Expected Credit Loss: Contoh, Dampak, dan Cara Mengurangi

expected credit loss banner

Bagi banyak perusahaan, terutama yang memberikan penjualan secara kredit, risiko piutang tak tertagih merupakan bagian yang tidak dapat dihindari dari kegiatan bisnis.

Meskipun penjualan kredit dapat membantu meningkatkan pendapatan dan memperluas basis pelanggan, selalu ada kemungkinan sebagian pelanggan tidak mampu atau tidak mau melunasi kewajibannya.

Jika tidak dikelola dengan benar, kerugian kredit bisa menyebabkan laporan keuangan terlihat lebih sehat dari kondisi sebenarnya.

Karena itu, PSAK 109 (awalnya PSAK 71) mengatur Expected Credit Loss (ECL) yang mewajibkan perusahaan untuk mengakui potensi kerugian kredit sejak awal, bahkan sebelum gagal bayar benar-benar terjadi.

Simak artikel ini sampai selesai untuk membahas apa itu Expected Credit Loss, contoh, dampaknya pada laporan keuangan, serta cara mengurangi risikonya.

Simak artikel ini untuk mempelajari apa itu Expected Credit Loss, mengapa konsep ini diperkenalkan, cara hitung, dampaknya pada laporan keuangan, dan mengurangi risikonya.

Apa Itu Expected Credit Loss (ECL)?

Expected Credit Loss (ECL) adalah estimasi kerugian finansial, dihitung berdasarkan probabilitas kegagalan bayar, besaran eksposur pada saat gagal bayar, dan perkiraan jumlah yang tidak dapat dipulihkan.

Menurut IFRS 9 (yang diadopsi sebagai PSAK 71, lalu kemudian diubah penomorannya menjadi PSAK 109 di Indonesia), ECL menjawab berapa besar kerugian yang kemungkinan akan perusahaan tanggung dari piutang atau pinjaman ini, mempertimbangkan semua kondisi yang mungkin terjadi di masa depan.

Perbedaan antara kerugian aktual dan kerugian yang diperkirakan (ECL):

AspekKerugian Aktual (Incurred Loss)Kerugian yang Diperkirakan (Expected Credit Loss)
Waktu pengakuanSetelah bukti objektif kerugian terjadiSejak awal pengakuan aset keuangan
Dasar pengakuanPeristiwa yang sudah terjadiEstimasi probabilistik masa depan
OrientasiMasa lalu (backward-looking)Masa depan (forward-looking)
PencadanganReaktifProaktif
StandarPSAK 55 (lama)PSAK 71 (berlaku saat ini)
kledo banner 2

Baca Juga: Bad Debt Expense: Pengertian, Metode, dan Cara Jurnalnya

Mengapa Konsep ECL Diperkenalkan?

Sebelum IFRS 9 dan PSAK 71, standar akuntansi yang berlaku menggunakan pendekatan incurred loss (kerugian yang sudah terjadi).

Dalam model ini, cadangan kerugian penurunan nilai (allowance for credit losses) hanya dibentuk ketika ada bukti objektif bahwa suatu aset keuangan telah mengalami penurunan nilai.

Pendekatan ini memiliki kelemahan:

  • Terlalu reaktif. Perusahaan hanya mencatat kerugian setelah ada tanda-tanda nyata gagal bayar, seperti tunggakan dalam jumlah besar atau debitur bangkrut.
  • Terlambat membuat pencadangan. Karena kerugian baru diakui setelah peristiwa terjadi, perusahaan seringkali gagal membentuk cadangan yang cukup untuk menghadapi krisis.

Kelemahan model incurred loss semakin menonjol saat krisis keuangan global 2008. Pada periode itu, banyak lembaga keuangan harus merugi besar-besaran dalam waktu singkat, karena cadangan yang mereka bentuk sebelumnya jauh tidak mencukupi.

Badan standar akuntansi global seperti IASB dan FASB, menyimpulkan bahwa model incurred loss tidak mampu mencerminkan risiko kredit yang sesungguhnya.

Lalu, mereka pun mengembangkan IFRS 9, yang secara resmi menggantikan IAS 39 dan memperkenalkan model ECL.

Baca Juga: SAK dan IFRS: Pengertian dan Perbedaannya dalam Akuntansi

Mengapa Expected Credit Loss Penting bagi Perusahaan?

expected credit loss 1

1. Tidak semua pelanggan akan membayar tepat waktu

Dalam praktik bisnis, tidak semua pelanggan memiliki kemampuan pembayaran yang sama.

Sebagian pelanggan mungkin membayar sesuai jatuh tempo, sebagian lainnya terlambat, dan ada pula yang akhirnya gagal melunasi tagihan sama sekali.

Jika perusahaan menganggap seluruh piutang akan tertagih 100%, nilai aset yang disajikan dalam laporan keuangan berpotensi menjadi terlalu tinggi.

Oleh karena itu, perusahaan perlu mengantisipasi kemungkinan kerugian tersebut melalui perhitungan ECL.

2. ECL membantu bisnis mengukur risiko dari awal

Sebelum PSAK 71 diberlakukan, banyak perusahaan menggunakan pendekatan incurred loss, yaitu baru mengakui kerugian setelah terdapat bukti bahwa pelanggan mengalami masalah pembayaran.

ECL berbeda karena perusahaan harus memperkirakan risiko gagal bayar sejak awal pengakuan piutang atau aset keuangan.

Dengan begitu, manajemen dapat mengambil tindakan pencegahan sebelum masalah berkembang menjadi kerugian yang lebih besar.

3. ECL membuat laporan keuangan lebih realistis

Tanpa cadangan kerugian yang memadai, nilai piutang dalam neraca dapat terlihat lebih besar daripada jumlah yang sebenarnya dapat ditagih. Akibatnya, aset perusahaan menjadi overstated atau terlalu tinggi.

Melalui ECL, perusahaan dapat menyajikan nilai piutang yang lebih realistis sehingga laporan keuangan menjadi lebih relevan bagi manajemen, investor, kreditur, maupun auditor.

4. Investor dan bank memperhatikan kualitas piutang

Investor dan pemberi pinjaman biasanya ingin mengetahui seberapa besar kemungkinan piutang usaha dapat ditagih.

Sebagai contoh, dua perusahaan dapat memiliki nilai piutang sebesar Rp5 miliar. Namun jika perusahaan pertama memiliki pelanggan yang sehat secara finansial, sedangkan perusahaan kedua memiliki banyak pelanggan yang sering menunggak pembayaran, maka kualitas piutang keduanya tentu berbeda.

Karena alasan tersebut, nilai ECL sering menjadi salah satu indikator yang diperhatikan oleh investor, bank, dan analis keuangan ketika mengevaluasi kesehatan suatu perusahaan.

Baca Juga: Mengenal Berbagai Jenis Piutang dalam Akuntansi

Bagaimana Expected Credit Loss Bekerja?

expected credit loss 2

ECL bekerja dengan memperkirakan berapa besar kerugian yang mungkin terjadi akibat pelanggan gagal membayar kewajibannya.

Lalu, perusahaan tidak hanya menunggu hingga pelanggan benar-benar gagal bayar, tetapi melakukan estimasi berdasarkan data yang tersedia dan berbagai faktor risiko yang relevan.

1. Menghitung estimasi pelanggan gagal bayar

Dalam melakukan estimasi, Anda bisa mempertimbangkan beberapa faktor seperti:

  • Riwayat pembayaran pelanggan.
  • Lama hubungan bisnis dengan pelanggan.
  • Kondisi keuangan pelanggan.
  • Sektor industri tempat pelanggan beroperasi.
  • Informasi kredit yang tersedia.

Sebagai contoh, pelanggan yang sering terlambat membayar tagihan biasanya memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan pelanggan yang selalu membayar tepat waktu.

Semakin besar kemungkinan gagal bayar, semakin tinggi pula nilai ECL yang harus diakui perusahaan.

2. Mempertimbangkan data historis

Perusahaan banyak menggunakan data historis sebagai titik awal untuk menghitung ECL.

Misalnya, jika dalam lima tahun terakhir rata-rata 3% piutang usaha tidak dapat ditagih, maka angka tersebut dapat menjadi dasar awal untuk memperkirakan kerugian kredit di masa mendatang.

3. Kondisi ekonomi

Perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai kondisi ekonomi yang berpotensi memengaruhi kemampuan pembayaran pelanggan di masa depan, seperti:

  • Pertumbuhan ekonomi.
  • Tingkat inflasi.
  • Suku bunga.
  • Tingkat pengangguran.
  • Kondisi industri tertentu.
  • Risiko resesi ekonomi.

Contohnya, perusahaan mungkin memperkirakan tingkat gagal bayar pelanggan akan meningkat ketika ekonomi mengalami perlambatan atau ketika sektor usaha pelanggan sedang menghadapi tekanan yang signifikan.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, estimasi ECL menjadi lebih relevan dibandingkan hanya mengandalkan data masa lalu.

4. Membentuk cadangan sesuai risiko pelanggan

Semakin tinggi risiko kredit suatu pelanggan, semakin besar pula cadangan kerugian yang perlu Anda bentuk.

Misalnya:

PelangganRisiko Gagal BayarCadangan ECL
Pelanggan ARendahKecil
Pelanggan BSedangMenengah
Pelanggan CTinggiBesar

Pendekatan ini membantu perusahaan mengalokasikan cadangan secara proporsional sesuai tingkat risiko masing-masing pelanggan.

Dengan demikian, perusahaan tidak hanya fokus pada jumlah piutang yang dimiliki, tetapi juga memperhatikan kualitas piutang tersebut.

Baca Juga: Mengenal Apa itu Cost Recovery dalam Akuntansi Bisnis

Apa Perbedaan Expected Credit Loss dan Piutang Tak Tertagih?

Expected Credit Loss (ECL) dan piutang tak tertagih sama-sama berkaitan dengan risiko pelanggan yang tidak membayar kewajibannya.

Namun, keduanya memiliki konsep, tujuan, dan waktu pengakuan yang berbeda dalam akuntansi.

Piutang tak tertagih adalah piutang yang pada akhirnya tidak dapat ditagih dari pelanggan karena berbagai alasan, seperti kebangkrutan, penutupan usaha, atau ketidakmampuan membayar.

Jadi, perusahaan biasanya baru mengakui kerugian ketika terdapat bukti yang cukup bahwa pelanggan tidak akan melunasi utangnya.

Berbeda dengan piutang tak tertagih, Expected Credit Loss mengharuskan perusahaan memperkirakan potensi kerugian sejak awal pengakuan piutang atau aset keuangan.

Artinya, meskipun pelanggan masih membayar tepat waktu, perusahaan tetap perlu mempertimbangkan kemungkinan bahwa sebagian piutang tidak akan tertagih di masa mendatang.

AspekExpected Credit Loss (ECL)Piutang Tak Tertagih
Fokus utamaKerugian yang diperkirakan akan terjadiKerugian yang sudah terjadi
Waktu pengakuanSejak awal pengakuan piutangSetelah terdapat bukti gagal bayar
Dasar perhitunganData historis, kondisi saat ini, dan proyeksi masa depanPeristiwa atau bukti kerugian yang telah terjadi

Baca Juga: Prosedur Sistem Akuntansi Piutang dan Studi Kasusnya

Contoh Sederhana Expected Credit Loss dalam Bisnis

Konsep ECL sering dianggap rumit karena banyak digunakan oleh bank dan lembaga keuangan.

Namun, pada dasarnya prinsip ECL juga dapat diterapkan secara sederhana oleh perusahaan yang memiliki penjualan kredit.

Berikut contoh sederhana untuk memahami cara kerja ECL dalam praktik bisnis sehari-hari.

Contoh Kasus Perusahaan dengan Banyak Pelanggan Kredit

Misalkan PT Bangun Negeri adalah distributor bahan bangunan yang menjual produknya secara kredit kepada berbagai toko dan kontraktor.

Pada akhir tahun, perusahaan memiliki total piutang usaha sebesar Rp2.000.000.000.

Berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir, perusahaan menemukan bahwa rata-rata sekitar 3% piutang tidak dapat ditagih karena:

  • Pelanggan mengalami kesulitan keuangan.
  • Proyek pelanggan gagal berjalan.
  • Keterlambatan pembayaran yang berujung pada gagal bayar.

Selain itu, kondisi ekonomi sedang mengalami perlambatan sehingga manajemen memperkirakan risiko gagal bayar sedikit meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Karena itu, perusahaan pun perlu menghitung estimasi kerugian. Anggaplah perusahaan menggunakan estimasi tingkat kerugian kredit sebesar 4%.

Perhitungan ECL:

Expected Credit Loss = Total Piutang × Tingkat Kerugian Kredit

ECL = Rp2.000.000.000 × 4%

ECL = Rp80.000.000

Artinya, perusahaan memperkirakan bahwa dari total piutang sebesar Rp2 miliar, sekitar Rp80 juta berpotensi tidak dapat ditagih.

Dalam laporan keuangan, perusahaan akan membentuk cadangan kerugian kredit sebesar Rp80 juta.

Penyajian di neraca:

KeteranganNilai
Piutang usaha brutoRp2.000.000.000
Cadangan ECL(Rp80.000.000)
Piutang usaha netoRp1.920.000.000

Baca Juga: Mengetahui Siklus Penerimaan Piutang Usaha dalam Bisnis

Bagaimana Jurnal Pencatatan Expected Credit Loss?

Expected Credit Loss (ECL) dicatat sebagai cadangan kerugian penurunan nilai atas aset keuangan, seperti piutang usaha.

Pencatatan ECL akan memengaruhi akun beban kerugian kredit ekspektasian di laporan laba rugi dan cadangan kerugian kredit di neraca.

1. Saat Membentuk Cadangan ECL

Misalkan perusahaan memiliki piutang usaha sebesar Rp500 juta dan hasil perhitungan menunjukkan Expected Credit Loss sebesar Rp10 juta.

Jurnal yang dibuat:

AkunDebitKredit
Beban Kerugian Kredit EkspektasianRp10.000.000
Cadangan Kerugian Kredit EkspektasianRp10.000.000

Penyajian dalam neraca:

KeteranganNilai
Piutang UsahaRp500.000.000
Cadangan ECL(Rp10.000.000)
Piutang NetoRp490.000.000

2. Saat Estimasi ECL Meningkat

Pada akhir periode berikutnya, perusahaan menghitung ulang ECL dan memperoleh estimasi baru sebesar Rp15 juta.

Karena cadangan sebelumnya sudah Rp10 juta, perusahaan hanya perlu menambah Rp5 juta.

Jurnal:

AkunDebitKredit
Beban Kerugian Kredit EkspektasianRp5.000.000
Cadangan Kerugian Kredit EkspektasianRp5.000.000

Setelah jurnal ini, saldo cadangan menjadi Rp15 juta.

3. Saat Estimasi ECL Menurun

Misalkan pada periode berikutnya kondisi pelanggan membaik dan hasil perhitungan ECL turun menjadi Rp12 juta.

Karena saldo cadangan saat ini Rp15 juta, perusahaan perlu mengurangi cadangan sebesar Rp3 juta.

Jurnal:

AkunDebitKredit
Cadangan Kerugian Kredit EkspektasianRp3.000.000
Pemulihan Kerugian Kredit (Recovery/Reversal)Rp3.000.000

Jurnal ini akan meningkatkan laba karena sebagian cadangan yang sebelumnya dibentuk tidak lagi diperlukan.

4. Saat Piutang Benar-Benar Tidak Tertagih

Misalkan pelanggan dinyatakan pailit dan piutang sebesar Rp8 juta dipastikan tidak dapat ditagih.

Jika perusahaan telah membentuk cadangan yang cukup, jurnal penghapusan piutang adalah:

AkunDebitKredit
Cadangan Kerugian Kredit EkspektasianRp8.000.000
Piutang UsahaRp8.000.000

Dalam kasus ini, tidak ada tambahan beban yang muncul karena kerugian telah diantisipasi sebelumnya melalui ECL.

Baca Juga: Cadangan Kerugian Piutang: Definisi, Fungsi, Metode, dan Pencatatannya

Dampak Expected Credit Loss pada Laporan Keuangan

Expected Credit Loss (ECL) berdampak langsung pada neraca, laporan laba rugi, dan beberapa rasio keuangan utama.

1. Dampak ECL pada Neraca

Dampak ECL pada neraca (balance sheet) terjadi di sisi aset melalui mekanisme cadangan kerugian penurunan nilai (allowance for credit losses).

ECL dicatat sebagai cadangan kerugian penurunan nilai yang mengurangi nilai tercatat aset keuangan, seperti piutang usaha.

Contoh:

KeteranganNilai
Piutang usahaRp1.000.000.000
Cadangan ECL(Rp50.000.000)
Piutang netoRp950.000.000

Beberapa dampaknya pada neraca:

  • Nilai piutang menurun.
  • Total aset menurun sebesar nilai cadangan ECL yang dibentuk.
  • Cadangan ECL bisa dikaji ulang setiap periode. Jika kondisi debitur membaik, cadangan bisa dibalik dan nilai aset akan naik kembali.

2. Dampak ECL pada laporan laba rugi

Pembentukan atau peningkatan ECL diakui sebagai beban kerugian penurunan nilai (impairment loss) atau, jika cadangan turun, sebagai pembalikan penurunan nilai (impairment reversal).

Yang dicatat di laporan laba rugi bukan total cadangan ECL, melainkan perubahan bersih cadangan dari periode ke periode.

Contoh:

PeriodeCadangan ECLPerubahanEfek ke L/R
31 Des 2023Rp20.000.000
31 Des 2024Rp35.000.000+Rp15.000.000Beban Rp15 juta
31 Des 2025Rp28.000.000−Rp7.000.000Pembalikan Rp7 juta

Dampak pada laporan laba rugi:

  • Beban ECL mengurangi laba bersih secara langsung
  • Besaran beban ECL bisa berfluktuasi signifikan antar periode karena dipengaruhi perubahan kondisi ekonomi makro, meskipun tidak ada debitur baru yang gagal bayar

3. Dampak ECL pada laporan arus kas

ECL tidak berdampak langsung terhadap laporan arus kas, karena pembentukan cadangan ECL adalah transaksi non-kas.

Saat perusahaan mencatat beban ECL di laporan laba rugi, tidak ada uang yang benar-benar keluar dari kas perusahaan pada saat itu.

Yang terjadi hanyalah pengakuan akuntansi atas potensi kerugian di masa depan.

4. Dampak ECL pada rasio keuangan

Karena ECL mengubah nilai aset dan laba, hampir semua rasio keuangan utama ikut terpengaruh.

Berikut tabel pengaruh ECL pada rasio keuangan:

RasioDampak ECL
Current RatioMenurun karena aset lancar berkurang
Working CapitalMenurun karena piutang neto lebih rendah
Return on Assets (ROA)Menurun karena laba bersih berkurang
Return on Equity (ROE)Menurun karena laba bersih berkurang
Debt to Equity Ratio (DER)Dapat meningkat karena ekuitas menurun

Baca Juga: Goodwill Impairment: Pengertian dan Aturannya dalam PSAK 48

Bagaimana Cara Mengurangi Risiko Kerugian Piutang?

expected credit loss 3

Meskipun risiko piutang tak tertagih tidak bisa dinolkan, Anda tetap bisa mengambil berbagai langkah untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kerugian kredit.

  1. Lakukan credit check terhadap calon pelanggan: Periksa riwayat keuangan dan reputasi pembayaran calon pelanggan sebelum menyetujui transaksi kredit.
  2. Tetapkan limit kredit (credit limit) per pelanggan: Jangan memberikan plafon kredit yang sama untuk semua pelanggan. Sebaiknya, berikan limit lebih kecil pada pelanggan baru, lalu naikkan bertahap seiring pembayaran yang baik.
  3. Minta uang muka atau jaminan untuk transaksi besar: Untuk transaksi bernilai tinggi atau pelanggan baru, minta uang muka (DP) atau jaminan untuk mengurangi risiko gagal bayar.
  4. Perjelas syarat pembayaran di kontrak: Tetapkan jangka waktu jatuh tempo, denda keterlambatan, dan konsekuensi gagal bayar yang jelas.
  5. Pantau aging piutang secara rutin: Buat laporan umur piutang (aging schedule) yang mengelompokkan piutang berdasarkan lama belum dibayar (0-30 hari, 31-60 hari, dst). Semakin lama piutang menunggak, semakin tinggi risikonya.
  6. Lakukan penagihan proaktif: Kirim reminder sebelum jatuh tempo, follow-up, dan komunikasi yang konsisten.
  7. Diversifikasi basis pelanggan: Jangan terlalu bergantung pada satu atau sedikit pelanggan besar. Jika satu pelanggan besar gagal bayar, dampaknya terhadap arus kas perusahaan bisa sangat signifikan.
  8. Waspadai early warning signs: Misalnya: pelanggan mulai meminta perpanjangan tempo berulang kali, terjadi penurunan volume order tiba-tiba, atau muncul berita negatif tentang kondisi keuangan pelanggan/industrinya.

Baca Juga: Menghitung Untung Rugi dalam Bisnis: Tips dan Caranya

Kesimpulan

Expected Credit Loss (ECL) adalah metode yang digunakan untuk memperkirakan potensi kerugian kredit sebelum kerugian tersebut benar-benar terjadi.

Berbeda dengan pendekatan incurred loss yang baru mengakui kerugian setelah gagal bayar, ECL membantu perusahaan mengantisipasi risiko lebih awal sehingga laporan keuangan menjadi lebih akurat dan mencerminkan kondisi bisnis yang sebenarnya.

Untuk mendukung pengelolaan piutang yang lebih efektif, gunakan sistem pencatatan keuangan yang rapi dan akurat seperti software akuntansi Kledo.

Dengan Kledo, Anda dapat melihat laporan hutang piutang per kontak, mengelola penagihan, serta membuat berbagai laporan keuangan secara otomatis.

Coba Kledo gratis lewat tautan ini.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

10 − three =