Green Accounting dan Studi Kasus Penerapannya pada Bisnis

green accounting banner

Green accounting adalah sebuah konsep yang terlahir ketika manusia semakin menyadari dampak aktivitas mereka terhadap lingkungan dan bumi.

Aktivitas bisnis seperti produksi, penggunaan bahan baku, pembuangan limbah, dan emisi sering kali menyebabkan biaya lingkungan yang timbul dalam bentuk kerusakan, baik langsung maupun tidak langsung. Kerusakan ini mengganggu kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Karena fenomena inilah, lahir banyak pemikiran bahwa akuntan perlu memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan dengan mendorong pengungkapan laporan keuangan mengenai biaya lingkungan.

Artikel ini akan membahas apa itu green accounting, bagaimana penerapannya, dan studi kasus penerapannya pada bisnis di Indonesia.

Apa Itu Green Accounting?

Green accounting adalah kegiatan mengumpulkan, menganalisis, dan menyiapkan laporan terkait data lingkungan dan keuangan dalam rangka mengurangi dampak dan biaya kerusakan lingkungan yang ditimbulkan perusahaan dalam melakukan kegiatan usahanya.

Tidak seperti akuntansi tradisional yang hanya melihat transaksi keuangan, green accounting juga mempertimbangkan penggunaan sumber daya alam, biaya lingkungan, emisi, limbah, serta dampak aktivitas perusahaan terhadap ekosistem.

Misalnya, perusahaan tidak hanya menghitung biaya bahan baku yang digunakan dalam produksi, tetapi juga dapat mengidentifikasi material yang terbuang, energi yang dikonsumsi, biaya pengelolaan limbah, serta kewajiban yang mungkin timbul akibat aktivitas lingkungan.

Meskipun menjadi kewajiban, penerapan green accounting membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, perusahaan harus punya strategi untuk mengantisipasi dampak lingkungan sambil memerhatikan pengeluaran.

Dalam jangka pendek, green accounting mungkin memang bisa menurunkan pendapatan perusahaan. Tapi dalam jangka panjang, perusahaan akan menuai manfaat karena bisa menghindari potensi kerugian sebagai akibat kerusakan lingkungan.

kledo banner 2

Baca Juga: Akuntansi Lingkungan: Tujuan, Manfaat, dan Penerapannya

Apa Saja yang Diukur dalam Green Accounting?

Green accounting mengukur berbagai data yang berkaitan dengan lingkungan, misalnya nilai jasa ekosistem, biaya lingkungan, konsumsi sumber daya alam, dll.

Berikut penjelasan lengkapnya:

  • Nilai jasa ekosistem :Manfaat yang diberikan ekosistem dan dapat dipertimbangkan dalam analisis ekonomi.
  • Biaya lingkungan: Termasuk biaya pencegahan, pengelolaan, dan pemulihan lingkungan.
  • Konsumsi sumber daya alam: Seperti bahan baku dan sumber daya lainnya.
  • Penggunaan energi: Termasuk listrik dan bahan bakar dalam aktivitas operasional.
  • Penggunaan air: Penggunaan air baik untuk proses produksi maupun kegiatan operasional.
  • Emisi gas rumah kaca: Termasuk jumlah emisi yang dihasilkan dari aktivitas perusahaan.
  • Produksi limbah: Baik limbah padat, cair, maupun jenis limbah lainnya.
  • Polusi: Pencemaran udara, air, atau tanah yang perusahaan timbulkan.
  • Kewajiban lingkungan: Kewajiban yang muncul akibat aktivitas atau kerusakan lingkungan.
  • Aset lingkungan: Aset yang digunakan untuk pengendalian atau pengelolaan lingkungan.

Baca Juga: Mengenal Akuntansi Keberlanjutan dan Contoh Penerapannya

Apa Saja Jenis Green Accounting?

green accounting 3

Green accounting dapat diterapkan dalam berbagai lingkup, mulai dari kebutuhan internal perusahaan hingga pengukuran ekonomi di tingkat negara.

Setiap jenis memiliki fokus yang berbeda, tetapi secara umum sama-sama bertujuan menghubungkan aktivitas ekonomi dengan aspek lingkungan dan keberlanjutan.

Berikut beberapa jenis green accounting yang umum dibahas:

1. Environmental Management Accounting

Environmental Management Accounting (EMA) merupakan jenis green accounting yang berfokus pada pengelolaan dan analisis informasi lingkungan untuk kebutuhan internal perusahaan.

EMA membantu manajemen mengetahui biaya yang berkaitan dengan penggunaan sumber daya dan dampak lingkungan dari aktivitas operasional.

Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi pemborosan, meningkatkan efisiensi produksi, dan menentukan keputusan bisnis yang lebih tepat.

Salah satu metode yang berkaitan dengan EMA adalah material flow cost accounting (MFCA). Metode ini melacak aliran material dan energi selama proses produksi, termasuk material yang menjadi produk maupun yang hilang sebagai limbah.

Dengan menghubungkan penggunaan material dengan biaya produksi, perusahaan dapat mengetahui bahwa limbah bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga dapat menunjukkan adanya biaya yang terbuang.

Misalnya, bahan baku yang tidak menjadi produk tetap menimbulkan biaya pembelian, pemrosesan, energi, dan pengelolaan limbah.

2. Environmental Financial Accounting

Environmental Financial Accounting berfokus pada bagaimana isu lingkungan memengaruhi informasi dalam laporan keuangan perusahaan.

Jika aktivitas perusahaan menimbulkan kewajiban atau biaya yang berkaitan dengan lingkungan, dampaknya perlu dipertimbangkan dalam penyajian informasi keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.

Beberapa aspek yang dapat diperhatikan antara lain:

  • Aset lingkungan, seperti fasilitas atau peralatan yang digunakan untuk pengendalian pencemaran.
  • Kewajiban lingkungan, yaitu kewajiban yang muncul akibat aktivitas perusahaan terhadap lingkungan.
  • Biaya lingkungan, seperti biaya pengelolaan limbah dan pencegahan pencemaran.
  • Provisi lingkungan, apabila terdapat kewajiban yang memenuhi kriteria pengakuan sesuai standar akuntansi.

Dengan demikian, environmental financial accounting membantu menunjukkan bagaimana risiko dan aktivitas lingkungan dapat berdampak terhadap posisi serta kinerja keuangan perusahaan.

3. National Green Accounting

Jika environmental management accounting dan environmental financial accounting banyak diterapkan pada tingkat perusahaan, national green accounting diterapkan pada tingkat negara.

National green accounting menghubungkan aktivitas ekonomi suatu negara dengan penggunaan sumber daya alam dan perubahan kondisi lingkungan.

Pendekatan ini membantu menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya menghasilkan output dan pendapatan, tetapi juga dapat menyebabkan penggunaan sumber daya alam serta kerusakan lingkungan.

Dalam penerapannya, konsep ini berkaitan dengan beberapa konsep seperti Produk Domestik Bruto (PDB), modal alam, dan neraca lingkungan.

Misalnya, sumber daya alam seperti hutan, mineral, air, dan sumber daya lainnya dapat dipandang sebagai bagian dari modal alam.

Perubahan jumlah atau kualitas sumber daya tersebut kemudian dapat dipertimbangkan dalam analisis ekonomi.

4. Sustainability Accounting

Sustainability accounting memiliki cakupan yang lebih luas karena tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan. Pendekatan ini menghubungkan informasi lingkungan dengan faktor sosial, tata kelola, dan kinerja ekonomi perusahaan.

Dengan ini, perusahaan dapat mengevaluasi bagaimana aktivitas bisnis memengaruhi berbagai aspek keberlanjutan.

Informasi tersebut dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan, penetapan strategi, serta komunikasi kinerja keberlanjutan kepada pemangku kepentingan.

Contohnya, perusahaan dapat menghubungkan informasi penggunaan energi dan emisi dengan kinerja ekonomi, kebijakan ketenagakerjaan dengan aspek sosial, serta kebijakan pengawasan dan pengendalian dengan aspek tata kelola.

Baca Juga: Bisnis Suistanable: Pengertian, Konsep, dan Manfaatnya

Bagaimana Cara Kerja Green Accounting?

green accounting 1

Green accounting dilakukan dengan memasukkan biaya dan dampak lingkungan ke dalam sistem pencatatan keuangan perusahaan yang sudah berjalan.

Berdasarkan penelusuran kami yang merujuk pada jurnal penelitian “The Role of Green Accounting in Enhancing Business Sustainability: A Case Study of Renewable Energy Companies”, ada dua pendekatan yang umum perusahaan gunakan dalam menerapkan green accounting:

1. Mengintegrasikan data ke laporan keuangan utama

Pada pendekatan ini, perusahaan mencatat biaya lingkungan sebagai bagian dari laporan keuangan inti mereka.

Biaya ini biasanya dicatat di laporan keuangan dalam 2 kategori:

  • Biaya langsung, seperti biaya pengurangan emisi dan penggunaan energi
  • Biaya tidak langsung, seperti konsumsi sumber daya selama proses produksi dan pengelolaan limbah

Pelajari perbedaan kedua biaya di atas di artikel ini Apa itu Biaya Langsung? Berikut Pengertian dan Bedanya dengan Biaya Tidak Langsung

2. Membuat laporan keberlanjutan terpisah

Pendekatan kedua adalah menyusun laporan keberlanjutan terpisah (sustainability report).

Laporan ini memuat data kinerja lingkungan seperti jejak karbon, efisiensi energi, dan pengelolaan limbah.

Beberapa alat yang umum digunakan dalam sistem green accounting antara lain:

  • Kredit Karbon: Untuk mengukur dan mengkompensasi emisi karbon yang dihasilkan
  • Indikator Keberlanjutan: Indikator kinerja lingkungan yang bisa dilacak secara berkala
  • Sustainability disclosures: Laporan publik yang menunjukkan komitmen perusahaan terhadap lingkungan

Dalam penyusunan laporan keberlanjutan di atas, perusahaan bisa merujuk 2 kerangka internasional dari UN SEEA dan GRI.

Keduanya sama-sama memberikan standar pengukuran dan pelaporan dampak lingkungan yang bisa diadaptasi oleh berbagai jenis perusahaan.

Baca Juga: Pengertian Etika Keuangan, Manfaat, dan Jenis Prinsipnya

Bagaimana Contoh Penerapan Green Accounting dalam Bisnis?

green accounting 2

Percaya atau tidak, sebenarnya sebagian bisnis di Indonesia sudah punya praktik lingkungan yang baik, hanya saja mereka belum tahu cara mencatatnya dengan benar.

Hal ini juga dialami sebuah pabrik opak di Desa Sidodadi, Deli Serdang.

Berdasarkan jurnal penelitian yang sudah kami sarikan dari jurnal “Green Accounting Practices in Opak Factory SMEs”, pabrik ini sudah memiliki praktik keberlanjutan, seperti:

  • Mengolah limbah padat berupa ampas singkong dan menjualnya sebagai pakan ternak, sehingga mengurangi limbah sekaligus menambah pendapatan
  • Membangun bak penampungan limbah cair untuk mencegah pencemaran lingkungan

Hanya saja, pabrik ini belum mencatat sesuai prinsip green accounting. Misalnya, pembangunan bak limbah masih dicatat sebagai pengeluaran umum, tanpa mengklasifikasikannya sebagai biaya pengelolaan lingkungan.

Pemilik usaha tersebut juga mengaku belum memahmi akuntansi keberlanjutan ini, dan belum ada sumber daya finansial maupun teknis yang memadai penerapannya.

Dampak praktik green accounting pada pabrik opak:

Menurut jurnal, dampaknya bisa dibedakan menjadi jangka pendek dan jangka panjang:

Jangka pendek:

  • Potensi positif: Transparansi pengelolaan biaya lingkungan dan tambahan pendapatan dari penjualan limbah padat
  • Dampak negatif: Pencatatan biaya lingkungan yang masih umum membuat evaluasi efektivitas pengelolaan menjadi tidak akurat.

Jangka panjang:

  • Jika green accounting diterapkan dengan baik, maka usaha bisa menciptakan efisiensi biaya, meningkatkan reputasi bisnis, dan punya daya saing lebih kuat
  • Jika tidak diperbaiki, maka perusahaan kehilangan peluang kompetitif, akses pasar terbatas, dan potensi risiko sanksi regulasi

Baca Juga: Pahami Konsep Sustainable Business di Era Modern Ini

Apa Saja Tantangan Green Accounting?

Penerapan green accounting tidak selalu mudah karena tantangan seperti sulitnya mengumpulkan data, rumitnya pengukurannya, serta biaya penerapan yang tidak sedikit.

Berikut beberapa tantangan utama dalam penerapan green accounting:

1. Kesulitan Menentukan Nilai Moneter Lingkungan

Tidak semua dampak lingkungan mudah diterjemahkan ke dalam nilai rupiah.

Misalnya, menentukan nilai ekonomi dari kualitas udara, keanekaragaman hayati, atau manfaat sebuah ekosistem membutuhkan metode penilaian tertentu.

Kesulitan ini dapat membuat perusahaan harus menggunakan estimasi atau asumsi, terutama ketika tidak tersedia harga pasar yang dapat dijadikan acuan.

2. Keterbatasan Data Lingkungan

Green accounting membutuhkan data seperti penggunaan energi, air, bahan baku, emisi, dan jumlah limbah. Namun, tidak semua perusahaan sudah memiliki sistem pencatatan yang mampu mengumpulkan data tersebut secara rutin dan akurat.

Jika data lingkungan tidak lengkap, perusahaan akan kesulitan melakukan pengukuran dan membandingkan kinerja dari waktu ke waktu.

3. Perbedaan Standar dan Metode Pengukuran

Pengukuran dampak lingkungan dapat menggunakan berbagai standar, indikator, dan metode. Perbedaan pendekatan tersebut dapat menyebabkan hasil pengukuran antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya sulit dibandingkan secara langsung.

Karena itu, perusahaan perlu menetapkan metode pengukuran yang konsisten dan sesuai dengan kebutuhan pelaporan serta regulasi yang berlaku.

4. Ketidakpastian dalam Valuasi Ekosistem

Ekosistem memberikan berbagai manfaat, seperti penyediaan air, penyerapan karbon, perlindungan tanah, dan habitat bagi keanekaragaman hayati. Namun, nilai manfaat tersebut tidak selalu dapat dihitung dengan mudah.

Selain itu, perubahan kondisi ekosistem dapat memberikan dampak dalam jangka panjang sehingga hasil valuasinya dapat mengandung tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi.

5. Biaya Pengumpulan Data

Penerapan green accounting membutuhkan proses pengumpulan, pengolahan, dan verifikasi data lingkungan.

Perusahaan mungkin perlu menyediakan perangkat pengukuran, sistem informasi, tenaga ahli, maupun pelatihan bagi karyawan.

Bagi perusahaan dengan sumber daya terbatas, biaya tersebut dapat menjadi salah satu hambatan dalam menerapkan green accounting secara menyeluruh.

6. Kompleksitas Pengukuran Dampak Lingkungan

Dampak lingkungan tidak selalu muncul secara langsung dari satu aktivitas. Sebuah proses produksi, misalnya, dapat memengaruhi penggunaan energi, air, bahan baku, emisi, dan limbah secara bersamaan.

Selain itu, sebagian dampak baru terlihat dalam jangka panjang. Kondisi ini membuat perusahaan perlu menggunakan pendekatan yang lebih kompleks untuk mengidentifikasi hubungan antara aktivitas ekonomi dan dampak lingkungan.

7. Kesulitan Membandingkan Kinerja Antarindustri

Setiap industri memiliki proses produksi, kebutuhan sumber daya, dan jenis dampak lingkungan yang berbeda. Konsumsi energi sebuah pabrik, misalnya, tidak dapat dibandingkan secara sederhana dengan perusahaan jasa.

Oleh karena itu, indikator green accounting perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing industri.

Perbandingan sebaiknya menggunakan indikator yang relevan agar hasilnya lebih adil dan informatif.

Baca Juga: Cara Membuat Sustainability Report, Komponen, dan Contohnya

Kesimpulan

Green accounting membantu perusahaan melihat aktivitas bisnis dari sudut pandang yang lebih luas dengan mempertimbangkan aspek keuangan sekaligus dampak lingkungan.

Namun, penerapan green accounting membutuhkan data keuangan yang rapi dan akurat sebagai salah satu dasar analisis.

Karena itu, perusahaan perlu memastikan proses pencatatan transaksi dan penyusunan laporan keuangan dilakukan secara terstruktur dan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.

Software akuntansi Kledo membantu perusahaan mencatat dan mengelola transaksi keuangan secara terintegrasi serta menyediakan berbagai laporan keuangan yang dapat digunakan untuk memantau kondisi bisnis.

Dengan pencatatan yang lebih terstruktur, perusahaan dapat memperoleh data keuangan yang lebih mudah dianalisis dan menjadi dasar dalam mengidentifikasi biaya serta aktivitas yang berkaitan dengan penerapan green accounting.

Coba Kledo sekarang dan rasakan manfaatnya sendiri untuk bisnis Anda.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

19 − ten =