Mengenal Akuntansi Keberlanjutan dan Contoh Penerapannya

akuntansi keberlanjutan banner

Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap berbagai masalah lingkungan, akuntansi keberlanjutan (sustainability accounting) semakin dibutuhkan oleh berbagai organisasi.

Jadi, bidang akuntansi ini tidak hanya fokus pada dampak keuangan dari aktivitas bisnis, tapi juga dampaknya terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG).

Di Indonesia, praktik akuntansi keberlanjutan ini mulai diterapkan oleh berbagai perusahaan besar dan emiten, meski penerapannya belum sepenuhnya merata.

Artikel ini akan membahas apa itu akuntansi keberlanjutan, landasan hukumnya di Indonesia, serta contoh studi kasus penerapannya.

Apa Itu Akuntansi Berkelanjutan?

Akuntansi keberlanjutan (sustainability accounting) adalah pendekatan akuntansi yang mengukur, menganalisis, dan melaporkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari aktivitas organisasi, bukan hanya kinerja keuangannya saja.

Konsep ini berkembang sejak awal 1990-an dari “environmental accounting” menjadi cakupan yang lebih luas.

Jadi, sustainability accounting menerapkan manajemen data dan pelaporan akuntansi kepada bidang berikut: dampak lingkungan, tanggung jawab sosial, dan kinerja tata kelola.

Artinya, bisa jadi melacak hal-hal seperti emosi gas perusahaan, mendokumentasikan praktik tenaga kerja, atau wellbeing karyawan.

Tujuan akuntansi keberlanjutan adalah sebagai berikut:

  • Agar stakeholders mengetahui informasi tentang kualitas manajemen dan perusahaan dalam pengelolaan bisnis yang ramah lingkungan
  • Agar stakeholder bisa mengetahui dan menilai kinerja perusahaan serta risiko dan prospeknya sebelum mengambil keputusan
  • Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas
  • Mendorong inovasi produk/layanan yang ramah lingkungan
  • Mendukung pengambilan keputusan strategis jangka panjang
kledo banner 3

Baca Juga: Pahami Konsep Sustainable Business di Era Modern Ini

Apa Hubungan Akuntansi dengan Lingkungan?

Awalnya, akuntansi memang hanya fokus pada pencatatan dan pelaporan aktivitas keuangan.

Lingkungan hidup tidak masuk ke dalam perhitungan ini karena dianggap sebagai sesuatu yang berada di luar batas transaksi ekonomi (eksternalitas).

Tapi nyatanya, aktivitas bisnis tidak pernah bisa dipisahkan dari lingkungan. Misalnya ketika sebuah perusahaan membuang limbahnya ke sungai, biaya kerusakan tersebut tidak muncul dalam laporan keuangannya, tapi menjadi tanggungan masyarakat dan ekosistem sekitar.

Pandangan ini mulai bergeser sejak sekitar tahun 1970-an hingga 1990-an, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan dampak aktivitas industri terhadap lingkungan.

Dari situ muncul berbagai pendekatan yang berupaya mengintegrasikan tanggung jawab lingkungan ke dalam praktik akuntansi, di antaranya environmental accounting, green accounting, dan carbon accounting.

  • Environmental accounting berfokus pada identifikasi, pengukuran, dan pelaporan biaya-biaya yang berkaitan dengan lingkungan, seperti biaya pengelolaan limbah, pemulihan lahan, dan kepatuhan regulasi.
  • Green accounting memasukkan nilai sumber daya alam dan degradasi lingkungan ke dalam sistem perhitungan ekonomi.
  • Carbon accounting secara khusus mengukur dan mencatat emisi gas rumah kaca dari aktivitas operasional perusahaan. Berbagai negara mulai mewajibkan hal ini, termasuk Indonesia.

Dari perkembangan itulah lahir pendekatan yang lebih komprehensif: sustainability accounting.

Pendekatan ini tidak hanya mencakup dimensi lingkungan, tetapi mengintegrasikan tiga dimensi sekaligus: ekonomi, sosial, dan lingkungan, yang dianggap tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Perusahaan yang merusak lingkungan demi keuntungan jangka pendek tidak bisa disebut benar-benar profitable apabila seluruh biaya kerusakan lingkungan tersebut turut diperhitungkan.

Baca Juga: 10 Contoh Packaging Ramah Lingkungan Untuk Bisnis Anda

Apa Landasan Hukum Akuntansi Keberlanjutan di Indonesia?

akuntansi keberlanjutan 1

Berikut merupakan regulasi terkait akuntansi keberlanjutan di Indonesia:

1. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Pasal 74)

Undang-undang ini secara eksplisit mewajibkan perusahaan untuk memperhatikan dimensi sosial dan lingkungan.

  • Pasal 74 UU No. 40 Tahun 2007 menyatakan bahwa perseroan yang kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
  • Pasal 74 ayat (2) mensyaratkan bahwa biaya yang berkaitan dengan pelaksanaan kewajiban sosial dan lingkungan tersebut harus dianggarkan, diperkirakan, dan dilaksanakan secara adil dan wajar.

Catatan: Pasal ini hanya berlaku untuk perusahaan yang berkaitan dengan sumber daya alam, bukan semua jenis perusahaan.

2. UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Pasal 15)

Peraturan yang berkaitan dengan CSR juga diatur dalam Pasal 15 Undang-Undang Penanaman Modal No. 25 Tahun 2007, yang mewajibkan setiap perusahaan yang beraktivitas di daerah dan memiliki kinerja keuangan yang baik untuk melaksanakan program tanggung jawab sosial dan lingkungan.

3. POJK No. 51/POJK.03/2017

Regulasi ini menjadi landasan hukum pertama yang secara eksplisit mewajibkan perusahaan, khususnya sektor jasa keuangan dan emiten publik, untuk menyusun laporan keberlanjutan.

Regulasi ini berlaku efektif sejak 27 Juli 2017 dan mewajibkan entitas-entitas tersebut untuk tidak hanya menerapkan prinsip keuangan berkelanjutan tetapi juga menerbitkan laporan keberlanjutan.

Perusahaan yang wajib mengikuti POJK ini antara lain lembaga jasa keuangan (bank, asuransi, multifinance), emiten, dan perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

4. SEOJK No. 16/SEOJK.04/2021

SEOJK ini berfungsi sebagai panduan operasional bagi perusahaan dalam menyusun laporan keberlanjutan sesuai standar yang ditetapkan OJK.

5. Standar Internasional yang Diadopsi

Selain regulasi domestik, banyak perusahaan juga mengikuti pedoman internasional seperti Global Reporting Initiative (GRI) dan Sustainability Accounting Standards Board (SASB) untuk memastikan laporan mereka sesuai dengan standar global.

Baca Juga: Sistem Akuntansi: Pengertian, Jenis, Metode, Cara Memilihnya

Apa Manfaat Standar Akuntansi Keberlanjutan?

akuntansi keberlanjutan 2

Masih banyak perusahaan yang beranggapan bahwa penerapan kebijakan dan teknologi berkelanjutan akan menurunkan keuntungan perusahaan.

Padahal, kadang penerapannya bisa memberikan berbagai manfaat bagi perusahaan, seperti:

1. Meningkatkan brand image

Komitmen perusahaan untuk melaporkan kinerja keberlanjutan dan penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) kepada publik bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Hal ini dapat meningkatkan reputasi dan citra perusahaan di mata konsumen maupun pemangku kepentingan lainnya.

2. Meningkatkan retensi karyawan

Perusahaan yang memiliki kebijakan ESG yang kuat dan dijalankan secara konsisten tidak hanya lebih menarik bagi konsumen, tetapi juga bagi karyawan dan calon tenaga kerja.

Menurut laporan IBM, 70% karyawan dan pencari kerja menyatakan bahwa program keberlanjutan membuat suatu perusahaan menjadi tempat kerja yang lebih menarik.

Standar akuntansi keberlanjutan membantu perusahaan menunjukkan komitmennya terhadap tujuan ESG sehingga lebih mudah menarik talenta terbaik sekaligus mempertahankan karyawan yang berkualitas.

3. Membantu manajemen risiko

Akuntansi keberlanjutan juga membantu perusahaan mengidentifikasi potensi risiko lingkungan maupun kelemahan dalam operasional sejak dini sehingga dapat mengambil langkah pencegahan sebelum masalah berkembang menjadi lebih besar.

Selain itu, penerapan akuntansi keberlanjutan memudahkan perusahaan mengikuti perkembangan regulasi terbaru serta mengantisipasi perubahan aturan yang dapat memengaruhi kepatuhan perusahaan di masa depan.

4. Meningkatkan kinerja keuangan

Penerapan akuntansi keberlanjutan juga dapat memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan perusahaan.

Dengan mengevaluasi secara objektif penggunaan sumber daya, proses bisnis, dan biaya operasional, perusahaan dapat menemukan berbagai inefisiensi maupun pengeluaran yang tidak diperlukan.

Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi dasar untuk meningkatkan efisiensi melalui penggunaan teknologi, proses, atau material yang lebih ramah lingkungan dan lebih hemat biaya.

Dalam jangka panjang, langkah ini dapat membantu perusahaan mengurangi biaya operasional sekaligus meningkatkan profitabilitas.

Baca Juga: Akuntansi Lingkungan: Tujuan, Manfaat, dan Penerapannya

Bagaimana Penerapan Akuntansi Keberlanjutan di Indonesia?

Bisa dibilang, penerapan akuntansi keberlanjutan di Indonesia belum menyeluruh.

Perusahaan besar (terutama yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia) rata-rata sudah siap karena mereka sudah punya sumber daya manusia dan teknologi pelaporannya.

PT Unilever Indonesia misalnya, sudah mempublikasikan laporan berkelanjutan sejak awal 2000-an dengan mencakup indikator lingkungan seperti penggunaan air dan energi.

Sementara itu, perusahaan menengah dan kecil (UMKM) masih belum bisa menerapkan konsep keberlanjutan ini secara menyeluruh karena beberapa faktor berikut:

  • Rendahnya literasi akuntansi keberlanjutan
  • Minimnya tenaga akuntan terlatih
  • Belum adanya sistem insentif yang mendorong perusahaan untuk mengadopsi pelaporan ini

Selain itu, perusahaan yang sudah menyusun laporan keberlanjutan pun mayoritas masih belum mengukur dampak sosial atau lingkungan secara kuantitatif.

Meski begitu, penerapan akuntansi keberlanjutan di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan, sosial, dan tata kelola

Baca Juga: 15 Produk Ramah Lingkungan yang Dapat Dijadikan Peluang Bisnis

Contoh Penerapan Akuntansi Keberlanjutan di PT Garuda Indonesia

akuntansi keberlanjutan 3

PT Garuda Indonesia adalah salah satu perusahaan di Indonesia yang sudah menerapkan sustainability accounting.

Berikut penjelasan penerapannya berdasarkan jurnal “Penerapan Sustainability Accounting Dalam Mengukur Kinerja Keuangan Berkelanjutan pada PT Garuda Indonesia” yang ditulis Nunik Indra Lestari dan Candra Sigalingging.

Konsep yang melendasi penerapan sustainability accounting di PT Garuda Indonesia

Jurnal ini menjelaskan bahwa penerapan sustainability accounting di PT Garuda Indonesia mengacu pada konsep Triple Bottom Line.

Konsep ini menekankan bahwa perusahaan tidak boleh hanya mengukur keberhasilan dari sisi keuangan semata, tetapi juga harus mempertimbangkan dua dimensi lain, yaitu kinerja sosial dan dampak terhadap lingkungan.

Ketiga dimensi ini sering disingkat sebagai 3P: Profit, People, dan Planet

Komitmen Garuda terhadap Prinsip ESG

Menurut jurnal ini, PT Garuda Indonesia menyatakan komitmen yang kuat dalam menjalankan prinsip-prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam operasionalnya.

Komitmen ini tercermin dalam laporan keberlanjutan tahunan yang diterbitkan perusahaan secara konsisten.

Dalam laporan tersebut, perusahaan memaparkan berbagai kegiatan di luar laporan keuangan, termasuk bagaimana perusahaan berencana untuk tumbuh secara berkelanjutan di periode berikutnya.

Standar pelaporan yang menjadi acuan

Salah satu hal yang jurnal ini soroti adalah bahwa laporan keberlanjutan PT Garuda Indonesia mengacu pada beberapa standar resmi, yaitu:

  • GRI Universal Standards 2021: Standar internasional yang dikeluarkan oleh Global Sustainability Standards Board (GSSB), sebuah badan yang dibentuk oleh Global Reporting Initiative (GRI
  • POJK No.51/POJK.03/2017: Regulasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mewajibkan lembaga jasa keuangan untuk menyusun laporan keberlanjutan
  • SEOJK Nomor 16/SEOJK.04/2021: Surat edaran OJK sebagai panduan teknis pelaporan keberlanjutan

Penggunaan standar-standar ini menunjukkan bahwa Garuda tidak hanya memenuhi kewajiban regulasi domestik, tetapi juga berupaya menyelaraskan pelaporannya dengan praktik terbaik internasional.

Penerapan pada aspek lingkungan

Di dimensi lingkungan, jurnal ini mencatat beberapa inisiatif konkret yang dilaporkan oleh Garuda:

  • Uji Coba Sustainable Aviation Fuel (SAF): Garuda disebutkan telah berhasil menguji penerbangan menggunakan bahan bakar ramah lingkungan. Langkah ini dianggap signifikan karena industri penerbangan termasuk sektor dengan emisi karbon yang cukup besar. Garuda berharap inisiatif ini dapat menginspirasi maskapai nasional lain untuk mulai beralih ke energi hijau.
  • Dukungan terhadap Emisi Nol (Net Zero): Melalui penggunaan SAF dan berbagai program lingkungan lainnya, Garuda menyatakan dukungannya terhadap upaya global untuk mencapai emisi nol.
  • Program Pelestarian Satwa: Garuda juga mendukung program pelestarian satwa yang dilindungi melalui peningkatan pengangkutan kargo untuk keperluan konservasi.
  • Penanaman Mangrove: Perusahaan terlibat dalam kegiatan penanaman pohon mangrove di Pantai Dowora.
  • Pengukuran Emisi Karbon dan Penggunaan Energi: Dalam laporan keuangan terintegrasinya, Garuda mengungkapkan data terkait emisi karbon dan penggunaan energi. Jurnal menyebutkan bahwa pengungkapan ini sudah mulai diwajibkan di Indonesia dan merupakan bagian dari transparansi yang diharapkan dari perusahaan publik.

Penerapan pada aspek sosial

Di dimensi sosial, Garuda berkontribusi dalam mendukung keseimbangan ekonomi dan sosial yang lebih luas dengan mendukung pendanaan untuk UMKM dan juga perluasan layanan penerbangan untuk umrah.

Penerapan pada aspek keuangan berkelanjutan

Pada aspek keuangan, Garuda mengukur kinerjanya melalui indikator-indikator berikut:

  • Profitabilitas: Kemampuan menghasilkan laba
  • Likuiditas: Kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek
  • Solvabilitas: Kemampuan memenuhi kewajiban jangka panjang
  • Efisiensi penggunaan sumber daya
  • Distribusi nilai ekonomi: Seberapa besar nilai yang didistribusikan ke pemangku kepentingan
  • Kontribusi pajak
  • Investasi pada pengembangan masyarakat

Integrasi ke dalam laporan keuangan

Salah satu tantangan terbesar dalam akuntansi keberlanjutan adalah bagaimana mengintegrasikan faktor-faktor non-keuangan ke dalam laporan keuangan tradisional.

Jurnal mencatat bahwa PT Garuda telah mulai mengatasi hal ini melalui beberapa cara:

  • Mengungkapkan data emisi karbon dan penggunaan energi dalam laporan keuangannya
  • Menyertakan risiko berkelanjutan dalam laporan tahunan, untuk membantu investor menganalisis kondisi perusahaan ke depan
  • Melaporkan alokasi pada proyek-proyek hijau sebagai bagian dari green accounting

Baca Juga: Cara Membuat Sustainability Report, Komponen, dan Contohnya

Kesimpulan

Memahami konsep akuntansi keberlanjutan adalah langkah awal yang penting. Sebab, aktivitas bisnis dan industri tidak terpisahkan dari dampak lingkungan dan sosialnya.

Untuk mendukung usaha Anda dalam akuntansi berkelanjutan, gunakan sistem yang bisa mengelola data keuangan sebagai dasar pengambilan keputusan berkelanjutan.

Kledo adalah software akuntansi berbasis cloud yang membantu bisnis menghasilkan laporan keuangan secara otomatis tanpa perlu proses manual yang memakan waktu.

Coba Kledo gratis selama 14 hari sekarang dan rasakan kemudahan mengelola laporan keuangan bisnis Anda.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

4 × 3 =