Pencatatan Aset Berwujud dan Tidak Berwujud dalam Akuntansi

aset berwujud dan tidak berwujud banner

Semua bisnis memiliki aset, baik yang berwujud maupun tidak berwujud. Aset membantu perusahaan Anda menghasilkan uang kas.

Jika bisnis Anda menangani berbagai jenis aset, Anda perlu memahami perbedaan antara aset berwujud dan aset tidak berwujud serta cara pencatatannya dalam akuntansi. Sebab, keduanya punya perlakuan yang berbeda.

Dengan pemahaman yang tepat, perusahaan dapat mencatat, menilai, dan mengelola aset secara lebih akurat sehingga keputusan bisnis yang diambil pun menjadi lebih tepat.

Artikel ini akan membahas apa itu aset berwujud dan aset tidak berwujud serta menguraikan perbedaan di antara keduanya.

Memahami Aset Berwujud (Tangible Asset)

Aset berwujud (tangible asset) adalah aset fisik yang bisa disentuh, misalnya uang, tanah, peralatan, kendaraan, dan persediaan.

Karena memiliki bentuk fisik, tangible asset mengalami penyusutan. Penyusutan adalah proses pengalokasian biaya tangible asset selama masa manfaatnya. Masa manfaat aset adalah periode ketika aset tersebut memberikan nilai bagi bisnis Anda.

Umumnya, aset mulai kehilangan nilai setelah satu tahun.

Aset berwujud dapat dibagi lagi menjadi dua kategori: aset lancar dan aset tetap yang akan kita bahas lagi nanti.

Pentingnya aset berwujud bagi bisnis

  • Depresiasi (Penyusutan): Penyusutan pada tangible assets merupakan beban nonkas. Artinya, beban ini dapat memberikan manfaat pajak bagi perusahaan tanpa menyebabkan arus kas keluar dari bisnis.
  • Likuiditas: Karena aset lancar berwujud dapat dengan mudah dikonversi menjadi kas, aset tersebut membantu menyediakan likuiditas bagi bisnis dan mengurangi risiko. Selama nilai aset yang dimiliki bisnis lebih besar daripada dana yang digunakan untuk memperolehnya, bisnis umumnya tetap aman dan solvabel.
  • Jaminan: Aset berwujud dapat digunakan sebagai jaminan untuk memperoleh pinjaman dari kreditur.
kledo banner 3

Baca Juga: Cara Menghitung Total Aset dalam Bisnis

Memahami Aset Tidak Berwujud (Intangible Assets)

Berbeda dengan tangible assets, intangible assets adalah aset nonfisik yang memberikan nilai bagi bisnis Anda. Contohnya termasuk paten, merek dagang, hak cipta, dan lisensi.

Intangible assets tidak mudah dikonversi menjadi kas sehingga tingkat likuiditasnya lebih rendah daripada aset tetap.

Nilai intangible assets juga lebih sulit ditentukan karena tidak memiliki bentuk fisik.

Jika tangible asset mengalami depresiasi, maka intangible asset mengalami amortisasi. Amortisasi adalah proses pengalokasian biaya aset tidak berwujud selama masa manfaatnya.

Pentingnya aset tidak berwujud bagi bisnis

  • Menciptakan Keunggulan di Marketplace: Paten, merek dagang, dan hak cipta dapat menciptakan rasa eksklusivitas dan brand perception yang unik.
  • Meningkatkan Pengenalan dan Reputasi Brand: Nama brand, logo, dan loyalitas pelanggan merupakan faktor yang menambah nilai aset tidak berwujud perusahaan. Brand yang kuat membantu perusahaan menarik pelanggan, meningkatkan penjualan, serta memungkinkan penerapan harga premium.
  • Membangun Daftar dan Hubungan Pelanggan: Daftar pelanggan, database, dan hubungan pelanggan yang telah terjalin juga termasuk aset tidak berwujud. Masa manfaat aset ini dapat sangat bervariasi tergantung pada faktor seperti loyalitas pelanggan, dinamika industri, dan perubahan preferensi konsumen.

Baca Juga: Aset Bergerak: Pengertian, Contoh, dan Cara Pencatatannya

Apa Saja Jenis-Jenis Aset Berwujud?

aset berwujud dan tidak berwujud 1

Secara umum, aset berwujud dapat dikelompokkan menjadi aset lancar dan aset tetap.

1. Aset Lancar (Current Assets)

Aset lancar (atau aset jangka pendek) adalah item yang diperkirakan dapat dikonversi menjadi kas atau dijual dalam waktu satu tahun.

Aset ini ibarat cadangan yang bisa perusahaan gunakan saat membutuhkan kas, sehingga bisnis dapat tetap berjalan tanpa harus meminjam uang.

Karena mudah dicairkan, aset ini juga disebut aset likuid.

Meskipun kas adalah contoh paling jelas dari aset lancar, masih ada beberapa contoh lain, seperti:

  • Setara kas: Investasi jangka pendek dengan jatuh tempo 90 hari atau kurang, misalnya obligasi pemerintah jangka pendek.
  • Efek yang dapat diperdagangkan: Investasi dengan jatuh tempo satu tahun atau kurang, seperti obligasi, reksa dana, dan saham.
  • Persediaan: Bahan baku atau barang dagang yang dapat dijual untuk memperoleh kas.
  • Piutang usaha: Tagihan yang harus dibayar pelanggan atau bisnis lain. Misalnya, restoran pizza memiliki tagihan dari platform pengantaran seperti Shopee Food.
  • Beban dibayar di muka: Pembayaran atas barang atau jasa yang belum diterima, yang masih bisa diminta kembali (refund).

Setelah aset jangka pendek dicatat di neraca, Anda dapat menjumlahkannya dengan rumus:

Total Aset Lancar = Kas + Setara Kas + Efek yang Dapat Diperdagangkan + Persediaan + Piutang Usaha + Beban Dibayar di Muka

Contoh: Misalnya, sebuah toko pizza memiliki:

  • Kas dan investasi jangka pendek: Rp50.000.000
  • Total piutang usaha: Rp5.000.000
  • Persediaan: Rp20.000.000
  • Beban dibayar di muka: Rp2.500.000

Maka total aset lancar toko pizza tersebut adalah Rp77.500.000

Angka ini dapat digunakan untuk menghitung rasio likuiditas guna menilai kesehatan keuangan perusahaan dan memastikan bisnis mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

2. Aset Tetap (Fixed Assets)

Aset tetap (juga disebut aset jangka panjang atau non-lancar) adalah aset fisik yang digunakan untuk mendukung operasional bisnis. Jika Anda memiliki bisnis, kemungkinan besar Anda memiliki setidaknya satu aset tetap.

Tiga jenis paling umum dari aset jangka panjang ini dikenal sebagai Aset Tetap, Pabrik, dan Peralatan.

Contoh pada toko pizza:

  • Aset tetap: Tempat usaha
  • Pabrik: Dapur
  • Peralatan: Oven pizza

Sebagian besar aset tetap mengalami penyusutan seiring waktu, kecuali real estat dan tanah yang biasanya nilainya bertahan atau bahkan meningkat. Oleh karena itu, penyusutan perlu dicatat dalam neraca perusahaan.

Contoh:
Misalkan Anda membeli oven pizza baru senilai Rp25.000.000. Jika seluruh biaya langsung dibebankan pada tahun pembelian, laporan laba rugi akan terlihat tidak wajar karena beban menjadi sangat besar dan laba menurun drastis.

Sebaliknya, Anda dapat menggunakan penyusutan dengan mengalokasikan biaya selama masa manfaat aset.

Misalnya, jika masa manfaat lima tahun, maka biaya yang dibebankan setiap tahun adalah Rp5.000.000.

Dengan cara ini:

  • Beban perusahaan menjadi lebih stabil
  • Laporan keuangan mencerminkan biaya aset yang sebenarnya
  • Manfaat pajak tersebar lebih merata selama beberapa tahun

Aset tetap yang disusutkan akan muncul di kolom aset pada neraca dan pada bagian Depletion, Depreciation, & Amortization (DD&A) di laporan laba rugi.

Baca Juga: Tips Mengelola Aset dalam Bisnis Sesuai Standar Akuntansi

Bagaimana Cara Menilai Aset Berwujud?

aset berwujud dan tidak berwujud 3

Karena memiliki bentuk fisik, caranya cukup mudah. Ada tiga metode yang bisa Anda gunakan, seperti:

1. Metode penilaian (Appraisal)

Dalam metode ini, perusahaan menunjuk seorang penilai independen (appraiser) untuk menentukan nilai pasar wajar sebenarnya dari aset perusahaan.

Penilai akan mengevaluasi kondisi terkini aset, termasuk tingkat keusangan serta keausan. Setelah itu, nilai tersebut dibandingkan dengan harga yang mungkin diperoleh aset serupa di pasar terbuka.

2. Metode likuidasi

Aset dapat dikonversi menjadi kas, sehingga penting bagi perusahaan untuk mengetahui nilai minimum yang dapat diperoleh dari penjualan cepat atau likuidasi.

Dalam metode ini, seorang penilai akan menentukan harga yang bersedia dibayar oleh rumah lelang, penjual peralatan, atau pembeli aset dalam jumlah besar untuk aset yang dimiliki perusahaan.

3. Metode biaya penggantian

Metode biaya penggantian umumnya digunakan oleh perusahaan asuransi untuk menghitung nilai aset untuk tujuan pertanggungan.

Metode ini membantu menentukan berapa biaya yang diperlukan untuk mengganti aset tersebut dengan yang sejenis.

Baca Juga: Cara Penghapusan Aset Tetap dan Jurnalnya

Apa Saja Jenis-Jenis Aset Tak Berwujud?

Seperti tangible assets, aset tidak berwujud juga dapat dibagi menjadi dua kategori: identifiable intangible assets dan unidentifiable intangible assets.

1. Aset tak berwujud yang bisa diidentifikasi

Aset jenis ini tidak memiliki bentuk fisik, tetapi dapat dipisahkan dari bisnis Anda serta dapat dibeli atau dijual.

Contohnya meliputi kekayaan intelektual seperti merek dagang, paten, hak cipta, algoritma, dan software komputer.

Biasanya, jenis aset ini memberikan nilai bagi bisnis dalam jangka panjang. Namun, aset ini dapat berdiri sendiri tanpa bisnis Anda dan dapat dijual sebagai aset kepada perusahaan lain.

Contoh:

Pizza Hut pernah memiliki paten untuk alat dispenser saus pizza. Paten tersebut diajukan pada Mei 2000 dan membantu meningkatkan produktivitas karyawan.

Meskipun paten tersebut kini telah kedaluwarsa, Pizza Hut sebenarnya dapat menjualnya ke perusahaan lain selama paten itu masih berlaku.

2. Aset tak berwujud yang tidak bisa diidentifikasi

Sebaliknya, jenis aset ini tidak bisa diperjualbelikan karena tidak dapat dipisahkan dari bisnis Anda. Contohnya meliputi goodwill, nama brand, hubungan pelanggan, dan reputasi brand.

Aset jenis ini sulit diukur secara pasti dan masa manfaatnya tidak selalu jelas. Namun, aset tersebut tetap berkontribusi secara tidak langsung terhadap nilai ekonomi perusahaan.

Contoh:

Reputasi brand dan hubungan pelanggan hanya bernilai jika terus dipelihara melalui penyediaan produk dan layanan berkualitas.

Meski tidak berwujud, keduanya dapat mendorong pembelian berulang dan pertumbuhan bisnis Anda.

Baca Juga: Kapitalisasi Aset: Pengertian, Komponen, Manfaat, dan Tantangan

Bagaimana Menilai Aset Tak Berwujud Bisnis Anda?

aset berwujud dan tidak berwujud 2

Tidak seperti tangible assets yang mudah dinilai, intangible assets tidak memiliki bentuk fisik, jadi susah untuk mengukur ilainya.

Meski begitu, ada beberapa pendekatan yang bisa Anda gunakan untuk menilai aset tak berwujud Anda:

1. Pendekatan pendapatan

Pendekatan ini menilai aset tidak berwujud berdasarkan kontribusinya terhadap pendapatan.

Contohnya, Pizza Hut dapat menggunakan pendekatan pendapatan untuk menentukan nilai paten alat dispenser saus pizza mereka.

Pizza Hut dapat menghitung tambahan pendapatan (atau penghematan biaya) yang dihasilkan alat tersebut serta biaya pemeliharaan selama masa paten untuk memperkirakan nilai patennya.

2. Pendekatan Biaya

Pendekatan ini berdasarkan pada prinsip substitusi. Misanya, “Berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk mengganti aset ini dengan aset sejenis?”

Jika asetnya adalah software, Anda dapat membandingkan harga beberapa software serupa di pasar. Dengan begitu, Anda mengetahui estimasi biaya yang diperlukan jika software tersebut harus diganti.

3. Pendekatan nilai pasar

Caranya, amati kompetitor dan lihat apakah mereka pernah menjual aset tidak berwujud yang serupa secara publik.

Misalnya, Anda menemukan pesaing bisnis menjual paten kepada perusahaan lain. Dari transaksi tersebut, Anda dapat memperkirakan nilai paten serupa yang Anda miliki.

Baca Juga: Aset Keuangan: Pengertian dan Bedanya dengan Real Aset

Pencatatan Aset Berwujud dan Tidak Berwujud dalam Akuntansi

Anda harus memahami cara mencatat tangible dan intangible assets dalam akuntansi. Perlu Anda ingat bahwa akun aset bertambah di sisi debit dan berkurang di sisi kredit.

Misalnya, Anda mengeluarkan Rp5.000.000 untuk membeli persediaan (tangible). Anda perlu mendebit akun persediaan (karena bertambah) dan mengkredit akun kas (karena berkurang).

Hal yang sama berlaku jika Anda mengeluarkan Rp5.000.000 untuk membeli paten (intangible).

Jurnal:

TanggalAkunKeteranganDebitKredit
27/2/2026PersediaanPersediaanRp5.000.000
27/2/2026KasPersediaanRp5.000.000

Depresiasi dan amortisasi

Depresiasi dan amortisasi memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kondisi keuangan perusahaan. Dalam proses ini, beban besar disebarkan dalam beberapa tahun agar terasa lebih ringan.

Beban depresiasi dan amortisasi dicatat dalam laporan laba rugi.

Seperti akun beban lainnya, beban depresiasi dan amortisasi bertambah di sisi debit dan berkurang di sisi kredit.

Depresiasi

Ada dua metode depresiasi yang umum digunakan, yaitu:

  • Metode garis lurus: membebankan biaya aset secara merata (biaya total dibagi masa manfaat)
  • Metode dipercepat: membebankan persentase yang lebih besar pada tahun-tahun awal dan lebih kecil pada tahun berikutnya.

Untuk membuat jurnal beban depresiasi, Anda harus:

  • Mendebit akun beban depresiasi
  • Mengkredit akun akumulasi depresiasi

Contoh:
Misalkan Anda membeli kendaraan seharga Rp20.000.000 dengan masa manfaat lima tahun. Dengan metode garis lurus:

Rp20.000.000 ÷ 5 tahun = Rp4.000.000 beban depresiasi per tahun.

Jurnal:

TanggalAkunKeteranganDebitKredit
2/3/2026Beban DepresiasiKendaraanRp4.000.000
2/3/2026Akumulasi DepresiasiRp4.000.000

Amortisasi

Amortisasi mirip dengan depresiasi. Anda dapat menghitung beban amortisasi dengan membagi biaya aset tidak berwujud dengan masa manfaatnya.

Setelah itu, buat jurnal untuk menunjukkan jumlah beban amortisasi tahunan. Anda perlu mendebit akun beban amortisasi dan mengkredit akun aset tidak berwujud terkait.

Contoh:
Misalkan Anda membeli paten seharga Rp140.000.000 dengan masa manfaat 14 tahun. Setelah membagi biaya dengan masa manfaat (Rp140.000.000 ÷ 14), beban amortisasi tahunan adalah Rp14.000.000

Jurnal:

TanggalAkunKeteranganDebitKredit
2/3/2026Beban AmortisasiPatenRp14.000.000
2/3/2026PatenRp14.000.000

Baca Juga: Pengertian Aset Produktif, Contoh, dan Tips Mengelolanya

Kesimpulan

Bisnis memiliki aset yang berwujud dan juga tidak. Keduanya sama-sama penting karena memiliki fungsinya masing-masing.

Yang terpenting adalah Anda mencatat pembelian dan penurunan nilai aset, sehingga Anda bisa mengelolanya dengan lebih strategis dan membuat keputusan terkait aset dengan lebih baik.

Software akuntansi Kledo memiliki fitur untuk mengelola dan menghitung nilai aset Anda, seperti melacak aset tetap secara efisien, menghitung depresiasi otomatis, dan mendapatkan laporan real-time. Hitung aset Anda, coba gratis sekarang.

sugi priharto

Tinggalkan Komentar

thirteen + ten =