Stakeholder Engagement: 7 Contoh Penerapannya di Bisnis Kecil

stakeholder engagement banner

Stakeholder engagement adalah proses perusahaan dalam membangun hubungan yang baik dengan stakeholder, atau mereka yang memiliki kepentingan terhadap bisnis.

Setiap stakeholder (pelanggan, rekan kerja, karyawan, atau investor) memiliki kebutuhan, harapan, dan tingkat pengaruh yang berbeda terhadap bisnis.

Ketika dilakukan dengan baik, stakeholder engagement dapat membantu bisnis meningkatkan kepercayaan, mengurangi risiko, dan mendukung pencapaian tujuan jangka panjang.

Lalu, apa sebenarnya stakeholder engagement, mengapa hal ini penting bagi bisnis, dan bagaimana cara menerapkannya secara efektif? Apakah teori ini hanya relevan untuk perusahaan besar dan tidak untuk bisnis kecil?

Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut.

Apa Itu Stakeholder Engagement?

Stakeholder engagement adalah proses yang dilakukan bisnis untuk mendengarkan, bekerja sama dengan, atau memberikan informasi kepada para pemangku kepentingan (stakeholder).

Proses ini mencakup identifikasi, pemetaan, dan penentuan prioritas stakeholder guna menentukan metode komunikasi yang paling efektif sekaligus memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara optimal.

Stakeholder engagement membantu bisnis Anda secara proaktif memahami kebutuhan dan harapan setiap pihak yang memiliki kepentingan.

Hal ini dapat membangun hubungan yang lebih kuat, meningkatkan kepercayaan dan keyakinan, serta memperoleh dukungan terhadap berbagai inisiatif penting organisasi.

kledo banner 3

Baca Juga: Mengenal Konsep Kesatuan Usaha dalam Prinsip Dasar Akuntansi

Manfaat Mengukur Stakeholder Engagement bagi Kinerja Bisnis

Stakeholder Engagement 1

Berikut beberapa manfaat utama dari mengukur stakeholder engagement:

1. Membangun kepercayaan dan hubungan yang lebih kuat

Berinteraksi dengan stakeholder mulai dari konsumen hingga investor bisa membangun kepercayaan dan hubungan yang erat.

Dengan melibatkan stakeholder dalam proses pengambilan keputusan dan mendengarkan masukan mereka, perusahaan menunjukkan transparansi dan komitmen terhadap kepentingan berbagai pihak.

Sebagai contoh, perusahaan yang secara rutin membagikan laporan kinerja kepada investor cenderung lebih dipercaya karena dianggap terbuka mengenai kondisi bisnisnya.

Begitu pula dengan perusahaan yang aktif mendengarkan masukan pelanggan untuk meningkatkan kualitas produk atau layanan.

2. Membantu menyusun strategi keterlibatan yang lebih efektif

Setiap kelompok stakeholder memiliki kebutuhan dan harapan yang berbeda. Oleh karena itu, perusahaan perlu memahami cara berkomunikasi yang paling efektif dengan masing-masing kelompok.

Data yang diperoleh dari pengukuran stakeholder engagement dapat membantu perusahaan mengetahui:

  • Stakeholder mana yang paling aktif memberikan masukan.
  • Kelompok mana yang membutuhkan perhatian lebih besar.
  • Saluran komunikasi yang paling efektif.
  • Isu yang paling sering menjadi perhatian stakeholder.

Misalnya, pelanggan mungkin lebih responsif terhadap survei online, sedangkan investor lebih membutuhkan laporan keuangan dan pertemuan berkala. Dengan memahami perbedaan ini, perusahaan dapat menyusun strategi komunikasi yang lebih tepat sasaran.

3. Mendukung kepatuhan terhadap regulasi

Dalam banyak industri, perusahaan wajib menjaga hubungan yang baik dengan regulator dan memenuhi berbagai persyaratan pelaporan.

Melalui stakeholder engagement yang terukur, perusahaan dapat memastikan bahwa kebutuhan informasi dari regulator, pemerintah, maupun pemegang saham telah terpenuhi dengan baik.

Contohnya, perusahaan perlu menyampaikan laporan pajak, laporan keuangan, atau laporan keberlanjutan secara akurat dan tepat waktu.

Baca Juga: Apa Itu Teori Stakeholder? Contoh Penerapannya dalam Bisnis

4. Mengoptimalkan penggunaan sumber daya

Tidak semua program keterlibatan stakeholder memberikan hasil yang sama. Dengan mengukur tingkat keterlibatan dan kepuasan stakeholder, perusahaan dapat mengetahui aktivitas mana yang memberikan dampak terbesar.

Sebagai contoh, jika perusahaan menemukan bahwa pelanggan lebih menghargai peningkatan layanan daripada kampanye promosi tertentu, maka anggaran dapat dialihkan ke area yang memberikan manfaat lebih besar.

Pendekatan berbasis data seperti ini membantu perusahaan menggunakan waktu, tenaga, dan biaya secara lebih efisien.

5. Membantu mengelola risiko bisnis

Komunikasi yang rutin dengan stakeholder memungkinkan perusahaan mengidentifikasi berbagai risiko seperti:

  • Ketidakpuasan pelanggan.
  • Keluhan supplier terkait pembayaran.
  • Kekhawatiran investor terhadap kinerja perusahaan.
  • Masalah kepatuhan terhadap regulasi.

Misalnya, jika supplier mulai mengeluhkan keterlambatan pembayaran, perusahaan dapat segera mengambil tindakan sebelum hubungan bisnis terganggu atau pasokan terhambat.

Baca Juga: Tips Manajemen Strategis, Tahapan dan Pengertiannya Pada Bisnis

Cara Memetakan Stakeholder dalam Bisnis

Stakeholder Engagement 2

Setiap bisnis memiliki banyak pihak yang berkepentingan terhadap operasional dan kinerjanya. Mulai dari pelanggan, karyawan, supplier, investor, hingga pemerintah.

Namun, tidak semua stakeholder memerlukan tingkat komunikasi dan perhatian yang sama.

Karena itu, perusahaan perlu melakukan stakeholder mapping atau pemetaan stakeholder.

Tujuannya adalah untuk mengetahui siapa saja stakeholder yang paling berpengaruh terhadap bisnis dan siapa yang paling berkepentingan terhadap keputusan perusahaan.

Dengan pemetaan yang tepat, bisnis dapat mengalokasikan waktu, tenaga, dan sumber daya secara lebih efektif.

Perusahaan juga dapat menentukan jenis komunikasi yang paling sesuai untuk setiap kelompok stakeholder.

Matriks Stakeholder

Salah satu metode yang paling sering digunakan adalah mengelompokkan stakeholder berdasarkan dua faktor:

  • Tingkat kepentingan (interest)
  • Tingkat pengaruh (influence)

Hasilnya, stakeholder dapat dibagi menjadi empat kelompok berikut.

1. Kepentingan Rendah, Pengaruh Rendah

Kelompok ini tidak terlalu terpengaruh oleh keputusan bisnis dan juga tidak memiliki pengaruh besar terhadap perusahaan.

Contohnya:

  • Masyarakat umum yang tidak menggunakan produk perusahaan
  • Pengunjung website yang belum menjadi pelanggan
  • Vendor kecil yang hanya sesekali bekerja sama

Untuk kelompok ini, perusahaan biasanya cukup memberikan informasi penting secara berkala tanpa perlu melakukan komunikasi yang intensif.

2. Kepentingan Rendah, Pengaruh Tinggi

Stakeholder dalam kelompok ini mungkin tidak terlalu tertarik dengan aktivitas harian perusahaan, tetapi mereka memiliki kemampuan untuk memengaruhi bisnis secara signifikan.

Contohnya:

  • Regulator atau instansi pemerintah
  • Otoritas pajak
  • Investor pasif yang memiliki kepemilikan saham cukup besar

Meskipun komunikasi tidak perlu dilakukan setiap saat, perusahaan harus tetap menjaga hubungan baik dan memastikan mereka memperoleh informasi penting ketika dibutuhkan.

Misalnya, perusahaan perlu menyampaikan laporan keuangan yang akurat kepada investor atau memastikan kepatuhan pajak untuk menghindari masalah dengan regulator.

3. Kepentingan Tinggi, Pengaruh Rendah

Kelompok ini sangat memperhatikan aktivitas perusahaan, tetapi tidak memiliki kekuatan besar untuk memengaruhi keputusan bisnis.

Contohnya:

  • Karyawan
  • Pelanggan setia
  • Komunitas pengguna produk

Mereka biasanya ingin mengetahui perkembangan perusahaan dan memberikan masukan. Karena itu, komunikasi yang rutin dan terbuka sangat penting.

Sebagai contoh, pelanggan mungkin ingin mengetahui peningkatan layanan yang dilakukan perusahaan, sedangkan karyawan ingin memahami kondisi keuangan bisnis dan rencana perusahaan ke depan.

4. Kepentingan Tinggi, Pengaruh Tinggi (Stakeholder Utama)

Ini adalah kelompok stakeholder yang paling penting bagi perusahaan. Mereka memiliki pengaruh besar dan sangat berkepentingan terhadap keberhasilan bisnis.

Contohnya:

  • Pemilik usaha
  • Investor utama
  • Direksi
  • Supplier strategis
  • Mitra bisnis utama

Kelompok ini membutuhkan komunikasi yang lebih sering dan lebih mendalam dibandingkan stakeholder lainnya.

Misalnya, investor utama mungkin ingin melihat laporan keuangan secara berkala untuk menilai kinerja perusahaan, sementara supplier perlu mengetahui rencana pembelian agar dapat mengelola persediaannya.

Contoh Stakeholder Mapping pada Bisnis Distributor

Misalnya sebuah perusahaan distributor bahan makanan ingin memetakan stakeholder-nya:

StakeholderKepentinganPengaruh
Pemilik usahaTinggiTinggi
InvestorTinggiTinggi
Supplier utamaTinggiTinggi
KaryawanTinggiRendah
Pelanggan retailTinggiRendah
Kantor pajakRendahTinggi
Masyarakat umumRendahRendah

Dari pemetaan tersebut, perusahaan dapat memprioritaskan komunikasi dengan pemilik usaha, investor, dan supplier utama karena mereka memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan bisnis.

Meskipun stakeholder berada dalam kelompok yang sama, kebutuhan mereka belum tentu sama.

Sebagai contoh:

  • Investor mungkin membutuhkan laporan keuangan yang detail.
  • Supplier lebih membutuhkan informasi mengenai jadwal pembayaran dan rencana pembelian.
  • Karyawan lebih tertarik pada informasi terkait stabilitas perusahaan dan peluang pengembangan karier.

Karena itu, perusahaan perlu menyesuaikan cara berkomunikasi dengan setiap stakeholder agar informasi yang diberikan benar-benar relevan dan mudah dipahami.

Baca Juga: Memahami Fungsi Treasury Management dalam Perusahaan

Bagaimana Cara Bisnis Kecil dan UMKM Menerapkan Stakeholder Engagement?

Stakeholder Engagement 3

Untuk bisnis kecil dan UMKM, stakeholder engagement tidak perlu serumit perusahaan besar.

Yang terpenting adalah memahami siapa pihak yang paling berpengaruh terhadap kelangsungan bisnis dan mengambil tindakan yang sesuai.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda lakukan:

1. Buat daftar stakeholder utama

Mulailah dengan mengidentifikasi siapa saja yang paling memengaruhi bisnis.

Kita anggap Anda menjalankan toko retail kecil. Kira-kira daftarnya akan seperti ini:

StakeholderPengaruhKepentingan
PemilikTinggiTinggi
Pelanggan tetapTinggiTinggi
Supplier utamaTinggiTinggi
KaryawanSedangTinggi
BankTinggiSedang
PemerintahTinggiRendah

Setelah itu fokuskan waktu dan sumber daya pada stakeholder yang berada di kategori pengaruh dan kepentingan tinggi.

2. Kumpulkan feedback pelanggan secara rutin

Anda bisa meningkatkan bisnis Anda agar lebih sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan.

Caranya adalah dengan bertanya pada mereka keluhan apa saja yang mereka hadapi, produk apa yang ingin mereka lihat, atau bagaimana menurut mereka pengalaman berbelanja di toko.

Jika 30% pelanggan mengeluhkan stok yang sering kosong, berarti perbaikan persediaan harus menjadi prioritas.

3. Bangun hubungan yang lebih dekat dengan supplier

Anda bisa membayar tagihan tepat waktu, memberi informasi kebutuhan stok jauh-jauh hari, dan mendiskusikan proyeksi permintaan saat musim ramai.

Misalnya, menjelang Ramadan Anda bisa memberikan estimasi kebutuhan produk dari jauh hari. Dengan cara ini, Anda biasanya lebih mudah mendapatkan prioritas pasokan daripada toko lain.

4. Tingkatkan transparansi kepada investor atau partner

Jika bisnis memiliki investor atau partner, berikan laporan keuangan berkala. Jangan lupa untuk menjelaskan pencapaian dan tantangan yang bisnis alami.

Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan dan memudahkan saat bisnis membutuhkan tambahan modal.

Baca Juga: 21 Manfaat Laporan Keuangan bagi Bisnis dan Stakeholders

5. Libatkan karyawan dalam perbaikan bisnis

Karyawan sering kali mengetahui masalah operasional yang tidak Anda sadari.

Anda bisa mengadakan diskusi bulanan, meminta saran perbaikan proses kerja, dan tanyakan kendala yang mereka hadapi sehari-hari.

Contohnya, kasir mungkin merasa proses checkout terlalu lama dan menyebabkan antrean pelanggan. Solusinya bisa dengan menggunakan aplikasi kasir dan menambah metode pembayaran digital seperti QRIS.

6. Pantau risiko sebelum menjadi masalah besar

Stakeholder engagement dapat membantu Anda mengidentifikasi risiko dari awal dan mengambil tindakan seperti:

  • Mencatat semua keluhan pelanggan.
  • Memantau keterlambatan pembayaran ke supplier.
  • Perhatikan tingkat turnover karyawan.
  • Evaluasi penurunan pembelian pelanggan tetap.

Jika supplier mulai sering menagih lebih awal atau pelanggan loyal mulai jarang membeli, itu bisa menjadi sinyal masalah yang perlu segera ditangani.

7. Gunakan data untuk mengambil keputusan

Banyak UMKM dan bisnis kecil mengambil keputusan berdasarkan asumsi, tanpa dukungan data yang jelas.

Tapi, Anda bisa menggunakan data untuk menganalisis produk terlaris, memantau arus kas setiap minggu, dan mengukur tingkat kepuasan pelanggan.

Untuk data seperti ini bisa Anda ambil dari data penjualan yang didapatkan dari software akuntansi Anda.

Misalnya, software akuntansi Kledo yang terintegrasi POS bisa menunjukkan kondisi penjualan, pembelian, persediaan, dan memberikan laporan keuangan akurat.

Baca Juga: Tahapan Business Process Management dan Contohnya

Kesimpulan

Stakeholder engagement merupakan proses bisnis membangun hubungan yang lebih kuat dengan pelanggan, karyawan, supplier, investor, maupun pihak lainnya yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan.

Dengan memahami kebutuhan stakeholder dan melibatkan mereka dalam berbagai aktivitas bisnis, perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan, mengurangi risiko, serta menciptakan peluang pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Salah saatu cara mendapatkan kepercayaan stakeholder adalah mengirimkan laporan keuangan yang rapi dan transparan.

Ini bisa terlaksana jika Anda menggunakan software akuntansi seperti Kledo untuk mengelola pencatatan keuangan, membuat laporan secara otomatis, dan menyediakan data yang dibutuhkan untuk mendukung pengambilan keputusan.

Coba Kledo gratis untuk pengelolaan keuangan yang lebih baik.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

fourteen − nine =