Tidak semua stakeholder memerlukan atensi yang sama, karena itu Anda perlu melakukan stakeholder analysis untuk mencari tahu siapa yang harus Anda ajak berinteraksi dan sejauh mana.
Dengan melakukan analisis ini, Anda bisa tahu kepada siapa saja Anda harus berkomunikasi terkait kemajuan proyek bisnis Anda.
Setelah menyaring siapa saja orang-orangnya, Anda juga bisa menyusun topik-topik yang perlu Anda sampaikan dan seberapa sering Anda harus berbicara dengan mereka.
Artikel ini akan membahas apa itu stakeholder analysis, cara melakukannya, serta contohnya.
Apa Itu Stakeholder?
Stakeholder adalah setiap individu, kelompok, atau organisasi yang memiliki kepentingan terhadap, terdampak oleh, atau dapat memengaruhi aktivitas dan keputusan suatu perusahaan.
Stakeholder dapat bersifat internal, seperti karyawan dan pemegang saham, maupun eksternal, seperti pemerintah, investor, dan masyarakat setempat.
Menurut teori stakeholder, bisnis tidak boleh hanya mengejar keuntungan pagi pemegang saham tapi juga harus bisa memberikan nilai bagi seluruh stakeholder.
Masalahnya, kepentingan dan perhatian stakeholder bisa berbeda-beda. Ada yang mementingkan imbal hasil finansial (investor), ada juga yang menginginkan peluang kerja (masyarakat setempat) hingga kepatuhan terhadap regulasi dan perlindungan lingkungan (pemerintah).
Oleh karena itu, perusahaan perlu memahami kebutuhan para stakeholder serta menjalin keterlibatan atau engagement yang baik dengan mereka agar usaha dapat beroperasi dengan baik.
Baca Juga:
Apa Itu Stakeholder Analysis?
Stakeholder analysis adalah suatu pendekatan atau serangkaian alat untuk menghasilkan pemahaman mengenai individu maupun organisasi agar dapat memahami perilaku, tujuan, hubungan, dan kepentingan mereka.
Selain itu, analisis ini juga berfungsi untuk menilai pengaruh dan sumber daya yang setiap stakeholder miliki dalam proses pengambilan keputusan atau pelaksanaan proyek bisnis.
Informasi dari analisis ini bisa Anda gunakan untuk memahami bagaimana suatu kebijakan berkembang dan menilai kelayakan arah kebijakan di masa depan.
Selain itu, metode ini juga dapat membantu pelaksanaan proyek, pengambilan keputusan tertentu, atau pencapaian tujuan organisasi, serta mendukung penyusunan strategi dalam mengelola stakeholder yang memiliki peran penting.
Baca Juga: Pengertian Keputusan Manajerial, Karakteristik, Jenis, dan Tahapnya
Manfaat Utama Stakeholder Analysis untuk Bisnis

1. Membantu Memahami Kebutuhan Pihak yang Berkepentingan
Setiap bisnis berinteraksi dengan berbagai stakeholder, mulai dari pelanggan, karyawan, pemasok, investor, hingga pemerintah.
Melalui stakeholder analysis, perusahaan dapat memahami harapan dan kebutuhan masing-masing pihak sehingga dapat mengambil keputusan yang lebih tepat.
Misalnya, pelanggan menginginkan kualitas produk yang konsisten, sementara investor lebih fokus pada profitabilitas dan pertumbuhan bisnis.
2. Mengurangi Risiko Bisnis
Dengan mengetahui potensi konflik atau hal-hal yang bisa menyebabkan stakeholder merasa tidak puas, bisnis Anda bisa mengambil langkah pencegahan dari awal.
Contohnya, terlambat membayar kepada pemasok bisa mengganggu rantai pasok, sedangkan tidak patuh terhadap regulasi perpajakan dapat menimbulkan sanksi dari pemerintah.
3. Mendukung Pengambilan Keputusan yang Lebih Akurat
Stakeholder analysis membantu manajemen mempertimbangkan berbagai sudut pandang sebelum mengambil keputusan strategis.
Sebagai contoh, ketika perusahaan ingin menaikkan harga produk, manajemen dapat mempertimbangkan dampaknya terhadap pelanggan, distributor, dan target laba perusahaan secara bersamaan.
4. Meningkatkan Hubungan dengan Pelanggan dan Mitra Bisnis
Memahami kebutuhan stakeholder memungkinkan perusahaan membangun hubungan yang lebih baik dengan pelanggan, pemasok, maupun mitra usaha.
Hubungan yang kuat dapat meningkatkan loyalitas pelanggan, memperlancar kerja sama bisnis, dan menciptakan peluang pertumbuhan jangka panjang.
5. Membantu Menjaga Kepatuhan dan Tata Kelola Perusahaan
Bagi akuntan dan pemilik bisnis, stakeholder analysis juga berperan dalam memastikan kepatuhan terhadap berbagai peraturan, seperti perpajakan, ketenagakerjaan, dan pelaporan keuangan.
Hal ini dapat mengurangi risiko hukum sekaligus meningkatkan kredibilitas perusahaan.
6. Meningkatkan Reputasi Bisnis
Perusahaan yang memperhatikan kepentingan stakeholder cenderung lebih dipercaya oleh pelanggan, investor, dan masyarakat.
Reputasi yang baik dapat menjadi keunggulan kompetitif yang mendukung pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.
7. Membantu Perencanaan Keuangan dan Operasional
Bagi akuntan, stakeholder analysis dapat menjadi dasar dalam menyusun anggaran, proyeksi arus kas, hingga strategi pengelolaan risiko.
Dengan memahami pihak-pihak yang paling berpengaruh terhadap bisnis, perusahaan dapat mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif.
Baca Juga: Financial Planning and Analysis: Fungsi, Peran, dan Tugasnya
Kapan Stakeholder Analysis Perlu Dilakukan?

Berikut beberapa kondisi ketika stakeholder analysis perlu dilakukan:
1. Saat memulai bisnis
Pada tahap awal, analisis ini membantu pemilik usaha mengidentifikasi pihak-pihak yang akan memengaruhi keberhasilan bisnis, seperti pelanggan, pemasok, investor, dan regulator.
2. Saat menyusun strategi bisnis
Sebelum meluncurkan produk baru, membuka cabang, menaikkan harga, atau memasuki pasar baru, perusahaan perlu memahami bagaimana keputusan tersebut akan memengaruhi stakeholder utama.
3. Saat terjadi perubahan regulasi
Perubahan aturan perpajakan, ketenagakerjaan, atau perizinan dapat memengaruhi hubungan perusahaan dengan pemerintah dan stakeholder lainnya.
Karena itu, stakeholder analysis perlu dilakukan untuk menilai dampaknya terhadap operasional bisnis.
4. Saat menghadapi masalah atau krisis
Ketika terjadi penurunan penjualan, keluhan pelanggan, masalah pemasok, atau kendala keuangan, stakeholder analysis dapat membantu perusahaan menentukan pihak mana yang perlu diprioritaskan dalam penyelesaian masalah.
5. Secara berkala
Banyak perusahaan melakukan analisis setiap tahun atau ketika menyusun rencana bisnis dan anggaran tahunan.
Tujuannya adalah memastikan strategi perusahaan tetap relevan dengan kebutuhan stakeholder.
Baca Juga: Pengertian Analisis Operasional, Cara Kerja, Fungsi, & Tips Melakukannya
Cara Melakukan Stakeholder Analysis
Stakeholder analysis dapat membantu bisnis memahami pihak-pihak yang dapat memengaruhi atau terdampak oleh suatu keputusan.
Baik Anda ingin membuka cabang baru, atau meluncurkan produk baru, prosesnya pada dasarnya terdiri dari empat langkah: mengidentifikasi stakeholder, menganalisis kepentingannya, menentukan prioritas, dan menyusun strategi komunikasi.
Langkah 1: Identifikasi Stakeholder
Mulailah dengan membuat daftar semua pihak yang memiliki kepentingan terhadap bisnis atau keputusan yang akan diambil.
Stakeholder dapat berasal dari dalam maupun luar perusahaan, seperti:
- Pemilik bisnis
- Investor atau pemegang saham
- Karyawan
- Pelanggan
- Pemasok
- Kreditur atau bank
- Pemerintah dan regulator
- Mitra bisnis
- Masyarakat sekitar
Pada tahap ini, buatlah daftar yang selengkap mungkin.
Lebih baik memasukkan stakeholder yang ternyata kurang berpengaruh daripada melewatkan pihak yang ternyata memiliki peran penting terhadap keberhasilan bisnis.
Misal, jika perusahaan ingin membuka cabang baru, stakeholder yang perlu diperhatikan tidak hanya investor dan pelanggan, tetapi juga pemasok, pemerintah daerah, calon karyawan, serta masyarakat di sekitar lokasi usaha.
Langkah 2: Analisis Kepentingan dan Pengaruh Stakeholder
Setelah stakeholder teridentifikasi, langkah berikutnya adalah memahami kepentingan, harapan, dan tingkat pengaruh mereka terhadap bisnis.
Beberapa pertanyaan yang dapat membantu proses analisis antara lain:
- Apa yang mereka harapkan dari keputusan atau kebijakan ini?
- Apa keuntungan atau risiko yang mungkin mereka alami?
- Seberapa besar pengaruh mereka terhadap keberhasilan bisnis?
- Seberapa penting dukungan mereka bagi perusahaan?
Sebagai contoh:
- Investor biasanya berfokus pada profitabilitas dan pertumbuhan bisnis.
- Pelanggan menginginkan produk berkualitas dengan harga yang kompetitif.
- Karyawan mengharapkan lingkungan kerja yang nyaman dan kompensasi yang adil.
- Pemerintah lebih memperhatikan kepatuhan terhadap peraturan dan kewajiban pajak.
Informasi ini dapat diperoleh melalui diskusi internal, survei pelanggan, wawancara, laporan keuangan, maupun pengalaman bisnis sebelumnya.
Langkah 3: Tentukan Prioritas Stakeholder
Tidak semua stakeholder membutuhkan perhatian yang sama. Oleh karena itu, perusahaan perlu menentukan stakeholder mana yang harus menjadi prioritas utama.
Salah satu metode yang sering digunakan adalah Power/Interest Grid, yaitu mengelompokkan stakeholder berdasarkan tingkat pengaruh (power) dan tingkat kepentingan (interest)
Secara umum, stakeholder dapat dibagi menjadi empat kelompok:
| Kelompok | Strategi |
|---|---|
| Pengaruh tinggi, kepentingan tinggi | Libatkan secara aktif dalam pengambilan keputusan. |
| Pengaruh tinggi, kepentingan rendah | Jaga hubungan dan berikan informasi secara berkala. |
| Pengaruh rendah, kepentingan tinggi | Berikan informasi yang cukup dan dengarkan masukan mereka. |
| Pengaruh rendah, kepentingan rendah | Pantau seperlunya. |
Langkah 4: Susun Strategi Komunikasi dan Keterlibatan
Setelah mengetahui stakeholder mana yang menjadi prioritas, langkah terakhir adalah menentukan cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan mereka.
Beberapa hal yang perlu ditentukan meliputi:
- Informasi apa yang perlu disampaikan.
- Seberapa sering komunikasi dilakukan.
- Media komunikasi yang digunakan.
- Siapa yang bertanggung jawab melakukan komunikasi.
Sebagai contoh:
- Investor mungkin membutuhkan laporan kinerja keuangan setiap bulan atau kuartal.
- Karyawan memerlukan pembaruan informasi terkait perubahan kebijakan perusahaan.
- Pelanggan dapat diberi informasi melalui email, media sosial, atau layanan pelanggan.
- Pemasok mungkin membutuhkan koordinasi rutin terkait jadwal pengiriman dan pembayaran.
Dengan strategi komunikasi yang tepat, perusahaan dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan stakeholder sekaligus mengurangi risiko kesalahpahaman dan konflik.
Baca Juga: Komunikasi Pemasaran: Tujuan, Fungsi, dan Strategi yang Efektif
Contoh Stakeholder Analysis dalam Implementasi Software Akuntansi

Agar lebih mudah memahami cara kerja stakeholder analysis, mari lihat contoh penerapannya pada sebuah perusahaan distribusi yang ingin mengganti sistem pencatatan manual dengan software akuntansi terintegrasi.
Langkah 1: Mengidentifikasi stakeholder
Perusahaan terlebih dahulu membuat daftar pihak yang akan terdampak atau dapat memengaruhi keberhasilan implementasi sistem baru.
Daftar stakeholder yang teridentifikasi antara lain:
- Pemilik bisnis
- Tim akuntansi dan keuangan
- Manajer operasional
- Tim penjualan
- Karyawan yang memasukkan transaksi
- Auditor
- Vendor software akuntansi
- Investor atau pemegang saham
Langkah 2: Memahami Kepentingan Stakeholder
Setelah stakeholder diidentifikasi, perusahaan melakukan diskusi dan wawancara untuk memahami kebutuhan, harapan, dan kekhawatiran masing-masing pihak.
| Stakeholder | Kepentingan dan Harapan |
|---|---|
| Pemilik bisnis | Menginginkan laporan keuangan yang lebih cepat, akurat, dan mudah dipantau. |
| Tim akuntansi | Membutuhkan sistem yang mempermudah pencatatan transaksi dan penyusunan laporan. |
| Manajer operasional | Menginginkan data persediaan dan penjualan yang terintegrasi. |
| Tim penjualan | Membutuhkan proses pencatatan transaksi yang lebih sederhana dan cepat. |
| Auditor | Mengharapkan data yang terdokumentasi dengan baik dan mudah ditelusuri. |
| Vendor software | Berfokus pada keberhasilan implementasi dan penggunaan sistem secara optimal. |
| Investor | Menginginkan transparansi serta informasi keuangan yang lebih akurat. |
Langkah 3: Mengelompokkan dan Mengevaluasi Stakeholder
Selanjutnya, perusahaan memetakan stakeholder berdasarkan tingkat pengaruh dan kepentingannya.
Pengaruh Tinggi – Kepentingan Tinggi
Contoh stakeholder di kategori ini adalah:
- Pemilik bisnis
- Tim akuntansi
- Manajer operasional
Kelompok ini perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pengambilan keputusan.
Pengaruh Tinggi – Kepentingan Rendah
Investor adalah satu-satunya pemangku kepentingan di kategori ini. Mereka perlu memperoleh informasi perkembangan proyek secara berkala tanpa harus terlibat dalam aktivitas operasional harian.
Pengaruh Rendah – Kepentingan Tinggi
Contohnya, tim penjualan dan karyawan pengguna sistem. Meskipun tidak memiliki kewenangan besar, mereka akan menggunakan sistem setiap hari sehingga masukan mereka tetap penting.
Pengaruh Rendah – Kepentingan Rendah
Pihak lain yang hanya terdampak secara tidak langsung cukup diberikan informasi sesuai kebutuhan.
Langkah 4: Menyusun Strategi Keterlibatan Stakeholder
Berdasarkan hasil analisis, perusahaan kemudian menyusun strategi komunikasi yang berbeda untuk setiap kelompok stakeholder.
| Stakeholder | Tindakan |
| Pemilik bisnis | – Menyampaikan laporan perkembangan implementasi secara rutin. – Membahas target efisiensi dan manfaat bisnis yang akan diperoleh. |
| Tim akuntansi dan keuangan | – Memberikan pelatihan penggunaan sistem. – Melibatkan mereka dalam proses migrasi data dan pengujian sistem. |
| Manajer operasional | – Menjelaskan dampak sistem terhadap proses bisnis dan pengelolaan persediaan. |
| Karyawan pengguna sistem | – Menyediakan sesi pelatihan dan dukungan teknis. – Membuka saluran umpan balik untuk mengatasi kendala penggunaan. |
| Investor | – Memberikan laporan berkala mengenai biaya implementasi, manfaat yang diperoleh, dan peningkatan efisiensi perusahaan. |
| Vendor software | – Melakukan koordinasi rutin terkait jadwal implementasi, pelatihan, dan penyelesaian masalah teknis. |
Baca Juga: 21 Manfaat Laporan Keuangan bagi Bisnis dan Stakeholders
Kesimpulan
Stakeholder analysis adalah metode untuk membantu perusahaan mengambil keputusan yang lebih tepat dengan mempertimbangkan kebutuhan, kepentingan, dan pengaruh setiap pihak.
Dengan melakukan analisis secara rutin, Anda bisa mengurangi risiko konflik, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, memperkuat hubungan dengan pelanggan dan mitra, serta menjaga keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.
Agar proses pengelolaan stakeholder berjalan lebih efektif, bisnis juga membutuhkan data keuangan yang akurat dan mudah diakses.
Gunakan software akuntansi Kledo yang memungkinkan Anda memantau kondisi keuangan bisnis secara real-time, mengelola arus kas, mencatat transaksi secara otomatis, serta menghasilkan berbagai laporan keuangan yang dibutuhkan untuk mendukung pengambilan keputusan.
Coba gratis Kledo untuk bisnis Anda dan rasakan sendiri kemudahannya.
- Cara Melakukan Stakeholder Analysis dan Contohnya - 15 Juni 2026
- Nota Kesepahaman: Dasar Hukum, Tips Menulis dan Contohnya - 11 Juni 2026
- Stakeholder Engagement: 7 Contoh Penerapannya di Bisnis Kecil - 10 Juni 2026
