Stakeholder Communication: Pengertian, Manfaat, & Strateginya

stakeholder communication banner

Dalam sebuah proyek atau bisnis, cara Anda berkomunikasi dengan stakeholder atau pemangku kepentingan dapat menentukan apakah proyek tersebut akan berjalan lancar, mendapat dukungan, atau justru menghadapi hambatan.

Komunikasi yang jelas dan tepat sasaran membantu membangun kepercayaan, mengurangi risiko kesalahpahaman, serta menjaga kerja sama yang baik.

Lalu, bagaimana cara membangun strategi stakeholder communication yang efektif?

Artikel ini membahas apa itu stakeholder communication, manfaatnya, dan 6 strategi serta praktik terbaik yang dapat Anda terapkan.

Apa Itu Stakeholder Communication?

Stakeholder communication adalah proses komunikasi antara perusahaan dan stakeholder, yaitu orang atau kelompok yang memiliki kepentingan, pengaruh, atau terdampak oleh kegiatan dan proyek perusahaan.

Komunikasi ini tidak hanya dilakukan dari perusahaan kepada stakeholder. Stakeholder juga dapat menyampaikan pertanyaan, masukan, atau keluhan kepada perusahaan.

Dalam praktiknya, stakeholder communication dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti:

  • Email
  • Surat
  • SMS atau pesan WhatsApp
  • Laporan
  • Survei
  • Telepon
  • Meeting atau acara tatap muka
  • Chat online
  • Media sosial
  • Artikel blog atau berita

Komunikasi yang baik membantu perusahaan dan stakeholder bertukar informasi, menyamakan pemahaman, mengelola ekspektasi, dan menjaga hubungan kerja tetap baik.

kledo banner 3

Baca Juga: 21 Manfaat Laporan Keuangan bagi Bisnis dan Semua Pemangku Kepentingan

Apa Manfaat Stakeholder Communication?

stakeholder communication 2

Dalam menjalankan bisnis atau proyek, Anda mungkin sudah sering berkomunikasi dengan stakeholder. Namun, komunikasi yang dilakukan secara terencana dan konsisten dapat memberikan manfaat yang lebih besar.

Berikut beberapa manfaatnya:

1. Membangun Kepercayaan

Komunikasi yang rutin dan terbuka dapat membantu perusahaan membangun kepercayaan dengan stakeholder.

Misalnya, perusahaan memberikan update tentang perkembangan proyek, perubahan jadwal, atau kendala yang sedang dihadapi. Keterbukaan seperti ini membuat stakeholder mengetahui apa yang sedang terjadi dan tidak merasa ditinggalkan.

Komunikasi yang konsisten juga menunjukkan bahwa perusahaan dapat dipercaya untuk menjalankan komitmen dan menanggapi pertanyaan atau masalah yang disampaikan.

2. Membantu Pengambilan Keputusan

Stakeholder sering memiliki informasi dan sudut pandang yang berbeda. Karena itu, melibatkan mereka dalam komunikasi dapat membantu perusahaan mengambil keputusan yang lebih tepat.

Sebagai contoh, perusahaan ingin membangun cabang baru. Selain melihat data internal, perusahaan dapat meminta masukan dari calon pelanggan, karyawan, supplier, atau masyarakat sekitar.

Masukan tersebut mungkin membantu perusahaan menemukan hal-hal yang sebelumnya tidak dipertimbangkan, seperti akses lokasi, kebutuhan pelanggan, atau potensi masalah operasional.

Semakin banyak informasi yang Anda miliki, semakin baik keputusan yang dapat Anda buat.

3. Meningkatkan Akuntabilitas

Komunikasi yang rutin juga membantu setiap pihak memahami dan menjalankan tanggung jawabnya.

Misalnya, dalam sebuah proyek konstruksi, project manager perlu berkoordinasi dengan kontraktor, supplier, tim internal, dan pihak lainnya.

Dengan rutin berkomunikasi, project manager dapat mengetahui perkembangan pekerjaan, mengingatkan deadline, dan segera menangani masalah yang muncul.

Dengan begitu, setiap stakeholder mengetahui apa yang harus dilakukan, kapan harus dilakukan, dan bagaimana perkembangan proyeknya.

Baca Juga: Apa Itu Teori Stakeholder? Contoh Penerapannya dalam Bisnis

6 Strategi untuk Stakeholder Communication yang Lebih Baik

stakeholder communication

Strategi untuk komunikasi yang baik dengan stakeholder meliputi pemetaan, penetapan tujuan, hingga

1. Petakan Stakeholder dan Kelompokkan Komunikasi

Pertama, Anda perlu mengetahui siapa saja stakeholder Anda, apa yang mereka anggap penting, dan bagaimana cara mereka berkomunikasi.

Pemetaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelompokkan stakeholder berdasarkan tingkat pengaruh, kepentingan, sikap, serta kebutuhan komunikasi mereka.

Tips:

  • Identifikasi dan buat daftar semua stakeholder yang berpotensi terlibat, baik internal maupun eksternal, secara langsung maupun tidak langsung.
  • Nilai tingkat pengaruh, kepentingan, dukungan, dan potensi dampaknya terhadap tujuan Anda.
  • Kelompokkan stakeholder berdasarkan kebutuhan komunikasinya, misalnya manajemen, komunitas, atau regulator.

Contoh tabel pemetaan stakeholder:

Stakeholder Tingkat Pengaruh Tingkat Kepentingan Strategi Komunikasi
Manajemen perusahaan Tinggi Tinggi Update rutin, laporan progres, dan rapat berkala
Investor Tinggi Tinggi Laporan perkembangan dan hasil proyek
Pemerintah/regulator Tinggi Sedang Komunikasi formal dan pemenuhan dokumen
Karyawan Sedang Tinggi Sosialisasi, meeting, dan update internal
Masyarakat sekitar Sedang Tinggi Pertemuan warga dan penyampaian informasi proyek
Supplier Sedang Sedang Koordinasi jadwal, kebutuhan, dan progres pekerjaan
Masyarakat umum Rendah Rendah Informasi melalui website atau media sosial

Baca Juga: Cara Melakukan Stakeholder Analysis dan Contohnya

2. Tetapkan Tujuan dan Hasil yang Ingin Dicapai

Langkah kedua, tentukan terlebih dahulu apa yang ingin Anda capai dari interaksi dengan stakeholder.

Apakah tujuannya untuk memberikan informasi, meminta masukan, melibatkan, berkolaborasi, atau memberikan wewenang kepada stakeholder?

Tips:

  • Tentukan tujuan komunikasi yang jelas untuk setiap aktivitas engagement.
  • Sesuaikan strategi komunikasi dengan tahapan penting proyek dan keputusan yang harus diambil.
  • Pastikan stakeholder memahami bagaimana masukan mereka akan dipertimbangkan atau digunakan.

Contoh:

Anda dari perusahaan konstruksi yang akan berkonsultasi dengan masyarakat terkait pembangunan infrastruktur baru.

Anda ingin mengumpulkan masukan mengenai rancangan pembangunan, menjawab kekhawatiran warga, serta membangun dukungan masyarakat sebelum proses persetujuan perencanaan.

3. Sesuaikan Pesan dan Gunakan Berbagai Saluran Komunikasi

Setiap kelompok stakeholder memiliki kebutuhan informasi, tingkat pemahaman teknis, dan preferensi saluran komunikasi yang berbeda.

Karena itu, menggunakan pesan yang sama untuk semua stakeholder tidaklah efektif.

Sebaliknya, buat pesan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, lalu sesuaikan isinya dengan latar belakang serta kebutuhan masing-masing stakeholder.

Tips:

  • Manfaatkan email, newsletter, portal komunitas, pertemuan langsung, webinar, dan media sosial untuk menjangkau stakeholder secara lebih luas.
  • Sesuaikan frekuensi dan format komunikasi berdasarkan preferensi stakeholder serta tingkat sensitivitas informasi.

Baca Juga: Stakeholder Engagement: 7 Contoh Penerapannya di Bisnis Kecil

4. Bangun Dialog Dua Arah yang Terbuka

stakeholder communication 3

Komunikasi stakeholder yang efektif bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membuka ruang untuk berdiskusi.

Dengan mengundang dan menghargai masukan stakeholder, Anda dapat meningkatkan kepercayaan terhadap proyek, menemukan risiko yang sebelumnya tidak terlihat, dan membangun hubungan yang saling menghargai.

Tips:

  • Adakan forum diskusi, sesi tanya jawab, atau workshop interaktif, baik secara langsung maupun melalui platform digital.
  • Berikan kesempatan kepada stakeholder untuk menyampaikan pertanyaan dan ide atau memberikan suara terhadap suatu pilihan
  • Tanggapi masukan, berikan penjelasan, dan tunjukkan bagaimana masukan stakeholder memengaruhi keputusan atau hasil proyek.

Contoh:

Dalam proyek pembangunan infrastruktur, perusahaan dapat menggunakan survei online dan fitur feedback secara real-time untuk mengumpulkan pendapat masyarakat.

Cara ini dapat meningkatkan partisipasi sekaligus membantu mengurangi penolakan terhadap proyek.

5. Pantau, Analisis, dan Laporkan Feedback Stakeholder

Pengelolaan feedback yang baik membantu perusahaan terus melakukan perbaikan.

Dengan memantau tren, sentimen, dan masalah yang belum terselesaikan, Anda dapat menyesuaikan strategi dengan lebih cepat sekaligus menunjukkan bahwa setiap masukan stakeholder ditangani secara serius.

Tips menerapkan:

  • Pusatkan seluruh interaksi dengan stakeholder dalam satu sistem untuk mempermudah pengelolaan komunikasi dan menjadi sumber informasi yang terpusat.
  • Buat laporan secara berkala yang merangkum temuan, tindakan yang telah dilakukan, dan langkah yang bisa diambil.

6. Bangun Kepercayaan, Transparansi, dan Hubungan Jangka Panjang

Stakeholder akan lebih mungkin mendukung proyek, kerja sama, atau perubahan dalam organisasi ketika mereka percaya pada proses yang dijalankan dan merasa bahwa pendapat mereka dihargai.

Kepercayaan tidak bisa dibangun hanya dalam sehari, tapi tumbuh melalui komunikasi yang konsisten, sikap bertanggung jawab, dan keterbukaan.

Tips membangun kepercayaan:

  • Sampaikan informasi secara transparan mengenai jadwal proyek, risiko yang diketahui, potensi konsekuensi, dan keterbatasan yang ada.
  • Sampaikan keputusan beserta alasannya secara terbuka. Anda juga dapat membuat rangkuman untuk setiap tindak lanjut feedback.
  • Jaga privasi dan kerahasiaan data, terutama informasi pribadi atau informasi sensitif.
  • Pastikan informasi dan saluran komunikasi tetap mudah diakses, terutama bagi kelompok stakeholder yang selama ini kurang terwakili.

Dengan membangun komunikasi yang terbuka dan konsisten, perusahaan dapat menciptakan hubungan stakeholder yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Baca Juga: Tahapan Business Process Management dan Contohnya

Kesimpulan

Stakeholder communication adalah kegiatan menyampaikan informasi dan memastikan setiap pihak memahami tujuan, perkembangan, dan tanggung jawabnya.

Komunikasi yang dilakukan dengan jelas, terbuka, dan konsisten dapat membantu membangun kepercayaan, mengurangi risiko kesalahpahaman, serta membuat pengambilan keputusan menjadi lebih baik.

Agar komunikasi dengan stakeholder berjalan lebih efektif, perusahaan perlu mengetahui siapa saja stakeholder yang terlibat, menentukan tujuan komunikasi, memilih saluran yang tepat, serta mengelola feedback dan informasi secara teratur.

Dalam praktiknya, komunikasi juga akan lebih mudah ketika perusahaan memiliki data bisnis yang rapi dan mudah diakses.

Kledo sebagai software akuntansi membantu bisnis mengelola pencatatan dan data keuangan secara lebih terstruktur, sehingga informasi yang dibutuhkan untuk koordinasi dan pengambilan keputusan selalu tersedia.

Coba Kledo sekarang juga untuk pengelolaan bisnis yang lebih baik.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

six + 17 =