Dalam industri manufaktur, Job Order Costing atau JOC menjadi salah satu metode yang banyak digunakan untuk menghitung biaya produksi.
Metode Job Order Costing dalam industri manufaktur ini digunakan untuk perhitungan produksi barang berdasarkan pesanan.
Seperti yang diketahui, dalam industri manufaktur, pengendalian biaya produksi menjadi faktor penting yang menentukan keberjhasilan perusahaan.
Ketika perusahaan mampu menghitung biaya produksi secara akurat, maka perusahaan dapat menentukan harga jual yang tepat, menjaga profitabilitas, hingga meningkatkan daya saing di pasar.
Melalui metode job order costing, perusahaan dapat mengumpulkan, mencatat, dan mengalokasikan biaya produksi sesuai pesanan atau pekerjaan tertentu.
Di sini setiap pesanan diperlakukan sebagai unit biaya yang terpisah, sehingga perusahaan dapat mengetahui berapa biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan setiap pesanan secara spesifi.
Metode ini berbeda dengan process costing yang digunakan pada produksi massal dan berkelanjutan.
Dalam Job Order Costing, setiap pesanan memiliki karakteristik, spesifikasi, dan kebutuhan biaya yang berbeda-beda sehingga biaya harus dihitung secara individual.
Pada artikel ini Kledo akan menjelaskan secara lengkap mengenai job order costing dalam perusahaan manufaktur, mulai dari mengapa penting, karakteristik, hingga studi kasusnya.
Untuk penjelasan lengkapnya Anda dapat menyimaknya di bawah ini:
Mengapa Job Order Costing Penting untuk Perusahaan Manufaktur?

Dalam jurnal yang berjudul Concept And Methodology Of Job Order Costing Theory And Practice dijelaskan bahwa job order costing adalah metode penghitungan biaya yang digunakan untuk mengalokasikan biaya produksi ke produk atau jasa tertentu berdasarkan pekerjaan atau pesanan yang spesifik.
Metode job order costing ini cocok digunakan untuk perusahaan yang memproduksi barang atau jasa unik dan tidak seragam, seperti dalam industri manufaktur, job costing konstruksi, dan juga jasa.
Dalam perusahaan manufaktur, proses produksi barang tidak dilakukan secara seragam dan dalam jumlah yang besar.
Sebaliknya, perusahaan menerima pesanan khusus dari pelanggan dengan spesifikasi tertentu,
Contoh dari perusahaan manufaktur dengan proses produksi ini, di antaranya:
- Industri furnitur custom
- Konveksi dan garmen pesanan
- Percetakan
- Industri digital printing
- Manufaktur komponen mesin
- Industri logam dan fabrikasi
- Produksi kemasan khusus
Dalam kondisi tersebut, perusahaan perlu mengetahui biaya yang benar-benar dikeluarkan untuk setiap pesanan.
Job Order Costing memungkinkan perusahaan melakukan pelacakan biaya secara rinci sehingga harga pokok produksi (HPP) dapat dihitung dengan lebih akurat.
Apa Saja Karakteristik Job Order Costing Perusahaan Manufaktur?

Masih dalam jurnal Concept And Methodology Of Job Order Costing Theory And Practice dijelaskan bahwa job order costing memiliki karakteristik utama yang membedakannya dengan metode-metode lainnya, yakni:
1. Biaya Diukur Berdasarkan Pesanan
Karakteristik yang pertama adalah pengukuran biaya berdasarkan pesanan yang masuk.
Jadi, di sini setiap pesanan yang masuk dicatat dan dihitung secara terpisah, di mana memudahkan untuk membedakan antara satu pesanan dan pesanan lainnya.
Selain itu perusahaan juga bisa fokus pada detail biaya yang dihasilkan.
2. Pencatatan Biaya yang Rinci
Selain dari pengukuran biaya yang disesuaikan dengan pesanan, job order costing juga memiliki karakteristik pada pencatatannya yakni pencatatan biaya dilakukan secara rinci.
Di sini semua biaya baik yang langsung ataupun tidak langsung dicatat secara terperinci untuk masing-masing pekerjaan.
3. Ketergantungan pada Data Real-Time
Job order costing juga memiliki ketergantungan pada data real time.
Pada proses ini dibutuhkan data yang akurat dan terkini untuk memastikan keakuratan dalam pengembilan keputusan.
4. Alokasi Biaya Overhead
Pada job order costing biaya overhead dialokasi berdasarkan tarif yang telah ditentukan sebelumnya.
5. Fleksibilitas
Karakteristik selanjutnya yang ada pada job order costing adalah fleksibilitas.
Metode job order costing sangat fleksibel, di mana dapat disesuaikan dengan kebutuhan unik yang ada pada setiap pesanannya.
5. Pelaporan yang Spesifik
Job order costing juga dilengkapi dengan pelaporan yang spesifik.
Setiap pesanan di sini memiliki laporan biaya tersendiri, yang memberikan informasi rinci terkait profitabilitas.
6. Keterlibatan Manajerial
Dalam metode job order costing, manajemen aktif dalam pengawasan biaya dan
kontrol atas biaya produksi.
Apa Saja Komponen dalam Job Order Costing Perusahaan Manufaktur?
Dalam job order costing, ada 3 komponen utama yang dimilikinya, yakni sebagai berikut:
1. Biaya Bahan Baku
Biaya bahan baku dijelaskan sebagai biaya yang bahan mentah yang digunakan dalam proses produksi.
Biaya ini berasal dari material utama yang digunakan untuk menghasilkan produk dan dapat ditelusuri secara langsung ke pesanan tertentu.
Contoh dari biaya bahan baku ini antara lain:
- Kayu pada industri furnitur
- Kain pada industri konveksi
- Tinta pada industri percetakan
- Baja pada industri fabrikasi
2. Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya tenaga kerja langsung merupakan biaya yang berkaitan dengan tenaga kerja yang terlibat langsung dalam proses produksi.
Biaya tenaga kerja langsung ini merupakan upah yang dibayarkan kepada pekerja yang terlibat secara langsung di dalam proses produksi.
Untuk pencatatannya, biaya tenaga kerja langsung dicatat sesuai dengan waktu kerja yang digunakan untuk menyelesaikan suatu pesanan.
Contoh dari biaya tenaga kerja langsung di antaranya:
- Tukang produksi
- Operator mesin
- Penjahit
- Teknisi perakitan
3. Biaya Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik merupakan keseluruhan biaya tambahan produksi yang tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan pesanan tertentu, seperti pada biaya utilitas, sewa, dan gaji manajer pabrik.
Contoh biaya overhead pabrik ini di antaranya:
- Listrik pabrik
- Air
- Penyusutan mesin
- Biaya pemeliharaan mesin
- Sewa bangunan
- Bahan penolong
Bagaimana Cara Kerja Job Order Costing untuk Perusahaan Manufaktur?

Dalam penerapannya, job order costing dalam perusahaan manufaktur memiliki cara kerja sebagai berikut:
1. Menerima Pesanan
Pertama dilakukan dengan menerima pesanan dari pelanggan termasuk di dalamnya berkaitan dengan informasi yang relevan.
Di sini perusahaan menerima pesanan dari pelanggan lengkap dengan spesifikasi yang dibutuhkan.
2. Membuat Dokumen Job Order
Langkah kedua dilakukan dengan membuat dokumen job order.
Di sini setiap pesanan diberikan nomor identifikasi dan dibuatkan kartu biaya khusus.
3. Mencatat Pemakaian Bahan Baku
Langkah ketiga dilakukan dengan mencatat pemakaian bahan baku yang digunakan untuk produksi.
Setiap bahan baku yang digunakan harus dicatat dan dibebankan kepada pesanan berkaitan.
4. Mencatat Tenaga Kerja Langsung
Setelah mencatat pemakaian bahan baku, selanjutnya adalah mencatat tenaga kerja langsung.
Di sini perusahaan mencatat waktu kerja tenaga kerja yang terlibat langsung dalam pekerjaan tersebut.
Pencatatan waktu kerja ini dilakukan agar memudahkan perhitungan biaya tenaga kerja langsung.
5. Mengalokasikan Overhead Pabrik
Langkah kelima adalah dengan mengalokasikan biaya overhead pabrik sesuai tarif yang telah ditentukan sebelumnya.
Biaya overhead dibebankan menggunakan tarif tertentu, misalnya sesuai dengan jam kerja langsung atau jam kerja mesin.
6. Menghitung Harga Pokok Produksi
Terakhir adalah dengan menghitung harga pokok produksi.
Total biaya produksi ini dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Harga Pokok Produksi = Biaya Bahan Baku + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Overhead Pabrik
Untuk lebih memahami mengenai biaya produksi, Anda bisa membaca artikel contoh biaya produksi ini.
Bagaimana Contoh Perhitungan Job Order Costing dalam Industri Manufaktur?
Untuk memudahkan Anda dalam memahami job order costing dalam industri manufaktur, berikut contoh perhitungannya untuk Anda:
Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur furnitur menerima pesanan 10 unit meja kantor.
Data biaya yang digunakan untuk memproduksi 10 unit meja kantor antara lain:
- Bahan baku: Rp25.000.000
- Tenaga kerja langsung: Rp10.000.000
- Overhead pabrik: Rp5.000.000
Lalu berapa job order costing untuk memproduksi 10 unit meja kantor dengan biaya di atas?
Untuk menghitungnya Anda bisa menggunakan rumus harga pokok produksi yakni sebagai berikut:
Harga Pokok Produksi = Biaya Bahan Baku + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Overhead Pabrik
Berikut perhitungan lengkapnya untuk Anda:
Harga Pokok Produksi = Rp25.000.000 + Rp10.000.000 + Rp5.000.000 = Rp40.000.000
Karena jumlah pesanan sebanyak 10 unit, maka:
Harga Pokok Produksi per Unit = Rp40.000.000 ÷ 10
= Rp4.000.000 per unit
Jika perusahaan menginginkan margin keuntungan 30%, maka:
Harga Jual per Unit = Rp4.000.000 + (30% × Rp4.000.000)
= Rp5.200.000 per unit
Perhitungan seperti ini memungkinkan perusahaan menentukan harga jual berdasarkan biaya aktual yang terjadi pada setiap pesanan.
Studi Kasus Job Order Costing pada Manufaktur Furnitur

Selain melalui contoh di atas, untuk menambah pemahaman Anda mengenai job order costing pada industri manufaktur, berikut studi kasusnya yang ada pada perusahaan manufaktur fiturnitur.
Studi kasus ini diambil dari jurnal yang berjudul Penerapan Metode Job Order Costing Dalam Penentuan Harga Pokok Produksi Pada Perusahaan Meubel Jati Kembang.
Berikut penjelasan lengkapnya untuk Anda:
Studi kasus ini dilakukan pada Perusahaan Meubel Jati Kembang dengan memperhitungkan 3 pesanan di perusahaan tersebut pada tahun 2025.
Berikut detail pesanannya yang ditunjukkan di dalam tabel:
1. Daftar Pesanan Perusahaan Meubel Jati Kembang
Daftar Pesanan 1 Perusahaan Meubel Jati Kembang
| No. | Jenis Produk | Unit | Harga Jual/Unit | Jumlah |
|---|---|---|---|---|
| 1. | Kusen & Jendela | 2 | Rp550.000 | Rp1.100.000 |
| 2. | Kusen & Pintu | 1 | Rp900.000 | Rp900.000 |
| 3. | Biaya Pengiriman | – | – | Rp30.000 |
| TOTAL | 3 | Rp2.030.000 |
Daftar Pesanan 2 Perusahaan Meubel Jati Kembang
| No. | Jenis Produk | Unit | Harga Jual/Unit | Jumlah |
|---|---|---|---|---|
| 1. | Almari 2 Pintu | 1 | Rp1.750.000 | Rp1.750.000 |
| 2. | Biaya Pengiriman | – | – | Rp50.000 |
| TOTAL | 1 | Rp1.800.000 |
Daftar Pesanan 3 Perusahaan Meubel Jati Kembang
| No. | Jenis Produk | Unit | Harga Jual/Unit | Jumlah |
|---|---|---|---|---|
| 1. | Bangku Sekolah (Kursi) | 30 | Rp165.000 | Rp4.950.000 |
| 2. | Bangku Sekolah (Meja) | 30 | Rp180.000 | Rp5.400.000 |
| 3. | Biaya Pengiriman | – | – | Rp50.000 |
| TOTAL | 60 | Rp10.400.000 |
2. Biaya Bahan Baku
Bahan baku yang dibutuhkan untuk produk jendela, kusen, pintu, almari, dan bangku sekolah adalah kayu
jati.
Perhitungan biaya bahan baku ditetapkan menggunakan cara mengalikan harga pokok kayu jati per gelondong yang digunakan dengan jumlah kayu jati yang telah dipakai.
Daftar Biaya Bahan Baku Pesanan 1 Perusahaan Meubel Jati Kembang
| No. | Jenis Produk | Unit | Pemakaian Gelondong | Biaya Bahan Baku/Unit | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1. | Kusen & Jendela | 2 | 2 | Rp100.000 | Rp200.000 |
| 2. | Kaca Jendela | 2 | – | Rp100.000 | Rp200.000 |
| 3. | Kusen & Pintu | 1 | 2 | Rp100.000 | Rp200.000 |
| TOTAL | 5 | 4 | Rp600.000 |
Daftar Biaya Bahan Baku Pesanan 2 Perusahaan Meubel Jati Kembang
| No. | Jenis Produk | Unit | Pemakaian Gelondong | Biaya Bahan Baku/Unit | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1. | Almari 2 Pintu | 1 | 4 | Rp150.000 | Rp600.000 |
| TOTAL | 1 | 4 | Rp600.000 |
Daftar Biaya Bahan Baku Pesanan 3 Perusahaan Meubel Jati Kembang
| No. | Jenis Produk | Unit | Pemakaian Gelondong | Biaya Bahan Baku/Unit | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1. | Bangku Sekolah (Kursi) | 30 | 15 | Rp150.000 | Rp2.250.000 |
| 2. | Bangku Sekolah (Meja) | 30 | 15 | Rp150.000 | Rp2.250.000 |
| TOTAL | 60 | 30 | Rp4.500.000 |
3. Biaya Tenaga Kerja Langsung
Perusahaan Meubel Jati Kembang menetapkan biaya tenaga kerja langsung dihitung sesuai hari kerja, yakni sistem harian untuk tiap pesanan yang ada.
Penetapan tarif tiap produk ini diterapkan mulai dari proses awal produk di produksi sampai dengan tahap produk jadi.
Perhitungan tenaga kerja langsung untuk variasi produk sebagai berikut:
Biaya Tenaga Kerja Langsung Pesanan 1 Perusahaan Meubel Jati Kembang
| Keterangan | Jumlah Karyawan | Hari Kerja | Upah | Jumlah |
|---|---|---|---|---|
| Bagian Produksi | 5 | 2 | Rp 70.000 | Rp 700.000 |
| Bagian Finishing | 0 | 0 | Rp – | Rp – |
| Bagian Pengiriman | 1 | 1 | Rp 65.000 | Rp 65.000 |
| Total | Rp 765.000 |
Biaya Tenaga Kerja Langsung Pesanan 2 Perusahaan Meubel Jati Kembang
| Keterangan | Jumlah Karyawan | Hari Kerja | Upah | Jumlah |
|---|---|---|---|---|
| Bagian Produksi | 2 | 2 | Rp 70.000 | Rp 280.000 |
| Bagian Finishing | 1 | 1 | Rp 70.000 | Rp 70.000 |
| Bagian Pengiriman | 1 | 1 | Rp 65.000 | Rp 65.000 |
| Total | Rp 415.000 |
Biaya Tenaga Kerja Langsung Pesanan 3 Perusahaan Meubel Jati Kembang
| Keterangan | Jumlah Karyawan | Hari Kerja | Upah | Jumlah |
|---|---|---|---|---|
| Bagian Produksi | 3 | 13 | Rp 70.000 | Rp 2.730.000 |
| Bagian Finishing | 2 | 2 | Rp 70.000 | Rp 280.000 |
| Bagian Pengiriman | 1 | 1 | Rp 65.000 | Rp 65.000 |
| Total | Rp 3.075.000 |
4. Biaya Overhead Pabrik
Untuk memproduksi pesanan, perusahaan Meubel Jati Kembang memiliki biaya overhead yang terdiri dari biaya penolong, biaya bahan bakar dan transportasi, biaya pemesanan kayu, dan biaya air dan listrik.
Biaya Penolong
Biaya penolong merupakan biaya yang digunakan untuk bahan penunjang bahan baku pokok yang terkait dengan proses produksi tetapi penggunaan bahan tersebut relatif kecil atau pemakaiannya sangat sulit untuk ditelusuri.
Biaya Bahan Penolong Pesanan 1 Perusahaan Meubel Jati Kembang
| No | Nama Aset | Kusen & Jendela (2 Unit) | Kusen & Pintu | Jumlah |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Paku 10 cm | Rp 50.000 | Rp 25.000 | Rp 75.000 |
| 2 | Amplas | Rp 100.000 | Rp 50.000 | Rp 150.000 |
| Total | Rp 150.000 | Rp 75.000 | Rp 225.000 |
Biaya Bahan Penolong Pesanan 2 Perusahaan Meubel Jati Kembang
| No | Nama Aset | Almari (1 unit) | Jumlah |
|---|---|---|---|
| 1 | Paku 5 cm | Rp 30.000 | Rp 30.000 |
| 2 | Paku 3 cm | Rp 30.000 | Rp 30.000 |
| 3 | Amplas | Rp 30.000 | Rp 30.000 |
| 4 | Lem Putih | Rp 5.000 | Rp 5.000 |
| 5 | Plitur | Rp 70.000 | Rp 70.000 |
| Total | Rp 165.000 | Rp 165.000 |
Biaya Bahan Penolong Pesanan 3 Perusahaan Meubel Jati Kembang
| No | Nama Aset | Unit (1 set meja & kursi) | Jumlah Unit | Jumlah Harga (Rp) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Paku 5 cm | 5.000 | 30 | 150.000 |
| 2 | Paku 3 cm | 2.500 | 30 | 75.000 |
| 3 | Amplas | 10.000 | 30 | 300.000 |
| 4 | Lem Putih | 3.000 | 30 | 90.000 |
| 5 | Plitur | 13.000 | 30 | 390.000 |
| Total | – | 33.500 | – | 1.005.000 |
Biaya Bahan Bakar dan Transportasi
Berikut biaya bahan bakar dan transportasi yang dikeluarkan:
Biaya Transportasi
| No | Keterangan | Biaya |
|---|---|---|
| 1 | Pesanan 1 | Rp 30.000 |
| 2 | Pesanan 2 | Rp 50.000 |
| 3 | Pesanan 3 | Rp 50.000 |
| Total | Rp 130.000 |
Biaya Pemesanan Kayu
Berdasarkan sumber informasi dari pemilik, perusahaan mengeluarkan biaya pemesanan kayu setiap melakukan pemesanan kayu sebesar Rp200.000.
Berikut adalah rincian biaya pemesanan kayu untuk ketiga pesanan:
| Keterangan | Bulan | Biaya |
|---|---|---|
| Pesanan 1 | Oktober | Rp 1.200.000 |
| Pesanan 2 | Mei | Rp 1.000.000 |
| Pesanan 3 | Oktober | Rp 12.000.000 |
| Total | Rp 14.200.000 |
Biaya Listrik dan Air
Berdasarkan sumber informasi dari pemilik, perusahaan menggunakan daya watt listrik sebesar 23.000 dengan tarif per KWh sebesar Rp1.115.
Berikut rincian pemakaian listrik untuk ketiga pesanan:
| No | Keterangan | Kwh | Biaya Per Kwh | Jam Pemakaian | Pemakaian Kwh | Jumlah |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Pesanan 1 | 23 | Rp 1,115 | 7 | 161 | Rp 179,473 |
| 2 | Pesanan 2 | 23 | Rp 1,115 | 14 | 322 | Rp 358,946 |
| 3 | Pesanan 3 | 23 | Rp 1,115 | 91 | 2093 | Rp 2,333,151 |
| Total | Rp 2,871,570 |
5. Kartu Harga Pokok Pesanan
Kartu Pesanan 1
| No Pesanan | Pesanan 1 |
|---|---|
| Jenis Pesanan | 2 kusen dan jendela, 1 kusen dan pintu |
| Nama Pemesan | Ibu S |
| Tgl Pemesanan | 07 Oktober 2025 |
| Tgl Mulai | 08 Oktober 2025 |
| Tgl Selesai | 09 Oktober 2025 |
Rincian Biaya Produksi
| Tanggal | Keterangan | Jumlah (Rp) |
|---|---|---|
| 08 Oktober 2025 | Pemakaian 4 Gelondong Kayu dan 2 Kaca (Bahan Baku) | 600.000 |
| 09 Oktober 2025 | Bagian Produksi 5 orang (2 hari), Bagian Pengiriman 1 orang (1 hari) | 765.000 |
| 08 Oktober 2025 | Penggunaan Paku, amplas, dan listrik (BOP) | 404.473 |
| Total Biaya Produksi | 1.769.473 |
Total Biaya Produksi
| Komponen | Biaya (Rp) | Keterangan | Jumlah (Rp) |
|---|---|---|---|
| Biaya Bahan Baku | 600.000 | Harga Jual | 2.030.000 |
| Biaya Tenaga Kerja Langsung | 765.000 | Biaya Produksi | 1.769.473 |
| BOP Dibebankan | 404.473 | Biaya Pengiriman | 30.000 |
| Total Biaya Operasional | 1.799.473 | Laba | 230.527 |
Kartu Pesanan 2
| No Pesanan | : Pesanan 2 | Tgl Pemesanan | : 08 Mei 2025 |
|---|---|---|---|
| Jenis Pesanan | : 1 Almari 2 Pintu | Tgl Mulai | : 09 Mei 2025 |
| Nama Pemesan | : Bpk K | Tgl Selesai | : 14 Mei 2025 |
| Tanggal | Keterangan | No Bukti | Jumlah |
|---|---|---|---|
| Biaya Bahan Baku | |||
| 08 Mei 2025 | Pemakaian 4 Gelondong Kayu | Rp 600.000 | |
| Biaya Tenaga Kerja Langsung | |||
| 14 Mei 2025 | Bagian Produksi 2 orang (2 Hari), Bagian Finishing 1 Orang (1 Hari), Bagian Pengiriman 1 Orang (1 Hari) | Rp 415.000 | |
| Biaya Overhead Pabrik Dibebankan | |||
| 08 Mei 2025 | Penggunaan Paku, Amplas, Lem Putih, Plitur, dan Listrik | Rp 523.946 | |
| Total Biaya Produksi | Rp 1.538.946 |
| Biaya Produksi : | |||
|---|---|---|---|
| Biaya Bahan Baku | Rp 600.000 | Harga Jual | Rp 1.800.000 |
| Biaya Tenaga Kerja Langsung | Rp 415.000 | Biaya Produksi | Rp 1.538.946 |
| BOP Dibebankan | Rp 523.946 | Biaya Pengiriman | Rp 50.000 |
| Biaya Operasional : | Biaya Administrasi | Rp – | |
| Biaya Pengiriman | Rp 50.000 | ||
| Total Biaya | Rp 1.588.946 | LABA | Rp 211.054 |
Kartu Pesanan 3
| No Pesanan | : Pesanan 3 | Tgl Pemesanan | : 08 Oktober 2025 |
|---|---|---|---|
| Jenis Pesanan | : 30 Set Bangku Sekolah (Meja & Kursi) | Tgl Mulai | : 31 Oktober 2025 |
| Nama Pemesan | : SMPN 01 ABC | Tgl Selesai | : 14 November 2025 |
| Tanggal | Keterangan | No Bukti | Jumlah |
|---|---|---|---|
| Biaya Bahan Baku | |||
| 31 Oktober 2025 | Pemakaian 30 Gelondong Kayu | Rp 3.000.000 | |
| Biaya Tenaga Kerja Langsung | |||
| 21-Nov-25 | Bagian Produksi 3 orang (13 hari), Bagian Finishing 2 Orang (2 hari), Bagian Pengiriman 1 Orang (1 hari) | Rp 3.075.000 | |
| Biaya Overhead Pabrik Dibebankan | |||
| 31 Oktober 2025 | Penggunaan Paku, Amplas, Lem Putih, Plitur, dan Listrik | Rp 3.338.151 | |
| Total Biaya Produksi | Rp 9.413.151 |
| Biaya Produksi : | |||
|---|---|---|---|
| Biaya Bahan Baku | Rp 3.000.000 | Harga Jual | Rp 10.400.000 |
| Biaya Tenaga Kerja Langsung | Rp 3.075.000 | Biaya Produksi | Rp 9.413.151 |
| BOP Dibebankan | Rp 3.338.151 | Biaya Pengiriman | Rp 50.000 |
| Biaya Operasional : | Biaya Administrasi | Rp – | |
| Biaya Pengiriman | Rp 50.000 | ||
| Total Biaya | Rp 9.463.151 | LABA | Rp 936.849 |
Kesimpulan
Itulah tadi penjelasan lengkap mengenai job order costing dalam industri manufaktur yang dapat menjadi referensi untuk Anda.
Industri manufaktur merupakan salah satu industri yang menetapkan metode job order costing, khususnya untuk manufaktur custom seperti pada industri furnitur custom.
Untuk memudahkan Anda dalam pengelolaan keuangan perusahaan, pastikan Anda menggunakan teknologi terbaik yakni software akuntansi manufaktur dari Kledo.
Kledo merupakan software akuntansi yang dilengkapi berbagai fitur untuk kemudahan pengelolaan keuangan perusahaan.
Daftar Kledo sekarang juga di tautan ini dan dapatkan uji coba gratis selama 14 hari.