Setiap bisnis yang menjalankan aktivitas jual beli barang hampir pasti berhadapan dengan biaya pengiriman.
Biaya pengiriman ini nanti juga harus dicatat dan dimasukkan ke dalam laporan keuangan. Tapi, banyak yang masih bingung apakah biaya ini termasuk beban operasional, bagian dari harga perolehan, atau justru kategori biaya lain.
Padahal seperti yang kita ketahui, pengelompokan atau klasifikasi akun dalam akuntansi adalah hal yang sangat penting.
Artikel ini akan menjelaskan perbedaan jenis biaya pengiriman, cara mengklasifikasikan, dan penyajiannya di laporan keuangan.
Apa yang Dimaksud dengan Biaya Pengiriman dalam Bisnis?
Biaya pengiriman adalah seluruh pengeluaran bisnis untuk memindahkan barang dari satu pihak ke pihak lain, baik dari pemasok ke gudang, maupun dari gudang ke tangan pelanggan.
Dalam aktivitas bisnis sehari-hari, biaya ini dapat berupa:
- Ongkos kirim kepada jasa ekspedisi atau kurir
- Biaya bongkar muat barang
- Biaya asuransi pengiriman barang
- Biaya transportasi internal (misalnya, pengiriman dari gudang pusat ke cabang)
Meski terlihat sederhana, biaya pengiriman memiliki implikasi akuntansi yang berbeda tergantung pada arah dan tujuan pengiriman tersebut.
Perbedaan Biaya Pengiriman Barang Masuk vs. Barang Keluar
1. Biaya Pengiriman Barang Masuk (Freight-in)
Ini adalah biaya pengiriman yang timbul saat perusahaan membeli atau memperoleh barang dari pemasok.
Biaya ini ditanggung oleh perusahaan sebagai pembeli, dan berkaitan langsung dengan proses pengadaan persediaan.
Contoh: Sebuah toko elektronik memesan 50 unit televisi dari distributor di kota lain. Ongkos kirim sebesar Rp500.000 yang dibayarkan kepada jasa ekspedisi merupakan biaya pengiriman barang masuk.
2. Biaya Pengiriman Barang Keluar (Freight-out)
Ini adalah biaya pengiriman yang timbul saat perusahaan menjual dan mengirimkan barang kepada pelanggan. Biaya ini berkaitan dengan aktivitas penjualan, bukan pembelian.
Freight-out umumnya dicatat sebagai beban operasional dalam laporan laba rugi, karena bersifat periodik dan berulang seiring volume penjualan.
Contoh: Toko elektronik yang sama kemudian menjual satu unit televisi kepada pelanggan dan menanggung ongkos kirim sebesar Rp75.000 ke alamat pelanggan. Biaya ini adalah biaya pengiriman barang keluar.
Baca Juga: Memahami Biaya Pengiriman dalam Akuntansi dan Jurnalnya
Apakah Biaya Pengiriman Termasuk Beban atau Harga Perolehan?

Jawabannya tergantung pada tujuan pengiriman barang.
1. Biaya Freight-In
Berdasarkan PSAK 14, biaya perolehan persediaan mencakup seluruh biaya yang timbul untuk membawa persediaan ke lokasi dan kondisi yang diperlukan.
Dengan demikian, freight-in termasuk dalam komponen harga perolehan persediaan, bukan dicatat sebagai beban terpisah.
Freight-in menambah nilai persediaan di neraca selama barang belum terjual. Tapi ketika barang terjual, nilai tersebut berpindah menjadi bagian dari Harga Pokok Penjualan (HPP) di laporan laba rugi.
Contoh pencatatan jurnal (freight-in):
Perusahaan membeli barang dagangan senilai Rp10.000.000 dengan tambahan ongkos kirim Rp200.000 yang ditanggung pembeli:
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Persediaan Barang Dagangan | Rp10.200.000 | – |
| Kas / Utang Dagang | – | Rp10.200.000 |
Ongkos kirim Rp200.000 digabungkan ke dalam nilai persediaan, bukan dicatat sebagai beban tersendiri.
2. Biaya Pengiriman kepada Pelanggan (Freight-out)
Berbeda dengan freight-in, biaya angkut penjualan atau freight-out adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk mengantarkan barang yang sudah dijual ke tangan pelanggan.
Karena barang sudah berpindah kepemilikan (atau dalam proses penyerahan), biaya ini tidak lagi berkaitan dengan perolehan aset.
Biaya ini timbul sebagai konsekuensi aktivitas penjualan, sehingga freight-out dicatat sebagai beban operasional dalam laporan laba rugi dan biasanya dikelompokkan dalam beban penjualan.
Contoh pencatatan jurnal (freight-out):
Perusahaan menjual barang kepada pelanggan dan menanggung ongkos kirim Rp75.000:
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Beban Pengiriman (Beban Penjualan) | Rp75.000 | – |
| Kas / Utang | – | Rp75.000 |
Tabel perbedaan pencatatan biaya freight-in dan freight out
| Aspek | Freight-in (Angkut Pembelian) | Freight-out (Angkut Penjualan) |
|---|---|---|
| Tujuan | Membawa barang dari pemasok ke perusahaan | Mengirim barang dari perusahaan ke pelanggan |
| Berkaitan dengan | Aktivitas pembelian/pengadaan | Aktivitas penjualan |
| Klasifikasi | Bagian dari harga perolehan persediaan | Beban operasional (beban penjualan) |
| Dampak ke neraca | Menambah nilai persediaan | Tidak memengaruhi nilai persediaan |
| Dampak ke laba rugi | Memengaruhi laba melalui HPP saat barang terjual | Langsung mengurangi laba periode berjalan |
| Contoh akun | Persediaan / Biaya Angkut Pembelian | Beban Pengiriman / Beban Penjualan |
Baca Juga: Mengapa Biaya Pengiriman Perlu Dicatat Rapi dalam Pembukuan?
Bagaimana Cara Mencatat Biaya Pengiriman dalam Laporan Keuangan?

Pencatatan biaya pengiriman tergantung jenis transaksi dan tujuan pengirimannya.
Berikut penjelasannya:
1. Biaya Pengiriman pada Laporan Laba Rugi
Biaya pengiriman disajikan sebagai beban apabila biaya tersebut berkaitan dengan aktivitas penjualan atau operasional perusahaan dan tidak memenuhi kriteria untuk dimasukkan ke dalam harga perolehan aset atau persediaan.
Contohnya adalah biaya untuk mengirim barang kepada pelanggan.
Biaya tersebut dapat dicatat sebagai Beban Pengiriman, Beban Distribusi, atau Beban Penjualan.
Misalnya perusahaan membayar biaya pengiriman Rp75.000 kepada pelanggan. Maka pencatatannya:
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Beban Pengiriman (Beban Penjualan) | Rp75.000 | – |
| Kas / Utang | – | Rp75.000 |
2. Biaya Pengiriman pada Neraca
Biaya pengiriman dapat muncul dalam neraca apabila biaya tersebut merupakan bagian dari biaya perolehan persediaan.
Misalnya, perusahaan membeli barang dagangan Rp10.000.000 dan membayar biaya pengiriman dari pemasok ke gudang sebesar Rp200.000.
Karena biaya tersebut diperlukan untuk membawa persediaan ke lokasi dan kondisi yang diperlukan agar siap dijual, biaya pengiriman dapat dimasukkan ke dalam nilai persediaan.
Nilai persediaan pun menjadi: Rp10.000.000 + Rp200.000 = Rp10.200.000
Dengan demikian, biaya pengiriman tersebut meningkatkan nilai aset persediaan pada neraca.
Ketika barang belum terjual, biaya pengiriman masih melekat pada nilai persediaan. Setelah barang terjual, biaya tersebut menjadi bagian dari HPP dan akhirnya memengaruhi laba rugi.
Sebaliknya, biaya pengiriman kepada pelanggan yang dicatat sebagai beban penjualan tidak menjadi aset dan tidak menambah nilai persediaan. Biaya tersebut langsung dibebankan pada periode terjadinya.
Baca Juga: Pengaruh Biaya Logistik terhadap Profit Margin Bisnis
3. Biaya Pengiriman pada Laporan Arus Kas
Pembayaran biaya pengiriman juga memengaruhi laporan arus kas karena melibatkan arus kas keluar. Klasifikasi arus kasnya bergantung pada jenis transaksi yang mendasari biaya tersebut.
Untuk aktivitas operasional, biaya pengiriman yang berkaitan dengan pembelian atau penjualan barang dalam kegiatan utama perusahaan umumnya termasuk arus kas dari aktivitas operasi.
Contohnya, perusahaan membayar Rp200.000 untuk mengirim barang dari pemasok ke gudang.
Pembayaran tersebut merupakan bagian dari aktivitas pembelian persediaan sehingga menyebabkan kas keluar dari aktivitas operasi.
Begitu pula ketika perusahaan membayar Rp75.000 untuk mengirim barang kepada pelanggan, pembayaran tersebut umumnya merupakan arus kas operasi karena berkaitan dengan aktivitas penjualan perusahaan.
Sementara itu, apabila biaya pengiriman berkaitan dengan perolehan atau pelepasan aset jangka panjang, klasifikasinya dapat menjadi aktivitas investasi.
Misalnya, perusahaan membeli mesin dan membayar biaya transportasi untuk membawa mesin tersebut ke lokasi perusahaan.
Jika biaya tersebut merupakan bagian dari biaya perolehan mesin, pembayaran tersebut dapat termasuk dalam arus kas aktivitas investasi.
| Jenis transaksi | Perlakuan akuntansi | Dampak laporan keuangan | Arus kas |
|---|---|---|---|
| Pengiriman persediaan dari pemasok | Bagian dari biaya persediaan | Menambah aset persediaan | Umumnya aktivitas operasi |
| Pengiriman barang kepada pelanggan | Beban pengiriman/penjualan | Mengurangi laba | Umumnya aktivitas operasi |
| Pengiriman mesin atau aset tetap yang dibeli | Bagian dari biaya perolehan aset | Menambah nilai aset tetap | Umumnya aktivitas investasi |
Jadi, biaya pengiriman tidak memiliki satu perlakuan yang berlaku untuk semua transaksi. Perusahaan perlu melihat tujuan pengiriman dan aset atau aktivitas yang terkait.
Pengiriman untuk memperoleh persediaan dapat menambah nilai persediaan, pengiriman kepada pelanggan umumnya menjadi beban penjualan, sedangkan pengiriman yang berkaitan dengan perolehan aset tetap dapat menjadi bagian dari biaya aset dan arus kas investasi.
Baca Juga: Cara Menghitung dan Mengontrol Biaya Distribusi dalam Bisnis
Bagaimana Cara Mencatat Biaya Pengiriman dalam Jurnal Akuntansi?

1. Jurnal Biaya Pengiriman Saat Pembelian Persediaan
Ketika perusahaan membeli persediaan dan menanggung biaya pengiriman dari pemasok ke gudang, biaya tersebut dapat menjadi bagian dari harga perolehan persediaan.
Artinya, biaya pengiriman tidak langsung dicatat sebagai beban, tetapi menambah nilai persediaan.
Misalnya, perusahaan membeli barang dagangan Rp10.000.000 dan membayar biaya pengiriman Rp200.000. Jurnalnya:
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Persediaan Barang Dagangan | Rp10.200.000 | – |
| Kas / Utang Dagang | – | Rp10.200.000 |
Akun Persediaan Barang Dagangan dicatat di sisi debit karena nilai persediaan bertambah. Sementara itu, Kas atau Utang Dagang dicatat di sisi kredit sesuai dengan cara pembayaran biaya pembelian tersebut.
Dengan demikian, biaya pengiriman sebesar Rp200.000 menjadi bagian dari nilai persediaan. Biaya tersebut nantinya akan masuk ke HPP ketika barang yang bersangkutan dijual.
2. Jurnal Biaya Pengiriman Saat Penjualan
Ketika perusahaan menjual barang dan menanggung biaya pengiriman kepada pelanggan, biaya tersebut umumnya dicatat sebagai beban pengiriman, beban penjualan, atau beban distribusi.
Contohnya, perusahaan membayar biaya pengiriman sebesar Rp75.000 untuk mengirim barang kepada pelanggan. Jurnalnya:
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Beban Pengiriman (Beban Penjualan) | Rp75.000 | – |
| Kas / Utang | – | Rp75.000 |
Akun Beban Pengiriman dicatat di sisi debit karena perusahaan mengalami penambahan beban. Sementara itu, Kas dikreditkan jika biaya langsung dibayar, atau Utang dikreditkan jika perusahaan belum membayarnya.
Biaya tersebut dicatat dalam laporan laba rugi sebagai beban penjualan atau distribusi. Akibatnya, biaya pengiriman akan mengurangi laba periode berjalan dan tidak menambah nilai persediaan.
3. Jurnal Biaya Pengiriman yang Dibayar Pelanggan
Jika biaya pengiriman menjadi tanggungan pelanggan, perlakuannya berbeda. Perusahaan perlu melihat bagaimana biaya tersebut dibayarkan.
Jika pelanggan membayar biaya pengiriman langsung kepada perusahaan jasa ekspedisi, perusahaan umumnya tidak perlu mencatat biaya pengiriman tersebut dalam pembukuannya karena perusahaan tidak menanggung atau membayar biaya tersebut.
Sementara itu, jika perusahaan terlebih dahulu membayar biaya pengiriman kepada ekspedisi kemudian menagih kembali biaya tersebut kepada pelanggan, pencatatannya perlu disesuaikan dengan kebijakan dan sifat transaksi.
Sebagai contoh, perusahaan membayar biaya pengiriman Rp100.000 kepada ekspedisi dan kemudian menagih jumlah tersebut kepada pelanggan.
Jika biaya tersebut ditagihkan kembali, perusahaan dapat mencatat pembayaran awal sebagai piutang atau biaya yang dapat ditagihkan, kemudian mengakuinya sesuai dengan perlakuan pendapatan dan biaya yang diterapkan perusahaan.
Baca Juga: Strategi Bisnis Ekspedisi Terbaik Bagi Anda Pemilik Bisnis Ekspedisi
Kesimpulan
Biaya pengiriman perlu dicatat sesuai dengan jenis dan tujuan transaksinya. Biaya pengiriman saat pembelian persediaan dapat menjadi bagian dari harga perolehan persediaan dan nantinya memengaruhi HPP ketika barang terjual.
Sementara itu, biaya pengiriman kepada pelanggan umumnya dicatat sebagai beban penjualan atau distribusi yang mengurangi laba perusahaan.
Ketepatan pencatatan biaya pengiriman penting agar nilai persediaan, HPP, laba, dan laporan arus kas dapat disajikan secara akurat. Kesalahan dalam mengklasifikasikan biaya pengiriman dapat membuat laporan keuangan tidak menggambarkan kondisi bisnis yang sebenarnya.
Agar pencatatan transaksi dan penyusunan laporan keuangan lebih praktis, Anda dapat menggunakan software akuntansi Kledo.
Kledo membantu bisnis mencatat transaksi dan pengeluaran seperti biaya pengiriman secara otomatis, menyediakan berbagai laporan keuangan, dan manajemen inventaris.
Coba Kledo sekarang juga dan rasakan kemudahannya.
- Green Accounting dan Studi Kasus Penerapannya pada Bisnis - 26 Agustus 2026
- Bagaimana Penyajian Biaya Pengiriman di Laporan Keuangan? - 26 Agustus 2026
- Jurnal Memorial: Cara Membuat dan Contohnya - 24 Agustus 2026
