asuransi) dari pendapatan atau beban keuangan asuransi.
Pengungkapan diperluas, antara lain rekonsiliasi saldo kontrak, pergerakan CSM, dan asumsi serta tingkat risiko yang digunakan. Perubahan ini meningkatkan transparansi bagi investor, regulator, dan auditor.
Baca Juga: Pengertian Deferred Acquisition Cost dalam Akuntansi Asuransi
Apa Saja Model Pengukuran Nilai Kontrak Asuransi dalam PSAK 117?

PSAK 117 menyediakan tiga model untuk menghitung nilai kewajiban kontrak asuransi yang dicatat di laporan keuangan: GMM, PAA, dan VFA.
Kewajiban ini adalah janji perusahaan asuransi kepada nasabah, seperti membayar klaim dan memberikan perlindungan selama kontrak berjalan.
GMM adalah model dasar, sedangkan PAA dan VFA adalah model yang hanya boleh dipakai jika kontrak memenuhi syarat tertentu.
1. General Measurement Model (GMM)
GMM adalah model pengukuran standar dan dipakai untuk kontrak yang tidak memenuhi syarat PAA maupun VFA.
Perusahaan menghitung kewajiban dari tiga bagian:
- Perkiraan uang yang akan masuk dan keluar selama kontrak (dihitung nilainya saat ini)
- Tambahan cadangan untuk risiko ketidakpastian
- Laba yang belum boleh diakui.
Model ini umumnya dipakai untuk kontrak jangka panjang, seperti asuransi jiwa 20 tahun.
2. Premium Allocation Approach (PAA)
PAA adalah versi lebih sederhana untuk kontrak jangka pendek. Model ini boleh dipakai jika masa pertanggungan maksimal satu tahun, atau jika hasilnya tidak berbeda jauh dari GMM.
Perhitungannya berbasis premi: premi yang diterima dikurangi bagian yang sudah diakui seiring waktu berjalan. Contohnya asuransi kendaraan atau asuransi properti yang berlaku satu tahun.
3. Variable Fee Approach (VFA)
VFA dipakai untuk kontrak yang imbal hasilnya ke nasabah ikut naik turun mengikuti nilai investasi.
Cara hitungnya mirip GMM, tetapi perubahan bagian perusahaan atas hasil investasi tersebut disesuaikan ke CSM.
Contohnya produk asuransi jiwa terkait investasi (unit-linked), karena manfaat yang diterima nasabah bergantung pada kinerja dana investasinya.
4. Perbedaan Penggunaan GMM, PAA, dan VFA
Perusahaan tidak bebas memilih model karena pemilihannya sudah diatur standar.
Kontrak yang memenuhi kriteria VFA wajib memakai VFA. PAA hanya boleh dipakai jika syarat kelayakannya terpenuhi. Kontrak lainnya memakai GMM.
Berikut tabel perbedaan penggunaan GMM, PAA, dan VFA:
| Aspek | GMM | PAA | VFA |
|---|---|---|---|
| Karakteristik kontrak | Kontrak umum, terutama jangka panjang | Kontrak jangka pendek | Kontrak dengan partisipasi langsung pada aset yang mendasari |
| Kriteria penerapan | Default, jika PAA dan VFA tidak memenuhi syarat | Periode pertanggungan ≤ 1 tahun, atau hasil tidak berbeda material dari GMM | Memenuhi kriteria kontrak partisipasi langsung |
| Metode pengukuran | Arus kas masa depan + risk adjustment + CSM | Disederhanakan berbasis premi untuk sisa pertanggungan | GMM, dengan CSM disesuaikan atas perubahan bagian perusahaan pada imbal hasil aset |
| Contoh umum | Asuransi jiwa tradisional | Asuransi kendaraan, properti | Unit-linked |
Baca Juga: Kontrak Memberatkan dalam Akuntansi: Ciri dan Pencatatannya
Apa Perbedaan PSAK 117 dan PSAK 104?
PSAK 117 menggantikan PSAK 104 (sebelumnya PSAK 62) sebagai standar akuntansi kontrak asuransi.
Standar baru ini memperbarui metode pengukuran, pengakuan pendapatan, penyajian, dan pengungkapan informasi keuangan perusahaan asuransi.
| Aspek | PSAK 104 | PSAK 117 |
|---|---|---|
| Dasar pengukuran | Mengikuti ketentuan standar sebelumnya. | Mempertimbangkan estimasi arus kas, penyesuaian risiko, dan CSM. |
| Pengakuan pendapatan dan laba | Mengikuti pendekatan pengakuan dalam standar sebelumnya. | Pendapatan mencerminkan jasa asuransi yang diberikan; keuntungan diakui melalui CSM selama jasa diberikan. |
| Penyajian laporan keuangan | Belum menerapkan pemisahan hasil jasa asuransi secara menyeluruh seperti standar baru. | Memisahkan hasil jasa asuransi dari pendapatan atau beban keuangan asuransi. |
| Pengungkapan | Mengikuti persyaratan standar sebelumnya. | Mengungkapkan perubahan saldo kontrak, keuntungan masa depan, dan risiko secara lebih terperinci. |
Baca Juga: Syarat Laporan Keuangan Sesuai Standar Akuntansi
Bagaimana Contoh Penerapan PSAK 117 dalam Perusahaan Asuransi?

Kami akan membantu Anda memahami penerapan PSAK 117 melalui ilustrasi kontrak asuransi berikut:
Contoh Pengakuan Pendapatan dari Kontrak Asuransi
Misalnya, perusahaan asuransi menerbitkan kontrak perlindungan selama dua tahun dengan total premi Rp120 juta.
Perusahaan memberikan jasa perlindungan sepanjang periode kontrak, sehingga pendapatan asuransi diakui sesuai jasa yang diberikan dan ketentuan pengukuran PSAK 117.
Namun, pendapatan asuransi aktual tidak otomatis sama dengan premi yang diterima atau dibagi rata per tahun.
Perhitungannya mengikuti ketentuan PSAK 117, termasuk pengukuran jasa yang diberikan dan pengecualian komponen investasi jika ada.
Contoh Perhitungan Contractual Service Margin (CSM)
CSM adalah keuntungan kontrak asuransi yang belum diperoleh dan diakui secara bertahap selama perusahaan memberikan jasa asuransi.
Berikut ilustrasi sederhana untuk kontrak dengan nilai premi Rp120 juta.
| Komponen pengukuran awal | Nilai simulasi |
|---|---|
| Total premi kontrak | Rp120 juta |
| Estimasi nilai kini klaim dan biaya | Rp90 juta |
| Penyesuaian risiko nonkeuangan | Rp10 juta |
| Estimasi keuntungan kontrak (CSM) | Rp20 juta |
Dalam ilustrasi ini, CSM sebesar Rp20 juta berasal dari selisih premi Rp120 juta dengan estimasi klaim dan biaya Rp90 juta serta penyesuaian risiko Rp10 juta.
Perhitungan tersebut mengasumsikan tidak ada komponen lain yang memengaruhi pengukuran dan tidak ada kerugian awal.
Contoh Pengukuran Kewajiban Kontrak Asuransi
PSAK 117 mengharuskan perusahaan mengukur kontrak asuransi dengan mempertimbangkan estimasi arus kas masa depan, nilai waktu uang jika relevan, penyesuaian risiko nonkeuangan, dan CSM.
Karena itu, nilai kewajiban kontrak dapat berubah ketika estimasi klaim, biaya, atau risiko mengalami perubahan.
Misalnya, perusahaan memperkirakan klaim dan biaya sebesar Rp90 juta dalam nilai kini, dengan penyesuaian risiko Rp10 juta.
Jika estimasi klaim meningkat menjadi Rp100 juta sementara faktor lainnya tetap, perusahaan perlu menilai kembali pengukuran kontrak dan dampaknya terhadap CSM atau laba rugi sesuai ketentuan standar.
Perubahan tersebut tidak selalu langsung menjadi kerugian periode berjalan karena perlakuannya bergantung pada sumber perubahan dan kondisi kontrak.
Contoh Penyajian Dampak PSAK 117 dalam Laporan Keuangan
Penerapan PSAK 117 memengaruhi cara perusahaan asuransi menyajikan pendapatan, beban, serta aset dan liabilitas kontrak asuransi.
Misalnya, ketika perusahaan memberikan jasa perlindungan selama tahun berjalan, sebagian keuntungan kontrak dapat diakui melalui pelepasan CSM.
Sementara itu, sisa CSM tetap mencerminkan keuntungan yang belum diperoleh dari jasa masa depan.
Dalam laporan keuangan, perusahaan menyajikan hasil jasa asuransi secara terpisah dari pendapatan atau beban keuangan asuransi.
Perusahaan juga mengungkapkan perubahan saldo kontrak dan informasi risiko yang relevan.
Baca Juga: Mengetahui PSAK 201 Tentang Penyajian Laporan Keuangan
Apa Dampak PSAK 117 bagi Perusahaan Asuransi?
PSAK 117 memengaruhi pelaporan keuangan, pengukuran kewajiban, dan proses operasional perusahaan asuransi.
Standar ini juga menuntut integrasi data yang lebih baik antara fungsi akuntansi, aktuaria, dan teknologi informasi.
1. Dampak terhadap Laporan Laba Rugi
PSAK 117 mengubah pola pengakuan pendapatan dan laba perusahaan asuransi.
Pendapatan diakui berdasarkan jasa asuransi yang diberikan, sedangkan keuntungan kontrak yang belum diperoleh diakui secara bertahap melalui Contractual Service Margin (CSM). Akibatnya, pola laba dapat berbeda dibandingkan periode sebelumnya.
2. Dampak terhadap Neraca dan Kewajiban Asuransi
PSAK 117 mengubah cara perusahaan mengukur dan menyajikan kewajiban kontrak asuransi dengan mempertimbangkan estimasi arus kas masa depan, nilai waktu uang, dan penyesuaian risiko.
Perubahan metode pengukuran ini dapat memengaruhi saldo liabilitas dan ekuitas saat transisi, dengan besaran dampak yang berbeda pada setiap perusahaan.
3. Dampak terhadap Sistem Akuntansi dan Pengelolaan Data
Perusahaan perlu menyesuaikan sistem akuntansi agar dapat mengolah data kontrak, klaim, biaya, dan estimasi aktuaria sesuai PSAK 117.
Integrasi data historis yang akurat juga penting untuk mendukung perhitungan CSM, pengukuran kewajiban, dan penyusunan laporan keuangan.
4. Dampak terhadap Audit dan Pengendalian Internal
Penerapan PSAK 117 menuntut pengendalian internal yang lebih kuat atas kualitas data, asumsi aktuaria, dan proses pengukuran kontrak.
Auditor juga perlu mengevaluasi kewajaran estimasi serta konsistensi penerapan kebijakan akuntansi agar laporan keuangan disajikan sesuai standar.
Baca Juga: Audit Perusahaan: Pengertian, Jenis, Tahapan, dan Contohnya
Kesimpulan
PSAK 117 membawa perubahan penting dalam akuntansi kontrak asuransi, mulai dari pengukuran kewajiban, pengakuan pendapatan, hingga penyajian laporan keuangan.
Penerapannya menuntut perusahaan asuransi memiliki data yang akurat, sistem pencatatan yang terstruktur, dan pengendalian internal yang memadai agar laporan keuangan sesuai dengan standar yang berlaku.
Untuk mendukung pengelolaan keuangan yang lebih tertata, perusahaan dapat menggunakan software akuntansi seperti Kledo.
Kledo membantu bisnis mencatat transaksi keuangan dan menyusun laporan keuangan secara lebih praktis.
Dengan pencatatan yang teratur, Anda bisa lebih mudah memantau kondisi keuangan dan mendukung proses pelaporan di perusahaan Anda.
Coba Kledo sekarang juga untuk pengelolaan keuangan yang lebih baik.
- Apa Perbedaan RFI, RFQ, dan RFP dalam Procurement? - 29 Oktober 2026
- COSO ERM: Komponen, Manfaat, dan Cara Penerapannya - 29 Oktober 2026
- PSAK 117: Penerapan dan Dampaknya bagi Perusahaan Asuransi - 29 Oktober 2026
