Ada beberapa risiko yang bisa mengganggu arus barang dan layanan dalam jaringan supply chain perusahaan.
Risiko ini bermacam-macam mulai dari faktor ekonomi seperti penurunan kondisi pasar, masalah lingkungan, kondisi politik dan geopolitik, hingga masalah lainnya.
Ada berbagai cara yang bisa dilakukan bisnis untuk mengatasi risiko supply chain dan memastikan barang tetap sampai tepat waktu.
Berikut ini adalah cara mengatasi 8 risiko supply chain dan cara menilai risiko supplier yang bisa kita ajak kerja sama.
8 Risiko Supply Chain dan Cara Mengatasi
1. Ketidakstabilan politik

Kondisi geopolitik semakin rumit, dan efeknya bisa menyebabkan kelangkaan energi dan bahan baku secara global.
Logistik dan perencanaan bahan baku pebisnis pun mau tak mau terdampak.
Bahkan, dalam SAP 2022 Supply Chain Survey, ketidakstabilan geopolitik menjadi masalah supply chain terbesar menurut para pemimpin bisnis (58%), disusul oleh kelangkaan bahan baku (44%).
Misalnya, masalah terkini terkait blokade Selat Hormuz menyebabkan kelangkaan minyak dan pupuk di seluruh dunia.
Cara mengatasi risiko supply chain akibat ketidakstabilan kondisi global:
- Melakukan pemetaan, pemantauan, dan pengukuran terhadap paparan risiko geopolitik di seluruh rantai supply chain. Dengan begitu, perusahaan dapat merespons gangguan lebih cepat saat terjadi perubahan situasi.
- Contoh: Membangun jaringan supplier yang lebih beragam dan menjalin hubungan langsung dengan mitra logistik agar bisa beradaptasi lebih cepat ketika terjadi gangguan operasional.
2. Kondisi ekonomi dan inflasi
Banyak bisnis saat ini menghadapi tekanan akibat ancaman resesi, inflasi, dan kondisi ekonomi yang tidak stabil.
Dampaknya adalah meningkatnya biaya bahan bakar, energi, tenaga kerja, hingga biaya operasional secara keseluruhan.
Untuk menghadapi situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, supply chain harus memiliki visibilitas tinggi dan mampu merespon perubahan dengan cepat.
Cara mengatasi risiko supply chain kondisi ekonomi:
Berdasarkan riset Gartner, para pelaku supply chain mulai mengandalkan solusi berbasis cloud untuk membantu menghadapi tekanan ekonomi tersebut.
Mereka memilih solusi yang membawa fitur:
- Analisis data lintas bisnis secara real-time
- Perencanaan dan prediksi
Selain itu, di masa inflasi, bisnis juga menghadapi risiko kenaikan harga bahan baku atau kelangkaan material tertentu.
Jika tim R&D dan desain terintegrasi dengan sistem supply chain dan manufaktur, perusahaan dapat lebih cepat mengembangkan alternatif produk ketika suatu material menjadi sulit diperoleh atau terlalu mahal.
3. Ancaman keamanan siber
Saat ini banyak perusahaan menggunakan software cloud dan perangkat digital untuk mengelola supply chain.
Teknologi ini memang membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien, tetapi juga meningkatkan risiko serangan siber.
Serangan siber bisa terjadi melalui email palsu, pencurian data, virus, atau peretasan sistem perusahaan.
Jika hal ini terjadi, operasional supply chain dapat terganggu, data bisnis bocor, hingga perusahaan mengalami kerugian besar.
Cara mengatasi risiko supply chain:
Salah satu cara mengatasi risiko supply chain ini adalah dengan memperkuat keamanan sistem digital perusahaan.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- rutin memperbarui sistem dan software,
- menggunakan password yang kuat,
- membatasi akses data penting,
- serta melatih karyawan agar lebih waspada terhadap email atau link mencurigakan.
Selain itu, perusahaan juga dapat menggunakan sistem pemantauan secara real-time untuk mendeteksi aktivitas yang tidak normal lebih cepat, sehingga bisa menangani masalah sebelum menjadi lebih besar.
Baca Juga: Supply Chain Management: Pengertian & Metriks Pengukurannya
4. Permintaan pasar yang cepat berubah

Saat ini tren produk bisa berubah sangat cepat. Misalnya, ketika sebuah produk viral di Instagram atau TikTok, pelanggan langsung ingin membeli produk tersebut saat itu juga.
Akibatnya, bisnis harus bisa bergerak lebih cepat untuk memenuhi permintaan pasar.
Jika perusahaan terlambat merespon tren, mereka bisa kehilangan pelanggan atau kehabisan stok barang.
Cara mengatasi risiko perubahan pemrintaan:
- Pantau tren pasar dan perilaku pelanggan secara rutin. Setelah mengetahui produk apa yang sedang ramai, teruskan informasi tersebut ke tim produksi, R&D, dan penjualan agar bisnis bisa menyesuaikan stok maupun produk dengan cepat.
- Coba prediksi permintaan pelanggan dengan teknologi seperti AI dan machine learning
5. Kurangnya transparansi supply chain
Banyak perusahaan masih kesulitan mengetahui secara jelas asal bahan baku, proses pengiriman, atau kondisi supplier mereka.
Padahal, pelanggan kini semakin peduli terhadap kualitas produk dan proses produksinya.
Contohnya, pelanggan ingin tahu apakah bahan baku diperoleh secara legal, apakah proses produksinya ramah lingkungan, atau apakah perusahaan memperlakukan pekerja dengan baik.
Cara mengatasinya:
Bisnis perlu memiliki supply chain yang lebih transparan. Salah satu caranya adalah menggunakan teknologi yang dapat melacak perjalanan produk dari awal hingga sampai ke pelanggan.
Misalnya:
- AI membantu memantau lokasi pengiriman barang secara real-time.
- RFID membantu melacak pergerakan produk di gudang atau pengiriman.
- Menyimpan data asal-usul produk agar lebih aman dan sulit dimanipulasi.
Dengan transparansi yang baik, perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan sekaligus lebih cepat menemukan masalah dalam supply chain.
6. Risiko informasi bisnis
Dalam supply chain, perusahaan menerima banyak data dari berbagai pihak, seperti supplier, tim penjualan, gudang, logistik, hingga pelanggan.
Jika data tersebut tidak akurat atau tidak sinkron, operasional bisnis bisa terganggu.
Contohnya:
- Stok di sistem ternyata berbeda dengan stok asli di gudang.
- Tim penjualan menerima data produk yang sudah tidak tersedia.
- Supplier terlambat mengirim barang tetapi informasinya tidak segera diketahui.
Masalah seperti ini bisa menyebabkan keterlambatan pengiriman, kesalahan produksi, hingga kerugian bisnis.
Cara mengatasinya:
Gunakan sistem digital yang dapat menghubungkan seluruh data bisnis dalam satu platform.
Dengan data yang terpusat dan real-time, setiap divisi dapat bekerja menggunakan informasi yang sama sehingga keputusan bisnis menjadi lebih cepat dan akurat.
Baca Juga: Tips Manajemen Rantai Pasok dan Pengertian Lengkapnya
7. Kelangkaan produk dan bahan baku
Banyak bisnis saat ini menghadapi masalah kelangkaan bahan baku dan produk akibat supply yang tidak stabil.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, banyak perusahaan memilih menyimpan stok lebih banyak sebagai cadangan.
Namun, menyimpan terlalu banyak stok juga bisa meningkatkan biaya penyimpanan dan risiko barang menumpuk.
Cara mengatasi risiko kelangkaan produk dan bahan baku:
- Membuat perencanaan stok yang lebih baik dengan memprediksi kebutuhan pasar, memantau ketersediaan bahan baku, dan menyiapkan rencana cadangan jika supplier mengalami masalah.
- Kerjasama dengan beberapa supplier alternatif agar operasional bisnis tetap berjalan ketika salah satu supplier mengalami keterlambatan atau kehabisan bahan baku.
8. Gangguan akibat perubahan iklim
Faktor eksternal seperti cuaca ekstrem(banjir, gelombang panas, badai, dan kebakaran hutan) juga bisa mengganggu supply chain, mulai dari produksi hingga pengiriman barang.
Misalnya, banjir dapat menghambat distribusi, cuaca buruk dapat memperlambat pengiriman, atau panas ekstrem dapat memengaruhi produksi di pabrik.
Cara mengurangi dampak akibat perubahan iklan:
Untuk mengurangi dampaknya, perusahaan perlu memiliki visibilitas yang baik terhadap supply chain mereka, seperti mengetahui lokasi supplier, jalur pengiriman, dan kondisi distribusi secara real-time.
Salah satu cara mengatasi risiko supply chain akibat perubahan iklim adalah dengan:
- menggunakan beberapa jalur pengiriman alternatif,
- memiliki supplier cadangan,
- memantau kondisi cuaca dan distribusi secara rutin,
- serta menggunakan sistem digital untuk mendeteksi potensi gangguan lebih cepat.
Saat ini banyak bisnis juga memakai software supply chain berbasis cloud untuk membantu melakukan simulasi dan perencanaan jika terjadi gangguan akibat cuaca ekstrem.
Selain membantu operasional lebih stabil, perusahaan juga mulai menerapkan langkah bisnis yang lebih ramah lingkungan agar dapat mengurangi dampak perubahan iklim dalam jangka panjang sekaligus memenuhi regulasi pemerintah terkait keberlanjutan bisnis.
Baca Juga: Cara Membangun Ketahanan Supply Chain Planning Perusahaan
3 Strategi Menilai Risiko Supplier

Selain tips-tips di atas, bisnis juga perlu memahami seberapa besar risiko dari supplier yang mereka ajak kerja sama, terutama supplier utama atau tier 1 supplier.
Perusahaan yang lebih besar bahkan biasanya juga memantau supplier tingkat kedua dan ketiga untuk memastikan supply chain tetap aman dan stabil.
Berikut beberapa cara yang bisa digunakan untuk menilai risiko supplier:
1. Membuat pemetaan supply chain
Sebelum menilai risiko supplier, perusahaan perlu mengetahui:
- siapa saja supplier yang dimiliki,
- produk atau bahan apa yang mereka sediakan,
- dan lokasi supplier tersebut.
Pemetaan ini membantu bisnis melihat keseluruhan jaringan supply chain sehingga lebih mudah mendeteksi potensi risiko.
Proses ini sebaiknya melibatkan beberapa divisi agar tidak ada supplier yang terlewat, termasuk supplier kecil yang mungkin tetap penting untuk operasional bisnis.
Pemetaan supplier bisa dibuat menggunakan spreadsheet sederhana atau software supply chain.
Selain itu, data supplier juga perlu diperbarui secara rutin ketika ada supplier baru atau kerja sama yang berakhir.
2. Menggunakan Sistem Penilaian Risiko
Cara berikutnya adalah memberikan skor pada setiap supplier berdasarkan tingkat risikonya.
Beberapa faktor yang biasanya dinilai antara lain:
- kondisi ekonomi negara supplier,
- risiko politik,
- kondisi keuangan supplier,
- riwayat kredit,
- hingga risiko bencana alam.
Setiap faktor diberikan bobot nilai sesuai tingkat kepentingannya. Setelah itu, supplier diberi skor, misalnya dari 1 sampai 5.
Contohnya:
- skor 1 = risiko rendah,
- skor 5 = risiko tinggi.
Dari hasil tersebut, perusahaan bisa mengetahui supplier mana yang paling berisiko dan perlu mendapatkan perhatian lebih.
Baca Juga: 7 Strategi Meningkatkan Manajemen Supply Chain Bisnis Retail
3. Menggunakan Metode Value at Risk (VaR)
Metode Value at Risk (VaR) digunakan untuk memperkirakan potensi kerugian yang mungkin terjadi jika supplier mengalami gangguan.
Perusahaan akan menghitung:
- kemungkinan terjadinya risiko,
- dampak finansialnya,
- dan seberapa besar pengaruhnya terhadap bisnis.
Contohnya, jika ada kemungkinan 10% terjadi badai di wilayah supplier, dan supplier tersebut adalah satu-satunya pemasok komponen penting senilai Rp3 miliar, maka potensi risikonya adalah:
0.1×3,000,000,000=300,000,000
Artinya, potensi kerugian bisnis bisa mencapai Rp300 juta.
Dari hasil perhitungan tersebut, perusahaan dapat mengambil langkah pencegahan seperti:
- mencari supplier alternatif,
- membagi pesanan ke beberapa wilayah,
- atau menyiapkan stok cadangan.
Pentingnya Mengelompokkan Supplier
Tidak semua supplier memiliki tingkat kepentingan yang sama. Karena itu, supplier biasanya dikelompokkan berdasarkan pengaruhnya terhadap bisnis, mirip seperti metode analisis persediaan ABC.
Contohnya:
- Supplier kategori A menyediakan bahan penting untuk produk utama bisnis.
- Supplier kategori C menyediakan barang yang mudah diganti.
Namun, penilaian ini tidak hanya berdasarkan nilai penjualan saja. Supplier dengan risiko rendah tetap bisa menjadi sangat penting jika bisnis sangat bergantung pada mereka.
Sebaliknya, supplier di daerah berisiko tinggi belum tentu menjadi masalah besar jika barang yang mereka sediakan mudah diganti.
Baca Juga: Supply Chain Forecasting: Metode, Tantangan, dan Manfaatnya
Kesimpulan
Supply chain membawa beberapa risiko seperti gangguan politik global, perubahan permintaan pasar, ancaman keamanan siber, hingga kelangkaan bahan baku.
Semua risiko ini dapat memengaruhi operasional dan kondisi keuangan perusahaan jika tidak ditangani dengan baik.
Karena itu, bisnis perlu memiliki strategi yang tepat, seperti memperkuat hubungan dengan supplier, meningkatkan visibilitas supply chain, menggunakan data real-time, hingga memanfaatkan teknologi digital untuk membantu proses perencanaan dan pengambilan keputusan.
Selain pengelolaan operasional, pencatatan keuangan yang akurat juga memegang peranan penting dalam mengurangi risiko supply chain.
Dengan software akuntansi seperti Kledo, bisnis dapat memantau arus kas, mengelola persediaan, mencatat pembelian, hingga melihat laporan keuangan secara real-time dalam satu platform terintegrasi.
Melalui data yang lebih akurat dan terpusat, perusahaan dapat mengambil keputusan lebih cepat, menjaga kestabilan stok, dan mengantisipasi potensi gangguan supply chain sebelum berdampak lebih besar pada bisnis.
- 8 Risiko Supply Chain, Cara Mengatasi, dan Menilai Risikonya - 26 Mei 2026
- Nota Kasir: Pengertian, Jenis, dan Cara Membuatnya - 26 Mei 2026
- Cara Jualan Online & Naikkan Omzet Hanya dari WhatsApp - 22 Mei 2026
