Bisnis dengan omzet besar belum tentu memiliki kondisi keuangan yang sehat.
Jika uang tunai yang keluar jauh lebih cepat daripada kas yang masuk, bisnis tetap bisa mengalami kesulitan membayar gaji, supplier, sewa, atau kebutuhan operasional lainnya.
Risiko ini bahkan dapat berujung pada kegagalan bisnis. Mengutip CNBC Indonesia, kehabisan uang menjadi faktor kedua terbesar yang menyebabkan startup di Indonesia gagal berkembang, dengan persentase 29%.
Salah satu metrik yang dapat membantu bisnis memantau dan mencegah kondisi tersebut adalah cash burn rate.
Metrik ini tidak hanya relevan bagi startup yang melakukan ekspansi agresif, tetapi juga bagi UMKM dan bisnis menengah yang ingin memastikan kas cukup untuk membiayai operasional.
Cash burn rate adalah salah satu metrik terpenting di bisnis startup, yang mengukur seberapa cepat perusahaan membelanjakan uang dengan mempertimbangkan arus kas atau pendapatan perusahaan.
Di sini kami akan menunjukkan kepada Anda apa itu cash burn rate, cara menghitungnya, dan manfaat dalam menganalisis cash burn rate pada bisnis.
Apa Itu Cash Burn Rate?
Cash burn rate menunjukkan seberapa cepat perusahaan menggunakan cadangan kasnya dalam periode waktu tertentu. Oleh karena itu, rasio ini merupakan ukuran arus kas negatif.
Istilah ini sering digunakan dalam konteks startup yang masih membakar kas untuk membiayai pertumbuhan. Namun, sebenarnya konsep ini berlaku juga untuk bisnis apa pun.
Indikator ini membantu merencanakan investasi di masa depan dan menunjukkan seberapa tinggi pendapatan (atau jumlah pinjaman) yang setidaknya harus ada untuk mengimbangi pengeluaran.
Dalam kasus start-up atau usaha baru, investor modal ventura biasanya mendanai uang kas pada perusahaan tersebut, karena perusahaan hampir tidak memiliki pendapatan pada tahap awal dan ini akan digunakan untuk pertumbuhan sepenuhnya.
Untuk memastikan bahwa pengeluaran dapat tertutupi setiap saat, investor melihat tingkat cash burn rate sehingga mereka tahu berapa banyak uang tunai yang harus mereka sediakan untuk perusahaan agar dapat menutupi biayanya.
Baca juga: Berbagai Jenis Rumus Penghitungan Arus Kas: Pembahasan Lengkap
Apa Saja Jenis Cash Burn Rate?

Ada dua jenis burn rate dalam perusahaan: gross burn rate dan juga net burn rate.
Gross Burn Rate
Gross burn rate menunjukkan total kas yang dikeluarkan bisnis dalam periode tertentu, tanpa memperhitungkan kas yang masuk.
Gross burn rate = Total Kas Keluar dalam Periode ÷ Jumlah Periode
Misalnya, bisnis mengeluarkan Rp120 juta selama tiga bulan. Maka rata-rata gross burn rate per bulan adalah: Rp120 juta ÷ 3 = Rp40 juta per bulan
Angka ini menunjukkan rata-rata pengeluaran kas bisnis setiap bulan.
Net burn rate
Net burn rate memperhitungkan kas yang masuk selama periode tersebut.
Net burn rate = (Kas Keluar – Kas Masuk) ÷ Jumlah Periode
Di sini, biaya operasional dikurangi dari pendapatan dan diperoleh kerugian operasional. Net burn rate menunjukkan berapa banyak uang tunai yang dibutuhkan perusahaan untuk menjaga operasinya tetap berjalan.
Contohnya, dalam tiga bulan bisnis mengeluarkan Rp120 juta dan menerima kas sebesar Rp60 juta.
Maka:
Net Burn Rate = (Rp120 juta – Rp60 juta) ÷ 3 = Rp20 juta per bulan
Artinya, kas bisnis berkurang rata-rata Rp20 juta setiap bulan.
Kedua metrik ini memiliki kegunaan yang berbeda. Gross burn membantu melihat besarnya pengeluaran, sedangkan net burn memberikan gambaran mengenai seberapa cepat kas benar-benar berkurang setelah memperhitungkan pemasukan.
Baca juga: Perencanaan Likuiditas: Pengertian, Cara Membuat, dan Tantangannya
Apa Manfaat Memantau Cash Burn Rate?

Memantau cash burn rate membantu Anda melihat seberapa cepat kas berkurang dan apakah kondisi tersebut masih sesuai dengan kemampuan bisnis.
Beberapa manfaat utamanya adalah:
- Mengetahui kelayakan bisnis secara finansial: Anda bisa melihat apakah kas yang tersedia cukup untuk membiayai operasional bisnis. Misalnya, omzet meningkat tetapi kas terus menurun. Kondisi ini perlu diperiksa karena bisnis mungkin memiliki pengeluaran atau kebutuhan modal kerja yang terlalu besar.
- Memprediksi perubahan modal: Dengan mengetahui burn rate dan runway, Anda dapat memperkirakan kapan bisnis membutuhkan tambahan modal. Dengan begitu, bisnis memiliki waktu untuk mencari investor, menambah modal, atau mengurangi pengeluaran sebelum kas menipis.
- Memperkirakan waktu untuk mencapai pertumbuhan: Burn rate membantu Anda menilai apakah kas yang tersedia cukup untuk membiayai rencana pertumbuhan. Misalnya, bisnis ingin membuka cabang dalam enam bulan, tetapi runway hanya tersisa empat bulan. Dalam situasi seperti ini, Anda perlu mengevaluasi kembali rencana ekspansi.
- Mengendalikan pengeluaran: Anda bisa mengidentifikasi biaya yang membuat kas cepat berkurang dan mengoptimalkannya,
Baca Juga: Revenue Growth: Pengertian, Metrik, Rumus, dan Cara Meningkatkannya
Apa Itu Cash Runway dan Bagaimana Cara Menghitungnya?
Burn rate akan menjadi lebih berguna ketika digabungkan dengan cash runway.
Cash runway menunjukkan perkiraan berapa lama bisnis dapat bertahan dengan kas yang tersedia jika burn rate tetap berada pada tingkat saat ini.
Cash Runway = Kas yang Tersedia ÷ Net Burn Rate
Misalnya, kas bisnis Anda sebesar Rp200 juta dan net burn rate Rp20 juta per bulan.
Maka: Cash Runway = Rp200 juta ÷ Rp20 juta = 10 bulan
Artinya, bisnis memiliki cadangan kas untuk sekitar 10 bulan apabila tidak ada perubahan pada kondisi kas masuk dan keluar.
Tapi ingat, angka tersebut tidak menjamin bisnis benar-benar akan bertahan selama 10 bulan, karena pendapatan, pengeluaran, kebutuhan modal kerja, kondisi pasar, dan pengeluaran bisa berubah juga.
Tips: Pantau cash runway bersama cash burn rate secara rutin
Baca juga: Accounting Rate of Return (ARR): Pengertian, Rumus, dan Contoh
Contoh Cara Menghitung Cash Burn Rate dari Laporan Arus Kas

Misalnya, diketahui laporan arus kas sebuah perusahaan memiliki data berikut:
| Laporan Arus Kas | Jumlah |
|---|---|
| Arus Kas dari Aktivitas Operasi | |
| Penerimaan dari pelanggan | Rp 60.000.000 |
| Pembayaran biaya operasional | (Rp 50.000.000) |
| Arus Kas Bersih dari Operasi | Rp 10.000.000 |
| Kas awal | Rp 500.000.000 |
| Kas akhir | Rp 510.000.000 |
Pertanyaannya, berapa tingkat burn rate dan cash runaway-nya?
Gross burn rate = 50.000.000
Net burn rate = 60.000.000 – 50.000.000 = 10.000.000
Cash runway (gross) = 500.000.000 / 50.000.000 = 10 bulan
Cash runway (net) = 500.000.000 / 10.000.000 = 50 bulan
Karena perusahaan dalam contoh ini sudah memiliki pendapatan yang tinggi, maka gross burn rate dan net burn rate serta runway masing-masing sangat berbeda satu sama lain.
Jika pendapatan menurun (dalam kasus terburuk menjadi 0) perusahaan akan memiliki cadangan kas selama 10 bulan untuk menutupi biaya operasionalnya.
Baca Juga: 24 KPI dan Metrik dalam Pengelolaan Arus Kas Bisnis
Bagaimana Mendeteksi Silent Cash Burn dalam Bisnis?
Tidak semua kebocoran kas bisa terdeteksi. Ada juga silent cash burn, yaitu fenomena di mana pengeluaran yang terlihat kecil terus terjadi dan akhirnya menggerus kas.
Beberapa contohnya adalah:
1. Biaya langganan yang tidak terpakai
Apakah Anda berlangganan software atau tool yang jarang digunakan? Sebaiknya segera evaluasi sebelum biaya bulanannya terus menggerus kas.
2. Biaya operasional yang membengkak
Pengeluaran seperti listrik, logistik, biaya gaji, sewa, atau biaya administrasi memang sering membengkak seiring pertumbuhan bisnis.
Tapi, jika kenaikan biaya operasional tidak diikuti peningkatan margin yang cukup, kas Anda justru dapat semakin tertekan.
3. Persediaan terlalu banyak
Hati-hati dalam membeli persediaan dalam jumlah besar. Karena meski bisa membantu memenuhi permintaan, tapi persediaan tersebut juga menahan uang sehingga tidak bisa diputar untuk kebutuhan lain.
4. Piutang terlambat dibayar
Penjualan secara kredit dapat meningkatkan pendapatan, tetapi uangnya belum tentu langsung masuk ke rekening bisnis.
Jika piutang menumpuk, bisnis dapat terlihat memiliki penjualan yang baik tetapi mengalami kesulitan menyediakan kas untuk operasional.
5. Promosi yang tidak menghasilkan margin sehat
Mengadakan promosi seperti memberi diskon memang bisa menarik pelanggan dan meningkatkan transaksi.
Tapi, Anda juga perlu melihat dampaknya terhadap kas dan profit. Penjualan yang meningkat tidak selalu berarti kondisi keuangan membaik.
Baca Juga: Perencanaan Keuangan dalam Bisnis: Manfaat dan Cara Melakukannya
Faktor Apa yang Memengaruhi Tingginya Cash Burn Rate?
Tingginya cash burn rate bisa disebabkan oleh 2 jenis faktor: faktor internal dan eksternal, yaitu:
Faktor Internal
- Strategi pertumbuhan yang terlalu agresif: Bisnis yang ingin tumbuh cepat biasanya mengeluarkan banyak biaya untuk pemasaran, promosi, dan mendapatkan pelanggan baru. Jika pengeluaran ini tidak menghasilkan pendapatan yang sebanding, kas akan lebih cepat terkuras.
- Customer acquisition cost (CAC) yang tinggi: Biaya mendapatkan pelanggan perlu dibandingkan dengan customer lifetime value (CLV), yaitu total nilai yang dapat pelanggan berikan selama menggunakan produk atau layanan. CAC yang terlalu tinggi dibandingkan CLTV membuat biaya pemasaran sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
- Operasional yang tidak efisien: Pengeluaran yang tidak memberikan hasil sepadan juga dapat meningkatkan burn rate. Contohnya, biaya branding dengan hasil yang sulit diukur, hubungan dengan vendor yang tidak menguntungkan, atau biaya sewa kantor yang terlalu besar.
- Terlalu banyak merekrut karyawan: Perekrutan yang terlalu agresif sebelum pendapatan bisnis stabil dapat meningkatkan biaya gaji dan biaya terkait lainnya. Akibatnya, kas lebih cepat berkurang setiap bulan.
- Investasi besar dalam R&D dan pengembangan produk: Investasi untuk penelitian, teknologi, dan pengembangan produk memang penting untuk inovasi. Namun, biaya tersebut juga dapat menjadi salah satu sumber pengeluaran terbesar, terutama sebelum produk menghasilkan pendapatan yang cukup.
Faktor Eksternal
- Persaingan pasar yang ketat: Persaingan dapat mendorong startup meningkatkan anggaran pemasaran, penjualan, dan pengembangan produk untuk mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar.
- Tekanan dari investor: Pendanaan venture capital dapat membantu startup berkembang, tetapi juga sering disertai target pertumbuhan yang tinggi. Startup mungkin terdorong mengeluarkan lebih banyak uang untuk mencapai target tersebut dalam waktu singkat.
- Perubahan kondisi pasar: Perubahan kebutuhan pelanggan dan perkembangan teknologi dapat memaksa bisnis mengeluarkan biaya tambahan untuk menyesuaikan produk, layanan, atau model bisnis.
- Regulasi: Perubahan aturan dan kewajiban biasanya juga menambah biaya operasional startup.
Penjelasan di atas kami rangkum dari jurnal artikel “Burn Rate and Long-Term Sustainability of Indonesian Startups: A Literature Review“ yang ditulis oleh Muhammad Yulian Ma’mun, Zainal Ilmi, dan M. Saidi Rahman.
Baca Juga: 30 KPI Keuangan Untuk Pengukuran Kesuksesan Bisnis
Bagaimana Cara Mengurangi Cash Burn Rate?

Berikut adalah 5 langkah untuk mengurangi laju pembakaran kas bisnis Anda:
Langkah 1: Tagih Pendapatan yang Sudah Menjadi Hak Bisnis
Cara paling murah untuk memperpanjang runway adalah mengumpulkan uang yang sebenarnya sudah menjadi hak bisnis, tetapi belum diterima atau piutang.
Menunda piutang berarti bisnis secara tidak langsung membiayai pelanggan sambil terus menghabiskan kas tanpa mendapat bunga.
Tips memperbaiki:
- Segera buat invoice setelah memberikan produk atau layanan
- Otomatiskan pengingat pembayaran
- Perketat syarat pembayaran untuk kontrak baru
- Tetapkan orang yang bertanggung jawab menangani penagihan.
- Untuk bisnis SaaS, coba menawarkan lebih banyak kontrak tahunan dengan pembayaran di muka.
Langkah 2: Perbaiki Gross Margin Sebelum Memotong Pengeluaran
Burn rate dipengaruhi oleh pendapatan dan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan pendapatan tersebut. Karena itu, biaya yang berkaitan langsung dengan penyediaan produk atau layanan perlu diperiksa terlebih dulu.
Contoh:
- Biaya hosting yang terlalu besar karena lingkungan pengembangan menggunakan kapasitas server yang berlebihan
- Audit penyimpanan yang tidak pernah diaudit
- Jika menggunakan payment gateway, biasanya ada biaya pemrosesan. Coba negosiasikan ulang.
Meningkatkan gross margin beberapa persen dapat mengurangi burn rate bulan ini sekaligus bulan-bulan berikutnya. Dampaknya juga akan terus terasa ketika pendapatan bisnis semakin besar.
Langkah 3: Hentikan Produk atau Layanan yang Tidak Memberikan Kontribusi
Bisa saja ada satu produk yang diam-diam disubsidi oleh produk lain karena membutuhkan biaya customer support, infrastruktur, atau pengembangan yang besar, tetapi memberikan margin yang rendah atau bahkan negatif.
Jika kondisinya seperti ini, Anda bisa menghentikan, menaikkan harga, atau mengubah model produk tersebut.
Prinsip ini juga berlaku untuk segmen pelanggan. Misalnya, ada segmen pelanggan yang terlihat bergengsi, tetapi permintaan mereka terlalu banyak atau terlalu menyita waktu, sementara harga yang dibayarkan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Langkah 4: Evaluasi Biaya Operasional Berdasarkan ROI
Evaluasi setiap biaya operasional bisnis, apakah biaya tersebut memberikan manfaat atau return yang jelas.
Misalnya, langganan software yang tidak digunakan, tools dengan fungsi yang sama, atau kantor yang terlalu besar.
Namun, jangan memangkas biaya yang terbukti menghasilkan pendapatan hanya demi memenuhi target burn rate, seperti pengurangan karyawan.
Langkah 5: Kelola Waktu Pengeluaran, Bukan Hanya Jumlahnya
Tahukah Anda, jumlah pengeluaran yang sama dapat memberikan runway yang berbeda tergantung waktu pembayarannya?
Mengatur timing pengeluaran itu penting dan bisa Anda lakukan dengan cara berikut:
- Jangan mengeluarkan modal besar di awal sebelum validasi produk. Keluarkan biaya besar-besaran hanya setelah produk terbukti disukai pasar
- Tunda pengeluaran yang tidak penting ketika situasi sedang tidak baik.
Baca Juga: Cash and Carry: Pengertian dan Perbedaannya dengan Retail
Kesimpulan
Cash burn rate merupakan indikator untuk mengetahui kebiasaan pengeluaran dan cash runaway perusahaan Anda, namun ini bukan satu-satunya metrik yang perlu dilihat saat mengevaluasi pertumbuhan perusahaan Anda.
Untuk mengoptimalkan burn rate Anda, Anda juga harus mempertimbangkan tujuan bisnis, waktu dan energi tim Anda, dan potensi masa depan keuangan perusahaan Anda.
Burn rate bisa Anda ketahui setelah meninjau data keuangan bisnis, terutama laporan arus kas. Jika bisnis Anda memiliki sistem keuangan modern, akan mudah untuk mendapatkan datanya.
Jika Anda belum menggunakan sistem akuntansi modern, Anda bisa mencoba menggunakan Kledo, software akuntansi yang sudah digunakan oleh lebih dari 75 ribu pengguna dari berbagai jenis dan skala bisnis di Indonesia serta memiliki fitur lengkap dan akses ke lebih dari 50 laporan keuangan berbeda.
Coba Kledo sekarang dan tingkatkan pengelolaan keuangan bisnis Anda.
- Cash Burn Rate: Pengertian, Cara Hitung, Contoh dan Manfaatnya - 10 September 2026
- Pengertian Marginal Utility: Rumus dan Penerapannya dalam Bisnis - 10 September 2026
- Cara Menghitung Persediaan Akhir: FIFO, Average, dan LIFO - 10 September 2026
