Psychological Pricing: Definisi, Jenis, Contoh, Kelebihan & Kekurangannya

Psychological Pricing 1

Banyak orang mencari nilai terbaik saat berbelanja barang atau jasa. Penetapan harga psikologis atau psychological pricing yang mengandalkan proses mental dan emosional untuk memengaruhi perilaku pelanggan, dapat menjadi strategi yang efektif untuk mendorong penjualan.

Jika Anda tertarik untuk menerapkan penetapan harga psikologis, memahami keuntungan dan kerugiannya dapat membantu Anda membuat keputusan yang tepat.

Dalam artikel ini, kami mendefinisikan psychological pricing, berbagai jenis serta contohnya, dan juga menerangkan kelebihan dan kekurangannya jika Anda menggunakan strategi penetapan harga ini.

Apa itu Psychological Pricing?

Psychological pricing adalah strategi penetapan harga yang menggunakan psikologi konsumen untuk memengaruhi nilai yang dirasakan pelanggan terhadap produk Anda.

Taktik ini secara halus mendorong konsumen untuk mengambil tindakan dan melakukan pembelian.

Contoh penetapan harga psikologis adalah ketika sesuatu dihargai Rp9.900, bukan Rp10.000. Meskipun perbedaan seratus rupiah ini tidak akan menaikan atau menurunkan pendapatan Anda, ini dapat memotivasi lebih banyak pelanggan untuk mengonversi (dan kita akan membahas mengapa ini berhasil nanti).

Namun, pemasaran dan penjualan Anda berjalan seiring dengan psychological pricing. Dan terkadang, cara Anda menjual kepada audiens Anda lebih penting daripada harga produk Anda.

Jadi untuk tujuan itu, kita akan memfokuskan waktu kita pada strategi penetapan harga psikologis dan bagaimana dampaknya terhadap perilaku konsumen.

Sekarang mari kita bahas semua keuntungan dan kerugian menggunakan harga psikologis dalam bisnis Anda.

Baca juga: Contoh Laporan Keuangan Bisnis Retail

Banner 2 kledo

Haruskah Anda Menggunakan Psychological Pricing?

Menggunakan strategi penetapan harga psikologis bukanlah obat mujarab untuk memperbaiki tingkat konversi atau melakukan closing pada di sales funnel Anda.

Seluruh aspek pemasaran produk Anda seperti: ekuitas merek, segmentasi, pesan, pemasaran, dll. – juga sejalan.

Jadi, meskipun penetapan harga psikologis patut Anda perhatikan, hal itu tidak akan menyelesaikan semua masalah jika Anda memiliki masalah di area lain dalam proses pemasaran.

Dampak dari strategi psychological pricing berbeda berdasarkan industri Anda, jenis produk yang Anda jual, seberapa sering Anda menggunakannya, target pembeli Anda, dan banyak variabel lainnya.

Singkatnya: Anda tidak dapat mengharapkan strategi penetapan harga apa pun untuk menyelesaikan semua masalah bisnis Anda.

Baca juga: Cost Plus Pricing: Pengertian, Cara Hitung, Manfaat, dan Contohnya

Jenis Psychological Pricing dan Contohnya

Psychological Pricing 2

Beberapa strategi penetapan harga psikologis akan bekerja lebih baik untuk merek Anda daripada yang lain, karena audiens yang berbeda merespons taktik penetapan harga yang berbeda.

Jadi, lihatlah jenis tujuh strategi psychological pricing yang paling sering digunakan contoh strategi mana yang sesuai dengan target pembeli Anda:

1. Charm pricing

Charm Pricing adalah strategi penetapan harga yang melibatkan penggunaan angka yang berakhir dengan “9” atau “99” untuk menciptakan kesan harga yang lebih terjangkau dan menarik bagi konsumen.

Konsep ini didasarkan pada persepsi psikologis bahwa harga yang berakhir dengan angka tersebut terlihat lebih rendah daripada harga yang berakhir dengan angka yang lebih tinggi.

Contoh:

  1. Produk A dihargai sebesar Rp 99.000 daripada Rp 100.000. Dalam persepsi konsumen, harga Rp 99.000 terlihat lebih murah dan lebih terjangkau daripada Rp 100.000, meskipun perbedaannya hanya Rp 1.000.
  2. Restoran XYZ menawarkan menu spesial dengan harga Rp 49.900 daripada Rp 50.000. Dengan menggunakan angka yang berakhir dengan “900”, restoran berharap dapat menarik perhatian konsumen dan memberikan kesan bahwa harga tersebut lebih murah.
  3. Sebuah toko pakaian menjual celana dengan harga Rp 199.000 daripada Rp 200.000. Dengan menggunakan charm pricing, toko tersebut berharap dapat menarik konsumen dengan memberikan kesan bahwa harga celana tersebut lebih terjangkau.

 2. Odd/Even Pricing

Odd/Even Pricing adalah strategi penetapan harga di mana harga produk diakhiri dengan angka ganjil (odd) atau angka genap (even). Tujuan dari strategi ini adalah mempengaruhi persepsi harga dan membuatnya terlihat lebih menarik atau terjangkau bagi konsumen.

Contoh:

  1. Produk A dihargai sebesar Rp 99.000 (harga ganjil) daripada Rp 100.000. Dalam persepsi konsumen, harga Rp 99.000 terlihat lebih terjangkau dan lebih menarik daripada harga yang berakhir dengan angka genap.
  2. Toko B memberikan diskon pada produk C sehingga harganya menjadi Rp 50.000 (harga genap) daripada Rp 51.000. Dengan menggunakan angka yang berakhir dengan angka genap, toko berharap memberikan kesan bahwa harga tersebut adalah penawaran yang lebih baik.
  3. Restoran XYZ menawarkan menu spesial dengan harga Rp 49.900 (harga ganjil) daripada Rp 50.000. Dengan menggunakan angka yang berakhir dengan angka ganjil, restoran berharap membuat harga tersebut terlihat lebih terjangkau bagi konsumen.

Pertimbangkan untuk menguji penggunaan angka genap karena terkadang menggunakan harga yang diakhiri dengan angka genap adalah pendekatan yang lebih efektif.

Baca juga: Penetration Pricing: Pengertian, Strategi, Kelebihan, Kekurangan dan Contohnya

3. Decoy pricing

Decoy Pricing adalah strategi pemasaran di mana sebuah produk dengan harga yang relatif tinggi ditempatkan di samping produk serupa dengan harga yang lebih rendah, dengan tujuan membuat produk yang sebenarnya diinginkan terlihat lebih menarik dan terjangkau bagi konsumen. Produk dengan harga tinggi tersebut bertindak sebagai “decoy” atau umpan, yang membuat produk lain terlihat lebih menguntungkan.

Contoh:

  1. Sebuah toko elektronik menjual TV dengan harga Rp 10.000.000 dan Rp 15.000.000. Ketika melihat kedua pilihan tersebut, sebagian besar konsumen mungkin akan memilih TV dengan harga Rp 10.000.000 karena terlihat lebih terjangkau dibandingkan dengan yang harganya Rp 15.000.000. TV dengan harga Rp 15.000.000 bertindak sebagai decoy untuk menjadikan TV dengan harga Rp 10.000.000 lebih menarik.
  2. Sebuah restoran menawarkan paket makan siang dengan dua pilihan: Paket A seharga Rp 50.000 yang mencakup makanan utama dan minuman, dan Paket B seharga Rp 60.000 yang mencakup makanan utama, minuman, dan makanan penutup. Dalam hal ini, Paket B dengan harga Rp 60.000 bertindak sebagai decoy untuk membuat Paket A terlihat lebih menguntungkan dan terjangkau.
  3. Sebuah bioskop menawarkan tiket reguler seharga Rp 50.000 dan tiket VIP seharga Rp 80.000. Tiket VIP dengan harga yang lebih tinggi bertindak sebagai decoy untuk membuat tiket reguler terlihat lebih terjangkau dan merupakan pilihan yang lebih baik bagi sebagian besar konsumen.

4. Artificial time constraints

Artificial time constraints adalah strategi pemasaran di mana pembatasan waktu palsu atau buatan diberlakukan untuk menciptakan rasa mendesak bagi konsumen.

Tujuannya adalah mendorong konsumen untuk segera mengambil keputusan pembelian atau tindakan tertentu dengan takut kehilangan kesempatan atau penawaran yang terbatas.

Contoh

  1. Penawaran Flash Sale: Sebuah toko online mengumumkan bahwa mereka akan mengadakan flash sale selama 24 jam di mana produk-produk tertentu akan didiskon besar-besaran. Dengan mengumumkan batasan waktu ini, konsumen merasakan desakan untuk segera melakukan pembelian agar tidak melewatkan penawaran yang terbatas dalam waktu yang singkat.
  2. Early Bird Special: Sebuah restoran menyediakan diskon khusus untuk pelanggan yang datang sebelum jam 6 sore. Dengan menerapkan pembatasan waktu ini, restoran menciptakan kesan bahwa pelanggan harus segera datang untuk mendapatkan penawaran istimewa tersebut sebelum waktu tertentu berakhir.
  3. Limited Edition Release: Sebuah perusahaan elektronik mengumumkan peluncuran produk edisi terbatas dengan stok terbatas. Mereka memberikan informasi bahwa produk ini hanya tersedia dalam jumlah terbatas selama periode waktu tertentu. Hal ini mendorong konsumen untuk segera membeli produk tersebut, takut kehabisan karena ketersediaan yang terbatas.

Baca juga: Strategi Menaikkan Harga Tanpa Harus Kehilangan Pelanggan

5. Anchored pricing

Anchored pricing adalah strategi penetapan harga di mana sebuah angka atau “anchor” digunakan sebagai referensi untuk mempengaruhi persepsi konsumen terhadap harga produk.

Angka tersebut menjadi titik awal atau acuan yang mempengaruhi penilaian konsumen terhadap kisaran harga yang wajar. Dengan menetapkan anchor yang tinggi, harga aktual produk mungkin terlihat lebih terjangkau atau adil bagi konsumen.

Contoh

  1. Sebuah toko pakaian mewariskan kebijakan penjualan dengan harga asli diberi label sebagai “Harga Tertinggi yang Pernah Ada” atau “Harga Asli: Rp 1.500.000” pada sebuah baju. Namun, toko memberikan diskon besar dan menjualnya dengan harga aktual Rp 750.000. Dalam hal ini, dengan memberikan anchor harga yang tinggi pada label, penawaran diskon sebesar setengah harga seolah-olah menjadi penawaran yang sangat menguntungkan bagi konsumen.
  2. Sebuah restoran menawarkan paket makan malam spesial dengan anchor harga di menu sebesar Rp 500.000 per orang. Meskipun faktanya, mereka menjualnya dengan harga aktual Rp 350.000 per orang. Dengan menetapkan anchor harga yang lebih tinggi, konsumen mungkin merasa bahwa harga aktual adalah penawaran yang baik dan terjangkau.
  3. Sebuah toko elektronik menampilkan TV dengan anchor harga yang tinggi dalam iklan mereka, misalnya “Harga Asli: Rp 20.000.000” meskipun mereka menjualnya dengan harga aktual Rp 15.000.000. Dengan menggunakan anchor harga yang tinggi, toko tersebut berharap konsumen akan merasa bahwa harga aktual adalah penawaran yang menguntungkan.

6. Innumeracy

nnumeracy dalam hal ini mengandalkan asumsi bahwa konsumen akan menerima informasi pertama tentang harga tanpa melakukan perhitungan matematis untuk menghitung nilai sebenarnya. Penggunaan frasa “beli satu, gratis satu” dibandingkan dengan “dua barang diskon 50%” adalah contoh umum dari innumeracy.

Dalam kasus ini, banyak pelanggan mungkin menghargai implikasi bahwa mereka mendapatkan hadiah tak terduga dengan pembelian mereka, meskipun harga barang pertama sudah mencakup nilai hadiah tersebut.

Konsep innumeracy ini memanfaatkan persepsi emosional pelanggan yang merasa senang mendapatkan sesuatu tambahan, tanpa secara eksplisit melakukan perhitungan matematis untuk mengukur nilai sebenarnya.

Dengan menggunakan frasa “beli satu, gratis satu,” perhatian pelanggan tertuju pada hadiah tambahan yang mereka terima, bukan pada perhitungan matematis tentang nilai sebenarnya.

Innumeracy dalam hal ini mengambil keuntungan dari bias kognitif di mana individu cenderung mengandalkan informasi awal tanpa mempertimbangkan implikasi matematis yang mendasarinya.

Contoh:

Di sebuah toko pakaian, terdapat dua pilihan penawaran untuk sebuah kemeja:

  1. Penawaran A: “Beli satu, gratis satu!”
  2. Penawaran B: “Diskon 50% untuk setiap kemeja kedua yang dibeli!”

Dalam Penawaran A, toko menggunakan frasa “beli satu, gratis satu” untuk menarik perhatian pelanggan. Meskipun pada dasarnya, harga kemeja pertama mencakup nilai dari kemeja kedua yang “gratis”.

Konsumen yang mengalami innumeracy mungkin akan merasa senang karena mendapatkan hadiah tambahan tanpa memperhitungkan apakah harga sebenarnya tetap sama atau tidak.

Dalam Penawaran B, toko menggunakan pendekatan yang lebih transparan dengan mengumumkan diskon 50% untuk setiap kemeja kedua yang dibeli.

Namun, bagi konsumen yang mengalami innumeracy, Penawaran A dengan frasa “beli satu, gratis satu” mungkin terlihat lebih menarik dan memberikan kesan bahwa mereka mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Dalam kedua contoh tersebut, innumeracy dimanfaatkan untuk mengubah persepsi konsumen terhadap nilai sebenarnya dari penawaran harga.

Konsumen yang terpengaruh innumeracy mungkin lebih fokus pada hadiah atau keuntungan tambahan yang diberikan, daripada melakukan perhitungan matematis untuk memahami nilai sebenarnya dari penawaran tersebut.

Baca juga: Penetapan Harga Markup, Cara Hitung, dan Bedanya dengan Markdown

7. Center stage

Strategi penetapan harga di tengah-tengah bergantung pada fakta bahwa orang lebih memperhatikan produk yang ditempatkan di tengah-tengah dari serangkaian pilihan daripada yang lain dalam barisan.

Mata kita secara alami tertarik ke bagian tengah, seperti halnya kita lebih memperhatikan aktor yang berada di tengah panggung atau artis yang berdiri di tengah-tengah penyanyi latar.

Jadi, bagian tengah merupakan tempat yang sempurna untuk meletakkan produk yang Anda inginkan untuk dibeli pelanggan pada tampilan penuh.

Anda juga bisa menggabungkan strategi center stage dengan decoy effect untuk menggandakan dampak dan penjualan Anda dengan mudah.

Dalam hal ini, Anda dapat memiliki pilihan yang lebih murah di sebelah kiri dan pilihan dengan harga tertinggi di sebelah kanan yang Anda inginkan untuk dilihat oleh pelanggan.

Dua produk di kedua sisi menjadi umpan untuk mendorong orang ke produk yang berada di tengah.

Contoh:

Perhatikan gambar di bawah ini untuk memahami strategi center stage:

psychological pricing center

Apa Saja Kelebihan dari Psychological Pricing?

Berikut adalah 12 kelebihan dari penetapan harga psikologis atau psychological pricing:

1. Menyederhanakan pengambilan keputusan

Pelanggan sering kali dapat memilih di antara banyak retailer dan produk saat berbelanja.

Harga adalah salah satu faktor pendorong terpenting bagi banyak pelanggan, dan mencantumkan harga yang menarik dapat membantu mereka memutuskan dengan cepat di mana mereka ingin berbelanja. Hal ini sangat berdampak jika bisnis Anda berfokus pada penjualan satu kali.

2. Menarik lebih banyak perhatian

Psychological pricing dapat bertindak sebagai alat pemasaran. Mengiklankan harga yang menarik menggunakan iklan, konten digital, atau papan nama dapat mendorong pelanggan baru untuk menjelajahi produk Anda.

Hal ini dapat meningkatkan kesadaran merek, bahkan dengan tamu yang melihat-lihat tanpa membeli produk.

Anda juga bisa menggunakan harga psikologis untuk menarik pelanggan ke produk tertentu.

Misalnya, jika toko dekorasi rumah ingin menjual barang dagangan saat lebaran untuk memberi ruang bagi dekorasi islami, mereka mungkin menarik perhatian pada barang-barang yang berkaitan dengan menyesuaikan harga.

Baca juga: Download Surat Penawaran Harga Beserta Contohnya

3. Meningkatkan penjualan secara keseluruhan

Jika digunakan secara efektif, psychological pricing dapat menghasilkan laba atas investasi (ROI) yang lebih tinggi.

Jika Anda ingin meningkatkan pendapatan, menerapkan harga psikologis dapat membantu. Anda juga dapat menggunakan harga psikologis untuk mendorong pembelian dengan volume yang lebih tinggi.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan internet dapat mengiklankan harga paket yang mendorong pelanggan untuk membeli layanan internet, kabel, dan telepon.

Pelanggan mungkin akan menghabiskan lebih banyak daripada yang mereka inginkan karena mereka menafsirkan paket tersebut sebagai nilai yang lebih baik.

4. Menempatkan barang ke dalam kategori

Anda dapat menggunakan psychological pricing untuk membuat perbedaan antara berbagai kelompok barang dagangan.

Misalnya, jika Anda menjual merek-merek desainer dan diskon di toko Anda, Anda dapat menjual semua pakaian diskon dengan harga yang diakhiri dengan “.99”.

Pelanggan dapat menggunakan informasi ini untuk membedakan dengan mudah antara pakaian kelas atas dan pakaian diskon.

Meskipun harga di kedua kategori tersebut sebanding, perubahan tersebut dapat memengaruhi perilaku pelanggan, sehingga membuat beberapa orang memilih merek yang lebih mahal.

5. Membantu Anda bersaing

Banyak bisnis menggunakan psychological pricing, jadi beradaptasi dengan hal ini dapat membantu Anda tetap kompetitif. Di banyak pasar, para pesaing saling memantau harga satu sama lain dan mencoba untuk mengalahkan harga satu sama lain.

Jika Anda menggunakan psychological pricing untuk menyiratkan harga yang lebih unggul, Anda mungkin akan membuat pesaing enggan untuk mencoba menawarkan harga yang lebih rendah, dan mereka mungkin akan memilih strategi yang berbeda.

6. Menarik pembeli online

Banyak pembeli online mengurutkan pilihan mereka berdasarkan harga untuk mengidentifikasi barang yang paling terjangkau.

Jika pelanggan menyaring barang berdasarkan harga terendah hingga tertinggi, harga psikologis dapat membantu produk Anda muncul lebih cepat dalam pencarian mereka.

Demikian pula, pembeli online terkadang menggunakan alat perbandingan harga yang menjelajahi situs untuk mencari produk termurah dalam kategori yang ditargetkan.

Jika pesaing menjual produk seharga 200.000, Anda dapat memilih untuk memberi harga mesin yang sama dengan harga 199.000. Alat perbandingn mungkin melaporkan kepada pelanggan bahwa Anda memiliki harga termurah untuk produk yang mereka inginkan.

Baca juga: Harga Keseimbangan: Pengertian Lengkap dan Cara Hitungnya

7. Menawarkan pengalaman yang menyenangkan

Banyak orang menikmati perasaan mendapatkan nilai yang lebih baik. Psychological pricing dapat membantu pelanggan merasa lebih percaya diri dalam pembelian mereka, dan mereka mungkin mulai mengasosiasikan pencapaian dengan pengalaman berbelanja di bisnis Anda. Hal ini dapat meningkatkan loyalitas pelanggan.

8. Mengumpulkan data tentang strategi

Menguji berbagai metode psychological pricing dapat memberi Anda data tentang strategi apa yang ditanggapi oleh pelanggan Anda.

Karena penetapan harga psikologis mudah diterapkan, Anda dapat dengan mudah mencoba berbagai strategi dan membandingkan tingkat keberhasilannya.

Dengan mengumpulkan dan menganalisis data ini, Anda dapat berkomitmen pada strategi jangka panjang yang teruji dan berhasil.

9. Merangsang lebih banyak penjualan

Anda dapat menggunakan harga psikologis untuk meningkatkan penjualan secara cepat dengan menciptakan rasa urgensi.

Hal ini dapat membantu Anda mencapai target, menghasilkan trafik, dan menunjukkan keberhasilan kepada para pemangku kepentingan.

Misalnya, jika Anda berharap untuk memenuhi kuota penjualan sebelum akhir bulan, mengiklankan penjualan satu hari saja dapat mendorong pembelian dalam jumlah besar dari pelanggan yang tidak ingin melewatkan harga rendah sementara.

10. Menghemat waktu dan uang

Dibandingkan dengan strategi penjualan lainnya, penetapan harga psikologis mudah dan murah untuk diterapkan.

Daripada menghabiskan sumber daya untuk pengembangan produk atau desain, Anda dapat menguji harga psikologis dengan penyesuaian kecil dan iklan sederhana.

Ini juga bisa menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan penjualan dengan investasi atau persiapan yang minimal.

Baca juga: Harga Penjualan: Pembahasan Lengkap dan Bedanya dengan HPP

11. Mendapatkan rekomendasi

Social proof bisa menjadi alat pemasaran yang berharga. Dengan menawarkan pelanggan Anda rasa nilai, Anda dapat meningkatkan kemungkinan mereka merekomendasikan produk Anda kepada orang lain.

Psychological pricing dapat meningkatkan permintaan dan meningkatkan minat terhadap produk Anda. Ulasan pelanggan, postingan media sosial, dan dukungan dari tokoh masyarakat juga dapat memperkuat reputasi Anda.

12. Mendorong penelitian

Untuk menentukan detail strategi psychological pricing Anda, Anda dapat melakukan riset tentang aktivitas pasar.

Penting untuk memahami harga pesaing, pendekatan populer, dan perilaku konsumen sehingga Anda dapat membuat keputusan yang didukung data saat menentukan harga.

Penelitian ini dapat mengungkapkan wawasan berharga tentang pelanggan dan pesaing Anda dan dapat membantu Anda menyempurnakan strategi bisnis secara keseluruhan di semua departemen.

Apa Kekurangan Psychological Pricing

Psychological Pricing 3

Berikut adalah tujuh kekurangan dari psychological pricing:

1. Bergantung pada permintaan

Beberapa teknik penetapan harga psikologis membutuhkan permintaan yang konsisten agar berhasil. Konsumen biasanya hanya menafsirkan nilai ketika mereka bersedia membeli produk dengan harga asli yang lebih tinggi.

Metode yang mengandalkan urgensi juga biasanya bekerja lebih baik ketika produk memiliki permintaan yang tinggi karena pelanggan mungkin akan melakukan pembelian cepat sebelum persediaan habis.

Untuk mengatasi hal ini, buatlah strategi pemasaran yang komprehensif untuk mendorong permintaan dengan menggunakan faktor-faktor selain harga.

Baca juga: Memahami Indeks Harga: Arti, Jenis, Kegunaan, dan Rumusnya

2. Risiko hilangnya kepercayaan

Bertindak dengan integritas dapat menjadi hal yang penting ketika membangun loyalitas dan kepercayaan dengan pelanggan Anda.

Beberapa pelanggan mungkin mengenali psychological pricing dan merasa tertipu, yang mengakibatkan potensi kehilangan pendapatan dan kerusakan reputasi Anda.

Untuk membina hubungan yang positif dengan pelanggan Anda, tawarkan informasi yang transparan mengenai penetapan harga dan hanya pilih strategi yang sesuai dengan nilai-nilai perusahaan Anda.

Misalnya, jika Anda mengiklankan harga diskon secara online tanpa menyertakan harga pengiriman, Anda dapat menambahkan perincian biaya pengiriman, pajak, dan biaya pada halaman checkout untuk memberikan pemahaman penuh kepada pelanggan tentang harga sebelum mereka menyelesaikan pembelian.

3. Menetapkan ekspektasi yang tidak berkelanjutan

Menggunakan harga psikologis secara konsisten dapat memengaruhi pemahaman pelanggan tentang harga standar untuk produk Anda.

Jika pelanggan biasanya mendapatkan apa yang mereka anggap sebagai diskon yang signifikan untuk suatu produk, mereka mungkin tidak mau membeli dari Anda dengan harga penuh.

Agar tidak terjebak dalam siklus penetapan harga psikologis jangka panjang, rencanakan untuk menggunakan metode ini dengan hemat dan dengan pertimbangan yang matang.

4. Memberikan hasil yang tidak konsisten

Meskipun psychological pricing bergantung pada prinsip-prinsip psikologi manusia, perilaku pelanggan terkadang tidak dapat diprediksi. Beberapa konsumen mungkin tidak merespons harga psikologis seperti yang Anda harapkan.

Untuk membantu Anda mencapai tujuan, pertimbangkan untuk mengkomunikasikan harga dengan cara yang berbeda untuk menjangkau lebih banyak konsumen.

5. Melelahkan pelanggan

Meskipun penjualan dan promosi bisa menarik, beberapa pelanggan mungkin bosan dengan perubahan harga. Konsistensi bisa menarik, dan penting bagi pembeli untuk mengetahui apa yang diharapkan saat menyusun anggaran.

Untuk mengurangi risiko pelanggan memilih pesaing dengan harga yang lebih stabil, usahakan untuk menggunakan harga psikologis pada acara-acara khusus seperti penjualan hari raya.

Mungkin juga akan membantu jika Anda menggunakan potongan harga yang konsisten setiap saat, seperti menjalankan penjualan “beli satu gratis satu” setiap hari libur besar.

Baca juga: Pengertian Harga Pasar dan Hubungannya dengan Bisnis Anda

6. Menyiratkan kualitas yang lebih rendah

Beberapa konsumen mengasosiasikan harga diskon dengan barang berkualitas lebih rendah. Menggunakan harga psikologis secara konsisten dapat merusak reputasi Anda dengan menyiratkan bahwa produk Anda kurang bergengsi.

Untuk menjaga persepsi positif terhadap produk Anda, pastikan standar kualitas yang konsisten dan tawarkan informasi yang jelas kepada pembeli tentang bahan yang Anda gunakan untuk membuat barang Anda.

Anda juga dapat menggunakan pemasaran untuk mengasosiasikan produk Anda dengan kemewahan dengan memilih juru bicara terkenal dan menyusun inventaris Anda dengan hati-hati.

Kesimpulan

Itulah pembahasan lengkap mengenai psychological pricing beserta jenis, kelebihan, dan kekurangannya.

Menambahkan unsur psikologi pada strategi penetapan harga Anda dapat mendorong pelanggan untuk mengambil tindakan, membantu Anda mendorong lebih banyak penjualan, dan meningkatkan CPV (customer perceived value) Anda.

Namun, jika Anda tidak mengingat target pembeli Anda atau menggunakan taktik ini secara strategis, taktik ini dapat memberikan efek sebaliknya.

sugi priharto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × 5 =