Bisnis Anda hendak tutup buku, dan Anda sudah menghitung laba serta menyusun laporan keuangan. Tapi, apakah proses akuntansi berhenti sampai di sana?
Belum. Ada satu tahap penting yang perlu Anda lakukan sebelum memasuki periode akuntansi berikutnya, yaitu membuat jurnal penutup.
Jurnal ini memastikan saldo akun pendapatan, beban, dan akun sementara lainnya kembali menjadi nol sehingga pencatatan periode baru tidak tercampur dengan periode sebelumnya.
Lalu, bagaimana cara membuat jurnal penutup yang benar dan apa bedanya dengan jurnal umum serta jurnal pembalik?
Apa Itu Jurnal Penutup?
Jurnal penutup adalah jurnal yang dibuat pada akhir periode akuntansi untuk menutup saldo akun-akun sementara sebelum perusahaan memasuki periode berikutnya.
Proses ini merupakan bagian dari siklus akuntansi dan dilakukan setelah penyusunan laporan keuangan.
Jurnal ini berfungsi untuk menutup akun sementara, agar saldonya kembali menjadi nol dan tidak terbawa ke periode akuntansi berikutnya.
Akun sementara mencakup:
- Akun pendapatan
- Beban
- Ikhtisar laba rugi (income summary)
- Prive atau dividen.
Saldo pendapatan dan beban ditutup melalui income summary. Selanjutnya, saldo laba atau rugi dari income summary dipindahkan ke laba ditahan atau modal sesuai struktur ekuitas perusahaan.
Baca Juga: Ini Cara Tutup Buku bagi Bisnis Anda, Dijamin Mudah!
Apa Perbedaan Jurnal Penutup, Jurnal Umum, dan Jurnal Pembalik?
Ketiga jurnal tersebut memiliki fungsi yang berbeda dalam proses akuntansi, yaitu:
| Jenis Jurnal | Fungsi | Waktu Pencatatan |
|---|---|---|
| Jurnal umum | Mencatat berbagai transaksi bisnis yang terjadi | Selama periode berjalan |
| Jurnal penutup | Menutup saldo akun sementara pada akhir periode | Akhir periode |
| Jurnal pembalik | Membalik jurnal penyesuaian tertentu agar pencatatan transaksi pada periode berikutnya lebih sederhana | Awal periode berikutnya |
Jadi, jurnal umum digunakan untuk mencatat transaksi, jurnal penutup untuk mengakhiri saldo akun sementara, sedangkan jurnal pembalik digunakan untuk membalik pencatatan tertentu dari jurnal penyesuaian.
Baca Juga: 10 Langkah dalam Proses Akuntansi yang Wajib Anda Ketahui
Mengapa Jurnal Penutup Dibuat?

Jurnal penutup dibuat agar proses akuntansi pade periode berikutinya bisa dimulai kembali dengan saldo akun sementara yang bersih.
1. Menutup Saldo Akun Sementara
Pendapatan, beban, dan akun nominal lainnya hanya digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dalam satu periode.
Jika saldonya tidak ditutup, transaksi dari periode sebelumnya akan bercampur dengan transaksi periode berikutnya.
Nah, jurnal penutup berfungsi mengembalikan saldo menjadi nol, agar akuntan bisa memulai pencatatan periode selanjutnya dari awal.
2. Memindahkan Pendapatan dan Beban ke Modal atau Laba Ditahan
Jurnal penutup juga digunakan untuk memindahkan hasil akhir pendapatan dan beban ke akun ekuitas.
Sebagai contoh, perusahaan memiliki pendapatan Rp100 juta dan beban Rp70 juta. Selisihnya adalah laba bersih Rp30 juta. Setelah akun pendapatan dan beban ditutup melalui ikhtisar laba rugi, laba bersih tersebut dipindahkan ke laba ditahan.
Dengan proses ini, hasil kinerja perusahaan selama satu periode tercermin dalam perubahan ekuitas.
3. Memengaruhi Saldo Akun pada Periode Berikutnya
Setelah jurnal penutup dibuat, akun pendapatan dan beban memiliki saldo Rp0. Artinya, transaksi pada periode baru tidak akan tercampur dengan transaksi periode sebelumnya.
Sementara itu, akun permanen seperti kas, piutang, utang, aset, dan laba ditahan tetap memiliki saldo yang dibawa ke periode berikutnya.
Inilah yang membuat jurnal penutup penting untuk menjaga pencatatan keuangan tetap terpisah dan akurat antarperiode.
Baca Juga: Contoh Jurnal Pembalik Perusahaan Dagang dan Manfaatnya
Kapan Jurnal Penutup Dibuat?

Jurnal penutup dibuat pada akhir periode akuntansi, setelah perusahaan menyelesaikan pencatatan transaksi, jurnal penyesuaian, dan penyusunan laporan keuangan.
Tujuannya adalah menutup akun-akun sementara agar saldonya kembali menjadi nol sebelum periode akuntansi berikutnya dimulai.
Dalam siklus akuntansi, jurnal penutup dibuat setelah menyelesaikan laporan keuangan. Secara umum, urutannya adalah:
Transaksi → Jurnal → Buku Besar → Neraca Saldo → Jurnal Penyesuaian → Neraca Saldo Setelah Penyesuaian → Laporan Keuangan → Jurnal Penutup → Neraca Saldo Setelah Penutupan
Perbedaan Penutupan pada Perusahaan Jasa dan Perusahaan Dagang
Secara prinsip, proses jurnal penutup pada perusahaan jasa dan perusahaan dagang memiliki tujuan yang sama, hanya jenis akun yang digunakan saja berbeda.
Pada perusahaan jasa, jurnal ini umumnya mencakup akun pendapatan jasa, berbagai akun beban, dan prive atau dividen jika ada.
Sementara pada perusahaan dagang, terdapat akun tambahan yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan, seperti penjualan, retur penjualan, potongan penjualan, harga pokok penjualan (HPP), retur pembelian, dan potongan pembelian, tergantung sistem pencatatan yang digunakan.
Perlakuan akun ini juga berbeda tergantung metode pencatatan persediaan barang dagangnya (perpetual dan periodik).
Baca Juga: Jurnal Penutup Perusahaan Dagang: Contoh dan Cara Membuatnya
Contoh Jurnal Penutup
Berikut merupakan contoh jurnal penutup perusahaan jasa:
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Pendapatan Jasa | Rp50.000.000 | – |
| Ikhtisar Laba/Rugi | – | Rp50.000.000 |
| Ikhtisar Laba/Rugi | Rp35.000.000 | – |
| Beban Gaji | – | Rp20.000.000 |
| Beban Sewa | – | Rp10.000.000 |
| Beban Listrik | – | Rp5.000.000 |
| Ikhtisar Laba/Rugi | Rp15.000.000 | – |
| Modal | – | Rp15.000.000 |
| Modal | Rp5.000.000 | – |
| Prive | – | Rp5.000.000 |
| Total | Rp105.000.000 | Rp105.000.000 |
Contoh jurnal umum perusahaan dagang:
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Penjualan | Rp120.000.000 | – |
| Retur Pembelian & PH | Rp4.000.000 | – |
| Potongan Pembelian | Rp2.000.000 | – |
| Ikhtisar Laba/Rugi | – | Rp126.000.000 |
| Ikhtisar Laba/Rugi | Rp98.000.000 | – |
| Pembelian | – | Rp70.000.000 |
| Retur Penjualan & PH | – | Rp3.000.000 |
| Potongan Penjualan | – | Rp1.000.000 |
| Beban Angkut Pembelian | – | Rp4.000.000 |
| Beban Gaji & Upah | – | Rp15.000.000 |
| Beban Sewa Toko | – | Rp5.000.000 |
| Ikhtisar Laba/Rugi | Rp28.000.000 | – |
| Modal Pemilik | – | Rp28.000.000 |
| Modal Pemilik | Rp6.000.000 | – |
| Prive Pemilik | – | Rp6.000.000 |
| Total | Rp258.000.000 | Rp258.000.000 |
Baca Juga: Neraca Saldo Setelah Penutupan: Contoh dan Cara Membuatnya
Bagaimana Cara Membuat Jurnal Penutup?
Jurnal penutup dibuat dengan menutup seluruh akun nominal pada akhir periode.
Prosesnya dilakukan secara berurutan agar saldo pendapatan, beban, ikhtisar laba/rugi, dan prive tidak terbawa ke periode berikutnya.
Langkah 1: Tutup Akun Pendapatan
Akun pendapatan memiliki saldo normal kredit. Untuk menutupnya, akun pendapatan didebit sebesar saldonya, kemudian akun ikhtisar laba/rugi dikredit dengan jumlah yang sama.
Misalnya, perusahaan memiliki pendapatan jasa Rp50.000.000:
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Pendapatan Jasa | Rp50.000.000 | – |
| Ikhtisar Laba/Rugi | – | Rp50.000.000 |
Setelah jurnal dibuat, saldo Pendapatan Jasa menjadi Rp0. Sementara itu, Ikhtisar Laba/Rugi memiliki saldo kredit Rp50.000.000.
Langkah 2: Tutup Akun Beban
Akun beban memiliki saldo normal debit. Untuk menutupnya, setiap akun beban dikredit dan akun ikhtisar laba/rugi didebit.
Misalnya, total beban perusahaan terdiri dari:
- Beban Gaji: Rp20.000.000
- Beban Sewa: Rp10.000.000
- Beban Listrik: Rp5.000.000
Jurnal penutupnya:
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Ikhtisar Laba/Rugi | Rp35.000.000 | – |
| Beban Gaji | – | Rp20.000.000 |
| Beban Sewa | – | Rp10.000.000 |
| Beban Listrik | – | Rp5.000.000 |
Setelah jurnal dibuat, seluruh akun beban memiliki saldo Rp0. Ikhtisar Laba/Rugi yang sebelumnya memiliki saldo kredit Rp50.000.000 kini memiliki saldo kredit Rp15.000.000.
Saldo tersebut merupakan laba bersih perusahaan.
Langkah 3: Tutup Akun Ikhtisar Laba/Rugi
Saldo ikhtisar laba/rugi menunjukkan hasil akhir pendapatan dan beban. Jika perusahaan memperoleh laba, saldo ikhtisar laba/rugi dipindahkan ke akun modal atau laba ditahan.
Dengan laba bersih Rp15.000.000, jurnalnya:
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Ikhtisar Laba/Rugi | Rp15.000.000 | – |
| Modal | – | Rp15.000.000 |
Setelah jurnal dibuat, saldo Ikhtisar Laba/Rugi menjadi Rp0 dan modal bertambah Rp15.000.000.
Sebaliknya, jika perusahaan mengalami rugi, pencatatannya dibalik:
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Modal | Rp15.000.000 | – |
| Ikhtisar Laba Rugi | – | Rp15.000.000 |
Dengan demikian, saldo rugi mengurangi modal perusahaan.
Langkah 4: Tutup Akun Prive
Jika pemilik mengambil uang atau aset perusahaan untuk kepentingan pribadi, transaksi tersebut dicatat sebagai prive. Akun prive juga harus ditutup pada akhir periode dengan mengurangkannya dari modal.
Misalnya, saldo prive sebesar Rp5.000.000:
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Modal | Rp5.000.000 | – |
| Prive | – | Rp5.000.000 |
Setelah jurnal dibuat, saldo akun Prive menjadi Rp0 dan modal berkurang Rp5.000.000.
Baca Juga: Contoh Jurnal Penutup Perusahaan Jasa dan Cara Membuatnya
Apa Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membuat Jurnal Penutup?

Jurnal penutup perlu dibuat secara tepat karena kesalahan pencatatan dapat menyebabkan saldo akun dan laporan keuangan periode berikutnya menjadi tidak akurat.
Berikut beberapa kesalahan yang sering terjadi:
1. Salah Menentukan Akun yang Harus Ditutup
Jurnal penutup digunakan untuk menutup akun sementara atau akun nominal, seperti pendapatan, beban, ikhtisar laba/rugi, dan prive.
Sementara itu, akun permanen seperti kas, piutang, utang, atau aset lainnya tidak ikut ditutup.
Jadi, sebelum membuat jurnal penutup, pastikan akun yang akan ditutup merupakan akun sementara dan saldonya memang harus dikembalikan menjadi nol.
2. Salah Menempatkan Debit dan Kredit
Setiap akun memiliki posisi normal yang berbeda sehingga perlu diperhatikan ketika membuat jurnal penutup.
Akun pendapatan yang memiliki saldo kredit harus didebit saat ditutup, sedangkan akun beban yang memiliki saldo debit harus dikredit.
Kesalahan dalam menentukan posisi debit dan kredit dapat membuat saldo ikhtisar laba/rugi tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
3. Salah Menghitung Laba atau Rugi
Laba atau rugi bersih ditentukan berdasarkan selisih antara pendapatan dan beban.
Kesalahan menjumlahkan salah satu akun dapat menyebabkan saldo ikhtisar laba/rugi dan modal menjadi salah.
Laba atau rugi bersih = Total Pendapatan − Total Beban
Jika pendapatan lebih besar daripada beban, selisihnya merupakan laba. Sebaliknya, jika beban lebih besar daripada pendapatan, perusahaan mengalami rugi.
4. Menutup Akun Riil seperti Kas dan Piutang
Akun riil atau akun permanen, seperti kas, piutang, persediaan, aset tetap, utang, dan modal, tidak ditutup melalui jurnal penutup. Saldo akun tersebut tetap dibawa ke periode berikutnya.
Jurnal penutup hanya digunakan untuk akun sementara yang berkaitan dengan pengukuran kinerja perusahaan selama satu periode.
5. Salah Memindahkan Saldo Prive ke Modal
Prive merupakan pengambilan aset perusahaan oleh pemilik untuk kepentingan pribadi. Pada akhir periode, akun prive harus ditutup ke modal.
Misalnya saldo prive Rp5.000.000, jurnal penutupnya:
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Modal | Rp5.000.000 | – |
| Prive | – | Rp5.000.000 |
Setelah jurnal dibuat, saldo prive menjadi Rp0 dan modal berkurang Rp5.000.000.
6. Tidak Memeriksa Keseimbangan Debit dan Kredit
Setelah seluruh jurnal penutup dibuat, jumlah debit dan kredit harus tetap seimbang. Pemeriksaan ini membantu menemukan kesalahan jumlah maupun posisi akun.
Selain itu, setelah proses penutupan selesai, akun pendapatan, beban, ikhtisar laba/rugi, dan prive seharusnya memiliki saldo Rp0. Jika masih terdapat saldo pada akun-akun tersebut, pencatatan jurnal penutup perlu diperiksa kembali.
Baca Juga: Jurnal Penutup Perusahaan Manufaktur: Komponen dan Contohnya
Kesimpulan
Jurnal penutup merupakan tahap penting dalam siklus akuntansi untuk memastikan akun pendapatan, beban, ikhtisar laba/rugi, dan prive ditutup dengan benar sebelum memasuki periode berikutnya.
Proses ini membantu menjaga pencatatan keuangan tetap rapi dan memastikan laba atau rugi periode berjalan tercermin dengan tepat dalam ekuitas.
Namun, semakin banyak transaksi yang dimiliki bisnis, semakin besar pula risiko kesalahan dalam pencatatan dan pengelolaan laporan keuangan.
Software akuntansi Kledo dapat membantu bisnis mengelola transaksi dan laporan keuangan secara lebih praktis dan terorganisir.
Dengan pencatatan yang terdigitalisasi, Anda dapat lebih mudah memantau pendapatan, beban, laba rugi, serta kondisi keuangan bisnis tanpa harus mengandalkan pencatatan manual.
Coba Kledo gratis lewat tautan ini.
- Penyusutan Fiskal: Definisi, Metode, Kelompok, & Cara Hitung - 1 September 2026
- Mengenal Model Bisnis Pendapatan Berulang dan Jenisnya - 1 September 2026
- Cara Membuat Jurnal Penutup dan Contohnya - 1 September 2026
