Net Revenue Retention: Cara Menghitung dan Meningkatkannya

net revenue retention banner

Net Revenue Retention (NRR) adalah indikator yang menunjukkan berapa pendapatan berulang yang bisnis Anda dapatkan dari pelanggan sekarang.

NRR adalah metrik yang sangat penting bagi bisnis yang bergerak di bidang subscription atau software-as-a-service (SaaS).

Ini karena NRR mengukur kemampuan bisnis mempertahankan dan mengembangkan pendapatan dari pelanggan lama melalui upsell dan cross-sell. Jika NRR-nya bagus (di atas 100%), berarti perusahaan berhasil memperoleh pendapatan secara organik.

Pada artikel ini, Anda akan mempelajari cara menghitung Net Revenue Retention, cara meningkatkannya, dan berapa NRR yang bagus untuk perusahaan.

Apa Itu Net Revenue Retention (NRR)?

Net revenue retention (NRR) adalah indikator yang mengukur kemampuan perusahaan dalam mempertahankan pendapatan dari pelanggan yang sudah ada dalam periode waktu tertentu.

NRR menghitung pendapatan dari upgrade dan add-on, serta dikurangi pembatalan penggunaan layanan atau downgrade.

Jadi, jelas bahwa metrik ini hanya fokus pada pelanggan lama, tanpa menghitung pelanggan baru.

Para investor dan eksekutif perusahaan memantau NRR karena metrik ini menunjukkan efisiensi modal perusahaan, pertumbuhan, dan kesesuaian produk dengan pasar.

kledo banner 1

Baca Juga: 10 Metrik Untuk Mengukur Efisiensi Keuangan Bisnis & Rumusnya

Bagaimana Cara Menghitung Net Revenue Retention?

Rumus NRR:

NRR = (MRRawal+MRRekspansiMRRkontraksiMRRchurn)MRRawalx100%\frac {(MRR awal + MRR ekspansi – MRR kontraksi – MRR churn)} {MRR awal} x 100\%

Keterangan variabel:

  • MRR awal: Pendapatan berulang bulanan di awal periode.
  • MRR ekspansi: Pendapatan tambahan dari upsell atau cross-sell.
  • MRR kontraksi: Penurunan pendapatan akibat pelanggan menurunkan paket langganan.
  • MRR Churn: Pendapatan yang hilang karena pelanggan berhenti berlangganan.

Contoh:

Perusahaan X memiliki pendapatan berulang sebesar Rp 100.000.000 dari pelanggan yang sudah ada di awal bulan Januari.

Selama bulan tersebut, perusahaan kehilangan Rp 5.000.000 MRR akibat churn pelanggan, kehilangan Rp 2.000.000 MRR akibat downgrade, dan mendapatkan tambahan Rp 8.000.000 dari upgrade (upsell, cross-sell, dan ekspansi).

NRR untuk bulan Januari dapat dihitung sebagai berikut:

NRR = (Rp100.000.000+Rp8.000.000Rp5.000.000Rp2.000.000)Rp100.000.000x100%\frac {(Rp100.000.000 + Rp8.000.000 – Rp5.000.000 – Rp2.000.000)} {Rp100.000.000} x 100\%

NRR = 101%

Anda bisa menghitung NRR secara bulanan, kuartalan, atau tahunan, tergantung pada model bisnis perusahaan dan insight apa yang paling penting.

Misalnya, bisnis dapat menghitung NRR untuk pasar tertentu, segmen pelanggan, kampanye, atau musim tertentu.

Baca Juga: Panduan Melacak dan Meningkatkan Efisiensi Keuangan Bisnis

Apa Perbedaan Net Revenue Retention vs Gross Revenue Retention?

net revenue retention 1

NRR dan GRR (gross revenue retention) sama-sama merupakan metrik yang mengukur pertumbuhan pendapatan perusahaan dari waktu ke waktu dan memberikan gambaran tentang seberapa efektif strategi retensi yang dijalankan.

Tapi, keduanya sangat berbeda:

  • NRR: Mengukur total perubahan recurring revenue dari pelanggan yang sudah ada, termasuk ekspansi dan kontraksi.
  • GRR: Mengukur seberapa baik perusahaan mempertahankan pendapatan awalnya, tidak termasuk semua ekspansi.

Kapan menggunakan GRR?

Gunakan GRR untuk mengukur kesehatan dasar produk dan kepuasan pelanggan. Karena nilainya tidak bisa melebihi 100%, GRR berfungsi sebagai batas atas performa.

GRR dihitung dengan mengambil total pendapatan yang dihasilkan pada akhir periode tertentu dan membaginya dengan pendapatan dari pelanggan yang sama di awal periode.

Rumus GRR adalah:

(Recurring revenue awalMRR hilang dari churnMRR hilang dari downgrade)Recurring revenue awal×100\frac{(\text{Recurring revenue awal} – \text{MRR hilang dari churn} – \text{MRR hilang dari downgrade})} {\text{Recurring revenue awal}} \times 100

Kapan menggunakan NRR?

Gunakan NRR untuk mengukur pertumbuhan total dan kemampuan ekspansi tim penjualan.

NRR adalah formula yang lebih lengkap karena menunjukkan potensi pertumbuhan majemuk dari bisnis yang sudah berjalan.

NRR di atas 100% berarti sebuah bisnis dapat tumbuh secara signifikan bahkan tanpa mendapatkan satu pun pelanggan baru. Hal ini membuktikan bahwa produk semakin bernilai bagi pelanggan dari waktu ke waktu.

MetrikNRRGRR
Termasuk ekspansi
Termasuk churn
Termasuk downgrades
Bisa melebihi 100%
Tujuan utamaPertumbuhanRetensi
Tabel perbedaan NRR dan GRR

Baca Juga: Revenue Growth: Pengertian, Metrik, Rumus, dan Cara Meningkatkannya

Berapa Net Revenue Retention yang Bagus untuk Perusahaan?

net revenue retention 2

Umumnya, NRR di atas 100% menunjukkan bahwa perusahaan memiliki tingkat retensi pelanggan yang baik sekaligus mampu meningkatkan pendapatan dari pelanggan yang sudah ada.

Tapi, angka idealnya bisa berbeda-beda tergantung pada industri dan tahap pertumbuhan bisnis.

Berikut penjelasannya:

Net Revenue Retention di Bawah 80%

NRR di bawah 80% umumnya dianggap rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan mungkin mengalami kesulitan mempertahankan pelanggan.

Dalam situasi ini, perusahaan perlu memprioritaskan strategi peningkatan retensi pelanggan, seperti meningkatkan kualitas layanan, memperbaiki pengalaman pengguna, atau menawarkan program loyalitas yang lebih menarik.

Catatan: Tidak semua bisnis dengan NRR di bawah 100% berada dalam kondisi yang buruk. Pada perusahaan yang sedang berada dalam fase pertumbuhan sangat cepat, peningkatan jumlah pelanggan baru biasanya lebih besar daripada jumlah pelanggan yang hilang.

Akibatnya, total pendapatan perusahaan tetap meningkat meskipun NRR belum mencapai 100%.

Net Revenue Retention 80–100%

NRR pada kisaran 80–100% menandakan bahwa perusahaan masih mampu mempertahankan sebagian besar pelanggannya.

Namun, peluang untuk meningkatkan pendapatan dari pelanggan yang sudah ada belum dimanfaatkan secara optimal.

Jika NRR berada pada rentang ini, perusahaan sebaiknya mengevaluasi metrik lain seperti:

  • Churn rate, untuk mengetahui apakah banyak pelanggan yang berhenti berlangganan.
  • Customer Lifetime Value (CLV), untuk melihat apakah nilai pelanggan sudah dimaksimalkan.

Analisis tersebut dapat membantu menentukan apakah NRR yang belum optimal disebabkan oleh tingginya kehilangan pelanggan atau kurang efektifnya strategi upselling dan cross-selling.

Net Revenue Retention di Atas 100%

NRR di atas 100% menunjukkan bahwa bisnis berhasil mempertahankan sebagian besar, atau bahkan seluruh, pelanggan yang sudah ada.

Selain itu, perusahaan juga mampu meningkatkan pendapatan melalui strategi seperti upselling, cross-selling, atau perluasan penggunaan layanan (expansion revenue).

Dengan kata lain, tambahan pendapatan dari pelanggan lama lebih besar daripada pendapatan yang hilang akibat churn atau penurunan penggunaan layanan.

Namun, ada kasus di mana perusahaan memiliki NRR 100% atau lebih meskipun tidak berhasil mempertahankan seluruh pelanggan yang dimilikinya.

Penyebab kondisi ini antara lain:

1. Kenaikan harga

Jika perusahaan menaikkan harga produk atau layanannya, pendapatan dari pelanggan yang tetap bertahan bisa meningkat meskipun sebagian pelanggan memutuskan berhenti berlangganan.

Misalnya, sebuah perusahaan memiliki 10 pelanggan yang masing-masing membayar Rp1.500.000 per bulan.

Perusahaan menaikkan harga menjadi Rp1.800.000 per bulan dan kehilangan satu pelanggan.

Meskipun kehilangan pelanggan, pendapatan dari 9 pelanggan yang tersisa masih lebih tinggi dibandingkan sebelumnya sehingga NRR meningkat.

2. Berhasil melakukan upselling

Strategi upselling juga bisa meningkatkan NRR meskipun perusahaan kehilangan beberapa pelanggan.

Misalnya, perusahaan memiliki 10 pelanggan yang menggunakan paket dasar seharga Rp1.500.000 per bulan.

5 pelanggan kemudian berhasil ditingkatkan ke paket premium seharga Rp3.000.000 per bulan.

Walaupun 4 pelanggan lainnya berhenti berlangganan, peningkatan pendapatan dari pelanggan premium tetap mampu menghasilkan NRR yang lebih tinggi.

3. Mendapatkan pelanggan baru dengan potensi pendapatan lebih besar

Perusahaan juga dapat meningkatkan NRR apabila pelanggan yang diperoleh memiliki nilai transaksi jauh lebih tinggi daripada pelanggan yang hilang.

Sebagai contoh, perusahaan kehilangan 5 pelanggan yang masing-masing membayar Rp1.500.000 per bulan.

Namun, perusahaan memperoleh 2 pelanggan baru yang masing-masing menghasilkan pendapatan Rp7.500.000 per bulan. Walaupun jumlah pelanggan berkurang, total pendapatan meningkat sehingga NRR tetap mengalami kenaikan.

Baca Juga: Quality of Earnings (QoE) Ratio: Cara Hitung dan Kalkulatornya

Cara Meningkatkan Net Revenue Retention (NRR)

net revenue retention 3

Ada 3 area utama yang perlu menjadi fokus perusahaan untuk meningkatkan NRR, yaitu mengurangi churn, mengurangi downgrade, serta meningkatkan upselling dan cross-selling.

1. Menurunkan churn rate

Anda perlu menganalisis mengapa pelanggan berhenti berlangganan. Dalam bisnis SaaS, penyebabnya biasanya karena layanan pelanggan atau pengalaman pengguna yang kurang memuaskan.

Tapi, ada juga penyebab lain seperti produk belum menyediakan fitur yang dibutuhkan, atau berhenti semata-mata karena gagal melakukan pembayaran.

Jadi, cari tahu dulu penyebabnya dan perbaiki masalah yang paling mudah diselesaikan. Selanjutnya, barulah fokus pada perbaikan yang bisa memberikan dampak terbesar.

2. Mengurangi downgrade

Pelanggan yang melakukan downgrade paket masih lebih baik daripada pelanggan yang sepenuhnya berhenti menggunakan layanan (churn).

Sebagian besar strategi yang efektif mengurangi churn juga akan membantu menekan angka downgrade. Namun, Anda tetap perlu memahami alasan utama pelanggan menurunkan paket langganannya.

Beberapa penyebab umum downgrade antara lain:

  • Pelanggan memilih paket yang tidak sesuai dengan kebutuhannya sejak awal.
  • Pelanggan melakukan upgrade terlalu cepat sehingga merasa paket tersebut tidak lagi memberikan nilai yang sepadan.
  • Kebutuhan bisnis pelanggan berubah seiring waktu.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, perusahaan dapat menerapkan berbagai strategi berikut:

  • Membantu pelanggan memilih paket yang paling sesuai dengan kebutuhannya.
  • Menawarkan struktur harga yang lebih fleksibel.
  • Memperjelas value proposition dari setiap paket layanan.
  • Mendesain ulang paket langganan agar mendorong tingkat perpanjangan (renewal) yang lebih tinggi.
  • Menentukan waktu yang lebih tepat untuk menawarkan upselling maupun cross-selling.

3. Meningkatkan upselling dan cross-selling

Salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan NRR adalah memaksimalkan pendapatan dari pelanggan yang sudah ada melalui strategi upselling dan cross-selling.

Caranya adalah memahami manfaat utama yang paling dihargai oleh setiap segmen pelanggan.

Setelah itu, perusahaan dapat merancang strategi harga dan paket layanan yang mendorong pelanggan meningkatkan penggunaan produk secara bertahap.

Baca Juga: Apa itu Cross Selling dan Upselling? Berikut Pengertian dan Strateginya

Beberapa Contoh Perusahaan dengan Net Revenue Retention Tinggi

Berikut ini adalah beberapa contoh perusahaan yang berhasil mencapai angka NRR yang tinggi:

1. Snowflake

Menurut Forbes, Snowflake pernah mencatatkan NRR 158%, angka yang tergolong luar biasa bahkan untuk standar industri teknologi.

Snowflake adalah perusahaan teknologi yang menyediakan platform data berbasis cloud.

Kunci keberhasilan Snowflake adalah model consumption-based pricing, di mana pelanggan membayar berdasarkan seberapa banyak data yang mereka proses.

Artinya, semakin berkembang bisnis pelanggan Snowflake dan semakin banyak data yang mereka kelola, semakin besar pula pemasukan mereka.

Model ini menciptakan ekspansi pendapatan yang terjadi secara organik tanpa perlu intervensi tim sales secara aktif.

Selain itu, Snowflake membangun ekosistem data sharing yang mendorong pelanggan untuk menggunakan lebih banyak fitur dari waktu ke waktu.

2. Datadog

Datadog, platform monitoring dan observabilitas untuk infrastruktur cloud, juga dikenal memiliki NRR yang secara konsisten berada di atas 120–130% selama beberapa tahun terakhir.

Model Datadog yang mendorong NRR tinggi mirip dengan Snowflake, yaitu pembayaran berbasis konsumsi.

Pelanggan biasanya mulai menggunakan satu produk Datadog, misalnya infrastructure monitoring lalu mereka cenderung mengadopsi produk lain seperti APM (Application Performance Monitoring), log management, atau security monitoring.

Strategi land and expand ini sangat efektif karena setiap produk baru yang diadopsi meningkatkan nilai kontrak tanpa perlu akuisisi pelanggan baru.

3. CrowdStrike

CrowdStrike adalah perusahaan yang bergerak di bidang cybersecurity berbasis cloud. Perusahaan ini secara konsisten melaporkan NRR di atas 110%, dan bahkan pernah mencapai puncak tertingginya sebesar 125% di Q1 tahun 2024.

Angka ini menunjukkan bahwa CrowdStrike sukses dalam strategi upselling, cross-selling, dan konsolidasi platformnya.

NRR di atas 100% menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan dari basis pelanggan yang ada melampaui pendapatan yang hilang akibat pelanggan yang berhenti berlangganan


Apa yang bisa dipelajari dari perusahaan-perusahaan ini?

Perusahaan-perusahaan dengan NRR tinggi ini menunjukkan pola yang sama:

  • Model berbasis konsumsi atau penggunaan mendorong ekspansi otomatis seiring pertumbuhan pelanggan
  • Strategi land and expand: masuk dengan satu produk, lalu perlahan memperluas ke produk lain
  • Switching cost yang tinggi membuat pelanggan enggan berpindah
  • Tim customer success yang proaktif memastikan pelanggan mendapatkan nilai maksimal dari produk

Baca Juga: Cost of Revenue Adalah: Komponen dan Contohnya

Kesimpulan

Net Revenue Retention (NRR) menunjukkan kemampuan bisnis mempertahankan dan meningkatkan pendapatan dari pelanggan yang sudah ada. Metrik ini membantu perusahaan menilai efektivitas strategi retensi, upselling, dan pengembangan pelanggan.

Agar perhitungan NRR akurat, perusahaan membutuhkan data pendapatan yang konsisten dan mudah dipantau.

Software akuntansi Kledo bisa menyediakan data ini dan membantu mencatat transaksi, memantau pendapatan berulang, serta membuat laporan keuangan secara otomatis.

Dengan laporan keuangan yang rapi dan data yang selalu diperbarui, Anda dapat mengidentifikasi tren pertumbuhan pendapatan, mengevaluasi dampak churn maupun ekspansi pelanggan, serta mengambil keputusan bisnis berdasarkan data yang lebih akurat.

Coba Kledo gratis untuk solusi keuangan bisnis yang lebih baik.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

sixteen − two =