Cara Membuat Jurnal Penutup dan Contoh Kasusnya

cara membuat jurnal penutup banner

Jurnal penutup merupakan salah satu tahap penting dalam proses akuntansi pada akhir periode. Dengan mengetahui cara membuat jurnal penutup yang benar, Anda bisa memastikan akun-akun sementara seperti pendapatan dan beban tidak terbawa ke periode berikutnya.

Jurnal ini memastikan saldo akun pendapatan, beban, dan akun sementara lainnya kembali menjadi nol sehingga pencatatan untuk periode baru tidak tercampur dengan periode sebelumnya.

Artikel ini akan membahas langkah membuat jurnal penutup secara berurutan, mulai dari mengidentifikasi akun yang perlu ditutup hingga memverifikasi hasilnya melalui contoh.

Pembahasan ini juga relevan bagi Anda yang mulai menerapkan pembukuan secara rutin. Jika Anda masih membutuhkan dasar konsepnya, pelajari terlebih dahulu pengertian dan fungsi jurnal penutup sebelum mengikuti langkah-langkah berikut.

Apa Itu Jurnal Penutup?

Jurnal penutup adalah jurnal yang dibuat pada akhir periode akuntansi untuk menutup saldo akun-akun sementara sebelum perusahaan memasuki periode berikutnya.

Proses ini merupakan bagian dari siklus akuntansi dan dilakukan setelah penyusunan laporan keuangan.

Jurnal ini berfungsi untuk menutup akun sementara, agar saldonya kembali menjadi nol dan tidak terbawa ke periode akuntansi berikutnya.

Akun sementara mencakup:

  • Akun pendapatan
  • Beban
  • Ikhtisar laba rugi (income summary)
  • Prive atau dividen.

Saldo pendapatan dan beban ditutup melalui income summary. Selanjutnya, saldo laba atau rugi dari income summary dipindahkan ke laba ditahan atau modal sesuai struktur ekuitas perusahaan.

kledo banner 1

Baca Juga: Ini Cara Tutup Buku bagi Bisnis Anda, Dijamin Mudah!

Apa Perbedaan Jurnal Penutup, Jurnal Umum, dan Jurnal Pembalik?

Ketiga jurnal tersebut memiliki fungsi yang berbeda dalam proses akuntansi, yaitu:

Jenis Jurnal Fungsi Waktu Pencatatan
Jurnal umum Mencatat berbagai transaksi bisnis yang terjadi Selama periode berjalan
Jurnal penutup Menutup saldo akun sementara pada akhir periode Akhir periode
Jurnal pembalik Membalik jurnal penyesuaian tertentu agar pencatatan transaksi pada periode berikutnya lebih sederhana Awal periode berikutnya

Jadi, jurnal umum digunakan untuk mencatat transaksi, jurnal penutup untuk mengakhiri saldo akun sementara, sedangkan jurnal pembalik digunakan untuk membalik pencatatan tertentu dari jurnal penyesuaian.

Baca Juga: 10 Langkah dalam Proses Akuntansi yang Wajib Anda Ketahui

Mengapa Jurnal Penutup Dibuat?

cara membuat jurnal penutup 1

Jurnal penutup dibuat agar proses akuntansi pade periode berikutinya bisa dimulai kembali dengan saldo akun sementara yang bersih.

1. Menutup Saldo Akun Sementara

Pendapatan, beban, dan akun nominal lainnya hanya digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dalam satu periode.

Jika saldonya tidak ditutup, transaksi dari periode sebelumnya akan bercampur dengan transaksi periode berikutnya.

Nah, jurnal penutup berfungsi mengembalikan saldo menjadi nol, agar akuntan bisa memulai pencatatan periode selanjutnya dari awal.

2. Memindahkan Pendapatan dan Beban ke Modal atau Laba Ditahan

Jurnal penutup juga digunakan untuk memindahkan hasil akhir pendapatan dan beban ke akun ekuitas.

Sebagai contoh, perusahaan memiliki pendapatan Rp100 juta dan beban Rp70 juta. Selisihnya adalah laba bersih Rp30 juta. Setelah akun pendapatan dan beban ditutup melalui ikhtisar laba rugi, laba bersih tersebut dipindahkan ke laba ditahan.

Dengan proses ini, hasil kinerja perusahaan selama satu periode tercermin dalam perubahan ekuitas.

3. Memengaruhi Saldo Akun pada Periode Berikutnya

Setelah jurnal penutup dibuat, akun pendapatan dan beban memiliki saldo Rp0. Artinya, transaksi pada periode baru tidak akan tercampur dengan transaksi periode sebelumnya.

Sementara itu, akun permanen seperti kas, piutang, utang, aset, dan laba ditahan tetap memiliki saldo yang dibawa ke periode berikutnya.

Inilah yang membuat jurnal penutup penting untuk menjaga pencatatan keuangan tetap terpisah dan akurat antarperiode.

Baca Juga: Contoh Jurnal Pembalik Perusahaan Dagang dan Manfaatnya

Kapan Jurnal Penutup Dibuat?

cara membuat jurnal penutup 3

Jurnal penutup dibuat pada akhir periode akuntansi, setelah perusahaan menyelesaikan pencatatan transaksi, jurnal penyesuaian, dan penyusunan laporan keuangan.

Tujuannya adalah menutup akun-akun sementara agar saldonya kembali menjadi nol sebelum periode akuntansi berikutnya dimulai.

Dalam siklus akuntansi, jurnal penutup dibuat setelah menyelesaikan laporan keuangan. Secara umum, urutannya adalah:

Transaksi → Jurnal → Buku Besar → Neraca Saldo → Jurnal Penyesuaian → Neraca Saldo Setelah Penyesuaian → Laporan Keuangan → Jurnal Penutup → Neraca Saldo Setelah Penutupan

Perbedaan Penutupan pada Perusahaan Jasa dan Perusahaan Dagang

Secara prinsip, proses jurnal penutup pada perusahaan jasa dan perusahaan dagang memiliki tujuan yang sama, hanya jenis akun yang digunakan saja berbeda.

Pada perusahaan jasa, jurnal ini umumnya mencakup akun pendapatan jasa, berbagai akun beban, dan prive atau dividen jika ada.

Sementara pada perusahaan dagang, terdapat akun tambahan yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan, seperti penjualan, retur penjualan, potongan penjualan, harga pokok penjualan (HPP), retur pembelian, dan potongan pembelian, tergantung sistem pencatatan yang digunakan.

Perlakuan akun ini juga berbeda tergantung metode pencatatan persediaan barang dagangnya (perpetual dan periodik).

Baca Juga: Jurnal Penutup Perusahaan Dagang: Contoh dan Cara Membuatnya

Contoh Jurnal Penutup

Berikut merupakan contoh jurnal penutup perusahaan jasa:

Akun Debit Kredit
Pendapatan Jasa Rp50.000.000 –
Ikhtisar Laba/Rugi – Rp50.000.000
Ikhtisar Laba/Rugi Rp35.000.000 –
Beban Gaji – Rp20.000.000
Beban Sewa – Rp10.000.000
Beban Listrik – Rp5.000.000
Ikhtisar Laba/Rugi Rp15.000.000 –
Modal – Rp15.000.000
Modal Rp5.000.000 –
Prive – Rp5.000.000
Total Rp105.000.000 Rp105.000.000

Contoh jurnal umum perusahaan dagang:

Akun Debit Kredit
Penjualan Rp120.000.000 –
Retur Pembelian & PH Rp4.000.000 –
Potongan Pembelian Rp2.000.000 –
Ikhtisar Laba/Rugi – Rp126.000.000
Ikhtisar Laba/Rugi Rp98.000.000 –
Pembelian – Rp70.000.000
Retur Penjualan & PH – Rp3.000.000
Potongan Penjualan – Rp1.000.000
Beban Angkut Pembelian – Rp4.000.000
Beban Gaji & Upah – Rp15.000.000
Beban Sewa Toko – Rp5.000.000
Ikhtisar Laba/Rugi Rp28.000.000 –
Modal Pemilik – Rp28.000.000
Modal Pemilik Rp6.000.000 –
Prive Pemilik – Rp6.000.000
Total Rp258.000.000 Rp258.000.000

Baca Juga: Neraca Saldo Setelah Penutupan: Contoh dan Cara Membuatnya

Akun yang Ditutup dan Tidak Ditutup dalam Jurnal Penutup

Akun yang ditutup dalam jurnal penutup adalah akun nominal atau akun sementara, sedangkan akun yang tidak ditutup merupakan akun riil atau akun permanen.

Akun riil dan akun nominal berbeda dalam aspek fungsi akun dalam pengukuran kinerja dan posisi keuangan.

Akun nominal digunakan untuk mengukur pendapatan, beban, dan pengambilan pribadi selama satu periode sehingga saldonya perlu dikembalikan menjadi nol.

Sebaliknya, akun riil mencerminkan aset, liabilitas, dan modal yang saldonya dibawa ke periode berikutnya.

Akun ditutup Akun tidak ditutup
Pendapatan Kas
Beban Piutang usaha
Prive Utang usaha
Ikhtisar laba/rugi Modal

Dengan memahami pembagian ini, Anda tidak perlu menghafalkan seluruh jurnal penutup secara terpisah. Cukup identifikasi jenis akun terlebih dahulu, kemudian tentukan akun mana yang harus dibuat bersaldo nol. Logika ini menjadi dasar untuk mengikuti empat langkah penutupan yang akan kita bahas berikutnya.

Baca Juga: Mengenal Jurnal Transaksi Dalam Akuntansi Beserta Contohnya

Bagaimana Cara Membuat Jurnal Penutup?

Cara membuat jurnal penutup dimulai dengan melihat saldo akun pada akhir periode melalui neraca saldo setelah penyesuaian.

Dari saldo tersebut, tentukan akun sementara yang perlu ditutup, kemudian buat jurnal sesuai urutannya. Agar prosesnya lebih mudah dipahami, contoh berikut menggunakan satu set saldo akun yang sama dari awal hingga akhir penutupan.

Neraca Saldo Setelah Penyesuaian sebagai Dasar Jurnal Penutup

Neraca saldo setelah penyesuaian berisi saldo akun setelah seluruh jurnal penyesuaian pada akhir periode diposting ke buku besar.

Saldo ini menjadi dasar untuk membuat jurnal penutup karena mencerminkan kondisi akun setelah penyesuaian. Namun, tidak semua akun perlu ditutup. Pendapatan, beban, dan prive merupakan akun sementara yang akan dikosongkan, sedangkan kas, piutang, utang, dan modal tetap memiliki saldo untuk periode berikutnya.

Misalnya, sebuah perusahaan jasa memiliki neraca saldo setelah penyesuaian berikut:

Akun Debit Kredit
Kas Rp15.000.000 —
Piutang Usaha Rp8.000.000 —
Peralatan Rp20.000.000 —
Beban Operasional Rp12.000.000 —
Prive Rp2.000.000 —
Utang Usaha — Rp7.000.000
Modal — Rp30.000.000
Pendapatan Jasa — Rp20.000.000
Total Rp57.000.000 Rp57.000.000

Dari tabel tersebut, akun yang akan diproses dalam jurnal penutup adalah Pendapatan Jasa, Beban Operasional, dan Prive.

Sementara itu, Kas, Piutang Usaha, Peralatan, Utang Usaha, dan Modal tidak ditutup karena merupakan akun permanen. Selanjutnya, saldo akun sementara tersebut digunakan untuk membuat jurnal penutup secara berurutan.

Langkah 1: Tutup Akun Pendapatan

Akun pendapatan memiliki saldo normal kredit. Untuk membuat saldonya menjadi nol, akun pendapatan harus didebit sebesar saldo yang tercatat. Sebagai lawannya, jumlah tersebut dikredit ke Ikhtisar Laba/Rugi.

Akun Debit Kredit
Pendapatan Jasa Rp20.000.000 —
Ikhtisar Laba/Rugi — Rp20.000.000

Pencatatan ini menghapus saldo Pendapatan Jasa dari periode berjalan dan memindahkan nilainya ke Ikhtisar Laba/Rugi untuk menentukan laba atau rugi.

Langkah 2: Tutup Akun Beban

Setelah pendapatan ditutup, seluruh akun beban juga perlu dikosongkan. Karena beban memiliki saldo normal debit, akun beban dikredit sebesar saldonya. Ikhtisar Laba/Rugi kemudian didebit dengan jumlah yang sama.

Akun Debit Kredit
Ikhtisar Laba/Rugi Rp12.000.000 —
Beban Operasional — Rp12.000.000

Pada contoh tersebut, pendapatan sebesar Rp20.000.000 dan beban Rp12.000.000 menghasilkan laba sebesar Rp8.000.000. Selisih inilah yang akan dipindahkan pada langkah berikutnya.

Langkah 3: Tutup Akun Ikhtisar Laba/Rugi

Setelah pendapatan dan beban dipindahkan, Ikhtisar Laba/Rugi menunjukkan laba bersih sebesar Rp8.000.000. Karena perusahaan memperoleh laba, saldo tersebut dipindahkan ke akun Modal dengan mendebit Ikhtisar Laba/Rugi dan mengkredit Modal.

Akun Debit Kredit
Ikhtisar Laba/Rugi Rp8.000.000 —
Modal — Rp8.000.000

Dengan jurnal ini, saldo Ikhtisar Laba/Rugi kembali menjadi nol dan laba periode berjalan menambah modal perusahaan.

Langkah 4: Tutup Akun Prive

Prive merupakan pengambilan aset perusahaan oleh pemilik untuk kepentingan pribadi sehingga mengurangi ekuitas. Karena memiliki saldo debit, akun Prive ditutup dengan mengkreditnya dan mendebit Modal sebesar jumlah yang sama.

Akun Debit Kredit
Modal Rp2.000.000 —
Prive — Rp2.000.000

Setelah jurnal ini diposting, saldo Prive menjadi nol. Sementara itu, modal akhir mencerminkan modal awal ditambah laba dan dikurangi prive, yaitu Rp36.000.000.

Baca Juga: Contoh Jurnal Penutup Perusahaan Jasa dan Cara Membuatnya

Baca Juga:

Apa Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membuat Jurnal Penutup?

cara membuat jurnal penutup

Jurnal penutup perlu dibuat secara tepat karena kesalahan pencatatan dapat menyebabkan saldo akun dan laporan keuangan periode berikutnya menjadi tidak akurat.

Berikut beberapa kesalahan yang sering terjadi:

1. Salah Menentukan Akun yang Harus Ditutup

Jurnal penutup digunakan untuk menutup akun sementara atau akun nominal, seperti pendapatan, beban, ikhtisar laba/rugi, dan prive.

Sementara itu, akun permanen seperti kas, piutang, utang, atau aset lainnya tidak ikut ditutup.

Jadi, sebelum membuat jurnal penutup, pastikan akun yang akan ditutup merupakan akun sementara dan saldonya memang harus dikembalikan menjadi nol.

2. Salah Menempatkan Debit dan Kredit

Setiap akun memiliki posisi normal yang berbeda sehingga perlu diperhatikan ketika membuat jurnal penutup.

Akun pendapatan yang memiliki saldo kredit harus didebit saat ditutup, sedangkan akun beban yang memiliki saldo debit harus dikredit.

Kesalahan dalam menentukan posisi debit dan kredit dapat membuat saldo ikhtisar laba/rugi tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

3. Salah Menghitung Laba atau Rugi

Laba atau rugi bersih ditentukan berdasarkan selisih antara pendapatan dan beban.

Kesalahan menjumlahkan salah satu akun dapat menyebabkan saldo ikhtisar laba/rugi dan modal menjadi salah.

Laba atau rugi bersih = Total Pendapatan − Total Beban

Jika pendapatan lebih besar daripada beban, selisihnya merupakan laba. Sebaliknya, jika beban lebih besar daripada pendapatan, perusahaan mengalami rugi.

4. Menutup Akun Riil seperti Kas dan Piutang

Akun riil atau akun permanen, seperti kas, piutang, persediaan, aset tetap, utang, dan modal, tidak ditutup melalui jurnal penutup. Saldo akun tersebut tetap dibawa ke periode berikutnya.

Jurnal penutup hanya digunakan untuk akun sementara yang berkaitan dengan pengukuran kinerja perusahaan selama satu periode.

5. Salah Memindahkan Saldo Prive ke Modal

Prive merupakan pengambilan aset perusahaan oleh pemilik untuk kepentingan pribadi. Pada akhir periode, akun prive harus ditutup ke modal.

Misalnya saldo prive Rp5.000.000, jurnal penutupnya:

Akun Debit Kredit
Modal Rp5.000.000 –
Prive – Rp5.000.000

Setelah jurnal dibuat, saldo prive menjadi Rp0 dan modal berkurang Rp5.000.000.

6. Tidak Memeriksa Keseimbangan Debit dan Kredit

Setelah seluruh jurnal penutup dibuat, jumlah debit dan kredit harus tetap seimbang. Pemeriksaan ini membantu menemukan kesalahan jumlah maupun posisi akun.

Selain itu, setelah proses penutupan selesai, akun pendapatan, beban, ikhtisar laba/rugi, dan prive seharusnya memiliki saldo Rp0. Jika masih terdapat saldo pada akun-akun tersebut, pencatatan jurnal penutup perlu diperiksa kembali.

Baca Juga: Jurnal Penutup Perusahaan Manufaktur: Komponen dan Contohnya

Kesimpulan

Jurnal penutup merupakan tahap penting dalam siklus akuntansi untuk memastikan akun pendapatan, beban, ikhtisar laba/rugi, dan prive ditutup dengan benar sebelum memasuki periode berikutnya.

Proses ini membantu menjaga pencatatan keuangan tetap rapi dan memastikan laba atau rugi periode berjalan tercermin dengan tepat dalam ekuitas.

Namun, semakin banyak transaksi yang dimiliki bisnis, semakin besar pula risiko kesalahan dalam pencatatan dan pengelolaan laporan keuangan.

Software akuntansi Kledo dapat membantu bisnis mengelola transaksi dan laporan keuangan secara lebih praktis dan terorganisir.

Dengan pencatatan yang terdigitalisasi, Anda dapat lebih mudah memantau pendapatan, beban, laba rugi, serta kondisi keuangan bisnis tanpa harus mengandalkan pencatatan manual.

Coba Kledo gratis lewat tautan ini.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

one × 5 =