Rasio likuiditas adalah metrik untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban finansial dengan aset lancar yang tersedia.
Rasio ini membantu Anda mengetahui apakah kas yang dimiliki cukup untuk menutupi utang jangka pendek atau untuk kebutuhan seperti membayar supplier dan membeli peralatan baru.
Dengan begitu, Anda bisa membuat keputusan yang lebih tepat, mengelola keuangan secara efektif, dan merencanakan pertumbuhan bisnis dengan lebih baik.
Artikel ini akan membahas cara menghitung rasio likuiditas dan 6 contoh soal dengan tingkat kesulitan berbeda beserta jawabannya.
Bagaimana Cara Menghitung Rasio Likuiditas?

Dalam akuntansi, terdapat tiga rasio likuiditas yang paling umum digunakan:
- Rasio kas (cash ratio): mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancar menggunakan kas dan setara kas yang dimiliki.
- Rasio cepat (quick ratio atau acid-test ratio): mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban lancar dengan aset yang paling likuid, termasuk piutang, tetapi tidak memasukkan persediaan.
- Rasio lancar (current ratio atau working capital ratio): membandingkan seluruh aset lancar dengan kewajiban lancar untuk menilai kemampuan perusahaan memenuhi utang jangka pendeknya.
Berikut merupakan cara menghitung masing-masing rasio:
1. Rasio kas
Rasio kas adalah perbandingan antara kas dan setara kas dengan kewajiban jangka pendek (liabilitas lancar) perusahaan.
Rasio ini menunjukkan apakah bisnis Anda mampu menutupi gaji karyawan, biaya operasional, dan pembayaran pinjaman selama satu tahun ke depan hanya dengan menggunakan kas yang tersedia.
Rumus:
Rasio Kas = (Kas + Setara Kas) ÷ Kewajiban Lancar
Contoh:
Misalnya, sebuah perusahaan memiliki:
- Kas: Rp800 juta.
- Setara kas: Rp800 juta
- Total: Rp1.6M
- Kewajiban lancar perusahaan: Rp400 juta
Rasio kas = Rp1,6 miliar ÷ Rp400 juta = 4,0
Keterangan:
- Rasio tinggi (di atas 1,0): perusahaan memiliki kas yang cukup untuk menutupi seluruh kewajiban lancarnya tanpa kesulitan.
- Rasio rendah (di bawah 1,0): perusahaan perlu meningkatkan arus kas, misalnya dengan mempercepat penagihan piutang atau meningkatkan penerimaan kas dari pelanggan.
- Rasio 1,0: perusahaan memiliki jumlah kas yang tepat untuk menutupi seluruh kewajiban lancarnya. Tidak ada kelebihan maupun kekurangan kas untuk memenuhi utang jangka pendek.
2. Rasio Cepat (Quick Ratio atau Acid-Test Ratio)

Rasio cepat adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dalam beberapa bulan ke depan tanpa harus menjual persediaan atau mengambil pinjaman baru.
Nama lainnya adalah acid-test ratio karena merupakan cara cepat untuk menilai kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek. Data yang dibutuhkan untuk menghitung rasio ini umumnya dapat ditemukan pada neraca perusahaan.
Rasio ini menunjukkan apakah kas, surat berharga, dan piutang usaha yang perusahaan miliki cukup untuk membayar gaji, tagihan, cicilan pinjaman, dan kebutuhan operasional lainnya.
Cara menghitung rasio cepat
Ada dua metode yang bisa Anda gunakan untuk menghitung rasio cepat.
1. Menjumlahkan aset likuid
Rumus Rasio Cepat = (Kas + Surat Berharga + Piutang Usaha) ÷ Kewajiban Lancar
2. Mengurangi aset lancar
Rumus rasio cepat: (Aset Lancar − Persediaan − Biaya Dibayar di Muka) ÷ Kewajiban Lancar
Kedua metode di atas bisa menghasilkan nilai rasio cepat yang sama.
Contoh perhitungan rasio cepat
Katakanlah sebuah perusahaan memiliki:
- Kas: Rp480 juta
- Surat berharga: Rp240 juta
- Kewajiban lancar: Rp960 juta
Maka perhitungannya adalah: (Rp480 juta + Rp240 juta) ÷ Rp960 juta = 0,75
Rasio cepat perusahaan adalah 0,75.
Berapa rasio cepat yang baik?
Secara umum, rasio cepat yang ideal adalah 1,0 atau lebih tinggi.
- 1,0: perusahaan memiliki Rp1 aset likuid untuk setiap Rp1 kewajiban jangka pendek.
- 1,5: perusahaan memiliki Rp1,50 aset likuid untuk setiap Rp1 kewajiban jangka pendek.
- Di bawah 1,0: perusahaan mungkin perlu meningkatkan arus kas agar dapat memenuhi kewajiban yang akan jatuh tempo dengan lebih nyaman.
- 0,3: perusahaan hanya memiliki Rp0,30 aset likuid untuk setiap Rp1 kewajiban jangka pendek.
Rasio cepat yang berada di atas 1,0 umumnya menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kondisi likuiditas jangka pendek yang sehat dan mampu memenuhi kewajibannya tanpa bergantung pada penjualan persediaan atau pendanaan tambahan.
Baca Juga: Mengenal Berbagai Jenis Rumus Rasio Keuangan dalam Bisnis
3. Rasio lancar (current ratio)
Rasio lancar adalah perbandingan antara aset lancar dan kewajiban lancar perusahaan. Rasio ini menunjukkan apakah perusahaan memiliki modal kerja yang cukup untuk memenuhi seluruh kewajiban jangka pendek selama 12 bulan ke depan.
Nama lain aset ini adalah working capital ratio (rasio modal kerja) karena mengukur hubungan antara aset yang dimiliki dan kewajiban yang harus dibayar dalam jangka pendek.
Rumus: Aset Lancar ÷ Kewajiban Lancar = Rasio Lancar
Keterangan:
Kewajiban lancar mencakup seluruh utang dan kewajiban yang harus dilunasi dalam waktu maksimal 12 bulan, seperti:
- Utang usaha
- Gaji yang masih harus dibayar
- Pajak pertambahan nilai (PPN) terutang
- Pajak penghasilan yang masih harus dibayar
- Pinjaman jangka pendek
- Tagihan operasional lainnya
Contoh perhitungan rasio lancar
Misalnya sebuah perusahaan memiliki:
- Persediaan: Rp400 juta
- Kas: Rp480 juta
- Piutang usaha: Rp160 juta
- Biaya dibayar di muka: Rp80 juta
- Investasi jangka pendek: Rp32 juta
Total aset lancar: Rp400 juta + Rp480 juta + Rp160 juta + Rp80 juta + Rp32 juta = Rp1,152 miliar
Selanjutnya, lihat total kewajiban lancar pada neraca yang terdiri atas utang usaha, gaji yang masih harus dibayar, pajak, dan pinjaman jangka pendek.
Jika kewajiban lancar sebesar Rp1,6 miliar, maka: Rp1,152 miliar ÷ Rp1,6 miliar = 0,72
Rasio lancar = 0,72
Semakin kecil kewajiban lancar dibandingkan aset lancar, semakin tinggi nilai rasio lancar. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan yang lebih baik untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Berapa rasio lancar yang baik?
Rasio lancar antara 1,5 hingga 2,0 umumnya dianggap menunjukkan kondisi keuangan yang sehat.
Berikut interpretasinya:
- Di bawah 1,0: perusahaan berpotensi mengalami kesulitan memenuhi kewajiban jangka pendek. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan meningkatkan aset lancar atau mengurangi kewajiban.
- 1,0–1,5: perusahaan masih mampu memenuhi kewajibannya, tetapi memiliki ruang yang terbatas jika terjadi penurunan penjualan atau peningkatan pengeluaran.
- 1,5–2,0: merupakan kisaran yang sehat karena perusahaan memiliki cadangan aset lancar yang memadai untuk menghadapi kebutuhan operasional maupun pengeluaran tak terduga.
- Di atas 3,0: perusahaan mungkin memiliki terlalu banyak kas atau aset lancar yang menganggur. Dana tersebut dapat dipertimbangkan untuk diinvestasikan kembali agar menghasilkan keuntungan yang lebih optimal.
Biasanya, rasio lancar yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan perlu meningkatkan likuiditas, baik dengan menambah aset lancar, mempercepat penerimaan kas, maupun mengurangi pengeluaran dan kewajiban jangka pendek.
Baca Juga: Rasio Cakupan dalam Rasio Keuangan: Pengertian dan Berbagai Jenisnya
Contoh Soal Rasio Likuiditas
Soal 1
Berikut adalah Neraca PT Mahestra per 31 Desember 2025.
| Aset Lancar | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Kas | 180.000.000 |
| Setara Kas | 70.000.000 |
| Investasi Jangka Pendek | 50.000.000 |
| Piutang Usaha | 220.000.000 |
| Persediaan | 310.000.000 |
| Biaya Dibayar di Muka | 20.000.000 |
| Total Aset Lancar | 850.000.000 |
| Kewajiban Lancar | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Utang Usaha | 250.000.000 |
| Utang Gaji | 40.000.000 |
| Utang Pajak | 60.000.000 |
| Pinjaman Jangka Pendek | 150.000.000 |
| Total Kewajiban Lancar | 500.000.000 |
Pertanyaan: Berdasarkan data di atas, hitunglah rasio kas, rasio cepat, dan rasio lancarnya!
Jawaban:
1. Cash Ratio
= (Kas + Setara Kas) ÷ Kewajiban Lancar
= (Rp180.000.000 + Rp70.000.000) ÷ Rp500.000.000
= 0,50
2. Quick Ratio
= (Kas + Setara Kas + Investasi Jangka Pendek + Piutang Usaha) ÷ Kewajiban Lancar
= (Rp180.000.000 + Rp70.000.000 + Rp50.000.000 + Rp220.000.000) ÷ Rp500.000.000
= Rp520.000.000 ÷ Rp500.000.000
= 1,04
3. Current Ratio
= Total Aset Lancar ÷ Kewajiban Lancar
= Rp850.000.000 ÷ Rp500.000.000
= 1,70
Soal 2
Berikut adalah Neraca PT Sentosa Motor Indonesia per 31 Desember 2025.
| Liabilitas dan Ekuitas | Jumlah (Rp) | Aset | Jumlah (Rp) |
|---|---|---|---|
| Modal Saham | 800.000.000 | Mesin dan Peralatan | 500.000.000 |
| Cadangan Modal | 150.000.000 | Tanah dan Bangunan | 450.000.000 |
| Pinjaman Bank Jangka Panjang | 500.000.000 | Peralatan Kantor | 100.000.000 |
| Utang Usaha | 250.000.000 | Persediaan | 300.000.000 |
| Utang Bank Jangka Pendek | 150.000.000 | Piutang Usaha | 280.000.000 |
| Utang Pajak | 120.000.000 | Investasi Jangka Pendek | 120.000.000 |
| Cadangan Pajak | 80.000.000 | Kas | 300.000.000 |
| Saldo Laba | 150.000.000 | ||
| Total | 2.200.000.000 | Total | 2.200.000.000 |
Pertanyaan: Berdasarkan data neraca di atas, hitunglah rasio lancar dan rasio cepatnya!
Jawaban:
a. Current Ratio
Aset Lancar:
- Kas = Rp300.000.000
- Investasi Jangka Pendek = Rp120.000.000
- Piutang Usaha = Rp280.000.000
- Persediaan = Rp300.000.000
Total Aset Lancar = Rp1.000.000.000
Kewajiban Lancar:
- Utang Usaha = Rp250.000.000
- Utang Bank Jangka Pendek = Rp150.000.000
- Utang Pajak = Rp120.000.000
- Cadangan Pajak = Rp80.000.000
Total Kewajiban Lancar = Rp600.000.000
Current Ratio = Rp1.000.000.000 ÷ Rp600.000.000
= 1,67 kali
b. Quick Ratio
Quick Assets: Kas + Investasi Jangka Pendek + Piutang Usaha
= Rp300.000.000 + Rp120.000.000 + Rp280.000.000
= Rp700.000.000
Quick Ratio = Rp700.000.000 ÷ Rp600.000.000 = 1,17 kali
Baca Juga: Analisis Likuiditas: Cara Ukur, Jenis, Rumus, dan Contohnya
Soal 3
Berikut merupakan neraca CV Prima Elektronik
| Aset Lancar | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Kas | 120.000.000 |
| Setara Kas | 30.000.000 |
| Investasi Jangka Pendek | 50.000.000 |
| Piutang Usaha | 210.000.000 |
| Persediaan | 290.000.000 |
| Biaya Dibayar di Muka | 25.000.000 |
| Kewajiban Lancar | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Utang Usaha | 180.000.000 |
| Utang Pajak | 60.000.000 |
| Utang Gaji | 50.000.000 |
| Pinjaman Jangka Pendek | 90.000.000 |
Pertanyaan: Hitunglah current ratio, Quick Ratio, dan kemudian jelaskan apakah kondisi likuiditas perusahaan tergolong baik!
Jawaban
1. Current Ratio
Total Aset Lancar = Rp120.000.000 + Rp30.000.000 + Rp50.000.000 + Rp210.000.000 + Rp290.000.000 + Rp25.000.000
Total Aset Lancar = Rp725.000.000
Current Ratio = Rp725.000.000 ÷ Rp380.000.000
= 1,91 kali
2. Quick Ratio
Quick Assets = Kas + Setara Kas + Investasi Jangka Pendek + Piutang Usaha
Quick Assets = Rp120.000.000 + Rp30.000.000 + Rp50.000.000 + Rp210.000.000 = Rp410.000.000
Quick Ratio = Rp410.000.000 ÷ Rp380.000.000 = 1,08 kali
Interpretasi
Current ratio sebesar 1,91 menunjukkan bahwa perusahaan memiliki aset lancar sebesar Rp1,91 untuk setiap Rp1 kewajiban lancar.
Quick ratio sebesar 1,08 menunjukkan bahwa perusahaan masih mampu melunasi seluruh kewajiban jangka pendek meskipun persediaan tidak diperhitungkan.
Secara keseluruhan, kondisi likuiditas perusahaan tergolong baik.
Soal 4

Berikut merupakan neraca PT Sukses Bersama
| Aset Lancar | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Kas | 90.000.000 |
| Setara Kas | 35.000.000 |
| Piutang Usaha | 180.000.000 |
| Investasi Jangka Pendek | 45.000.000 |
| Persediaan | 250.000.000 |
| Biaya Dibayar di Muka | 15.000.000 |
| Kewajiban Lancar | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Utang Usaha | 170.000.000 |
| Utang Pajak | 30.000.000 |
| Utang Gaji | 40.000.000 |
| Pinjaman Jangka Pendek | 130.000.000 |
Pertanyaan: Berapa current ratio dan quick ratio? Apakah perusahaan mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya?
Jawaban
Pertama, hitung aset lancar dan kewajiban lancar dulu.
Aset Lancar = Kas + Setara Kas + Piutang Usaha + Investasi Jangka Pendek + Persediaan + Biaya Dibayar di Muka
Aset Lancar = Rp90 juta + Rp35 juta + Rp180 juta + Rp45 juta + Rp250juta + Rp15 juta
Total = Rp615 juta
Kewajiban lancar = Utang Usaha + Utang Pajak + Utang Gaji + Pinjaman Jangka Pendek
Kewajiban lancar = Rp170 juta + Rp30 juta + Rp40 juta + Rp130 juta
Total kewajiban lancar = Rp370 juta
Dari sini, Anda bisa menghitung Current Ratio dan Quick Ratio
1. Current Ratio = Rp615.000.000 ÷ Rp370.000.000 = 1,66 kali
2. Quick Ratio = Quick Asset ÷ Total kewajiban lancar
= (Rp90.000.000 + Rp35.000.000 + Rp180.000.000 + Rp45.000.000) ÷ Rp370.000.000
= Rp350.000.000 ÷ Rp370.000.000
= 0,95 kali
Interpretasi
Current ratio menunjukkan kondisi yang cukup sehat karena aset lancar jauh lebih besar dibandingkan kewajiban lancar.
Namun, quick ratio berada di bawah 1. Hal ini berarti perusahaan masih bergantung pada penjualan persediaan untuk melunasi seluruh kewajiban jangka pendeknya. Jika persediaan sulit dijual, perusahaan berpotensi mengalami kesulitan likuiditas.
Baca Juga: Solvabilitas dan Likuiditas: Pengertian dan Perbedaanya dalam Keuangan Bisnis
Soal 5
PT Gemilang Karya memiliki informasi keuangan berikut.
- Kas: Rp170.000.000
- Setara kas: Rp80.000.000
- Piutang usaha: Rp260.000.000
- Investasi jangka pendek: Rp90.000.000
- Persediaan: Rp360.000.000
- Biaya dibayar di muka: Rp40.000.000
- Utang usaha: Rp210.000.000
- Utang gaji: Rp60.000.000
- Utang pajak: Rp50.000.000
- Pinjaman bank jangka pendek: Rp220.000.000
Pertanyaan
- Tentukan total aset lancar.
- Tentukan total kewajiban lancar.
- Hitung cash ratio.
- Hitung quick ratio.
- Hitung current ratio.
Jawaban
a. Total Aset Lancar
= Rp170.000.000 + Rp80.000.000 + Rp260.000.000 + Rp90.000.000 + Rp360.000.000 + Rp40.000.000
= Rp1.000.000.000
b. Total Kewajiban Lancar
= Rp210.000.000 + Rp60.000.000 + Rp50.000.000 + Rp220.000.000
= Rp540.000.000
c. Cash Ratio
= (Kas + Setara Kas) ÷ Kewajiban Lancar
= (Rp170.000.000 + Rp80.000.000) ÷ Rp540.000.000
= 0,46 kali
d. Quick Ratio
= (Kas + Setara Kas + Investasi Jangka Pendek + Piutang Usaha) ÷ Kewajiban Lancar
= (Rp170.000.000 + Rp80.000.000 + Rp90.000.000 + Rp260.000.000) ÷ Rp540.000.000
= Rp600.000.000 ÷ Rp540.000.000
= 1,11 kali
e. Current Ratio
= Rp1.000.000.000 ÷ Rp540.000.000
= 1,85 kali
Interpretasi
- Cash ratio sebesar 0,46 menunjukkan kas yang dimiliki belum cukup untuk langsung melunasi seluruh kewajiban lancar.
- Quick ratio sebesar 1,11 menunjukkan perusahaan tetap mampu memenuhi kewajiban jangka pendek menggunakan aset yang paling likuid.
- Current ratio sebesar 1,85 menunjukkan kondisi likuiditas perusahaan sangat baik karena memiliki aset lancar hampir dua kali lebih besar dibandingkan kewajiban lancarnya.
Baca Juga: Perencanaan Likuiditas: Pengertian, Cara Membuat, dan Tantangannya
Soal 6
Berikut merupakan neraca CV Mega Sejahtera per 31 Desember 2025
| Akun | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Bangunan | 800.000.000 |
| Kas | 220.000.000 |
| Utang Usaha | 260.000.000 |
| Peralatan | 350.000.000 |
| Piutang Usaha | 180.000.000 |
| Modal Pemilik | 1.400.000.000 |
| Persediaan | 340.000.000 |
| Investasi Jangka Pendek | 110.000.000 |
| Utang Pajak | 70.000.000 |
| Setara Kas | 80.000.000 |
| Kendaraan | 250.000.000 |
| Pinjaman Jangka Pendek | 200.000.000 |
| Biaya Dibayar di Muka | 40.000.000 |
| Saldo Laba | 440.000.000 |
| Utang Gaji | 60.000.000 |
Pertanyaan
- Identifikasi seluruh akun yang termasuk aset lancar dan kewajiban lancar.
- Hitung total aset lancar.
- Hitung total kewajiban lancar.
- Hitung cash ratio.
- Hitung quick ratio.
- Hitung current ratio.
- Jelaskan apakah perusahaan memiliki likuiditas yang baik berdasarkan ketiga rasio tersebut.
Jawaban
Langkah 1. Kelompokkan akun
Aset Lancar
| Akun | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Kas | 220.000.000 |
| Setara Kas | 80.000.000 |
| Investasi Jangka Pendek | 110.000.000 |
| Piutang Usaha | 180.000.000 |
| Persediaan | 340.000.000 |
| Biaya Dibayar di Muka | 40.000.000 |
| Total Aset Lancar | Rp970.000.000 |
Kewajiban Lancar
| Akun | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Utang Usaha | 260.000.000 |
| Utang Pajak | 70.000.000 |
| Pinjaman Jangka Pendek | 200.000.000 |
| Utang Gaji | 60.000.000 |
| Total Kewajiban Lancar | Rp590.000.000 |
Langkah 2. Hitung Cash Ratio
Rumus: Cash Ratio = (Kas + Setara Kas) ÷ Kewajiban Lancar
Perhitungan:
= (Rp220.000.000 + Rp80.000.000) ÷ Rp590.000.000
= Rp300.000.000 ÷ Rp590.000.000
= 0,51 kali
Interpretasi:
Perusahaan hanya memiliki kas dan setara kas sebesar Rp0,51 untuk setiap Rp1 kewajiban lancar. Artinya, kas yang tersedia belum cukup untuk melunasi seluruh kewajiban jangka pendek tanpa mengandalkan aset lancar lainnya.
Langkah 3. Hitung Quick Ratio
Rumus: Quick Ratio = (Kas + Setara Kas + Investasi Jangka Pendek + Piutang Usaha) ÷ Kewajiban Lancar
Perhitungan:
= (Rp220.000.000 + Rp80.000.000 + Rp110.000.000 + Rp180.000.000) ÷ Rp590.000.000
= Rp590.000.000 ÷ Rp590.000.000
= 1,00 kali
Interpretasi:
Quick ratio sebesar 1,00 menunjukkan bahwa perusahaan memiliki aset likuid yang cukup untuk menutupi seluruh kewajiban lancarnya tanpa harus menjual persediaan.
Rumus:
Current Ratio = Total Aset Lancar ÷ Kewajiban Lancar
Current Ratio = Rp970.000.000 ÷ Rp590.000.000 = 1,64 kali
Interpretasi: Current ratio sebesar 1,64 berarti perusahaan memiliki aset lancar sebesar Rp1,64 untuk setiap Rp1 kewajiban lancar. Nilai ini berada dalam kisaran yang sehat (sekitar 1,5–2,0), sehingga menunjukkan perusahaan memiliki kemampuan yang baik untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
| Rasio | Hasil | Interpretasi |
|---|---|---|
| Cash Ratio | 0,51 kali | Kas dan setara kas belum cukup untuk melunasi seluruh kewajiban lancar. |
| Quick Ratio | 1,00 kali | Aset yang paling likuid cukup untuk menutupi seluruh kewajiban lancar tanpa menjual persediaan. |
| Current Ratio | 1,64 kali | Likuiditas perusahaan tergolong sehat karena aset lancar lebih besar daripada kewajiban lancar. |
Meskipun kas yang dimiliki belum mencukupi untuk membayar seluruh kewajiban jangka pendek, perusahaan tetap memiliki kondisi likuiditas yang baik.
Hal ini terlihat dari quick ratio yang mencapai 1,00 dan current ratio sebesar 1,64, yang menunjukkan perusahaan mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan memanfaatkan aset lancar yang tersedia.
Baca Juga: Manajemen Likuiditas: Pengertian, Jenis, Manfaat, dan Tips Mengelolanya
Kesimpulan
Memahami cara menghitung rasio likuiditas melalui berbagai contoh soal akan membantu Anda menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.
Namun, dalam praktiknya, perhitungan rasio tidak cukup dilakukan sekali saja. Bisnis perlu memantau rasio likuiditas secara berkala agar dapat mendeteksi potensi masalah arus kas sejak dini dan mengambil keputusan keuangan yang lebih tepat.
Agar proses tersebut lebih mudah, Anda dapat menggunakan software akuntansi seperti Kledo.
Dengan pencatatan transaksi yang otomatis dan laporan keuangan yang tersusun secara real-time, Kledo membantu Anda memperoleh data yang akurat untuk menghitung berbagai rasio keuangan, termasuk cash ratio, quick ratio, dan current ratio, tanpa harus menyusun laporan secara manual.
Melalui fitur laporan neraca, laporan laba rugi, hingga dashboard keuangan, Kledo memungkinkan Anda memantau kondisi likuiditas bisnis kapan saja.
Dengan demikian, Anda dapat mengambil keputusan yang lebih cepat dan tepat untuk menjaga kesehatan keuangan serta mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Jika ingin merasakan kemudahannya, Anda dapat mencoba Kledo secara gratis dan mengelola pembukuan serta analisis keuangan bisnis dengan lebih efisien.
- Laporan Laba Rugi Tersegmentasi: Pengertian, Cara Menyusun & Contohnya - 1 Juli 2026
- 6 Contoh Soal Rasio Likuiditas dan Jawabannya - 1 Juli 2026
- Penyebab, Dampak, dan Strategi Mitigasi Bullwhip Effect - 30 Juni 2026
