Variasi Rumus HPP, Cara Hitung, dan Contoh Kasusnya

variasi rumus hpp 2

Pemilik bisnis, terutama bisnis dagang perlu melacak dan mengetahui rumus harga pokok penjualan (HPP) untuk memastikan mereka mendapatkan keuntungan dan melaporkan biaya dalam laporan keuangan dengan benar.

Mengingat 60% pemilik usaha kecil merasa tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang akuntansi dan keuangan, ada baiknya Anda memahami bagaimana HPP dapat memengaruhi akuntansi dan penjualan Anda.

Artikel ini akan memandu Anda memahami apa saja yang termasuk dalam HPP, rumus menghitungnya, dan contoh kasus dalam menghitung HPP.

Apa yang Dimaksud dengan Harga Pokok Penjualan?

Pengertian HPP
Logistics industry and freight profit analyzing. Supply chain analytics, transportation providers data, transportation costs optimization concept. Pinkish coral bluevector isolated illustration

Harga pokok penjualan, juga dikenal sebagai biaya penjualan atau biaya layanan, adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk atau layanan bisnis Anda.

Harga pokok penjualan mencakup biaya-biaya berikut:

  • Tenaga kerja langsung
  • Bahan untuk membuat barang

Harga pokok penjualan hanya mencakup biaya yang digunakan untuk memproduksi setiap produk atau jasa yang Anda jual (misalnya, kayu, sekrup, cat, tenaga kerja, dll.).

Saat menghitung harga pokok penjualan, jangan sertakan biaya pembuatan produk atau layanan yang tidak Anda jual.

HPP tidak termasuk biaya tidak langsung, seperti biaya distribusi. Jangan memperhitungkan hal-hal seperti utilitas, biaya pemasaran, atau biaya pengiriman produk jadi ke dalam harga pokok penjualan. Sekali lagi, HPP hanya mencakup biaya produksi.

Untuk lebih mengetahui lebih dalam tentang apa saja komponen dalam HPP mari kita bahas lebih dalam:

Komponen dalam Rumus HPP

Dalam menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), ada beberapa komponen yang harus diperhatikan dengan seksama.

Memahami dan menghitung dengan benar komponen-komponen ini akan memastikan bahwa laporan keuangan perusahaan akurat, yang pada gilirannya akan membantu dalam pengambilan keputusan finansial dan operasional.

Mari kita tinjau lebih lanjut mengenai komponen-komponen utama yang membentuk HPP.

Harga pokok persediaan awal

Harga Pokok Persediaan Awal adalah nilai dari persediaan barang yang tersedia pada awal periode akuntansi. Ini adalah barang yang belum terjual atau digunakan pada akhir periode sebelumnya dan masih tersedia untuk dijual atau digunakan dalam produksi.

Cara Perhitungannya:

Biasanya, nilai persediaan awal dihitung berdasarkan laporan keuangan periode sebelumnya. Nilai ini harus mencerminkan biaya persediaan yang ada pada awal periode akuntansi dan dapat dihitung dengan mengacu pada catatan pembukuan atau stok fisik yang ada.

Metode Umum: Jika perusahaan menggunakan FIFO (First-In, First-Out), barang yang pertama kali dibeli akan dihitung sebagai persediaan awal. Sedangkan jika menggunakan LIFO (Last-In, First-Out), persediaan awal dihitung berdasarkan barang yang terakhir dibeli.

Contoh:

Persediaan awal: Misalnya, perusahaan memiliki persediaan barang yang belum terjual dari periode sebelumnya dengan nilai Rp 5.000.000, yang kemudian akan dihitung sebagai bagian dari HPP untuk periode ini.

Baca juga:Kalkulator HPP Gratis dan Rekomendasi Aplikasi Penghitung HPP

Pembelian

Pembelian mencakup biaya barang atau bahan baku yang dibeli selama periode akuntansi. Pembelian ini dapat berupa:

  • Bahan Baku: Barang yang digunakan dalam proses produksi barang jadi.
  • Barang Jadi: Barang yang siap dijual, yang langsung dibeli untuk dijual kembali.
  • Barang Modal atau Peralatan: Terkadang, pembelian barang untuk keperluan produksi juga termasuk pembelian peralatan dan mesin, meskipun ini biasanya tidak dimasukkan dalam HPP, namun mempengaruhi biaya operasional.

Contoh:

Jika perusahaan membeli bahan baku senilai Rp 7.000.000 untuk produksi barang, atau membeli barang jadi senilai Rp 5.000.000 untuk dijual, maka total pembelian yang masuk dalam perhitungan HPP adalah Rp 12.000.000.

Pengaruh biaya pembelian dan biaya pengiriman dalam perhitungan

  • Biaya Pembelian adalah harga barang yang dibeli dari pemasok.
  • Biaya Pengiriman: Ini adalah biaya tambahan yang timbul untuk membawa barang dari pemasok ke perusahaan, termasuk biaya transportasi dan asuransi. Biaya pengiriman ini harus dimasukkan ke dalam perhitungan HPP karena merupakan bagian dari biaya untuk memperoleh barang.

Contoh:

Jika perusahaan membeli bahan baku dengan harga Rp 7.000.000, namun harus membayar biaya pengiriman sebesar Rp 500.000, maka total pembelian yang dihitung dalam HPP adalah Rp 7.500.000.

Rumus Penyesuaian:

HPP = Pembelian Barang + Biaya Pengiriman

Dengan demikian, biaya pengiriman akan ditambahkan ke dalam total pembelian dan memengaruhi HPP yang dihitung.

Harga pokok persediaan akhir

Harga Pokok Persediaan Akhir adalah nilai dari barang atau bahan baku yang belum terjual atau digunakan pada akhir periode akuntansi. Ini merupakan barang yang tersisa pada akhir periode dan akan dibawa ke periode berikutnya.

Cara Menentukannya:

Nilai persediaan akhir dapat dihitung dengan cara fisik (menghitung jumlah barang yang ada di gudang) atau berdasarkan laporan akuntansi yang ada. Metode ini akan mencakup barang yang masih tersedia untuk dijual atau digunakan.

Baca juga: HPP Perusahaan Jasa: Definisi, Rumus, dan Cara Menghitungnya

Variasi Rumus HPP

Dalam dunia akuntansi, HPP (Harga Pokok Penjualan) adalah salah satu indikator penting dalam mengukur efisiensi biaya dan profitabilitas sebuah perusahaan.

Namun, perhitungan HPP tidak selalu bisa diterapkan secara seragam karena faktor-faktor seperti jenis industri, metode akuntansi yang digunakan, serta keadaan khusus dalam transaksi bisnis dapat mempengaruhi hasil perhitungan.

Oleh karena itu, rumus HPP perlu disesuaikan agar dapat mencerminkan keadaan yang spesifik dari setiap perusahaan atau industri.

Penyesuaian HPP akan mempengaruhi hasil laporan keuangan, yang pada gilirannya mempengaruhi pengambilan keputusan manajerial dan strategi bisnis.

Mari kita lihat lebih rinci tentang bagaimana rumus HPP perlu disesuaikan berdasarkan konteks yang berbeda.

Rumus hpp industri manufaktur

Di industri manufaktur, HPP tidak hanya mencakup pembelian barang jadi, tetapi juga biaya produksi seperti bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik.

Rumus HPP industri manufaktur:

HPP = Persediaan Awal Bahan Baku + Pembelian Bahan Baku + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Overhead Pabrik – Persediaan Akhir

Penjelasan: Dalam industri ini, HPP dihitung dengan memperhitungkan semua biaya yang terkait dengan produksi barang dari bahan mentah hingga barang jadi.

Contoh perhitungan

  • Persediaan Awal Bahan Baku: Rp 10.000.000
  • Pembelian Bahan Baku: Rp 5.000.000
  • Tenaga Kerja Langsung: Rp 3.000.000
  • Overhead Pabrik: Rp 2.000.000
  • Persediaan Akhir: Rp 7.000.000

HPP = 10.000.000 + 5.000.000 + 3.000.000 + 2.000.000 – 7.000.000 = Rp 13.000.000

Rumus HPP Industri ritel

Di industri ritel, proses produksi tidak terlibat. HPP hanya berfokus pada biaya barang dagangan yang dibeli untuk dijual.

Rumus HPP Industri Ritel:

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Barang Jadi – Persediaan Akhir

Penjelasan: HPP di ritel umumnya lebih sederhana karena hanya melibatkan biaya pembelian barang yang siap jual, bukan biaya produksi.

Contoh perhitungan

  • Persediaan Awal: Rp 5.000.000
  • Pembelian Barang Jadi: Rp 8.000.000
  • Persediaan Akhir: Rp 4.000.000

HPP = 5.000.000 + 8.000.000 – 4.000.000 = Rp 9.000.000

Rumus hpp industri jasa

Dalam industri jasa, HPP umumnya mengacu pada biaya yang terkait langsung dengan penyediaan layanan, seperti gaji tenaga kerja langsung dan bahan habis pakai.

Rumus HPP Industri Jasa:

HPP = Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Pendukung Layanan – Biaya yang Tidak Terpakai

Penjelasan: Pada industri jasa, HPP lebih fokus pada biaya yang langsung dikeluarkan untuk memberikan layanan kepada pelanggan.

Contoh perhitungan

  • Biaya Tenaga Kerja Langsung: Rp 7.000.000
  • Biaya Pendukung Layanan: Rp 2.000.000
  • Biaya yang Tidak Terpakai: Rp 1.000.000

HPP = 7.000.000 + 2.000.000 – 1.000.000 = Rp 8.000.000

Banner 3 kledo

Baca juga: Rumus Harga Pokok Penjualan (HPP) dan Kalkulator Gratisnya

Kasus Khusus dalam Perhitungan HPP

Retur barang

Retur barang memengaruhi HPP karena jika barang yang dibeli dikembalikan, nilai pembelian yang dihitung dalam HPP harus dikurangi.

Penyesuaian: Nilai retur barang dikurangi dari pembelian barang yang dihitung dalam HPP.

Rumus Penyesuaian:

HPP = Persediaan Awal + Pembelian – Retur Pembelian – Persediaan Akhir

Diskon pembelian

Diskon pembelian akan mengurangi biaya pembelian barang, sehingga HPP yang dihitung juga harus disesuaikan dengan nilai diskon tersebut.

Penyesuaian: Nilai diskon pembelian dikurangi dari harga pokok pembelian barang yang dimasukkan dalam perhitungan HPP.

Rumus Penyesuaian:

HPP = (Harga Pokok Pembelian – Diskon Pembelian) + Persediaan Awal – Persediaan Akhir

Kerugian persediaan (Selisih onventaris)

Kerugian persediaan terjadi ketika ada barang yang rusak, hilang, atau usang selama periode tersebut. Kerugian ini harus mengurangi nilai persediaan yang tercatat, yang pada gilirannya akan mengubah perhitungan HPP.

Penyesuaian: Nilai kerugian persediaan harus dikurangkan dari persediaan akhir, sehingga HPP akan mencerminkan biaya yang lebih tepat.

Rumus Penyesuaian:

HPP = Persediaan Awal + Pembelian – Kerugian Persediaan – Persediaan Akhir

Baca juga: Harga Pokok Produksi: Pengertian, Rumus, dan Contoh Perhitungannya

Dampak Rumus HPP untuk Standar Akuntansi yang Berbeda

Cara menghitung HPP

Akuntansi akrual

Dalam akuntansi akrual, HPP dihitung berdasarkan semua transaksi yang terjadi selama periode akuntansi, terlepas dari kapan pembayaran dilakukan atau penerimaan kas.

  • Penyesuaian: Biaya yang dibayar di masa depan (misalnya, utang pembelian barang) tetap akan dihitung dalam HPP untuk periode yang bersangkutan.
  • Dampaknya: Perhitungan HPP lebih mencerminkan kewajiban yang ada dalam periode akuntansi tersebut, meskipun pembayaran belum dilakukan.

Akuntansi kas

Dalam akuntansi kas, HPP hanya dihitung berdasarkan transaksi yang melibatkan kas, baik yang sudah dibayar maupun yang sudah diterima kasnya.

  • Penyesuaian: Jika barang dibeli tetapi pembayaran dilakukan pada periode berikutnya, biaya tersebut baru akan tercatat pada HPP di periode tersebut.
  • Dampaknya: HPP mungkin tampak lebih rendah pada periode tertentu karena hanya mencatat transaksi yang sudah melibatkan kas.

Baca juga: Metode Harga Pokok Pesanan: Pengertian Lengkap dan Cara Hitungnya

Contoh Menghitung HPP dengan Salah Satu Rumus Diatas

rumus hpp

Katakanlah Anda ingin mengetahui harga pokok penjualan Anda untuk kuartal tersebut. Anda mencatat persediaan awal pada tanggal 1 Januari dan persediaan akhir pada tanggal 31 Maret (akhir Kuartal 1).

Bisnis retail Anda memiliki persediaan awal sebesar 15.000.000. Total pembelian Anda mencapai 7.000.000 untuk kuartal tersebut. Dan, persediaan akhir Anda adalah 4.000.000.

Temukan total HPP Anda untuk kuartal tersebut dengan menggunakan rumus perhitungan harga pokok penjualan.

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Selama Periode – Persediaan Akhir

HPP = 15.000.000 + 7.000.000 – 4.000.000

Harga pokok penjualan Anda untuk kuartal tersebut adalah 18.000.000.

Baca juga: Harga Keseimbangan: Pengertian Lengkap dan Cara Hitungnya

Menghitung laba kotor

Setelah menentukan harga pokok penjualan, Anda dapat menemukan laba kotor bisnis Anda untuk periode tersebut.

Laba kotor adalah pendapatan yang tersisa setelah Anda mengurangi biaya pembuatan produk atau penyediaan layanan. Untuk mencari laba kotor, gunakan rumus berikut:

Laba Kotor = Pendapatan – HPP

Katakanlah Anda memiliki pendapatan sebesar 50.000.000 untuk kuartal tersebut. Kurangi HPP Anda sebesar 18.000.000 dari $50.000.000.

Laba Kotor = 50.000.000 – 18.000.000

Laba kotor Anda untuk periode tersebut adalah 32.000.000.

Baca juga: Cara Menghitung HPP Bisnis Dagang dan Jasa dengan Cepat dan Mudah

Pentingnya Mengetahui Rumus HPP dalam Bisnis

Jadi, mengapa harga pokok penjualan sangat penting bagi bisnis Anda? HPP Anda dapat memberi tahu Anda banyak informasi, termasuk:

  • Seberapa besar keuntungan Anda untuk suatu periode?
  • Apakah Anda perlu mengubah harga Anda?
  • Apakah Anda menghabiskan terlalu banyak biaya untuk menghasilkan produk atau layanan?

Keuntungan

Sekali lagi, Anda dapat menggunakan harga pokok penjualan untuk mencari laba kotor bisnis Anda.

Setelah mengetahui laba kotor, Anda bisa menghitung laba bersih, yaitu jumlah yang diperoleh bisnis Anda setelah dikurangi semua biaya.

Mengetahui keuntungan bisnis Anda dapat membantu Anda:

  • Membuat keputusan keuangan
  • Mencari pembiayaan (misalnya, pinjaman bisnis)
  • Menentukan apakah Anda perlu melakukan penyesuaian

Baca juga: Harga Penjualan: Pembahasan Lengkap dan Bedanya dengan HPP

Penentuan harga

Menetapkan harga produk dan layanan Anda adalah salah satu tanggung jawab terbesar yang Anda miliki sebagai pemilik bisnis.

Seperti halnya Goldilocks, Anda harus menemukan harga yang tepat untuk produk atau layanan Anda. Jika tidak, Anda bisa saja kehilangan keuntungan.

Jika Anda memberi harga produk Anda terlalu tinggi, Anda mungkin akan mengalami penurunan minat dan penjualan. Dan jika Anda memberi harga produk Anda terlalu rendah, Anda tidak akan menghasilkan keuntungan yang cukup.

Untuk menemukan titik yang benar dalam hal penetapan harga, gunakan harga pokok penjualan Anda.

Jika Anda mengetahui HPP Anda, Anda dapat menetapkan harga yang memberi Anda margin keuntungan yang sehat. Dan, Anda dapat menentukan kapan harga pada produk tertentu perlu dinaikkan.

Misalnya, katakanlah harga pokok penjualan Anda untuk Produk A sama dengan 10.000. Anda perlu memberi harga produk lebih tinggi dari 10.000 untuk menghasilkan keuntungan.

Jika Anda memberi harga kurang dari 10.000, Anda tidak akan mendapat untung.

Biaya

HPP Anda juga dapat memberi tahu Anda jika Anda menghabiskan terlalu banyak untuk biaya produksi.

Semakin tinggi biaya produksi Anda, semakin tinggi harga produk atau layanan Anda untuk menghasilkan keuntungan.

Jika Anda menyadari biaya produksi Anda terlalu tinggi, Anda dapat mencari cara untuk mengurangi pengeluaran, seperti mencari pemasok baru.

Baca juga: Pengertian Harga Pasar dan Hubungannya dengan Bisnis Anda

Dimana Anda bisa Melihat Nilai HPP?

rumus hpp 2

Anda dapat menemukan harga pokok penjualan pada laporan laba rugi bisnis Anda. Laporan laba rugi merinci keuntungan atau kerugian perusahaan Anda selama periode waktu tertentu, dan merupakan salah satu laporan keuangan utama.

Pada laporan laba rugi, HPP muncul di bawah penjualan (alias pendapatan) bisnis Anda. Kurangi HPP dari pendapatan Anda pada laporan laba rugi untuk mendapatkan laba kotor.

HPP Anda juga berperan dalam neraca keuangan. Neraca mencantumkan inventaris bisnis Anda di bawah aset lancar. Gunakan neraca Anda untuk menemukan saldo persediaan akhir Anda.

Mengetahui akun harga pokok penjualan

Jadi, akun apa yang dimaksud dengan HPP? Apakah harga pokok penjualan merupakan aset? Kewajiban?

HPP adalah jenis biaya. Beban adalah biaya yang dikeluarkan bisnis Anda selama operasi.

Saat Anda membuat entri jurnal HPP, tingkatkan biaya dengan debit, dan kurangi dengan kredit.

Baca juga: Bagaimana Cara Menghitung Harga Jual Pada Sebuah Produk?

Bisakah HPP Berubah?

Harga pokok penjualan Anda dapat berubah sepanjang periode akuntansi. HPP tergantung pada perubahan biaya dan metode persediaan yang Anda gunakan.

Metode penilaian persediaan

Ada beberapa metode yang digunakan untuk menentukan nilai persediaan akhir yang dapat mempengaruhi nilai HPP, di antaranya:

FIFO (First In, First Out)

Metode ini mengasumsikan bahwa barang yang pertama kali dibeli (masuk) adalah yang pertama kali dijual atau digunakan (keluar).

Dengan menggunakan FIFO, barang yang lebih lama akan dihitung sebagai persediaan awal dan barang yang lebih baru akan dihitung sebagai persediaan akhir.

Contoh:

Jika perusahaan membeli 100 unit barang dengan harga Rp 10.000 dan 100 unit lagi dengan harga Rp 12.000, maka persediaan akhir (jika menggunakan FIFO) akan dihitung dengan harga beli yang lebih baru (Rp 12.000).

LIFO (Last In, First Out)

LIFO berlawanan dengan FIFO, yaitu barang yang paling baru dibeli dianggap yang pertama kali dijual atau digunakan. Dengan menggunakan LIFO, nilai persediaan akhir dihitung berdasarkan barang yang lebih lama.

Contoh:

Dengan metode LIFO, persediaan akhir akan dihitung berdasarkan barang yang dibeli lebih awal (Rp 10.000), meskipun barang yang lebih baru ada di gudang.

Rata-Rata Tertimbang (Weighted Average)

Metode ini menghitung harga rata-rata dari semua barang yang dibeli selama periode tersebut dan menggunakan harga rata-rata ini untuk menghitung nilai persediaan akhir.

Contoh:

Jika perusahaan membeli 100 unit dengan harga Rp 10.000 dan 100 unit lagi dengan harga Rp 12.000, maka rata-rata tertimbangnya adalah (100 * 10.000 + 100 * 12.000) / 200 = Rp 11.000 per unit.

Persediaan akhir dihitung berdasarkan harga rata-rata ini.

Perhitungan HPP dengan Menggunakan Metode Penilaian Persediaan:

  • FIFO: Jika persediaan akhir dihitung dengan FIFO, maka barang yang tersisa di akhir periode dihitung berdasarkan harga barang yang lebih baru.
  • LIFO: Persediaan akhir dihitung berdasarkan barang yang lebih lama.
  • Rata-Rata Tertimbang: Menggunakan harga rata-rata untuk menentukan nilai persediaan akhir.

Metode yang Anda gunakan tergantung pada jenis inventaris Anda. Dan, PSAK di Indonesia menetapkan aturan khusus, dimana Anda tidak bisa menggunakan metode persediaan LIFO, karena metode ini hanya berlaku di Amerika.

Jika Anda menggunakan metode FIFO, barang pertama yang Anda jual adalah barang yang Anda beli atau produksi terlebih dahulu. Umumnya, ini berarti Anda menjual produk yang paling murah terlebih dahulu. Hasilnya, Anda mencatat harga pokok penjualan yang lebih rendah.

Di bawah metode LIFO, Anda menjual barang terbaru yang Anda beli atau produksi. Dengan LIFO, HPP Anda mungkin lebih tinggi.

Dengan metode rata-rata, Anda mengambil rata-rata persediaan Anda untuk menentukan harga pokok penjualan. Ini membuat HPP Anda lebih rendah daripada metode FIFO atau LIFO.

Baca juga: Fifo, Lifo dan Average: Pengertian Lengkap dan Perbedaannya

Kesalahahan yang Biasa Terjadi saat Menghitung HPP

Salah satu kesalahan umum saat menghitung HPP adalah secara tidak sengaja memasukkan biaya tidak langsung ke dalam penghitungan. Penting untuk membedakan antara biaya langsung dan tidak langsung dan mengelompokkannya dengan tepat. 

Kesalahan lainnya adalah tidak melakukan menghitung persediaan secara akurat di awal dan akhir periode akuntansi, yang dapat menyebabkan perhitungan HPP menjadi tidak akurat.

Kesalahan lain yang harus dihindari saat menghitung HPP adalah tidak memperhitungkan harga pokok barang yang rusak atau hilang selama proses produksi. 

Biaya-biaya ini harus diperhitungkan dalam perhitungan untuk memastikan angka HPP yang akurat. Selain itu, tidak memperhitungkan diskon atau retur dengan benar juga dapat menyebabkan penghitungan HPP yang salah. 

Penting juga untuk dicatat bahwa jenis industri yang berbeda bisa jadi memiliki metode yang berbeda dalam menghitung HPP. Misalnya, perusahaan manufaktur mungkin memiliki penghitungan HPP yang lebih kompleks dibandingkan perusahaan ritel.

Penting untuk memahami persyaratan spesifik untuk industri Anda dan memastikan bahwa Anda menggunakan metode yang benar untuk menghitung HPP.

Baca Juga: Metode Average Inventory adalah: Rumus dan Contohnya

Kesimpulan

Itulah rumus dan cara menghitung HPP yang harus Anda ketahui jika Anda adalah seorang pemilik bisnis. Menghitung HPP sangat penting untuk mengetahui biaya produksi untuk setiap produk dan juga keuntungan yang akan Anda dapatkan.

Untuk memudahkan Anda dalam menghitung HPP dan mengelola data keuangan, Anda bisa mencoba menggunakan software akuntansi seperti Kledo yang mudah digunakan dan memiliki fitur lengkap.

Kledo adalah software akuntansi berbasis cloud yang sudah digunakan oleh lebih dari 60 ribu pengguna dari berbagai jenis dan skala bisnis di Indonesia.

Jika tertarik, Anda bisa mencoba menggunakan Kledo secara gratis selama 14 hari melalui tautan ini.

sugi priharto

Tinggalkan Komentar

4 + 2 =